
Satu lagi perbuatan memalukan aku tambahkan di daftar.
Perut terkutuk!
Memalukan sekali saat tiba-tiba perutku berbunyi, saat kami mengobrol.
Aku bisa memberikan alasan yang tepat, tapi itu tetap saja------ aaah.
Tapi untunglah Duke menanggapinya dengan santai. Dia malah menawarkan makan malam yang akan di masaknya sendiri sekarang.
Aku mengikuti Duke turun dari lantai 2. Keadaan di bawah sangat kacau. Beberapa pekerja sedang sibuk membersihkan kekacauan. Mereka membenahi perabotan, dan beberapa menyingkirkannya keluar.
Saat Duke melewatinya, mereka berhenti dan membungkuk memberi hormat. Duke hanya mengangguk sekilas dan berjalan lagi.
Sedangkan aku?
Aku sedang berusaha menjadi tidak terlihat.
Ini seperti saat pertama kali aku memasuki tower Delmor bersama Oscar. Semua mata tertuju ke arah kami.
Duke tiba-tiba berhenti dan menoleh kepadaku. Dia memberi isyarat agar aku berjalan di sampingnya, sedari tadi aku berjalan di belakangnya..
Selain karena ingin bersembunyi, tinggi kami yang jauh berbeda membuatku canggung berdiri di sampingnya.
Aku masih ingat bagaimana pemandangan ketika aku dan Duke berdiri berjejer, terpantul di dinding lift dulu. Aku tidak ingin mengingatnya, karena aku terlihat seperti kurcaci. Dia lebih tinggi dan mempunyai badan yang lebih besar dari Oscar.
Stop it right there!!!!
Pikiran liarku kembali ke waktu Duke baru keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk. Aku harus berusaha keras untuk melupakannya, karena sisi otakku yang lain sangat menyukai pemandangan itu.
Ah.. tapi aku jadi teringat tentang sesuatu.
"Duke, kamar yang aku tempati itu, apakah itu kamarmu?"
"Ya, itu kamarku" jawabnya. Sambil berjalan masuk ke ruangan yang aku rasa adalah dapur yang sangat luas, bahkan lebih luas dari dapur Charlie.
Aku ingin bertanya lebih jauh soal kamar itu, tapi pemandangan dapur yang luar biasa membuatku teralihkan.
Dapur ini juga bernuansa kayu seperti ruangan lain di rumah ini, tapi peralatan modern seperti oven listrik dan kompor listrik dengan 6 tungku mengkilat, teronggok rapi di salah satu sudut.
Meja besar untuk meracik bumbu dengan berbagai peralatannya terletak di tengah ruangan.
It's massive, kau bisa memberi makan 3 klub sepak bola dengan ukuran dapur seperti ini.
"Kau akan memasak di sini?" tanyaku sambil ternganga.
"Ah.. tidak, aku hanya ingin mengambil beberapa bahan makanan di kulkas, aku akan memasak di dapur sebelah yang lebih kecil. Dapur ini dipakai oleh koki untuk menyiapkan makanan bagi seluruh penghuni Manor" jelasnya, sambil menunjuk pintu lain di sebelah kulkas.
Dan yang disebut kulkas oleh Duke adalah ruangan pendingin dengan standart restaurant. Dia menarik pintu besi dan masuk ke dalamnya. Pemandangan di dalam tidak kalah luar biasa dan membuatku kembali ternganga.
Berbagai ukuran daging dari bermacam bagian, tergantung dengan rapi di sana. Aneka sayuran tertata di petak yang lain yang dipisahkan oleh sekat, untuk menjaga agar suhu daging dan sayur sesuai dengan kebutuhan untuk mengawetkannya.
Duke berjalan ke bagian daging dan mengambil bongkahan yang telah berbumbu dengan gerakan yang tangkas. Dia juga mengisi salah satu keranjang dengan kentang, paprika dan banyak lagi.
Dia memandang bawaannya sekali lagi dan tersenyum puas. Aku sedari tadi nyaris tidak berkedip melihatnya. Rumah macam apa ini?
Mansion Delmore juga luas dan lengkap, tapi kami tidak mempunyai ruangan pendingin semacam ini.
"Ayo!!" Duke menyadarkanku dari rasa tercengang, yang tidak bisa aku sembunyikan.
