Finding You, Again

Finding You, Again
Again 20 - Festival



"Bee, kita harus bergegas, jika tidak ingin terlambat"


Duke berteriak dari luar kamar, mengingatkan.


"Aku tahu!"


Lui dengan jengkel mengurai rambut berwarna hitam Mada, dan mengulangi kepangannya.


Tangannya ternyata tidak bisa diajak bekerja sama. Berkali-kali dia hanya menghasilkan kepangan kacau dengan panjang yang tidak sama.


"Zhena, bagaimana jika diikat saja?" Mada memutar badan, memandang Lui. Dia sudah bosan duduk.


"Oh...baiklah"


Lui menyerah. Dia ingin menata rambut Mada dengan kepangan, karena menurutnya Mada terlihat sangat cantik saat rambutnya dikepang. Tapi sepertinya dia harus berlatih lebih lama lagi untuk menjadi ahli.


Mada mengangguk puas, saat melihat hasil ikatan rambut Lui. menurutnya sudah cukup rapi. Dengan riang dia turun dari kursi, sambil menarik tangan Lui keluar kamar.


"Tunggu sebentar, Mada!"


Lui meraih teko di meja, dan menuangkan seluruh isinya, pada tanaman yang ada di sudut kamar.


Tanaman itu tumbuh subur, dengan daun lebat yang bersemburat kemerahan.


"Aku tidak pernah melihat tanaman seperti itu" kata Mada sambil memegang salah satu daunnya. "Apa pada musim semi nanti dia akan berbunga?


"Sayangnya tidak, Mada. Tanaman ini hanya berbunga sekali. Dan percayalah bunganya sangat indah. Berwarna biru dengan semburat putih yang cantik" jelas Lui sambil berjalan keluar kamar.


Mata Mada melebar, "Aku ingin melihatnya"


"Mungkin suatu saat nanti, jika kita beruntung" kata Lui tersenyum.


Lui membawa tanaman itu dari Alaska, setelah tahu Dihyan akan meninggalkannya begitu saja.


Menurut Dihyan, tanaman itu tidak lebih dari tumbuhan semak biasa, setelah Sorrel membagikan semua kekuatannya.


Tapi Lui tidak tega. Dengan izin Dihyan, Lui membawanya ke Blackmoon.


"Akhirnya!"


Duke tersenyum melihat mereka muncul di ruang tengah.


Dengan riang, Duke memuji bagaimana Lui terlihat cantik memakai gaun hijaunya. Sangat cocok dengan musim semi yang sebentar lagi datang.


Tidak lupa dia juga menyelipkan pujian untuk Mada, yang terlihat imut dengan baju merah panjangnya.


Lui yang sudah lebih kebal terhadap pujian Duke, hanya tersenyum. Wajahnya tidak lagi merona dengan liar.


Mereka terus berjalan sambil bergurau dengan Mada, menuju pusat kota, tempat diadakannya pesta.


Pesta itu diadakan untuk merayakan bagaimana Blackmoon lolos dari kehancuran, sekaligus sebagai ucapan perpisahan kepada tamu inhumane yang selama ini masih berada di Blackmoon.


Kebanyakan tamu inhumane yang masih ada di Blackmoon adalah werewolf dari berbagai macam pack. Dengan santai mereka membaur dengan warga pack dan membantu mereka mengurus segala kerepotan yang timbul setelah perang itu.


Dihyan menjalani perawatan beberapa hari di sini. Tapi dia pulih dengan sangat cepat, dan dengan terburu-buru, kembali ke Apolline.


Dia harus mengurus penobatannya sebagai pemimpin baru Apolline.


Dengan sangat terpaksa Dihyan meninggalkan pasukan imperfect yang masih terluka di rumah sakit pack. Tapi dia berjanji akan datang jika mereka siap pulang.


Oulam dan para vampire yang tersisa juga sempat tinggal selama beberapa hari. Setelah keadaannya membaik, Oulam berpamitan. Mereka saling berjanji untuk tetap menjaga persekutuan ini di masa depan.


