Finding You, Again

Finding You, Again
Again 6 - Answered Question



Rombongan aneh terlihat bergerak meninggalkan perpustakaan Blackmoon menuju Manor.


Paling depan, inhumane dengan tanduk luar biasa, memimpin barisan ditemani oleh Duke yang pikirannya sedang kacau.


Rombongan itu hanya terdiri dari werewolf dan elf, para vampire telah kembali ke rumah El, karena matahari sebentar lagi akan terbit.


Mereka beriringan di belakang Sorrel, karena tujuan mereka sama, yaitu ke arah Manor. Semua berwajah penasaran, akibat ucapan Sorrel yang menyebut Zhena Blackmoon sebagai cucunya, terutama Kamaria.


"Lui manusia!"  Alva akhirnya ikut memprotes, karena dialah yang menangani Lui selama ini.


Dia merasa jengkel, karena kemampuannya sebagai dokter tercoreng. Tidak bisa mengenali perbedaan elf dan manusia adalah penghinaan bagi profesinya.


"Tentu saja, sebagian darinya" jawab Sorrel, masih dengan senyum.


"Tunggu dulu, apakah itu berarti Belva adalah elf?"


Duke menyimpulkan dengan gegabah. Dia pernah bertemu Belva beberapa kali, dan sangat yakin Belva adalah manusia. Tapi mengingat kekejaman ayah Lui, Duke merasa tidak pantas menebak Daniel Delmora sebagai elf.


"Tidak, dan tentu saja ayahnya juga tidak" jawab Sorrel, sambil menaiki tangga menuju lantai dua Manor.


Werewolf dan tamu lain yang mengikuti memandang dari lantai bawah dengan tertarik. Kamaria nyaris melotot memandang punggung Duke. Tapi mereka tahu, akan sangat tidak sopan jika mengikuti mereka ke lantai atas.


Hanya Myra, Alva dan juga Dihyan yang ikut naik ke lantai dua.


Duke mengetuk pelan, kemudian membuka pintu.


Oscar sedang membaca tekun di sebelah ranjang Lui. Dia hanya melirik sebentar ketika melihat Duke. Tapi kemudian bangun dengan terperangah, melihat sosok yang menyusul Duke di belakangnya. Buku yang ada di tangannya meluncur ke lantai dan jatuh dengan berisik.


"Bagaimana-----" Oscar membelalakkan matanya lebar-lebar, wajahnya yang biasa tenang, hancur dalam hitungan detik. Mulutnya membuka lebar melihat Sorel dan Dihyan.


Duke bersimpati, karena wujud Sorrel akan mengagetkan siapapun.


"Oscar! Senang melihatmu sehat seperti biasanya" Sorrel menyapa hangat.


Bahkan Dihyan yang terlihat dingin sedari tadi, mengangguk pelan ke arah Oscar.


Duke merasa seperti orang ***** karena salah menebak alasan Oscar. Dia sudah mengenal Sorrel!!!


Percakapannya dengan Oscar beberapa bulan lalu muncul di permukaan otaknya. Bagaimana Oscar mengatakan jika dia mempunyai seorang kenalan inhumane.


"Kenalan yang kau sebutkan dulu adalah Sorrel?" tanya Duke, dengan lelah.


Otaknya telah letih menerima kejutan hari ini.


Oscar mengangguk tapi dengan wajah jengkel.


"Kenapa kalian ada disini?" Oscar bertanya dengan suara keras, tanpa kesopanan seperti yang ditunjukkan Abel.


"Untuk menjenguk Lui tentu saja" jawab Sorrel dengan ceria, berjalan mendekati ranjang.


Dia mengelus kepala Lui dengan jemari panjangnya, kemudian tersenyum. "Kau telah bekerja keras manis" kata Sorrel, dengan suara yang lebih pelan lagi.


"Aku masih tidak mengerti!" Duke akhirnya berseru jengkel.


Dia tidak suka berada dalam situasi seperti ini. Kegelapan tanpa kejelasan.


Sorrel kembali tertawa pelan. Dia kemudian berjalan pelan menuju sofa dan duduk di sana.


Sisa orang yang ada di kamar mengikutinya, kecuali Oscar. Yang memilih duduk kembali di kursinya, masih dengan mata menatap lantai. Menghindari tatapan Sorrel, yang kini bersiap menjelaskan segala hal yang ingin diketahui oleh Duke.


"Aku akan memulai dari bagian ceritaku yang terpotong tadi. Karena semua itu berkaitan."


Sorrel menunjuk Lui dan Oscar. Duke mengangguk tak sabar.


"Aku saat ini berumur 2465 tahun, Duke. Kejadian yang aku ceritakan di perpustakaan tadi, terjadi ketika aku baru berumur 45 tahun. Masih sangat hijau dan polos, tapi karena ayahku meninggal dalam perang dengan Lonan, aku harus menggantikannya memegang kekuasaan"


"Beberapa ratus tahun setelah perang itu terjadi, dengan tertatih bangsa Elf akhirnya berhasil memulihkan seluruh sistem di sanctum, tapi kami masih mempunyai satu masalah, jumlah Elf sangat sedikit, karena banyaknya korban yang jatuh. Aku dipaksa melihat dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana bangsa Elf di desak menuju jalan kepunahannya "


Duke mulai bisa menebak garis besar cerita Sorrel.


