
Oscar membawaku ke lantai paling atas Tower Delmor. Dia memencet tombol dengan huruf P di lift.
"Bagaimana kau tahu aku masih hidup?" Hal ini yang paling menggangguku selama
berbulan-bulan.
Oscar memandang wajahku yang terpantul pada dinding lift, dengan senyum mengejek.
"Apakah kau tahu tentang itu setelah kau mengetahui jika aku bukan manusia?" tanyaku lagi. Uncle Rex yang setengah mati ingin tahu soal ini.
"Urutanmu salah. Aku mengetahui identitasmu bukan manusia, setelah mengetahui kau masih hidup" jawabnya dengan nada puas.
"Bagaimana bisa?" Penjelasannya masih tidak masuk akal bagiku.
"Aku berada di depan Lui, ketika kau menghubunginya beberapa bulan yang lalu"
Wajah Oscar masih menyunggingkan senyum mengejek yang sama, saat menjawab.
Menghubungi?
Panggilan telepon dengan durasi tidak lebih dari lima detik dan dia tahu? Aku tidak bisa menyembunyikan raut wajahku yang tercengang.
"Kau menelpon dan memanggilnya Bee. Hanya ada satu orang di dunia ini yang memanggil Lui dengan panggilan norak seperti itu" katanya, dengan wajah jijik.
"Panggilan itu tidak norak! Aku punya alasan sendiri kenapa aku memanggilnya seperti itu" Kejengkelanku langsung memuncak mendengarnya.
"Dan aku tidak ingin mendengar alasan itu!" sahutnya, tidak kalah kesal.
Jika saja dia bukan kakak dari Bee, aku akan menorehkan sedikit cakaran di punggungnya. Tapi aku akan menahannya, demi Bee.
Begitu pintu lift membuka, hall dengan tatanan mewah terpampang di hadapanku.
Di sudut kanan, meja kerja dengan satu set komputer canggih dan beberapa tumpukan kertas di atasnya, tidak berpenghuni. Aku menebak itu adalah meja pria pucat yang sekarang sedang berada di lantai 10 bersama El.
Oscar membuka pintu kayu mengkilap dengan kasar.
Masih dalam diam, aku mengikutinya masuk ke dalam ruangan yang aku rasa adalah ruang kerjanya. Tebakanku tepat, ruangan itu lebih luas dan mewah, dari pada semua ruangan yang aku lihat hari ini.
Sofa nyaman, lengkap dengan meja berhiaskan bunga segar di atasnya, tertata di sebelah tembok yang hanya berupa kaca. Pemandangan kota London yang sibuk akan terlihat jelas jika kau duduk di sana.
Oscar berjalan, kemudian duduk di belakang meja kerjanya.
Papan nama berukir Oscar Gustin Delmora, teronggok rapi di meja yang mengkilat itu. Meja kerja itu terletak berseberangan dengan sofa.
Tanpa meminta persetujuan, aku duduk di kursi yang tersedia di depan meja kerjanya, memunggungi sofa. Oscar mendelik kepadaku. Dia pasti sedang mengutuk keberanianku duduk tanpa ijin.
But hey.. aku tidak bekerja untuknya. Aku tidak butuh ijin hanya untuk sekedar duduk.
"Apa maumu?" Oxcar memutuskan untuk mengabaikan kekurangajaranku tadi, dan langusng membahas hal penting.
"Aku ingin bersama dengan Bee lagi" Aku mengulang tujuanku, dengan nada lebih tegas.
"Dan aku sudah mengatakan padamu kalau itu tidak mungkin!! Apa kau tuli?!"
"Lui tidak akan mau bersamamu lagi, belum kemungkinan kau akan membuatnya koma kembali. Apa kau gila?!" teriaknya.
Teriakan itu, diikuti dengan sumpah serapah lain, yang baru kali ini aku dengar dari Oscar. Dia jarang sekali mengumpat.
Sulit dipercaya bukan? Mengingat apa jabatannya di dunia hitam.
"Aku tahu kau sangat marah dengan apa yang terjadi pada Bee. Tapi percayalah, aku tidak melakukan semua itu dengan sengaja. Aku lebih baik mati dari pada harus berpisah dengan Bee. Dan kau tahu itu!! " ujarku sambil
memandangnya dengan tajam.