Upacara pemakan dan hari berkabung berlangsung hampir sekitar sebulan. Karena banyaknya korban, Duke butuh waktu untuk mengatur pengiriman jenazah semua korban dari Quebec.


Bandara Quebec tidak selengang bandara Anchorage.


Kebanyakan dari korban meninggal masih berbentuk werewolf. Duke harus bekerja keras menyembunyikan hal itu.


Baru sekitar lima hari yang lalu akhirnya semua selesai.


Para korban yang ada di Rumah Sakit Monath maupun rumah sakit pack, sebagian besar sudah pulih, dan tinggal menunggu jadwal perpulangan mereka.


Mereka semua kini berada di Blackmoon. Baik werewolf maupun imperfect.


Dengan jumlah yang tidak seberapa. Duke mengatur agar semuanya diantar menggunakan jet Monath. Dengan keputusan itu, semua hal yang berkaitan dengan pasca perang telah selesai. Kehidupan Blackmoon akan berjalan normal lagi.


Pusat kota sudah meledak dalam keriaan saat mereka bertiga sampai di sana. Setelah membalas sapaan dari warga dengan ramah, Duke membawa mereka ke arah meja panjang.


Berbagai makanan di gelar begitu saja disana.


Nora sudah mendapat izin dari Alpha untuk mengosongkan seluruh isi ruang pendingin yang ada di Manor, masih ditambah dengan berbagai bahan makanan yang dikirimkan kemarin.


Dan Nora memanfaatkannya dengan sangat baik.


Meja panjang yang berjejer rapi, tampak sarat dengan berbagai jenis makanan yang sebagian besar terbuat dari daging.


Untuk alasan kepantasan dan kesehatan Nora menyediakan sepetak tempat untuk salad sayuran dan buah.


Tapi seperti biasa, meja itu sepi peminat. Tumpukan sayur dan buah, masih menggunung tinggi.


Malah beberapa anak-anak dengan terang-terangan mengambil butiran tomat utuh yang ada di sana, hanya untuk bermain lempar tangkap.


Mereka menyukai bagaimana tomat itu meledak di tangan saat mereka mencoba menangkapnya.


Tidak peduli noda merah di pakaian dan tubuh mereka, telah membuat mereka tampak seperti tukang jagal.


Mada langsung mengguncang tangan Duke dan Lui saat melihatnya. Meminta izin untuk bergabung.


"Baiklah, tapi jangan meninggalkan area pesta, Oke?" Duke mengacak rambut Mada dengan sayang.


Sementara Lui memejamkan mata menahan diri. Dia melihat salah satu anak berlumuran tomat berlari melewatinya. Menurutnya, bukan ide bagus jika Mada nantinya juga akan terlihat seperti itu.


Duke tersenyum melihat wajah tidak suka Lui.


"Sepertinya kau sudah beradaptasi menjadi seorang Ibu dengan sempurna" katanya, sambil menarik Lui ke arah meja yang berisi berbagai jenis steak hangat, dari segala macam bagian tubuh sapi.


Duke mengambil potongan steak, yang melihat dari besarnya, akan cukup untuk makan dua hari. Tapi tentu saja dia akan menghabiskan semuanya saat itu juga.


"Dan aku sangat heran bagaimana kau bisa hidup sebagai manusia tanpa membuat orang di sekelilingmu curiga!"


Mata Lui menancap pada bongkahan daging yang memenuhi piring Duke.


Duke tergelak, "Aku menahan diri saat berada di dunia manusia, Bee. Tentu saja aku tidak pernah makan dengan porsi sebanyak ini jika sedang bersama orang lain. Kau tahu itu"


Bee tersenyum, tentu saja dia menyadarinya. Duke tidak pernah makan berlebihan saat mereka makan di luar bersama. Bahkan mungkin ini pertama kalinya dia melihat Duke makan dengan porsi berlebihan.


