
Aku memuji kepintaranku sendiri dalam hati. Karena dengan mulus berhasil merubah pertemuan tidak sengaja tadi, menjadi sesuatu yang menguntungkan.
Ide makan siang burger ini benar-benar kreatif.
Tadi aktor br*ngs*k itu berusaha mengganggu rencanaku. Aku harus bersusah payah menahan keinginanku untuk mematahkan tangannya.
Jika aku masih bisa bertransformasi, mungkin saja salah satu tanganku sudah menumbuhkan cakar, saat mendengar dia bermaksud bergabung dengan kami.
Tapi aku lega karena satu hal. Menurut penilaianku atas sikap Bee kepadanya, aku menduga mereka tidak memiliki hubungan apapun.
Bee terlihat berjarak saat berbicara dengannya tadi. Dia tetap bersikap ramah dan tersenyum, tapi aku sudah mengenal Bee dengan sangat baik. Bee tidak terlalu nyaman dengan kehadirannya di sana, entah karena alasan apa.
Aku senang Oscar melarangnya ikut, tentu saja itu bukan karena ingin menolongku, tetapi terpaksa dilakukannya. Karena dia memberiku lirikan mematikan ketika aku keluar mengikuti Bee. Yang mana tentu saja tak aku acuhkan.
Oscar tidak bisa bertindak gegabah dengan melarangku pergi dengan Bee, karena itu akan sangat mencurigakan dan akan menimbulkan pertanyaan dari Bee. Saat ini Oscar tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti jalan cerita yang aku bentuk.
Tapi sekarang aku berada dalam situasi yang sangat menyebalkan!
Seumur hidupku aku tidak suka berbohong. Tapi sekarang aku berada dalam situasi yang mengharuskan untuk berbohong. Dan sudah pasti aku membencinya.
Selama kami berjalan menuju lift, aku ingin sekali berbasa-basi menanyakan hal-hal kecil tentangnya. Tapi kemudian sadar, aku sudah mengetahui semua hal tentang Bee!
Aku tidak bisa berpura-pura tidak tahu, karena itu berarti aku membohonginya.
Jadi sekarang kami berada dalam situasi yang canggung, perjalanan lift menuju lantai dasar ternyata sangat lama, kami berada di lantai teratas tadi. Aku nyaris menggaruk kepala karena kesal.
Tapi bayanganku yang terpantul dari dinding lift membuatku berhenti. Bee memang berdiri di depanku sambil melihat ke layar ponselnya, bukan berarti bisa bertindak sembarangan.
"I'm really sorry! Saya yang meminta anda untuk makan siang ini, tapi saya malah tidak mengacuhkan anda sedari tadi" Akhirnya aku berhasil menyusun kalimat yang menurutku lumayan.
"Oh.. tak apa. Sepertinya anda sedang memikirkan sesuatu yang pelik, anda terlihat gelisah sekali" kata Bee, sambil menunjuk bayanganku di dinding lift.
Oh..Syukurlah, untung aku tidak menggaruk kepala tadi.
"Ya..ada sesuatu yang terjadi beberapa waktu yang lalu, permasalahan yang cukup rumit. Dan sekarang saya sedang berusaha menyelesaikannya" ucapku dengan hati-hati. Setidaknya aku tidak berbohong.
Bee mengangguk dengan maklum mendengarnya. "Apapun itu, saya harap anda dapat menyelesaikannya dengan baik" ujarnya dengan baik hati.
Oh Bee-----selesai atau tidaknya masalahku tergantung dari hatimu, batinku dengan ironis.
"Tapi kurasa anda juga sedang sibuk, sedari tadi anda mengetikkan pesan tanpa henti" Aku gantian menunjuk ke arah ponsel di tangannya.
Lidahku sedikit kelu dengan segala sopan santun ini.
"Oh, saya hanya memberitahu Jovi untuk bertemu dengan kita di gerai. Dia terus bertanya kenapa saya belum kembali ke kantor" jelasnya, masih dengan sopan.
Aku harus mencari cara agar bisa menghentikan sikap sopan berlebihan ini. Tidak ada yang salah, karena menurut Bee, kami baru saja bertemu. Tapi tidak untukku. Otakku macet, begitu memikirkan kalimat sopan apa yang aku harus ucapkan setelah ini.
