Finding You, Again

Finding You, Again
Us 12- Scared and Understanding



Aku mengenali langit-langit tinggi berbahan kayu yang ada di atasku. Berarti aku masih berada di tempat yang sama dengan monster itu!


Aku berusaha bangkit, tapi tubuhku mempunyai keinginan sendiri, tangan dan kakiku hanya menggeliat lemah menanggapi perintah otakku. Aku tidak lagi mampu untuk sekedar merayap.


"Tenanglah sayang. Kau 'tertidur pulas' selama beberapa hari. Butuh beberapa waktu sebelum kekuatan tubuhmu pulih" Suara dengan nada lembut menentramkan, menyapaku.


Aku menoleh dan kemudian terpana. Karena sosok yang aku lihat sangat tidak biasa.


Wanita itu cantik--sangat cantik. Rambutnya berwarna putih sempurna sangat mencolok. Rambut itu mengacaukan segala penilaianku tentang dirinya.


Rambut itu membuatku berpikir setidaknya usianya adalah 70 tahun, karena jelas itu warna uban asli bukan karena cat rambut.


Tapi absennya kerutan sebagai penanda usia tua, membuatnya terlihat berusia 30 atau 40 tahun.


Dia tidak tampak tua, tapi aku juga tidak akan menyebutnya muda. Menurut pengamatanku, dia sudah sangat berpengalaman soal kehidupan, matanya terlihat bijak. Wajahnya yang mulus tanpa keriput terlihat janggal.


"Good morning dear!!" sapanya lagi, karena melihatku hanya menatapnya tanpa berkata apapun. "Eh... Good afternoon to be exact" Dia tersenyum simpul.


Aku mengikutinya melirik ke arah jendela besar yang berada di depanku. Ranjang yang aku tempati menghadap langsung ke sana. Warna merah memenuhi langit luar. Ini memang sore hari.


Tapi itu tidak penting!


"Dimana aku?" Jantungku berdegup sedikit lebih kencang saat bertanya, aku masih sedikit takut. Tapi setidaknya aku tidak melihat Duke dimanapun sekarang.


"Somewhere safe, jangan takut" Wanita itu masih  tersenyum lembut. Otomatis detak jantungku melambat, dan tubuhku menjadi rileks, mendengar jawaban menyejukkan itu.


"Tapi dimana ini? Dimana Oscar?" tanyaku lagi.


"Kau ingat kejadian yang membuatmu tidak sadarkan diri?" Dia menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan yang lain.


Aku mengangguk, tentu saja aku ingat!


Aku juga akan mengingat kejadian itu seumur hidup, seperti saat aku mengingat bagaimana aku berada dalam pesawat naas itu. Bahkan setelah sekian banyak ingatanku yang terhapus, kenangan itu tetap ada.


"Karena itu sekarang kau ada di sini. Kami mengungsikanmu dari London, karena di sana bukan lagi tempat yang aman untukmu"


Dengan pelan, dia mengatur posisi tubuhku agar bisa duduk dan bersandar pada kepala ranjang. Dengan begini kami bisa berbincang dengan mata sejajar.


Puas melihat posisiku yang telah nyaman, dia beranjak ke meja kecil di sisi lain ranjang. Wanita itu menuangkan air, melengkapi gelas itu dengan sedotan kecil, kemudian mengulurkannya padaku.


Aku mencoba meraihnya, tapi tanganku masih bandel menolak.


"Tanganmu belum mampu mengangkat gelas in. Minumlah langsung dari tanganku! Kau membutuhkannya untuk memulihkan tenaga"


Senyum lembut sekali lagi terbentuk di wajahnya yang cantik.


Aku menurut, dan mulai menyedot air itu dengan gelas yang masih dalam genggamannya.


Begitu air itu mengalir turun di tenggorokan, aku baru sadar jika ternyata aku kehausan. Beberapa detik kemudian, aku telah menghabiskan separuh lebih air di gelas itu.


"Gadis pintar"


Wanita itu duduk di ranjangku sambil memandangku dengan hangat. Dia mengingatkanku pada Charlie.


"Siapa anda?" Pertanyaanku sedikit terlambat, karena kami sudah berbicara panjang.


Dia terkekeh pelan, seolah baru tersadar jika kami tidak saling mengenal.


