Finding You, Again

Finding You, Again
Again 8 - Remembrance



Pagi masih sangat dini, tapi kegiatan di pack Blackmoon sudah berjalan biasa, setelah beberapa hari terhenti.


Selama pertemuan antar inhumane berlangsung, Alpha memerintahkan seluruh warha pack untuk membatasi kegiatan di luar rumah, bahkan sekolah juga libur untuk beberapa hari.


Hanya werewolf yang terpilih untuk bertugas jaga atau yang membantu di dalam Manor, yang masih berkeliaran dengan sedikit bebas.


Beberapa warga yang memulai aktivitasnya, terlihat berhenti di lapangan kecil di sebelah Manor.


Lapangan itu biasa digunakan untuk tempat berlatih para Gentry, tapi beberapa hari ini Duke mengubahnya menjadi tempat berlatih bagi pasukan khusus miliknya. Dan seperti biasa, pagi ini, lapangan itu telah riuh.


Terdengar suara bantingan dan seruan dari sana. Kadang suara itu, disela oleh tawa terbahak yang ringan dari Sorrel.


Warga pack yang kebetulan melewati lapangan itu, berhenti sejenak untuk melihat latihan yang sedang berlangsung. Apalagi setelah menyadari, latih tanding yang sedang berlangsung adalah antara Alpha Duke dan Alpha Sepehr dari Badira.


Pertarungan antar dua Alpha adalah kejadian luar biasa yang layak disaksikan.


Di tengah lapangan, tampak Aygul dalam wujud manusia sedang berwajah kesal, karena sedari tadi, serangannya sama sekali tidak bisa menyentuh Duke.


Di tepi lapangan Duke berjalan pelan dengan waspada, sembari memperhitungkan dari mana serangan Aygul yang berikutnya akan datang.


Latih tanding ini terjadi tanpa rencana, dia tadi hanya akan berlatih bersama warrior-nya yang biasa. Tapi ketika Aygul mendengar hal itu, dia memaksa untuk ikut.


Dan inilah akhirnya, mereka berdua yang berlatih, sementara jejeran serigala warrior berbaris rapi di tepi lapangan.


Mereka tentu saja sangat menikmati tontonan langka ini. Setidaknya mereka berkesempatan melihat Duke sedikit berjuang mempertahankan diri, karena selama ini, mereka tidak bisa membuat Duke berkeringat barang setetespun.


Baju Duke saat ini telah bermandikan keringat, walaupun sebagian besar lapangan masih tertutup salju. Dia benar-benar bekerja keras menghadapi Aygul, dia bukan lawan yang sepele.


Tidak perlu dikatakan lagi, mereka berdua sudah memaksimalkan indera serigalanya dalam pertarungan ini.


Seperti yang telah dikatakan oleh Sorrel, Aygul adalah Alpha - Mate seperti ayahnya.


Dengan demikian, jelas tingkat kekuatan Aygul setara dengan Owen, bahkan dengan enggan, Duke mengakui dalam hati, Aygul sedikit lebih unggul dari ayahnya. Mungkin karena faktor usia.


"Aku merasa terhormat bisa menyaksikan latihan tanding ini" Sorrel berseru dari tepi lapangan dengan nada riang.


Senyum lebar terukir di wajahnya. Duke tersenyum kecil mendengar itu. Seharusnya elf adalah makhluk yang cinta damai. Tapi mungkin dia sedang bosan, hingga sedikit lupa dengan jati dirinya.


Di sebelahnya, Dihyan sama sekali tidak memandang ke lapangan. Wajahnya terkubur sempurna di dalam buku yang sedang dibaca. Dia sangat tertarik dengan berbagai macam buku koleksi dari perpustakaan pack. Dihyan telah menjadi pelanggan setia di sana.


Sedikit kehebohan terjadi saat dia pertama datang.


Bagaimanapun juga, tidak setiap hari perpustakaan pack mendapat pelanggan seorang Elf yang sangat mencolok seperti Dihyan, tapi sekarang dia telah bersahabat baik dengan penjaga perpustakaan.


"Aku mulai mengerti kenapa ikatan Dyad yang Sorrel katakan memang istimewa. Kau sangat kuat" Aygul mendesah jengkel.