"Mr. Theobald. Sebelum di London, anda tinggal dimana?" tanyanya.
Cukup!!
"Well... Miss Delmora, boleh saya memanggilmu Lui? Dan saya mohon panggil saja saya Duke. Jarak umur kita tak terlalu jauh, jadi saya harap kita tidak perlu bersopan santun berlebihan." pintaku, dengan susah payah menyusun kata.
"Oh.. syukurlah. Say..maksudku..Aku juga tidak terlalu suka sikap resmi seperti tadi. Aku sibuk sekali berpikir ucapan apa yang aku harus katakan agar tidak terdengar kasar" ujarnya sambil menghembuskan nafas lega.
Aku tahu Bee memang tidak pernah suka bersikap resmi jika tidak terpaksa. Jadi dari tadi Bee juga diam karena sibuk berpikir hal yang hampir sama denganku. Ini lucu sekali.
Tanpa sadar aku tertawa terkekeh mendengar ucapannya. Langsung saja wajah Bee memerah mendengar tawaku.
"An..maksudku, kau tidak perlu tertawa sekeras itu, aku memang tak terlalu suka bersopan santun" ucapnya, sambil memalingkan wajahnya yang masih memerah.
Apakah aku membuatnya marah?
"Maaf. Aku tidak bermaksud menertawaimu. Hanya saja sedari tadi aku memikirkan hal yang kurang lebih sama denganmu. Ini tentu saja lucu, karena hal itu malah membuat kita sama sekali tidak saling bicara" jelasku, sambil tersenyum meminta maaf.
Bee memandangku sejenak sebelum akhirnya juga terkekeh geli. "Ini konyol sekali!" serunya di antara suara tawa.
Tawa itu menular, aku melepas tawa bahagiaku untuk yang pertama kalinya selama 6 bulan ini. Senyum dan suara tawa Bee membuat semua sakit dan sesal yang aku alami selama ini seolah bagaikan mimpi.
Aku akan membuatmu menjadi milikku lagi Bee... Aku berjanji!
----------- *0o0*----------
Suara tawanya tidak seperti yang aku kira. Sedikit serak karena suaranya yang berat, tapi juga lembut. Aku tentu saja menyukainya juga.
Sadar Lui!!
Kembali otakku yang sangat masuk akal, memperingatkan. Aku terlalu terhanyut dalam menikmati pesonanya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku" Aku mengingatkannya, soal pertanyaanku tadi.
"Sebelum di London kau tinggal di mana?" ulangku, karena Duke mengerutkan dahinya. Sepertinya dia sudah lupa, hal apa yang aku tanyakan.
"Ohh..itu. Aku tinggal di banyak tempat. Tapi baru-baru ini aku tinggal di Canada" jawabnya, sesaat matanya kehilangan fokus, karena berpikir.
"Oh... aku suka Canada! My Mom said the view is amazing. Tapi sayang sekali aku belum pernah kesana. Beberapa tahun ini, aku jarang bepergian" Ucapku tanpa sadar.
Kenapa aku harus membawa Mom pada percakapan ini? Kau bodoh sekali Lui!! kutukku dalam hati.
Tapi aku memang belum pernah ke Canada. Aku sebagai Balerina, aktif pergi ke banyak tempat, tapi kebanyakan di Eropa. Dan kini setelah berhenti, aku hanya bepergian karena survey proposal.
Pintu lift membuka dan menampakkan pemandangan lobby lantai dasar yang sedikit lengang, karena jam makan siang sudah terlewat setengah jam.
"Ya.. Canada sangat indah. Bagi orang yang sangat menyukai alam seperti Ibumu, sudah pasti akan sangat menyukai suasana di sana" ujar Duke, sambil berjalan pelan di sebelahku.
Wait a minute!!!
"Bagaimana kau tahu kalau Ibuku sangat suka alam?" tanyaku dengan heran. Sesaat dia berhenti berjalan dan menatapku.
"Tentu saja aku tahu. Aku teman Oscar, aku tahu beberapa hal tentang keluarga kalian" Duke menjawab sambil memalingkan muka.
Ow.. ini luar biasa. Oscar menceritakan hal itu padanya? Dia pasti benar-benar dekat dengan Oscar. Oscar sangat jarang berbagi hal apapun tentang keluarga kami. Tapi kenapa selama ini aku tidak mengenalnya?
