Finding You, Again

Finding You, Again
Us 26 - Fixing and Proper Proposal



Berat!!!


Sesuatu mencegahku untuk menggerakkan tangan kanan. Aku bisa merasakan tusukan jarum infus di tangan kiri, kenapa aku tak bisa menggerakkan tangan kanan?


Mataku yang masih terasa berat, mengalahkan keinginanku untuk membuka mata.


Tapi kemudian, hembusan nafas hangat yang menerpa bahuku membuat mataku terbuka secara otomatis. Aku mencium aroma kopi dan cokelat yang sangat kuat. Ini aroma Bee.


Dan di sanalah dia, Bee sedang meringkuk di sebelahku, tertidur sambil memeluk tangan kananku seperti guling.


Aku tahu ini berlebihan, tapi dengan seketika hatiku dilanda kebahagian yang amat sangat.


Aku bahkan mungkin akan memaafkan Elder Victor jika dia memintanya saat ini. Rasa bahagia memusnahkan segala amarah dan benci di hatiku, hanya untuk saat ini tentu saja.


Aku mengelus kepala pirang itu dengan lembut. Tidakkah dia tersiksa tidur dengan posisi seperti itu? Minimal aku akan meluruskan kakinya.


"Apa yang kau lakukan?" Suara berbisik, yang dibarengi dengan cekalan, muncul saat tanganku bergerak meraih kaki Bee.


Itu Mom, kenapa aku tidak menyadari kehadirannya sedari tadi? Aku rasa keberadaan Bee menyedot seluruh perhatianku.


Tiba-tiba Mom meraih kepalaku dan memutarnya, agar wajahku menghadap ke arahnya secara penuh.


Aku memandangnya sambil melotot tak mengerti. Selama beberapa detik Mom terlihat meneliti wajahku dengan seksama.


Ada apa lagi? Aku mencoba bertanya, tapi Mom mencegah dengan menutup mulutku dengan tangannya. Dia memberi isyarat sambil menggeleng pelan ke arah Bee. Dia tak ingin Bee terbangun karena obrolan kami.


Mom menarik ponselnya dari saku kemudian mengetik sesuatu di sana, setelah selesai dia menyodorkannya padaku.


Matamu berwarna hijau, matamu berubah menjadi hijau. Bagaimana bisa? Apa yang kau rasakan?


Tulisnya di ponsel.


Ahhhhh... aku mengerti, sejarah terulang kembali.


Aku memencet tombol kamera depan dan melihat wajah yang terpantul dari sana. Dan benar kata Mom, mataku kembali menjadi hijau, seperti dulu. Aku tersenyum sambil mengetikkan jawaban pada Mom, untuk mengurangi wajah cemasnya.


Aku baik-baik saja Mom, jangan khawatir. Aku sudah pernah mengalaminya sebelum ini. Mataku berubah menjadi cokelat terang lagi setelah aku kembali ke pack. Aku dulu tidak terlalu mengerti penyebabnya, tapi aku rasa ada hubungannya dengan mate. Kemungkinan besar mata hijau ini muncul karena aku bersama Bee lagi. Dulu aku juga mengalaminya ketika aku bersama Bee


Mom sedikit bernafas lega membaca penjelasanku. Dan kembali menuliskan sesuatu.


Aku tidak tahu bertemu mate-mu akan membuat warna mata berubah, tapi karena warna mataku dan ayahmu sangat mirip, aku rasa walaupun berubah tidak akan terlihat. Ini menarik sekali!!


Mom memandang mataku tanpa berkedip selama beberapa lama.


Dengusan halus dari Bee membuatku menoleh lagi. Posisinya jelas terlihat tidak nyaman. Aku teringat dengan niat akan memperbaiki posisi kakinya tadi. Maka aku meraih pergelangan kaki kanannya.


Tapi sekali lagi Mom mencegahku menggerakkan kaki Bee. Aku mencoba memberi isyarat, jika aku hanya akan memperbaiki posisi tidur Bee. Tapi Mom menggeleng pelan, lalu kemudian menyodorkan alasan yang telah diketiknya selama beberapa detik sebelumnya.