"Thanks! Kau juga tidak terlalu buruk"


Duke berkata dengan setengah hati. Dalam hati, dia kesal karena kemampuan Aygul lebih dari yang dibayangkannya.


Sekali lagi dengan tiba-tiba, Aygul menjejakan kaki dan menerjangnya. Dan Duke menghindar dengan tangkas. Dia menangkap tangan Aygul, lalu mencoba melayangkan pukulan ke arah rahang.


Tapi Aygul tidak kalah cekatan, dia menghindar pada detik terakhir. Sekali lagi Duke hanya memukul angin, tapi sedikit celah di pertahanan Aygul, membuat Duke bisa melayangkan tendangan.


Aygul terlambat menyadarinya, dia masih bisa menghindar, tapi sebagian besar tendangan Duke tetap mengenai kakinya. Denyut kesakitan nyaris membuat Aygul mengumpat.


Aygul menghentakkan tangan, melepaskan diri menjauh.


"Jika mengikuti instingku, aku ingin sekali melawanmu dalam bentuk serigala, tapi aku rasa kau tidak akan senang" katanya sambil tersenyum jahil.


"Tentu saja!" sergah Duke. "Jadwalku hari ini adalah berlatih dengan pasukanku, bukan melawanmu" Duke menjawab dengan kesal.


Tapi sejujurnya, Duke juga sangat tergoda dengan ajakan Aygul, tapi dia tahu dengan pasti pertarungannya dengan Aygul dalam bentuk serigala akan berlangsung sangat lama, dan menghasilkan luka serius.


Itu adalah perbuatan bodoh, karena dalam waktu dekat ini mereka akan berperang bersama.


"Hhhh----Baiklah...baiklah..." Aygul akhirnya mundur keluar lapangan dan duduk di sebelah Sorrel, mengatur nafasnya.


Sorrel tersenyum geli melihatnya. Aygul belum pernah bertemu lawan sekuat Duke sebelum ini, pengalaman ini membuat kepalanya sedikit mengempis.


Sekarang latihan kembali berjalan dengan normal, yaitu Duke diserang bersamaan oleh 15 serigala. Atau lebih tepatnya Duke sedang mempermainkan 15 serigala secara bersamaan.


 


 


\~\~\~\~\~\~\~IlI\~\~\~\~\~\~


 


 


Tubuh Lui yang terbaring di ranjang, mulai menampakkan sedikit gerakan. Jari-jari tangannya menyentak pelan, sebelum akhirnya kedua matanya membuka.


Tidak tampak jarum infus atau apapun di tangannya, karena Sorrel melarangnya.


Sebagai gantinya, Sorrel menyihir tubuh Lui sekali sehari, dengan mantra yang membuat Alva melotot kagum karena kerumitannya. Sihir itu membuat Lui tidak memerlukan makanan dari cairan infus. Dan dari keadaan wajah Lui, jelas mantera itu bekerja lebih baik dari pada infus.


Wajah Lui terlihat segar dan hidup, tidak layu dan kering seperti sebelumnya.


Mata Lui berkedip pelan, sebelum akhirnya mengenali suasana di sekitarnya. Dengan cepat, mata itu dipenuhi dengan air mata.


Isakkan pelan memenuhi kamar yang saat ini kosong.


Oscar yang biasanya selalu berjaga di situ sedang berada di balkon, menerima panggilan telepon bisnis dari London.


Dia tidak melihat bagaimana tubuh Lui, dengan perlahan bangun dan duduk. Masih dengan bahu berguncang karena tangis.


Dengan pelan Lui mencoba untuk turun dari ranjang, Oscar yang baru berjalan masuk melihat pemandangan itu dengan wajah terpana.


"Lui!! Kau sudah sadar" serunya, sambil berlari menghampiri ranjang dan berusaha mencegahnya turun.


"Where's David?" tanya Lui sambil menghapus air mata, yang tidak berhenti turun.


"Tenangkan dirimu dulu, aku akan memanggilnya" Oscar menjadi panik melihat keadaan Lui.


Lui biasanya akan lemas dan tidak bertenaga saat sadar dari koma. Tapi ini diluar perkiraannya, karena Lui sekarang mulai melangkah pelan. Walaupun tertatih dan sangat goyah, tapi kakinya bisa berfungsi.


