Finding You, Again

Finding You, Again
Again 10 - Ice Cold



Lui mengancingkan mantel dengan cermat, tebalnya salju di halaman membuatnya bisa menduga seberapa dingin suhu diluar. Sementara Duke sudah berada di luar kabin, bersiap untuk bertransformasi.


Mereka akan kembali ke Manor dengan berlari sebagai serigala.


"I'm ready" Lui keluar dari pondok, dan mengunci pintu.


Perbuatan yang tidak terlalu perlu sebenarnya. Karena tidak akan ada yang berani memasuki kabin dengan aroma Alpha setiap sudutnya.


Lagipula Duke akan segera tahu jika ada yang masuk ke dalam kabin dalam waktu dua detik.


Dengan diiringi helaan nafas Duke memanggil serigalanya.


Lui tidak lagi berkedip melihat pemandangan itu. Dia tidak merasakan apapun selain takjub, setelah ingatannya kembali.


Kebodohannya menggantung di depan mata, mengingat rasa takutnya kemarin dulu. Sikapnya itu sangat menggelikan.


"Bee, ayo! Apakah kau melamun" Duke memberi sundulan lembut di pipi Lui, karena dia sama sekali tidak bergerak.


Dengan sentakan. Lui terjaga dari lamunannya.


"Apa?...... Ayo, ya tentu saja. Kita harus segera berangkat"


Dengan tergagap Lui melangkah menaiki punggung berbulu Duke. Tanpa membuang waktu, serigala gelap itu berlari di atas salju.


Di dalam kepalanya, Duke tertawa melihat wajah terkejut Lui, yang tentu saja menurutnya tetap menawan.


"Apa kau melamunkan kegiatan kita tadi malam Bee?"


Duke sangat berharap bisa mengucapkan hal itu, setidaknya dia bisa melihat lagi wajah memerah Lui, yang menjadi favoritnya.


"Aku tidak memikirkan kejadian tadi malam" Lui berseru dengan kesal, dia bersusah payah mencoba menyingkirkan ingatan itu agar bisa berkonsentrasi pada hal lain. Tapi Duke malah menyebutnya dengan enteng.


Sedetik kemudian langkah Duke berhenti dengan tiba-tiba. Lui sampai harus mencengkeram bulu Duke dengan kencang, untuk mencegahnya terlempar.


"Ada apa Pace? Apa ada sesuatu yang datang?"


Lui memandang ke sekeliling dengan panik.


"Bee, apa kau bisa mendengarku?"


Duke berkata dengan hati-hati, sangat berharap perkataan Lui tadi bukan mimpi liarnya yang tiba-tiba terwujud.


"Tentu saja bisa, apa maksudmu?"


Lui merendahkan badannya mendekati kepala Duke, dan kemudian terkesiap kencang,


"Aku bisa mendengarmu Pace!!" serunya terkejut. Sambil menutup mulut. Dia baru saja mendengar suara Duke di kepalanya!


Ini mustahil, batin Lui sekarang dipenuhi dengan kebingungan.


"Aku mendengarmu dengan sangat jelas Bee, ini bukan hal yang mustahil" 


Duke juga mendengar apa yang ada di kepala Lui.


Ini menakjubkan! Duke menundukkan tubuhnya agar Lui bisa turun.


Lui berdiri masih dengan tangan menutup mulutnya.


"Kau juga bisa mendengar....."


Lui tidak bisa meneruskan kalimatnya, tapi jarinya menunjuk ke arah kepala, sebagai isyarat jika Duke juga mendengar apa yang ada di kepalanya.


"Ya Bee, aku juga mendengarnya" 


Kegembiraan Duke mengalahkan perasaan heran dan apapun yang mengikutinya.


Lui yang tidak siap dengan serangan emosi dari Duke, meremas dada, karena perasaannya menghangat secara tiba-tiba.


"You're.... happy" Lui terbata, tapi berhasil menerjemahkan perasaan yang menyerbunya.


"Yes, I'm really happy Bee. Aku bisa berbicara dengan bebas denganmu sebagai serigala. Tentu saja aku bahagia". 


Duke menyundulkan kepala ke dahi Lui, dan menghadiahinya jilatan kecil di bibir.


Jika bisa tentu saja Duke ingin ******* bibir itu sekarang juga. Dengan ini, dia tidak perlu bersusah payah memberi isyarat lagi.


"Pace!" Lui berseru memperingatkan, karena bayangan keinginan Duke untuk menciumnya tercetak dengan nyata di benak Lui.


Belum lagi setelah itu, dengan jelas Duke memutar kembali adegan kejadian tadi malam, dengan detail yang mengagumkan.


"Pace!!' Lui berseru dengan lebih kencang, sambil menutup wajahnya yang sudah amat sangat memerah.


