
Gue memandangi lelaki yang tertidur lelap di samping gue ini. Wajahnya begitu polos dan lugu, seperti bayi besar yang sedang nyenyak berkelana di alam mimpi. Tangan gue merayap membelai rambut hitamnya yang mulai memanjang, alis tebalnya begitu seksi dan memikat, dan bibir itu.. oh bibir yang selalu membuat gue dimadu ekstasi gairah dan kenikmatan. My love, every part of you is absolutely dangerous. Very dangerous..
Gue ganggu tidur pulasnya dengan gigitan kecil-kecil di bibir seksi itu. Sekali-kali, lidah gue ikut beraksi meluncur ke sana ke mari, membuat si empunya menggeliat gelisah dan perlahan membuka mata.
"Bonjour" gue memberikan ucapan selamat pagi dalam bahasa setempat.
"Yaaang.." Kendra merengek sambil menggeliat, satu tangannya yang menarik gue hingga menindih dadanya.
Si seksi beringsut menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher gue, "Puk puk bokongnya yang.." sekarang bukan gue yang bayi, tapi Mas suami. Emang ya, penyakit istri tuh nular ke suami.
"Mau tidur lagi kamu?" gue memastikan.
Kepala si ganteng yang tenggelam di leher gue menangguk, lelaki itu semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh gue.
"Nggak kerja?" pertayaan gue sukses membuat Mas suami melonggarkan pelukannya. Gue tahu dia masih merasa bersalah tentang hal ini.
"Nggak tau" Kendra mengendikkan bahu. "Bos besar belum kasih instruksi lagi" suara serak khas bangun tidurnya bikin gue merinding. Seksi bingit..
Kendra menggenggam tangan gue dan menciumnya, "Aku ngerti. Tapi kamu kan udah tau dari awal ini resiko perkerjaan aku. Kamu tenang aja, aku nggak bakalan kenapa-kenapa kok"
"Nggak bakalan kenapa-napa gimana? Liat sendiri kan Satriya sampe berdarah-darah kayak gitu. Aku nggak mau tiba-tiba kamu muncul dengan luka dimana-mana" gue merajuk. Beneran ini, ngebayanginnya aja gue nggak sanggup.
"Iya sayang... nggak usah manyun-manyun gitu. Ini bibir manusia apa bibir bebek sih? Sini sun dulu" Mas suami langsung nyosor nyipok gue. Duh legitnya.. mamam bibir tebel dan ngemut-**** lidah panjangnya. Eungh.
"Iiih geli yang.." gue melepaskan diri karena rambut-rambut halus di wajah Kendra membuat sensasi menggelitik yang tidak tertahankan di wajah gue. "Belum cukuran ya?"
"Sengaja. Biar kamu geli-geli enak"
"Iiih.. nakal" gue unyel-unyel pipinya yang mulai tembem. Makasih buat susu gue yang cucok meong untuk meningkatkan gizi dan tumbuh kembang si seksi. " O iya, tadi aku udah bilang Papa. Aku minta Papa ngelobiin biar kamu penempatan kerjanya di kantor aja. Aku nggak suka kamu kerja di lapangan kayak gini" ucapan gue membuat lelaki di depan gue itu mematung.
"Kok gitu?" dahinya berkerut tidak suka.
"Kerja di kantor itu enak yang. Kamu nggak perlu susah payah naik turun gunung angkat senjata" gue memberi pemahaman.
"Kamu kok main ambil kesimpulan aja? Nggak diskusi dulu sama aku? Aku ini orang lapangan, nggak betah diem duduk di depan komputer" ucapan lelaki itu membuat suasana berubah serius.
"Tapi kerja di lapangan itu bahaya. Lebih aman kamu di kantor aja" gue malah memulai perdebatan.
"Emang kamu pikir aku bakalan enjoy kerja di balik meja? Kenapa sih kamu nggak ngomong dulu sama aku? Nggak minta pedapat aku dulu. Terus pake acara minta dilobiin segala lagi. Mau ditaruh dimana muka aku di depan Papa kamu, Sa!" Kendra emosi, gue juga semakin tersulut emosi.