"Kau bisa memanggilku Myra dan tidak perlu bersikap terlalu kaku padaku Lui. Santai saja. Rumah tempat kau sekarang berada ini adalah milikku, setidaknya sampai beberapa bulan kedepan" katanya, sambil menebar tangannya ke sekeliling.


"Oh..apakah masa sewanya akan segera habis?" tanyaku.


Aku memang hanya melihat isi kamar ini, tapi aku menyukainya.


Kamar ini sangat nyaman, mungkin ukurannya sedikit tidak biasa, karena luas sekali. Tapi tatanan interiornya sangat simple dan menyenangkan menurutku.


Jika itu aku, maka akan aku perpanjang masa sewanya sampai 10 tahun ke depan.


Myra tertawa terbahak mendengar pertanyaanku, suara tawanya merdu, terdengar seperti lonceng kecil yang berdenting.


Tapi aku tahu, tawa itu sejenis dengan tawa geli yang biasa dilontarkan oleh Jovi saat aku mengatakan hal konyol.


"Ya, aku rasa masa sewa untuk rumah ini akan segera habis untukku" Myra mengangguk setelah tawanya reda.


Jadi aku benar, tapi kenapa dia tertawa?


Myra bergerak duduk di atas ranjang tepat di sebelahku, kemudian meraih tanganku dan menggenggamnya. Tangannya hangat dan lembut.


"Lui, aku akan menjelaskan beberapa hal tentang keadaanmu sekarang. Agar kau tidak bingung" Myra memandangku dengan lebih serius. Iris matanya ternyata berwarna coklat muda, warna yang sangat langka.


Aku mengangguk pelan, pilihan apa lagi yang aku punya? Tubuhku terbaring tanpa tenaga, aku akan mendengarkan.


"Keberadaanmu di sini mungkin bertentangan dengan apa yang kau inginkan. Tapi percayalah, untuk sekarang, tempat ini adalah yang paling aman bagimu. Dan jangan khawatir, Oscar sudah menyetujui hal ini. Kami tidak membawamu ke sini tanpa ijin" jelasnya.


"Aku ingin bertemu dengan Oscar!" Aku ingin mendengar penjelasan ini darinya. Atau Charlie, kemana mereka?


"Maaf, tapi dia masih berada di London dan tempat ini sangat jauh jaraknya dari sana"


Wajah Myra tampak menyesal.


"Kau akan mendapat kesempatan berbicara dengan Oscar setelah kau lebih kuat sayang, kau tidak sadarkan diri selama hampir 6 hari. Jika kau berbicara dengan Oscar sekarang, aku khawatir kau akan menjadi sangat emosi dan membuatmu pingsan lagi" tambahnya, sambil meremas pelan tanganku, matanya memandangku dengan khawatir.


"Kau tahu tentang kondisiku?"


Siapa dia? Dia tidak hanya tahu namaku tapi juga kondisi tubuhku.


"Tentu saja, Oscar tidak mungkin membiarkanmu berada di sini, jika kami tidak bisa merawatmu" jawabnya, sambil tersenyum kecil.


"Aku berjanji akan menjelaskan semua pertanyaanmu, tapi untuk saat ini yang perlu kau ketahui adalah, orang-orang di hutan itu ingin menyakitimu. Dan tempat ini adalah tempat yang paling aman dari jangkauan mereka. Mereka tidak akan bisa menyakitimu di sini" tambahnya.


Ingatan horor di hutan itu muncul di benakku.


Bagaimana pria yang mengaku bernama Egon itu tersenyum. Bagaimana Mark..


"Mark!!!" seruku dengan panik.


"Bagaimana keadaanya?"  Hal terakhir yang aku ingat, serigala raksasa itu menerkamnya.


"Dia-----bersama Oscar"  Myra sedikit tersendat saat menjawabnya, dia berpaling meraih gelas yang sekarang nyaris kosong.


Oh, syukurlah!! Setidaknya dia aman.


Myra menyodorkan gelas yang sekarang telah terisi air lagi. Aku menyedotnya tanpa banyak bicara.


"Saat ini yang terpenting untukmu adalah agar kau bisa memulihkan diri seperti sedia kala. Aku juga berjanji, selama kau berada di sini tidak akan ada yang akan menyakitimu" Myra kembali meraih tanganku.


Kedua tangan Myra menangkup seluruh telapak tanganku, kemudian menepuk-nepuknya dengan lembut.


"Duke...." suaraku tertelan oleh ingatan mengerikan. Tubuhku segera saja menggigil takut, tanpa bisa aku kontrol.


