
Aku nyaris memekik saat melihat Duke, karena dia terlihat-----sempurna!!!
Dia berdiri diam di sebelah mobilnya, sambil melihat ke arah ponsel di tangan.
Untunglah kami berjanji untuk bertemu di underground parking lot. Jika tidak, penampilan seperti itu akan mengundang banyak perhatian dari para wanita yang lewat.
Duke kemarin telah terlihat sangat sempurna dalam setelan jas, maka aku heran dia masih bisa terlihat lebih menawan lagi dengan pakaiannya hari ini.
Dia memakai mantel panjang hitam dengan kerah lebar yang membingkai sempurna tubuhnya yang tegap. Sweater turtleneck berwarna hijau botol, mengintip dari balik mantel itu. Garis wajahnya terlihat semakin indah, karena kerah yang menutup lehernya itu.
Rambut hitamnya yang kemarin tersisir rapi, sekarang terlihat agak berantakan, beberapa anak rambut jatuh di keningnya. Rambut berantakan itu, seolah menghembuskan aroma seksi yang memenuhi udara di sekitarnya.
Dan ya!!----aku terpesona dengan semua itu.
Lui, akuilah, kau memang terpesona oleh wajah rupawan itu, benakku berbisik dengan nada penuh kemenangan.
Kakiku seolah melayang dari tanah tempatku menjejak, karena tiba-tiba Duke tersenyum ketika melihatku datang. Walaupun kami masih berjarak sekitar 9 meter, tapi aku bisa dengan jelas melihat senyum sempurna miliknya itu.
Sudut mulutnya terangkat, dan giginya yang berderet rapi seolah memastikan, jika memang dia adalah makhluk yang tanpa cacat.
Duke masih tersenyum lebar ketika aku tiba di hadapannya. Dan tentu saja aku juga. Aku tidak mungkin sanggup mengabaikan senyum itu, tanpa terpaksa aku membalasnya dengan sepenuh hati.
Untuk sesaat kami hanya saling berpandangan. Aku menyusuri wajah itu dengan lebih seksama, mata yang aku kira ber-iris coklat ternyata, berwarna lebih terang, nyaris kuning. Aku belum pernah melihat iris berwarna seperti itu sebelumnya.
Suara mobil yang melintas di belakangku, menyadarkan kami. Aku mengejapkan mata beberapa kali untuk membuatku mengalihkan pandangan.
Duke menunduk sambil menggosokkan telapak tangannya ke mantel hitamnya.
Apakah dia gugup? Atau mungkin tangannya berkeringat karena terlalu lama menungguku di parkiran ini. Udara di bawah sini memang lebih hangat.
"You look so amazing tonight" katanya, sambil membuka pintu mobil untukku.
"Thanks" jawabku, wajahku segera menghangat dengan cepat karenanya.
Aku merapikan mantelku dengan gugup. Jovi memilihkan gaun terusan berbahan ringan berwarna biru pastel, dan mantel putih untukku tadi siang.
Dia nyaris membunuhku dengan matanya, ketika aku berkata akan makan malam bersama Duke, memakai setelan kerjaku.
Jovi menyeretku ke butik terdekat saat makan siang dan segera memilihkan baju yang menurutnya paling pantas untukku. Untung saja waktu kami terbatas, jika tidak, mimpi buruk yang melibatkan dua belas butik akan terulang lagi.
Sore tadi sebelum pulang, Jovi menata rambutku menjadi gelungan rumit dan menyematkan beberapa aksesoris di sana. Aku sedikit lega, setidaknya aku memakai dandanan lebih pantas sekarang.
Jovi benar, jika aku bersikukuh memakai pakaian kerja, akan sangat memalukan berjalan bersama Duke yang jelas-jelas berdandan rapi untuk acara ini.
Duke mengambil alih tas yang berisi berkas proposal pekerjaan dari tanganku, dan menaruhnya di jok belakang.
"Kita akan kemana malam ini?" tanyaku.
Duke belum mengatakan padaku kemana tujuan makan malam ini. "Montcalm Royal London House Hotel" jawabnya.
"Oh.. Aviary?" tanyaku dengan penasaran.
Duke mengangguk. "Kau sudah pernah mengunjunginya?"
