
Kesadaran yang mulai merayap naik, membuat aku bisa mendengar suara yang ada di sekitar.
Ada sesuatu yang menerpa pipiku dengan hangat, disertai suara tarikan nafas berat, memenuhi telinga sebelah kananku.
Aku berusaha membuka mataku dengan susah payah karena terasa berat dan lengket. Meski secercah cahaya memasuki mata, pandanganku masih sangat kabur.
Mataku mengedip beberapa kali, sebelum akhirnya objek di sekitarku menjadi jernih.
Langit-langit segitiga berbahan kayu dan sangat tinggi, adalah hal pertama yang aku lihat. Sudah pasti aku tidak mengenalinya.
Aku bisa merasakan tusukan jarum infus di tangan kiriku, apakah ini rumah sakit? Tapi rumah sakit macam apa yang mempunyai langit-langit kayu dan tinggi seperti itu?
Dengusan lembut di telinga kanan, membuatku teringat, ada seseorang berbaring di sampingku. Aku menolehkan kepala secepat yang aku bisa.
"Aaaaaagggggggggggghhhhhhhhhhh!!!!"
Jeritanku menghabiskan semua udara yang ada di paru-paru.... Itu Duke!!
Aku harus menjauhinya!!! Ingatan menyeramkan menerjang benakku....Darah, taring dan kepala berhamburan.
Aku menyeret tubuh yang nyaris tak bertenaga, dengan dengan segala tekad yang aku punya. Memaksa untuk turun dari ranjang. Aku tidak peduli sedang berada dimana, yang pasti aku harus menjauh dari Duke....
Duke meneriakkan sesuatu yang tidak bisa aku dengar, tapi teriakan itu sudah berhasil membuat tubuhku menggigil karena takut.
Aku harus menjauh!!! Dia itu bukan manusia, dia akan membunuhku.....
"Aghhh...Tidakkkk!!!"
Aku kembali menjerit karena dia berhasil menangkapku.
Bahu dan tanganku di cengkeram dengan erat. Tangisanku pecah karena ketakutan yang luar biasa menggulungku tanpa ampun.
Dia pasti akan membunuhku sekarang!!....
"Please don't!!" Aku hanya bisa terisak, saat merasakan tubuhnya mulai mendekatiku. Dia menyentakkan badanku, hingga wajahku berbalik menghadapnya.
"Please let me go!" rintihku, sambil memejamkan mata. Aku tidak mau melihat wajahnya yang menyeramkan itu.
Dia bukan manusia......!!
"Bee, look at me. Ini aku!!' serunya masih mencengkeram lenganku.
"No...kau menyeramkan. Aku tidak mau melihatmu!!" Aku meronta mencoba untuk melepaskan cekalan tangannya. Tapi tangan itu kuat sekali.
"Lepaskan aku, kau monster!!' Aku menjerit dengan putus asa.
Tiba-tiba aja, cengkeraman itu terlepas. Tanpa membuang kesempatan itu, aku menyeret tubuhku menjauh. Aku harus pergi sejauh mungkin darinya.
Tapi aku bisa merasakan bagaimana kesadaran mulai meninggalkan tubuhku.
"Tidak, jangan sekarang.." Aku memohon dengan lirih.
Aku mendengar langkah kaki berlari mendekat, sesaat sebelum hitam menelan cahaya di mataku.....
----------- *0o0*----------
Suara teriakan memekakkan telinga, seolah menamparku dengan keras.
Aku tergagap bangun dan membuka mata. Kemudian memandang ke sekeliling dengan bingung.
Bee?
Suara itu berasal dari Bee yang ada disebelahku. Aku pasti tidak sengaja tertidur di ranjang tadi malam.
Bee kini berusaha untuk turun dari ranjang. "Bee, apa yang kau lakukan?"
Seolah tidak mendengar, Bee terus menggeser tubuhnya menjauh.
Aku berusaha meraih tangannya untuk mencegahnya turun, tapi terlambat. Dia menjatuhkan diri ke lantai, dan mulai menyeret tubuhnya memperlebar jarak.
Jarum infusnya yang tercabut dengan paksa, meninggalkan ceceran darah mencolok di atas ranjang, yang tertutup sprei berwarna putih.
"Bee, berhenti!!" Aku berteriak sekali lagi, dan melompat turun untuk mengejarnya.
