
"Apa syarat untuk menjadi inhumane haruslah tampan?" bisik Lui dengan sangat pelan pada Roan.
Berhati-hati agar ratusan werewolf yang ada di sekitarnya tidak mendengar ucapannya itu.
"Apa? Ha---Ha---Ha....!!"
Roan langsung tertawa terbahak-bahak mendengar itu. Rasa menjijikkan dari ramuan, yang baru saja diminumnya, menjadi terlupakan.
Semua warrior yang akan ikut berperang memang diwajibkan untuk meminum ramuan penghilang aroma hari ini. Penyergapan mereka akan gagal jika pihak musuh mencium aroma mereka sebelum mencapai daratan
Rencana Abel, mereka akan menyergap pasukan Crispin begitu sebagian besar dari mereka berada di darat.
Pertarungan di air tidak terlalu menguntungkan bagi pihak werewolf yang memiliki bulu lebat. Bobot tubuh mereka akan bertambah beberapa kilo jika terkena air. Gerakan mereka akan melambat.
Para vampire juga akan meminum ramuan yang sama jika mereka datang nanti, hanya Hunter serta Lui yang tidak perlu meminumnya. Kehadiran aroma manusia melengkapi perangkap mereka. Crispin malah akan curiga, jika di tempat itu sama sekali tidak tercium aroma manusia.
Alva dan coven-nya telah membuat ramuan itu dalam jumlah besar sebelum kesini.
Sekarang para warrior sedang mengantri di hadapan mereka berenam untuk mengambil jatah ramuan.
Dan semua menampakan wajah yang sama, wajah enggan yang tersiksa. Tidak ada satupun dari mereka yang menikmatinya.
Berkumpulnya mereka semua dalam satu tempat dan waktu, membuat Lui tersadar akan sesuatu.
Semua inhumane yang ada di sana, kurang lebih terlihat tampan dan luar biasa cantik seperti Roan dan Kamaria. Bahkan Urtzi dan Rigel yang berada dalam kelompok lebih matang, masih terlihat lumayan.
Mereka terlihat seperti mantan super model yang sangat tegap, dengan beberapa helai rambut putih
Lui juga bisa melihat bagaimana Hunter yang berasal dari imperfect juga terlihat berbeda dengan hunter manusia biasa seperti Lael.
Dalam sekali pandang Lui bisa melihat bagaimana ciri wajah tampan inhumane melekat pada mereka.
Jovi akan meneteskan air liurnya sepanjang jalan, jika melihat mereka semua. Karena itu Lui yang penasaran akhirnya bertanya pada Roan.
"Kenapa kau bertanya? Menyesal terlalu cepat memilih Duke, sementara masih banyak wajah lain yang lebih mempesona?"
Roan akhirnya menjawab setelah berhasil menghentikan tawa gelinya, sambil menghapus air mata dari sudut mata.
"Tidak!! Jangan mengatakan hal seperti itu" Lui sedikit panik, takut jika Duke mendengar ucapan Roan.
Duke sendiri sedang berada tidak jauh dari mereka. Tapi dia sedang sibuk mengumpat setelah meminum ramuannya, hingga tidak memperhatikan obrolan ringan itu.
Tentu saja Roan hanya bercanda, Duke sebagai Alpha mempunyai pesona di atas rata-rata, dia mengakuinya. Hanya sedikit inhumane yang bisa menandinginya.
Tapi kepribadiannya membuat Roan tidak berselera untuk menggaetnya.
"Aku tidak tahu soal Elf, tapi werewolf dan vampire berwajah seperti itu, karena sejatinya mereka adalah makhluk buatan". Suara dingin menyahut dari belakang.
Roan dan Lui yang berpaling bersamaan, melihat Faust sedang duduk di atas batu sambil membersihkan deretan senjata miliknya.
Dia menggelar tiga buah pistol dan dua pedang tajam yang panjangnya melebihi lengan Lui.
"Apa maksudmu?" tanya Roan. Dia sudah mengetahui sejarah inhumane seperti yang diceritakan Sorrel dari Duke. Tapi dia tidak tahu apa hubungan wajah rupawan dengan makhluk buatan.
