
"Permintaanmu semakin lama semakin tidak masuk akal" Suara dingin Elder Victor menembus telingaku dan berakar dengan liar di sana.
Suara tanpa setitik rasa simpati, untuk situasi yang aku hadapi.
"Untuk apa gadis itu membutuhkan untuk bertemu pria yang lain? Bukankah dia Mate-mu? Dan bagaimana caramu menjelaskan tentang sekelompok orang hidup di tengah hutan pada pria itu?" tanyanya sinis, sambil menepis debu imajiner di celananya.
Aku menemuinya, saat dia sedang berada di perpustakaan pack.
Perpustakaan ini adalah hasil dari pemikiran ayah, yang tidak pernah lelah memperingatkan jika pendidikan akan menjadi kunci untuk mengembangkan pack.
Aku ingat ayah pernah bercerita bagaimana Elder Victor berpikir gagasan itu adalah omong kosong. Tapi dengan ironis, justru perpustakaan ini yang menjadi tempat favoritnya sekarang.
"Yang ingin aku bawa ke sini adalah kakaknya. Dia keluarganya. Aku rasa hal yang wajar jika dia ingin bertemu. Dan soal dunia inhumane, bukan hal baru untuknya.Pria itu sudah tahu dengan pasti siapa aku"
Aku menjawab sambil menunduk. Bukan sebagai bentuk penghormatan, tapi untuk menyembunyikan raut wajah, yang aku yakin sekarang akan terlihat menyeramkan karena amarah.
"Apa?! Kau memberi tahunya? Apa kau sudah gila?!" tuduhnya tanpa berpikir.
"Tentu saja tidak!! Dia tahu soal identitas inhumane-ku sekitar 3 bulan lalu. Aku berada di pack saat itu!!" bantahku, dengan suara yang sudah sedikit melewati batas kesopanan.
"Bagaimana bisa? Dia manusia bukan?"
Wajahnya kini berubah menjadi penuh minat. Dia sama herannya denganku soal fakta itu.
Aku menggeleng dengan enggan, "Dia menolak mengatakan sumbernya ketika aku bertanya"
"Dasar tidak berguna!!" gumamnya dingin.
Celaan yang sudah beribu kali aku dengar, selama 25 tahun kehidupanku.
Jika orang lain yang mengatakan, aku pastikan mulutnya telah robek. Tapi aku ingat bagaimana ayah menelan semua hinaan Elder Victor dulu, maka sekarang aku akan melakukan hal yang sama.
"Hmmf... Kau dan ayahmu benar-benar punya selera rendahan. Ayahmu mempunyai mate yang berasal dari pack kecil yang menyedihkan. Dan kau mengungguli kepayahannya dengan membawa seorang Mate manusia. Kalian berdua luar biasa"
Senyum yang tersungging di bibirnya gagal menyembunyikan nada muak pada kalimat yang dilontarkannya padaku.
Ini lebih buruk dari yang aku duga. Titik didih amarahku nyaris mencapai ambang batas saat ini. Aku akan tertawa bahagia jika bisa melayangkan satu cakaran kecil pada mukanya, yang masih memandangku dengan remeh.
"Dan lebih buruk lagi, kau memilih mate dengan kondisi sakit-sakitan. Seleramu menyedihkan!!"
"Kau sadar bahwa Mate bukan sesuatu yang bisa aku pilih bukan?"
Setitik debu rasa hormat yang masih tersisa untuknya, sekarang sudah musnah.
"Aku akan mengatakannya sekali lagi. Aku sama sekali tidak percaya dengan segala teori tentang Mate itu. Menurutku semua itu adalah omong kosong" ujarnya, sambil memandangku tajam.
That's it...........!!!!
"Hanya karena otakmu tidak cukup pintar untuk menerima sesuatu hal, bukan berarti hal itu adalah salah"
Aku mengatakannya langsung sambil menatap matanya. Aku tidak peduli lagi dengan segala kesopanan.