"Kami mempunyai banyak pekerja di Manor. Yang ada di dalam situ adalah persedian makanan untuk mereka juga. Biasanya dapur ini tidak pernah sepi. Tapi kejadian pagi tadi membuat mereka libur untuk sementara" jelas Duke tanpa aku minta, mungkin dia melihat wajahku yang terheran-heran dari tadi.
Aku mengangguk mengerti.
Duke berjalan mendahuluiku masuk ke dapur lain yang dia sebut tadi.
Dapur ini berukuran normal seperti di rumah biasa. Suasananya juga lebih akrab, meja counter-nya juga berukuran biasa. Dapur ini menjadi satu dengan ruang makan dengan meja makan normal untuk empat orang
Duke menarik mundur salah satu kursi, untuk mempersilahkanku duduk.
"Tunggulah disini sebentar!" katanya, sambil tersenyum manis.
Jantungku jelas tidak bisa menerimanya. Mereka seolah melompat menggedor-gedor tulang dadaku karena senyum itu.
Hentikan Lui!! batinku dengan lelah.
"Dimana Roanna?" tanyaku dengan sengaja, agar jantungku berdetak lebih pelan.
Dan itu manjur, segera saja suasana hatiku berubah muram dan tidak menyenangkan.
"Dan Myra?" tambahku, untuk menormalkan suasana hatiku yang kini terlalu muram.
"Oh, mereka masih ada di rumah sakit. Kau sudah mengenal Roan?" tanyanya, sambil berbalik memandangku.
Oh God... kumohon berhenti memandangku seperti itu, rintihku dalam hati. Wajah tampannya tidak mendukung keinginanku untuk menenangkan diri.
"Ya---kkami bertemu saat sarapan tadi. Apakah mereka terluka parah?" Aku sedikit tergagap, tapi akhirnya berhasil menguasai diri dan bersikap normal.
"Jangan khawatir, mereka sudah baik-baik saja sekarang. Mungkin akan pulang besok" jawab Duke, sambil menaruh wajan bergagang dan panci di kompor.
Selama beberapa menit, aku menikmati pemandangan mempesona itu dan mengabaikan akal sehat. Tangan Duke dengan terampil mengaduk dan memotong bahan-bahan yang dibawanya tadi.
Ini pertama kalinya, aku melihat laki-laki memasak, jadi penilaianku mungkin tidak valid.
Duke terlihat menggiurkan. Punggung Duke, saat dia berbalik menghadap kompor juga terlihat mengagumkan di mataku.
Aku ternyata lebih sakit dari pada yang aku kira. Tahan dirimu Lui!
Aroma steak yang lezat mulai memenuhi ruangan dapur. Duke tersenyum puas saat mencicipi saus di tungku. Dia mengambil dua piring dan mulai menata makanan kami di sana.
Kentang rebus dan beberapa sayuran yang telah diiris rapi, disiram saus yang sama dengan steak yang juga telah dipotong di piring.
Irisan daging berwarna kecokelatan itu terlihat sedap. Air liurku terbit melihat semua itu.
"Done!!!" seru Duke dengan nada puas. Dia menaruh satu piring di hadapanku. Tidak sabar, aku mencolek saus dan mengerang.
"Ini lezat sekali Duke, tidak kalah dengan masakan Dey" Aku mengecap dengan senyum puas.
"Tentu saja, aku mungkin bukan chef bersertifikat, tapi masakanku tidak akan kalah dengannya" Duke berkacak pinggang dengan nada sombong. Kami berdua tertawa bersamaan karena aksi konyolnya itu.
Dia meraih garpu pisau di laci dan menyerahkannya padaku. "Happy eating!"
Selama beberapa menit kami makan dalam diam. Aku merasa akan sangat tidak sopan jika aku berbicara saat menikmati makanan selezat ini. Tidak diragukan lagi, steak ini sempurna, dengan tingkat kematangan favoritku.
Aku melirik Duke sebentar dan mendapatinya sedang memandangku.
"Steak ini benar-benar lezat" pujiku dengan tulus. Mungkin dia menunggu penilaian dariku.
"Eh.. terima kasih" Wajahnya memerah seketika.
That is so cute!! Bagaimana bisa sosok yang biasanya terlihat luar biasa tampan dan mengintimidasi bisa terlihat begitu imut? Hatiku tidak siap menerima ini.
"Scion!!" seseorang berseru dengan terkejut di belakangku.
