Finding You, Again

Finding You, Again
EPILOG



Mobil yang dipacu dengan kecepatan tinggi, terlihat memasuki lahan parkir sebuah rumah sakit terkemuka di LA.


Setelah memarkir mobilnya sembarangan, seorang pria dengan tergesa berlari masuk.


"Justin!"


Seorang wanita memanggilnya dengan suara yang sangat emosional.


"Liane, ada apa?Apakah terjadi sesuatu pada Maggy?" tanya Justin dengan khawatir.


Istrinya menggeleng, "Tidak, kau salah mengerti"


"Aku tadi mengatakan, ada seorang Dokter yang bersedia menolong Maggy, dia berkata akan menolong Maggy tanpa harus menunggu donor jantung. Kita hanya harus membawanya ke London, karena dia bekerja di sana"


Justin termangu mendengar penjelasan Liane. Dia setengah terharu dan tidak percaya, matanya mulai berair karena bahagia.


Adiknya yang berumur sepuluh tahun, sudah dua tahun ini menunggu antrian donor jantung.


Dan Justin sudah sangat putus asa, karena antrian donor itu justru semakin memanjang.


Dia tidak pernah mempersoalkan biaya operasi, karena pekerjaannya sebagai manajer artis di sebuah label rekaman membayarnya dengan cukup tinggi.


Tapi menjadi penerima donor jantung, adalah keberuntungan yang tidak bisa dibeli dengan uang.


Kabar yang dibawa Liane terasa seperti mimpi.


"Aku juga awalnya tidak percaya, tapi dia terus mengulangi penjelasannya sampai aku menjadi yakin"


"Dia satu-satunya Dokter yang berpendapat berbeda Justin. Semua Dokter yang kita temui di LA, menyarankan agar Maggie melakukan transplantasi jantung. Kita sudah menunggu 2 tahun dan sampai sekarang belum ada donor yang cocok"


Liane kembali mencoba meyakinkan suaminya.


"London?" tanya Justin.


Liane mengangguk, " Dia bekerja di salah satu rumah sakit di London. Kita hanya harus membawa Maggy kesana"


"Bagaimana dia bisa tahu soal Maggy?"


"Dia hanya berkata salah seorang kenalannya meminta tolong, agar dia mau merawat Maggy. Dan setelah melihat catatan medis Maggy, dia setuju"


"Kau yakin ini bukan penipuan?" Justin tiba-tiba menjadi curiga. Kejadian ini terlalu manis untuk menjadi nyata.


"Aku juga sempat berpikir begitu, tapi setelah aku bertanya pada salah satu Dokter Maggy, dia meyakinkan aku jika dokter itu memang hebat. Dia dokter yang terkenal, tapi antrean pasiennya sangat banyak. Karena itu sangat susah mendapatkan janji bertemu dengannya. Katanya Maggy sangat beruntung jika bisa berada dalam perawatannya"


Penjelasan Liane menyanggah kecurigaan Justin.


"Aku akan segera mengurus dokumen pemindahannya, dan juga perizinan. Aku juga akan memesan penerbangan yang paling cepat berangkat"


Justin langsung menarik ponsel dari sakunya, tapi Liane menahan tangannya dan menyerahkan setumpuk kertas yang sedari tadi dipegangnya.


"Semua sudah diurus, surat pemindahan, perizinan, bahkan jadwal penerbangan, semua sudah ada. Kita tinggal berangkat besok"


Justin menurunkan ponselnya dengan tercengang. "Bagaimana---?"


Sekali lagi Liane menggeleng.


"Aku juga tidak mengerti. Begitu aku menyelesaikan panggilan dengan dokter itu, tiba-tiba datang seorang pria yang menyodorkan ini. Dia memperkenalkan diri sebagai pengacara, lalu berkata jika kita harus datang tepat waktu ke bandara"


Justin segera memeriksa dokumen yang disodorkan Liane.


Dan benar, semua izin dan penerbangan sudah terselesaikan. Mereka hanya harus muncul di bandara. dan bisa berangkat ke London begitu saja. Tanpa mengeluarkan uang sepeserpun.


"Apakah kau menyimpan nomornya? Aku ingin bicara padanya" Justin merasa akan lebih aman jika dia berbicara sendiri dengan dokter itu.


Liane menyerahkan ponselnya pada Justin, dan menunjukkan nomor yang tadi menelponnya. Justin mengenali nomor itu memang berasal dari Inggris.