Aku bisa melihat sekelebat rasa terkejut di matanya karena bantahanku yang kasar. Tapi setelah beberapa detik, mata itu kembali dingin tanpa perasaan.
"Kau ternyata lebih berani dari pada yang aku sangka. Aku hampir tidak mengenalmu tadi. Mengirimmu ke dunia manusia ternyata langkah yang lumayan" ujarnya.
Perkataannya adalah bukti jika ayah menutupi kebodohanku dengan rapi.Dia tidak tahu aku melarikan diri.
"Kau akan lebih mengenalku, jika saja kau berusaha berbicara secara normal. Bukannya sibuk mencela, setiap kita bertemu" serangku lagi.
"Aku mengajakmu berbicara dengan normal!' sanggahnya, sambil mengerutkan kening.
"Sebelum aku berumur 10 tahun, kau sama sekali tidak pernah bertanya hal apapun padaku, yang aku ingat hanya bagaimana sindiran sinismu membuat telingaku berdarah"
Aku mengingatkannya, soal kenangan 'manis' itu.
"Ah... ya, setelah kemampuanmu sebagai serigala berkembang, aku bisa melihat kau sedikit lebih berharga dari pada Ibumu" jelasnya, dengan nada datar tanpa perasaan.
Dan ----rantai tipis penahan emosiku seketika putus.
"Listen you f*ck*ng old man!! Aku tidak peduli tentang segala hinaan yang kau berikan kepadaku. Tapi tidakkah waktu 25 tahun\, cukup untuk membuatmu puas melontarkan seluruh hinaan itu kepada Ibuku?"
Umpatan yang sedari tadi teronggok di ujung lidahku, akhirnya terlontar dengan lancar. Aku sudah sama sekali lupa, jika aku kesini karena ingin meminta bantuannya.
"Dia membunuh cucu buyutku. Hinaan seumur hidup tidak akan menutup kesalahannya" balasnya galak.
"Then you wrong again! Yang membunuh Ibuku adalah seekor Stray gila. Dan cucu buyutmu telah melakukan perbuatan sangat mulia dengan menyelamatkan nyawa seseorang. Perbuatan yang aku ragu pernah kau lakukan. Jangan menodai perbuatan mulianya, dengan kata-kata kotormu itu"
Aku hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya sekarang.
"Kau anak tak tahu diuntung!! Tentu saja kau membela wanita rubah itu, kau sama busuknya dengannya" Ucapnya dengan terengah penuh dengan emosi.
"Ya-----katakanlah aku memang busuk, tapi aku yakin, bibit sifat busuk itu berasal darimu, bukan ibuku!!" balasku tak kalah keras.
Dia mendelikkan mata, karena tidak bisa mengucapkan bantahan pintar lagi.
Tidak ingin membuang lebih banyak waktu , aku berbalik meninggalkannya.
Di dekat pintu keluar perpustakaan, Amon -dia adalah pengawal pribadi Elder Victor dan selalu mengikuti kemanapun orang tua itu pergi -- melihatku dengan wajah tidak suka. Amon kurang lebih adalah pamanku. Tapi dengan jalur silsilah yang rumit.
Tapi aku tidak akan membuang nafasku untuk berbicara dengannya.
Aku akan menggunakan cara yang lebih sederhana untuk membawa Oscar ke sini, yaitu menyingkirkan siapa saja yang menghalangi keinginanku, menggunakan Alpha tone. My last resort. Persetan dengan segala akibatnya.
----------- *0o0*----------
"Aku rasa gaun yang ini akan cocok dengan warna matamu"
Myra menyerahkan gaun berwarna putih dengan lace pada rok dan lengannya. Aku seperti menemukan Charlie nomor 2 padanya. Bahkan sedikit lebih bersemangat.
Yang membedakan adalah, Myra masih mendengarkan beberapa pendapatku, walaupun akhirnya tidak menyetujuinya.