Aku menoleh dan melihat wanita paruh baya berjalan masuk ke dapur dengan tergopoh-gopoh. Tubuhnya sedikit gempal dengan rambut hitam.
Dia terlihat cemas sekaligus gugup melihat Duke. "Anda seharusnya memanggil saya tadi. Tidak perlu memasak sendiri seperti ini" katanya.
"Tak apa Nora, aku hanya memasak sesuatu yang simpel. Tidak perlu merepotkanmu" Duke terdengar sedikit jengkel.
"Tapi Scion...."
"Aku tidak keberatan Nora, kembalilah ke pekerjaanmu" ujarnya, tegas.
Wanita itu akhirnya menyerah, tapi masih dengan wajah tidak rela dan berbalik pergi.
"Ah.. sebentar. Perkenalkan ini adalah Eluira Delmora. Dan Lui, ini adalah Nora, dia chef yang menguasai dapur besar yang tadi kita lewati" kata Duke, memperkenalkan kami.
"Oh.. itu luar biasa. Senang bertemu dengan anda" Pujiku dengan tulus, mengelola dapur sebesar itu butuh keahlian ekstra.
Aku bangkit dari kursi, hendak berjalan mendekatinya. Tapi wanita itu berseru melarang, sambil berjalan cepat menghampiriku.
"Tidak perlu bersusah payah Ms. Delmora. Saya juga sangat senang bisa mengenal anda" katanya dengan ramah.
Tangannya yang hangat menggenggam tanganku erat.
"Saya turut gembira karena anda menemukan hal yang luar biasa di luar sana, Scion!" Dia kembali memandang Duke sambil tersenyum lebar dengan tangan yang masih menggenggamku.
Menemukan apa? batinku dengan bingung.
Duke hanya mengangguk mendengarnya. Nora berpamitan sekali lagi sebelum pergi. Duke mengambil piring kosong di hadapanku dan menaruhnya di sebelah kompor.
"Kenapa dia memanggilmu Scion?" tanyaku.
Aku ingat Tita pernah menyebut kata itu. Ternyata yang dimaksud adalah Duke.
"Scion adalah gelar di pack ini. Itu berarti aku adalah putra dari Alpha dan calon Alpha" jelasnya sambil menyodorkan segelas air putih.
"Oh.." Aku teringat penjelasan Oscar, Duke adalah penguasa di pack ini.
Pantas saja mereka bersikap sangat hormat padanya. Aku mengerti sekarang, Duke kurang lebih adalah pangeran di pack ini.
Dan aku dengan bodohnya membuatnya memasak untukku. Pantas saja Nora terlihat cemas tadi.
Aku yakin Duke belum pernah melakukan hal ini sebelumnya. Dan aku sekarang teringat kembali tentang sesuatu yang mengganggu benakku sedari tadi.
"Duke, kau bilang kamar yang aku tempati adalah milikmu?" tanyaku dengan ngeri. Dia mengangguk sambil mengerutkan kening.
"Aku rasa aku harus pindah dari sana!" ucapku, tegas. Aku menempati kamar milik pangeran di pack ini?!
"Kenapa? Aku yang memilih di kamar itu, karena kamar itu yang paling nyaman di Manor" protesnya, heran.
"Tapi itu kamarmu!"
Aku bisa mengerti kenapa Roanna bersikap sangat masam padaku. Dia tentu saja kesal aku menempati kamar Duke.
"Dan kau adalah tamuku, Lui. Tidak perlu memikirkan hal seperti itu, oke? Kau berada disini karena aku. Jadi jangan merasa bersalah karenanya!" pungkasnya, sambil berbalik dan menaruh gelas kosong yang tadi kami pakai di dekat kompor.
Aku mengenali nada dan raut wajah seperti itu. Mirip sekali dengan raut wajah Oscar saat tidak ingin di bantah. Aku membuang nafas panjang, untuk menahan diri agar tidak lagi mendebatnya.
----------- *0o0*----------
Apa aku terlalu keras pada Bee?
Dia terlihat sedikit kesal, tapi wajahnya pasrah. Aku masih terbawa kejengkelan karena kedatangan Nora. Dia mengganggu acara makan malam yang sempurna dengan Bee.
Rasa gembira dalam hatiku, tidak lagi terukur, karena akhirnya aku bisa mengobrol santai dengan Bee. Jika bisa, aku ingin sekali melompat kegirangan tadi.