Mata biru Oscar sesaat juga menatapku dengan tajam, mungkin sedang berusaha mencari kebohongan dari kata-kataku. Oscar sangat hebat dalam hal ini.
Aku tidak percaya saat Bee menceritakannya padaku, tapi setelah beberapa kali melihatnya, aku akhirnya percaya.
Entah dengan kemampuan apa, tapi Oscar bisa dengan mudah tahu kapan seseorang berbohong padanya. Bukan hanya itu, dia bisa membaca perasaan dengan keakuratan yang mencengangkan. Aku hanya bisa menduga, Oscar telah mempelajari ilmu membaca gerak tubuh, dan dia mempraktekannya dengan sempurna.
Tapi dia tidak akan pernah menemukan kebohongan pada diriku, aku akan memperjuangkan Bee sampai akhir, sampai Bee sendiri yang mengatakan jika dia tidak mencintaiku.
"Kau benar-benar bukan manusia ternyata, aku masih sedikit tidak percaya. Tapi ternyata itu semua benar" Perlahan Oscar bangkit dari kursinya dan berdiri menghadap keluar jendela.
"Apa maksudmu?" tanyaku dengan heran. Hal itu tentu saja tidak perlu diragukan lagi.
"Matamu, mereka sekarang berwarna coklat, terakhir aku melihatnya mereka berwarna hijau tua. Manusia jelas tidak punya kemampuan seperti itu" Jawabnya sambil berbalik dan menatapku. Dengan santai dia menyender ke kaca.
Tanpa sadar aku menyentuh mataku. "Eh...aku melakukan operasi lagi" Elakku dengan otomatis.
"Pffft.... kau benar-benar pembohong yang buruk David. Bahkan aku tidak perlu berpikir untuk mengetahuinya" Wajahnya sekarang penuh dengan celaan.
"Kau tidak akan bisa mengambil alih bisnis ayahmu nanti. Kau harus belajar mengendalikan raut wajahmu, raut wajah sangat penting ketika kau melakukan kesepakatan bisnis"
"Aku tidak tertarik dan tidak berencana untuk bekerja di Monath. Aku akan mendelegasikannya pada orang lain, seperti ayahku" ujarku, masam. Aku tidak suka dia mengungkap kelemahanku.
Aku hanya tidak suka berbohong, jadi sangat wajar jika aku buruk dalam melakukannya.
"Siapa? Rex Ewaldo? Dia memang hebat, tapi dia sudah terlalu lembek sekarang. Apakah ayahmu setuju kau tidak akan mewarisi Monath?" Oscar terdengar heran.
Ck.. aku sebenarnya tidak ingin menjelaskan panjang lebar tentang hal ini. Tapi aku akan menjelaskannya karena dia adalah kakak dari Bee, kali ini aku akan berbaik hati.
Aku harus mengingat-ingat, agar tidak mengatakan pada Uncle Rex, jika Oscar telah menyebutnya lembek. Aku yakin, walaupun Uncle Rex adalah orang yang tenang, tetap akan ada pertumpahan darah karena ungkapan itu.
"Ayahku tidak akan keberatan, karena sekarang dia sudah meninggal"
Oscar kaget, dan aku sedikit senang. Karena info yang didapatnya tidak termasuk hal yang paling baru. Menyebalkan melihatnya selalu lebih tahu dariku.
"Oh, I'm ---" Dia menelan ucapan belasungkawa yang ada di ujung lidah, dan mengalihkan pandangan dengan canggung.
Ucapan belasungkawa ditujukan untuk orang yang sedang kau benci terdengar aneh, dan aku juga tidak ingin mendengar ucapan itu darinya. Ucapan itu hanya akan berupa sopan santun pemanis bibir.
"Aku tidak ingin berbohong padamu, jadi aku mohon jangan bertanya lebih jauh. Dan bukan, bukan Uncle Rex. Tapi El, Eldred. Pria yang tadi kau temui di ruang meeting. Dialah yang akan menggantikan Uncle Rex sebagai CEO" jelasku lagi.