"Karena itu, aku akhirnya berpaling pada makhluk lain yang ada di bumi yaitu manusia. Aku 'mendekati' wanita dari manusia untuk menjaga keberadaan Elf" Sorrel menyandarkan punggungnya ke sofa.


Duke merasa nafasnya terhenti mendengar hal itu. Sebagian karena lega, hubungan antara manusia dan inhumane ternyata tidak selangka yang diperkirakannya, sebagian lagi karena alasan perbuatan Sorrel tidak bisa dikatakan benar.


"Aku masih sangat muda saat itu dan harus aku akui, aku menikmati 'kegiatan' itu lebih daripada yang seharusnya" Sorrel terkekeh geli sekarang.


Oscar mendesis jijik mendengarnya. "Kau membuat manusia sebagai mesin pencetak bayi" serunya dengan geram.


"Well, saat itu aku tidak mempunyai pilihan lain. Kau tahu berapa usia Dihyan?" tanya Sorrel pada Duke dan Oscar.


Duke menggeleng, tapi Oscar tidak menjawab, wajahnya masih memandang ke arah lain dengan jijik.


"641 tahun. Dan dia adalah elf darah murni yang paling muda saat ini. Bisa kau bayangkan berapa waktu yang kami butuhkan untuk pulih seperti sedia kala? Aku memperkirakan, akan butuh waktu lebih dari tiga milenium!!" kata Sorrel, mencoba mencari alasan, untuk membenarkan perbuatannya.


"Saat ini keturunanku menyebar di seluruh bumi. Bila suatu saat mereka menampakkan ciri yang lebih ke arah Elf, aku akan membawanya ke Sanctum. Tapi jika mereka normal seperti manusia biasa, aku akan meninggalkannya" Sorrel masih dengan nada biasa saat mengatakan hal itu.


"Aku tidak bangga dengan hal itu, tapi dengan langkah itu, aku berhasil memulihkan kekuatan Apolline lebih cepat dari pada yang seharusnya bahkan lebih kuat. Suntikan darah segar dalam jumlah banyak sangat berarti bagi kesejahteraan Sanctum"


Duke akhirnya mengerti kenapa Oscar bersikap antipati padanya. Sorrel benar-benar memanfaatkan manusia sebagai pencetak bayi. Duke sekarang merasa sedikit mual membayangkan hari-hari Sorrel 'meniduri' banyak wanita hanya untuk mencapai tujuannya.


Untuk masalah wujudnya yang sedikit berbeda, Duke sangat yakin para wanita tidak akan keberatan dengan Sorrel, karena secara garis besar dia tampan.


Tapi kemudian Duke membayangkan saat bagaimana bayi-bayi separuh elf yang dipisahkan dari ibunya, untuk di bawa ke sanctum, itu kejam.


"Aku tidak membawa mereka ketika masih bayi tentu saja, aku memberi pilihan begitu mereka bisa mengambil keputusan sendiri. Mereka berada di sanctum karena itu adalah pilihannya sendiri, bukan paksaan. Seperti Oscar, dia menolak ajakanku, maka dia tetap berada di dunia manusia. Abel, dengan senang hati menerima ajakanku, untuk Faust dia menolaknya tentu saja" tambah Sorrel, tepat menjawab pikiran Duke, dan sedikit berhasil mengurangi rasa jijiknya.


"Kemampuanmu untuk mendeteksi perasaan orang adalah karena kau keturunan Elf?" kata Duke memandang Oscar dengan mata menyipit.


Oscar hanya melengos mendengar pertanyaan itu, malas menjawab.


Pantas saja, batin Duke.


Kemampuan seperti itu bukan milik manusia, seharusnya Duke sudah menduga sejak awal, bukannya percaya dengan omong kosong Oscar yang mengatakan semua Delmora adalah manusia.


Soal Faust, Duke juga akhirnya mengerti kenapa dia tidak pernah bisa mencium aromanya. Keadaan itu muncul karena dia juga keturunan inhumane . Untuk Abel, Duke sama sekali tidak tahu apa yang membuatnya istimewa.


"Kau benar Duke, karena itu aku ingin membawa Oscar ke Sanctum. Walaupun dia bukan keturunan langsung dariku, tapi nenek moyang Belva dari lima generasi sebelumnya adalah anakku yang cukup normal" Sorrel menjawab semua pertanyaan kusut di benak Duke.


Belva adalah keturunan kesekian dari seorang elf, dan karena rantai DNA yang rumit, sifat elf masih bisa menurun pada Oscar, Duke menyimpulkan penjelasan Sorrel yang rumit di dalam kepalanya.


"Tapi Bee---- maksudku Lui, dia normal?" tanya Duke.


"Ya, atau aku dulu menganggapnya seperti itu. Tapi setelah kejadian yang membuatnya terluka di kepala itu, aku tahu Lui bukan manusia biasa" Jawab Sorrel.


"Sampai saat ini, aku masih mengawasi dengan jeli semua keturunanku, jadi aku tahu apa yang terjadi dalam hidup mereka" tambah Sorrel, melihat Duke heran, bagaimana bisa Sorrel juga mengetahui hal itu.