Myra membawa kurang lebih 6 potong gaun untukku. Dan percaya atau tidak, penyebabnya adalah, karena dia ingin membawaku keluar ke teras kamar. Teras yang hanya berjarak beberapa meter dari ranjang tempat aku terbaring.
Tidak lupa, dia memberiku mantel tebal yang hangat dan lembut setelahnya. Menurut Myra udara mulai berubah tidak bersahabat, karena musim dingin telah tiba. Walaupun belum ada salju.
Myra membantuku berdiri, dan memapahku ke kursi roda. Kakiku belum mampu berjalan dengan sempurna, tapi Dr. Sidra meyakinkan, dengan beberapa hari terapi, aku akan bisa berjalan biasa lagi.
Myra memencet tombol di sebelah tembok dan perlahan kaca dengan hiasan ukiran tribal itu bergerak ke samping dan menyisakan lubang raksasa di tembok.
Desain yang sangat unik, karena ukurannya yang tidak masuk akal. Untuk apa mereka membuat jendela selebar ini di kamar? tanyaku dalam hati. Dan tombol pembuka itu adalah level lain dari keanehan.
Udara musim dingin yang segar membuatku tersenyum. Musim favoritku akhirnya tiba. Aku tidak sabar ingin melihat salju.
Myra mendorongku pelan menuju teras. Balkon itu juga berlantai kayu seperti kamar yang aku tempati, pagar dengan tinggi setengah meter mengelilingi teras dengan kokoh. Di depanku terpampang pemandangan yang segera mencuri nafasku.
Hamparan hutan berwarna-warni sisa musim gugur memanjakan mataku. Belum lagi gunung yang menjulang tinggi dengan puncak berwarna putih melengkapi pemandangan menakjubkan di hadapanku.
"Sebenarnya kita berada dimana?" tanyaku.
Apakah ini di Beddgelert, daerah Gwynedd?
Tapi pemandangan di sana lebih tandus. Gunung yang ada di hadapanku walaupun tidak lagi hijau, tapi jelas adalah gunung yang subur, berbeda dengan pegunungan di daerah itu.
"Oh.. aku belum mengatakan hal ini padamu? Kau berada di Canada, lebih tepatnya daerah di sebelah utara Quebec" jawab Myra dengan ceria.
Tapi tentu saja jawabannya membuatku membelalak. Aku berada di benua lain?
"Bbbagaimana bisa?" tanyaku, dengan panik memandang Myra, yang tidak lagi tersenyum melihat wajahku yang kalut.
"Darling, maafkan jika aku tidak peka. Aku benar-benar lupa mengatakan hal ini padamu. Saat kau tidak sadarkan diri kemarin, Duke harus membawamu sejauh mungkin dari penyerang itu. Tempat ini yang paling aman, dan yang pasti jauh dari jangkauan mereka" jelas Myra, dengan wajah menyesal.
Aku tidak keberatan berada dimanapun saat ini.
Tapi bayangan berada di tempat asing yang sangat jauh, tanpa Charlie dan Oscar membuatku terguncang. Selama beberapa hari ini, aku mengira paling tidak masih berada di Inggris, bukan benua lain.
"Jangan takut sayang, kau akan aman di sini. Aku jamin itu" sela Myra lagi, mencoba menghiburku.
"Dan kau tahu, aku baru mendapat kabar jika kakakmu akan datang" ujar Myra dengan segera, karena melihatku tidak juga bergeming.
Itu adalah berita paling menyenangkan yang aku dengar.
"Benarkah?" tanyaku dengan lebih ceria.
Myra mengangguk, "Mungkin sekitar dua atau tiga hari dari sekarang. Bersabarlah!"
Aku tidak akan mendebat hal itu. Walaupun dengan pesawat pribadi milik Delmor, akan tetap membutuhkan waktu yang agak lama bagi Oscar untuk bisa sampai di sini.