Dia gelisah sekali kemarin, karena itu aku membiarkannya berada di sini tadi malam, lebih baik kau tak mengganggunya. Biarkan dia beristirahat.


Aku memandang Mom dengan tidak percaya. Mengganggu? Memang apa yang akan aku lakukan padanya?


Aku hanya akan meluruskan posisi tidurnya. Dia terlihat tak nyaman meringkuk seperti itu!! 


Aku menyipitkan mata saat Mom membaca tulisanku.


Mom mengangguk-angguk mengerti. Dan kembali menuliskan balasan.


Kau berani sekali melamarnya, dia galau dan sangat bingung. Untunglah tangisnya tidak membuat pingsan!!! 


Wajah Mom terlihat tercabik antara ingin memujiku, tapi sekaligus mengkhawatirkan keadaan Bee.


Dia menangis?? Kenapa? 


Aku tidak ingin lamaranku membuat Bee sedih ataupun tersiksa.


Mom memutar bola matanya seolah aku menanyakan hal yang sudah sangat kentara.


Dia dilamar oleh seorang Werewolf Lord yang baru dikenalnya 3 minggu yang lalu, dari negeri antah berantah, tentu saja dia tidak tahu harus bagaimana!!! kau lupa dia manusia biasa? Dan sudahkah kau berpikir tentang Oscar? Dia akan membunuhmu secara perlahan jika mendengar hal ini! 


Tulisan Mom membuatku merasa seolah sebalok es meluncur ke dalam tubuhku.


Heeh.. ya tentu saja!! Oscar, aku lupa sejenak tentang keberadaan makhluk menyebalkan yang sangat disayangi Bee.


Jika Oscar keberatan dengan kebersamaan kami, Bee tentu saja akan sedih. Bahkan ada kemungkinan Bee akan meninggalkanku jika diminta oleh Oscar. Aku tahu seberapa dekat Bee dengan Oscar.


Dari kunjungannya kemarin, aku tahu Oscar berharap Bee tidak akan pernah mencintaiku lagi, dan segera akan kembali ke London jika semua masalah ini selesai.


Mom kembali menyorongkan ponselnya,


Aku bahkan belum sempat memberimu cincin


Cincin? Aku mengernyit bertanya. Mom merogoh sakunya dan mengeluarkan kotak kecil berwarna biru tua dari sana. Saat kotak itu terbuka, tampaklah sebentuk cincin emas putih dengan berlian berwarna hitam teronggok disana.


Ayahmu memberikan cincin ini untukku. Dan aku ingin membuat tradisi bagi Zhena Blackmoon untuk memakainya


 


"Hmmmmmm....."


Gerakan di sekitar tangan kananku membuatku menoleh, Mom yang juga melihat itu, dengan secepat kilat menyimpan kembali kotak cincinnya di kantong.


Bee menggeliat dan dengan pelan dia membuka mata. She's unbelievably cute!!


Dengan wajah mengantuk, Bee membelalakkan mata ketika menyadari bahwa aku sudah bangun. Setelah itu dia duduk tegak sambil mengucek matanya.


"Duke!! Kau sudah sadar?" Wajahnya terlihat lega dengan senyum mengembang senang.


"Kau salah Bee, aku sudah bangun. Aku hanya tidur bukan pingsan" ralatku, sambil memencet hidungnya dengan gemas.


Aku bangun dan berusaha duduk, dengan selang infus yang sekarang mulai terasa sangat mengganggu.


Aku tahu, pemakaian Alpha mindlink dalam waktu yang selama itu, apalagi harus membaginya dengan seluruh warga pack akan berakibat buruk bagi tubuhku. Aku yakin Dr. Sidra membuatku tertidur lama agar aku bisa memulihkan tenaga.


"Tidak!! Kau pingsan. Kau jatuh ketika berjalan. Tentu saja itu pingsan" Protesnya sambil memasang wajah tak senang.


"Kau pingsan dan sadar setelah 2 hari" lanjutnya sambil memberengut kesal.


"Hmm baiklah, aku pingsan, dan sekarang aku sudah sadar, bagaimana?"


Bee tersenyum kecil, puas karena merasa menang berdebat denganku.


"Aghh!!.. Hijau, matamu berwarna hijau!!"