Setelah mendengar nada sambung, Justin menunggu jawaban dengan berdebar, "Siapa nama dokter itu?"


"Dr. Alva Leona" bisik Liane.


\~\~\~\~\~\~\~IlI\~\~\~\~\~\~


"Ms. Norine, ini laporan proposal yang tadi anda minta"


Jovi mendecak, saat melihat, laporan yang hasilnya jauh di bawah standar itu. Dia sedikit menyesal, karena telah mengikuti seleranya dengan berlebihan.


Kedua pegawainya sangat tampan, tapi sayangnya mereka sedikit lambat, dan pekerjaannya sangat berantakan.


Sudah sekitar seminggu ini, dia berperang dalam hati, antara ingin memecat atau mempertahankan mereka.


Tentu saja kehadiran mereka membuatnya lebih bersemangat saat berangkat bekerja, tapi hasil kerja mereka membuatnya harus bekerja dua kali lipat lebih keras, karena harus memperbaiki segala kesalahan yang mereka buat.


DRTTTTTT!!!!!!!. Ponselnya bergetar.


Jovi langsung menyambarnya, saat melihat siapa yang menelpon.


"Luiii, apa kau sudah sangat puas dengan suamimu hingga melupakan aku begitu saja?" sapanya


"Apa? Kau akan mengadakan pesta pernikahan lagi dengan tamu umum?" Jovi sampai bangun dari duduknya karena bahagia.


"Kapan? Dimana? Aku yang akan memilihkan baju pengantinnya"


\~\~\~\~\~\~\~IlI\~\~\~\~\~\~


"Ssstop!!!" Roan menepis tangan Oscar dari bahunya, dengan wajah penuh keringat dingin.


Roan kemudian mencoba mengatur nafasnya yang memburu.


Oscar melirik timer yang ada di ponsel, " Lima menit. Ini rekor baru Roan. Kemajuanmu sudah cukup lumayan"


Roan hanya menggeleng sambil menutup mata, dan berbaring miring di sofa lebar ruang kerja Oscar. Wajah cantiknya sudah hampir tidak berwarna karena pucat.


"Ingatan itu bahkan bukan milikmu? Bagaimana kau bisa menjadi tersiksa karenanya?". Oscar tidak mengharapkan jawaban, karena dia sudah tahu jawabannya.


Ikatan mindlink yang sangat kuat, membuat Roan seolah merasakan sendiri kejadian itu.


Oscar senang karena orang yang melakukannya sudah dibunuh oleh El, jika belum, dia sendiri yang akan memburunya. Tanpa peduli makhluk itu adalah werewolf. Jika perlu, Oscar akan meledakkan tubuh busuk itu sampai berkeping-keping.


Perbuatannya pada El, membuat Roan mengalami trauma berkepanjangan. Roan sama sekali tidak bisa disentuh oleh pria manapun, kecuali oleh ayahnya.


Roan masih bisa menahan jika itu Duke atau El, karena dia tahu mereka tidak pernah menganggapnya perempuan. Dan lagi, mereka berdua nyaris tidak pernah menyentuhnya, saat menjadi manusia. Mereka tahu benar soal keberatan Roan. Yang mereka tidak tahu adalah apa yang menyebabkannya.


Tapi selain mereka berdua, Roan tidak bisa mentolerir sentuhan dalam bentuk apapun, sekalipun hanya sentuhan biasa, tanpa maksud tersembunyi.


Selain ayahnya, Duke dan El, Roan tidak pernah bersentuhan dengan pria manapun, kecuali dalam pertarungan.


Kegemarannya bertarung selama ini hanya untuk menutupi hal itu.


Roan bekerja keras menguasai pengaturan mindlink sebaik Egon, setelah kejadian dengan El, karena dia tak ingin Duke dan El tahu, ketakutan apa yang tumbuh dalam dirinya.


Oscar menarik nafas panjang saat melihat dengan perlahan, nafas Roan semakin pelan. Biasanya Roan akan tertidur selama beberapa saat setelah mereka selesai berlatih. Latihan yang tidak seberapa itu mengurasnya secara psikis.


Oscar menghampiri Roan, dan menjumput beberapa helai rambut hitam panjangnya. "Kau seharusnya tidak begitu saja mempercayaiku" gumam Oscar dengan sangat pelan.


Dia tidak habis pikir, karena Roan dengan mudah percaya dan jatuh tertidur di hadapannya.