"Jika kau ingin menciptakan suatu makhluk, bukankah kau akan membuat mereka secantik dan setampan mungkin? Dan Lonan melakukannya. Kakek melengkapi cerita Sorrel untukku kemarin"
Faust berhenti sejenak untuk menyelipkan pistol yang sudah selesai dibersihkan, kembali ke sarungnya, dan mulai mengambil salah satu pedangnya untuk diasah.
"Ketika melakukan sihir untuk menciptakan vampire dan werewolf, dia sengaja memilih manusia dengan wajah yang elok. Kemungkinan besar untuk mengimbangi kecantikan bangsa Elf. Dan tentu saja karena dia melakukan sihir itu dengan darah Elf, maka itu memastikan keturunan mereka akan mewarisi sifat rupawan Elf. Dan inilah hasilnya" Faust mengakhiri penjelasannya sambil menebar tangannya pada kerumunan werewolf.
Lui tadi bertanya dengan mengharapkan jawaban yang ringan, tapi jawaban Faust yang sangat serius membuatnya tidak nyaman.
Membayangkan bagaimana Lonan membunuh bangsa Elf dan melakukan sihir pembangkitan untuk para vampire dan sihir penyatuan untuk para werewolf membuat perutnya melilit.
Sejak kemarin dia banyak bertanya pada Alva soal sihir. Pertemuan singkatnya dengan Sorrel, membuat Lui tidak bisa menanyakan beberapa hal yang membuatnya penasaran. Tapi Alva memberinya kesempatan itu.
Dengan sabar Alva menjawab semua rasa ingin tahu Lui, dengan dibantu oleh anggota covent-nya yang juga sangat ingin melihat sosok Lui dengan lebih dekat. Seperti Alva, mereka semua manusia yang mempelajari sihir dengan tekun. Mereka belum pernah bertemu penyihir imperfect.
Mereka juga membahas soal Lonan, karena dialah yang membuat Alva nyaris meninggalkan sihir. Tidak banyak penyihir yang tahu soal Lonan, karena itu Alva sangat terpukul saat tahu apa yang menjadi sumber ajaran sihir yang dikuasainya.
Covent milik Alva adalah covent penyihir putih, karena itu mereka hanya akan melakukan sihir element --seperti Lui-- saat peperangan nanti
Alva sedikit menceritakan jenis sihir yang digunakan Lonan, dan memberi peringatan kepada Lui, jika sihir itu sangat terlarang. Karena syarat untuk mewujudkannya, biasa melibatkan nyawa atau bagian tubuh tertentu dari makhluk hidup.
Dan kini Lui mendengar sisi lain cerita Lonan dari Faust.
Pada satu sisi dia gembira karena pengetahuannya bertambah, tapi di sisi lain Lui tidak bisa berhenti membayangkan Lonan membantai bangsa Elf dan mengambil darahnya.
Bulu kuduk Lui meremang mendengar cerita Faust.
"Ughhh... aku rasa ramuan itu akan kembali ke mulutku, jika aku mendengar cerita seperti itu lagi" kata Roan sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Aku harap tidak ada lagi penyihir yang melakukan sihir menjijikkan seperti itu" kata Lui sambil menggelengkan kepala, mengusir rasa mual.
"Mungkin tidak ada yang se-ekstrim Lonan, karena bakat sihirnya memang sangat langka. Tapi aku pernah membasmi beberapa penyihir yang masih mempraktekkan sihir terlarang. Mereka memuakkan. Dan tidak sesuai harapanmu, jumlah mereka lebih banyak dari pada white witch seperti Alva"
"Tapi kenapa jumlah mereka lebih banyak?" Lui kecewa mendengar keterangan itu.
Faust tertawa sumbang mendengar pertanyaan Lui, menertawakan kepolosannya.
"Karena manusia mudah sekali tergoda. Sihir terlarang memberimu kekuatan dan kemampuan yang nyaris tidak terbatas. Tentu saja mereka lebih sering memilih sihir terlarang. Sihir itu kekuatannya kadang melampaui Elf, seperti Lonan. Elf tidak akan pernah melewati batas menyakiti makhluk lain untuk membuat mantera mereka. Tapi manusia tidak perlu memperdulikan hal seperti itu"
"Oww..." Lui langsung menunduk sedih. Tidak ada yang salah dari pernyataan Faust.
