
Ebola Hemorrhagic Fever, atau Ebola Virus Disease, pertama kali terdidentifikasi tahun sembilan belas tujuh puluh enam di dua tempat secara simultan, yaitu Yambuku, Republik Demokratik Kongo dan Nzara, Sudan Selatan. Itu yang gue baca di diktat mata kuliah gue beberapa tahun lalu. Angka harapan hidup pasien yang sudah terinfeksi bisa menyentuh perkisaran sepuluh persen. Yang sangat menakutkan dari virus ini adalah kemampuannya membelah diri sehingga menggumpalkan darah dan menghambat aliran darah menuju organ lain. Setelah kekurangan pasokan darah makan organ penting seperti ginjal, usus, hati, dan otak akan lumpuh dengan sendirinya. Kondisi inilah yang akhirnya menyebabkan kematian. Tidak heran ketika mewabah beberapa tahun lalu, World Health Organization menyatakan Darurat Kesehatan Dunia.
Obat? Cih..
Let me tell you something, obat-obat yang diberikan dokter itu sebagian besar tidak bersifat menyembuhkan. Apalagi berkaitan dengan virus. Dokter hanya akan meresepkan obat untuk menekan pertumbuhan virus, bukan membunuhnya. Yang bisa mengalahkan virus sebenarnya adalah imunitas tubuh kita masing-masing. Ya, manusia itu diciptakan dengan sangat sempurna. Secanggih-canggihnya obat, antibodi adalah benteng paling kokoh yang kita miliki untuk bertahan hidup.
Gue sudah sering melihat pertempuran antara manusia melawan penyakitnya sendiri. Ada yang sudah divonis dengan stage tertinggi, tapi nyatanya bisa bertahan hidup. Ada pula yang sudah diobati dengan berbagai cara tetapi tidak kunjung sembuh. Sebenarnya, kesembuhan itu ada di diri pasien sendiri, tergantung tekad mereka untuk sembuh.
Yang jadi titik permasalahannya adalah, manakah yang akan menang, penyakit ataukah perjuangan untuk sembuh?
"Lepasin Pah.. Lepasin Khanza.." gue terus meronta dari tadi. Air mata sudah banjir membasahi pipi. Yang ada di pikiran gue hanyalah segera menyusul suami gue. "Sat.. tolong.. lepasin gue Sat" karena kewalahan menenangkan gue yang langsung memasukkan baju ke koper dan mengambil visa untuk terbang ke Sudan, Papa memanggil Satriya dan Talitha. Mereka terpaksa mengikat gue ke ranjang karena takut gue bertindak bodoh.
"Sa, lo tenang dulu Sa. Kasihan bayi di perut lo" suara Talitha mencoba berkompromi.
"Gue mau nyusul Kendra. Gue mau ke sana. Tolong lepasin gue Ta, tolong..." gue merintih dan berurai air mata.
"Sa, lo tenangin diri dulu. Kendra sudah ditangani tenaga medis. Stagenya juga masih awal. Semua akan baik-baik aja"
"Untuk peralatan kesehatan, kita sudah mensuplainya dari sini. Papa jamin Kendra akan mendapatkan fasilitas terbaik. Dokter dari TNI juga sudah stand by di sana. Percaya sama mereka, Sa. Mereka orang-orang yang mumpuni" Papa menambahkan.
"Khansa juga dokter, Papa. Setiap hari Khansa mengobati pasien di rumah sakit, sekarang suami Khansa sendiri yang sakit. Bagaimana bisa Khansa cuma diem aja. Tolooong Pa, lepasin Khansa. Khansa mau ke sana.." gue meratap.
"Terus kalau ke lo kesana semua akan baik-baik saja, gitu?" suara tegas Satriya menampar rasionalitas gue. "Lo mikir nggak sih ada nyawa lain yang ada di dalam perut lo sekarang? Lo kan dokter, tau dong gimana berbahanya penyakit ini. Gimana cepet penularannya. Oke kalau lo tetep mau pergi ya sana pergi." tegas lelaki itu sambil membuka ikatan di tangan gue, "Nih udah gue bukain. Sana kalau mau pergi. Sana kalau mau ambil resiko anak lo ketularan!"
Kalimat itu sukses mendobrak pintu logika gue yang semula terkubur rasa kalut dan juga panik. Tangan gue turun mengelus perut yang sudah semakin besar. Di saat yang bersamaan, bayi ini menendang. Naluri keibuan gue langsung merayap keluar. Ada kehidupan di dalam diri gue. Kehidupan lain yang bergantung sepenuhnya pada nafas ibunya.
Dan yang sangat menakutkan adalah, betapa besar rasa sayang gue pada anak ini. Sangat besar hingga melebihi cinta gue ke ayahnya. Jika harus memilih antara dia dan ayahnya, tentu saja gue tidak akan bisa memilih. Mereka sama-sama nafas dalam hidup gue. Darah dan jantung yang saling mengisi satu sama lain. Namun tidak ada cinta di dunia ini yang lebih besar dari cinta seorang ibu kepada anaknya. Demikian juga perasaan gue. Sebesar apapun keinginan gue untuk mendampingi Kendra, bayi di dalam perut gue ini menahan ibunya untuk tetap di sini.
Tidak ada yang bisa gue lakukan saat ini, selain meringkuk dan terus menangis.
Sebagai seorang dokter, istri, dan juga ibu, baru kali ini gue merasa benar-benar tidak berguna.