"Memata-matai maksudmu!" tukas Oscar dengan lantang.


Sorrel hanya tersenyum menanggapi seruan marah itu.


"Elf mempunyai daya bertahan hidup lebih dari manusia biasa. Karena itu Lui bisa selamat, walaupun dengan meninggalkan sesuatu di kepalanya" lanjut Sorrel.


Duke melirik Alva yang sekarang mengernyitkan kening. Alva yang mengatakan adalah keajaiban saat Lui bisa selamat dengan adanya gumpalan itu di kepalanya. Satu misteri lagi terjawab.


"Aku senang kau meminta bantuan Alva untuk membuat Lui sadar kembali Duke, itu adalah tindakan yang tepat"


Pujian Sorrel itu justru memercikkan amarah di hati Duke.


"Kau mengetahui bagaimana keadaan Bee, tapi tidak melakukan apapun untuk menolongnya?" Duke menggeram dengan kasar. Daniel Delmora hampir membunuh Lui.


Jika Sorrel datang lebih cepat dan membantunya, hal itu tidak perlu terjadi.


"Kau tahu, aku juga sangat ingin mendengar alasannya!" Oscar sekarang memandang Sorrel, juga dengan mata penuh amarah.


"Karena kau telah mengambil jalan yang benar Duke, dan juga Oscar tidak akan membiarkan apapun terjadi pada Lui. Aku tak perlu turut campur untuk menyelesaikannya saat itu" Sorrel menjawab dengan enteng amarah Duke dan Oscar.


Jawaban itu tentu tidak memuaskan bagi Duke maupun Oscar. Tapi Sorrel melanjutkan cerita tanpa mempedulikan mereka.


"Keadaan Lui baik-baik saja, sampai ketika guncangan kedua hadir di kehidupannya. Yaitu bertemu denganmu, dan juga kehilangan dirimu. Kalian semua tentu menyadari bagaimana Lui juga bereaksi dengan aneh bukan?" Sorrel kembali bertanya.


"Maksud anda tentang kehilangan ingatan itu?" Myra yang bertanya, karena Duke masih sibuk berusaha menenangkan diri.


"Ya, sekali lagi itu terjadi karena kekuatan Elf dalam diri Lui. Otaknya mengunci ingatan tentang Duke dengan rapi, karena saat itu Duke adalah sumber kematiannya. "


Kalimat itu mengendap dengan cepat di benak Duke dan membuat perutnya bergolak penuh rasa bersalah.


"Aku tadi sudah menyebut tentang Dyad bukan?" Sorrel membahas hal yang sedari tadi menjadi sumber rasa penasaran lain.


"Yang kau maksudkan adalah Mate ?" ujar Duke, mengalihkan pikirannya dari perkataan Sorrel yang tidak menyenangkan tadi.


"Dyad!... kenapa kalian menyebutnya mate? Itu terdengar agak menjijikkan" kata Sorrel mengerutkan kening. Istilah Mate mengandung konotasi pasangan seksual.


Datang dari seseorang yang meniduri banyak wanita hanya untuk mengambil bayinya, pernyataan itu terdengar sangat ironis, batin Duke.


"Sifat Dyad ini kalian dapatkan dari elf, karena seperti yang tadi aku ceritakan, penyihir membuat werewolf dari manusia dan serigala dengan menggunakan darah elf. Karena itu beberapa sifat elf menurun pada kalian, mengerti?"


Duke dan Myra mengangguk.


"Perbedaannya, Dyad pada bangsa elf hanya berlaku pada sesama elf. Tapi karena darah Lui yang tidak lagi murni, aku rasa dia 'menyeberang' dari tradisi itu dan memilihmu"


"Memilih?" Seru Duke dengan terkejut, mate tidak bisa memilih.


Wajah Myra memucat, terbayang bagaimana perjuangannya untuk bersama Owen. Jika itu pilihan, Myra sudah berusaha dengan keras untuk tidak memilih Owen, dan gagal.


"Ya, elf bisa memilih pasangannya dan mengikatnya dalam Dyad, karena itu ikatan Dyad membutuhkan perasaan yang mutual. Tidak berlaku untuk werewolf tentu saja, werewolf memiliki pasangan Dyad yang mutlak tanpa pilihan. Itulah perbedaan antara Dyad Elf dan werewolf" Sorrel tersenyum, karena Duke sekarang juga memucat.


Bayangan Lui bisa memilih pria lain, membuat perutnya terpilin dengan menyakitkan.


"Jangan khawatir, Lui sudah memilihmu semenjak tiga tahun yang lalu. Ikatan itu tidak akan berubah seumur hidupnya, karena Dyad hanya akan terjalin sekali seumur hidup. Kecuali jika dia menghapusmu lagi"


Sorrel menyampaikan fakta yang sedikit menghibur, tapi dengan akhiran yang pahit.


Duke tersenyum masam mendengar hal itu. Dia tidak akan melupakan fakta bagaimana Lui tanpa sadar telah 'menghapusnya' untuk bertahan hidup.


Dengan gerakan yang cepat dan tak terduga, Sorrel menjulurkan tangan ke depan dan meraih wajah Duke, menariknya mendekat. Duke yang kaget, tidak sempat menghindar dari cengkeraman itu.