Aku meraih kedua lengan atasnya untuk membuatnya berhenti. Tetapi justru hal itu membuatnya menjerit kembali. Dia bahkan mulai menangis sekarang.
"Please don't....." suaranya lirih mengiba memohon padaku. Aku terpaku dengan bodoh mendengar rintihannya.
Apa yang terjadi? Sudah jutaan kali aku mengulang pertanyaan ini dalam hati.
Aku membalik tubuh Bee, yang mencoba melawanku dengan susah payah. Wajahnya yang penuh air mata, membuatku nyaris menangis juga karena pedih.
Apa yang membuatnya menderita seperti itu? Bee memejamkan matanya erat-erat.
"Please let me go!" isakkan menyayat terlontar dari mulut Bee, memohon agar aku melepaskannya.
Ada apa ini? Apakah sesuatu terjadi dengan otaknya lagi? Apa dia kembali melupakan aku? Pertanyaan demi pertanyaan melintas di benakku.
"Bee, look at me! Ini aku." Aku berkata dengan lebih pelan, sambil memohon agar Bee melihatku, mungkin dia kan menjadi lebih tenang jika dia mengenaliku.
"No...kau menyeramkan. Aku tak mau melihatmu" Bee meyahut dengan nafas tersengal.
Aku menyeramkan?
Bee mulai meronta lemah, berusaha melepaskan diri.
"Lepaskan aku, kau monster!!" jeritnya sekali lagi.
Detik itu juga aku jatuh terduduk, seluruh tubuhku seolah luluh. Tanganku yang mencengkeram lengannya juga melemas.
Aku? Aku yang membuatnya takut? Aku yang membuatnya menjadi seperti ini?
Aku bisa melihat Bee merayap menjauh dariku. Tapi otakku kehilangan fungsi. Aku hanya menatap kosong ke arah Bee.
"Duke!!! Apa yang terjadi?" Aku mendengar suara Mom sayup-sayup di belakangku.
Aku monster!!??
Akulah yang membuat Bee ketakutan. Dia tidak ingin melihatku lagi. Dia menjerit histeris ketika aku menyentuhnya....
Emosi mulai menyumbat tenggorokanku, mataku terasa panas oleh air mata. Yang aku inginkan saat ini hanyalah bergelung di lantai dan melupakan semua tentang dunia.
Aku tidak peduli lagi--!!
Aku ingin sekali menepis tangan yang berkali kali mengguncang tubuhku.
"Duke, Lui pingsan lagi!!" Aku mohon menyahutlah" suara tegang milik Mom, menerjang paksa memasuki otakku.
Aku mengejapkan mata, berusaha fokus. Ahhh......
Bee terbaring dengan posisi janggal di pojok kamar. Rambut pirang panjang, menutup hampir seluruh wajahnya. Posisinya terlihat sangat menyedihkan. Dia menyeret tubuh lemahnya sampai sejauh itu, karena dia begitu ketakutan dengan adanya aku di di sini.
Ini lelucon bukan?
Tidak mungkin Bee benar-benar berpikir aku menakutkan. Aku tidak akan pernah melakukan apapun yang membuatnya takut ataupun terluka.
"Duke!!!" Suara Mom yang panik, membuat akal sehatku kembali.
Aku bangkit dan mengangkat tubuh Bee ke tempat tidur dan membaringkannya pelan. Tangan dan kakinya aku luruskan dengan sempurna. Rambut pirang yang tidak beraturan, menempel di wajahnya karena air mata. Aku menyingkirkan dan menyisipkan rambut itu di belakang telinga.
"Aku akan memanggil Sidra" Mom berkata cepat kemudian berjalan pergi.
Aku menekan luka di tangan Bee yang tadi sobek karena jarum infus, untuk menghentikan darahnya. Setelah itu, aku duduk di sofa dengan lelah. Tubuhku seolah baru saja tertimpa reruntuhan bukit. Penat dan sakit.
Bee menyebutku monster, dia mengenalku sebagai monster.
Kepahitan yang berusaha aku telan, menyangkut di tenggorokan, karena desakan perasaan yang siap meledak. Aku membenamkan wajah pada kedua telapak tanganku. Aku seharusnya merasa gembira karena Bee telah bangun. Tapi sekali lagi, harapanku luluh lantak.
Bee tidak ingin melihatku, mustahil dia bisa mencintaiku. Aku adalah monster yang menyebabkan mimpi buruknya. Akulah yang membuat tidurnya gelisah. Aku......