"Monath memang milik ayahku, tapi dia mendirikan perusahaan itu, karena ingin melindungi pack dan membuat kami semua hidup dengan lebih nyaman di sana. Jadi aku tidak bisa mengambil alih Monath begitu saja, hanya karena aku ingin. Aku menyerahkannya pada El, karena dia memang lebih pintar dalam mengurus perusahaan. Karena jika Monath hancur, berarti itu juga menghancurkan seluruh pack" tambahku dengan baik hati, ketika melihat wajah Oscar masih menyiratkan kebingungan.
Oscar mengangguk kecil mendengarku, raut mukanya sekarang tidak terbaca. Matanya kembali memandangku.
"Kau terlihat mirip sekali dengan manusia, aku tidak percaya kau inhumane" katanya lagi, masih mempertanyakan identitas ajaib yang aku miliki.
Tapi perkataannya, menyulut kembali rasa penasaranku "Bagaimana kau bisa mengetahui soal inhumane? Tidak seharusnya kau bisa tahu, dunia inhumane sangat rahasia. Hanya para hunter yang bisa tahu" tanyaku.
Sesaat Oscar hanya memandangku, dia berpikir keras sebelum menjawab.
"Aku menghargai kejujuranmu selama ini, karena itu aku hanya akan mengatakan sampai batas aku tidak perlu berbohong. Aku mempunyai kenalan seorang inhumane. Dan sepertimu tadi, aku akan memintamu untuk tidak bertanya lebih lanjut" jawabnya dengan pelan.
"Wait.. What?!"
Ini kejutan. Aku selama ini mengira karena kekuasaannya pada dunia hitam yang membuatnya dengan mudah mencari informasi tentangku. Tapi ini sama sekali di luar perkiraanku.
"Apakah kalian mempunyai suatu hubungan dengan inhumane?"
"Are you stupid!? Aku bilang kenalan dan hanya itu. Semua Delmora adalah manusia normal. Bukanlah aku sudah memperingatkan tidak ingin ada pertanyaan lanjutan?" Wajahnya kembali terlihat jengkel.
OK!
Aku akan berhenti. Tidak perlu mengulik topik yang membuatnya kesal. Bagaimanapun, aku kesini untuk membujuknya.
"Bisakah kita kembali ke masalah Bee?" tanyaku dengan hati-hati, pembicaraan ini harus dikembalikan ke intinya.
"Kau yang membuatnya berbelok ke arah lain" ujarnya, sambil duduk kembali di kursinya.
Tuduhan konyol yang tidak berdasar!
It's you! Kau yang pertama bertanya soal Monath, you piece of sh---Tenanglah Duke, dia itu Oscar,
batinku.
Aku menarik nafas panjang untuk menelan umpatan.
"Aku akan menemui Bee tanpa mengatakan apapun tentang----hubungan kami dulu. Aku akan memulai semuanya dari awal lagi" Aku mencoba menjelaskan ideku dengan sebaik mungkin.
D*mn!! masih tak mudah untuk mengatakannya walaupun sudah untuk yang kesekian kalinya.
"Kau meninggalkannya, dan kau membuat Lui tak ingin hidup lagi. Itu berarti kau nyaris membunuhnya. Apa yang membuatmu berpikir aku akan tetap membiarkanmu mendekati Lui setelah semua itu?" kata-kata Oscar membuat api semangat yang berkobar di tubuhku seolah padam.
Arus penyesalan menyeretku tanpa sanggup aku lawan.
"Yes, I know that...dan aku menyesalinya dalam setiap nafasku. Penyesalan yang begitu menyakitkan, sehingga membuatku tak ingin hidup lagi. Tapi, bila memang aku akan mati, aku ingin menemui Bee sekali lagi"
"Rasa rinduku pada Bee yang membuatku bertahan sampai saat ini. Rindu itu mengalahkan semua rasa bersalah dan penyesalanku. Aku tak peduli jika itu terdengar sangat egois. Tapi aku akan berusaha membuat Bee menjadi milikku lagi. Dan aku berjanji, jika setelah semua usahaku Bee masih tidak menginginkan aku---- aku akan pergi dari hadapan kalian selamanya"
Oscar mendengarkan seluruh kata-kataku dalam diam dengan tangan yang terangkat di depan wajah. Jari tangannya mengatup erat, mata birunya menatapku dalam-dalam.