"Tunggulah disini" Oscar memegang lengan Lui untuk mencegahnya melangkah lebih jauh.


Tubuh itu lemas, tapi tidak tumbang.


"Tidak, aku harus menemuinya sekarang!!" seru Lui dengan suara yang lebih keras.


"Baik...baiklah, aku akan mengantarmu"


Oscar dengan cepat menyerah, karena takut Lui akan pingsan lagi, jika memaksanya kembali ke ranjang. Oscar meraih tangan Lui dan akan membopongnya.


Tapi Lui menolaknya. Tangannya mendorong pelan tubuh Oscar, dia ingin berjalan dengan kedua kakinya.


Lui tahu, kunci agar kakinya cepat berfungsi dengan benar, adalah berlatih. Maka dengan pelan, Oscar memapah Lui keluar kamar. Tangan Oscar memegang erat tubuh Lui.


Dengan sangat perlahan Lui berjalan menuruni tangga, beberapa omega yang sedang bekerja membersihkan Manor, melihat pemandangan itu dengan terpana, tapi tidak berani bertanya.


"Lui!!!" teriakan keras terdengar dari pintu.


Myra berseru terkejut, menjatuhkan keranjang sayurannya ke lantai. Menebarkan kentang dan wortel ke segala arah.


Dengan bergegas, dia menghampiri Lui.


"Kau sadar? Apa yang kalian lakukan disini?" tanyanya bingung, sambil memandang Oscar dan Lui bergantian.


Lui tidak bisa menjawab karena nafasnya yang tersengal. Bukan karena lelah, tapi tangisnya yang tidak berhenti.


"Duke, dia ingin bertemu Duke sekarang" jawab Oscar.


"Oh...dia ada di lapangan sebelah barat Manor. Ayo...!."


Myra ingin bertanya apa sebenarnya yang terjadi, tapi pandangan panik dari Oscar membuatnya tahu, ini bukan saat yang tepat.


Maka Myra hanya menggandeng tangan Lui yang bebas untuk membantunya berjalan.


Di lapangan, perhatian Duke benar-benar tersita dengan latihannya dengan para serigala, sehingga tidak menyadari sosok Lui yang dengan perlahan muncul dari pintu.


"Pace!" Lui bergumam pelan, tapi tentu Duke mendengarnya, karena gerakannya terhenti dengan tiba-tiba.


Kesempatan yang tidak disia-siakan oleh Farjad, melihat celah itu, dia menerkamnya tanpa ampun.


Mengumpat keras, Duke tersungkur di bawah cakar Farjad. Tangannya menggosok telinganya dengan jengkel. Dia mengira telinga itu sedang mempermainkannya, karena tadi dia mendengar suara Lui.


"Pace!" Lui mengeraskan suaranya.


Dan Duke akhirnya sadar, suara yang didengarnya bukan mimpi. Dengan seluruh tenaganya, dia mendorong kaki raksasa Farjad yang ada di dadanya dan bangkit.


Giliran Farjad yang mengumpat dalam kepalanya, bagaimana bisa dia terdorong dengan begitu muda, padahal Duke masih dalam wujud manusia?


Setelah menoleh dengan bingung, Duke akhirnya menemukan dari mana arah suara itu datang, dan matanya melebar.


Selama beberapa detik, matanya berkedip berkali-kali, berusaha meyakinkan diri, jika pemandangan yang dilihatnya bukan halusinasi, ataupun fatamorgana.


Lui melepaskan diri dari tangan Oscar dan Myra kemudian melangkah pelan.


"Pace.... " kali ini Lui memanggil dengan suara penuh tangis.


"It's real...!!!! " Duke berseru, sadar sosok Lui yang dilihatnya bukan bayangan liarnya.


Duke melesat dengan secepat kilat, meninggalkan gerombolan serigala yang bingung.


Tangannya tepat menangkap tubuh Lui yang terhuyung kehilangan tenaga.


"Bee... Kau sadar!!" Duke merengkuh tubuh lemah itu, dengan rasa lega dan bahagia luar biasa.


"Maafkan aku.. Maafkan aku!! Aku bodoh sekali" rintih Lui diantara tangisnya.