"Scion!"
Suara berat Dr. Sidra tidak membuatku mengangkat wajah. Aku hanya mengangguk pelan.
"Duke..?" Panggilan dan usapan lembut Mom di punggungku, semakin membuat aku ingin berteriak. Aku menarik nafas panjang untuk kembali menelan pedih.
Rasa mual yang mulai terasa akrab, kembali datang.
Aku berlari menuju kamar mandi. Cairan asam dan sisa makan malamku memenuhi closet.
"Duke, Ada apa ini?"
Mom mengikuti aku ke kamar mandi. Dia mulai mengusap-usap punggungku dengan khawatir.
"I'm fine, Mom"
Tapi serangan kedua datang, aku kembali memuntahkan isi perutku ke closet. Entah berapa banyak yang aku muntahkan, sebelum akhirnya aku bisa mengangkat wajah.
Dengan bantuan Mom, aku bangun dan menuju wastafel.
Aku membersihkan wajahku dan kemudian menatap bayanganku sendiri di cermin. Kau terlihat menyedihkan Duke! Tentu saja Bee akan memanggilmu monster.
Bee membenci segala hal yang berbau monster.
Apa yang kau harapkan? Dia akan memelukmu mesra dan menerimamu walaupun kau adalah werewolf? batinku dengan sinis.
Kau lupa Bee adalah manusia? Kau lupa dia hanya wanita biasa yang sudah seharusnya takut pada monster?
Aku melangkah keluar dengan gontai, lalu menjatuhkan dirik ke sofa. Aku menyandarkan kepala yang masih berputar di sandaran empuknya.
"Scion? Anda tidak apa-apa?" tanya Dr. Sidra dari arah ranjang.
Aku menebaskan tangan sebagai tanda keadaanku tidak penting. "Bagaimana keadaanya?" tanyaku.
"Saya rasa Ms. Delmora terkejut dan histeris, sehingga dia pingsan lagi, Scion. Suhu tubuhnya kembali meningkat" Dr. Sidra memeriksa infus, lalu menyuntikkan obat di lengan Bee.
"Ini adalah dosis terakhir yang diperbolehkan. Jika dia kembali tidak sadarkan diri setelah ini, kita hanya bisa menunggu" tambahnya, sambil terus memeriksa Bee.
Aku tertawa kering mendengar itu. Aku tahu itu.
Hanya saja yang membuatnya ketakutan dan histeris adalah aku. Itu berarti aku harus menjauh agar dia tidak histeris atau pingsan lagi.
"Saya akan memeriksa anda sekarang" dr. Sidra mendekati tempat dudukku.
Wajah Dr. Sidra langsung berubah masam, tidak menyetujui keputusanku. Tapi dia patuh dan dan berpamitan pergi.
Dengan pelan Mom duduk disampingku "Apa yang sebenarnya terjadi?
Saat ini, aku begitu menginginkan keberadaan mindlink, yang bisa menghubungkan aku dengan Mom, tanpa harus berubah menjadi werewolf. Aku ingin menceritakan semua padanya, tapi aku tidak ingin membicarakannya secara langsung.
Aku merasa, bercerita hanya akan membuat hatiku semakin pedih.
Tapi aku sangat kenal Mom, dia tidak akan berhenti bertanya sebelum aku bercerita.
Maka aku memaksakan lidahku untuk bergerak, apa yang barusan terjadi. Dan aku benar, hatiku semakin hancur saat aku mengulang adegan itu di kepalaku.
Wajah Bee yang memandangku penuh ketakutan membuat hatiku pedih. Wajahnya memucat pias dan penuh air mata. Jeritannya yang tertanam di benakku, seolah mengiris hatiku menjadi kepingan.
Bagaimana bisa aku yang membuatnya menjadi seperti itu?!
Mom meremas tanganku, matanya sekarang berlinang dipenuhi air mata.
"Oh..Duke, jangan khawatir, itu hanya untuk sementara. Dia akan menerimamu setelah tahu yang sebenarnya" hiburnya, sambil memelukku.
"Dengan hanya mengenalku lebih jauh, tidak akan mengubah fakta aku adalah monster mengerikan di matanya Mom" ujarku datar.
Mom melepas pelukan kemudian memandangku.
"Tapi dia menerimamu apa adanya sebelum ini bukan?"