"Lui!!"


Seperti biasa, Arana menyapa dengan nada tinggi, dan memeluk Lui dengan hangat


Lukanya telah sembuh total, dan selama ini, dia menikmati harinya di Blackmoon dengan bahagia, sambil menunggu Aygul pulih, lukanya lebih parah dari Arana.


Arana sudah menyeret Lui ke berbagai macam tempat yang ingin dikunjunginya, baik di Blackmoon maupun di sekitaran Kanada, begitu jadwal Lui kosong. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berjalan-jalan.


Jika selama ini Lui menganggap Jovi sangat bersemangat, maka dia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Arana.


Arana adalah Jovi setelah memakan sekantung permen manis dan sekotak gulali.


Di belakangnya, seperti Duke, perhatian Aygul sudah terfokus pada makanan yang digelar di meja. Dia juga mengambil porsi yang tak kalah besar dengan Duke. Aygul membutuhkan banyak energi untuk memulihkan diri.


"Siapa-----" Duke hampir saja menjatuhkan piringnya, saat tiba-tiba merasakan sihir pelindung terganggu.


Dia menoleh ke segala arah, dan mendapati rambut putih keperakan mencolok, muncul di sebelah patung serigala perak.


"Dihyan!!" Lui langsung melambai dan menghampirinya sambil tersenyum lebar.


"Hai, senang melihatmu terlihat gembira!" sapa Dihyan.


Lui mengurungkan niatnya memeluk Dihyan, bisa - bisa mood Duke untuk hari ini akan rusak.


Lui kadang masih kurang nyaman menghadapi sifat cemburu Duke, tapi dia mencoba untuk lebih mengerti, karena itu adalah sifat bawaannya Duke sebagai inhumane yang bertemu Dyad-nya.


Sebagai gantinya mereka berjabat tangan dengan canggung. Dihyan tertawa melihat sikap Lui.


"Arana!"


Dihyan menyapa Arana yang perhatiannya sudah teralihkan oleh permainan lempar bola salju warna-warni yang ramai diikuti oleh sebagian besar imperfect dan juga Aygul.


Arana hanya menjawab sapaan Dihyan dengan sembarangan, lalu berlalu menyusul Aygul.


"Tumbuh?"


Duke berjalan mendekat, bertanya sambil menunjuk tanduk Dihyan, yang sudah tumbuh beberapa senti dari saat terakhir mereka bertemu.


Dihyan mengangguk, "Aku cepat belajar" katanya.


Salah satu imperfect yang mengikuti permainan bola salju, melihat kedatangan Dihyan, langsung mendekat dengan tergopoh-gopoh.


Mereka kemudian berbicara pelan sambil mendekatkan kepala, untuk mengurangi riuh dari sekitar.


"Kau berencana mengantar semua imperfect dengan menggunakan pesawat?"


Dihyan bertanya pada Duke, setelah menerima laporan.


Duke mengangguk, " Kau punya ide lain yang lebih bagus? Atau kau sudah bisa membawa mereka semua ke Apolline?"


"Sayang sekali belum. Dan aku tidak punya ide lain. Saya akan sangat berterima kasih jika anda bersedia menyediakan akomodasi untuk kepulangan mereka"


"Tentu saja, tapi berhenti bersikap sangat sopan seperti itu dan nikmatilah pestanya!!"


Duke mengerutkan dahi, melihat sikap Dihyan yang tiba-tiba berubah santun.


"Ah...Maaf, aku masih terbawa suasana. Menjadi pemimpin sanctum adalah pekerjaan yang melelahkan, aku harus membuat laporan ke berbagai tempat kemarin. Dan tentu saja dengan sikap resmi"


Dihyan mengeluh sambil menggosok wajahnya lelah.


"Ah... ya, aku sangat mengerti hal itu"


Duke teringat bagaimana laporan panjang yang harus dilakukannya di depan para Elder, setelah perang itu selesai.