Suara ketukan di pintu membuat kami menoleh. Myra masuk kembali dalam kamar untuk membuka pintu. Aku mengarahkan pandanganku ke depan.
Dengan perlahan aku menggeser kursi roda mendekati pagar. Sekarang aku bisa melihat pemandangan di bawah dengan jelas. Dan aku tidak menyesal. Taman di bawah balkon tidak kalah indah dengan pemandangan pegunungan yang ada di depanku.
Pohon-pohon besar menjulang yang berada di sebelah balkon, ternyata menaungi taman yang sangat cantik. Aku tidak bisa melihat seluruh taman dari balkon karena luasnya. Tapi aku sudah cukup puas dengan pemandangan yang aku lihat.
Barisan pagar berwarna kuning, terbentuk dari tumbuhan semak, membentengi petak-petak bunga yang sekarang hanya tinggal daun. Aku yakin taman ini akan lebih mempesona di musim semi.
Petak-petak kosong tanpa tumbuhan, terlihat di beberapa bagian. Menandakan tumbuhan yang berada di sana sedang berhibernasi. Mereka akan muncul dan mekar saat cuaca sudah lebih hangat.
Di sudut taman, terdapat kolam buatan yang indah. Batu-batu besar disusun membentuk air terjun mungil yang apik. Aku mengakui kemampuan tukang kebun yang menatanya. Dia pasti benar-benar ahli.
Kegiatanku mengagumi taman itu, sedikit terusik dengan sesuatu yang muncul dari sudut taman.
Sesosok tubuh muncul, dan berjalan pelan menuju kursi panjang berwarna putih, di bawah pohon besar yang menjulang di depan balkon.
Aku tahu siapa dia!!
Dia adalah wanita luar biasa cantik yang menemui Duke, saat kami makan siang bersama dulu. Rambut hitam panjangnya, masih berkilau seperti yang aku ingat.
Dia memakai celana jeans panjang dengan kemeja yang kedodoran, salah satu jenis fashion yang di benci Charlie.
Tapi aku yakin Charlie akan berubah pikiran, saat melihat wanita itu memakainya. Dia tetap terlihat seperti model.
Wanita cantik itu duduk diam memandang ke depan. Sepertinya sedang menunggu seseorang.
Dan kemudian, pria berambut hitam yang juga langsung aku kenali, muncul dari bawah balkon.
Itu Duke, dia menghampiri wanita itu, lalu duduk di sebelahnya.
Selain kejadian saat aku siuman beberapa hari yang lalu, aku sama sekali belum melihat Duke. Dan aku sedikit lega karenanya. Aku belum bisa sepenuhnya mengabaikan rasa takutku padanya.
Pemandangan horor itu masih melekat kuat di benakku.
Duke terlihat bercakap-cakap dengan wanita itu.
Rambut hitam Duke sedikit lebih panjang dari pada yang aku ingat. Atau mungkin karena dia tidak menatanya dengan rapi saat ini.
Beberapa kali Duke menyisir rambutnya ke belakang dengan jari.
Dan pemandangan itu------tidak buruk.
Dia memang tampan, sekali lagi aku mengakuinya.
Ini membuatku sedikit dongkol. Tidak bisa dipungkiri, aku benar-benar tenggelam dalam pesona Duke. Tapi perasaan takut yang aku rasakan juga sangat kuat.
Kedua hal bertolak belakang itu membuatku terbelah.
Dia monster yang dengan santai meledakkan kepala seseorang tanpa sesal. Tapi debaran jantungku saat melihatnya tadi, dengan jelas menyatakan, aku sedikit tidak peduli dengan hal itu.
Dari jarak seperti ini, aku tidak bisa mendengar pembicaraan mereka. Tapi dari bahasa tubuhnya, aku tahu mereka akrab. Mereka berbicara sambil sesekali mendekatkan kepala.
Apakah wanita itu tahu tentang identitas Duke yang lain?