Satu hal yang dipelajari Lui setelah dia keluar dari gelembung balet, manusia bisa menjadi sangat jahat.
"Ada apa? Kenapa kau murung?"
Suara desahan sedih Lui tentu saja mengundang Duke untuk mendekat. Apalagi ketika dia melihat ada Faust di dekatnya.
Duke tidak akan lupa bagaimana Faust menginterogasi Lui dulu, jelas dia berprasangka buruk saat melihat mereka berdekatan.
"Oh wow... that was fast" kata Faust, melihat Duke dengan wajah malas.Dia memuji dengan sinis kecepatan reaksi Duke atas keluhan sedih Lui.
Faust membereskan pekerjaannya, meski dia baru selesai mengasah salah satu pedangnya. Kehadiran Duke yang membuatnya ingin menyingkir.
"Apa yang membuatmu sangat membenci Duke?" tanya Lui, yang membuat Duke sedikit terkejut, karena tidak biasanya Lui se-agresif itu.
"Kau salah! Aku tidak membenci Duke" Faust tersenyum miring, sambil bangkit dan mengibaskan salju yang menempel di sepatunya.
"Aku membenci semua inhumane secara umum" lanjutnya, kemudian berlalu menuju kerumunan hunter.
"Ughh... aku belum pernah bertemu dengan seseorang yang begitu susah untuk disukai" Roan menggerutu melihat sikap Faust. "Dan kenapa El harus menyukai wanita seperti itu?!" desahnya kesal.
"Karena Faust adalah kebalikan dari wanita yang selama ini menyakiti hatinya" jawab Duke sambil membelai pipi Lui pelan, karena dia masih terlihat murung.
Duke tidak memerlukan mindlink untuk tahu soal perasaan El.
El selalu membenci ibunya yang lemah dan tidak pernah melawan perlakuan kejam ayah tirinya. Dia juga tidak pernah membela ketika El mendapat siksaan yang serupa.
Sifat Faust yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan ibunya, tentu membuatnya kagum.
"F*ck!! kau benar sekali" umpat Roan dengan keras, sampai-sampai beberapa werewolf yang sedang lewat menoleh padanya.
"Dan kau tidak boleh bertanya siapa, karena cerita itu adalah milik El, aku tidak bisa membaginya tanpa izin dari El. Kecuali jika aku tidak sengaja memikirkannya"
Duke mencegah Lui yang baru saja akan bertanya siapa wanita yang dimaksud oleh Duke. Dan Lui langsung cemberut.
"Kenapa pengendalian mindlink-mu masih sangat buruk? Belajarlah mengendalikannya!" hardik Roan pada Duke.
Diantara mereka bertiga memang Duke yang paling kuat, tapi pengendalian mindlink-nya adalah yang paling buruk. Karakter Duke yang terbiasa berkata jujur, membuatnya tidak pernah merasa ingin menyembunyikan sesuatu.
Tapi beberapa hari terakhir ini, dia sudah bekerja keras mencoba mengendalikan pikirannya, karena harus menyembunyikan beberapa hal yang lebih baik Lui tidak tahu. Selain ingatan buruk El, ada juga cerita tentang ayah Lui yang didengarnya dari Oscar.
Untuk masalah itu, Oscar harus menceritakannya sendiri Duke sangat berhati-hati saat memikirkan Oscar, agar pikirannya tidak melebar ke segala arah.
"Oke!!' Duke hanya menjawab Roan sambil lalu, karena perhatiannya sudah teralihkan oleh El yang berjalan menghampiri mereka.
"Aku menyuruh beberapa warrior membantu Nora, omega yang dibawanya tidak mencukupi jika harus memasak dalam jumlah sebanyak ini. Beberapa warrior Badira juga ikut membantu tadi, Aygul yang menyuruhnya" lapor El.
Duke mengangguk, "Bagus. Tapi terus awasi, aku tidak ingin ada pertarungan bodoh yang terjadi sebelum perang yang sebenarnya".
Nora ikut dalam perang ini, karena pack lain tidak mempunyai kemampuan untuk memasak dalam jumlah yang luar biasa besar. Sejak awal Duke sudah mengajukan hal ini pada Abel.