"Sudah berapa lama kau mengenal Oscar?" tanyaku, tertarik.
"Hmmm sekitar 3 tahun!" Duke mengusap rahangnya, dia kembali berpikir.
Baru 3 tahun yang lalu dan Oscar sudah sangat percaya padanya? Aku semakin penasaran dengan kisah mereka. Aku harus membuatnya bercerita banyak tentang pertemanan mereka. Oscar tidak pernah mau bercerita apapun padaku soal kehidupan sosialnya, akan sangat menarik mendengarnya dari Duke.
Di kejauhan aku melihat Jovi yang tengah memandangku dengan wajah sangat heran. Semakin kami mendekat ke tempatnya berdiri, matanya semakin melebar memandang Duke. Aku rasa dia akan benar-benar bersalto jika kami sudah berada di depannya.
----------- *0o0*----------
Aku bisa merasakan keringat yang mengalir deras di punggungku, padahal sekarang sudah hampir musim dingin.
Mulutku kehilangan kontrol saat menyebut tentang Canada. Tentu saja aku tahu, Belva --Bee's Mom-- sangat menyukai alam. Dia sendiri yang mengatakannya padaku.
Kau harus bisa menjaga mulutmu Duke!! Pernyataan bodoh tadi, nyaris membongkar semua kebohongan yang tersusun rapi.
Ini sulit sekali!!
Aku harus berhati-hati memilah hal yang akan aku katakan. Jika tidak, Bee akan sangat curiga. Bee memang tidak seperti Oscar yang bisa mengetahui dengan pasti jika seseorang berbohong padanya, tapi Bee paling benci dengan kebohongan.
Bee sulit sekali memaafkan seseorang yang sengaja berbohong kepadanya. Ini juga yang membuatku harus memikirkan rencanaku dengan benar-benar matang.
"Apakah itu temanmu? Dari tadi dia memandang ke arah kita?" tanyaku, berusaha mengalihkan perhatiannya.
"Ya..itu Jovi. Dia sekretaris di divisiku!"
Sambil sedikit berlari, Jovi berlari ke arah kami datang. Aku mengenalinya, dia yang selalu bersama Bee saat makan siang.
"Perkenalkan ini Jovi,.. dan Jovi ini adalah Duke Theobald" Bee memperkenalkan kami dengan bersemangat.
Jovi menatapku lama. Dari pandangan matanya, aku sudah bisa menebak apa yang akan dia katakan setelah ini. Tapi separuh wajahku aman tertutup kacamata hitam.
"Apa kita pernah bertemu Mr. Theobald? Wajah anda terasa akrab sekali" tanyanya kemudian, sesuai dengan perkiraan.
"Maaf, tapi aku baru saja pindah ke London selama kurang lebih sebulan ini. Aku rasa kita belum pernah bertemu. Dan tolong panggil saja Duke" ujarku dengan tenang.
Aku sudah menyiapkan berbagai macam jawaban untuk pertanyaan seperti ini.
"Sebelumnya Duke tinggal di Canada, sangat kecil kemungkinan kau pernah bertemu dengannya Jov" Bee menimpali sambil memegang tangan Jovi, kemudian menariknya ke dalam untuk memesan makanan.
Mereka berbisik ribut di depan counter pemesanan. Pembicaraan mereka seharusnya rahasia, tapi dengan sedikit membuka kemampuan telinga, aku bisa dengan jelas mendengar isi pembicaraan mereka, yang ternyata tidak penting.
Sebagian besar ini percakapan mereka adalah desisan histeris dari Jovi, karena tidak percaya, Bee bisa berkenalan dengan pria setampan aku.
Bee memberiku beberapa pilihan menu favoritnya, sambil menerangkan kandungannya dengan sejelas mungkin. Dia juga memaksa untuk membayar makan siang ini, karena dia tidak ingin aku merasa rugi jika nanti ternyata aku tidak menyukai rasa burgernya.
Sejujurnya, aku tidak terlalu peduli dengan itu. Aku tidak keberatan dengan menu apapun yang mengandung daging. Tapi aku membiarkan Bee menjelaskan semuanya padaku. Aku bisa mendengarkan Bee berbicara tentang apapun, bahkan jika itu tentang sesuatu yang sangat membosankan.