Duke yang dikuasai oleh kebahagiaan, tidak terlalu memperhatikan perkataan Lui. Dia terus memeluk tubuh Lui dengan gembira.


Tapi isakkan Lui yang yang tidak berhenti akhirnya membuat Duke terganggu.


"Bee, ada apa?" tanyanya, sambil berlutut, mengikuti tubuh Lui yang perlahan merosot ke tanah.


"Aku...aku bod..oh sekali" kata Lui.


"Tidak.. Kau tidak pernah bodoh, Bee. Berhenti menangis. Ada apa? " Duke mulai bingung dengan penyebab tangisan Lui sekarang.


"Pace... Maaf. Aku telah membuatmu menderita selama ini"


Lui akhirnya berhasil menyusun kalimat dengan baik..


"Kau memanggilku apa?"


Telinga Duke membuka dengan sempurna, jadi dia tidak mungkin salah dengar. Tapi tetap saja, bagi Duke, panggilan itu terlalu manis untuk menjadi kenyataan.


"Pace... Aku ingat... Aku ingat semuanya"


Sekali lagi, air mata Lui merayap turun di pipinya


 


"Oh.. Bee" Akhirnya Duke mengerti. Ingatan Lui telah kembali!!!


Haru dan bahagia sekali lagi serempak tumbuh dalam hatinya. Duke menggumamkan nama Lui berpuluh-puluh kali sambil memeluknya erat.


Dia ingat, dia mengingatku, Duke membatinnya berulang kali, takut jika semua ini akan berubah menjadi mimpi.


"Maaf... "


Lui yang dipenuhi rasa penyesalan, hanya bisa menggumamkan kata itu sebelum akhirnya tenaganya terkuras habis dan tubuhnya terkulai lemas.


Duke langsung panik.


"Panggil Dr. Sidra" serunya sambil mengangkat tubuh Lui dan berlari masuk ke dalam Manor. Sedetik kemudian serigala berwarna cokelat gelap melesat ke arah rumah sakit.


Penonton di sekitar lapangan bangkit dengan bingung, karena cepatnya pemandangan berganti, tapi tidak dengan Sorrel. Memperlihatkan kecepatan yang luar biasa, dia melesat ke dalam Manor, menyusul Duke yang berlari ke kamar.


"Minggirlah!"


Sorrel memerintah Duke dengan nada tegas begitu sampai di kamar.


Duke yang lupa sama sekali dengan keberadaannya, sedikit terperanjat.


Tidak ada satupun makhluk di dalam pack yang berani memerintahnya sebelum ini. Tapi Duke menurut dan melangkah menjauh dari ranjang tempat dia membaringkan Lui.


Duke memandang dengan mata penuh maaf pada Dr. Sidra yang datang setelahnya, dengan rambut berantakan, menandakan cepatnya dia berlari ke Manor karena panggilan Duke.


Seharusnya dia tidak memanggilnya, tapi sekali lagi Duke lupa dengan adanya Sorrel. Jika ada yang tahu apa yang terjadi pada Lui, itu adalah Sorrel.


Dr. Sidra tersenyum sambil menggeleng, sebagai isyarat bukan masalah. Dia kemudian memandang bagaimana Sorrel memeriksa Lui, berharap ada hal yang bisa dipelajarinya.


Pemandangan ini tidak pernah membosankan bagi Sidra. Dan mungkin juga Alva jika ia masih ada di sini. Tapi kemarin dia telah kembali ke peradaban. Pasiennya yang lain sudah menunggunya kembali.


Sorrel mengeluarkan tongkatnya sekali lagi.


Sambil mengambil nafas panjang, Sorrel mengayunkan tongkatnya membentuk simbol kompleks, dan seketika lingkaran sihir rumit berwarna biru muncul di sekeliling ranjang Lui. Kemudian naik dengan perlahan menyelimuti Lui. Selama beberapa menit berikutnya, Sorrel memeriksa lingkaran itu dan tubuh Lui.


Bersamaan dengan ayunan tongkatnya ke bawah, lingkaran itu lenyap.


Sorrel menoleh ke arah Duke yang memandang semua proses itu dengan tegang. "Dia mengingat semua hal tentangmu?" tanya Sorrel.


Duke mengangguk. Myra memekik terkejut, dan Oscar melotot tak percaya.


