
Gadis itu menghapus air matanya. Dengan mata penuh tekad dia berdiri dan mulai melangkahkan kakinya.
Kemudian dia berlari, terus berlari. Tapi lorong itu seolah tak berujung. Dan pintu baru terus muncul ke arah manapun dia berlari.
Menyerah, gadis itu menghempaskan tubuhnya, kemudian bersandar pada salah satu pintu dan menatap kosong ke depan, menyerah.
^^^^^^^^^^^^^
"Benarkah? " Mata Jovi melebar, "Aku tak terlalu terkejut mendengarnya, dia menanyakan banyak hal tentangmu saat kami berdansa" tambahnya dengan mata menerawang mengingat-ingat kejadian saat pesta.
"Kau tak marah?" tanyaku pada Jovi, yang mulai mengeluarkan beberapa baju-baju dari lemari.
"Kenapa aku harus marah?" dia menatapku tak mengerti.
"Well..you know---" Aku ragu, tapi aku harus mengatakannya, "Bukankah kau menyukai Zeno?" ucapku, akhirnya.
Aku tadi menceritakan padanya, bahwa Zeno mengajakku kencan besok, seharusnya minggu lalu, tapi Oscar melarangku pergi kemanapun setelah insiden champagne itu.
Zeno akhirnya memundurkan jadwalnya minggu ini.
"HA................Ha.....Ha!!!!"
Raut mengertinya segera digantikan oleh tawanya yang luar biasa keras. Jovi sampai meletakkan baju yang dipegangnya tadi, agar acara tertawanya tidak terganggu.
"Kau...benar-benar.." Katanya tersendat-sendat masih dalam tawa.
Melihatnya seperti itu, sudah jelas ada yang salah lagi dengan jalan pikiranku. Aku memutuskan untuk menunggu tawanya reda, karena pasti akan ada penjelasan panjang lebar setelah ini.
Aku merebahkan tubuhku di tempat tidurnya. "Ya.. puaskan tawamu, hati-hati mulutmu bisa robek" sungutku dengan sedikit kesal.
" I'm so.. sorry" ucapnya, masih dengan terkekeh geli.
Setelah menghapus air mata geli dari sudut matanya, dia berjalan mendekat dan merebahkan diri di sebelahku.
"Lui, dia aktor. Aktor yang sangat tampan malah. Tentu saja aku menyukainya, dia dan mungkin 15 aktor lain yang juga tampan" Jelasnya.
"Tapi apa aku ingin menjadi kekasihnya?, tentu saja tidak. He's not even my type" ucapnya lagi. Aku berbalik menatapnya.
"Jadi??" tanyaku.
"Kau bebas pergi bersama siapapun yang kau mau Lui, kau menginginkannya juga kan?" tanyanya dengan lebih serius sekarang. Mungkin dia melihat keraguan di mataku.
"Entahlah.." jawabku. "Aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang aku inginkan, sebagian diriku menginginkannya, tapi sebagian lagi mengatakan bahwa ini salah"
"Salah?" tanya Jovi, dengan nada heran.
"Ya, aku merasa sangat bersalah, dan jangan tanya karena apa , aku juga sama sekali tidak tahu kenapa " jawabku muram.
Tatapan kebingungan yang bisa aku mengerti, hadir di raut muka Jovi.
"Aku pertama mengira karena kau yang juga menyukai Zeno, setelah mendengar tertawamu tadi, seharusnya aku lega. Tapi tidak!!, sampai sekarang aku masih merasa ini tidak benar"
Akhirnya aku menumpahkan semua yang kurasakan padanya, mungkin akan membuat hatiku terasa sedikit lebih ringan setelah ini.
Dari kemarin aku memikirkan apa yang kira-kira menjadi sumber rasa tidak tenang dan gelisahku.
Pada akhir hari, aku menyimpulkan sumbernya berasal dari fakta jika Jovi menyukai Zeno. Aku sebenarnya sempat ragu dengan hasil pemikiran ini, tapi hanya itu yang bisa aku pikirkan sebagai penyebab rasa bersalah yang menggantung di hatiku..
"Kau tahu..mungkin kau hanya bingung karena.. well you know, your brain and your mind not in a good condition" katanya dengan raut muka meminta maaf.