Myra menarik tubuhku lembut dan memelukku.


"Ssttt... jangan seperti ini. Tenanglah, Duke tidak ada di sini bukan?" Myra berbisik dengan halus, menenangkan.


Aku menarik nafas panjang mencoba menguasai diri. Myra benar, aku harus menahannya. Aku tidak boleh pingsan lagi.


"Lui, aku tahu hal yang kau lihat di hutan itu sangat mengerikan. Tapi ada satu hal yang harus kau ingat dengan benar. Duke berada di sana untuk melindungimu, untuk menyelamatkanmu. Apapun wujudnya" Myra mengucapkannya nyaris dalam desahan, karena aku masih berada dalam pelukannya.


Pelukan hangat itu membuatku lebih tenang, hingga aku memutar kembali ingatan saat berada di hutan itu dengan lebih teratur.


Pria bernama Egon itu sudah pasti menipuku. Dia sengaja memancing aku ke Southdown dengan niat lain. Mark yang menyadarinya, berusaha melindungiku.


Mark--- apa dia memang selalu membawa pistol kemana pun? Dari sikapnya, dia sama sekali tidak terlihat canggung menodongkan pistol pada orang lain.


Setelah itu Duke datang!


Bagaimana dia bisa tahu aku ada di sana? Ini adalah misteri yang lain.


Aku mengingat sedikit perbincangan antara Egon dan Duke, tapi masih sama seperti sebelumnya, perbincangan mereka sangat aneh. Mereka menyebut tentang ikan mati, dan penyihir. Aku tidak bisa merangkainya dalam satu kalimat tanpa merasa aneh.


Kejadian horor setelahnya---- Duke menembak Egon dengan senjata yang aneh. Bentuknya seperti pistol, tapi dengan ujung yang sedikit lebar. Aku tak pernah melihat pistol seperti itu sebelumnya.


Aku memejamkan mata dengan lebih erat, mencoba melawan rasa jijik mengingat pemandangan mengerikan itu.


Sebagian besar sisi kanan perut Egon hancur. Kemudian teriakan Duke yang menyuruh Mark untuk membawaku pergi dan Duke kembali menembakkan senjatanya. Aku masih bisa merasakan bagaimana saat serpihan kepala penuh rambut jatuh di pipiku.


Aku mempererat pelukanku pada Myra.


"Dia melakukan semua itu untuk melindungimu Lui, ingatlah!! Mereka memancingmu ke sana untuk menyakitimu. " bisiknya lagi.


Aku mengangguk pelan, aku mengerti itu. Aku tidak tahu apa yang diinginkan Egon dariku. Yang pasti, dia memang berniat jahat, juga kedua serigala itu.


Pemahaman baru merasuki benakku. Dua ekor serigala.... kemudian dua orang yang belum dilukai oleh Duke, tiba-tiba menghilang, apakah itu berarti....


"Dua orang itu seperti Duke.." seruku paham.


Tentu saja! aku tidak melihat bagaimana mereka berubah. Tapi aku sangat yakin dengan hal ini.


Myra mengangguk, "Iya dan tidak. Mereka adalah makhluk seperti Duke, tapi mereka ingin menyakitimu. Sedangkan Duke, dia tidak akan pernah melakukan hal apapun yang bisa menyakitimu" jelasnya.


Myra melepaskan pelukannya, tapi masih menggenggam erat telapak tanganku.


Matanya memandangku dengan seksama. Seolah memintaku mengerti tentang keadaan Duke.


"Aku---takut. Ketika dia---sangat menyeramkan" bisikku pelan, aku masih tidak bisa merangkai kata dengan benar untuk menjelaskan kejadian saat Duke berubah.


Aku memejamkan mata, mencoba menghapus ingatan itu. Bagaimana saat tiba-tiba tubuh Duke mengeluarkan suara mengerikan, seolah seluruh tulang di tubuhnya bergesekan dan patah. Tubuh itu kemudian membesar beberapa kali lipat.


Belum lagi bulu lebat dan cakar yang tiba-tiba tumbuh, dan dengan perlahan dia berubah menjadi sejenis hewan.


Aku pasti pingsan setelah melihat itu, karena tidak bisa mengingat apapun setelahnya. Apakah dia akan berubah menjadi seperti serigala seperti mereka yang menyerangku?