Aku sudah menceritakan semua yang terjadi antara aku dan Bee pada Mom. Aku tidak ingin ada rahasia apapun diantara kami. Tidak setelah semua yang kami lalui untuk mencapai keadaan seperti ini.
Aku menjawabnya dengan anggukan. "Tapi dia mengetahuinya setelah kami bersama selama beberapa saat, bukan setelah aku meledakkan kepala dan perut seseorang. Hal itu masih ditambah dengan kenyataan aku berubah menjadi serigala seukuran truk, persis di depannya" jelasku, dengan getir.
Dulu Bee sangat terkejut saat mendengar penjelasan soal inhumane dan werewolf. Tapi hanya itu. Setelahnya Bee sangat bersemangat ingin melihat wujud wolf-ku. Dan saat itu aku tidak dengan bodoh melakukan transformasi di depan matanya.
Perubahan wujud werewolf memang bukan pemandangan yang indah apalagi menyenangkan. Tulang berderak, bulu dan cakar yang tiba-tiba keluar dari tubuh?
Oh ya..itu terdengar seperti resep film horor box office bagi manusia biasa. Dan aku melakukannya persis di depan Bee beberapa hari yang lalu.
Aku seharusnya sudah bisa menduga jika ini akan terjadi. Aku menyangka kemarin Bee pingsan karena memang level stress yang tidak bisa lagi di tahannya. Tapi tidak!! Dia pingsan karena ketakutan saat melihat aku berubah wujud.
Aku ingat bagaimana Bee menunduk sambil memejamkan mata\, saat kedua werewolf br*ngs*k itu berubah wujud\, dia melewatkan pemandangan menyeramkan itu.
Tapi aku berada persis di depannya saat bertransformasi.
Sangat pintar bukan?!!! batinku penuh dengan ironi.
"Tapi dia pernah menerima wolf-mu, berarti dia adalah wanita yang kuat. Dia hanya terkejut Duke. Tenanglah Oke?" Aku seharusnya merasa terhibur dengan kata-kata Mom, tapi entah kenapa ini malah membuatku semakin depresi.
"Untuk sementara, aku yang akan menemaninya. Aku akan menjelaskan dengan pelan-pelan tentang dirimu, bagaimana?" usul Mom dengan antusias yang dipaksakan.
Aku menarik nafas panjang, dan kembali melempar tubuhku ke sandaran sofa dengan penat. "Entahlah Mom, luka psikis lebih sulit untuk diatasi daripada luka fisik Mom"
"Kau akan menyerah?" Nada suara Mom seolah menegurku.
"Tentu saja tidak" jawabku sambil tersenyum getir.
"I know you won't" kata Mom, sambil merapikan rambut yang terserak di keningku.
"Kita berdua tahu kau tidak akan menyerah. Menyakitkan memang, Tapi Mate adalah sesuatu yang berharga untuk diperjuangkan" lanjutnya.
Kalimat itu membuat aku sadar, bagaimana beratnya ujian yang dilalui oleh Mom untuk bersama ayah.
Aku bangkit dari sofa dan berjalan menuju jendela besar, Aku menekan tombolnya sekali lagi. "Aku akan....."
"Pergilah, jangan khawatir soal Lui. Aku tidak akan meninggalkannya" Mom memotong perkataanku.
Aku melangkah keluar balkon dan bertransfomasi, tanpa peduli dengan baju yang sekarang menjadi serpihan berhamburan.
Tanpa mengindahkan keadaan sekeliling, aku terus berlari menjauhi manor.
Aku menuju hutan yang tadi malam aku telusuri, dengan kecepatan penuh. Beberapa warga berseru heran, saat melihatku berlari secepat kilat. Sejumlah warga harus melompat menggir untuk menghindari tabrakan.
Tapi aku tidak peduli dengan semua itu, aku hanya ingin berlari.
Aku berhenti ketika mencapai Green Palm Lake.
Pada musim panas, tempat ini menjadi tempat favorit turis untuk berpiknik, karena memang menjadi salah satu tujuan paket wisata milik Monath campground.
Tetapi musim gugur dan musim dingin tempat ini adalah bencana. Suhu di sekitar danau lebih rendah dari pada tempat di sekitar sini. Manusia biasa akan membeku jika mereka nekat mendekat.
Pada musim dingin, danau ini kosong dan sunyi. Tempat yang cocok untukku.