"Maaf, maafkan aku. Aku seharusnya berusaha memblokirnya. Tunggu sebentar!" 


Duke tertawa terbahak melihat reaksi Lui, tapi dia segera mengontrol pikiran, dengan cara mengingat tentang rencana peperangan.


Hal itu sangat manjur mengalihkan pikiran. Lui menurunkan tangannya, matanya masih terpejam. Dia sedang menyimak bagaimana benak Duke menjabarkan rencana Abel.


Itu lebih baik, batin Lui dengan lega.


"Sorry, again" Duke berkata dengan setengah hati, karena sebenarnya dia sangat menikmati reaksi Lui.


Lui hanya bisa memutar bola mata mendengar pikiran itu.


Duke menurunkan badannya lagi dan Lui melompat naik.


"Ceritakan soal perang itu lagi" pinta Lui, melihat penjelasan di kepala Duke ternyata lebih menarik, dari pada mendengar ceritanya.


Duke meluluskan permintaan itu dengan seketika, seiring kakinya kembali memacu dengan kecepatan penuh ke arah Manor.


 


 


\~\~\~\~\~\~\~IlI\~\~\~\~\~\~


 


 


Duke berhenti di ruang depan Manor dan menurunkan Lui di sana, selain warrior penjaga dan omega, Manor tampak sepi.


Tapi dari telinganya yang tajam, Duke bisa mendengar suara dari lapangan barat Manor. Mereka pasti sedang berlatih seperti biasa.


"Tunggu sebentar!" Duke memasuki ruangan untuk melepas transformasinya, dan memakai baju.


Lui mengangguk patuh, sambil membiasakan diri menerima penghormatan dari salah satu omega yang berjalan keluar dari Manor.


Dia masih tidak suka dengan sopan santun kaku itu, tapi dia akan belajar. Lui memberi omega itu senyuman ramah dan ucapan selamat pagi.


Omega itu sedikit terkejut mendengar sapaan hangat Zhena-nya yang baru, tapi kemudian tersenyum senang.


Zhena Eluira terlihat sama ramahnya dengan Zhena Myra, dan itu hal yang menggembirakan bagi mereka. Zhena yang bertabiat buruk, hanya akan membuat kehidupan mereka sebagai omega sangat menderita.


Maka dengan senyum lebar yang tersungging, omega itu berjalan keluar meneruskan pekerjaannya. Sedangkan Lui sangat berharap dia tidak memuat kesalahan, karena hari pertamanya sebagai Zhena telah resmi dimulai.


"Ayo, kita harus bertemu Sorrel, ada beberapa hal yang harus aku tanyakan padanya" Duke berkata sambil menariknya ke arah lapangan.


Baiklah, Lui menjawab dalam hati.


"Bee, aku tidak akan bisa mendengar suaramu dalam sosok manusia" Duke mengingatkan, sambil tersenyum geli.


Dia melihat bagaimana Lui hanya berlalu tanpa suara.


"Ah.... benar. Tentu saja" Lui membenarkan ucapan Duke sambil terkekeh. Hal itu hanya akan terjadi pada makhluk seperti Sorrel.


Lapangan itu ramai seperti biasa. Beberapa werewolf sedang berlatih bersama Roan dan El, dengan Sorrel dan Aygul sebagai penonton.


Melihat kedatangan Duke, Aygul langsung berdiri menghampirinya, dengan senyum merekah.


"Duke? Aku kira kau akan mengurung Lui selama beberapa hari. Apa kau kurang sehat sehingga tidak menikmati bulan madumu?" Aygul menyapanya di pinggir lapangan, dengan nada heran yang dibuat-buat.


Aygul telah mencium kedatangannya sejak beberapa menit yang lalu, mustahil dia terkejut.


"Satu lagi lelucon tentang kehidupan s*x-ku, maka impianmu tentang pertarungan serigala akan segera terwujud" sergah Duke, yang malah membuat senyuman Aygul semakin lebar.


"Really tempting" katanya sambil menggosokkan tangan dengan bersemangat.


"Bee, perkenalkan. Ini adalah Aygul Sepehr. Alpha dari pack Badira" Duke memperkenalkan mereka dengan nada resmi.


Lui mengenali wajah Aygul dari ingatan Duke, dia tahu bahwa Duke menyukai Aygul. Sikap galaknya tadi hanyalah lelucon antar teman.


"Eluira Delmora..eh.. maksud saya Eluira Theobald" Lui tergagap mengingat nama barunya, dia harus membiasakan diri.


Aygul tertawa melihat Duke yang kini telah mengerutkan kening, mendengar kesalahan Lui.


"Senang bertemu anda Zhena Eluira, istri saya sudah sangat ingin berkenalan dengan anda" Aygul menyapanya dengan hangat setelah tawanya reda.