Dalam hati Duke meneriakkan sumpah serapah, karena gerakan Sorrel halus sekali, akan sangat sulit menyamainya kecepatan itu.


"Tidakkah kau sadar? M ata hijau ini adalah segel yang diberikan oleh Lui padamu sebagai Dyad" katanya, sambil menatap mata Duke.


Dengan otomatis Duke menggeleng, Sorrel melepaskan genggamannya pada wajah Duke, tapi matanya masih terarah ke sana.


"Mata semua werewolves berwarna antara cokelat, kuning, atau bau-abu. Tapi tidak hijau. Hijau adalah warna elf. Mata ini berubah menjadi kekuningan kembali, ketika Lui melupakanmu bukan?"


"Ya, mata Duke kembali normal setelah dia kembali ke pack" Myra menjawab.


Sorrel mengangguk-angguk dan tersenyum. "Kasus kalian benar-benar unik. Aku tidak sabar lagi melihat bagaimana perkembangannya"


Sekarang dia bersikap seperti seorang pembaca novel yang tidak sabar menanti bab berikutnya.


"Apakah itu berarti Lui tidak akan menua seperti manusia normal? Sebagian dirinya adalah elf" Myra mempertanyakan hal yang tidak pernah lagi terlintas di pikiran Duke.


Duke tidak pernah ingin mempertanyakan seberapa panjang umur Lui. Jika Lui meninggal, maka dia akan mengikutinya, begitu saja. Tapi dia penasaran dengan jawaban Sorrel sekarang.


"Tentu saja, ada darah elf di tubuh Lui. Dan umur kami jauh lebih panjang dari werewolf. Karena Lui sudah mengikat Duke dengan Dyad bangsa elf, Duke juga akan menua mengikuti umur Lui, berapapun itu nantinya"


Jawaban Sorrel membuat wajah Myra lega luar biasa.


Bagi Duke, penjelasan itu hanya berarti dia mempunyai waktu yang lebih panjang untuk dihabiskan bersama Lui. Hal itu sedikit membuatnya gembira, tapi permasalahannya adalah dia lebih menyukai Lui dalam keadaan sadar.


Duke tidak bisa memutuskan harus bagaimana menilai Sorrel, dia secara umum baik-baik saja. Tapi ada beberapa bagian darinya yang kurang. Terutama kebiasaannya tersenyum tanpa sebab dan random. Seolah mengatakan jika dia tahu lebih banyak dari pada yang seharusnya.


Hal itu terlihat menyebalkan bagi Duke.


"Nah, karena semua sudah jelas, aku akan membangunkan Lui" Dengan lincah Sorrel melompat dari sofa.


"Tunggu! Kau bisa melakukannya?!"


Duke berseru dengan keras, nyaris tak bisa menyembunyikan sorakan gembira di otaknya. Tapi sekaligus sebal, karena ia memilih untuk bercerita daripada melakukannya sedari tadi.


"Tentu saja" Sorrel tertawa geli, karena menurutnya hal itu sangat jelas.


"Apa yang menyebabkan Lui koma?" cetus Alva, akhirnya tidak tahan dan menanyakan hal yang mengganggunya beberapa hari ini.


"Insignia tentu saja" jawab Sorrel langsung, heran karena Alva tidak menyadarinya.


"Mantra yang ada di kepala Lui baik-baik saja" Alva mencoba membela diri.


"Itu menurutmu, ilmu yang kau pelajari belum cukup untuk mendeteksinya" kata Sorrel yang segera menutup mulut Alva.


Dia kalah.


"Darah Alpha yang Duke masukkan pada tubuh Lui, bereaksi membangunkan darah elf yang ada pada Lui. Darah Alpha tidak hanya mengandung kekuatan satu orang Alpha bukan? Darah itu telah diturunkan selama ribuan tahun. Wajar jika darah elf yang ada di tubuh Lui akhirnya terusik, dan menguar keluar dari tubuhnya" jelas Sorrel panjang lebar.


"Kabut berwarna biru itu adalah kekuatan elf?" tanya Duke sambil mengingat bagaimana pemandangan horor saat Lui melayang di atas tanah.


"Ya, itu adalah kekuatan elf yang sama denganku. Elemen air" Sorrel menyampaikan Info yang menarik, tapi Duke sedang tak ingin membahas detail yang lebih memusingkan saat ini. Maka dia hanya mengangguk.


Demikian pula Alva, hanya bisa mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya.


Tentu saja Alva tidak tahu tentang kekuatan Lui, hal yang tidak pernah dibayangkannya adalah ada darah elf pada tubuh Lui.


Oscar tidak pernah menjelaskan hal itu padanya.


Tapi juga sebaliknya, Alva dan Duke tidak pernah menjelaskan soal status inhumane mereka pada Oscar. Mereka saling menyembunyikan fakta yang seharusnya bisa membantu Lui lebih cepat pulih.


Sorrel mendekat ke ranjang kemudian mengayunkan tangannya dengan bentuk rumit. Sekejap kemudian pendaran lingkaran cahaya penuh simbol muncul di bawah tubuh Lui. Sorrel tersenyum sambil menunjuk ke salah satu sisi lingkaran.