"Kau yakin?" Sorrel kembali menegaskan, tidak ingin ada kesalahan atau kesalah pahaman.


"Ya, dia memanggilku Pace.  Dia tidak mengingat nama itu sebelumnya" jelas Duke dengan wajah tegas.


Sorrel mengangguk mengerti.


"Aku membutuhkan sedikit darahmu" Sorrel meraih sesuatu di pinggang dan menyerahkannya pada Duke.


Sebuah pisau kecil dengan pegangan kulit.


Tanpa pertanyaan, Duke menyayat telapak tangannya dengan sekali ayunan. Darah mulai mengalir deras dan Sorrel membasahi ujung tongkatnya dengan kucuran darah itu.


Awalnya, darah mengalir seperti yang seharusnya, tapi dengan perlahan, alirannya mulai melawan arah gravitasi. Aliran darah itu bergerak sesuai dengan apa yang diinginkan Sorrel. Bahkan tetesan yang memercik ke lantai mulai melayang naik dan menempel di tongkat itu.


"Kakek!..." Dihyan yang baru sampai di depan pintu memandang perbuatan Sorrel dengan mata ngeri.


"Kau tidak boleh melakukannya" kata Dihyan sambil berjalan cepat, menghampiri Sorrel.


"Tentu saja boleh" jawab Sorrel dengan ringan, seolah Dihyan sedang bercanda.


"Aku akan membantu" Dihyan langsung menarik keluar tongkat putihnya dari lingkaran sihir.


"Tidak!!!" Sorrel memandang galak ke arah Dihyan.


Ini adalah pertama kalinya Duke melihat Sorrel dengan mata sangat serius.


"Tenanglah..." Sorrel telah kembali pada nada suaranya yang lembut, tidak terlihat lagi kemarahan di wajahnya.


Dengan enggan Dihyan menghilangkan tongkatnya, lalu melihat bagaimana tongkat kayu Sorrel kini telah ditutupi oleh darah Alpha.


Tongkat kayu polos itu, kini dipenuhi corak merah darah yang merata. Duke mengenali corak itu. Corak itu mirip seperti yang ada di dalam tato bulan berwarna biru yang tertoreh di dadanya.


Duke melirik Dihyan dengan penasaran, karena wajah itu masih menyiratkan rasa khawatir yang amat sangat.


Apa sebenarnya yang akan dilakukan Sorrel? batin Duke.


"Stand in here!" Sorrel menunjuk tempat di sebelah ranjang, dan Duke menurut.


Kali ini ayunan tongkat Sorrel memunculkan lingkaran sihir semerah darah yang melingkupi ranjang tempat Lui berbaring dan juga Duke.


Dihyan berjengit tidak suka memandang lingkaran itu. Dia bahkan melangkah mundur, memperbesar jaraknya dengan lingkaran itu.


Berbeda dengan pengalamannya yang terdahulu, mantra Sorrel kali ini membuat tubuh Duke dan seluruh organ dalamnya terasa seperti ditarik dengan paksa ke tanah oleh kekuatan yang sangat luar bisa.


Duke harus mengeratkan injakan kakinya di lantai, melawan keinginannya untuk berlutut dan menyerah pada tarikan menyakitkan itu.


Iris biru Sorrel menyala seiring dengan munculnya berlapis-lapis lingkaran sihir tambahan di sekeliling Lui dan Duke.


Tekanan yang Duke rasakan juga semakin besar. Giginya yang bergemertak, seakan terasa akan patah, saking kerasnya dia mengatupkan rahang, menahan sakit.


Setelah kesakitan yang seolah berlangsung selamanya, tarikan yang Duke rasakan mulai berkurang, dan dia mulai bisa mengatur nafasnya, warna pucat mulai meninggalkan wajahnya.


Berbeda dengan Sorrel, wajahnya justru terlihat sangat putih dengan butir-butir keringat.


Tongkatnya berayun sekali lagi, dan lingkaran sihir yang terakhir mengecil menjadi sebesar telapak tangan tapi tidak menghilang. Lingkaran itu melayang di depan acungan tongkat.


Sorrel mengucapkan sebaris mantra, dan lingkaran itu membelah menjadi dua lingkaran yang identik.