"Sayang sekali Myra telah membawanya ke salon sejak pagi" lanjutnya.


"Saya juga senang bertemu anda Alpha Sepehr, dan saya juga akan gembira jika bisa berkenalan dengan istri anda"


Kali ini Lui membawa diri dengan sopan santun tanpa cela.


Mungkin Lui tidak menyukai segala sikap sopan santun seperti itu. Tapi bertahun-tahun berada dalam didikan tangan besi Charlie, dia sebenarnya sangat lihai dalam sopan santun berdiplomasi.


"Tidak perlu melakukan penghormatan yang berlebihan padanya, Bee"  Duke mengatakannya dengan pose berbisik di telinga Lui, tapi dengan volume suara yang biasa, sehingga Aygul bisa mendengar dengan sangat jelas.


Aygul langsung tersenyum sambil mengangguk setuju, "Duke benar Lui, dan lagi pula aku sudah merasa sangat akrab denganmu. Kita belum pernah bertemu, tapi aku sudah mendengar namamu mungkin ratusan kali beberapa hari ini"


"Ah.. aku tadi juga mengenalmu dari ingatan Duke. Dia menyimpan banyak sekali memori tentangmu" jelas Lui, tidak mau kalah.


Aygul langsung melangkah mendekati Lui dengan tertarik.


"Kau melihatku? di kepalanya?" tanyanya sambil menunjuk Duke. Lui mengangguk.


"Bagaimana diriku dalam ingatannya? Apakah dia menyukaiku" Aygul bertanya tanpa jeda, membuat Lui mengangguk kembali tanpa banyak berpikir.


"I'm not!!" Duke menyahut galak, melihat anggukan Lui.


Tapi Aygul sudah tertawa puas melihat jawaban Lui. "Oh.. aku menyukai istrimu Duke, dia polos sekali"


Jengkel melihat tingkah Aygul, Duke menarik Lui menjauh. Menurut Duke, berdekatan dengan Aygul akan membuatnya tertular penyakit abnormal.


Tiga orang berjalan dari arah lapangan mendekati mereka berdua, itu adalah Roan, El dan Sorrel.


"Aku akan menyusul Arana ke salon" Aygul segera berpamitan ketika melihat ketiga sosok itu mendekat, dia berlari kecil keluar dari lingkungan Manor.


Sekarang perhatian Lui telah teralihkan oleh Sorrel yang masih terasa ajaib di matanya. Bagaimana makhluk seperti itu adalah kakek buyutnya?


"Senang melihat kalian bersama. Pemandangan ini membuatku sangat gembira" Sorrel menyapa Lui dengan lambaian tangan.


Duke hanya mendengus mendengar perkataan Sorrel.


"Aku senang akhirnya bisa melihatmu berdiri di atas kedua kaki, Lui" Roan memeluk Lui dengan hangat dan mengusap punggungnya lembut.


"Terima kasih" Lui membalas pelukan tulus itu dengan gembira.


El tentu saja tidak berusaha memeluk Lui, karena ada kemungkinan Duke akan membunuhnya.


Maka dia hanya mengangguk sambil tersenyum lebar pada Lui, yang juga dibalas Lui dengan anggukan dan tawa senang.


"Bagaimana kalau kita berbincang di teras? Aku meninggalkan minumanku disana. Aku tahu kalian menginginkan penjelasan" Sorrel tiba-tiba menyahut.


Tanpa menunggu persetujuan yang lain, Sorrel mulai berjalan.


Mereka akhirnya mengikutinya menuju teras kecil di samping Manor, yang berbatasan langsung dengan taman yang sekarang tertutup salju tebal.


"Maksudmu 'kau bisa mendengar'" Duke mengoreksi ucapan Sorrel tadi, yang hanya disambut senyum oleh Sorrel.


"Oh.. " Lui berseru karena baru teringat bagian cerita Duke, dimana Sorrel bisa membaca pikiran.


Lui sangat berharap dia tidak memikirkan sesuatu yang aneh sedari tadi.


"Jangan khawatir Lui, benakmu adalah pikiran paling polos yang pernah aku baca" Sorrel sekarang mengelus pundak Lui dengan lembut.


Bisa terlihat Sorrel sangat peduli dengan Lui, mengesampingkan fakta mereka baru bertemu beberapa hari yang lalu. Oscar mengatakan hal yang benar, ketika menyebut Sorrel tidak pernah membedakan imperfect dan elf biasa.


Sementara Lui hanya bisa meringis mendengar perkataan Sorrel, bingung karena tidak tahu perkataannya itu adalah pujian atau bukan.


Karena ucapannya seperti mengatakan jika pikiran Lui sangat 'sederhana'.