"Kau lihat, Alva. Mantramu masih ada di sana karena kau hanya mengikatnya pada sisi manusia Lui. Sisi elf-nya sama sekali tak terpengaruh, sisi elf-nya terbangun karena adanya pengaruh dari luar"


"Aku tak pernah berpikir untuk melihatnya menggunakan diagram *en masse**" kata Alva.


"Bisa aku mengerti, karena kau menganggapnya sebagai manusia utuh"


Dengan sekali ayunan tangan Sorrel, lingkaran itu lenyap.


Duke sama sekali tidak memiliki ide hal apa yang sedang mereka bicarakan, tapi hatinya lega luar biasa, karena Sorrel dengan mudah menemukan permasalahannya.


"Bisakah kalian melepas jarum dan juga peralatan lain ini?" Sorrel menatap dengan tidak suka tangan Lui yang tertancap infus.


Dengan cekatan, Alva melaksanakan permintaan Sorrel.


"Dihyan, bawa dia!" Sorrel menoleh ke arah Dihyan, yang mengawasi pekerjaan Alva dengan seksama.


Dihyan melepas jubahnya, menampakkan pakaian cokelat yang beraroma kulit pohon. Tebakan Duke, memang baju itu terbuat dari kulit pohon. Tapi dengan model dan pengolahan yang modern. Dihyan terlihat seperti pemburu, dalam balutan baju itu.


Dia menghampiri ranjang, lalu menyusupkan tangannya ke bawah leher Lui.


"Apa yang kau lakukan?" Duke meraih tangan Dihyan, mencegah.


"Mengangkatnya tentu saja"


Suara Dihyan hampir mirip dengan Sorrel, sedikit lebih berat, tapi masih seperti bisikan, dengan nada yang lebih tegas.


"Heh... jika itu maumu" Dihyan mengangkat bahu dengan tidak peduli.


Akibat lain dari kisah Sorrel tadi adalah, tertanamnya ide jika Lui bisa memilih Dyad yang lain.


Itu kabar buruk untuk Duke, karena itu dia tak akan membiarkan Lui berdekatan dengan inhumane manapun setelah ini.


Duke mengangkat tubuh Lui yang semakin ringan dan memandang Sorrel menanyakan tujuannya.


"Keluar, tentu saja" Sorrel menunjuk ke jendela.


"Excuse me?"


Apakah dia sudah gila? batin Duke. Suhu di luar saat ini mencapai minus enam belas derajat celcius, Lui akan membeku.


"Aku harus membawanya ke dekat pohon Duke, kekuatan elf akan mengalir lebih baik di alam terbuka. Dan aku membutuhkan kekuatan maksimal untuk menggunakan sihirku pada Lui"


"Aku akan memakaikan mantel" Myra dengan cepat berjalan menuju almari, tapi Sorrel mencegah dengan tangannya.


"Tidak perlu! Lui akan baik-baik saja di luar. Darah elf-nya yang telah terbangun, akan membuatnya baik-baik saja" kata Sorrel mulai berjalan menuju pintu keluar.


"Kau yakin?!" Duke masih meragukan penjelasan itu.


"Ayolah---" Sorrel melambaikan tangannya tak sabar di pintu yang telah terbuka. Tidak mempedulikan pertanyaan Duke.


Sambil merengut, Duke akhirnya mengikutinya keluar.


Oscar segera menyambar mantel miliknya yang tergantung di dekat pintu dan secepat kilat menyusul mereka. Alva yang tidak ingin melewatkan kesempatan melihat sihir Elf, melakukan hal yang sama.


Kamar itu sepi dengan tiba-tiba, menyisakan Dihyan dan Myra.


"Senang bertemu anda, kita belum sempat saling menyapa" kata Myra, sekedar memecah kesunyian.


"Saya juga senang bertemu anda" kata Dihyan dengan senyum simpul. "Putra anda luar biasa sekali " kata Dihyan, menyindir sikap Duke yang terlalu cemburu padanya.


Mereka berjalan beriringan menyusul rombongan Sorrel.


"Mungkin itu sifat werewolf yang tidak berhasil kalian hilangkan, karena bisa aku pastikan Ayahnya akan melakukan hal yang sama"


Myra tersenyum kecil, mengenang bagaimana Owen hampir tak mengizinkannya keluar dari penthouse hotel saat mereka ke Quebec. Werewolf sangat posesif terhadap mate-nya.


"Mungkin anda benar" jawab Dihyan dengan lembut, sopan santunnya jelas tanpa cela. Berbeda dengan Duke yang kadang bisa bersikap sedikit kejam.


Pantas saja dia cemburu, batin Myra dengan senyum simpul. Elf bisa sangat mempesona jika mereka mau.


\~\~\~\~


Begitu turun dari tangga, Duke sangat ingin kembali ke dalam kamar, karena semua tamu pack sekarang ada di ruang tengah.


Termasuk beberapa werewolf yang tidak mengikuti pertemuan. Tentu saja kedatangan Duke sambil membopong Lui, mengalihkan seluruh perhatian mereka, dari wujud aneh Sorrel.