Aku menjilat permukaan danau yang jernih, lalu duduk melipat keempat kakiku.
Bayangan wajahku yang terpantul di danau membuatku ingin mengumpat. Terlihat seekor serigala hitam legam dan besar, taringku yang panjang, nyaris menyembul keluar dari moncongku. Tajam dan berbahaya.
Aku tidak menyalahkan Bee jika dia ingin menjauh. Jika aku berada dalam posisinya, maka aku akan mengunci diriku rapat-rapat di dalam tempat yang aman. Untuk memastikan tidak akan bertemu dengan makhluk seperti aku lagi.
Reaksi yang diberikan oleh Bee sangat normal untuk manusia. Siapapun kan melakukan hal yang sama.
Air yang aku minum yang beberapa saat lalu, kembali naik dan keluar melewati taringku begitu mencapai lambung. Keadaan lambungku tidak menjadi lebih baik, setelah aku berwujud werewolf.
Aku mengusap moncongku dengan kesal. Tidak bisakah sekali saja aku melakukan hal yang aku inginkan?!! runtukku.
"Kau sudah melakukannya. Kau berlari seperti pencuri lalu berhenti di sini. Ini keinginanmu bukan?" Roan menyela lamunanku dengan sinis.
"Oh ayolah, tidak bisakah kalian meninggalkan aku sendiri?" ujarku, dengan gusar.
Aku mengangkat hidungku ke udara. Aroma El dan Roan sudah sangat kuat. Mereka berada tidak jauh dari sini.
"Tentu saja tidak, meninggalkanmu sendiri, dan melihatmu menjadi gila? Kami tidak sekejam itu" El menjawab dengan sedikit emosi.
Tak lama mereka muncul dengan berlari dari balik pohon. "Bagaimana kalian tahu aku berada di hutan?"
"Kau adalah serigala raksasa berwarna hitam, yang tadi berlari seperti anjing terkena rabies melewati pemukiman. Akan sangat mengherankan jika kami melewatkan pemandangan seperti itu" tukas Roan, mendelikkan matanya padaku.
"Apa yang terjadi? Kepalamu sangat kacau Duke" El berkata sambil memandangku serius.
Karena otak adalah benda yang sama sekali tidak bisa dikontrol, detik berikutnya ingatan tentang Bee, segera membanjiri benakku.
Roan mendengking menerima gelombang emosi kacau itu
Sedangkan El, memejamkan matan berkonsentrasi dengan tenang. Dia mencoba menyusun ingatan tidak masuk akal itu. Dia sudah terbiasa mengatasai kekusutan isi kepalaku, terutama bila berkaitan dengan Bee.
"Oh..ini buruk sekali, Berhenti mengingatnya!!" Roan merintih sekarang.
Aku juga ingin menghentikannya, tapi rasa pedih dan kesakitan, terus merembes keluar bersamaan dengan ingatan yang ingin aku bagi.
Otak dan pikiran tidak semudah itu diperintah, semakin ingin kau melupakan sesuatu, maka kenangan itu akan semakin jelas terlihat.
Aku melompat menceburkan diri ke danau. Air danau yang dingin akan membuat benakku sedikit teralihkan. Aku berenang menyusuri sekeliling danau, dengan kayuhan keempat kakikku.
"Pikiranku bukan tempat yang nyaman saat ini, sebaiknya kalian melepas wujud werewolf kalian sekarang" saranku berbaik hati.
"I'm fine" kata El pendek.
"Tetaplah berada di sana, itu sedikit membantu" kata Roan, sambil menggelengkan kepalanya, seolah mengusir serangga yang beterbangan.
"Kau hanya harus menunggu, Duke. Aku setuju dengan ibumu" ujar Roan. Dia mulai mengerti setelah melihat aliran pikiran yang lebih teratur dari El.
Kalimat itu membuatku terkejut, karena Roan nyaris terdengar sangat bijak.
Tapi ide itu tidak semudah yang dikatakan.
"Tentu saja akan sulit, tapi kau terbiasa dengan kesulitan. Kau akan baik-baik saja" El menyahut, menjawab pertanyaan yang tidak aku lontarkan.
Pernyataan itu akan aku anggap sebagai pujian karena berasal dari El. Roan akan memelintir kalimat manis itu menjadi sindiran kejam.