Bee memekik, kaget melihat mataku yang berwarna hijau.


Ya... reaksinya sama persis seperti dulu ketika dia melihat mataku berubah untuk pertama kalinya. Dan jelas saat itu aku tidak bisa beralasan, jika aku baru melakukan operasi, mataku berubah warna ketika Bee sedang bersamaku.


Mataku berubah setelah aku berciuman untuk pertama kalinya dengan Bee, aku ingat dengan pasti.


Begitu aku membuka mataku lagi setelah berciuman, Bee memekik kaget seperti tadi. Dan sudah pasti aku harus menjelaskan soal inhumane setelahnya. Tidak ada manusia yang bisa merubah warna mata dengan tiba-tiba setelah berciuman.


Tapi aku sudah menciumnya pada saat malam hari kita berjalan-jalan kemarin, kenapa mataku baru berubah sekarang?


Ughh... Ini menyebalkan, pertanyaan ini tidak akan bisa dijawab oleh siapapun. Resiko menjadi menjadi makhluk langka.


"Jangan khawatir. Ini terjadi karena kita telah berciuman kemarin" jawabku dengan nada normal tanpa niatan untuk menggodanya.


Tapi jawabanku membuat wajah Bee memerah dengan seketika. Bee sepertinya ingin menanyakan beberapa hal lagi, tapi mulutnya hanya terbuka dan tertutup tanpa ada suara yang keluar.


That was some priceless expression, I love it so much.


Aku tersenyum geli, sambil menyingkirkan beberapa rambut yang terserak berantakan di sekitar telinga Bee.


Seolah baru tersadar dengan keadaannya, Bee menyisir rambutnya dengan panik kemudian berdiri di samping ranjang dan merapikan pakaiannya yang sedikit kusut karena tertidur dalam posisi yang aneh.


"Aku..aku.." Bee menunduk malu, tanpa bisa memandangku.


"Ada apa? Jangan katakan kau malu, padahal kita baru saja menghabiskan malam bersama" godaku, sambil menahan tawa, melihat wajah Bee menjadi lebih merah lagi mendengar perkataanku.


"Berhenti menggodanya Duke" Mom menjawil kepalaku pelan sambil menggeleng-geleng.


Sekali lagi, aku melupakan jika ada orang lain yang berada di kamar ini selain aku dan Bee.


"Mandilah Lui, aku akan menyuruh seseorang untuk membawa sarapan keatas. Kau bisa bangun dan berjalan?" Mom beralih memandangku, setelah Bee dengan setengah berlari memasuki kamar mandi.


Aku mengangguk, kemudian menyingkirkan selimut dan berjalan menuju sofa sambil mendorong tiang infus.


"Aku akan memanggil perawat di bawah dan menyuruhnya mencabut infus itu. Aku rasa kau tidak akan membutuhkannya setelah ini"


Aku kembali mengangguk sambil setengah melamun, karena pikiranku sudah melayang sedikit jauh.


Aku lega Bee tidak bersikap kaku atau aneh setelah membaca tulisan Mom tadi. Tapi aku harus membahas lamaranku dengan lebih serius setelah ini.


Aku sangat sadar apa sumber kegelisahan Bee, dia pernah mengutarakan hal ini, jauh sebelum kehilangan ingatan. Hanya obrolan ringan, tapi dengan lamaranku tadi, aku yakin beban masalahnya menjadi lebih berat.


Setelah semua itu, aku masih harus mencari cara agar Oscar bisa menerima kami dan tidak membuat Bee sedih. Kemungkinan besar Oscar akan menyerah jika Bee yang meminta, karena dia tidak pernah berkata tidak pada Bee.


Tapi aku juga tahu, Bee tidak akan meminta sesuatu kepada Oscar, jika permintaannya akan membawa kesedihan bagi Oscar.


Dan aku merasa menjadi pengecut jika aku membiarkan Bee memohon pada Oscar. Aku akan mengatasinya sendiri.


"Saya sudah selesai Scion" Suara berat menyahut dari sebelahku, hampir membuatku terlonjak.


Infus dan juga jarum yang menancap di tanganku telah selesai di ambil.