"Itu pujian Lui, kau benar-benar makhluk yang polos dan manis" Sorrel tersenyum sambil duduk, meraih cangkirnya yang berisi susu.


"Terima kasih" Lui menunduk mal, sambil duduk di sebelah Duke.


Roan dan El mengikuti mereka, tanpa basi-basi meraih camilan dari atas meja. Latihan yang berat membuat mereka lapar.


"Apakah Dihyan berada di perpustakaan?" tanya Duke. Jika tidak berada di sekitar Sorrel, biasanya itu berarti dia berada di perpustakaan.


"Tidak, dia sudah kembali ke Apolline. Kekuatannya sudah pulih dan cukup kuat untuk kembali ke sana" jawab Sorrel.


"Kau tidak ikut?" tanya Duke lagi, dengan penuh harap.


Sorrel kembali terkekeh "Dan meninggalkanmu dengan berjuta tanya yang tidak terjawab? Ayolah---aku tahu kau masih mempunyai pertanyaan untukku" katanya, penuh dengan nada kemenangan.


Duke yang tidak punya bantahan pintar, hanya bisa mendengus jengkel.


"Insignia Lui berbeda karena kau yang memberikannya Duke" ucap Sorrel setelah menyesap sedikit minumannya.


Dia menjawab pertanyaan utama yang ada di kepala Duke. Lui mengernyit bingung, tapi memutuskan untuk mendengar lebih lanjut sebelum bertanya.


"Insignia yang ada di dadamu, adalah tanda pengikatan Lui atas dirimu. Karena itu berwarna biru dengan corak hitam. Dia menandaimu dengan kekuatan elf, untuk corak hitamnya tentu saja karena kekuatannya bercampur dengan darah Alpha Blackmoon"


"Sedangkan pada tubuh Lui, kau yang memberikannya sebagai tanda Zhena Blackmoon. Tentu saja akan berwarna hitam, corak biru itu muncul karena darah Elf yang ada di tubuhnya. Lingkaran merah itu adalah mantra pengikat terakhir agar tubuh Lui bisa menerima darah Elf-nya dengan bantuan darah Alpha milikmu. Sihir yang sulit, tapi berhasil" jelas Sorrel panjang lebar.


"Aku bisa mendengar Duke ketika dia menjadi serigala" Lui mengutarakan hal yang paling membuatnya penasaran.


Roan menyemburkan sedikit tehnya karena terkejut, yang segera membuat El memberinya tatapan mencela.


"Kau apa?" Roan `bertanya heran.


"Aku sudah bisa menduga hal itu akan terjadi, karena itu aku harus menunggu Lui mengingat Duke dengan utuh, sebelum mengikat kalian dengan mantra itu kemarin. Aku tidak yakin Lui akan sanggup menanggung beban ingatan itu jika kalian terhubung dengan mindlink secara tiba-tiba"


Sorrel menuangkan susu hangat ke dalam cangkirnya lagi.


Sangat rapi, Duke membatin. Dia mengakui Sorrel menguasai ilmu sihir dalam level ahli yang sangat jauh dari Alva.


"Oh terima kasih atas pujiannya" Sorrel menunduk dengan wajah malu, yang di buat-buat.


Duke mendengus sebal, sadar Sorrel mendengar kata-kata di kepalanya.


"Satu kekuranganmu, kau sangat menyebalkan!" kata Duke terang-terangan.


El menatap Duke dengan ngeri karena ia baru saja menghina seorang Raja Elf.


Tapi Sorrel justru tertawa semakin keras sekarang.


"Jangan khawatir Eldred, jika tadi Lui adalah pikiran paling polos yang pernah aku baca, maka Duke adalah pikiran paling jujur yang pernah aku temui. Aku menyukainya" kata Sorrel, membuat El salah tingkah.


Percakapan satu arah yang dilakukan Sorrel juga bukan favoritnya.


Satu omega berlari menghampiri meja mereka kemudian menunduk dalam-dalam dihadapan Duke.


"Para Elder ingin bertemu Alpha" cicitnya dengan suara sedikit bergetar.


"Apa lagi yang diinginkan mereka?" Duke mendesah malas.


"Tentu saja ingin tahu tentang bagaimana hasil dari pertemuan itu. Uncle Rex tidak punya waktu untuk kembali ke sini, setelah kau menyuruhnya untuk menunda penyerahan jabatan padaku. Dan Aunt Myra sangat sibuk menjamu tamu" jelasnya, melihat Duke ingin memprotes.


Dan sangat tahu bantahan apa yang akan dilontarkan oleh Duke.


"Baiklah..." Duke bangun dari kursi dengan malas.


" Ehmmm..." Dia memandang dengan ragu rombongan yang akan tersisa menemani Lui, seorang Elf eksentrik dan siewolf yang sedikit psikopat.