Dengan arahan tongkat dan tangannya, lingkaran itu melayang ke arah yang berbeda, satu mendekat ke arah Duke, dan satu lagi ke arah Lui.


Duke memandang dengan mata melebar penuh tanya, dan sebelum dia bisa berkata apapun, lingkaran itu melesat ke arah dada tempat dimana tato bulan birunya. Lingkaran yang satu lagi terlihat menyusup di leher sebelah kanan Lui.


Duke berani bertaruh dengan seluruh hartanya, bahwa lingkaran itu menyatu dengan tanda bulan berwarna hitam yang diberikannya pada Lui.


Duke menyibak bajunya dan melihat insignia itu telah berubah. Masih terdapat bentuk bulan sabit biru bercorak, tapi dengan lingkaran sihir merah mengelilinginya.


Sengatan rasa sakit seperti terbakar, membuat Duke kembali mengepalkan tangan, tapi sakit itu tidak lama.


Dan di depan matanya, tongkat Sorrel yang bercorak merah dengan darahnya, perlahan berubah warna menjadi hitam legam, tongkat itu sekarang terlihat bagaikan pohon arang.


Apakah itu seharusnya terjadi? Duke membatin dengan sedikit khawatir.


Tidak hanya itu, Sorrel terlihat sangat lelah, lebih buruk dari pada saat pertama kali dia melakukan sihir pada Lui.


Duke tentu saja senang jika Lui bisa bangun dan lainnya. Tapi sekarang dia mulai merasa harga yang dibayar oleh tubuh Sorrel sangat mahal.


Keadaan tongkat Sorrel yang sangat mengenaskan menjadi buktinya. Tongkat itu terlihat rapuh dan tidak berguna.


Pantas saja Dihyan ingin mencegahnya tadi.


Duke dilanda rasa bersalah, apalagi saat melihat Sorrel yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian ritualnya, bersusah payah mengatur nafasnya terengah.


Sorrel tersenyum sambil memandang Duke.


"Wah... aku tidak menyangka, kau ternyata lebih manis dari pada yang aku kira. Tapi tidak perlu khawatir tentang keadaanku. Aku akan baik-baik saja" Sorrel tersenyum lebar, sambil mengangguk ramah pada Duke.


Duke mengernyit dengan tidak nyaman. Pertama, karena tidak seorangpun pernah menyebutnya manis, yang kedua, karena jelas dia hanya memikirkan semua rasa bersalah dalam otaknya.


Rahangnya masih terasa sakit karena ritual tadi, dia malas membukanya untuk berbicara.


Sedetik kemudian, dia mengerti.


"Kau bisa membaca pikiran!" seru Duke marah. Sekarang semua menjadi jelas.


Sorrel selama ini membaca pikiran orang-orang di sekitarnya, tidak heran dia selalu bersikap seolah tahu tentang segalanya.


"Ah.. Aku belum pernah mengatakannya padamu? Maafkan aku, aku pasti lupa" kata Sorrel dengan tidak meyakinkan.


"Bohong!!" Duke berseru marah.


'Tentu saja kau pasti sengaja tidak mengatakannya, agar dengan mudah bisa memanipulasi pembicaraan', batin Duke dengan jengkel.


Sorrel tertawa kecil mendengar perkataan di dalam kepala Duke. Habis sudah simpati yang dirasakan Duke tadi.


Seharusnya dia menyadari hal ini lebih cepat. Jika Oscar yang hanya mempunyai sepertiga puluh dua darah Elf, sudah bisa menebak kapan seseorang berbohong, adalah masuk akal jika Sorrel bisa membaca pikiran orang.


Duke ingin meneruskan amarahnya, tapi sudut matanya menangkap gerakan samar di tangan Lui, dan kemudian erangan Lui mulai terdengar.


"Bee...? Kau bisa mendengarku?" Duke mengguncang dengan pelan bahu Lui.


Rasa marahnya pada Sorrel musnah tak berbekas, saat ini Lui yang lebih penting.


"Pace?" sahut Lui dengan lemah, tapi itu sudah cukup membuat Duke dialiri rasa hangat kebahagiaan.


Senyum lebarnya segera tersungging. Sekali lagi, Duke menghambur ke dalam pelukan Lui.