Kapan? Aku tidak mendengarnya masuk atau apapun!!


Sepertinya obat Dr. Sidra belum sepenuhnya hilang dari tubuhku, aku merasa sedikit tumpul sekarang.


Aku mengangguk membalas penghormatan yang di berikan perawat itu, saat dia berpamitan.


Tok..tok!!


"Masuk!" Aku rasa itu bukan Mom, karena dia mempunyai kebiasaan tidak akan mengetuk jika aku dan Bee berada di dalam kamar ini bersama-sama.


 


 


----------- *0o0*----------


 


 


Wajah yang terpantul di cermin sekarang sudah terlihat sedikit lebih baik.


Aku hampir pingsan karena malu, saat tahu Duke ternyata bangun lebih dulu dari pada aku.


Kemarin malam aku berencana bangun dan pindah ke kamar Myra sebelum pagi. Tapi tentu saja itu gagal, dan sekarang Duke melihatku dalam keadaan yang lebih memalukan, dari pada ketika aku hanya memakai baju tidur sutra kemarin.


Kau harus berhenti mempermalukan dirimu sendiri Lui!! tekadku sambil menyisir lepas rambutku. Jangan lupa pria di depan itu adalah calon suamimu!!


Aghhhhhh......


Aku menutup wajahku dengan tangan, tidak sanggup menerima serangan rasa malu. Hanya memikirkan kata-kata itu saja membuatku semerah ini. Apa yang akan aku katakan jika Duke bertanya lagi nanti?!!


Tapi aku juga tidak mungkin menghindar, dan bersembunyi di kamar mandi ini selamanya!


Aku keluar, mendapati Duke sedang duduk diam menyilangkan kaki, sambil memandang tumpukan salju di balkon.


Pemandangan yang akan membuat siapa saja kesulitan bernafas.


Ketampanan yang terpahat di wajahnya, seolah berasal dari lukisan. Begitu klasik, indah, dan tidak bagus untuk kesehatan jantungku. Hhhhh----


Penampilan Duke sudah berubah, rambutnya tersisir rapi dan bajunya sudah berganti dengan kaos lengan panjang santai.


Aku rasa dia menggunakan kamar mandi di ruangan lain, karena aku juga mencium aroma sabun mandi samar darinya.


Aku melangkah pelan, tapi Duke tidak bereaksi. Apakah dia tidak mendengar aku membuka pintu kamar mandi? Tapi itu mustahil, telinganya lebih tajam dari manusia. Atau mungkin dia sedang melamunkan sesuatu yang pelik.


Wajahnya tidak terlihat tenang.


Ide jahil dengan segera terbentuk di otakku. Aku berjalan mengendap mendekatinya, ini adalah kesempatan langka aku bisa mengejutkan werewolf. Aku ragu kesempatan ini akan datang dua kali.


"Aghhhh.....!!"


Aku memekik karena Duke tiba-tiba menarik tanganku ketika jarak kami sudah dekat. Dia hanya berpura-pura tidak rupanya.


Tarikannya membuat aku jatuh dengan telak di pangkuannya.


"Nice try girl! Tapi aku tidak akan tertipu semudah itu lagi. Aku bisa mencium aromamu dari jarak bermeter-meter" Ucapnya dengan suara serak yang sexy.


Terlalu dekat!!!


Aku duduk dipangkuan Duke dan nafasnya menerpa wajahku secara langsung. Mendadak paru-paruku mengerut, seiring dengan terpacunya detak jantungku.


Aku berusaha turun, tapi gagal total, karena aku bukan lawan seimbang bagi tangan Duke.


Duke merengkuhku dalam pelukannya.


"Please, stay like this for a while" Suara Duke mengalun lembut penuh nada memohon.


Tentu saja aku akan mengabulkannya dengan sukarela. Walaupun jantungku mungkin tidak akan bisa menanggung akibatnya. Aku melingkarkan tangan ke lehernya sebagai jawaban.


Dan pelukan itu sangat nyaman.


Aku masih penasaran dengan mata hijau itu. Tidak mungkin itu terjadi hanya karena kita berciuman kemarin.