Detail yang diminta oleh mereka, membuat Duke merasa mengulangi lagi semua kejadian saat perang. Butuh dua hari bagi Duke untuk menyelesaikan tanya jawab dengan mereka.


Absennya El sekali lagi membawa bencana bagi Duke.


"Tapi kau harus memberitahu kemana tujuannya sekarang. Aku harus mempersiapkan dokumen penerbangan itu secepatnya" lanjut Duke, membahas pemulangan imperfect.


"London tentu saja" jawab Dihyan. terlihat terkejut Duke masih bertanya.


"London? Appoline berada di London?" Lui yang menyahut, tidak siap dengan fakta kejutan itu.


"Oscar belum bercerita? Appoline berada di tengah hutan Blubell"


Dihyan tersenyum melihat wajah terkejut Lui semain menjadi-jadi. "Kita bertetangga" tambah Dihyan.


"Kau bercanda?" Duke menghentikan kunyahannya dan meletakkan piring dagingnya di salah satu meja, dia memandang wajah Dihyan untuk memeriksa keseriusannya.


"Aku tidak bercanda" tegas Dihyan.


"Ada satu bagian hutan Blubell yang selalu hijau" Lui mengerutkan kening mengingat pemandangan hutan yang sering dia lihat dari tepi kolam renang.


"Apakah itu Appoline?"


"Benar" Dihyan mengangguk.


"Kemungkinan besar ibumu memilih tempat itu karena pengaruh Sorrel. Kau tahu dia selalu menyusun rencana dengan rapi. Dia selalu menginginkan Oscar berada di Appoline" tambah Dihyan.


Lui mengangguk-angguk. Dia mengerti, tapi masih tak habis pikir. Ternyata keberadaan inhumane tidak pernah jauh dari kehidupannya.


"Zhena...Zhena..." Mada menarik rok Lui pelan, membuyarkan percakapan mereka bertiga.


"Ada apa sayang?" Lui berjongkok untuk menyejajarkan pandangan dengan Mada.


"Kau bisa membekukan air mancur ini bukan? Mereka tidak percaya saat aku mengatakannya!!"


Mada mengadu dengan wajah cemberut, sambil menunjuk air mancur yang kini mengalir lancar setelah beberapa bulan membeku karena musim dingin.


Lui memandang gerombolan werewolf mungil yang sedang mencoba menghindari tatapan matanya. Mereka berdiri tidak jauh dari air mancur.


Da langsung panas mendengar nada kecewa Mada, tanpa ragu Lui menarik tongkatnya dengan sihir ruang, dan mengacungkannya ke arah kolam.


Dan air itu diam membeku hampir seketika.


Dengan wajah puas, Lui menyimpan tongkatnya kembali.


"Wwooooowwww........!!!!!" Gumaman kagum langsung terdengar dari gerombolan mungil itu. Sementara Mada sudah bertepuk tangan gembira.


"Kau terlalu memanjakannya, Bee" Duke berbisik di telinganya.


Mada juga terlihat tertarik padanya. Mata mada tidak lepas memandang tanduk di kepala Dihyan.


"Jangan bodoh!! Dia putri salah satu warrior yang tewas" Duke mendesis dengan mulut terkatup, agar Mada tidak mendengarnya dengan jelas.


"Oh... " Dihyan mengerti.


Seajaib apapun Lui, dia tidak akan mungkin 'menghasilkan' anak berumur enam tahun dalam waktu sebulan.


Duke tidak bisa membiarkan Mada tinggal seorang diri. Lyla ternyata tidak pernah menikah, ayah Mada adalah werewolf dari pack lain. Dan tidak ada yang tahu siapa dia.


Tanpa berpikir panjang, Duke membawanya tinggal di Manor. Dan tentu saja Lui lebih dari gembira saat tahu hal itu.