Kami bertiga duduk bersama di dekat jendela sambil menikmati makanan kami.
Dan aku setuju dengan Bee, burger ini lebih enak dari pada yang biasa aku makan di beberapa gerai terkenal. "Kau tidak suka kopi atau minuman lain?" tanya Jovi, sambil menatap botol air mineral yang aku pilih sebagai minuman.
"Sebenarnya aku suka kopi dan cokelat, tapi mereka tidak punya kopi dan cokelat asli. Hanya perisa minuman". Karena hidungku yang sangat tajam, aku tidak bisa minum sesuatu yang berbau kimiawi.
Aku sangat menikmati kopi dan cokelat, tapi jika benar-benar berasal dari seduhan yang asli bukan sekedar perisa.
"Oh, kita sama. Aku juga suka cokelat dan kopi" kata Bee, sambil menatapku dengan mata berbinar.
Aku tahu itu, Bee.
Adalah kau yang membuatku tergila-gila pada kopi dan cokelat. Aroma yang selalu hadir saat kita bersama. Tentu saja setelahnya, aku tergila-gila pada dua aroma itu.
"Ohhhhh.. seleramu mahal sekali" goda Jovi. Dia akan cocok sekali jika bertemu dengan Roan.
"Bukan seperti itu, hanya saja hidungku sangat sensitif. Aku tidak bisa meminum sesuatu yang berbau bahan kimia. Untuk amannya aku selalu memilih air putih" jelasku, dengan sedikit enggan.
Aku bisa mencium bahan kimia yang terkandung dalam minuman perisa dan itu membuat perutku mual.
Musuh terbesarku adalah alkohol, jenis apapun itu. Hidungku terasa terbakar ketika pertama kali menciumnya. Aku tak bisa mencium apapun selama 3 jam berikutnya. Aku tidak pernah berdekatan dengan minuman keras lagi setelah itu.
Bee menganggukkan kepala penuh pengertian mendengar penjelasanku.
Kemudian Bee dan Jovi mulai menanyakan pertanyaan standar tentang kehidupanku. Seperti apa pekerjaanku, tinggal di daerah mana dan lain-lain. Aku sungguh berharap tidak harus berpikir keras setiap ingin menjawab, tapi mustahil. Aku harus bekerja keras, agar jawabanku tidak membuat Bee curiga.
Ini menyebalkan!! Aku hanya ingin menikmati percakapan tanpa perasaan cemas.
Kau sudah tahu ini akan sulit Duke!!
Bau logam dan pohon ek yang aku kenal menghampiri hidungku, ini aroma Roan.
Aku menoleh keluar dan melihatnya berjalan mendekati gerai tempat kami makan. Dia memberi isyarat agar aku keluar, ketika tatapan mata kami bertemu.
What the h*ll!! Mau apa dia kesini?
Aku berpamitan pada Bee dan Jovi, yang sedang menyelesaikan minumannya. Mereka hanya mengangguk bingung.
"Aku akan membunuhmu jika ini tidak penting!" ancamku, setelah tiba di hadapan Roan.
"Heyy don't kill the messenger" Roan mengangkat kedua tangannya.
"Ayahku ingin kau segera pulang. El sudah pulang bersama Id. Aku sebenarnya juga tidak ingin menjemputmu, tapi kau tidak menjawab ponselmu dari tadi" Roan menyampaikan berita, dengan seruan jengkel.
Aku meraba kantong jas yang ternyata kosong.
"F*ck.. aku meninggalkannya di Delmor" umpatku, kesal. Aku tidak membawanya saat naik ke kantor Oscar.
"Tak bisakah ayahmu menunggu?' tanyaku. Aku tidak ingin mengakhiri pertemuanku dengan Bee secepat ini.
Roan memandang ke arah meja tempat kami duduk. "Aku rasa pertemuanmu dengan kakaknya berjalan lancar". Dia menunjuk ke arah meja tempat Bee duduk dengan wajahnya.
"Aku juga tidak ingin mengganggumu Duke, tapi katanya ini sangat penting. Sesuatu tentang vampire itu" tambahnya, masih memandang ke meja itu.