Monath akan menyuplai makanan dan obat-obatan selama mereka berperang. Dan tentu saja dr. Sidra juga ada di sini.
"AAUUUUUUUUUUUU!!!!!!!!!!"
Lolongan keras membuat Duke terperanjat, itu adalah lolongan peringatan dari warrior penjaga.
"Roan!"
Duke berseru sambil membuka bajunya. Dalam dua detik Duke sudah berlari dengan keempat kakinya, ke arah sumber suara, diikuti oleh El.
Sementara Roan menarik Lui menjauhi sumber suara. Seruan Duke tadi adalah untuk mengingatkan jika tugasnya adalah melindungi Lui.
Sambil berlari, Duke membuka mindlink dengan warrior Blackmoon yang ikut berjaga. Dan melihat sesuatu yang tidak bisa dijelaskan karena keanehannya.
Duke tiba di tempat penjagaan tiga menit kemudian, dan tercengang.
Apa yang dilihatnya di dalam kepala mereka, ternyata terlihat lebih aneh lagi, setelah dia melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Mereka terlihat seperti super hero khayalan dalam film buatan manusia, yang biasanya memakai kostum untuk menyembunyikan identitas. Bahkan bentuk matanya mengingatkan Duke akan salah satu super hero laba-laba yang identik dengan warna merah dan biru.
Pantas saja para penjaga menjadi panik, karena selain kostum aneh itu menyembunyikan identitas mereka, aroma mereka juga menjadi tersamar.
Tapi bukan masalah bagi Duke. Hidungnya menangkap aroma darah. Dan tahu siapa mereka.
"Celana"
Duke meminta pakaian kepada salah satu warrior, dan salah satu dari mereka melemparkannya ke dekat kaki Duke.
"Arkin, Oulam" panggil Duke, setelah dia melepas transformasinya dan berpakaian dengan lebih pantas.
Salah satu dari mereka maju, mengulurkan ponsel pada Duke, setelah sebelumnya mengetikan sesuatu di sana.
'Senang melihatmu lagi David. Ops... maksudku Duke'
Duke mendengus membaca tulisan itu, jelas Oulam yang berdiri dihadapannya. Dia menyerahkan ponsel itu lagi ketika tangan Oulam menengadah.
'Kami harus memakai kostum ini untuk menghindari matahari, dengan begini kami bisa memotong waktu perjalanan'
"Lumayan, tapi seharusnya kau memberitahu kami supaya tidak terjadi kesalahpahaman" kata Duke.
Muncul di medan pertempuran dengan kostum yang unik seperti itu tidak ada dalam rencana mereka.
Duke tidak akan heran jika gagasan kostum itu datang dari Oulam. Pergaulannya di sekitar Hollywood akan mendatangkan ide itu dengan mudah.
"Tidak bisakah kau membuka sedikit kostum itu agar kita bisa berbicara dengan normal?"
Duke tidak sabar menunggunya mengetik jawaban. Jari Oulam yang terbungkus rapat membuat pekerjaan mengetik sedikit terhambat.
'Tidak-- jika kau masih ingin bantuan kami. Sinar matahari harus terblokir dengan sempurna. Sedikit celah berarti luka bakar. Kami akan membukanya begitu matahari terbenam'
"HH... baiklah!"
Duke tidak terlalu tahu bagaimana akibat sinar matahari pada vampire. Dia hanya tahu mereka bisa mati jika terpapar cukup lama.
Duke kemudian membawa mereka ke arah bangunan yang memang telah disiapkan oleh Abel. Dia membuat penyesuaian pada salah satu bangunan, dan mengaturnya agar bisa memblokir total sinar matahari.
Para vampire bisa beristirahat dengan tenang di sana.
Tapi ternyata itu tidak perlu, baru beberapa saat mereka berjalan. Duke bisa melihat langit telah berubah gelap. Musim dingin menjamin siang yang lebih pendek.
"Wuah..... Aku senang bisa berjalan di bawah matahari, tapi topeng ini lebih menyesakkan dari pada yang aku kira"
Oulam telah melepas topengnya, dan menggosok kepalanya dengan lega. Semua vampir yang ada dibelakangnya melakukan hal yang sama.