Aku menggeleng "Hotelnya sudah, tapi tidak Aviary. Dahulu aku beberapa kali menemui partner baletku di sana, tetapi aku belum pernah ke Aviary" jelasku.
Sesaat kemudian, aku menyesalinya, kenapa aku membawa topik soal balet? Dia akan bertanya-tanya soal itu. Aku sungguh tidak ingin membahas hal itu.
Tapi ternyata dugaanku salah, Duke hanya mengangguk sambil tetap menyetir dengan tenang, seolah penjelasanku tadi tidak memerlukan tambahan apapun.
Sedikit rasa kecewa menyusup di hatiku, karena bisa jadi sikap diamnya mungkin karena dia tidak terlalu tertarik atau peduli dengan apa yang aku katakan.
----------- *0o0*----------
She's absolutely lovely, elegant, and so fine in every way.
Tubuhnya yang mungil terbalut mantel tebal berwarna putih yang terjuntai sampai ke lutut.
Rambutnya tergelung rapi dengan beberapa helai melingkar menjuntai di samping wajahnya yang menawan.
Tas kerja berwarna hitam yang digenggamnya, mungkin akan terlihat aneh karena tidak sesuai dengan penampilannya saat ini. Tapi tidak di mataku. Dia tetap luar biasa dengan apapun.
Sapuan tipis lipstik berwarna pink lembut membuat bibirnya yang sekarang tersenyum ke arahku terlihat begitu memabukkan.
Aku harus mengatur setiap tarikan nafasku, karena aromanya yang begitu menggiurkan bahkan mengalahkan bau lembab yang menyelimuti tempat parkir ini.
Bee melangkah dengan pelan ke arahku.
Pemandangan itu seolah tidak nyata di mataku, Bee membuatku seolah terlempar ke alam lain. Suasana dan benda apapun yang ada di sekitarku sekarang tidaklah penting. Apapun yang ada di dunia ini tidak penting.
Hanya dia.
Aku ingin mengulangi segala yang aku pandang sekarang dalam gerak lambat, karena aku ingin menikmati setiap detailnya.
Setelah Bee berdiri di depanku, aku juga masih merasa ini tidak nyata. Entah berapa malam aku habiskan untuk memimpikan hal ini, bisa berdiri dan memandang Bee dalam jarak dekat seperti ini.
Sepotong benakku yang masih sehat, terus memperingatkan agar aku tidak melakukan perbuatan bodoh, karena keinginan terbesarku saat ini adalah merengkuhnya. Aku sangat merindukan hangat tubuhnya dalam pelukanku.
Suara mobil yang melintas dengan tiba-tiba membuatku terperanjat dan membawaku kembali ke alam nyata sekarang. Aku menunduk untuk menenangkan diriku.
Kemudian aku baru sadar, selama beberapa saat sebelumnya, kami telah berdiri tanpa berkata-kata apapun.
"You look so amazing tonight" Aku mengucapkan kata-kata yang pertama kali terlintas di otakku.
"Thanks" jawabnya dengan suara pelan.
Bee kemudian duduk dan meletakkan tas kerjanya di pangkuan. Aku meraihnya dan menaruhnya di kursi belakang, dia tidak akan memerlukan tas itu dalam waktu dekat.
"Kita akan kemana malam ini?"
"Montcalm Royal London House Hotel"
"Oh.. Aviary?" Bee kembali bertanya. Aku mengangguk\, jangan katakan kalau dia ternyata sudah pernah mengunjunginya dengan aktor t*l*l itu!
"Kau sudah pernah mengunjunginya?" tanyaku setengah hati. Bee menggeleng.
Syukurlah!! Aku nyaris menghembuskan nafas lega.
"Hotelnya sudah, tapi tidak Aviary. Dahulu aku beberapa kali menemui partner baletku di sana, tetapi aku belum pernah ke Aviary" jelasnya.
Apapun itu, lebih baik dari pada dugaanku tadi. Tapi aku tidak akan bertanya lebih lanjut, balet bukan topik yang menyenangkan untuk dibahas dengan Bee.
Aku akhirnya memutuskan bertanya soal pekerjaannya yang sekarang. Ini topik yang lebih aman, dan aku memang tdak tahu banyak tentang itu, jadi aku tidak perlu memalsukan reaksi. Karena sangat sulit dan menyiksa untuk berpura- pura antusias.