Bukan pilihan yang menyenangkan.


"Oww.. jangan terlalu khawatir seperti itu Duke, Lui akan baik-baik saja bersama kami" Sorrel tersenyum meyakinkan, yang ditanggapi dingin oleh Duke.


Tapi El sudah mendecak sebagai pertanda waktu sudah sangat mendesak.


"Pergilah Pace, aku akan baik-baik saja" Lui menenangkan Duke dengan elusan tangannya pelan.


Lui sudah terbiasa dengan sikap Duke yang overprotektif. Bagi Lui, ini adalah lagu lama.


Mendengar perkataan Lui, Duke akhirnya bangkit dan berjalan memasuki Manor.


"Fiuhh... Sifat paranoidnya semakin menggila ternyata" Roan mengunyah biskuit di depannya dengan gemas melihat Duke.


"Dengan semua yang dialaminya sebelum ini, aku tidak akan heran" kata Sorrel dengan nada penuh pengertian.


Hal-hal yang dibacanya dari benak Duke sebagian besar tidak terlalu menyenangkan.


"Dan kau nona!" Sorrel menunjuk Roan dengan jarinya yang kurus.


"Kurangi mengumpat dalam kepalamu, aku sangat tahu hal apa yang kau coba sembunyikan. Percayalah, aku tidak akan mengatakan apapun pada siapapun" lanjutnya sambil mengerutkan dahi.


Suara umpatan Roan pasti sangat lantang terdengar olehnya.


Lui memandang Roan dengan wajah tertarik sekarang. Hal apa yang di sembunyikan Roan?.


Wajah Roan memerah mendengar penuturan Sorrel. Dan itu mengejutkan, tidak seperti Lui, wajah Roan biasanya hanya memerah saat dia marah.


Tapi saat ini jelas Roan sedang menanggung malu karena Sorrel membaca benaknya.


"Jangan mengatakan hal apapun pada Duke" Roan memohon dengan sedikit nada mengancam pada Lui.


Lui akhirnya mengangguk walaupun dia tidak tahu, bagaimana cara mengatur agar Duke tidak melihat kejadian ini saat nanti bertransformasi.


Mindlink adalah hal favorit Lui dari semua yang terjadi pada dirinya.


Seperti menggunakan telepon tanpa perlu membawanya kemanapun. Dengan sifat Lui yang hampir selalu melupakan ponselnya, mindlink adalah kepraktisan yang tiada duanya.


Tapi beberapa detik kemudian pemandangan aneh terjadi di depannya. Lebih aneh dari sekedar keberadaan Sorrel, yaitu Sorrel menarik ponsel dari dalam jubahnya dan menjawab telepon tanpa harus menempelkannya ke telinga atau mengaktifkan fitur loudspeaker.


Dia hanya memegangnya di depan wajah.


"Abel?" Sorrel menjawab, dan kemudian mendengarkan dengan seksama suara yang di keluarkan Abel.


Lui tidak bisa menangkap kata-kata yang keluar dari sana, tapi Roan mengangguk-angguk mengerti.


Beberapa menit setelahnya, Lui hanya bisa menganga melihat pemandangan yang janggal itu. Dia tidak pernah bisa membayangkan perpaduan antara Elf dan ponsel, atau lebih tepatnya bagaimana seorang Elf membutuhkan ponsel.


Sorrel menyelesaikan panggilan itu dan kemudian berdiri.


"Di mana Duke melakukan pertemuannya?"


Roan menjawab dengan jari telunjuk mengarah ke pintu besar Manor. "Ruang Assembly, bagian paling terdepan Manor".


Sorrel mengangguk dan memberi senyuman sopan pada Roan sebagai ucapan terima kasih. Kemudian menoleh pada Lui.


 


"Aku membutuhkan ponsel karena Abel berada ratusan kilo dari sini. Kemampuanku tidak akan bisa mencapainya" jelas Sorrel dengan baik hati menjawab keheranan yang ada di kepala Lui.


"Oooh..." Lui mengatupkan bibirnya. Sorrel tersenyum sebelum akhirnya berpamitan dan berjalan menuju Manor.


"Apakah semua keluargamu sangat unik seperti itu?" Roan memandang Sorrel yang telah menjauh sambil menggelengkan kepala.


"Mungkin, tapi mereka semua baik" kata Lui.


Menurut Lui, Oscar bisa dikatakan juga sedikit aneh. Dia terlalu sempurna. Tampan dengan otak yang cerdas, dan juga sifat yang baik. Kombinasi seperti itu tak boleh hanya dimiliki oleh satu orang.


Seperti sudah diatur, Arana dan Kamaria muncul sambil berjalan pelan dari gerbang Manor.