"Kau memanggilku Lui lagi!" kata Bee tiba-tiba. Ini pernyataan, bukan pertanyaan.
"Tentu saja, itu namamu" sahutku geli. Mungkin Bee ingin bercanda tentang sesuatu.
"Tapi sebelumnya kau memanggilku dengan nama Bee. Saat di ruang bawah tanah tadi pagi, kau memanggilku Bee, juga beberapa hari yang lalu saat Oscar di sini" katanya, sambil memandangku, meminta penjelasan.
Aku dan mulutku yang terkutuk! umpatku dalam hati.
"Itu-----eh" Apa yang harus aku katakan? Jika aku berbohong maka Bee akan menangkapnya dengan mudah.
"Karena menurutku warna rambutmu terlihat seperti madu, karena itu aku memanggilmu Bee, lebah!" jelasku dengan jujur.
Itu memang adalah alasan kenapa aku memanggilnya Bee. Dulu dia tidak keberatan dan menganggapnya lucu. Tapi sekarang.....
"Oh..... Aku sama sekali tidak menduganya" Bee menarik ujung rambutnya dan memandangnya dengan detail. "Aku rasa kau benar, rambutku memang berwarna pirang madu keemasan" ujarnya sambil tersenyum.
Oh.. syukurlah, aku menghembuskan nafas lega mendengarnya.
"Kau tidak marah?" tanyaku dengan takut-takut.
Bee menggeleng dengan cantik "Tidak, menurutku itu sangat kreatif"
Aku tertawa dengan lega.
"Duke.." El muncul di lorong, dan mendekatiku dengan ragu.
"Para Elder ingin bertemu denganmu di Ruang Assembly. Di mana ponselmu?" nadanya berubah kesal, setelah melihatku tidak menyemprotnya, karena telah mengganggu kami.
Aku sebenarnya ingin melemparnya dengan gelas yang ada di belakangku. Tapi berita yang El bawa menunjukkan gentingnya keadaan yang akan aku hadapi.
"Ponselku di kamar" Aku meninggalkannya di kamar mandi tadi.
"Aku akan kesana setelah mengantar Bee, tunggulah sebentar" kataku dengan malas. Pertemuan dengan Elder tidak pernah berarti kabar bagus.
"Kau ke sanalah sekarang, aku yang akan mengantar Lui ke kamar" tukasnya, dengan wajah tegang.
"Mereka sudah mencarimu sejak sore tadi" tambahnya cepat, ketika melihatku melotot marah.
"Baiklah!! Bee perkenalkan, ini adalah Eldred Halcynon, biasa dipanggil El. Dia adalah temanku semenjak kecil. Dan dia yang akan mengantarmu kembali ke kamar"
Mata Bee bergulir bergantian memandang aku dan El.
"Senang bertemu dengan anda dalam keadaan sadar. Panggil saja saya El, seperti Duke" ucap El dengan mulus dan santai sambil mengulurkan tangan pada Bee. Aku harus lebih banyak belajar bersosialisasi pada El.
"Eluira Delmora, senang bertemu dengan anda" Bee menyambut tangan El tanpa ragu. "Apa maksud anda dengan dalam keadaan sadar?" tanya Bee penuh selidik.
"Jangan terlalu resmi Lui, kita sudah pernah bertemu sebelum hari ini" ujarnya, dengan enteng, nyaris membuat jantungku berhenti.
Apa maksud El dengan mengatakan mereka pernah bertemu sebelumnya? Apa dia ingin menghancurkan segala kerja kerasku menjaga rahasia selama ini?
"Kita berada dalam pesawat yang sama saat ke sini" jelas El sambil melirik ke arahku dengan mata penuh rasa puas karena melihatku panik sesaat.
Dia membalas dendam, karena aku berkata akan meninggalkannya tadi. Demi cakar dan buluku yang keriting!!! Aku hampir mati karena kaget.
"Oh.. kau melihatku pada saat yang sangat buruk!" Bee berkata dengan wajah memerah karena malu.
"Kau tidak pernah terlihat buruk di mataku" jawab El otomatis.
OK!!... ini keterlaluan. Bee terlihat tersipu mendengar pujian El .
Tidak mempedulikan mataku yang telah melotot marah. El menunjukkan jalan menuju kamarku dengan senyum. Bee berpamitan sekilas dan mengikutinya dengan patuh.