Satu mobil berwarna biru tua ikut bergerak ketika aku bergerak meninggalkan parkiran. Itu Roan dan El, mereka bersikeras mengikutiku dalam jarak aman. Aku malas berdebat pada saat penting ini, karena itu aku membiarkannya.
Perjalanan menuju Aviary bisa dibilang lancar, karena ini adalah hari biasa, bukan weekend. Dan mood Bee sedang sangat bagus, karena dia terlihat bersemangat sepanjang jalan.
"This place is beautiful!!" Bee berseru pelan ketika kami tiba di Aviary.
"Oh..yeah!" Aku sangat setuju.
Aviary bukan hanya restaurant tetapi rooftop restaurant dengan pemandangan paling indah di London, belum lagi interiornya yang menakjubkan.
Lampu-lampu kecil ditata dengan apik seolah membentuk untaian air yang menetes dari pohon memancarkan warna biru lembut.
Aku berpikir bagaimana cara mereka membawa pohon-pohon itu ke lantai 10? Karena pohon itu tidak tertanam di pot, tetapi di lantai dengan petakan tanah.
Beberapa sofa berbantal empuk di tata dengan strategis di pojok-pojok ruangan. Untuk pengunjung yang ingin sekedar bersantai dan minum teh sore, tempat ini juga sangat cocok. Dey rupanya sangat pandai dalam mengelola restaurant, karena tempat luar biasa.
"Welcome, Sci..."
"Ehmm...." Aku berdehem keras memotong perkataan Dey.
Dia berdiri dengan sikap resmi menyambut kami. "I'm sorry, maksud saya, Welcome to Aviary Mr. Theobald!" mukanya sedikit gugup melihat lirikan penuh peringatan dariku.
Untunglah Bee tidak terlalu memperhatikan, dia terpesona dengan pemandangan yang disuguhkan Aviary, dan sibuk mengaguminya.
"Meja anda di sebelah sini" setelah berhasil menguasai diri, Dey mengantar kami menuju kemeja yang berada di pinggir pagar berulir rumit setinggi pinggang.
"Meja ini memiliki pemandangan yang paling indah diantara semua meja lain di sini" jelas Dey, ketika melihat mata Bee yang semakin melebar melihat pemandangan yang terpampang di depan.
Lautan lampu kota London terhampar dengan apik, dan karena Aviary berada di lantai 10, maka suara berisik khas perkotaan tidak sampai menyakiti telingaku.
Untuk beberapa saat, Bee diam sambil terus mengagumi pemandangan yang ada di depan kami. Tetapi aku tidak akan menyia-nyiakan waktuku dengan pemandangan itu, aku menikmati hal yang menurutku paling indah, yaitu wajah Bee. Yang sekarang duduk tepat di hadapanku.
Tidak lama Dey mendatangi kami sambil membawa daftar menu, setelah Bee memilih menu, Dey segera berlalu.
Aku mengikuti hidangan apapun yang di pesan Bee, karena tidak ingin membuang sel otakku untuk berpikir tentang makanan saat ini.
"London benar-benar kota yang sibuk" kata Bee, dengan pandangan yang masih terarah ke jalan raya.
Aku mengangguk setuju. "Dan aku rasa kau juga sibuk sebenarnya, kau bahkan membawa berkas kerjamu pulang" ujarku, teringat dengan tas hitam yang sekarang masih tergeletak di mobilku.
"Yah...itu karena besok aku harus langsung melakukan survey lapangan. Tempatnya lebih dekat jika di jangkau dari Park Castle" jelasnya.
"Aku tidak menyangka divisi Charity akan menjadi tempat yang sibuk, biasanya divisi itu akan di hindari, karena pekerjaannya yang membosankan" timpalku, menurut El, Monath juga memiliki divisi yang serupa, tetapi tempat itu hanya berisi 1 orang.
"Karena beberapa hal yang terjadi sebelum ini, proposal yang masuk ke divisi Charity melonjak beberapa kali lipat dari biasanya. Aku senang karena kami bisa membantu lebih banyak orang, tapi itu juga berarti aku dan Jovi harus bekerja sangat keras untuk menyelesaikannya" Bee menarik nafas berat saat mengucapkan hal itu.