Melihat Arkin yang berwajah kesal, Duke menebak, dia tidak akan pernah lagi memakai kostum itu setelah ini.
"Kalian bisa mengantri ramuan disebelah sana" kata Duke, menunjuk pada Alva. Mejanya telah kosong. Hanya tinggal beberapa werewolf yang belum mendapatkan ramuan.
"Oh hei... apakah itu istrimu?" Oulam menunjuk Lui yang sudah kembali ke tempatnya semula dan masih bersama Roan.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Duke bertanya dengan curiga. Oulam belum pernah bertemu Lui sebelum hari ini.
"Dia manusia Duke, manusia yang menawan. Aku tidak akan salah mengenali aroma darah manusia, dan dari penampilannya jelas dia bukan Hunter. Aroma darahnya unik, harum dan menggugah selera"
Oulam langsung berbelok dan berjalan menghampiri Lui.
Duke sangat tidak mendengar hal itu, karena penjelasan Oulam tentang bagaimana dia mengenali Lui dari aroma darah. membuatnya mual.
Nada suara Oulam terdengar seperti saat dia sedang menjelaskan grade daging wagyu pada El.
Lui yang melihat Oulam mendekat, mundur dengan gugup sebelum Roan akhirnya menahannya.
Lui tahu sosok itu tidak mungkin manusia, bukan hanya karena wajah tampan dan juga kostumnya, tapi jika manusia biasa sepucat itu, seharusnya dia sudah tidak bisa berjalan karena sakit.
"Perkenalkan, saya Oulam Roseate" ujarnya dengan ramah.
Lui yang tadinya takut, langsung menyambut uluran tangannya. Nada ramah Oulam sedikit mengurangi ketakutan Lui.
"Eluira Theobald" Lui berusaha terdengar berani, dan menyambut uluran tangan Oulam.
"Nama yang sangat indah, sangat sesuai dengan wajah anda yang mempesona" balas Olulam dengan mulus.
"Hentikan!! Apa kau ingin mempercepat terjadinya peperangan?" bentak Duke.
Oulam sebagai Sal adalah perayu ulung yang sangat terkenal di LA.
Jadi sikapnya tadi bukan kejutan baginya. Duke mendengar berita pernikahannya sekitar dua tahun yang lalu. Rupanya kebiasaan merayu tidak bisa hilang begitu saja.
Dan seperti dipanggil, vampire wanita yang tadi ikut mengantri ramuan bersama yang lain mendekati Oulam.
"Dan Mrs. Theobald, perkenalkan. Ini adalah istri saya Hazel" Oulam mengatakannya tanpa berkedip atau dengan nada yang berbeda, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Hazel tersenyum dan menjabat tangan Lui yang telah terulur. "Senang melihat anda telah sehat. Kita tidak sempat bertemu saat kami ada di Blackmoon" katanya dengan tidak kalah ramah.
"Dan tolong jangan pedulikan perkataan ngawur darinya seperti tadi. Aku sedang berusaha memperbaikinya, tapi mungkin aku kurang keras dalam memberinya sanksi" tambahnya, sambil melirik tajam ke arah Oulam, yang kini telah berpaling, berpura-pura mengobrol dengan Duke.
"Pfft----" Roan gagal menahan tawanya.
"Kalian berdua menarik sekali!" katanya sambil tertawa geli. Dan Duke harus setuju.
Pria seperti Oulam memang sangat cocok jika bersanding dengan wanita tegas seperti Hazel. Dia akan dengan mudah mengatur kehidupan Oulam.
Oulam hanya bisa tersenyum kecut, dan membiarkan dirinya diseret oleh Hazel menuju antrian.
Lui tersenyum geli melihat hal itu, "Aku mengira vampire akan sangat mengerikan"
"Vampire memang mengerikan Lui, kecuali Clan mereka. Jika kau suatu saat bertemu salah satu vampire dari manapun asalnya, lebih baik kau mendinginkan mereka sampai beku total, kemudian lari" ujar Roan, berubah serius.
"Kau pernah bertemu vampire sebelum mereka?" tanya Duke. Dia tak tahu soal ini.