El yang membalas dendam memang sangat tidak menyenangkan.
Ruang Assembly terletak di sebelah ruang tamu Manor berseberangan dengan ruang kerja. Meja persegi besar yang dikelilingi lima Elder terletak tepat di tengah ruangan. Ralat, empat Elder. Elder Victor sedang berada di rumah sakit.
Uncle Rex berdiri dengan raut wajah tidak terbaca di sebelah kanan meja. Aku duduk di salah satu kursi yang masih kosong, kemudian Uncle Rex mengikutiku duduk.
"Kau perlu menjelaskan banyak hal kepada kami, Scion" Elder Camille membuka percakapan hangat kami, dengan nada tajam menuduh.
Elder Camille adalah satu-satunya wanita di jajaran Elder. Dia berumur 115 tahun dengan tubuh yang tegap, beberapa kerutan tipis nampak di wajahnya.
"Tentu saja, pertanyaan apapun akan saya jawab" balasku, sopan.
"Apa yang sebenarnya terjadi pagi tadi?" Kali ini Elder Algio yang bertanya. Dia adalah Elder yang paling murah hati dari semua yang ada di ruangan ini.
"Elder Victor tidak menjelaskan apapun pada kalian?" Mereka tentu sudah menemuinya di rumah sakit.
"Tidak, beliau hanya berkata untuk bertanya kepadamu" tukas Elder Durant.
Dasar tua b*ngk* menyebalkan!!
Dia sengaja mengatakan itu untuk membuatku kerepotan. Aku menarik nafas panjang dengan jengkel. Malam ini akan sangat panjang.
Aku lalu menceritakan secara singkat apa yang dilakukan oleh Amon dan Quinton.
Elder Camille berdesis kesal saat nama Amon disebut. Amon adalah satu keluarganya.
"Lebih baik kau yakin tentang ini Scion, aku tidak akan mentolerir kesalahan jika itu menyangkut Amon". Elder Camille menyergah dengan galak.
"Jangan khawatir Elder Camille, saya akan mengadakan Brawl dua hari lagi setelah lukanya sembuh. Saat itu anda bisa ikut berubah menjadi wolf, dan bisa menyimak dengan jelas apa yang ada di pikirannya" Aku menjawab dengan santai.
Wajah Elder Camille berubah pucat.
"Brawl?" Dia mengulang dengan bibir bergetar. Aku mengangguk dengan mantap.
"Apakah itu juga berlaku juga untuk Quinton?" Elder Durant bertanya dengan wajah tidak kalah pucat. Quinton adalah anggota keluarga Elder Durant.
Sekali lagi aku mengangguk.
"Tapi dia hanya terhasut oleh perkataan Amon!" protesnya.
"Ya, tapi dia menyerang Manor dengan keinginan untuk menghabisi Zhena yang saya pilih. Itu alasan yang lebih dari cukup" Aku menjawab dalam desisian, dengan mulut hampir mengatup.
Aku sedang berusaha untuk tidak membentak.
"Amon dan Quinton menyerang Manor dengan tujuan yang sama, tapi dengan maksud yang berbeda. Amon ingin membunuh calon Zhena agar Scion menjadi lemah. Quinton menyerang Manor karena dia tidak setuju Zhena berasal dari golongan manusia" Uncle Rex menjelaskan dengan lebih baik.
"Apakah gadis itu memang pasangan yang kau pilih? Dia mate-mu?" Elder Firmo yang sedari tadi hanya diam akhirnya angkat suara.
Dia Elder yang paling bijak diantara semuanya. Aku dulu sering berdebat dengannya, dia akan memberimu penilaian yang adil jika kau bertanya tentang sesuatu.
"Benar. Dia adalah Zhena yang saya pilih" tegasku, sambil menatap mereka tepat di wajah.
"Dan dia seperti Zhena Myra?" Elder Algio bertanya sambil memajukan badan ke arahku dengan tertarik.
Aku mengangguk. "Satu-satunya alasan Egon masih hidup sampai sekarang, karena saat dia dan vampire gila itu menyerang pack, saya sedang kehilangan kemampuan untuk bertransformasi" jelasku, enggan.
Aku tidak tahu lagi harus meyakinkan mereka dengan apa. Mereka butuh bukti.
Elder Camille mengernyit. "Kau sudah bisa bertransformasi lagi bukan?" tanyanya.