Beberapa dari mereka, hanya melirik sekilas demi sopan santun, tapi Arana dan tentu saja Kamaria, menjulurkan kepalanya mencoba melihat Lui.


Tapi Duke tidak memberi kesempatan. Mereka hanya bisa melihat rambut pirang Lui yang menjuntai.


"Morning!!" Sorrel menyapa mereka ramah, seakan tidak baru saja bertemu beberapa saat yang lalu.


"Aku akan melanjutkan ceritaku nanti malam, karena ada sedikit urusan yang lebih penting saat ini" ujarnya, padahal tidak ada siapapun yang bertanya.


Just move, you old prick!! batin Duke hampir mengumpat, jika saja Myra yang baru sampai di sebelahnya tidak mencengkeram bahunya.


Sopan santun Sorrel dianggap berlebihan oleh Duke, yang mulai tidak nyaman dengan banyaknya perhatian yang diterima oleh Lui.


Sorrel meneruskan langkahnya keluar Manor, kemudian berjalan ke arah hutan setelah melihat ke sekeliling.


Rombongan yang mengikutinya kembali bertambah besar, karena para tamu di Manor akhirnya menyusul mereka dengan penasaran.


Sorrel tidak melarangnya, dan Duke tidak sempat memikirkan privasi saat ini. Seluruh pikirannya terpusat pada Lui.


Sorrel tiba di bawah pohon yang mempunyai lingkar paling besar di tepi hutan. Tangannya memberi isyarat agar Duke berhenti, dan kemudian tangannya menyentak.


Lingkaran cahaya biru dengan berbagai simbol berukuran kecil terbentuk di ujung jari tangan kanan Sorrel, kemudian Sorrel menghunjamkan tangan kanannya tepat ditengah lingkaran.


Sedetik kemudian lingkaran itu hilang, berganti dengan tongkat sepanjang 2 meter yang di genggam erat olehnya.


Tongkat itu terbuat dari kayu, dengan ujung penuh dengan cabang ranting. Tongkat itu sekilas akan terlihat seperti sebatang pohon kecil tanpa daun.


Dengan sekali ayunan, Sorrel menancapkan tongkat itu ke tanah, dengan seketika udara sekeliling Sorrel berubah menjadi hangat.


Sorrel berjalan mendekat ke arah pohon, di setiap tempat dimana kaki Sorrel menapak, rumput dan semak bunga bersemi dengan kecepatan yang ajaib, menembus salju yang kini mulai meleleh.


Duke bersyukur mereka telah keluar dari Manor. Karena jika tidak, dia bisa membayangkan bagaimana kayu yang menjadi bahan pembangun tembok dan lantai rumahnya, akan menumbuhkan daun dan ranting di bawah telapak kaki Sorrel.


Pohon yang ada di depannya, juga melelehkan saljunya dengan cepat, dan pohon itu sekarang bersemi menumbuhkan daun-daun berwarna hijau muda.


Dalam waktu singkat Sorrel mendatangkan musim semi di sekitar pohon itu. Lengkap dengan bunga liar aneka warna serta semak merambat yang subur. Tidak satupun dari yang hadir mampu bersuara melihat pemandangan itu.


Tapi pertunjukkan belum selesai.


"Letakkan Lui di sini" Sorrel menunjuk rerumputan persis di bawah pohon.


Duke membaringkan Lui dengan lembut di tanah.


"Buka bahunya kanannya" lanjut Sorrel.


Duke melirik ke arah kerumunan yang berada dalam jarak aman, kemudian menurunkan sedikit bagian kanan gaun Lui.


Sorrel menunduk memandang insignia bulan sabit hitam yang terlukis di bahu pucat itu.


Insignia itu berbentuk seperti tatoo bulan sabit dengan beberapa galur hitam mengikuti pembuluh darah di tepinya.


"Kau seharusnya sadar ketika melihat itu Duke, insignia dari Blackmoon hanya berbentuk bulan sabit hitam, tanpa ada galur hitam" kara Sorrel sambil menunjuk.


"Bagaimana aku bisa tahu bentuk tepat dari insignia Blackmoon, jika ini adalah pertama kalinya aku memberikannya?" jawab Duke dengan dingin.


"Ahhh---tentu saja" Sorrel mengangguk mengerti.


Alpha akan menandai siewolf baru sebagai pasangan jika memang berpisah atau meninggal, seperti ayahnya. Tapi Lui adalah pengalaman pertama -- dan terakhir-- bagi Duke memberi insignia\, tentu saja dia tidak akan tahu jika ada sedikit perbedaan pada bentuknya.


Dan tentu saja dia tidak pernah melihat bentuk insignia pada tubuh Myra. Selera berpakaian Myra sedikit konservatif selain untuk baju tidur.


"Buka bajumu" Sorrel kembali berdiri. "What?!" Duke melihat Sorrel dengan heran.


"Please? Kita harus cepat" kata Sorrel menolak memberi penjelasan.


Dengan dahi berkerut Duke membuka sweater hitam yang dipakainya dan bertelanjang dada.


"Berdiri di sini" Sorrel menunjuk ruang di sebelah Lui berbaring. Ia mengangguk puas ketika melihat posisi Duke sudah sesuai dengan yang diinginkannya.