"Hhhhhhhh.... maybe you're right"
Aku menghembuskan nafas kencang, mencoba untuk mengusir gelisah yang kembali hadir.
Aku benci perasaan ini!!
Karena jika rasa bersalah ini bukan berasal dari Jovi, berarti rasa bersalah yang tidak masuk akal ini berasal dari ingatan berkabutku. Aku ingin sekali melupakannya sehingga gelisah ini tidak selalu mengurungku.
Selama beberapa bulan ini, aku berusaha dengan sungguh-sungguh untuk tidak memikirkannya lagi.
Tapi----selalu ada suara hati yang seolah ingin tetap didengar, menolak perintahku untuk melupakannya. Suara itu terus berjuang tanpa lelah, membisikkan rasa bahagia, rindu, hangat dan sedih.
Bahagia dan kehangatan luar biasa, yang kadang membuatku terbangun dengan hati riang. Kesedihan dan rindu amat sangat, yang kadang dalam diam dan mimpiku, membuat aku meneteskan air mata.
Belum lagi dengan adanya mimpi buruk, aku sangat curiga bahwa mimpi itu juga berasal dari ingatan berkabut.
Aku merasa bodoh sekali, bagaimana mungkin suatu rasa yang bahkan aku tak tahu lagi karena apa, mampu menyeretku ke dalam lubang kesedihan, gelisah, panik bahkan rindu dan bahagia.
Kegundahan itu mulai menyeret emosiku lagi. Bersusah payah aku menahan air mata agar tidak menetes.
Aku tak ingin hari ini rusak.
Hari ini, hari yang langka, aku diundang Jovi untuk mengunjungi apartemennya.
Aku tidak pernah punya teman yang sangat akrab, kegiatan seperti ini benar-benar baru bagiku. Akan sangat luar biasa buruk jika tiba-tiba aku menangis parah dan pingsan sekarang.
Aku harus mengalihkan pikiranku segera!!!
"Kau tahu... aku punya ide!" Kata Jovi dengan nada yang luar biasa riang, seolah membaca pikiranku.
"Bagaimana kalau hari ini kita berbelanja baju untuk kencanmu besok?.. It's your first date, it should be special"
"Ayo..." jawabku dengan lega.
Ya Eluira...Bergembiralah. Setelah 23 tahun lamanya, akhirnya ada yang mengajakmu kencan.
"Tunggu sebentar, aku akan bersiap-siap" Jovi berdiri, menyambar baju-baju yang tergeletak di kursi, menaruhnya kembali ke dalam lemari. Kemudian mulai memilih beberapa untuk di pakai dan berlari menuju kamar mandi.
Jovi memutuskan untuk menunda kegiatan pemilahan baju.
Hari ini sebenarnya Jovi mengajakku untuk memilah beberapa baju yang sekarang memenuhi lemarinya.
Kami --ini ide Jovi tentu saja, aku hanya mengikutinya-- berencana menyumbangkan baju yang masih layak pakai ke kegiatan amal di lingkungan Jovi. Untuk itu aku membawa 3 kardus besar yang sudah berisi baju layak pakai milikku, kesini.
Dua hari sebelumnya, Charlie membongkar lemariku dan memilih baju mana saja yang boleh aku sumbangkan.
Dia sama sekali tidak mendengar protes dariku saat melakukannya. Aku hanya bisa memandang ngeri saat baju-baju santai --baju aneh menurut Charlie--favoritku hampir semua masuk ke dalam kardus.
Jovi ternyata membutuhkan waktu yang lebih lama dari pada yang aku perkirakan. Sudah sepuluh menit berlalu, belum ada tanda dia akan keluar dari kamar mandi.
Tak ingin tenggelam dalam gelisah lagi, aku meraih remote dan memencetnya. Alunan lagu mengalir dari speaker di sebelah TV.
__________
Your human scent always make me drunk
Your human scent always make me high
But I love it so much
Your human scent is like a dew
Your human scent is like rain
And my heart is parched land
___________
Suara itu.... lagu itu, aku mengenalnya!
Aku pernah mendengarnya, aku yakin. Dan tentu saja aku tidak ingat lagi kapan dan di mana aku mendengarnya. What a rotten brain.