"Kau mengingat semuanya" Duke bergumam di telinga Lui dengan penuh rasa haru dan bahagia.


Kesadaran Lui telah kembali dengan utuh, dan kata-kata Duke menohok perasaannya dengan menyakitkan.


"Ya, aku ingat semuanya Pace, aku ingat " kata Lui dengan penuh sesal, dan tanpa bisa menahan air mata menggenang di matanya.


Bagaimana dia bisa melupakan Duke? Ini tak bisa di percaya dan sangat mengerikan, batin Lui.


Inilah kenapa ia selalu merasa bersalah saat bersama Zeno, hatinya adalah milik Duke. Dan dia dengan bodoh mencoba menerima Zeno disana.


Inilah kenapa semua yang ada pada Duke selalu terasa benar. Karena selama ini dia hanya mencintai Duke, walaupun dia tidak lagi mengingatnya.


Duke melepaskan pelukan dan mengatur posisi Lui agar bisa duduk dengan nyaman, mata Lui tidak lepas memandang wajah Duke, hal yang jarang bisa dilakukannya sebelum ingatannya kembali.


Karena keinginannya terkalahkan oleh rasa malu luar biasa, tapi sekarang berbeda. Dia sudah melawan rasa malu itu selama tiga tahun. Tingkat keberhasilannya belum terlalu bagus, tapi sudah pasti lebih baik.


 


"OH...!!"


 


Duke berseru terkejut ketika akhirnya berkesempatan memandang wajah Lui dengan lebih seksama.


"Ada apa?" Lui bertanya heran, karena Duke terlihat sangat terperanjat.


"What are those?" Kali ini Oscar yang berseru terkejut, dengan mata membelalak sambil maju mendekat ke ranjang.


Dia dari tadi berdiri diam di belakang Duke, menunggu kesempatan berbicara.


Lui mulai panik melihat reaksi Oscar, tangannya meraba-raba wajahnya, berusaha mencari sesuatu yang janggal.


"Bukan itu, tapi matamu. Yang kiri berwarna biru....." Duke menjelaskan dengan pelan.


"Tentu saja biru" potong Lui, tak mengerti.


"Yang kanan berwarna hijau" lanjut Duke. Dan mata Lui sekarang melebar dengan sempurna.


"Hijau? Seperti matamu?" tanya Lui sekarang mulai meraba mata kanannya.


"Ya, sangat mirip malah" Duke mendekatkan kepala ke arah wajah Lui, ingin melihat dengan lebih jelas.


Dan tentu saja Lui memerah. Ingatannya yang sudah kembali, tidak akan membantu dalam situasi seperti itu. Keberadaan Duke yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya akan selalu berpengaruh pada jantung Lui. Mungkin sampai kapanpun.


Duke menyadari hal itu dan tersenyum.


"You're adorable" bisiknya sambil mengusap pipinya lembut. Dia hampir tidak bisa menahan diri, ingin memeluk Lui sekali lagi.


Tapi suara dengusan keberatan dari Oscar membuatnya menahan diri.


"Aku meminta maaf karena mengganggu, tapi aku harus melihat mata Lui".


Sorrel berjalan pelan muncul dari balik bahu Oscar.


"Aghh...!" Pekikan kecil keluar dari mulut Lui melihat wujud ajaib Sorrel.


"Wh.. What are you?" tanyanya, setelah berhasil menguasai diri.


Lui berusaha terdengar sopan, dia ingin memperbaiki kesalahannya. Menjerit saat melihat wujud seseorang pertama kalinya adalah perbuatan tidak etis.


"It's 'who' Lui. Not 'what' " Myra tersenyum sambil mengoreksi pertanyaan Lui.


"Ahh.... benar, maafkan saya" Lui menyadari kesalahannya lagi dan mengangguk kecil sebagai permintaan maaf.


"Oh well.. jangan khawatir. Aku justru akan tersinggung jika kau tidak terkejut saat melihatku" Sorrel terkekeh.


Duke menyingkir beberapa langkah, memberi ruang pada Sorrel untuk mendekat, dan memeriksa Lui.


Mata Lui saat ini tak bisa lepas memandang tanduk dengan ukuran luar biasa yang menempel di kepala Sorrel. Tanduk itu adalah hal yang paling menarik yang pernah dilihat Lui seumur hidup, selain dari wujud serigala Duke.