Jika ada pria di dunia ini yang patut diwaspadai oleh Roan, itu adalah dirinya.


Mungkin dia tak pernah mengakuinya, karena tidak ingin terlihat buruk dihadapan Lui, tapi sebenarnya dia sudah tidak bisa menghitung, berapa banyak wanita yang jatuh dalam pelukannya.


Dia memang seorang playboy.


Lui mungkin selama ini mengira para wanita itu yang melemparkan diri padanya, tapi yang Lui tidak tahu, dia menerima semua ajakan itu dengan sadar.


Lui tidak tahu, kakaknya adalah seorang pembohong yang handal. Sangat ironis jika dibandingkan dengan kemampuannya untuk melihat saat orang lain berbohong padanya.


Selama ini Oscar berhasil menutupi semua sifat lainnya itu dengan sempurna. Orang yang berada di sekitar dunia 'siangnya' yaitu Delmor, tidak tahu sama sekali soal sepak terjangnya ini. Bahkan Toni juga tidak.


Tapi semua orang yang di sekitar dunia 'malamnya' tahu benar perangai Oscar. Tapi tidak ada yang keberatan. itu adalah hal yang biasa bagi mereka.


Lagi pula siapa yang berani mengajukan keberatan padanya?


Dan kini Oscar merasa seperti dikutuk.


Satu-satunya wanita yang bisa membuat hatinya porak-poranda, tidak bisa disentuh olehnya tanpa merasa takut. Rekornya adalah tadi.


Lima menit menyentuh bahu Roan.


Dan itu saja!!


Dia bahkan belum pernah memegang tangan Roan.


Mengingat semua hal yang pernah dilakukannya sampai sekarang, Oscar tidak habis pikir bagaimana dia bisa menahan diri, setiap kali bertemu Roan.


Mungkin juga karena faktor Roan bisa dengan mudah mematahkan tangannya, ikut berpengaruh.


Tapi Oscar tidak akan pernah tega melihat mata abu-abu Roan berlinang. Dia lemah pada air mata Roan, seperti pada Lui.


Oscar selama ini dengan mudah mengabaikan air mata perempuan lain yang mengiba padanya, tapi untuk Roan dan Lui, Oscar tidak pernah tahan untuk berkata tidak.


Oscar beranjak keluar ruangan, sebelum dia melakukan sesuatu yang akan disesalinya nanti.


Lagi pula dia harus memeriksa beberapa hal sebelum meeting paginya besok.


"Aku kira kau tidak akan keluar sampai besok pagi"


Mendengar suara itu, dengan sigap Oscar meraih pisau mungil di pinggangnya dan melemparkannya ke arah sumber suara.


"Apa kau bermaksud untuk membunuhku?!!!"


Dihyan berseru kesal, karena tidak sempat menghindar. dia hanya bisa menangkis dengan tangan, sebelum pisau Oscar menancap pada matanya.


Kini pisau itu menancap lurus pada lengan yang dipakai Dihyan untuk menangkis. Dihyan mencabut pisau itu, lalu mengusap lukanya. Bukan luka dalam dan akan sembuh setelah beberapa saat lagi.


Tapi Dihyan tetap merasa kesal. Karena setelah sekian lama, dia masih tidak bisa mengungguli kecepatan lemparan pisau Oscar.


"Aku tidak akan berusaha membunuhmu, jika kau tidak datang dengan diam-diam" tukas Oscar.


"Hmmmp... jadi aku harus mengetuk pintu meskipun seperti ini?"


Dihyan menunjuk tanduknya yang sudah semakin meninggi.


"Ada keperluan apa kau datang kesini?" Oscar terang-terangan tidak mengacuhkan bantahan Dihyan.


"Dimana benda itu?" Dihyan juga tidak lagi berbasa-basi.


"Untuk apa kau mencarinya? Benda itu datang padaku, jadi apapun yang terjadi padanya adalah urusanku"


"Aku tahu kau tidak menyukai kakek, tapi aku tidak akan membiarkanmu menodai wasiatnya" ujar Dihyan, dengan tegas.


Dia tidak pernah mempermasalahkan sikap antipati Oscar pada Sorrel, karena dia mengerti sudut pandang Oscar. Tapi wasiat Sorrel urusan yang berbeda.


"Kenapa dia mengirimkannya padaku? Apa yang direncanakannya?"