"Jangan khawatir, keadaan saya kembali normal setelah membawa Lui ke sini" Ini juga benar, walaupun aku tidak menyampaikan secara keseluruhan proses rumitnya.
"Aku tidak pernah menyangka, werewolf bisa mempunyai mate seorang manusia, ini fakta yang sangat unik" Elder Algio kembali bersuara.
"Unik dan juga baru Elders. Tapi saya yakinkan semua ini adalah benar. Scion bisa bertransformasi dengan normal setelah bertemu kembali dengan Ms. Delmora" Uncle Rex sekali lagi menjelaskan dengan lebih baik, daripada aku.
"Siapa nama gadis itu?" Elder Firmo memandangku dengan ramah, sambil mengingat-ingat. Aku sudah pernah menyebut nama Bee, tapi mungkin dia lupa.
"Eluira Ignes Delmora" Uncle Rex mendahului menjawab.
"Aku ingin bertemu dengannya kapan-kapan" Elder Firmo tersenyum kecil padaku.
Baginya penjelasanku sudah cukup. Tapi Elder yang lain tidak semudah itu untuk diyakinkan. Elder Camille terus memandangku dengan skeptis, Elder Durant juga sama, wajahnya mengerut berpikir, Elder Algio tak menunjukkan reaksi apapun.
"Persoalan mate ini mulai menjadi aneh" Akhirnya Elder Algio menyuarakan keraguannya. Dua Elder yang sedari tadi ragu dengan keputusanku, seolah mendapat angin segar, mula ikuti mengangguk menyetujuinya.
Aku tersenyum dengan hambar, sesuai dengan yang aku prediksi, ini tidak akan mudah.
"Sebelum kita membahas soal Mate lebih jauh, aku mempunyai kabar lain untuk kalian" Ini adalah usaha terakhirku untuk membuat mereka menyerah.
"Ini tentang Egon dan Crispin. Crispin adalah vampire gila yang membunuh ayahku" jelasku, melihat mereka mengernyit secara bersamaan ketika mendengar kata Crispin.
Aku menceritakan semua yang dikatakan oleh Abel, kecuali bagian pertemuan antar ras inhumane. Mereka belum siap menerima fakta abnormal itu.
Wajah amat sangat terkejut muncul setelah mereka mendengar ceritaku. Paling tidak mereka masih berpendapat sama denganku, tujuan Crispin memang menjijikkan.
"Karena itukah jantung ayahmu hilang?" tanya Elder Camille, bahkan dengan wajah yang lebih pucat lagi. Aku mengangguk cepat.
"Dengan memakannya, dia bisa meningkatkan kekuatan inhumane miliknya lebih dari pada yang biasa. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kekuatannya saat ini, setelah berhasil mendapatkan jantung dari Alpha Owen" Uncle Rex mengemukakan masalah yang paling berat sekarang.
"Kabar yang lebih buruk, dia sudah berhasil menghancurkan Elven sanctum di Black Forest setelah itu" tambahku. Kekuatan Elf bukan untuk diabaikan. Aku yakin karena itu dia mengincar Elven sanctum.
"Elf? Dia membunuh elf?" Ulang Elder Firmo, dengan nada tak percaya.
"Ya, itu berarti sudah dua elven sanctum yang dihancurkannya" tegasku, untuk membuat mereka menjadi lebih mengerti apa yang akan kita hadapi nanti.
"Tapi mereka adalah inhumane yang paling kuat. Jika dia bisa menghancurkan elven sanctum dengan mudah, pack ini hanya akan menjadi mainannya!!' seru Elder Algio, mulai panik.
Aku tersenyum dalam hati, akan lebih mudah meyakinkan mereka tentang rencana Abel ketika mereka dalam keadaan takut.
"Saat ini Crispin bukan hanya mempunyai kemampuan yang lebih dari inhumane manapun, dia juga berhasil merekrut banyak inhumane yang mempunyai tujuan yang sama dengannya. Mereka terdiri dari bermacam-macam jenis. Yang saat ini diketahui adalah penyihir dan tentu saja werewolf, karena adanya Egon di sana" tambahku.
"Ya Tuhan..!!" Elder Algio berseru dengan ngeri. "Aku tidak percaya Egon mampu berbuat hal seperti ini!".
Egon adalah anggota keluarganya. Bisa aku mengerti jika sekarang dia gusar.