Mada sedikit sulit menerima kematian Lyla. Tapi kehadiran Lui dan Duke yang menghujaninya dengan kasih sayang membuatnya cepat pulih. Dia kini sudah bisa bermain gembira dengan teman-temannya lagi


"Kau sangat cantik!!" celetuk Mada, masih memandang Dihyan dengan mata berbinar kagum.


"Mungkin maksudmu tampan?" Dihyan terlihat sedikit kesal mendengar sebutan cantik, tapi dia masih bisa tersenyum.


Ketampanan khas elf milik Dihyan, terlihat cantik di mata Mada.


Duke menyamarkan tawanya menjadi batuk, sementara Lui membuang mukanya ke arah lain.


"Tidak, kau cantik. Rambut dan juga itu, sangat cantik!!"


Mada tidak mau disalahkan, dia menunjuk tanduk Dihyan dan mengulanginya.


"Mada benar, Dihyan, kau cantik sekali"


Lui yang sudah bisa memasang wajah datar, mengatakannya dengan nada serius.


"Dan Duke benar, kau terlalu memanjakannya!" Dihyan menggeram kesal, melihat Mada tersenyum puas karena Lui memihak padanya.


"Hei... hanya aku yang boleh mengkritiknya!" Duke langsung membela Lui.


"Dan kau memanjakannya!!" kata Dihyan pada Duke, sambil menunjuk Lui.


Duke mengangkat bahu, karena itu benar adanya.


"Paman...paman!! Bolehkan aku memegang rambutmu??" tanya Mada dengan sopan.


"Paman???!" Dihyan kembali tersenyum paksa, mendengar panggilan itu. Dia kesusahan mempertahankan wajah ramah, mendengar panggilan Mada.


Dengan penampilannya, dia jelas merasa belum pantas untuk dipanggil paman. Wajahnya tidak jauh berbeda dengan Duke, walaupun memang umur mereka terpaut 600 tahun.


Tapi rasa tidak suka itu, tidak menghentikannya untuk berbaik hati dan menunduk, menuruti permintaan Mada.


"Jangan!!" peringatan Lui terlambat.


Rambut perak Dihyan kini ternoda oleh remah-remah tomat yang berasal dari tangan Mada.


Dan Dihyan menyadarinya, saat tiba-tiba rambutnya terasa lengket.


Dengan menarik nafas panjang untuk menenangkan diri, Dihyan meraba rambutnya dan menyentuh sesuatu yang basah di sana. Lelehan jus tomat remuk juga mengotori tangannya sekarang.


"I'm really sorry" Lui berusaha terdengar serius saat mengatakannya.


Tapi dia gagal menahan tawa.


Duke tanpa berusaha menyembunyikannya, tertawa tergelak melihat wajah jengkel Dihyan.


Usaha Dihyan untuk membersihkan tomat itu, malah membuat semakin banyak rambutnya yang terkena.


Setelah tawanya reda, Lui menoleh pada Mada yang melihat semua kejadian itu dengan bingung.


"Mada, aku tahu kau tidak sengaja, tapi kau sudah mengotori rambut Paman Dihyan dengan tomat"


"Paman???" Dihyan memprotes panggilan itu lagi, tapi Lui tidak menghiraukannya.


Lui terus diam menunggu, sambil memandang Mada yang kini menunduk dan menggoyangkan kaki dengan gelisah.


"Maafkan aku, paman!" Mada akhirnya bersuara, sambil mendongak menatap Dihyan dengan mata berkaca-kaca.


"Gadis pintar" Duke sekali lagi mengacak rambut Mada, sementara Lui melihatnya dengan bangga.


Mada sejak awal memang gadis yang sopan. Lyla mendidiknya dengan sangat baik. Dia hanya perlu meneruskannya.


Dihyan hanya bisa tersenyum simpul, menerima permintaan maaf yang manis itu.


Mada mengulurkan tangannya pada Dihyan, "Aku akan mengantarmu ke Manor untuk membersihkan diri"


Mada menawarkan bantuan untuk menebus kesalahannya.