Oscar membalas dengan tidak kalah keras karena frustasi. Dia tidak bisa mencari alasan, kenapa Sorrel memberinya warisan itu.


"Dan kenapa kau pikir aku akan tahu? Lorong berliku pikiran Kakek akan selamanya menjadi misteri!!"


Dihyan akhirnya juga tidak bisa menyembunyikan rasa frustasinya juga. Kebanyakan perilaku Sorrel adalah teka-teki besar bagi Dihyan. Dan sampai sekarang masih.


"Pertemuan Duke dan Lui, dia yang mengaturnya bukan?" Oscar bertanya dengan nada menuduh.


Dan Dihyan membisu, tidak menjawab.


Setelah beberapa menit, akhirnya dia mengangguk.


"Kemungkinan besar iya. Saat Lui sadar dari koma setelah kecelakaan pesawat itu, kakek tidak pernah melepaskan pengawasan darinya. Saat dimana dia sadar Lui ternyata seorang imperfect"


"Mereka berdua adalah Dyad, fakta itu tidak diragukan lagi. Tapi kesempatan mereka untuk bertemu kemungkinan besar memang diciptakan olehnya" tambah Dihyan.


Oscar memejamkan mata dengan puas.


Dia sudah menduga hal ini, setelah melihat bagaimana sempurnanya nasib Lui, hingga nyawanya hanya bisa selamat jika bertemu dengan Duke.


Tanpa pertemuan itu, Lui akan tewas di tangan Dokter, Lui tidak akan bisa mengatasi depresinya, bahkan Lui tidak akan bisa menjadi imperfect yang sempurna seperti sekarang tanpa darah Duke.


Pertalian takdir mereka yang saling melengkapi dengan sangat sempurna, membuat Oscar curiga akan campur tangan Sorrel, dan dia benar.


"Aku tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi, jika aku menerimanya" kata Oscar.


"Apapun itu, tidak mungkin akan membawa keburukan untukmu. Mungkin akan sulit dan tidak mulus seperti nasib Lui, tapi bukan berarti akan menjadi buruk."


"Lihat saja Lui. Dia saat ini menjalani hidup dengan pria yang mencintainya setengah mati, dalam lingkungan paling aman, yaitu Pack werewolf yang terbesar----terbesar di dunia. Dia menjadi ratu di sana"


Dihyan sengaja mengulanginya, agar Oscar mengerti.


Tidak semua inhumane berkesempatan bertemu dengan Dyad-nya dan menjadi bahagia. Apa yang terjadi pada Lui, adalah satu dari sekian juta kesempatan.


Setelah mendesah jengkel, Oscar beranjak menuju kamarnya, dengan memberi isyarat pada Dihyan untuk ikut.


Begitu sampai dikamar, Oscar masuk ke dalam almari dindingnya yang lebar, kemudian membuka salah satu brankas yang ada di balik dinding.


Dua bunga berwarna biru dengan semburat putih, melayang keluar begitu pintu brankas itu terbuka.


"Kenapa dua?" tanya Oscar, sambil meraih kedua bunga itu, kemudian memegang masing-masih satu dengan tangannya.


"Karena bakatmu sebenarnya sangat besar, hanya saja kau tidak mau menggalinya" jawab Dihyan.


"Dan aku tidak mengada-ngada soal itu. Kau sangat cerdas Oscar, jauh di atas kemampuan Lui. Jika Lui membutuhkan hampir seharian untuk mempelajari sihir ruang yang sederhana. Aku yakin kau hanya membutuhkan beberapa menit"


"Apakah kau sedang menghina Lui bodoh?" Oscar mengernyit tak suka.


"Jangan tolol, kau tahu bukan itu maksudku" sergah Dihyan, jengkel karena tuduhan Oscar.


"Sekarang, berdirilah disini!". Dihyan menunjuk tempat yang agak lapang di tengah ruangan.


Dengan patuh Oscar bergeser.


Dalam waktu tiga detik, Dihyan mengeluarkan lingkaran sihirnya dengan tongkat, tepat di bawah kaki Oscar. "Tutup matamu"


Begitu mata Oscar terpejam, dengan perlahan kedua bunga itu melebur dan menghilang.


\~\~\~\~\~\~\~IlI\~\~\~\~\~\~


"Apa kau sudah memeriksa semuanya dengan teliti? Mrs. Balark ingin semuanya sempurna!" kata pria berambut botak dengan gugup.


"Sudah ayah, tenanglah" Putrinya, Jehan, yang berusia tujuh belas, memutar bola matanya.