Aku bukan penggemar musik. Pop, rock, RnB, blues, jazz, atau apapun itu.
Satu-satunya genre musik yang sering kudengar hanya musik untuk balet. Well.. kau tak bisa menari balet tanpa musik kan?? Obviously ..
Jadi---dari mana aku tahu tentang lagu ini?
Melodi dan syairnya begitu terasa begitu familiar.
Se-akrab lagu Dance of The Sugar Plum* -- percayalah, aku sudah mendengar dan menari dengan lagu ini mungkin ribuan kali --. *Lagu yang tak sengaja kudengar itu, meninggalkan rasa nyaman dan tenang dalam benakku.
"Aku siap"... Jovi dengan dandanan yang telah rapi, muncul disampingku.
" Ayo berangkat!!" Jovi terdengar terlalu bersemangat.
Ditariknya tanganku agar aku berdiri. Pasrah, aku pun melangkah kearah pintu mengikutinya. Aku benci belanja, batinku.
Dan sesuai dengan yang aku bayangkan.
Jovi membawaku ke beberapa butik yang menurutnya sangat bagus. Dia melihat kartu kreditku yang berwarna hitam dengan senyum lebar. Ini akan membuka beberapa pintu yang sangat mahal katanya dengan bersemangat.
Aku hanya mengangguk padahal aku sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksudkannya
Dan begitulah, sisa hari itu kami habiskan dengan keluar masuk butik dan mall hanya untuk mencari baju yang menurut Jovi pantas aku kenakan besok.
Dan dia setuju dengan Charlie dan Oscar soal ini, selera fashion-ku memang buruk. Dia menolak semua baju yang aku pilih dengan wajah ngeri.
Pada butik pertama, Jovi menyerahkan hampir sepuluh dress dengan berbagai macam warna untukku agar dicoba.
Aku pasrah mengikuti keinginannya, tapi dari kesepuluh gaun itu, tidak satupun membuatnya puas. Maka kami pergi tanpa membeli apapun.
Butik yang kedua, aku mendapatkan sepatu. Jovi tidak membuatku memakai high heel, tapi dia memberiku sepatu dengan heel sangat pendek.
Itu akan cukup untuk acara kencan yang santai katanya. Aku juga menyukai sepatu pilihannya, karena sepatu itu tidak menggigit kakiku seperti saat pesta.
Untuk kegiatan pemilihan baju, benar-benar menjadi tantangan untukku. Jovi membuatku keluar masuk ke sejumlah butik yang tidak bisa aku hitung lagi berapa jumlah pastinya. Dan akhirnya dia memilih baju dress pendek berwarna hijau lembut untukku.
Dia memelukku dengan gembira ketika aku keluar dari kamar pas. Aku juga tertawa gembira karena berarti perjalanan melelahkan ini akan selesai.
Tapi aku salah, Jovi menarikku ke butik berikutnya untuk mencari aksesoris rambut yang cocok untuk gaunku.
Aku nyaris menariknya pulang saat itu juga. Tapi melihat senyum tulusnya untuk membantu, aku menjadi tidak tega, aku akhirnya hanya tersenyum dan mengikutinya lagi.
Dia bahkan menelpon Charlie dengan dengan menggunakan video call, untuk meminta pendapatnya. Hal ini berarti pencarian ini menjadi lebih panjang dari yang sebelumnya, karena selera Charlie juga sangat sulit terpuaskan.
Setelah menyantap pasta untuk makan malam --sebenarnya aku tidak terlalu lapar, tapi aku akan memberikan alasan apapun agar bisa duduk. Kakiku sudah mencapai ambang batasnya ketika Jovi ingin mengajakku ke butik yang ke-12 -- dan mengantar Jovi kembali ke apartemen, Alex membawaku pulang.
Aku letih sekali. Jovi adalah teman yang luar biasa, hanya saja kadang dia sangat bersemangat untuk hal-hal yang tidak bisa aku mengerti.
Well.. yang pasti aku masih menyukainya, walaupun dia membuat kakiku nyaris seperti jeli saat ini, batinku sambil tersenyum kecil.
**Dance of The Sugar Plum : Ost. Ballet the Nutcracker