Sejuta pertanyaan menyebalkan yang lain, mulai membombardir batinku. Melihat keakraban mereka saat ini, kemungkinan besar dia tahu tentang Duke.
Duke juga terlihat santai, dengan tawa yang beberapa kali terpecah.
Rasa yang tidak menyenangkan memenuhi hatiku. Belum lagi aku merasa udara di sekelilingku menghangat.
Aku mendesis kesal, kau mulai bersikap tidak masuk akal Lui!!
Aku memperhatikan mereka selama beberapa saat, ketika tiba-tiba wanita itu mendongak dan pandangan kami bertemu.
Senyum miring yang terlihat aneh, terukir di wajahnya saat melihatku. Aku yang terkejut, langsung mendorong diriku menjauh dari tepi balkon.
Apa maksud senyum itu? Wanita itu aneh sekali.
Dengan perlahan, aku mendekat ke tepi balkon mencoba mengintip mereka. Kedua orang itu masih berada dalam posisi yang sama. Tapi tangan wanita itu sekarang merangkul pundak Duke.
Dan mendadak aku ingin sekali melompat turun dan menamparnya!!
Haaaah..... apa maksud semua ini?. Aku marah melihat keakraban mereka? Ini sama sekali tidak mungkin.
Aku bahkan tidak bisa bertemu Duke karena takut, tapi aku marah saat melihatnya dekat dengan wanita itu?
Sekali lagi otakku menghadirkan misteri yang tidak terjawab. Misteri yang lebih aneh dibandingkan dengan saat aku bersama Zeno.
----------- *0o0*----------
Telingaku masih berdenging karena makian yang diucapkan Oscar dengan sekuat tenaga, berhasil menembus gendang telingaku. Aku sudah menutup sedikit kemampuan pendengaranku, tapi hal itu seakan tidak berguna.
Aku selama ini mengira Oscar adalah orang yang berkepribadian tenang, tapi itu salah. Aku telah membangunkan sisi yang lain darinya. Makian yang dilontarkannya tadi, mengalahkan semua makian yang pernah aku ucapkan.
Umpatan Oscar lebih dari sekedar sadis!!
Tapi yang terpenting, aku sudah menyampaikan hal yang aku inginkan. Agak sedikit sulit mendengar jawaban Oscar, diantara semua makian itu. Tapi kurang lebih jawabannya adalah dia akan datang ke sini secepatnya.
Sekarang aku harus mengatur bagaimana agar kedatangannya tidak menarik perhatian siapapun.
Aku memilih nomor Alva di ponselku dan mulai mengetikkan pesan. Aku sedang tidak ingin berbicara panjang lebar dengan siapapun sekarang.
Aku bisa mendengar dengan samar suara Mom dan Bee dari langit-langit ruangan. Kamarku berada persis di atas ruang kerja, tempatku berada sekarang.
Beberapa hari ini kurang lebih berlangsung sama. Yaitu hari penuh penyiksaan dan nestapa.
Jarak kami yang begitu dekat seolah mengejek. Karena jarak itu sama sekali tidak berguna. Aku tetap tidak bisa mendekatinya. Keinginanku untuk memeluk Bee dengan hangat seolah kandas tanpa tahu kapan akan terwujud.
Ping!!-- suara pesan masuk di ponselku.
Dari Roan, dia ingin bertemu.
Kesopanan yang tidak biasa datang darinya. Biasanya dia akan masuk ke Manor tanpa peduli etika. Aku membalas dengan mengatakan akan menemuinya di taman bagian timur.
Aku memeriksa pesanku sekali lagi, tidak ada balasan dari Alva. Tapi pesanku telah berubah menjadi biru yang berarti dia telah membacanya. Absennya jawaban, akan aku artikan, dia bersedia menolongku.
Dari sudut mata, aku melihat Roan muncul dari pintu samping taman.