"Siapa sebenarnya yang akan menghuninya? Kenapa kau begitu gugup?" tanya Jehan.


Ayahnya sudah lama bekerja di gedung ini, tapi ini adalah pertama kalinya dia begitu gugup menghadapi kepindahan seseorang.


"Mrs. Balark tidak mengatakan dengan detail, tapi kau lihat sendiri bagaimana tatanan ruangan itu sekarang. Begitu mewah dan indah. Aku ragu Mrs. Balark akan menyediakan segala fasilitas itu untuk pegawai biasa" jawab ayahnya.


Jehan sebenarnya sudah memiliki dugaan siapa penghuni baru itu nanti. Besar kemungkinan hunian itu akan ditempati oleh CEO baru Monath.


Gedung tempat ayah Jehan bekerja adalah kondominium milik Monath Corp. Salah satu perusahaan terbesar di Canada.


Di gedung ini hanya ada sepuluh unit hunian dan semuanya ditempati oleh pegawai dengan jabatan tinggi di Monath.


Mrs. Seema Balark, menempati lantai paling bawah kondominium ini. Bisa dikatakan dia adalah pemegang kekuasaan Monath saat ini, setelah meninggalnya Rex Ewaldo.


Meninggalnya Mr. Ewaldo membuat kegemparan di jagat perekonomian, terutama di daerah Amerika Utara. Saham Monath juga sedikit terguncang, tapi Mrs. Balark dengan cekatan berhasil menekan kerusakan dan menjanjikan kestabilan walaupun Rex Ewaldo telah pergi.


Semua orang, baik pegawai Monath maupun pengamat ekonomi, mengira tampuk pimpinan Monath akan beralih pada Mrs. Balark, tapi ternyata tidak!


Dengan mengejutkan, sebelum meninggal, Rex ternyata sudah menunjuk seseorang untuk menggantikannya. Dan nama yang dirahasiakan itu semakin membuat rasa penasaran menumpuk. Dan semua itu telah disetujui oleh para pemegang saham.


Jehan juga sama, dia sangat penasaran dengan siapa yang akan menggantikan posisi Mr. Ewaldo. Karena dia juga setuju, seharusnya Mrs. Balark yang menggantikan kedudukan Mr. Ewaldo.


Jehan sangat mengidolakan Mrs. Balark yang terlihat terampil dan pintar. Bahkan dia juga menjadi alasan, kenapa Jehan sangat tertarik dengan ilmu ekonomi dan berkeinginan untuk mendalaminya.


Maka dari itu, Jehan sedikit tak rela dengan kedatangan penghuni baru itu. Tapi apalah dayanya? Dia hanya bisa melihat semua perubahan itu dari jauh.


Tapi siapapun itu, Jehan berharap, dia harus lebih pintar dari Mrs. Balark. Itu bukan kualifikasi yang enteng, karena Mrs. Balark sangat pintar dan kompeten.


Jehan tiba-tiba kasihan pada calon CEO baru Monath, dia akan menghadapi sandungan besar begitu memangku jabatan barunya.


Seluruh jajaran pegawai Monath mendukung Mrs. Balark, dia harus bisa memenangkan hati mereka semua.


Tapi mungkin itu kabar bagus, jika dia ternyata tidak kompeten, Mrs. Balark akan bisa mengambil alih Monath.


Jehan bercita-cita untuk bekerja di Monath, di bawah kepemimpinan Mrs Balark.


Namun mimpi itu sekarang terasa semakin jauh. Pekerjaan ayahnya yang hanya sebagai penjaga gedung mengecilkan kesempatannya. Dia masih memiliki tiga adik yang harus dipikirkan.


Melihat gelegat ayahnya, terlihat dia sebenarnya ingin Jehan langsung bekerja begitu lulus nanti.


Jehan tentu saja belum mengungkapkan keinginannya untuk kuliah. Dia tidak tega.


Dia yang selama ini membantu keuangan rumah. Jika Jehan memaksa untuk kuliah, bisa dipastikan keuangan mereka akan menjadi minus.


Jehan juga bekerja di gedung ini, sebagai asisten rumah tangga, bagi siapapun yang ingin.


Tugasnya adalah membersihkan rumah, berbelanja, juga mengantar cucian ke laundry. Saat ini, dari sembilan penghuninya, ada lima tempat yang menyewanya.