"Aku mengerti kau pasti sangat takut saat itu. Tapi aku mohon jangan membuat Duke menjadi jahat" Myra kembali berbicara dengan lembut sekarang.


Duke....ahhh, apakah dia berbohong kepadaku karena hal ini? Bahwa dia adalah monster? Tapi itu sama sekali tidak menjelaskan tentang bagaimana dia bisa tahu banyak soal keluarga Delmora.


Tapi Myra juga sangat tahu tentang diriku. Dan dia mengatakan keberadaanku di sini atas seijin Oscar. Apakah memang benar Duke mengetahui keadaanku dari Oscar?


Tapi dia menolak untuk menjelaskan, dia juga tidak membantah ketika aku menuduhnya berbohong.


Ini membingungkan!


"Apakah kau akan menjawab pertanyaanku jika aku sudah sehat?" tanyaku pada Myra.


"Tentu saja" jawab Myra dengan cepat meyakinkanku.


Aku tersenyum kecil mendengarnya. Dia baik dan ramah. Aku menyukainya.


"Apa kau lapar? Aku akan meminta untuk membawakan makan malam ke atas jika kau mau" tanyanya, sambil menatap keluar kamar.


Pemandangan di luar jendela yang tadi memerah, telah berubah menjadi gelap.


Aku mengangguk, perutku terasa sangat kosong. Myra beranjak dari tempatnya duduk kemudian berjalan menuju pintu.


Tunggu!!... apakah di akan meninggalkan aku sendiri? Bagaimana jika Duke tiba-tiba datang? Batinku dengan ngeri. Aku masih tidak bisa menghilangkan bayangan menyeramkan itu.


Tapi ternyata Myra hanya berdiri di pintu yang terbuka. Dia berbicara dengan seseorang di sana, lalu kembali. Aku langsung lega.


"Aku menyuruh mereka membawakan bubur yang hangat. Maaf, tapi hanya itu yang boleh kau makan. Perutmu masih sangat lemah" kata Myra, dengan penuh sesal.


Aku tersenyum, "Tidak masalah, Myra. Aku sudah terbiasa"


Aku sudah pernah mengalami mimpi buruk bertemu dengan makanan lunak selama hampir dua bulan. Aku tidak akan mengeluh lagi karena rasanya.


Sambil menunggu makanan, Myra menanyakan beberapa hal tentang kehidupanku. Dia tahu hampir semua. Tapi tidak mendetail. Myra terlihat sangat tertarik dengan hari-hari biasa yang bagiku terasa membosankan.


Bahkan sampai saat makanku datang, dia masih bertanya tentang bagaimana caraku mengurus divisi charity.


Aku terhanyut oleh sifat santainya.


Aku menceritakan hampir seluruh kisah hidupku dengan mudah padanya. Myra mempunyai daya tarik yang aneh. Aku sama sekali tak keberatan menjawab semua pertanyaannya. Dan dia mendengar semua jawabanku dengan mata berbinar antusias.


Myra mengambil nampan yang sekarang hanya berisi mangkuk kosong dan menaruhnya di sebelah ranjang.


"Apakah kau ingin istirahat sekarang? Kau pasti sudah lelah" katanya.


Untuk seseorang yang baru saja pingsan selama beberapa hari, ini mungkin terdengar aneh. Tapi aku benar-benar mengantuk dan lelah.


"Tidurlah!" Myra menyelipkan beberapa helai rambutku ke belakang telinga.


"Hmmmm...." Aku sedikit ragu untuk bertanya. Lebih tepatnya malu.


Aku tidak ingin Myra menganggapku penakut. Tapi, aku tidak ingin berada di kamar sendirian saat ini. Bagaimanapun juga ini adalah tempat asing.


"Ada apa? Katakanlah!" desak Myra, setelah menaruh nampan yang akan dibawanya keluar, kembali ke meja.


"Apakah...mmm kau akan meninggalkan aku sendirian di sini?" tanyaku, sedikit terbata sambil menunduk.


Wajahku pasti sudah memerah sekarang. Ini memalukan.


"Oh... you're so cute!!" Tiba-tiba Myra memekik sambil menghampiriku.


Dan dia kembali memelukku, sedikit lebih kencang dari pada tadi. Suara tawanya yang merdu kembali terdengar.


"Daughter is the best!! Tenang saja Lui. Aku akan menemanimu, jangan khawatir"


Dia memandangku masih dengan senyum. Aku sampai terengah karena pelukan kencangnya.