"Berhenti menatapnya!! Kau akan membuat mereka curiga!" hardikku.
Roan hanya mengangkat bahu mendengar bentakanku, tapi dia megalihkan matanya ke jalan raya.
Sekali lagi aku mengumpat dalam hati. Aku tidak mendengar berita apapun tentang vampire pirang itu, selama hampir 6 bulan ini. Tapi sekarang, saat aku baru saja mendapat sedikit kemajuan soal Bee, vampire itu kembali muncul.
Pemilihan waktu yang sangat buruk!
"Aku akan ikut kau pulang, tapi aku harus berpamitan kepada mereka. Tunggu sebentar!" Aku meninggalkan Roan dan masuk ke dalam gerai lagi.
"Apakah ada masalah?" Jovi yang bertanya, dia menatap Roan yang sekarang berdiri membelakangi kami sambil memandang lalu lintas.
"Ah.. tidak! Hanya saja tiba-tiba ada hal yang aku harus aku selesaikan. Maafkan aku, karena harus pergi sekarang" Penyesalanku sangat tulus.
"Tidak apa! Sebaiknya kau segera bergegas, dia terlihat marah sekali!" Jovi menunjuk Roan yang sekarang berbalik memandangku dengan mata menyipit.
Aku mendelikkan mata, sebagai isyarat agar dia berbalik lagi, tapi kali ini Roan membangkang.
"Aku pergi dulu Lui, Jovi. Aku sangat menikmati makan siang ini. Terima kasih sekali lagi atas menu yang sangat lezat ini"
"Oh.. aku tidak keberatan menemanimu makan siang kapanpun itu" Jovi menatapku sambil mengerlingkan mata nakalnya.
Aku tertawa mendengar itu, itu adalah godaan yang sudah biasa aku dengar. Bee mendelik tajam kepada Jovi sambil berbisik untuk bersikap lebih sopan padaku.
Tapi Jovi hanya memutar matanya sambil tersenyum.
"Aku akan menghubungimu lagi. Lain kali, aku yang akan mentraktir sebagai balasan makan siang yang luar biasa ini" kataku kepada Bee, yang terlihat sedikit terkejut, tapi kemudian dia mengangguk.
Aku tersenyum senang, melihat anggukan kecil itu. Kami masih bisa bertemu lagi.
Aku melambai dan segera menghampiri Roan yang sekarang sudah berjalan mendahuluiku.
"Kau terlihat jauh lebih baik, daripada yang aku lihat selama 6 bulan ini" Roan memandangku yang sedang memasang sabuk pengaman.
"Karena memang itu juga yang sedang aku rasakan" balasku dengan tenang.
Aku memacu mobil itu tanpa banyak bicara. Aku masih ingin mengulang kenangan setiap detail percakapanku dengan Bee tadi.
----------- *0o0*----------
Wanita itu cantik dan sangat menarik perhatian. Aku bisa melihat banyak pejalan kaki, yang dengan terang-terangan menoleh memandangnya.
Rambutnya hitam dan lurus bak model shampo, belum lagi mata dan hidungnya yang juga sempurna. Aku tidak akan heran, jika suatu saat melihatnya bermain film dengan Zeno. Dia cocok sekali menjadi aktris.
Dia terlihat sedikit marah pada Duke. Mereka berbicara dengan kepala yang nyaris menempel.
Siapa dia? Apakah itu kekasihnya?
Aku membuang pikiran itu jauh-jauh, karena tiba-tiba perasaanku menjadi sangat tidak nyaman.
"Siapa dia? Mereka terlihat akrab sekali" Jovi juga memandang mereka dengan mata penasaran.
"Adik atau saudara mungkin?" tebakku.
Jovi menatapku sambil mengernyit. "Biasanya orang lain akan berasumsi jika mereka adalah kekasih, tapi tentu saja kau bukan orang kebanyakan"
Aku hanya tertawa mendengar itu, mencoba untuk menutupi kecewa, yang seolah tidak ingin pergi dari hatiku.
Bahkan Jovi juga menebak hal yang sama denganku. Tapi mereka memang cocok sekali berdiri berdampingan seperti sekarang. Tinggi mereka yang hampir sama, belum lagi mereka sama-sama luar biasa indah.