Roan mendengus jengkel. Dia tidak keberatan dengan Arana, tapi Kamaria adalah kabar buruk.


El sampai harus berulang kali memperingatkan, agar Roan tidak bersikap kasar, karena bagaimanapun, Kamaria adalah calon Alpha.


"Kemana Aunt Myra dan suamimu?" tanya Roan pada Arana.


"Myra tadi terburu-buru memasuki Manor entah kenapa. Sedangkan Aygul, dia kembali ke lapangan" jawab Arana dengan mata tidak sabar memandang sosok Lui yang selama ini membuatnya penasaran.


"Arana, ini adalah Eluira Theobald, Zhena dari Blackmoon. Dan Lui, ini Arana, Zhena Badira" Roan mengakhiri rasa penasaran Arana dengan perkenalan itu.


Lui bangun dan mengulurkan tangan dengan sopan, tapi Arana justru menarik tangan itu, dan memeluknya erat sambil berseru senang.


"Oh.... aku gembira sekali akhirnya bisa bertemu denganmu. Sejak pertama kali Duke mengatakan dia menikah dengan manusia, aku sudah tidak sabar ingin melihatmu. Sekarang lebih baik lagi karena ternyata kau keturunan elf. Aku semakin penasaran. Dan aku sangat menyukai aroma kopi dan coklat milikmu"


Arana mengucapkan kalimat itu dengan sangat bersemangat, membuat Lui kebingungan. Tapi antusiasme Arana menular, Lui tersenyum lebar menyambut pelukan itu.


"Aku juga senang bertemu denganmu Arana, aku harap kita bisa berteman" setelah Arana melepas pelukannya,


Lui akhirnya bisa menjawab perkenalan ajaib itu.


Dia tahu hubungannya dengan Duke bisa dibilang nyaris tabu, apalagi jika mengingat reaksi Faust saat mereka berkenalan.


Dan sekarang dia bertemu seseorang yang menanggapi positif soal hubungan mereka, membuatnya gembira.


Soal aroma kopi dan coklat, Lui yang kehilangan ingatan akan bingung, tapi kini dia tahu benar apa yang dimaksud oleh Arana. Duke sudah mengatakan hal itu padanya ratusan kali.


Kamaria bergerak maju melihat Lui dengan lebih seksama. Dia jelas sangat heran, kenapa Duke memilih Zhena mungil seperti Lui. Penampilan Lui tidak membuatnya terkesan.


"Dan ini adalah Beta Kamaria dari Levana" Roan melanjutkan perkenalan itu dengan malas.


"Senang berkenalan dengan anda Beta Kamaria, saya Eluira Theobald" Lui mengulurkan tangan dan berharap mendapat sambutan yang lebih normal.


Tapi tentu saja tidak!


Kamaria tidak menghiraukan uluran tangan Lui. Dia malah melihat Lui dengan mata menyipit, lalu mengendus udara mencoba mencium aromanya.


Kamaria sedang menilai apa yang ada dalam diri Lui, sehingga Duke tertarik padanya. Dia juga sedang mencari aroma yang sedari tadi diributkan oleh Arana. Namun dia hanya mencium bau manusia biasa, tidak ada aroma elf seperti Sorrel maupun kopi dan cokelat.


"Kau tidak akan bisa mencium apapun, karena kau werewolf normal. Arana adalah Dyad, hidungnya lebih tajam, walaupun tidak setajamm Duke" jelas Roan dengan ketus.


Dia jengkel melihat bagaimana Lui menurunkan tangan dengan kecewa, karena Kamaria tidak menyambutnya.


Arana mengangguk membenarkan penjelasan Roan. Kemampuan hidung Dyad meningkat tajam hingga bisa mengenali aroma makhluk dengan lebih spesifik.


Werewolves biasa berhidung lebih tajam dari manusia, tapi tak akan mengenali makhluk dengan bau seperti Duke, Arana maupun Aygul. Sebagai keturunan Dyad kemampuan hidung Duke, juga melebihi mereka berdua.


"Aku tidak mengerti tentang omong kosong Dyad, yang jelas aku mempertanyakan selera Duke dalam memilih Zhena" Senyum sinis tersungging di bibir Kamaria saat mengucapkan itu.


"Heh.... Jadi maksudmu\, Duke harus memilih j*l*ng sepertimu? Jangan bermimpi!!" Habis sudah kesabaran Roan.


Mendengar perkataan Roan, Lui akhirnya mengerti situasinya secara menyeluruh.


Ingatan tentang Kamaria tidak terlalu signifikan di kepala Duke, tapi sekelebat bayangan bagaimana Duke merasa terganggu dengan keberadaan Kamaria, menjadi masuk akal.


"Watch your mouth b*tch!!"