"Aku rasa itu berhubungan dengan makan malam dan aktor" Tanpa sadar aku mengucapkannya dengan keras.
"Oh..kau tahu?" Bee memandangku sambil membelalakkan mata.
Jantungku berdenyut lega, karena Bee tidak menyadari nada sinis dalam ucapanku tadi.
"It's hard not to knew. Berita tentang kalian ada dimana-mana" jawabku\, sambil berusaha bersikap biasa\, menutupi rasa marahku pada aktor t*l*l yang telah membuat hidup Bee susah.
"Hmm...yaaa, kau benar!! Aku hampir mati karena malu karenanya. Aku akan senang jika kegiatan baletku dulu membuatku menjadi berita, tapi aku sangat tidak menikmati pemberitaan seperti ini" katanya, sambil bergidik.
Beberapa detik kemudian mimik muka Bee berubah sedikit tegang
"Eh..maksudku.." Bee kembali diam dengan mata yang melirik antara diriku dan meja.
"Ada apa?" tanyaku. Apa aku melakukan kesalahan? Batinku dengan panik.
"Ah ..tidak, tidak apa-apa!" Bee menggoyangkan telapak tangannya sebagai tanda dia tidak apa-apa.
Aku mencoba mencari jawaban dari wajahnya, yang sepertinya masih ingin mengatakan sesuatu kepadaku.
"Kau tidak ingin bertanya kepadaku soal balet? Biasanya orang akan meminta penjelasan ketika aku menyebutnya!" Setelah terdiam selama beberapa detik, akhirnya Bee kembali bersuara.
Mata birunya sekarang dengan terang-terangan menghindari tatapanku.
"Oh----itu karena aku sudah tahu bahwa kau berhenti balet beberapa tahun yang lalu" jawabku tanpa berpikir.
Oh..F*ck!!! Butuh waktu setengah detik sebelum aku menyadari, jika aku baru saja melakukan kesalahan besar lagi. Bee mengernyitkan matanya dengan mata bertanya sekarang.
"Oscar yang memberitahuku!" ujarku dengan cepat.
Aku menghindari tatapan matanya dengan berpura-pura melihat ke arah Dey, yang datang dengan hidangan pembuka. Situasi yang tidak menyenangkan itu diselamatkan oleh Dey. Aku akan berterima kasih secara khusus padanya setelah makan malam ini selesai.
Olive oil jelly yang dihidangkan Dey --Rasanya ringan, ada sedikit pedas yang mengikuti setelahnya--mampu mengalihkan perhatian Bee, karena appettaizer itu memang sangat lezat. Sekali lagi, Dey memang sosok yang tepat untuk mengelola tempat ini.
Selama makan malam, Bee sangat ceria dan menceritakan beberapa hal gila yang ditemuinya saat melakukan pekerjaan di divisinya.
Aku menahan diri untuk tidak mematahkan garpu dan pisau yang ada di tanganku\, ketika dia bercerita tentang salah satu dari penipu b*j*t yang mengajukan proposal padanya. Pria itu dengan berani telah menampar pipinya. Dan itu hanya karena proposalnya di tolak.
Aku akan bertanya pada Oscar tentang siapa orang ini. Tapi mengingat Oscar, aku sedikit tidak yakin pria itu masih hidup saat ini.
Dari suaranya yang ringan, aku tahu Bee memang menyukai kesibukannya sekarang.
Ada sedikit luka yang kembali tertoreh di hatiku. Bee terlihat bahagia tanpa diriku.
Keraguan kembali menggerus semangatku, apakah aku telah melakukan hal yang benar? Bagaimana jika Bee memang lebih bahagia, saat dia tidak lagi mengingatku?
Aku bersusah payah menyingkirkan pikiran itu, sambil berusaha berkonsentrasi pada semua cerita Bee.
"Apakah aku membuatmu bosan dengan ceritaku? Aku baru sadar sedari tadi hanya aku yang banyak berbicara" tanyanya tiba-tiba. Dia salah mengartikan kebingunganku dengan rasa bosan.
"Tentu saja tidak, aku akan mendengarkanmu berbicara selama yang kau mau Lui" jawabku dengan jujur.
Tidak ayal wajahnya memerah dengan otomatis. "Maaf jika aku ternyata menyinggungmu" lanjutku. Aku sungguh berharap wajahnya memerah karena gembira mendengar jawabanku tadi.