"Maaf, aku sudah lama menginginkan seorang anak perempuan yang manis sepertimu" katanya sambil menjawil pipiku dengan gemas.


"Kau tidak memiliki anak?" tanyaku spontan.


"Oh.. I have a son. Dia baik, sedikit canggung kadang, tapi dia baik. Tapi aku juga menginginkan seorang anak perempuan yang manis seperti kau"


Aku tersenyum kecil mendengar ucapannya. Myra mulai bercerita panjang lebar tentang hal-hal yang ingin dilakukannya jika mempunyai anak perempuan.


Aku ingin mendengarkan semuanya. Tapi sepuluh menit mendengar obrolan Myra membuat mataku berat. Suara Myra perlahan menjadi samar...


 


 


----------- *0o0*----------


 


 


Sentuhan lembut di bahu, membuatku berhenti memainkan tuts piano.


"Lagu yang indah, apakah kau yang membuatnya?" tanya Mom sambil duduk di sebelahku. Kursi ini cukup panjang untuk kami berdua.


Aku mengangguk.


"Dia sudah tidur?" tanyaku.


Mom menjawab dengan anggukan. "Dia sudah sedikit tenang. Dan dia lebih menggemaskan dari pada yang aku kira"


Mom tersenyum lebar saat mengucapkannya. Matanya juga melebar dengan maksimal.


"Dia polos, tapi tidak meninggalkan rasa ingin tahu. Itu kombinasi yang unik" tambahnya.


Aku gembira Mom menyambut Lui dengan senang hati, tapi pemujaannya sedikit membuatku bertanya-tanya sekarang.


"Mom, kau terlihat lebih gembira menyambutnya dari pada aku" ujarku, dengan nada setengah merajuk. Mom terkekeh geli mendengar itu.


"Aku sudah lama memimpikan mempunyai anak perempuan. Tapi keadaan tubuhku tidak mengijinkan. Dan sekarang kau membawakannya ke sini. Tentu saja aku gembira" jelasnya, masih dengan senyuman.


"Kau lebih berharap aku menjadi anak perempuan?" godaku.


Mom memberi tamparan pelan di pipiku karena godaan itu.


"Kau sempurna apa adanya" katanya, sambil mengelus kepalaku dengan lembut.


Aku tersenyum dan kembali memainkan grand piano di depanku.


"Apakah dia mau menemuiku?" tanyaku penuh harap.


Wajah Mom langsung berubah murung, kemudian menggeleng. "Maaf, tapi dia benar-benar takut padamu Duke. Mungkin beberapa hari lagi setelah Lui lebih tenang"


Aku memainkan tuts dengan tempo lebih cepat, karena jawaban itu membuatku sesak.


"Bersabarlah, aku sudah menjelaskan jika kau tidak akan menyakitinya. Dia mengerti, tapi dia masih merasa takut. Aku berharap ketakutan itu akan berkurang seiring waktu" Mom mengelus punggungku dengan simpati.


Ya.. aku juga berharap seperti itu. Dan sekali lagi aku hanya bisa menunggu.....


Pekerjaan yang paling aku benci, tapi aku akan melakukannya. Walaupun itu meremukkan hatiku, karena sekali lagi, aku hanya bisa memandang Bee dari kejauhan.


Tapi setidaknya aku tidak kehilangan wolf-ku lagi. Aku sangat berharap hal ini berarti perasaan Bee masih sama. Sama seperti sesaat sebelum dia melihatku bertransformasi.


Harapan yang sangat tipis, tapi aku akan menggenggamnya erat.


"She want to meet Oscar" Kata Mom.


PAAAAANGGGGGG!!!!


Aku menekan tuts piano dengan kasar, karena permintaan itu sangat tidak mudah untuk dikabulkan.


Manusia termasuk sebagai makhluk terlarang di pack.


Pada zaman dahulu jika ada manusia yang tersesat di pack, maka bisa dipastikan dia tidak akan pernah pulang.


Sekarang, setelah adanya perjanjian dengan Hunter, manusia yang tersesat akan digiring pergi dengan berbagai macam cara agar menjauh. Tetapi memasukkan manusia dalam pack tetap perbuatan yang terlarang.


Untuk Bee, tentu saja adalah pengecualian karena kami Mate. Aku masih bisa ingat bagaimana Uncle Rex menceramahiku, tentang bagaimana dia harus bersusah payah meminta ijin para Elder agar Bee bisa masuk.