Biasanya dia bekerja sepulang sekolah sampai waktu makan malam.


Tapi untuk hari ini, Mrs. Balark khusus menyewanya untuk mempersiapkan hunian di lantai yang paling atas. Hunian yang selama ini kosong, setelah Mr. Ewaldo memilih untuk tinggal di tempat lain.


Mr. Ewaldo pindah dari kondominium ini setelah istrinya meninggal sekitar lima belas tahun yang lalu.


"Bagaimana dengan lemari pendinginnya? Apa kau juga sudah membeli semua pesanannya?"


Ayahnya kembali bertanya gugup, memutus lamunan Jehan.


"Sudah ayah. Aku menghabiskan lebih dari lima ribu dollar hanya untuk membeli daging tadi. Kau percaya itu?" Jehan menggeleng heran.


Kaum vegetarian akan pingsan jika melihat isi dari lemari pendingin itu. Penghuni baru itu sangat gemar makan daging. Mrs Balark berkali-kali mengingatkannya soal itu, ketika menyuruhnya berbelanja.


Jehan tidak akan terkejut, jika CEO yang baru nanti berbobot lebih dari satu kwintal dan bergelambir. Selera makannya jauh dari kata sehat.


Dan fakta itu kembali membuatnya meremehkan orang baru itu.


Mrs. Balark masih sangat cantik walaupun sudah menginjak umur 40 tahunan. CEO baru itu tiak akan memiliki kesempatan untuk bersaing dengannya dalam bidang penampilan.


"Mereka datang!!"


Ayah Jehan menunjuk dua mobil mewah yang berhenti di depan pintu masuk. Jehan mengenali salah satu mobil sebagai mobil Mrs. Balark.


Ayah Jehan berlari menuju pintu masuk kondominium. Dia harus berada di sana menyambut mereka


Jehan sendiri juga segera bangkit dan berjalan menuju lift. Dia akan menyambut penghuni baru itu di depan pintu rumahnya.


Mrs. Balark memberinya tugas untuk menjelaskan segala seluk beluk kebiasaan di gedung ini. Tentu saja dia juga akan menawarkan jasanya sebagai asisten rumah tangga.


Jehan berdiri di samping pintu sambil merapikan pakaiannya. Dia pekerja tidak resmi di gedung ini, karena itu tidak memiliki seragam. Tapi, untuk hari ini, dia telah memilih kemeja yang paling bagus dan juga rok abu-abu gelap. Dia ingin memberi kesan profesional.


Suara dentingan lift menandakan mereka akan segera sampai, Jehan menegakkan posturnya dan menunggu.


"Panggil saja aku Eldred, Seema. Aku tidak nyaman jika kau terus memanggilku Beta"


Suara khas pria yang dalam mengejutkan Jehan. Menurut bayangannya, pria itu akan bersuara melengking, karena lehernya tertimbun tumpukan lemak.


Jehan memandang dua orang yang baru saja keluar dari lift, dan terkesima!


Dia sampai harus menggosok matanya, karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Sosok yang berada di sebelah Mrs Balark, sama sekali tidak bergelambir ataupun gemuk. Postur tubuhnya sempurna, sesempurna model yang biasa dilihatnya di majalah.


Wajahnya juga tidak jauh berbeda dengan model-model itu, bahkan jauh lebih tampan. Rambutnya yang gelap tersisir rapi, sangat cocok dengan warna matanya yang juga kecokelatan.


"Jehan---Jehan"


"Iaya..Ya!?" Jehan terbata, karena ternyata Mrs. Balark sudah ada di hadapannya.


Mrs, Balark mengguncang bahu Jehan pelan, karena dia tidak menanggapi panggilannya.


"Kau lihat itu? Apa yang harus aku lakukan pada pegawai wanita di kantor besok? Mereka akan membuat keributan jika kau datang nanti"


Mrs. Balark tersenyum melihat Jehan yang terpana karena kehadiran El.


"Seema---jangan berlebihan" El menggeleng malu.


"Jehan? Perkenalkan, ini adalah Mr. Eldred Halcynon. Dia yang akan menempati lantai atas mulai hari ini. Dan El, perkenalkan, gadis ini adalah Jehan"


Beruntung Jehan sudah bisa menguasai diri, dan mengulurkan tangannya. Pria itu dengan senyum ramah menyambut tangannya.


"SSya Jehan. Senang bertemu anda Mr. Halcynon"


Jehan gugup luar biasa, karena setelah melihatnya lebih dekat, pria itu ternyata terlihat lebih tampan lagi.