"Kau tidak berbohong" katanya singkat.
"Tentu saja, aku tidak berbohong" bentakku.
Aku tidak akan pernah berbohong mengenai hal ini.
"Rencana itu akan sangat menyakitkan untukmu" ujarnya lagi.
"Aku tahu. Tapi aku akan mengatasinya" jawabku dengan cepat.
"Hmmm.. jawaban yang sangat sombong, padahal aku bisa melihat keraguanmu dengan jelas" ucapnya masih dengan memandangku.
Aku membencinya! Bagaimana caranya dia bisa mengetahui perasaanku? Ini menyebalkan. Tidak mungkin membaca bahasa tubuh bisa menghasilkan tebakan sedetail itu.
"Kau tak bisa mendekati Bee dengan hati penuh keraguan, Dave. Aku tidak mengijinkannya!" lanjutnya dengan lebih tegas.
"Just go f*ck your self and die!!!" Kemarahanku tidak terbendung lagi.
"Kau tahu keraguan ini bukan berasal dari rasa cintaku pada Bee yang berkurang, tapi aku hanya ragu dengan kemampuan diriku menahan sakit itu" bentakku.
Umpatan kasar yang sedari tadi aku tahan, akhirnya meletus. Aku tidak peduli lagi akibatnya. Oscar tahu aku jujur tentang semua hal. Dia tidak punya alasan lagi untuk melarang aku bertemu Bee.
"Ha--Ha---Ha!!!!"
Oscar sekarang justru tertawa mendengar umpatan itu.
"Oh... aku senang kau belum berubah. Kau tidak perlu menahan umpatanmu di depanku, kau terlihat menggelikan saat menahan marah. Simpan sopan santun itu, saat kau bersama Lui" ujarnya masih dengan sedikit terkekeh.
Mendengar ucapannya hatiku segera menjadi ringan. "Apakah itu berarti kau mengijinkan aku untuk bertemu Bee?" tanyaku dengan nada riang.
Tawa Oscar langsung terhenti, dan kembali menatapku tajam. "Aku tidak mengatakan hal seperti itu tadi" Wajahnya mencebik dengan kesal.
"Tadi kau bilang......."
Ucapanku terpotong oleh suara langkah kaki yang sekarang menjadi jelas karena ada orang yang membuka pintu ruangan Oscar.
Kepala berambut sedikit panjang berwarna cokelat menjulur ke dalam. Mata hijau muda terpaku sejenak padaku, sebelum beralih ke Oscar dan tersenyum.
"Bro!! aku senang kau disini. Aku sempat kecewa melihat kursi Tony kosong. Aku mengira kau sedang pergi" sapanya kepada Oscar, dengan nada riang, sambil berjalan masuk.
Aku tahu siapa dia. Aku sudah menghafal semua hal tentangnya. Dia aktor br*ngs*k itu.
"Zen?! apa yang kau lakukan di sini?" Oscar bertanya dengan heran, sambil melirik ke arahku. Seolah menyuruhku berhati-hati. Peringatan yang tidak perlu.
Dengan gerakan cepat, aku memakai kacamata hitam yang sedari tadi berada di meja. Menghalanginya untuk melihat wajahku dengan jelas.
"Apakah kita pernah bertemu?" tanyanya padaku.
"Nope, aku tidak pernah melihatmu sebelum hari ini" jawabku tegas.
Dan aku berharap tidak akan pernah bertemu denganmu lagi setelah ini.
Aku menahan keinginan untuk melompat dan mematahkan tangan kanannya sekarang juga. Tangan yang telah
berani menggandeng Bee.
"Benarkah? Kenapa aku merasa seolah pernah melihatmu?" tanyanya lagi, sambil masih menatapku.
Aku menggeleng keras, "Mungkin kau hanya terpesona olehku, karena aku memang sangat tampan" ucapku, dengan sinis.