Dan juga menyuruhku agar tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.


Para Elder tentu saja tidak setuju pada awalnya, bahkan setelah Uncle Rex menjelaskan bahwa dia adalah Mate-ku, beberapa Elder masih menentang.


Tapi sekali lagi Mate adalah segalanya bagi pack ini. Mereka benar-benar tidak bisa melupakan bagaimana kehebatan ayah saat menjadi Alpha.


Uncle Rex sekali lagi benar, mereka akan melakukan apapun, jika itu berarti pack ini akan memperoleh Alpha yang sama hebatnya seperti ayah.


Dengan sedikit ancaman, bahwa aku tidak akan berfungsi dengan baik tanpa Bee -- dan juga bahwa aku adalah werewolf super sedikit membantu--  mereka akhirnya luluh dan mengijinkannya berada di sini.


Tapi membawa manusia lain ke sini? Itu berarti aku akan menerima lebih banyak ceramah dan omelan, dan setelah semua yang akan aku lalui, belum tentu Oscar akan bisa masuk ke dalam pack.


Semua itu akan lebih mudah jika aku memakai Alpha tone tentu saja. Di saat seperti ini aku benar-benar ingin memakainya tanpa perlu banyak berpikir.


"Kau akan membawa kakaknya ke sini?" tanya Mom, sambil menekan beberapa nada tuts dengan random.


"Tentu saja" Aku menghembuskan nafas panjang, membayangkan kesulitan yang akan aku hadapi.


"Aku akan meminta secara langsung kepada kakek buyut" tambahku. Akan lebih menyebalkan, tapi jalan itu lebih tidak merepotkan. Dengan dukungannya, Elder lain akan lebih mudah diyakinkan.


Elder Victor tidak terlalu menyukaiku, walaupun aku adalah cucu buyutnya. Dengan semua hal yang aku ketahui sekarang, aku menebak, jika hal yang membuatnya tidak menyukaiku adalah karena Mom


"Kau membencinya" sahut Mom dengan cepat.


"Dia selalu menghinaku dengan kata-kata kejam. Akan sangat mencengangkan jika aku menyukainya!"


Setiap kali aku dan ayah mengunjunginya, dia tidak pernah lelah melontarkan kata-kata kejam padaku, baik secara langsung ataupun sindiran.


"Dia tidak pernah menganggapku ada sampai saat ini" Mom menyahut dengan getir.


"Tapi aku bisa mengerti, Zhena Juno adalah cucu buyutnya yang lain selain ayahmu. Aku yakin dia sangat membenciku. Aku mempermalukan salah satu cucunya dengan datang kemari. Aku menerima sikapnya padaku".


Fakta bahwa ayah dan Ibuku --Zhena Juno-- adalah saudara bukan kejutan bagiku.


Aku bisa menyisir silsilah untuk melihat bahwa aku dan Roan juga berhubungan darah. Lingkungan pack ini sudah lama terisolir dan tentu saja setelah sekian lama, hampir seluruh ini pack ini mempunyai hubungan darah pada satu titik.


"Kita harus lebih membuka diri pada pack lain. Jika tidak, beberapa tahun lagi, seluruh pack ini akan mempunyai wajah yang mirip" Aku serius membahas hal ini.


"Kita memang tidak punya banyak pendatang baru akhir-akhir ini. Tapi kau sudah melakukannya. Kau membawa boneka berambut pirang dan bermata biru. Ini akan menjadi penyegaran bagi pemandangan pack" Mom mengatakannya dengan mata penuh pemujaan.


"She's not a doll Mom" sahutku dengan gusar. Pemujaan Mom pada Bee, sudah dalam taraf tidak sehat sekarang.


"I know..I Know.." Mom menanggapi protesku dengan ringan. "Aku akan memeriksanya, kemudian tidur, Ok?"


Dengan cepat, Mom bangkit kemudian meninggalkan ruangan itu. Aku tersenyum kecil melihatnya begitu bersemangat. Setidaknya Bee bisa mengalihkan kesedihan Mom.


Sekarang, aku harus memikirkan cara untuk berbicara dengan orang tua getir yang membenciku keberadaanku. Ini akan sangat menarik...........


Dan setelah itu aku harus menghindar dari apapun yang mungkin dilakukan oleh Oscar, jika kami bertemu nanti.


Aku tidak sabar menapaki masa depanku yang saat ini terlihat suram.