Kamaria melotot tajam pada Roan, dan hampir seketika Roan ingin melompat menerjang Kamaria.


Tapi uluran tangan Lui mencegahnya.


"Dan kenapa selera Duke harus dipertanyakan?" Dengan tenang Lui bertanya.


Dia tentu saja tersinggung mendengar perkataan Kamaria, tapi Lui bukan orang yang mudah terbawa emosi seperti Roan.


"Dia bisa memilih siewolf terkuat sehingga keturunannya akan menjadi werewolf paling perkasa, tapi tidak. Dia malah memilih manusia" Matanya memandang Lui dengan remeh.


"Kabar untukmu, aku bukan manusia" Lui membalas dengan baik hati.


"Haah... kau adalah makhluk dengan sebutan imperfect. Jangan katakan kau bangga dengan sebutan cacat itu?"


Kamaria bertanya pada Dihyan soal Lui kemarin. Dan Dihyan dengan senang hati menjelaskan tanpa tahu tujuan Kamaria bertanya.


"Ya, aku bangga. Ketidaksempurnaan itu yang membuat Duke terikat padaku. Sayang sekali kau sangat sempurna hingga Duke sama sekali tidak tertarik, padahal kau sudah berusaha dengan sangat keras"


Lui membalas dengan nada ramah, yang justru terasa lebih menyakitkan.


Arana mendengus menahan tawa mendengar jawaban Lui, sedangkan Roan melipat tangan di dada dengan puas.


"Dia hanya belum pernah bertemu denganku. Aku rasa ceritanya akan berbeda jika ia bertemu denganku terlebih dahulu" Kamaria mulai menaikkan volume suaranya, karena Lui mengusik rasa sombongnya.


"Apa?... Ha..ha..ha" Lui tertawa geli.


"Maafkan aku, tapi asumsimu sangat menggelikan. Apa yang membuatmu merasa lebih dariku?"


"Itu sangat jelas bukan? Pertama kau sangat pendek!"


Kamaria memanas mendengar tawa Lui, dia tidak lagi memperdulikan apa akibat konfrontasinya pada Lui.


"Belum lagi standar kecantikanmu sangat biasa" tambahnya, dan sekarang senyum Lui sudah hampir hilang.


"Jika Duke menginginkan kecantikan sempurna, maka ia akan memilih Roan sebelum dirimu. Maaf saja, aku rasa Roan jauh lebih cantik dari pada dirimu" Lui membalas dengan dingin.


Roan mendelik ke arah Lui, karena perumpamaan yang dia ucapkan membuatnya mual. Tapi Roan tidak akan membantahnya saat ini.


"Heh... Dia tidak lebih dari bola bulu dengan suara keras yang kosong" Kamaria mendengus sinis sambil memberi tatapan menghina pada Roan.


"Tarik ucapanmu s*nd*l!!" Roan menerjang meja dan beranjak maju mendekatinya.


Tapi Lui yang juga telah turun dan berjalan mendekati Kamaria, membuat Roan batal menerjang Kamaria. Dia khawatir, Lui tidak sengaja terluka, jika dia bertarung dengan Kamaria.


"Kau sudah keterlaluan!! Aku menghargai kejujuranmu tapi kau keterlaluan!!"


Lui yang telah kehilangan kesabaran, nada suaranya telah berubah dingin.


Dia menghargai Kamaria karena berterus terang tentang perasaannya pada Duke, tapi perbuatan mengikutsertakan Roan dalam hinaannya telah melampaui batas. Lui tidak bisa membiarkannya.


Roan ternganga mendengar hardikan Lui. Ini adalah pertama kalinya, dia melihat Lui marah. Menurutnya sedikit menyeramkan, jauh berbeda dengan dirinya yang biasa.


Dan sekarang Roan mulai merasa aneh, karena mendadak dia merasa suasana di sekitar taman menjadi lebih dingin.


"Aku hanya menyampaikan fakta! Dia hanyalah gadis dengan otak kosong"


Kamaria menunjuk Roan yang sudah menyusul berdiri di dekat Lui.


"CUKUP!!"


Sebelum Roan bisa membalas hinaan itu, Lui berteriak marah pada Kamaria.


Dia bisa bersabar menerima hinaan yang ditujukan padanya, tapi Roan tidak ada urusan apa-apa dengan masalah ini. Hinaan Kamaria yang membabi buta membuat kesabarannya habis.


"Minta maaf pada Roan sekarang juga!" Lui mengucapkan kalimat itu dengan nada yang sangat rendah.


Dan kembali Roan merasakan udara dingin menusuk kulitnya, sampai-sampai bulu romanya naik memperingatkan.


Dan Arana mengalami hal yang sama, dia menatap kedua tangannya dengan bingung. Werewolf seharusnya tak merasa kedinginan.