Oscar kembali tergelak mendengar itu, sementara aktor itu hanya menggeleng dengan panik. Merasa orientasi seksualnya diragukan.
"Oh...Leluconmu yang kejam memang selalu menarik untuk didengar, Dave" kata Oscar, sambil menarik nafas untuk menenangkan diri.
"Kau akan sering mendengarnya..." Perkataanku terpotong lagi, kali ini oleh aroma yang sangat aku kenal. Aroma itu menggelitik seluruh saraf tubuhku.
Beberapa detik kemudian suara pintu diketuk, mengalihkan perhatian Oscar, yang baru saja akan bertanya kenapa aku terdiam secara tiba-tiba.
"Masuklah!!" ucapnya, menjawab ketukan itu.
"Jangan, tunggu!!" usahaku untuk mencegahnya terlambat.
Pintu itu terbuka, lebar, bersamaaan dengan memancarnya aroma yang mengacaukan aliran darah ke jantungku.
-----------*0o0*----------
Aku menatap meja kosong milik Tony dengan heran, kemana dia?
Tony biasanya tidak pernah absen dari meja itu, kecuali memang Oscar sedang tidak ada di kantor.
Tapi aku bisa mendengar gumaman percakapan dari dalam ruangan Oscar. Bahkan sekarang terdengar suara tawa terbahak Oscar dari sana.
Mungkin Tony berada di dalam juga?
Aku mengetuk pintu ruangan Oscar, dan mendengar sahutan Oscar menyuruhku masuk. Berarti Tony dan Oscar memang berada di dalam. Aku masuk dengan menggenggam laporan yang diberikan Jovi padaku.
Pemandangan yang sangat tidak biasa menyambutku di ruangan Oscar.
Pemandangan yang membuat jantungku melompat liar. Pria yang mengganggu tidur tenangku, berdiri dengan indahnya di sebelah meja Oscar.
He look even more amazing in a suit!!
Sunglasses?? Aku tidak akan mengeluh, wajahnya hampir sebagian besar tertutup, tapi justru membuatnya jauh lebih menawan sekarang.
Kendalikan dirimu Lui! kau tak ingin menangis lagi bukan? Batinku yang masih sehat memperingatkan.
Aku meremas tanganku untuk menenangkan diri, kemudian berjalan mendekati meja Oscar.
For the love of God!! Parfum apa yang dipakainya?
Aroma itu kembali mengirimkan rasa bergelenyar hangat yang aneh ke seluruh tubuhku.
"Lui!!! Lama sekali kita tak bertemu"......Suara bernada ceria berasal dari sofa, membuatku terperanjat. Mengakhiri perasaan aneh yang sedari tadi merasukiku.
"Zeno?! Aku tidak melihatmu tadi, kapan kau tiba di London?"
Aku benar-benar tidak menyadari kehadirannya tadi, bagaimana bisa?! Zeno bisa dikatakan makhluk yang sangat mencolok, terutama setelah apa yang terjadi diantara kami. Tapi kehadiran pria asing itu telah menyedot seluruh perhatianku.
Zeno melambai ceria padaku "Kemarin, aku ada jadwal di sini besok" jawabnya dengan bersemangat.
Ya..Tuhan, aku ingin sekali mendengarkan Zeno. tapi aroma manis yang berasal dari pria itu, membelenggu seluruh akal sehat, mencegah aku berkonsentrasi pada hal selain dirinya. Aku sama sekali tidak bisa fokus mendengar jawaban Zeno.
"Ada apa?" kali ini Oscar yang menyadarkanku.
"Oh.. i..ni. Aku membawa laporan bulanan untuk kau periksa" Aroma pria itu, juga membuatku kehilangan kemampuan untuk berbicara dengan lancar.
"Ok, aku akan memeriksanya nanti, apakah ada lagi yang kau butuhkan? Biasanya Jovi yang mengantarkannya" tanya Oscar lagi.
"Bolehkah aku memberikan dana bantuan untuk korban bencana tsunami yang terjadi kemarin?"