Tapi mungkin aku tidak akan bisa bertanya. Pandangan intens mata hijau itu, membuat tenggorokanku menjadi kering. Aku meraih cokelat panas di meja dan meneguknya pelan, sekedar untuk menenangkan diri


"Kau pasti sangat gelisah dan takut" katanya dengan pelan.


Aku mengangguk "Kau tiba-tiba pingsan, tentu saja aku takut"


"Maaf---" Duke mengelus rambutku pelan.


Aku menggeleng "Kau tidak boleh meminta maaf karena sesuatu yang tidak bisa kau kontrol Duke" sahutku dengan cepat.


Aku memang takut dan gelisah kemarin, tapi Duke tidak perlu meminta maaf untuk hal itu.


"Aku meminta maaf untuk lamaranku yang mungkin terlalu berani"


Duke kembali memandang keluar jendela, sambil meraih cangkir coklat di tanganku dan meminumnya tanpa ragu.


Aku tidak perlu merona hanya karena hal seperti itu sebenarnya, tapi tentu saja pipiku tidak setuju.


Wajahku menghangat, melihat Duke dengan mudahnya membuat jarak antara kami semakin dekat dengan perbuatan yang sangat sepele, seperti meminum coklat dari gelas yang sama denganku.


"Tapi aku tidak menyesalinya, karena itu adalah maksud hatiku yang sebenarnya!" Kali ini mata Duke berubah menjadi tajam, mencerminkan tekad bulat.


Aku sangat iri dan juga tersanjung melihat hal itu. Bagaimana bisa dia begitu yakin tentang sesuatu yang akan membuat hidupnya berubah selamanya?


"Apa yang membuatmu bisa seyakin ini? Aku tidak mengerti, kita baru bertemu sebulan yang lalu"


Duke terdiam dan berpikir. Dahinya berkerut selama beberapa saat.


"Love--maybe?" Duke menjawab dengan wajah tidak yakin.


"Kau tidak tahu?" Aku sedikit kesal mendengar jawaban ragu itu.


"Yang aku tahu, adalah fakta jika aku tidak akan bisa menghabiskan sisa hidupku selain dengan dirimu, Bee. Dan kau bertanya sebabnya? Aku tidak tahu penyebab aku mencintaimu, karena semua yang ada di dirimu tidak pernah salah, kau sempurna seperti apa adanya. Itu saja!"


Lagi, kalimat yang sanggup membalik duniaku, diucapkannya dengan nada ringan seakan tanpa beban.


Aku memejamkan mata mencoba menenangkan hatiku yang menggila, agar bisa melanjutkan percakapan ini. Aku harus siap menerima serangan seperti tadi.


"Tapi aku manusia Duke, aku akan tua dan mati jauh sebelum kau. Aku tidak akan sempurna dalam waktu 15 tahun. Sedangkan kau tidak akan berubah, mungkin sampai sekitar 100 tahun lagi"


Aku mengucapkan itu dengan bibir bergetar, karena sapuan rasa gelisah yang sejak kemarin menghantuiku.


"Maksudmu, aku akan berhenti mencintaimu hanya karena kau berkeriput dan rambutmu berubah putih?" Nada suara Duke tidak lagi terdengar lembut.


Aku tidak berani mengangguk, karena Duke jelas sedang marah.


"Sedangkal itukah kau menilai hatiku? Sedangkal itukah kau menilai perasaanku? Aku akan meninggalkan statusku sebagai Scion ataupun werewolf jika aku bisa. Dengan senang hati akan menjadi manusia untukmu, Lui!!"


"Tidak!! Jangan berkata seperti itu" Aku bisa merasakan air mata mulai terbentuk di sudut mataku.


Jangan cengeng Lui!! batinku, kesal. Aku tidak boleh menangis.


Duke bahkan tidak membentak atau berkata dengan nada keras, tapi aku yakin dia benar-benar marah. Karena dia tidak lagi memanggilku Bee.


"Aku tidak ingin kau meninggalkan apapun untuk diriku Duke, itu--itu, aku tidak membutuhkan pengorbanan apapun!"


Perkataanku agak tersendat, tapi aku berhasil menguasai diri lagi.


Duke tersenyum dan meraih tangan kiriku, yang kemudian digenggamnya.