Tapi ,elihat tangannya yang ternyata masih kotor, Mada segera menariknya kembali, lalu menggosoknya pada bagian baju yang masih bersih. Setelah dirasa cukup lumayan, dia kembali mengulurkan tangannya.


"Baiklah----Baiklah"


Dihyan menyerah, dan meraih tangan mungil itu. Mereka berdua bergandengan berjalan menuju Manor.


"Paman, siapa namamu?"


"Dihyan... ,panggil aku Dihyan saja. Tanpa embel-embel yang lain"


"Apa itu 'embel-embel', paman?"


..................................


Duke tersenyum mendengar percakapan polos itu, sebelum akhirnya kedua sosok itu hilang di balik kerumunan.


"Dia gadis yang pintar dan sangat manis. Aku gembira melihatnya kembali ceria" bisik Lui, dengan terharu, dia juga sedang melihat ke arah mereka berdua.


Duke mengangguk setuju.


"Apakah itu tadi Dihyan?" suara menyahut dari belakang, membuat mereka menoleh.


El yang berjalan dengan tertatih menghampiri mereka.


Karena parahnya luka yang diderita El, satu bulan lebih berlalu, lukanya belum sembuh total. Dia sudah diizinkan keluar dari rumah sakit. Tapi masih dalam pantauan Dr. Sidra.


Duke mengangguk, "Dia ingin memastikan semua imperfect akan pulang dengan aman"


"Maaf, aku sama sekali tidak bisa membantumu di saat-saat sibuk" El terdengar sangat menyesal.


"Kau terluka parah El, kau harus fokus menyembuhkan diri. Dan jangan merasa bersalah, begitu kau sembuh, Monath sudah menantimu. Seema tidak sabar lagi menantikan kehadiranmu. Aku yakin kau akan menyumpah padaku, begitu tahu seberapa banyak hal yang harus kau urus saat itu"


Duke tertawa pelan, dan El hanya bisa meringis menahan tawa. Dadanya masih sakit jika dia tertawa.


Lui menyorongkan minuman yang baru saja diambilnya kepada mereka berdua. Mereka bertiga kemudian berjalan ke salah satu kursi panjang, yang disediakan di bawah pohon.


"Ahhh...." El duduk dengan lega. Kakinya yang patah di beberapa bagian sudah tersambung. Tapi ototnya yang terkoyak masih perlu mendapatkan pelatihan sebelum bisa normal kembali.


Duke sedikit bergeser untuk memberi ruang lebih pada El agar lebih nyaman. Lui dengan sukarela mengikutinya bergeser.


"Roan tidak kembali hari ini?"


"Jangan mulai membicarakannya!!" Duke dengan cepat menyahut jengkel.


Roan nyaris tidak pernah berada di pack setelah lukanya sembuh. Dia tidak mempedulikan bagaimana Duke terkubur oleh tanggung jawabnya menjadi Alpha.


Roan mungkin tidak akan terlalu banyak membantu seperti El, tapi setidaknya Duke bisa mendelegasikan beberapa pekerjaan mudah jika dia ada.


Duke bisa memaksanya kembali, tapi tidak melakukannya. Bagaimanapun Roan membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Kematian Rex tentu membuatnya goyah.


"Dimana dia?"


"Lykos" sahut Lui.


"Dan aku sangat ingin tahu bagaimana perkembangan hubungan mereka berdua. Tapi tidak satupun dari mereka mau bercerita, bahkan Charlie juga tidak. Tapi itu karena dia memang tidak tahu apa-apa tentang mereka"


Dengan bersemangat Lui menumpahkan semua uneg-unegnya.


El dan Duke tersenyum simpul. Mereka berdua telah mengakui, diantara mereka bertiga, Roan memiliki pengendalian mindlink yang paling bagus.


Kehebatannya dalam menjaga rahasia status hubungannya dengan Oscar, patut di-apresiasi.


"Ternyata Oscar yang bisa membuat hatinya melunak. Aku kadang masih tidak percaya" kata El sambil menggelengkan kepala.


