
"Yang.. nanti aku basah" gue memperingatkan. Sebuah kelembaban tidak nyaman mulai menyelimuti mahkota gue di bawah sana.
"Hmph.." cuma itu yang terdengar sebelum dia dengan sangat malas memisahkan mulutnya dari bukit kembar gue. Susah payah menarik tubuhnya menjauh, Kendra menyandarkan punggungnya di kursi mobil. Ibu jarinya bergerak menyentuh sudut bibirnya, mengulas sisa-sisa rasa gue yang masih tertinggal di sana.
"Kamu makin kenyal yang" pujinya puas.
"Tapi kamu makin enak ngenyotnya. Nanti kalau aku pengen yang lebih gimana?"
"Kan masih bisa pake mulut"
Ya, setelah melihat hasil uji lab yang menunjukkan gue positif hamil, kita sepakat tidak akan melakukan penetrasi antar alat kelamin dulu sebelum janin di dalam perut gue cukup kuat dan boleh ditengokin. Yang jadi masalahnya adalah ketika hormon gue maupun Mas suami meledak-ledak dan butuh dilampiaskan, kita cuma bisa main di luaran. Enak sih masih enak, tapi rasanya itu loh... enggak puas gitu kalo nggak ada anget-anget yang mengucur deras di dalem perut gue.
"Ya sabar dong. Puasa dulu. Biar dedek di dalem aman, nyaman, dan sejahtera" seperti tau apa yang ada di pikiran gue, Mas suami memberikan ceramahnya.
"Nyuruh puasa tapi situ minta mimik mulu" cibir gue.
"Nanti keburu dedek lahir, jatah mimikku berkurang dong" si ganteng nggak terima.
"Oh, jadi takut rebutan sama dedek ini? Jadi mau puas-puasin sekarang gitu?" gue memperjelas.
"Tapi kayaknya aku nggak ada puas-puasnya deh mimik kamu. Ngangenin terus sih punya kamu. Apalagi makin ke sini makin gedhe" ucap si ganteng sambil matanya bergerilya ke belahan dada gue.
"Mesumnya suami aku." gemesin banget sih nih laki. Jadi pengen nyubitin pipinya yang tambah gembul, "Ini pipi juga makin montok. Suka deh" tangan gue narik-narik pipinya.
"Abis susunya tok cer sih" hmm.. makin lemes kan itu mulut. Seriusan, siapa yang ngajarin sih?
"Iya dong. Susu Sasa gitu" ucap gue penuh percaya diri. "O iya yang, kira-kira si dedek nanti cewek atau cowok ya? Kamu maunya cewek apa cowok?" tanya gue random.
"Cowok itu. Yakin seratus persen"
"Kok gitu?" gue menelan ludah.
"Ya kan waktu bikin aku yang menang"
"Mana ada! Cewek ini, aku yakin" gue mengelak.
"Dibilangin nggak percaya."
Mata si Mamas melotot mendengar pernyataan gue, "Mau kamu ajarin apa?" was-was dia, takut kelakuan gue nular ya.. wkwk.
"Hehehe.. peace. Nggak diajarin aneh-aneh kok. Bener!" gue memberikan V-sign. "Tapi kalau nanti ini cowok, habis lahir kita buat lagi ya? Yang cewek"
"Ngebet banget punya anak cewek? Nggak mau ya kalau anaknya cowok?"
"Bukan gitu.. mana ada ibu pilih-pilih. Tapi asyik aja gitu yank kalau punya anak cewek. Bisa didandanin, nyalon bareng, shopping, ngrumpi sambil hahahihi, terus kalau kita udah tua nanti ada yang telaten ngerawat"
"Kalau mau anak cewek ya usaha dong. Waktu tempur aja kalah terus kok berharap anaknya cewek."
"Ya kamunya yang ngalah dong. Mana menang aku lawan stamina king kong kamu"
"Makanya latihan.. bu dokter. Practice makes perfect"
"Ajarin ya pak tentara"
"Bayarannya apa?"
"Nih aku kasih DP di muka" langsung aja gue tarik kepalanya, nempelin bibir gue ke bibirnya, lalu *****-lumatan sampai ngos-ngosan. Enaknya mesum di mobil sama suami sendiri. Doa gue kali ini cuma satu, semoga aja nggak ketangkep satpol PP.
Tok tok tok. Suara kaca mobil diketuk dari luar. Sialan... jangan-jangan gue ke-gep hansip. Duh.. malu banget kalau sampe ketangkep basah terus diarak keliling kampung, habis itu digiring ke KUA lalu dinikahin paksa. Eh lupa... gue sama Mamas kan udah sah.
Segera melepaskan diri dari satu sama lain dan memperbaiki penampilan yang acakadul, Kendra menurunkan kaca mobilnya sementara gue ngumpetin wajah di balik perawakan kekar si sayang. Tampak tubuh tinggi tegap dengan kaos polos warna cokelat bergambar logo TNI di dada bagian kanannya serta celana hijau army yang sama persis punya laki gue di rumah. Sosok yang berdiri di luar itu menunduk hingga kepalanya sejajar degan kaca mobil. Satu cengiran menghias sudut bibirnya sebelum berkata, "Mesum di muka umum kena pasal 284 KUHP. Mau gue laporin atau traktir gue sate padang?"
"Satriya?" sangat terkejut, gue dan Mas suami hampir berteriak bersamaan.