"Aku tahu itu. Tapi bukan berarti aku akan menerimanya dengan hati yang damai" ujarku sambil mementaskan diri dari danau.
Aku merindukan Bee yang mengingatku dengan utuh, itu saja!
Roan berteriak panik karena rasa rinduku pada Bee sekarang menguasai pikirannya.
"No..no.. kembali ke dalam air!!! Kau membuatku merasa ingin menciumnya juga"
Wrong word!!!!!
Memoriku langsung dipenuhi dengan kenangan saat aku dan Bee sedang berciuman.
Roan semakin liar mengibaskan kepalanya, sembari menyalak kencang. Tentu saja dia tidak ingin melihat semua hal yang sekarang muncul di benakku.
Sedangkan El mulai menyanyikan lagu kebangsaan beberapa negara asing, dalam bahasa aslinya. Keahlian khusus yang dipelajariya untuk keadaan seperti ini. Dia mencoba menutup benaknya dari kenanganku.
Aku menceburkan diriku kembali ke danau dan melepaskan wujud werewolf-ku.
Walau tanpa bulu werewolf, aku tetap tidak akan mati membeku seperti manusia. Kesegaran air danau justru membuat pikiranku menjadi sedikit lebih jernih.
Aku naik ke darat, dan El langsung melontarkan bungkusan pakaian yang terikat di kaki belakangnya. Aku menerimanya dengan gembira.
Roan yang sejak tadi memejamkan mata, membuat kegiatan itu menjadi lebih mudah.
Roan akhirnya bisa tenang sambil mengatur nafasnya yang terengah. Terlihat lega karena tidak lagi menerima serangan kenangan yang tidak diinginkan .
Tanpa suara apapun, tiba-tiba dia berbalik dan berlari pergi.
Ada apa dengannya, apakah dia akan melepaskan werewolf-nya juga?
"Dia tak tahan dengan perasaan merana di kepalamu. Dia pergi karena tidak ingin kau melihatnya menangis" Suara El yang menjawab isi batinku, membuatku sedikit terlonjak.
El sudah kembali menjadi manusia. Dia menyambar mantel di tanganku dan memakainya. Kakinya masih terbuka karena mantel itu panjangnya hanya mencapai lutut, tapi setidaknya dia tidak telanjang.
"Kau bisa bertahan" Aku memandang El.
Aku tidak mengira, jika apa yang aku bagi melalui mindlink akan mempengaruhi Roan dengan sekuat itu.
"Tidak ada yang lebih buruk daripada apa yang ada di kepalamu saat Lui koma dulu! Aku sudah terbiasa" jawab El.
Aku mengangguk. "Maaf----."
El tertawa kecil "Hei..aku yang memilih untuk berada di kepalamu, dan aku tidak pernah menyesalinya. Tidak perlu memenuhi hatimu dengan rasa bersalah yang tidak berguna" ujarnya dengan ringan.
Aku tersenyum mendengarnya. Kalimat itu sama persis dengan apa yang aku katakan saat kami kecil dulu. Saat El meminta maaf, karena telah membuat aku dan Roan melihat kenangan buruk soal perlakuan Linus padanya.
Roan menangis histeris berjam-jam setelah melihat kenangan itu, sebelum akhirnya Mom berhasil menenangkannya.
Sedangkan aku berteriak-teriak tidak terkendali, dan memuntahkan segala isi perutku karena jijik pada apa yang dilakukan Linus.
Segala rasa marah, terhina dan trauma menghantam aku dan Roan dengan bertubi-tubi. El sama sekali tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan aliran kenangan itu, karena itu adalah pertama kalinya mindlink diantara kami bertiga terbentuk.
Setelah itu, El menangis keras dan memohon padaku untuk tidak memutuskan mindlink di antara kami.
Aku menyebutnya bodoh, karena aku memang sama sekali tidak pernah berniat untuk melakukan itu.
Walaupun kepedihan yang aku rasakan hari itu, membuatku bermimpi buruk selama beberapa bulan setelahnya, aku tidak pernah mempertimbangkan untuk mengakhiri mindlink-ku dengan El.
Kami telah melalui hal yang sangat buruk dalam kehidupan kami. Tapi kami tidak pernah menyesal telah berbagi segalanya, karena hal itu membuat ikatan kami semakin kuat. Dan aku rasa Roan akan menjadi terbiasa setelah ini.
Aku harap...