"Tidak, aku tidak marah..... Aku tidak apa-apa" Dia menundukkan wajahnya ke arah piring steaknya yang nyaris kosong.
Aku sangat mengenal Bee, sehingga aku tahu bahwa Bee akan bersikap seperti itu jika dia merasa malu. Dan itu berarti, rencanaku sedikit berhasil. Aku nyaris tidak bisa menahan senyum gembira.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" Bee bertanya, dia sudah mengangkat wajahnya dan kembali memandangku. Aku mengangguk.
"Apakah kau menyewa seluruh restaurant ini hanya untuk makan malam denganku?" tanyanya, sambil melambaikan tangannya untuk menunjuk kursi-kursi kosong disekitar kami.
"Karena ini akan sangat berlebihan jika dibandingkan dengan traktiran makan siangku" lanjutnya.
"Oh...aku tidak---"
Aku memandang ke sekeliling dan benar-benar baru sadar jika sedari tadi hanya kami berdua yang makan malam di sini. Aku baru ingat, El meminta Dey untuk tidak menerima tamu yang lain.
"Aku tadi menyangka jika memang tamu lain belum datang, tapi kita sudah berada di sini selama hampir 3 jam, dan tidak ada satupun tamu yang datang." ujar Bee, sembari menopangkan kepalanya di tangan dan memandangku lekat-lekat.
Aku bisa melihat dengan detail bulu mata lentiknya bergerak seirama dengan kedipan matanya. Pemandangan itu tidak berakibat bagus untuk jantungku.
"Eh..aku tidak memesan seluruh tempat ini" jawabku sedikit tergagap, jantungku berdetak sangat kencang.
Aku tidak siap dengan serangan wajah cantiknya yang sekarang secara langsung berada di depanku, mata itu masih sanggup menghempaskanku dalam ketidak berdayaan.
Apalagi sekarang bibirku mempunyai keinginan lancang untuk mencium mata biru itu.
"Apakah kau akan mengatakan, bahwa ini semua adalah sebuah kebetulan? Charlie sudah beberapa lama ingin mengajakku kesini, tetapi sangat susah untuk mendapatkan meja di Aviary" Bee memiringkan kepalanya yang justru membuat wajahnya terlihat semakin sempurna.
Suara detak jantungku, mengalahkan suara apa pun yang ada di sekelilingku sekarang.
"You're mine" Mulutku dengan bodohnya membisikkan suara benakku.
"Excuse me?!" Bee menegakkan duduknya dengan wajah bingung sekarang.
"Maksudku....eh-- It's mine. Restaurant ini milikku"
Sejuta kutukkan aku lontarkan dalam hatiku sekarang.
"Oh wow..really?" Bee memandangku dengan mata membulat yang cantik.
"Pantas saja dia seperti mengenalmu" Bee menggerakan wajahnya, untuk menunjuk ke arah Dey yang berjalan ke arah kami dengan membawa dessert.
Aku tersenyum simpul sambil mengangguk, untuk menyembunyikan rasa lega karena berhasil lolos dari kecurigaan Bee.
Dessert itu berupa gelato dengan puding lembut ditata apik, dan tentu saja Bee memilih dessert dengan rasa coklat kopi. Itu selalu menjadi favoritnya.
Tapi ada aroma lain di dessert itu---dan aku tahu itu apa.
"Tunggu!!!"
Aku menghentikan tangan Bee yang hendak menyendokkan dessert itu ke mulutnya. Bee memandangku dengan penuh tanya.
"Dey!" Aku berseru memanggil Dey yang telah berjalan kembali ke arah dapur.
Dengan berlari kecil Dey menghampiri mejaku. "It's there a problem, Sir?" tanyanya dengan sedikit menunduk.
"Kau menggunakan alkohol untuk membuat dessert ini?" ujarku sambil menunjuk piring Bee. "Ya, saya menggunakan sedikit wine untuk menambah aromanya" jawab Dey tangkas.
"Kau lupa aku memintamu untuk tidak menggunakan alkohol dalam bentuk apapun untuk semua hidangan malam ini?" bentakku.
Wajah Dey sekarang mulai memucat "Maaf, tapi saya hanya menggunakannya dalam jumlah yang sangat sedikit. Tidak akan memabukkan" jelasnya, dengan panik karena melihatku marah.