Oscar mengangguk mendengar pertanyaanku. "Sure, kau bebas melakukan apapun dengan uang itu"
"Ada beberapa negara yang terdampak, apakah aku boleh pergi kesana melakukan tinjauan? Aku ingin tahu negara mana yang paling banyak mengalami kerusakan" tanyaku dengan sedikit ragu. Oscar tidak mudah memberikan ijin padaku untuk bepergian.
"TIDAK!!!"
Aku terperanjat mendengar seruan ini. Bagaimana tidak?
Tiga orang selain aku yang ada di ruangan itu, berteriak secara bersamaan. Bahkan pria beraroma menyenangkan itu juga berteriak.
Aku masih mengerti jika itu Oscar, atau mungkin Zeno. Tapi dia?
Kenapa dia melarangku? Kita bahkan tidak saling kenal. Aku memandangnya dengan heran. Sesaat melupakan jantungku yang nyaris meledak.
Pria itu terlihat salah tingkah sekarang. "Eh...Maksudku, daerah itu sangat berbahaya. Tidak seharusnya dikunjungi oleh siapapun" suaranya masih semerdu yang aku ingat.
Aku mendengar suara Zeno samar-samar di belakangku, tapi aku tidak menangkap apa yang dia katakan, karena pria itu sekarang menggigit bibir bawahnya.
Pemandangan itu membuat kakiku lemas seketika.
Kendalikan dirimu Lui!!
"Apa? Maaf, aku tidak mendengarmu".
Aku bersusah payah menengok ke arah Zeno.
Aku harus berhenti memandanginya, sebelum melakukan perbuatan ***** yang akan aku sesali. Misalnya seperti mengelus bibir bawahnya yang sekarang terlihat memerah karena gigitan.
"Aku bilang, aku setuju dengannya, kau tidak bisa pergi ke daerah terdampak bencana dengan mudah. Belum lagi ada kemungkinan terjadi bencana susulan nantinya" kata Zeno sambil menunjuk ke arah pria itu.
Hmm... apakah mereka benar-benar sudah saling mengenal? Mereka bertiga terlihat akrab sekali. "Kalian benar-benar berteman ternyata" ujarku sambil memandang pria itu, dia masih saja menatapku dengan gugup.
"Eh.. tentu saja" jawabnya, entah kenapa sekarang dia terlihat sangat gelisah.
"Apa maksudmu?" Oscar menyahut dengan tiba-tiba.
"Oh.. I meet him a couple days ago. Dia mencarimu di rumah, Charlie yang menemuinya" jelasku.
Ini hanya perasaanku, atau wajahnya sekarang memucat? Oscar sekarang memandang pria itu dengan tajam.
"Kau mendatangi Mansion Delmora tanpa memberi tahuku?" Oscar mengatakannya dengan suara berat.
Apakah dia marah?
"Aku hanya ingin memberimu kejutan!" jawab pria itu dengan cepat.
"Kalian berteman bukan?" Aku memperhatikan bagaimana pria itu yang terlihat semakin salah tingkah. Dia akhirnya tidak menjawab pertanyaanku.
"Ya, kami berteman" Oscar yang akhirnya menjawab sambil menggertakkan gigi.
Ada apa ini? Jika mereka berteman, kenapa Oscar terlihat marah.?
"Ya.... aku teman Oscar. My name is Duke. Duke Pacian Theobald" Pria itu mengulurkan tangan, memperkenalkan diri dengan tiba-tiba.
Aku agak terkejut, tapi aku menyambutnya.
Tangan itu hangat sekali, ada beberapa bagian yang kasar, tapi rasa hangatnya seolah menjalar memasuki pembuluh darahku. Segera saja tubuhku terasa nyaman. Sihir macam apa ini? batinku.
"My name is Lui.. I mean Eluira Delmora" Aku baru bisa menjawab, setelah berhasil menemukan suaraku
lagi. Dengan agak terbata.
"Yes, you're Oscar's sister. Nice to meet you. Maaf, kemarin kita tidak sempat berkenalan" katanya, sambil melepaskan genggaman tangannya.
Dan lagi, aku mempertanyakan kewarasanku, karena aku merasa kecewa. Aku mempunyai keinginan absurd untuk menggenggam tangan itu lebih lama lagi.