"Itu hanya perumpamaan Bee. Aku tidak akan bisa menjadi manusia, tidak peduli seberapa keras aku berusaha. Pun sama untukmu, kau tidak akan bisa menjadi werewolf, walaupun mencoba cara apapun. Aku akan terus mencintaimu tanpa peduli dengan entitas-mu Bee. Kau adalah kau"


"A--aku --- juga mencintaimu, apapun wujudmu" Emosi sekali lagi menjerat leherku.


Senyum lebar terbentuk di bibir Duke, tangannya terangkat membawa tangan kiriku ke bibirnya dan mengecupnya pelan.


Wajahku tanpa bosan kembali memerah. Aku sungguh berharap bisa mencegahnya, sehingga aku bisa menyembunyikan perasaanku dengan lebih baik.


"Apakah kau yakin hal ini tidak kan menimbulkan masalah dengan statusmu sebagai Scion?"


Aku bekerja keras mengucapkan hal, yang membuatku gelisah. Aku tidak ingin ada hal yang mengganjal nantinya.


"Tentu saja akan menjadi masalah, tapi aku sudah menyelesaikannya!"


Wajah Duke terlihat lega, tapi jawaban itu membuatku terkejut.


"How?" tanyaku, kami bersama sekitar 3 hari yang lalu, dan dia menghabiskan 2 hari untuk pingsan


Bagaimana bisa?


 


 


----------- *0o0*----------


 


 


Bee harus berhenti memandangku langsung dengan mata itu.


Terus terang saja, pengendalian diriku berada pada titik sangat rendah saat ini. Tubuhku dengan aktif berkeinginan untuk ******* bibir Bee yang pucat, karena suhu kamar ini yang sedikit dingin.


Aku akan membuatnya kembali hangat dan memerah, dalam waktu 5 detik dengan bibirku.


Pikiranku teralihkan ketika melihat Bee bersusah payah menahan keinginan untuk menangis, karena ingin menyelesaikan pembicaraan ini dengan tenang.


Menjelaskan maksud dan keinginanku tanpa menyebut mate dan juga hubungan kami di masa lalu, memang sesulit yang aku bayangkan.


Apalagi seluruh kenanganku bersama Bee selama 3 tahun kebelakang, masih terpatri nyata di ingatanku.


Aku tidak perlu menjelaskan bagaimana perasaanku pada Bee jika ingatan itu masih ada. Bee tahu bagaimana aku memujanya tanpa syarat.


Tapi aku senang Bee dengan mudah mengakui perasaannya padaku. Hal itu membuatku teringat perkataan El, jika di sudut hati Bee, masih ada cinta untukku yang tersembunyi. Aku akan menganggap pendapat itu benar adanya.


"Aku sudah menjelaskan pada seluruh penghuni pack, jika kau adalah calon Zhena pilihanku saat Brawl kemarin, dan mereka menerimanya"


"Brawl? Saat itu belum ada hubungan apapun di antara kita, aku bahkan masih menyangka Roan ada di sana karena khawatir dengan keadaanmu!" Wajah Bee dilanda kebingungan yang amat sangat.


Hmmm...... aku harus menjawab apa untuk hal ini?


"Aku memang tidak tahu bagaimana perasaanmu padaku Bee, tapi aku tahu dengan pasti apa yang aku inginkan, yaitu kau!"


Jawaban yang lumayan menurutku, dan lagi wajah Bee memerah mendengarnya. Aku tidak akan bosan menikmatinya. Pipi Bee yang memerah karena malu adalah mimik wajah favoritku.


"Kenapa kau menyebutku calon Zhena? Aku mendengar orang-orang memanggil Myra dengan Zhena. Tapi nama belakangmu Theobald, jadi tidak mungkin Zhena adalah nama belakang Myra" tanya Bee dengan polos, yang membuatku tidak tega menertawakannya.


"Bukan Bee, Zhena adalah gelar yang diberikan kepada pasangan Alpha. Dan kau tahu aku adalah Scion, calon Alpha. Dan itu akan membuatmu menjadi Zhena bukan?"


Penjelasanku membuat Bee terlihat malu, tapi wajahnya juga terlihat puas karena paham.