Bee terlihat sedikit terkejut melihatku marah. Dia menggenggam balik tanganku yang tadi menghentikannya menyendok makanan, yang aku rasa itu sebagai cara untuk membuatku tenang.
"Bukan itu masalahnya Dey, Lui tidak bisa mengkonsumsi alkohol dalam bentuk apapun, karena itu akan membahayakan kesehatannya. Dengan jelas aku sudah meminta tidak boleh ada satu tetespun alkohol" ucapku lebih pelan, tapi masih dengan geram.
Aku tidak ingin membuat Bee takut.
"Maafkan saya Scion, saya akan segera menggantinya!" Dengan terburu-buru Dey mengambil piring kami.
Bee yang masih memegang tanganku, tiba-tiba menyentakkannya dengan sedikit kasar. Aku menoleh dengan terkejut.
"Dari mana kau tahu soal hal itu?"
Bee bertanya dengan raut wajah, yang aku kenal sebagai wajah Bee yang berbahaya, karena berarti dia sedang marah.
"Soal apa?" tanyaku. Aku tidak mengerti hal apa yang membuatnya marah.
"Dari mana kau tahu, akan berbahaya bagiku jika mengkonsumsi alkohol? Jangan berbohong dengan mengunakan nama Oscar!" potongnya, sebelum aku bisa memberikan alasan.
Aku bisa merasakan bagaimana punggungku dialiri oleh rasa dingin.
Kau bodoh sekali Duke! Umpatku dalam hati.
"Oscar tidak akan menjelaskan kondisi tubuhku pada siapapun di luar keluarga kami! Kau tidak mungkin mengetahui hal itu darinya" lanjutnya masih dengan nada yang berbahaya.
Aku menghindari tatapan matanya dengan gugup, sambil berusaha mencari jawaban. Tapi otakku yang tidak terbiasa menciptakan kebohongan, tentu saja tidak mampu memikirkan apapun.
"Aku----" suaraku menghilang tertelan kepanikan, karena aku tidak bisa mengatakan apapun pada Bee.
"Apakah kau berbohong padaku, ketika kau bilang kau tahu dari Oscar soal aku berhenti balet?" tanyanya dengan nada tajam seolah mengiris telingaku.
I'm really screw up!! Aku tidak bisa mengelak lagi. Aku mengangguk pelan, tanpa berani memandang wajah Bee.
"Dari mana kau tahu soal kondisi tubuhku?" ulangnya dengan dingin. Aku semakin kalut, dan merasa sangat bodoh.
"Maaf,----Lui" Hanya itu yang bisa muncul sebagai jawaban dariku, setelah terdiam beberapa saat. Pikiranku benar-benar buntu sekarang. Karena tahu harapanku untuk membuatnya terpesona sudah sangat tidak mungkin.
"Aku pergi!" ujar Bee singkat, sambil bangkit dari meja. Aku mencengkeram erat tangannya.
"Aku akan mengantarmu pulang" ucapku pelan.
"Tidak perlu! Aku akan naik taksi, sekarang lepaskan tanganku!!" bentaknya, sambil mengibaskan tangan berusaha melepaskan genggamanku.
"Kau tidak bisa naik taksi sampai ke Park Castle. Dan lagi aku tidak mungkin membiarkanmu pulang tanpa pengawasan" Aku memandang wajah Bee yang masih dipenuhi amarah.
"Please?! Ijinkan aku mengantarmu pulang" Aku memohon dengan sepenuh hati sekarang.
Aku tidak akan membiarkan Bee pulang sendirian, bagaimana jika terjadi apa-apa di jalan?
"Aku akan diam. Aku tidak akan mengatakan apapun selama perjalanan. Kau bisa menganggapku tidak ada" Bee hanya diam dengan wajah berpaling dariku.
Setelah beberapa saat berpikir dalam sunyi, Bee akhirnya mengangguk kecil, aku mendesah lega dan melepaskan tangannya.
Tanpa membuang waktu, Bee kemudian berjalan meninggalkan meja dengan tergesa, tanpa menoleh lagi ke arahku.
Aku mengikutinya dalam diam.