Ruang kerja ini, berhadapan langsung dengan taman. Seluruh tembok bagian samping yang berupa kaca, memberi pemandangan menyeluruh ke arah taman. Roan duduk di kursi panjang di bawah pohon. Taman itu tempat yang cocok untuk sekedar mengobrol.
Aku membuka pintu geser dan melangkah menuju taman. Hembusan angin musim dingin membawa aroma yang memabukkan ke hidungku. Aroma milik Bee.
Hal ini juga yang membuatku hampir gila. Aroma Bee menyebar hampir di seluruh Manor. Aku bisa menciumnya di bagian manapun aku berada. Tapi karena taman ini berhadapan langsung dengan kamarku di tingkat 2, tidak heran aroma Bee tercium dengan kuat.
Dengan sedikit menahan nafas aku melangkah menuju Roan. Tidak biasanya Roan berwajah serius, ini terlihat menggelikan. Mau tak mau, aku terkekeh saat duduk di sampingnya.
"Aku belum mengatakan apapun dan kau sudah tertawa?" bentak Roan, kesal.
"Mimik serius terlihat tidak cocok dengan wajahmu" Roan rupanya juga menganggap hal itu lucu, dia juga tersenyum walaupun dengan sedikit masam.
"Ada apa?"
"Aku ingin meminta maaf" jawab Roan, dengan cepat dan serius.
Aku menelengkan kepala, sambil memandang penuh tanya ke arahnya. Aku tidak punya ide sama sekali tentang hal apa yang membuatnya meminta maaf.
"Aku sudah bersikap sedikit kurang ajar soal kau dan Mate-mu" jelasnya, dengan wajah tidak nyaman. Dia bukan tipe peminta maaf, jadi sikapnya yang canggung bisa aku mengerti.
"Dan juga karena aku lari darimu kemarin. Saat kita di danau" tambahnya.
Wajah Roan sekarang benar-benar menggelikan.
"Ha..ha..ha" Aku tidak bisa lagi menahan tawa. Segera saja beberapa pukulan melayang ke badanku.
Tapi Roan juga tertawa setelahnya.
"Kau tidak perlu mengatakan hal yang membuatmu gelisah, Roan. Aku akan tahu dengan otomatis saat kepala kita kembali terhubung".
"Well...aku tidak ingin ada sesuatu yang membuatku canggung saat kita melakukan mindlink nantinya" Dia menggosok kedua telapak tangannya dengan gugup.
"Atau dengan kata lain, kau tidak mau El mengetahui tentang ini" tebakku.
Dia lebih baik mati, dari pada harus mengakui rasa bersalah ini pada El.
El akan memakainya sebagai senjata, jika mereka terlibat perdebatan lagi. Mereka terlalu serius dalam persaingan hal yang tidak berguna seperti itu.
Aku rasa tebakanku tepat, karena Roan sekarang tertawa kecil.
"Yeah, hal itu juga menjadi pertimbanganku. Kau harus menyembunyikannya dengan baik saat kita bertiga bertransformasi, mengerti?i!!" Roan kembali terdengar galak.
Aku hanya tersenyum menanggapinya.
"But I'm serious. Aku tidak tahu ikatan Mate kalian begitu...., kau tahu, sangat dalam dan erat. Aku tidak seharusnya melontarkan pendapat jahat saat kau depresi kemarin"
Kali ini aku bisa melihat mata tulus Roan saat mengatakannya.
"Aku tidak akan tersinggung dengan semua hal yang kau katakan. Aku tidak berteman denganmu untuk mendengar hal-hal manis" ujarku, jujur.
Mulut Roan memang brutal, tapi aku membutuhkannya. Ada situasi yang mengharuskan seseorang untuk selalu jujur walaupun itu kejam, dan aku mendapatkan hal itu dari Roan.
Dia akan mengatakan semua pendapatnya dengan jujur, tanpa peduli akibatnya baik atau kadang buruk.
Tapi seperti saat ini, Roan akan sangat menyesal jika memang telah menyakiti hati seseorang karena perkataannya. Dia sangat mengerti, jika kejujuran tidak selalu indah.