"Tapi kau memiliki rencana bukan? untuk melawannya"
Elder Firmo bisa membaca arah pembicaraanku dengan tepat.
"Pertama kita sudah memiliki keunggulan, karena Duke memiliki kekuatan werewolf di atas rata-rata dan dengan adanya Ms. Delmora, Scion akan memiliki kekuatan yang lebih lagi" Uncle Rex menghadirkan fakta yang aku sukai terlebih dulu.
"Apakah itu bisa diandalkan? kita tidak tahu apakah penyatuan mate kali ini akan sama, sedangkan mate-nya adalah manusia"
Aku benci karena Elder Camille sangat tajam dalam hal seperti ini.
"Well--- saya tidak akan bisa membuktikannya sebelum kita melakukan penobatan Alpha. Karena saya tidak akan melakukan apapun padanya sebelum itu, termasuk 'menandainya'" ucapku, tegas.
Sebenarnya, aku memang tidak bisa melakukan apapun pada Bee saat ini. Tapi mereka tidak perlu tahu hal itu.
"Jadi apa yang kau tunggu? Segera Lakukan penobatan dan tandai dia!!" Elder Algio berkata dengan keras.
Yesss!!! seruku, dalam hati tentu saja. Aku berusaha keras menampakkan wajah dingin.
"Apa kau yakin Algio?" lagi, Elder Camille masih meragukan Bee.
"Kita tidak punya pilihan lain Camille. Jika kita memaksa Duke untuk menikah dengan siewolf lain, kemungkinan besar dia akan bernasib sama dengan Owen yang kehilangan wolf-nya dulu. Kau ingin mengulangnya? Kita tidak punya waktu untuk memperbaiki kesalahan seperti itu" Sergah Elder Firmo.
Uncle Rex mengangguk bersemangat.
"Untuk urusan Ms. Delmora anda, tidak perlu khawatir Elder Camille, kami sudah memikirkannya dengan matang. Scion tidak akan melakukan perbuatan bodoh dengan mengarang semua ini" katanya, sambil memandang Elder Camille.
Elder Camille berdecak kesal, tapi di bawah pandangan tajam Elder Firmo dan Elder Algio dia tidak bisa berkata-kata lagi. Elder Durant hanya mengangguk tipis mendengar kata-kata Uncle Rex. Aku akan menganggapnya sebagai kata setuju.
"Sekarang apalagi rencanamu?" Elder Firmo memandangku dengan mata berkilat. Seakan dia juga tahu aku masih mempunyai ganjalan lain.
"Saat ini, tidak ada yang tahu bagaimana kekuatan pasukan Crispin yang merupakan campuran beberapa inhumane, karena itu aku bekerjasama dengan beberapa Hunter, mengontak pack lain untuk bergabung dengan kita"
Soal vampire yang beradab itu akan aku sebut belakangan.
Elder Firmo memandangku dengan ragu. "Kita selalu mempunyai hubungan baik dengan hunter. Aku suka ide itu. Tapi apakah ada pack werewolf lain yang mau bekerjasama dengan kita?"
"Ada Elder Firmo, kami sudah berhasil mengontak beberapa pack werewolf yang bersedia bekerjasama dengan kita. Mereka dalam posisi yang sama dengan Blackmoon. Lama kelamaan, Crispin juga akan mengincar pack mereka. Mereka juga tidak akan bisa melawan tanpa bantuan kita" jawabku.
Aku akan meminta daftar pack itu pada Abel begitu aku keluar dari sini.
Elder Durant mengangguk. "Aku setuju. Saat ini kita butuh bantuan siapapun untuk menghadapi krisis ini"
"Satu lagi, ada clan vampire yang menyediakan diri membantu dalam perang ini" Aku menjatuhkan bom yang sedari tergantung di leherku, dengan nada datar.
Elder Camille langsung berdiri menggebrak meja, sedangkan Elder Durant menggeram marah. Elder Algio melonjak terkejut. Hanya Elder Firmo yang bereaksi tidak terlalu berlebihan. Dia hanya mengangkat kedua alisnya dengan kaget.
"Kau gila Duke!" Elder Camille benar-benar marah, karena tidak lagi memanggilku Scion.
"Beri dia waktu menjelaskan Camille, tenanglah" Elder Firmo menariknya duduk kembali. Aku mengangguk penuh terima kasih pada Elder Firmo.