"Oscar mungkin terlihat bersifat sangat tegas. Tapi satu kelemahannya adalah wanita. Aku sangat ingin tahu bagaimana mereka menjalani harinya. Pasti akan sangat menarik!!"


Lui tidak bisa menyembunyikan senyum puas saat membayangkan penderitaan Oscar di bawah jajahan Roan. Oscar mendapatkan balasan setimpal.


Lui sedikit kesal pada Oscar, karena dua hal.


Pertama, karena dia merahasiakan ketertarikannya pada Roan.


Lui tentu saja merasa gembira setelah mengetahui semuanya, tapi bukan berarti dia tak kesal, dengan kebohongan mereka.


Alasan kedua, Lui akhirnya tahu rahasia besar yang disembunyikan Oscar soal ayahnya.


Dia masih mengingat perkataan terakhir Sorrel, dan memutuskan untuk bertanya pada Oscar.


Pada awalnya, Oscar menolak, tapi untuk sekali itu, Lui merengek padanya setelah sekian lama. Dan tentu saja, Oscar luluh.


Lui terpukul mendengar cerita lengkap Oscar soal sikap ayahnya, apalagi ditambah dengan berita kematian Mark. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak marah pada Oscar.


Lui meninggalkan London hari itu juga.


Tapi setelah menjalani minggu yang galau, dan banyak nasehat dari Duke. Lui akhirnya luluh. Dia setuju dengan perkataan Sorrel, Oscar melakukan semua itu karena dia terlalu menyayanginya.


Lui sudah kembali berdamai dengan Oscar, tapi sedikit penderitaan dari Roan akan membuat rasa marah Lui pada Oscar benar-benar terobati.


"Baiklah, kalian nikmatilah pesta ini. Aku harus melatih kakiku lagi"


El beranjak setelah minumannya licin tandas.


"Sure, sering-seringlah datang ke Manor, rumah itu terlalu besar untuk kami tempati"


El melambai dan tersenyum mendengarnya. Dia tahu Duke masih belum terbiasa dengan absen-nya Myra di sana.


Lui tentu saja selalu menghiburnya, tapi butuh waktu sedikit lama, bagi Duke untuk membiasakan diri.


Duke juga berusaha menjalankan pesan Myra dengan sebaik-baiknya untuk tidak bersedih dengan berlebihan.


Lui menggenggam tangan Duke dengan erat, dia kembali khawatir karena merasakan bagaimana lamunan Duke membawanya ke ingatan tentang Myra. Mata Duke meredup saat hal itu terjadi, Lui mengenalinya dengan mudah.


Duke tersenyum, kemudian mengelus pipi Lui dengan lembut. "Aku sudah mengatakan agar kau tidak perlu cemas. Aku hanya butuh sedikit waktu untuk terbiasa"


"Maaf"


Lui otomatis meminta maaf, karena melupakan permintaan Duke, yaitu untuk tidak mencemaskannya dengan berlebihan.


Tanpa permisi, Duke meraih dagu Lui dan mencium bibirnya.


Duke dengan mudah terhanyut oleh kelembutan bibir Lui dan aromanya yang menyegarkan. Dan tentu saja ciuman itu berlangsung lebih lama dari apa yang direncanakannya.


"Aku bahkan tidak meminta maaf soal ingatanku yang hilang!"


Lui memprotes sambil melihat ke sekeliling, begitu Duke melepasnya. Lalu bersyukur tidak ada yang memperhatikan perbuatan Duke. Semuanya sedang sibuk berpesta.


"Dan aku tidak pernah mengatakan hanya akan menciummu jika kau meminta maaf soal hilangnya ingatan itu"


Duke tertawa riang dengan nada penuh kemenangan, karena Lui tidak bisa membantah.


Apalagi setelah sekian lama, ia berhasil membuat wajah Lui memerah lagi. Dia masih sangat menikmatinya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


THE END