"Dihyan!" Sorrel berseru.


Dalam sekejap Dihyan menerobos kerumunan penonton dan berdiri di di sebelah Sorrel. Tangannya melambai dan sebentuk tongkat muncul di tangan kanannya dalam balutan cahaya.


Tongkat itu sangat serasi dengan rambut Dihyan, karena tongkat itu berwarna putih terbuat dari pualam. Batu beraneka warna tertanam dengan cantik di sepanjang tongkat.


Sorrel mencabut tongkatnya dari tanah, dan melambaikannya ke arah Lui. Dengan perlahan, tanaman merambat mulai menyelubungi tubuh Lui.


"Dia baik-baik saja" Sorrel mencegah Duke yang akan mendekati Lui, dia khawatir karena tubuh Lui seolah akan tertelan oleh tumbuhan hutan.


Ditopang oleh tumbuhan merambat itu, dengan perlahan tubuh Lui berdiri tegak.


Tanpa menyentuh tanah, beban tubuh Lui seluruhnya di topang oleh tumbuhan itu.


Posisi Lui sekarang berada persis berada di depan Duke. Dengan jelas Duke bisa merasakan tarikan nafas Lui yang lemah karena absennya mesin alat bantu pernafasan.


Sorrel menoleh ke arah Dihyan dan mengangguk.


Pada detik yang sama dengan ayunan tongkat mereka, pertunjukkan cahaya yang menyilaukan dimulai.


Lingkaran sihir penuh simbol berpendar dengan warna biru dan hijau, melingkari tubuh Duke dan juga Lui. Dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata, sejumlah lingkaran terbentuk berurutan dengan cepat.


"Apa itu?"


Kamaria berbisik dengan takjub melihat banyaknya lingkaran sihir yang terbentuk di sekeliling Lui dan Duke silih berganti, menandakan rumitnya sihir yang di keluarkan Sorrel dan Dihyan.


"Sihir yang tidak akan bisa aku lakukan, walaupun aku menjual jiwaku. Hanya elf berdarah murni yang bisa melakukan sihir elemen tingkat tinggi seperti itu" Alva berdesis dengan mata kagum.


"Itu benar, aku tidak pernah melihat penyihir mengeluarkan mantra sebanyak itu dalam waktu singkat" Abel menyahut dari sebelahnya.


Duke yang berdiri ditengah lingkaran memejamkan mata karena silau cahaya yang datang.


Setelahnya rasa dingin mulai merayapi pembuluh darahnya. Mulai dari ujung kakinya yang menjejak di tanah, merayap lambat ke seluruh tubuhnya.


Yang terjadi kemudian, lebih buruk dari rasa sakit apapun yang pernah di deritanya.


Rasa dingin di seluruh tubuhnya, mulai menuntut. Menuntut seluruh kehangatan tubuh Duke untuk memeranginya.


Tubuh Duke seakan tercabik karenanya, dingin itu menghunjam jantungnya dengan pisau es tak kasat mata.


Seruan kesakitan lolos dari mulut Duke yang membuat Myra terkesiap.


Alva yang menahan tangannya agar tidak mendekat, karena melompat ke tengah lingkaran sihir adalah kebodohan.


"Jangan melawannya Duke, rasa dingin itu adalah Lui. Tubuh manusianya tidak mampu menampung darah elf yang bergolak di tubuhnya. Kau harus membantu Lui" bisikkan Sorrel menghampiri telinga Duke.


Begitu mendengarnya, Duke membuka mata dan melepaskan segala perlawanan yang berpusar di tubuhnya, menerima segala deraan dingin dan kesakitan yang datang. Giginya mengatup erat, menahan teriakan di tenggorokan.


"Lepaskan semua kekuatanmu, kau tidak akan sanggup menahannya dalam wujud manusia" Sorrel kembali berbisik.


"ARRRRRRHHHH------!!"


Dengan teriakan lantang, Duke melepas semua pengendalian dirinya. Luapan hangat dari werewolf menerjang, menggulung rasa dingin yang menjajah tubuhnya.


Sosoknya mulai berubah menjadi serigala hitam pada hitungan detik. Serigala Duke segera menarik perhatian penonton.


"Itu Duke?" Arana menunjuk.


Myra mengangguk sambil membelalakkan matanya, karena dia nyaris tidak mengenali wujud serigala Duke.


Tubuh serigala Duke berpendar kebiruan, disela-sela bulu hitam lebatnya, cahaya biru menyala lembut. Jika dilihat lebih seksama, cahaya itu berbentuk kabut yang merayap di sela-sela bulu lebat.


Tubuh Duke bergetar hebat, mencoba melawan hujan jarum es, yang menghunjam bersamaan ke seluruh tubuhnya.


"Bertahanlah, kami hampir selesai!!" bisikkan Sorrel menguatkannya.


"Dihyan.....!!" Seru Sorrel sambil mengayunkan tongkatnya.


Dihyan menggertakkan gigi, mengayunkan tongkatnya ke depan untuk yang terakhir kali. Bulir keringat menghiasi kening, karena besarnya tenaga yang harus di keluarkan untuk sihir elemen.


Bersamaan Sorrel dan Dihyan menancapkan tongkat mereka ke tanah, dan dengan perlahan cahaya menyilaukan dari lingkaran sihir memudar seiring menghilangnya diagram.