"Owww-- ya tentu saja. Sekarang semua menjadi masuk akal. Aku tak percaya perlu waktu selama ini untuk mengerti tentang ini"


Bee terdengar gemas karena terlambat menyadarinya.


"Jangan menyalahkan dirimu Bee. Dunia werewolf sama sekali baru untukmu. Adalah hal yang wajar jika kau tidak tahu banyak hal. Setelah ini, bertanyalah apapun tentang hal yang tidak kau mengerti. Aku akan menjawabnya dengan senang hati" Hiburku.


Aku sekarang tahu kenapa jalan pikiran Bee sedikit lambat dan kadang tidak terduga jika berkenaan dengan hal yang terjadi di sekelilingnya. Itu karena Oscar dan Belva yang menutup rapat dunianya.


Aku akan membuka duniamu dengan perlahan Bee, batinku, miris.


"Hmmm.. oh iya. Myra pernah berkata, jika rumah ini tidak akan menjadi miliknya setelah beberapa bulan. Aku menebak, kalau masa sewanya akan habis dulu, tapi aku rasa hal itu salah karena Myra tertawa keras saat mendengarnya" Mata Bee menerawang mengingat percakapannya dengan Mom.


"Itu karena Mom tahu bahwa dia tidak akan lagi menjadi Zhena setelah ada kau. Rumah ini adalah tepat tinggal bagi Alpha dan Zhena. Tapi Mom sedikit berlebihan, dia akan tetap tinggal di sini, meskipun aku telah menjadi Alpha"


Biasanya Zhena atau Alpha yang telah lengser akan menempati salah satu rumah di sekeliling Manor. Tapi aku tidak akan membiarkan Mom sendirian.


"Tunggu!! Myra mengucapkan hal itu saat pertama kali aku sadar setelah pingsan di hutan South Down! Kau--" Mata Bee melebar tak percaya.


"Ya, Mom tahu bagaimana perasaanku padamu sejak awal. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku tidak akan pernah membawa manusia ke sini kecuali dengan alasan kuat. Dan aku rasa calon Zhena adalah alasan yang sangat kuat"


Sekali lagi, aku sangat menikmati momen-momen seperti ini.


Aku melihat bagaimana dengan perlahan warna merah tidak lagi hanya menyebar di pipi Bee, tapi juga di lehernya. Akhirnya, karena tidak tahan, Bee memekik pelan sambil mengubur wajah dalam pahanya untuk menenangkan diri.


"Aku tak percaya ini... aku tak percaya ini!" gumamnya pelan dengan panik.


"Why?? Kau tidak perlu malu" Aku tertawa geli, sambil mencondongkan tubuhku ke arahnya berusaha membuatnya mengangkat wajah. Bee masih menggeleng tapi dengan tempo lebih pelan.


"Sejak kapan----?" Bee tidak menyelesaikan pertanyaannya, tapi aku tahu apa yang akan ditanyakannya.


Jawaban yang terlintas pertama di benakku adalah, sejak pertama kali kita bertemu, tiga tahun yang lalu. Tapi aku sudah belajar dari pengalaman pahit.


"Sejak pertama kita bertemu Bee" Jawabanku pendek, dan yang pasti aku tidak berbohong.


Hanya pertemuan pertama yang aku maksud dan yang ada di dalam ingatan Bee, sangat berbeda.


"Di mansion Delmora? Kita bertemu selama beberapa menit itu?" Bee berseru tidak percaya, sambil menoleh miring masih dengan posisi aneh itu.


Tapi dia berbalik dengan cepat ketika melihat posisi wajahku tepat berada di sebelahnya.


Aku hanya menyuarakan tawa pelan sebagai jawaban.


Dan sekali lagi aku tidak perlu berbohong, Bee otomatis akan mengartikannya sebagai iya. Aku sudah jauh lebih lihai dalam mengatasi hal seperti ini.


"Kau pasti sangat marah dan terluka saat aku menyebutmu monster!" Aku mengenali nada penyesalan di dalam suara yang teredam itu.


"Bee...." Aku mengangkat wajahnya dengan sedikit paksaan.