Aku memberi isyarat dengan tanganku bahwa kami akan pergi kepada Dey yang baru saja berjalan keluar sambil membawa piring dessert kami yang baru. Dey hanya mengangguk dengan wajah bengong.
Bee sangat benci kebohongan, dan aku adalah pembohong yang buruk. Apa yang aku harapkan akan terjadi?
----------- *0o0*----------
Perjalanan ke Park Castle terasa jauh lebih lama dari pada yang seharusnya. Dua jam lebih yang menyiksa, karena kami melaluinya hanya dalam sunyi senyap.
Aku tidak percaya Duke membohongiku begitu saja. Aku sedikit curiga dengan sikapnya yang menghindari pandanganku saat mengatakan bahwa dia mengetahui soal aku berhenti balet dari Oscar.
Dan ternyata aku benar, dia berbohong. Dan terus terang saja, dia berbohong dengan sangat buruk. Dia selalu membuang wajah, menghindari pandangan saat berbohong.
Dan setelahnya, dia masih tidak mau mengatakan padaku dari mana dia bisa tahu tentang keadaan tubuhku. Jika bisa, aku ingin sekali memaksanya mengatakan semuanya. Tapi dengan aneh aku merasa tidak tega memaksanya.
Suara terdengar sangat menyedihkan ketika mengucapkan maaf. Dan tentu saja, aku hampir memaafkannya.
Tapi tidak!!!!
Aku tidak akan memaafkannya. dengan mudah Adalah hakku untuk mengetahuinya, karena ini berkaitan dengan kondisiku. Dan aku tahu pasti bukan Oscar yang mengatakan padanya. Oscar tidak akan pernah memberitahukan hal itu kepada siapapun.
Jovi adalah pengecualian, karena Jovi-lah yang akan mengawasi dan menjagaku ketika aku bekerja. Dan aku menerimanya. Walaupun aku tidak menyukainya, tapi aku menerimanya, karena aku tahu Oscar melakukannya untuk menjagaku.
Tapi Duke?? Oscar tidak mungkin menceritakan kondisiku padanya.
Seperti Zeno, bahkan setelah melihatku pingsan dan menungguku sampai sadar kembali, Oscar masih tidak mengatakan apapun padanya. Oscar menyerahkan keputusan di tanganku, adalah pilihanku untuk bercerita atau tidak kepada Zeno.
Jadi sangat tidak mungkin Duke bisa mengetahuinya dari Oscar. Kehidupan kami tidak saling berkaitan, tidak seperti Jovi.
Aku melirik Duke yang menyetir dalam diam. Dia benar-benar menepati kata-katanya untuk tidak bersuara selama perjalanan ini.
Duke memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk, ketika kami telah sampai.
Tanpa mengucapkan apapun aku membuka pintu mobil dan keluar. "Aku benci pembohong!!" ujarku keras sambil menutup pintu mobil dengan kasar dan berlari masuk.
Aku tidak ingin melihatnya lagi setelah ini. Apa yang aku harapkan dari seseorang yang telah berbohong ketika kami bahkan baru saja saling mengenal? Wajahku terasa panas karena air mata kekecewaan mulai terbentuk di sudut mata.
Aku menghentakkan kaki dengan keras di tangga, untuk mencegah tangisku menjadi. Untuk apa kau menangis karenanya Lui? Dia bukan siapa-siapa. Lupakan dia dan lanjutkan hidupmu dengan damai Lui, batinku.
Tapi aku tidak memungkiri, jika aku sangat nyaman bersamanya. Tidak seperti saat bersama Zeno, aku sama sekali tidak merasa gelisah tadi. Bahkan aku menceritakan segala hal yang melintas di pikiranku padanya.
Dengan Zeno, biasanya akulah yang mendengarkan semua ceritanya.
Dan air mataku seolah tuli, karena sekarang aku bisa merasakan pipiku basah.
Aku menghapusnya dengan kasar.
"Dia bukan siapa-siapa Lui!!!" Kali ini aku meneriakkannya dengan keras, dengan harapan rasa kecewa yang melanda hatiku akan pergi.
Aku menghempaskan tubuhku ke ranjang dan memejamkan mata.
Tidurlah Lui, lupakan dia, kau tidak perlu menangis karena dia. Aku mengulang mantera itu dengan konstan sambil berharap rasa kantuk akan datang.