"Interesting" gumam Sorrel sambil memegang dagu dan menengadahkan kepala Lui.


"Apakah akan berbahaya?" tanya Duke.


"Tentu saja tidak! Aku mengikat mantra tadi dengan darahmu, karena itu matanya berubah menjadi hijau seperti matamu. Tapi sisi elf-nya tetap kuat, maka satu matanya tetap berwarna biru" jawab Sorrel dengan tangkas.


"Aku sangat bangga dengan hasil karyaku" tambahnya tanpa berusaha menyembunyikan nada sangat puas.


"Hasil karya? She's not a craft" Oscar menyahut jengkel.


Lui hanya bisa memandang mereka bergantian dengan sejuta pertanyaan di kepala.


"What happen?" akhirnya Lui bertanya, tidak tahan lagi dengan rasa penasaran.


"Oh dear, pertanyaanmu mungkin singkat, tapi jawaban untuk hal itu akan sangat panjang" kata Sorrel melepas tangannya dari Lui.


"Duke akan menjelaskan semua padamu, oleh karena itu untuk sopannya, kita lebih baik keluar dari sini. Ada banyak hal yang harus mereka bicarakan dan mungkin juga melakukan hal 'lain' selain berbicara"


Sorrel mengedip nakal menggoda Duke.


Tanpa berusaha menyaringnya, Duke mengumpat keras di dalam kepala, tahu bahwa Sorrel akan mendengarnya dengan jelas.


Duke sama sekali tak berpikir ke arah sana, Lui masih sangat lemah.


Sorrel hanya tertawa terbahak sambil membentangkan kedua tangannya, sebagai ajakan agar semua makhluk di dalam kamar itu mengikutinya.


"Termasuk kau Oscar" tambah Sorrel sambil memandang Oscar, ia tentu mendengar suara keberatan di kepala Oscar.


Dengan menghentakkan kaki, Oscar akhirnya keluar dari kamar.


"Aku akan meminta salah satu omega membawakan bubur untuk Lui" kata Myra sambil berjalan keluar. Duke mengangguk setuju. Myra yang terakhir keluar dari kamar.


"Siap untuk pergi?" tanya Duke sambil menyingkap selimut Lui, kemudian menyambar mantel dan sepatu salju yang paling dekat dari tempatnya berada.


Dengan lembut dia membantu Lui bersiap.


Duke ingat bahwa Sorrel mengatakan Lui akan baik-baik saja di udara dingin. Tapi dia tak ingin mengambil resiko, suhu saat ini berada beberapa derajat di bawah nol. Bukan saat yang tepat menjajal perkataan Sorrel.


"Kita akan kemana?" tanya Lui bingung.


"Pulang... ke rumah kita" Kata Duke sambil mengangkat tubuhnya.


Lui dengan otomatis mengalungkan tangannya pada leher Duke.


"Nice! Sekarang kita akan berlari" kata Duke sambil membuka jendela.


Manor bukan tempat menyenangkan untuk berbicara berdua, dia ingat betul bagaimana terakhir kali dia mencoba berbicara berdua dengan Lui. Duke sedang tidak menginginkan gangguan apapun.


Duke akan melompat dari balkon dengan wujud manusia, pekerjaan yang mudah. Dia hanya harus memastikan Lui tetap aman saat melakukannya.


Duke bisa saja membawa Lui dalam wujud serigala. Tapi Duke tidak yakin dengan kondisinya saat ini, Lui akan bisa berpegangan erat di punggungnya. Cara ini lebih merepotkan, tapi lebih aman.


Dengan tarikan nafas panjang, Duke melompat turun dari balkon. Kakinya mendarat dengan debum keras di tanah, tubuh Lui hanya sedikit berguncang karena Duke menerima semua hantaman dengan kaki.


"Kau tidak apa-apa?" tanyanya. Lui menggeleng dengan takjub, dia sadar siapa Duke, tapi ini pertama kalinya dia melihat dari dekat kekuatan Duke dalam wujud manusia, setelah sekian lama.


Aku benar-benar menikahi makhluk super!! batinnya, sambil memandang deretan pohon yang mulai mengabur karena Duke mulai berlari dengan kecepatan penuh.