Roan mengangguk, "Di Quebec, setelah kau pergi. Dengan santainya mereka membantai seluruh keluarga di sebuah villa. Tapi mereka sangat sial, karena aku sedang menginap di villa sebelah"
Dan itu cukup menjelaskan apa yang terjadi dengan vampire itu selanjutnya. Roan pasti membantai mereka juga.
"Aku juga pernah bertemu mereka di LA--"
Cerita Duke terputus oleh El, yang menghampirinya dengan wajah tegang, "Mereka menyeberang" bisiknya.
Waktunya telah tiba!
"Bersiaplah!!" kata Duke pada Roan dan Lui, sebelum dia berjalan menghampiri Oulam dan Arkin.
Sementara Roan dan Lui segera berlalu menuju tenda persiapan.
Alva yang telah selesai membagi ramuan untuk vampire yang jumlahnya tidak terlalu banyak, mengikuti mereka ke tenda itu.
Di sana Lui mengganti bajunya dengan yang lebih casual. Myra membawakannya celana yang sangat pas untuknya, dengan bahan tebal yang akan memudahkannya menunggang di punggung Roan. Untuk baju dia memakai kaos dan jaket. Tak lupa dia mengikat rambut pirangnya menjadi satu di belakang.
Alva juga sedang mengganti bajunya dengan yang lebih praktis. Gaunnya berganti dengan celana panjang dan sweater tebal. Segala aksesoris metalnya telah disusutkan dan menyatu dengan tongkat merahnya.
Setelah selesai, Lui menoleh pada Roan yang sedang menunggu dengan wajah bosan.
Roan tentu saja tidak butuh berganti baju atau mengikat rambut, karena semua bajunya akan hancur nanti.
Di tangannya terdapat tas kain yang nanti akan diikatkan ke kaki belakangnya. Tas itu berisi jubah yang nanti akan dipakai ketika dia melepas transformasi.
Dia juga membawa seutas tali berwarna hijau mencolok yang nanti akan diikat pada kaki depannya. Tali itu cukup lentur, jadi tidak akan putus saat mereka bertransformasi.
Tali hijau itu sebagai penanda jika Roan adalah anggota pasukan Aliansi. Saat peperangan nanti akan sulit membedakan mana werewolf kawan atau lawan. Karena itu Duke mengusulkan hal ini. Hunter mengikatkannya pada pergelangan tangan.
Para vampire juga sebenarnya direncanakan untuk memakai tali yang sama di tangan, tapi melihat kostum mereka yang luar biasa, kemungkinan besar mereka tidak lagi membutuhkannya.
Vampire dari pasukan musuh tidak mungkin memakai kostum hitam itu juga.
"Biar aku yang membawanya" kata Lui, meminta tas yang berisi jubah milik Roan. Dengan begitu Roan bisa berlari dengan bebas.
Mereka keluar dan mendapati Duke menunggu di depan tenda.
"Aku harus segera berangkat" kata Duke. Kelompoknya akan berada di garis depan. mereka akan berangkat terlebih dahulu.
Lui mengangguk, "Berhati-hatilah, dan biar aku yang membawanya" kata Lui, juga meminta tas kain Duke, untuk membuatnya lebih leluasa bertarung.
"Jangan pernah terpisah dari Roan dan Mom" kata Duke, sambil menyerahkan tasnya pada Lui.
Roan yang sangat hafal dengan sikap paranoid Duke, hanya memutar bola matanya dengan jengkel.
"Berangkatlah, Lui akan baik-baik saja bersama kami" Myra yang baru saja keluar dari tenda menegurnya.
Dengan gerutuan pelan, Duke mencium bibir Lui sekilas dan akhirnya berlalu menuju rombongannya.
"Dia harus belajar sedikit lebih mempercayai orang lain" cela Roan, sambil melihat punggung Duke dengan mata menyipit.
"Dia mempercayai kita Roan. Kau pikir dia akan meninggalkan Lui bersama dengan orang yang tidak dipercayainya. Sikapnya ini sudah merupakan kemajuan yang cukup lumayan" Myra tertawa geli.
Pada saat seperti ini, Duke selalu mengingatkannya akan Owen. Mereka mirip sekali.