Dan tentu saja kehidupan memang penuh dengan kenyataan pahit. Kenyataan yang selalu dijabarkan Roan dengan kejam.
Sifatnya akan mengimbangi sifat El yang kadang terlalu optimis. Aku punya malaikat dan iblis di dalam kepalaku saat bertransformasi. Sempurna bukan?
"Ya... aku tahu. Tapi setelah mendapat 'pencerahan' dari isi kepalamu setelah 8 tahun ini. Aku benar-benar merasa seperti sampah, karena telah meremehkan hubunganmu dengannya" Roan menunjuk ke arah kamarku di atas sambil mendongak.
Aku mengangguk-angguk mengerti. Intinya adalah seperti El, Roan sangat mengerti dengan keadaanku dan Bee. Mungkin Roan tidak akan melontarkan celaan kepada kami lagi setelah ini.
Mungkin, hanya mungkin!
Tanpa peringatan tiba-tiba Roan merangkul bahuku sambil tertawa.
"What's wrong with you?" Aku terperanjat, sampai nyaris melompat bangun. Tapi Roan menahan tubuhku dengan tangan. Apa ini sebentuk kata maaf yang aneh?
Dia tidak pernah menyentuh maupun disentuh oleh laki-laki dengan rela, kecuali oleh ayahnya.
Sebentuk trauma setelah kami berada di benak El. Jika aku berakhir dengan banyak mimpi buruk, Roan menjadi tidak suka jika ada seseorang yang menyentuhnya.
Fakta yang suram, sesuram hati El saat mengetahui hal itu. Tapi sekali lagi, kami memilih untuk tetap menjaga mindlink kami. Persahabatan tulus yang ditawarkan Roan dan El, tidak akan pernah aku gantikan dengan apapun.
Rasa sesal dan simpati yang kami bagi bersama, membuat kami bisa menjalani semua hal buruk yang ada di benak kami. Dan itu cukup untukku.
Roan masih tidak melepaskan rangkulan itu, sementara mulutnya terus terkekeh geli.
"Apa terjadi sesuatu dengan otakmu?"
"Kau tidak perlu tahu alasan perbuatan aneh ini. Yang pasti kau akan berterima kasih padaku nanti" jawabnya sambil meleletkan lidah.
Aku akan membiarkannya. Otakku sedang tidak ingin memikirkan sesuatu yang membingungkan.
"Kau akan membawa kakak Lui kesini?" tanya Roan.
Aku mengangguk, "Aku akan menyelundupkannya, Elder Victor tidak memberi ijin"
"Kau meminta izin padanya?" Roan terdengar kaget.
"Aku meminta izin hanya untuk bersikap sopan. Tapi tentu saja gagal, karena setengah dari percakapan itu berubah menjadi pertengkaran. Jadi jalan satu-satunya adalah membawa Oscar masuk secara rahasia"
Pertengkaran dengan Elder Victor menyisakan rasa pahit di mulutku.
"Aku akan sangat heran jika kau berhasil" kata Roan, "Kalian tak ubahnya seperti minyak dan air. Sangat mustahil berpendapat sama" Kalimat bijak yang sekali lagi membuatku terkejut.
"Kau tahu---- Aku sangat menghargai permintaan maaf tadi. Tapi aku sangat tidak nyaman dengan dirimu yang berubah bijak. Aku akan sangat berterima kasih jika kau kembali ke sifatmu yang biasa" Aku tersenyum melihat mulutnya perlahan berubah cemberut.
Roan menampar pelan kepalaku.
"Kau nikmatilah hati meranamu. Aku harap kau punya rencana bagus untuk mendapatkan gadis itu kembali, before your d*ck get wrinkles" Nada kejamnya yang biasa, muncul sesuai dengan harapan.
Dengan tambahan kata-kata indah yang membuat telingaku mengerut.
Yup... she's normal, nothing to worry.