"Kau tak boleh membebani hatimu dengan hal -hal seperti itu. Aku tidak akan menyalahkanmu karena sesuatu yang tak bisa kau kontrol Bee" Aku membalik ucapannya tadi, dan dia tersenyum.


"Aku telah bertindak bodoh saat itu" Mata Bee mulai memerah karena air mata.


"Kau tidak pernah bodoh Bee, ketidaktahuan bukan kebodohan, dan sekarang kau sudah tahu semuanya"


Mungkin tidak semua, tapi ini cukup untukku. Bee mengusap wajahnya untuk mencegah air mata penyesalannya jatuh dan mengangguk.


"Apa menjadi Zhena hal yang berat?" Aku tahu Bee berganti topik agar bisa melupakan tangisnya .


"Hmmmm----aku rasa tidak akan jauh berbeda dengan pekerjaanmu di Delmor. Zhena dan Alpha bertanggung jawab untuk kesejahteraan pack. Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, aku akan membantu"


Mom biasanya sibuk mengajar di akademi. Aku rasa Bee bisa mengajar juga di sana, terutama tentang kehidupan bersama manusia. Itu topik yang jarang dibahas, karena pengajarnya adalah Uncle Rex. Dia sendiri sudah sibuk dengan Monath.


Bee masih terlihat ragu, tapi dia terdiam.


"Apa ada hal lain yang ingin kau tanyakan?" tanyaku, untuk memastikan tidak ada lagi beban di hatinya.


Bee menggeleng dengan wajah serius, karena berpikir.


Well... aku rasa ini adalah saatnya.


Aku turun dari sofa dan berlutut di hadapan Bee, sambil menggenggam kedua tangannya erat.


"Maaf, karena aku tidak melakukannya dengan benar kemarin. Karena itu aku akan mengulangnya"


Aku berusaha menahan senyum, karena wajah Bee yang melebihi warna merah. Dia tahu apa yang akan terjadi setelah ini.


"Eluira Ignes Delmora, apakah kau mau menerima diriku untuk menjadi suamimu?" ucapku dengan tekad bulat.


Aku mengeluarkan kotak berisi cincin yang ada dalam sakuku.


Jutaan emosi berkelebat di wajah Bee. Malu, canggung, kebingungan, tapi pada akhirnya senyum lebar dan tulus yang menjadi pamungkasnya.


Dengan lega aku melihat anggukan pelan kepala Bee "Ya, tentu saja" bisiknya samar.


Itu cukup untukku. Tanpa membuang waktu aku berdiri sambil menarik Bee dan memeluknya erat.


Aku melakukan keajaiban dalam waktu kurang dari 7 hari El, kau salah kali ini. Ini benar-benar luar biasa!!!


Aku mengangkat tubuh Bee dan membawanya berputar sambil berseru gembira. Bee memekik kaget, tapi tidak lama kemudian, tawanya berderai mengalahkan seruan gembiraku.


Aku berhenti dan menatap Bee yang masih ada dalam pelukanku, dengan kaki yang tidak menyentuh tanah.


"Aku berjanji dengan sekuat tenaga, agar kau tidak akan pernah menyesali keputusanmu saat ini Bee" Mata biru itu melebar sejenak, tapi kemudian kembali menutup diiringi dengan anggukan pelan pemiliknya.


"Terima kasih, karena telah mencintaiku, meski aku hanya manusia biasa" bisiknya sambil menyembunyikan wajahnya di leherku karena malu.


"Dan terima kasih karena telah mencintaiku, meski aku adalah inhumane" balasku sambil tersenyum lebar.


I'm finding you again, Bee!


Dan akan aku pastikan, aku tidak akan kehilanganmu lagi.


"Aku rasa kita harus berangkat ke London besok" ucapku dengan berat, yang  membuat Bee tersentak dan melompat turun dari pelukanku.


Dia menatapku dengan mata penuh tanya. "Kita harus menemui Oscar. Ah--bukan. Aku harus menemui Oscar untuk meminta ijin menikahimu minggu depan" Jelasku.


"Minggu depan?! Kita akan menikah minggu depan?" Seru Bee dengan wajah --sekali lagi-- terlihat seperti baru saja melihat UFO mendarat di balkon....