Patung mereka berdua akan cocok dipajang di museum lilin Madam Tussaud dengan label 'Gorgeous creature'.
Duke berjalan kembali ke arah kami.
Dari wajahnya yang sedikit kalut, aku bisa menebak, acara makan siang ini akan segera berakhir.
"Apakah ada masalah?" Jovi bertanya dengan kecepatan peluru begitu jaraknya sudah cukup dekat dengan meja kami.
"Ah.. tidak, hanya saja tiba-tiba ada hal yang aku harus aku selesaikan. Maafkan aku, karena harus pergi sekarang" jawab Duke, dengan mata yang sendu dan penuh sesal.
Aku menahan tanganku, yang tiba-tiba ingin mengelus punggungnya dan mengucapkan kata penghiburan.
Lui!! ini keterlaluan!!
Batinku meneriakkan ketidak setujuan atas pikiran lancang tadi. Duke kembali mengatakan sesuatu, tapi aku tidak terlalu mendengar, karena sibuk menenangkan otakku yang mulai gila.
"Oh.. aku tidak keberatan menemanimu makan siang kapanpun itu" Aku malah mendengar ucapan Jovi dengan jelas, belum lagi matanya mengedip jahil ke arah Duke.
Aku memandangnya dengan tidak percaya, apa yang dilakukannya?
"Jovi... bersikaplah sopan, dia teman Oscar" bisikku dari sudut bibir, memperingatkan. Tapi Duke hanya tertawa kecil mendengar ucapan Jovi.
"Aku akan menghubungimu lagi. Lain kali, aku yang akan mentraktir sebagai balasan makan siang yang luar biasa ini" katanya, seraya mengalihkan pandangannya padaku.
Aku agak terkejut mendengarnya, karena tidak menyangka dia akan mengajakku untuk makan bersama lagi. Aku mengangguk, sepelan mungkin, agar tidak terlihat terlalu berharap.
Dan senyum lebar merekah dengan indah di wajahnya. Aku bisa merasakan sebagian besar sel di tubuhku, menari gembira melihat pemandangan itu.
Dia kemudian berjalan keluar sambil melambai ke arah kami. Duke menghampiri wanita tadi, dan mereka berjalan beriringan menembus lautan manusia yang memadati trotoar.
"Lui.., Lui..!!" Jovi menjentikkan jarinya di depan wajahku. jentikan itu berhasil membawaku kembali ke alam nyata.
"Ada apa?" tanyaku, sambil menyedot minuman rasa kopi milikku yang hampir habis.
"Kau akan membuat kaca ini berlubang, jika terus memandanginya seperti itu" Jovi tersenyum lebar sekarang, sambil menunjuk jendela kaca gerai burger di sebelah kami duduk.
"Aku tidak memandanginya" ujarku, sambil memberengut.
Aku tahu kemana arah pembicaraannya.
"Tidak apa jika kau memang terpesona. Semua wanita normal akan terhanyut dengan pesonanya" katanya, dengan nada jahil.
"Ya dan itu termasuk kau!" ujarku.
"Tentu saja!" Jovi menyetujuinya dengan cepat.
"Aku kira kau bercanda, ketika kau bilang kita akan makan siang dengan seseorang yang sangat tampan, tapi ternyata seleramu tidak buruk jika menyangkut soal pria" Jovi sekarang terkikik senang.
Aku hanya memutar bola mataku mendengarnya. Jovi memang penggemar pria tampan paling bersemangat yang pernah aku temui.
Tapi itu tentu saja karena dialah teman wanita pertama, yang mengajakku mengobrol tentang hal ini. My first girl talk..or woman talk adalah dengan Jovi.
Kami berjalan sedikit cepat, karena jam makan siang hanya tersisa 10 menit.
Apa aku memang terpesona dengannya? Karena terus terang saja, apa yang aku rasakan setiap kali aku bertemu Duke, sangat berbeda dengan apa yang aku rasakan kepada Zeno.
Debaran yang aku rasakan saat bersama Zeno, terasa asing. Perasaanku ketika bersama Duke, bagaikan rasa manis di lidah saat minum teh. Hangat dan akrab.
"Tapi Duke sedikit aneh!" kata Jovi sambil menarikku agar tak tenggelam dalam kerumunan, ukuranku yang agak mungil, membuat aku sering terbawa arus manusia.