Tapi perjuangan Duke belum selesai, dengkingan kesakitan lolos dari moncongnya dan dia jatuh terduduk karena sengatan kesakitan sekarang memusat pada dadanya, tepat di atas jantung.


Duke mencoba menarik nafas panjang untuk meredakan kesakitan, tapi tidak banyak membantu.


"Terimalah Duke, dingin itu akan menjadi bagian dari dirimu sekarang, seperti Lui" Sorrel memandang Duke dengan senyum lembut.


Begitu mendengar ucapan Sorrel, sekali lagi Duke memejamkan mata. Merengkuh kesakitan yang menimpanya.


"Bee... kembalilah padaku. Aku merindukanmu"


Duke memohon dalam kepalanya, sebelum akhirnya ia menyerah pada kegelapan yang menyapa kesadarannya.


Tubuh serigala Duke tumbang dan berdebum berat di tanah.


"Duke!!" Myra berseru panik, tapi Alva masih menahannya, tidak tahu apakah sudah aman untuk mendekat.


Sorrel tersenyum melihat Duke, yang kini mulai menyusut kembali menjadi manusia dengan posisi tengkurap.


"Kerja yang bagus" kata Sorrel, sambil menyelimutkan jubah miliknya ke tubuh Duke yang telanjang.


Suara derapan langkah kaki mendekat ke tepi hutan, El dan Roan muncul dalam wujud serigalanya sambil mendengus dan mendengking gelisah.


Sorrel mendekati mereka, "Apakah kalian juga merasakan kesakitan tadi? Maaf, seharusnya aku memperingatkan kalian" Sorrel menundukkan kepala meminta maaf.


Roan nyaris tersedak ludahnya sendiri, ketika melihat wujud Sorrel dan Dihyan, El juga terkejut tapi kemudian perhatiannya langsung teralihkan melihat tubuh Duke tergeletak tertutup jubah.


"Apakah Duke baik-baik saja?" El bertanya, memandang Roan yang masih luar biasa gelisah karena adanya sosok tidak dikenal.


Mereka belum bisa pulih dari keterkejutan yang berasal dari rasa sakit Duke, dan sekarang keanehan lain mewujud dihadapan mereka.


"Dia baik-baik saja. Setelah istirahat yang cukup ia akan sadar dan sehat" kata Sorrel menjawab pertanyaan dalam kepala El.


El dan Roan mendengking mundur dengan kaget.


"Kau mendengar kami?" Roan bertanya dengan ngeri.


Sorrel tersenyum, "Kembalilah ke tugas kalian. Jika Duke sadar, kalian bisa bertanya dengan leluasa tentang apa yang terjadi" katanya.


Senyuman itu tidak memberi mereka jawaban pasti, apakah Sorrel benar-benar mendengarkan percakapan dalam kepala mereka, ataukah dia hanya menebak-nebak.


Roan melihat ke arah Myra yang juga memberi anggukan setuju. Saat ini keamanan di sekitar pack sangat penting. Mereka berdua harus tetap berada di pos-nya.


Roan dan El akhirnya, memacu kaki mereka meninggalkan tempat itu.


"Mendekatlah----" Sorrel melambai ke arah Myra dan yang lain. Myra langsung berlari menghampiri Duke.


"Kau akan membutuhkan bantuan untuk mengangkatnya ke Manor" Sorrel memandang kerumunan yang menonton.


"Saya yang akan membawanya" Aygul maju menghampiri Duke.


"Bagus. Dan sekarang Myra, aku harap kau tidak akan keberatan, karena aku dan Dihyan akan merepotkanmu untuk beberapa hari kedepan"


Sorrel menunduk sopan kepada Myra, yang kebingungan, karena cepatnya topik pembicaraan Sorrel berganti.


"Eh.."


"Aku dan Dihyan tidak akan bisa kembali ke Apolline saat ini, kami harus mengembalikan kekuatan kami sebelum bisa membuat lingkaran sihir yang membawa kami pulang" jelasnya.


"Oh--tentu saja. Saya tidak keberatan" Myra menyahut dengan segera. Itu adalah kewajibannya sebagai tuan rumah, mereka tidak perlu meminta.


"Dihyan----"Sorrel mengangkat tongkatnya ke arah Lui.


Dihyan beranjak dari tempatnya berdiri kemudian berjaga di sebelah Lui.


Ayunan tongkat Sorrel membuat tanaman yang menopang Lui seketika layu, dan tubuh Lui jatuh dalam pelukan Dihyan.


"Aku rasa akan aman, karena Duke sedang pingsan" Sorrel terkekeh melihat pemandangan itu, dia kemudian berjalan menuju Manor mendahului inhumane lain, yang belum pulih dari rasa takjub.


Kamaria yang terakhir meninggalkan tempat itu, melihat bagaimana sepetak tanah yang berwarna hijau dengan perlahan tertutup salju yang mulai turun. Dia menggigit bibirnya dengan kalut.


Dia tahu keinginannya untuk mendapatkan Duke tidak akan mudah, tapi Kamaria tidak terbiasa dengan kata menyerah, dan sekarang pun tidak.