
Menit demi menit berlalu, semakin ramai terlihat para penikmat kuliner pinggir jalan memenuhi tempat itu. Warung pecel lele, ayam penyet, jagung bakar, sate ayam, sampai nasi goreng seafood terlihat penuh dengan pelanggan yang menyantap lezat hidangan di depan mereka. Pemandangan itu membuat air liur gue lama kelamaan sulit di tahan. Ponsel yang sedari tadi tergeletak di atas nakas gue raih, mencari nomor suami gue dan menekan tombol hijau yang tertera di layar.
"Halo.." suara yang sangat familiar itu terdengar dari ujung sambungan.
"Yang, kok lama?" gue merengek.
"Iya sebentar ini laki dibakar" suaranya agak teredam keramaian.
"Sekalian ya beliin es degan. Tapi jangan dikasih gula merah. Yang gula putih aja dua sendok. Terus degannya jangan yang tua, nggak enak. Yang daging buahnya masih muda banget itu loh" gue bisa merasakan si ganteng melotot mendengar permintaan gue.
"Malem-malem gini mana ada yang jual degan yang" protesnya. "Es campur aja ya?"
"Enggak mau. Pokoknya mau kamu ambil sendiri dari pohon, mau kamu nyari keliling-keliling, mau kamu nyolong di kebon orang, harus es degan muda. Nggak mau yang lain" gue bersikeras. "Oh iya, sekalian jagung bakar. Yang atas rasa pedas, yang tengah rasa gurih, terus yang bawah rasa manis. Pembagiannya harus sama rata, sepertiga-sepertiga" gue nahan ngakak, enak juga ya ngerjain suami. Mana Mamas ganteng iya-iya aja dari tadi.
"Yang kamu ngerjain aku ya?" Kendra nanya.
"Bodo. Siapa suruh mau pergi-pergi" buru-buru gue putus sambungan sebelum ditanya macem-macem. Aduh.. enaknya punya suami yang bisa manjain. Mau gue lihat, sejauh mana Mas suami bisa berjuang buat gue.
Tidak begitu lama, Mas ganteng balik dengan tangan penuh makanan pesanan gue. "Nih yang, semuanya komplit sesuai yang kamu mau" dia nyodorin beberapa bungkusan plastik ke pangkuan gue. Sambil ngecek satu-satu, Mas ganteng mulai menjalankan mobilnya menuju tempat kencan tujuan kita semula.
"Kok aneh gini" dahi gue mengernyit merasakan rasa makanan yang kini terkunyah di mulut gue, "Ini mah bakso yang, bukan cilok"
"Bukan. Itu cilok kok, tapi lagi nyamar jadi bakso" Mas suami nyari pembenaran.
"Tuh kan bukan cilok. Nih kamu aja yang makan" gue nyumpelin dua gelinding ke mulutnya Mamas sampai pipinya mbulet lucu.
"Yang kamu ini" ucapnya di sela-sela kunyahan, "Udah aku bela-belain lho beli gelindingannya di tukang bakso. Terus minta bumbu kacang di tukang somay, sampe minta ijin ikut bakar di tukang jagung bakar. Masak nggak jadi dimakan? Kan itu juga bentukannya kayak cilok"
"Cilok ya cilok, bakso ya bakso. Pokoknya nggak mau makan kalau bukan cilok. Kamu aja yang habisin" sadis bener gue malem ini. Tapi apa daya, Mamas gue juga nggak mampu mengelak.
"Beli dong" jawabnya santai dengan pandangan masih terpaku pada jalanan.
"Kok ada yang jual malem-malem?" gue menyelidik.
"Lha itu tau kalau malem-malem jarang ada yang jual, tapi masih ngotot minta dibeliin. Sengaja kamu?" sindir Mamas.
"Aduh cayangku belepotan gini makannya.. uluh-uluh.. sini lapin dulu" mengalihkan pembicaraan, gue ambil beberapa lembar tisue untuk mengelap sisa-sisa bumbu kacang yang masih menempel si bibir seksi si ganteng. "Nah, gini kan ganteng" puas dengan hasil kerja, atensi gue berpindah ke bungkusan plastik satu lagi yang belum gue sentuh, "Saatnya makan jagung bakar"
"Katanya buat nyemil nanti waktu gelap-gelapan?" Mas suami menyela keasyikan gue jilatin jagung bakar.
"Nanti beli makanan lagi. Orang keburu pengen. Tapi kok... bentar.. ini kok rasanya kayak gini sih yang?" gue protes.
"Kayak gini gimana? Kan udah sesuai pesenan kamu. Sepertiga atas pedes, yang tengah gurih, yang bawah manis" jelas Mas suami.
"Bukan.. aku pesennya nggak kayak gitu. Aku maunya yang atas manis, tengah gurih, bawah pedes" gue pasang muka semeyakinkan mungkin.
"Masa sih? Enggak deh. Aku yakin tadi dengernya atas yang pedes, tengah gurih, bawah manis" sayangku mulai kebingungan.
"Enggak!" gue tetep bersikeras, "Aku tadi bilangnya yang pedes di bawah, atas yang manis. Kamu ini iiih.. Nggak mau makan, habisin semua buat kamu" gue ngambek.
"Ya udah kalau nggak mau. Sini buat aku semua" si ganteng kepancing emosi.
"Huh" gue membuang muka ke samping.