"Apa maksudmu?"
"Dia selalu berpikir sedikit lama ketika menjawab sesuatu. Kau tahu----seperti dia harus mengatur jawaban dulu sebelum berbicara" jawab Jovi.
"Maksudmu dia bisa saja berbohong?" tanyaku lagi.
"Kurasa tidak, dia tidak berbohong. Tapi seolah dia tidak bisa menjawab dengan bebas, ada hal yang disembunyikannya" jelas Jovi.
Aku hanya mengangguk tanpa arti. Karena aku adalah penilai karakter yang buruk, aku akan percaya saja dengan Jovi.
"Oh..oh apakah dia seseorang dengan catatan kriminal? Kau tahu seperti gangster atau anggota mafia, cukup masuk akal kalau dia harus menyembunyikan sesuatu bukakan?"
Pendapat Jovi yang ini sangat absurd menurutku, apalagi dia teman Oscar. Dia tidak akan berteman dengan seorang kriminal.
"Oscar tidak akan membiarkan aku pergi makan siang dengannya, jika memang dia adalah seorang kriminal. Kau tahu itu!" ujarku, menyanggah pendapatnya.
"Ya, kau benar. Kakakmu yang paranoid itu sudah pasti akan melakukan segala cara untuk mencegahnya" Jovi tersenyum masam.
Kami berdua berpendapat sama soal ini. Oscar memang terlalu paranoid.
"O ..iya. Jangan lupa pastikan baterai ponselmu selalu terisi. Kau tidak mau melewatkan telepon dari Duke bukan?" godanya lagi dengan senyum lebar.
"Jovi!! Aku belum memberinya nomor ponselku!" seruku, entah kenapa aku sekarang panik sekali.
Berarti Duke tidak akan bisa menelponku. "Apakah aku harus bertanya pada Oscar nomor ponsel Duke? Dengan begitu aku bisa memberitahukan nomor ponselku padanya"
Jovi yang berjalan masuk ke dalam lift sekarang tertawa terbahak-bahak. Dua orang yang sudah berada di dalam lift sampai menoleh ke arah kami dengan heran.
Aku menyikut rusuknya agar dia diam. Dia membekap mulutnya untuk menghentikan tawanya.
"Kau benar-benar menyukainya Lui. Aku tidak pernah melihatmu begitu bersemangat untuk memberitahukan nomor ponselmu pada orang lain" Jovi berbisik padaku setelah tawanya sedikit reda.
"Apa?!!... tidak. Maksudku, aku hanya tidak ingin dia merasa kesulitan saat ingin menghubungiku lagi" elakku. Aku bisa merasakan panas menjalar di wajahku.
"Sejak kapan kau peduli apakah seseorang akan menelponmu atau tidak?" serangnya lagi. Itu benar, nomor kontak yang ada di ponselku jumlahnya tidak bertambang dengan drastis setelah bekerja. Terakhir hanya nomor Zeno, yang aku simpan.
"Jovi.. stop it. Ok? Aku hanya menikmati obrolan kami, itu saja, tidak lebih" ujarku tegas, mencoba untuk mengingkari perkataan Jovi.
Jovi menggeleng dengan wajah terpilin mendengar ucapanku. Dia pasti kembali bingung dengan sikapku.
Aku hanya tidak ingin merasakan kepedihan seperti dengan Zeno kemarin. Salah paham fatal yang mengakibatkan kesakitan. Aku harus lebih berhati-hati.
Kebingungan dengan perasaanku sendiri, rasa bersalah yang selalu mendera, belum lagi sesal yang mendalam saat aku melukai Zeno dengan penolakan itu. Aku tidak ingin melakukan kebodohan seperti itu lagi.
Aku memang merasa sangat lega dan ringan setelah semua itu aku lepaskan, tapi aku juga tahu, jika rasa kesepian dan kosong yang dulu aku rasakan sebelum bertemu Zeno, kembali menderaku.
Tapi aku lebih menyukainya, dari pada meneruskan hubungan dengan Zeno, karena aku tahu pasti itu adalah salah. Entah salah karena apa.
Pikiran dan perasaanku mungkin juga bisa di pajang di museum dengan label 'The Most Twisted Mind in The World'.