"Panggil saja El" katanya, dengan santai.


"Jangan seperti itu!!"


Mrs. Balark memberi teguran pada pria itu, dengan menusukkan jari telunjuk pada lengan atasnya.


"Kau adalah CEO Monath. Kau tidak bisa mengobral nama panggilanmu begitu saja. Apa kata orang nanti?"


Pria itu mendesah kesal, tapi kemudian diam saja.


"Nah---Jehan, panggil saja dia Mr. El. Kau mengerti?" Mrs. Nalark meminta dengan kesal.


Jehan hanya bisa mengangguk.


\~\~\~\~\~\~\~IlI\~\~\~\~\~\~


"Ayo!! Jawablah" Duke bergumam dengan tidak sabar.


Kakinya bergoyang gelisah, matanya berkali-kali melirik ke arah tubuh Lui yang tergolek di ranjang. Suhunya sudah normal, kemungkinan besar Lui akan sadar sebentar lagi.


"Bukankah kau seharusnya sedang berbulan madu? Kenapa kau menggangguku lagi saat tengah malam begini?!!!" suara Alva menyahut dengan kekesalan yang tidak disembunyikan.


"Bee pingsan....."


"Dan?"


"Aku sudah menyuntiknya, dan suhunya kembali normal"


"Lalu?"


"Apakah ada kemungkinan Lui pingsan dengan penyebab lain selain yang sudah kita ketahui?"


"Apa maksudmu?" Alva langsung bertanya dengan nada tajam, dia bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda dari nada bicara Duke.


Dengan gugup Duke menyeka keringatnya. "Emmm...."


"Duke, Lui pingsan karena apa? Dan kenapa kau tidak menjawab pertanyaan semudah itu?"


Alva sangat heran tentu saja. Biasanya Duke sangat terbuka soal masalah penyakit Lui.


"Duke, jangan membuang-buang waktuku. Aku sangat sibuk besok!!' Alva akhirnya membentaknya.


"Bee pass out, while we had s*x!!" Duke akhirnya mengucapkannya sambil menutup wajah.


"What the f...." Alva nyaris saja mengumpat, padahal dia sangat benci ketika mendengar kata umpatan.


"Bagaimana bisa? Apakah ini pertama kalinya kalian melakukannya?!!"


Alva tidak habis pikir. Mereka sudah setengah tahun lebih menikah, bagaimana mungkin?


"Tentu saja tidak!! Pemikiran macam apa itu?!!" protes Duke.


"Lalu apa yang berbeda?"


"Bee----she's wild!! Mungkin karena pengaruh sisi Elf-nya "


Duke sangat menyukai perubahan Lui. Dia menganggapnya sebagai sesuatu yang positif.


Lui berubah menjadi lebih percaya diri dan berani, Dia tidak pernah lagi mencoba untuk bersembunyi ketika menghadapi khalayak ramai. Dia juga menjadi lebih terbuka kepada siapa saja.


Untuk urusan ranjang tentu saja Duke juga menyukainya. Lui tidak lagi ragu untuk mengambil inisiatif.


Duke sama sekali tidak keberatan dengan semua itu. Tapi pingsan pada saat seperti ini, tentu saja membuatnya khawatir.


"Kalau begitu jawabanya jelas, cobalah untuk 'melakukannya' dengan lebih lembut" kata Alva. Dia tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis saat mengatakannya.


Tingkat kecanggungan dari percakapan itu sudah tidak bisa diukur lagi.


"Apakah ini berarti aku harus menahan diri?" Duke menggeram kesal, karena bukan itu jawaban yang diinginkannya.


"Look, kau sudah enam bulan menikah dan baru kali ini Lui pingsan bukan? Bagaimana jika kau melakukannya seperti yang biasanya kau lakukan? Jangan berlebihan!"


Alva mulai tidak sabar.


"Well, thanks anyway" Duke akhirnya menyerah dan memutuskan panggilan memalukan itu.


Tentu saja dia akan menurut. Walaupun itu menyebalkan!!!


AN : Terima kasih sudah menemani Lui n Duke sampai tamat. Mudah2an suka ya dengan cerita author. Klo kepo dengan tulisan author yang lain, silakan follow instagram @aisakura.chan ya.LOPE U PULL :)


\~\~\~\~\~\~\~IlI\~\~\~\~\~\~