Sadar Lui!!! Berapa kali lagi aku harus menyadarkan diriku sendiri.
"N--nice to meet you too" Lidahku benar-benar bekerja keras, padahal kami hanya sekedar berkenalan.
Aku harus segera pergi dari sini sebelum aku pingsan. "Baiklah, aku pergi sekarang. Jovi sudah menungguku untuk makan siang!" Aku berpamitan pada Oscar dengan tergesa-gesa, lalu berbalik ke arah pintu.
"Tunggu!!.."
Suara berat bernada lembut itu secara otomatis menghentikan pergerakanku. Seolah aku sudah menunggu hal itu terjadi, tiba-tiba aku merasa lega, karena pertemuan kami belum berakhir.
"Saya sangat asing dengan kota London. Bisakah anda menunjukkan tempat makan siang yang lezat di sekitar sini? Saya suka sekali burger. Tapi susah sekali menemukan tempat makan yang menyajikan burger lezat disini" Kata Mr. Theobald sambil melepas kacamata hitamnya.
Dia sopan, tapi kenapa aku kecewa mendengar nada resminya saat berbicara kepadaku? Aku meremas genggaman tanganku lagi, agar bisa berpikir jernih.
Mata coklat terangnya memandangku dengan bersemangat. Dia pasti sangat lapar.
"Oh.. kebetulan sekali, tempat makan siang favorit saya menyajikan burger yang sangat lezat. Tempatnya kecil, tapi makanannya berkualitas unggulan" jawabku dengan senang hati.
Pria.. maksudku Mr. Theobald tersenyum dengan sangat lebar mendengar jawabanku. Senyum yang segera
saja membuat jantungku menarikan 32 fouettes milik Odil secara tiba-tiba.
"Apakah anda juga akan makan di sana siang ini?" tanyanya, sambil mengerling padaku.
"Ehmm saya dan teman saya belum merencanakan sesuatu, tapi hal itu bisa diatur"
Nafasku sedikit tersengal saat mengucapkannya, karena bayangan aku akan makan siang bersamanya, membuat semangatku menyala terang dengan tiba-tiba.
"Perfect!! apakah teman anda tidak akan keberatan jika saya bergabung?" Dia kembali memakai kacamata hitamnya dan berjalan mendekatiku.
"Oh.. tentu saja tidak, dia tidak akan keberatan" jawabku cepat.
Jovi?? dia akan bersalto tiga putaran karena gembira. Jika menurutnya Zeno tampan, aku yakin Jovi akan memuja pria yang sekarang tersenyum lebar di depanku.
"Mari!! saya akan menunjukkan tempatnya" ajakku. Aku harap kalimatku terdengar normal. Tidak terdengar aku juga menginginkan dia ikut, itu akan sangat memalukan.
"Hei!!... aku juga belum makan siang dan aku juga ingin bertemu Jovi" Zeno menyahut, sambil bangkit dari sofa dan menghampiriku.
"Apa kau ingin membuat usahaku menjauhkan reporter dari Lui menjadi sia-sia? Kau tidak boleh terlihat bersamanya di tempat umum!!" Oscar membentak Zeno dengan galak.
"Hhhhh.. baiklah!" Zeno kembali duduk di sofa dengan wajah yang kesal.
Aku tersenyum melihatnya. "Aku akan membawakan burger untukmu, bagaimana?!" Rasa bersalah karena menolaknya, membuatku ingin selalu membuatnya ceria.
"No thank you!..aku sedang tak ingin makan bersama laki-laki" Zeno melirik kesal pada Oscar, yang juga sedang mendelik marah padanya. Pemberitaan kemarin memang membuat Oscar kalang kabut. Wajar jika dia tidak ingin kejadian sial itu terulang lagi.
Mr. Theobald memandang pertengkaran tadi dalam diam, tapi ketukan sepatunya di lantai, menandakan dia sudah tidak sabar ingin segera pergi. Aku memberi isyarat padanya untuk keluar mengikutiku.
Dia kembali memberiku senyum lebar yang melelehkan hati. Aku tidak tahu bagaimana akan bisa bertahan saat makan siang nanti.