Aku menjelaskan sejelas mungkin sesuai dengan apa yang dikatakan Abel. Elder Camille mengerut jijik, sedangkan Elder yang lain menutup wajah dengan tangan karena tidak ingin lagi membayangkan bagaimana vampire-vampire itu makan.
Sekali lagi hanya Elder Firmo yang bertahan, dengan menatapku tajam.
"Kau yakin dengan hal ini? Kau tidak bisa mempercayai berita itu dengan mudah Scion" katanya, raut wajahnya sedang berpikir keras untuk mencerna berita itu.
"Tentu saja tidak Elder. Karena itu beberapa hari lagi, aku akan mengadakan pertemuan dengan sekutu baru kita. Termasuk para vampire itu. Aku ingin memastikan kami semua berada dalam agenda yang sama"
Jika Oscar disini, dia pasti bisa merasakan sebersit keraguan di suaraku, tapi para Elder tidak mempunyai kemampuan itu. Aku benar-benar berharap vampire beradab itu mempunyai agenda yang sama denganku.
"Ini perbuatan yang gila memang, tapi kita juga sedang menghadapi hal yang gila. Belum pernah ada inhumane yang melakukan hal seperti Crispin. Langkah Duke untuk menjalin kerjasama juga gila. Tapi mungkin bisa berhasil" Uncle Rex berusaha lebih meyakinkan lagi.
"Aku harap kau memikirkan akibatnya jika ternyata vampire yang kau undang ke sini ternyata mempunyai niat yang lain" Suara berat Elder Algio memperingatkan.
"Tentu saja Elder. Yang kami undang hanyalah perwakilan dari mereka saja. Mengundang seluruh clan vampire ke dalam pack adalah perbuatan bodoh" sahutku, sedikit jengkel.
Aku tidak akan bertindak setolol itu. Jika hanya mengundang 3 atau 4 vampire kesini, aku sangat yakin masih bisa menghadapi mereka sendirian, jika memang mereka berkhianat.
Aku memang belum berkoordinasi dengan Abel soal berapa jumlah vampire yang akan datang, tapi ini adalah syaratku. Dia seharusnya bisa mengaturnya.
"Bagaimana dengan warga pack? Mereka akan sangat panik jika ada vampire yang tiba-tiba datang?" Sekali lagi, Elder Camille mencari kelemahan rencana itu.
"Aku akan menyampaikan semua rencana ini saat Brawl nanti" Ide yang sempurna itu terlintas begitu saja di benakku.
Dengan begini aku bisa memberi peringatan dini tentang perang yang akan kami hadapi, kurang lebih dalam waktu dekat ini.
Beberapa saat kemudian ruangan itu sunyi senyap. Mereka sibuk berpikir dalam benak mereka masing-masing.
Aku melirik Uncle Rex yang memberiku kedipan sambil mengangkat jempolnya, seolah pertanda kemenangan telah ada di pihak kami.
"Aku akan menyetujui semua langkah ini Scion. Tapi saya harap anda sudah melakukan upacara penobatan sebelum anda mengundang pack lain ke sini. Akan sangat memalukan bagi Blackmoon jika kita tidak memiliki Alpha" kata Elder Firmo, dengan nada resmi.
Whuuut?? Kenapa dia bisa memiliki ide yang sama dengan Abel?
"Jangan khawatir Elders, Scion akan segera mengumumkan tanggalnya. Dan kita masih memiliki waktu sampai minggu depan sebelum waktu pertemuan berlangsung" kata Uncle Rex dengan enteng.
Aku ingin menyumpal mulut Uncle Rex dengan tanganku sekarang juga. Aku bahkan baru bisa berbicara secara normal dengan Bee beberapa saat yang lalu.
Tapi aku tidak berani membantahnya, karena sekarang semua Elder mengangguk setuju mendengar ucapan Uncle Rex.
Aku tidak bisa mendengar lagi hal-hal yang mereka bahas setelah itu. Aku sibuk memikirkan bagaimana cara agar aku bisa menikah dengan Bee sebelum minggu depan.
Aku tahu hanya ada dua kemungkinan untuk itu. Iya dan tidak. Hanya saja keputusan Bee akan menentukan nasibku setelah ini.
Dan juga mungkin nasib seluruh pack dan juga peperangan yang akan aku hadapi setelahnya. Memikirkannya membuat mulutku menjadi pahit.