"Tidak akan!!" bantah Kamaria dengan keras kepala.


"Minta maaf pada Roan sekarang juga!!" ulang Lui dengan lebih keras, dan pemandangan di sekitar taman langsung berubah.


Udara dingin bertiup dengan kencang, dan dengan sangat perlahan salju yang ada di tanah dengan naik seolah gravitasi tidak lagi mengikatnya dengan tanah. Butiran salju dengan berbagai ukuran melayang di sekitar mereka.


Badai salju kecil telah melanda sekeliling taman.


Lui tidak menyadari semua itu, karena perhatiannya hanya terfokus pada Kamaria.


Tiga siewolf yang ada di sana terbelalak melihat perubahan pemandangan yang tiba-tiba itu.


Detik berikutnya, dengan pelan kabut berwarna biru mulai muncul di sekeliling Lui. Kabut itu merambat ke segala arah, menyebarkan dingin yang membuat werewolf yang ada disana menggigil untuk pertama kalinya.


"L..Lui..." Roan berusaha memperingatkannya dengan mengguncang bahu Lui.


Tapi tangannya bergetar sangat hebat sehingga membutuhkan waktu sedikit lama untuk mencapainya.


Ini juga pertama kalinya, Roan menyesal karena hanya memakai kaos dan celana musim panas.


Guncangannya tidak menghasilkan apapun, karena Lui tidak merespon.


Dengan ngeri Roan melihat bagaimana mata Lui yang berwarna biru terlihat bersinar berbahaya. Dia tidak ragu lagi jika Lui yang memanggil badai ini, entah bagaimana caranya.


Kesadaran telah jauh meninggalkan Lui.


Pikirannya yang fokus kepada Kamaria, mendadak kosong seiring munculnya kabut biru itu dari tubuhnya.


Matanya tidak lagi fokus, seolah dia melihat pemandangan yang terjadi di depannya dari kotak kaca. Sangat dekat tapi tidak tersentuh.


Arana berusaha menggerakkan badannya karena hawa dingin itu membuat ototnya kaku, dia nyaris tidak bisa menggerakkan badan sekarang.


Keadaan Kamaria jauh lebih buruk, kakinya telah mati rasa, dan dengan cepat dingin yang mencengkeramnya mencapai setengah badan. Dia sama sekali tak bisa menggerakkan badannya sekarang.


Diamencoba memanggil serigalanya, karena sekarang tubuh Lui yang ada di depannya, memancarkan cahaya biru lebih banyak lagi. Dia mengartikan pertanda itu sebagai bahaya yang mengancam.


"Lui...!!!"


Seruan Sorrel memecah badai hawa dingin, dalam sekali lompatan dia mendarat di depan Lui. Tangannya menutup mata Lui, kemudian mengucapkan sederet kalimat yang tidak di mengerti Roan.


Tubuh Lui yang berdiri kaku dengan perlahan melemas, ambruk dalam pelukan Sorrel.


Seiring mata Lui menutup, kabut biru hawa dingin menghilang dengan seketika. Dan udara dengan perlahan kembali normal, salju yang beterbangan berguguran ke tanah.


Kamaria jatuh terduduk, setelah berusaha menggerakkan otot kakinya yang kaku, demikian pula Roan dan Arana.


"Apa yang terjadi?" Duke tiba di taman beberapa detik setelah Sorrel.


Dia tadi sedang berbicara dengan para Elder dan juga Sorrel, yang ingin menjelaskan lebih detail tentang situasi pasukan, ketika tiba-tiba Sorrel menggumamkan nama Lui, dan berlari keluar ruangan.


Begitu melihat wajah cemas Sorrel, Duke langsung mengikutinya keluar. Dan sekarang dia menatap pemandangan aneh, yaitu tiga werewolf yang sedang kepayahan dan Lui yang pingsan di pelukan Sorrel.


Para Elder yang juga mengikuti Duke berlari keluar, hanya bisa saling memandang bingung, bahkan Myra tidak bisa berkomentar.


Dia hanya melihat bagaimana Duke dengan sigap mengangkat tubuh Lui, dan membawanya masuk.


"Kau belajar sesuatu yang berharga hari ini, Nona"


Sorrel berkata dengan ramah kepada Kamaria yang masih terduduk di atas salju.


"Jangan pernah dengan sengaja memprovokasi ellf, walaupun dia seorang imperfect seperti sebutanmu tadi" lanjutnya sambil tersenyum, tapi nada ancaman terdengar sangat nyata di telinga Kamaria.


Tubuhnya kembali menggigil walaupun kabut biru itu telah hilang total.


Masih dengan senyum ramah, Sorrel kemudian mengikuti Duke masuk ke dalam Manor.