
"Duke!! Bangunlah, waktu sarapan sudah hampir lewat. Dan kenapa kau tidur di sofa?"
Suara heran Mom menembus mimpi, yang aku lupakan dengan cepat.
"Tertidur tanpa sengaja aku rasa!" Aku menggosok wajah, agar kesadaranku pulih sepenuhnya.
"Itu buruk Duke, kau seharusnya beristirahat dengan benar, setelah melakukan mindlink yang melelahkan kemarin!" Mom duduk, sambil mengusap bahuku pelan.
"Are you alright? Raut wajahmu tidak terlihat bagus" Mom terlihat khawatir.
"Aku sehat Mom, hanya butuh istirahat yang cukup"
Aku tidak punya waktu untuk bersantai sekarang. Aku harus segera menemui Bee.
"Dimana Bee?" tanyaku pada Mom, yang kini berwajah sedikit masam karena, bantahan tadi..
"Dia ada di kamar. Dan keadaannya juga tidak baik. Dia agak sedikit pucat dan sangat gugup. Tapi dia tidak mau mengatakan apapun kepadaku. Tunggu! Apakah terjadi sesuatu diantara kalian?" tanya Mom, dengan penuh selidik.
Mom dan instingnya yang tajam, keluhku dalam hati.
"Aku hanya harus berbicara dengannya Mom" Aku menghindar dan beranjak menuju kamar mandi.
"Ck.. setidaknya perbaikilah sedikit penampilamu, Kau terlihat seperti habis dilindas oleh segerombolan jerapah" Mom mengomel, dengan suara pelan sambil berjalan menuju dapur.
Dia tentu kesal , karena aku menolak menjelaskan apa yang terjadi.
Tapi apa yang bisa aku jelaskan? Bahwa aku telah mencium Bee tanpa sengaja, dan sekarang dia marah padaku?
Mom akan membunuhku jika tahu hal itu. Mencium seseorang tanpa ijin adalah pelecehan seksual .
Tapi dia membalas ciuman itu!!
Mataku kembali tidak fokus, mengingat rasa manis bibir Bee yang sangat aku rindukan.
Aku melihat pantulan bibirku di cermin, dan membayangkan dengan detail bagaimana bibir Bee bergerak.
Mulutku mendesah karena sudah pasti aku menginginkannya lagi. Aku harus menyiram kepalaku dengan air dingin untuk mengusir pikiran liar ini.
Aku keluar dari kamar mandi dengan pikiran yang semakin kalut.
Dengan bimbang, aku mendekati pintu kamar. Aku harus berbicara dengan lebih tenang dan tidak boleh membuat Bee terlalu tertekan, ulangku dalam hati.
Dan aku juga akan meminta maaf. Bagaimanapun juga, ciuman itu terjadi karena aku tidak bisa menahan diri.
Aku mengetuk pelan dan menunggu, tapi tidak terdengar jawaban apapun dari dalam.
"Bee? Apa kau di dalam?"
Aku mulai khawatir. Apakah dia pingsan? Kata Mom, dia terlihat tidak sehat tadi.
Aku membuka pintu yang tidak terkunci dengan hati-hati, dan mendapati kamar itu kosong.
Sesaat jantungku mencelos cemas, membayangkan Bee telah pergi. Tapi kemudian tersadar, dia berada dalam pack di tengah hutan. Bee tidak akan bisa pergi kemanapun.
Aku melirik ke arah balkon dan melihatnya di sana. Dia sedang menatap ke arah gunung pucat bersalju. Hatiku berdenyut lega. Dia masih di sini tentu saja.
"Kau seharusnya memakai pakaian yang lebih tebal jika ingin berada di luar" Aku melirik bajunya, begitu sampai di balkon.
Bee tidak lagi memakai baju tidurnya seperti tadi malam. Tapi rok selutut tidak akan menjamin kehangatan.
Bee sedikit terlonjak mendengarku, dia pasti melamun. Suara jendela besar yang bergeser membuka dan juga langkah kakiku, seharusnya sudah cukup memberi petunjuk kedatanganku.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya, dengan nada kasar. Amarah masih terlihat jelas di raut wajah Bee.
"Kita harus bicara Bee"
"Tidak! Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi!" tukas Bee, dengan ketus.
Dia melangkah masuk ke dalam kamar, tanpa peduli dengan keberadaanku. Aku menyusulnya masuk, sambil menarik nafas panjang.
"Ayolah Bee, ada banyak hal yang harus kita bicarakan. Aku memang telah berbuat kesalahan, tapi aku tahu kau juga menikmati ciuman itu"
Aku terpaksa mengatakan hal ini, karena Bee dengan keras kepala terus berjalan masuk, tanpa ada keinginan untuk mendengarku.
Bee langsung menghentikan langkah, dan berbalik memandangku. Wajahnya semakin memerah penuh amarah.
"Tidak!! Aku tidak menikmatinya. Itu adalah kesalahan, dan lebih baik kita melupakannya" Bee berteriak keras, dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
"Melupakannya?? Aku tidak akan mungkin melupakannya Bee, itu adalah ciuman termanis yang pernah aku rasakan!"
"Enough!!!" Bee berteriak sambil menutup kedua telinganya, pertanda dia tidak ingin mendengar penjelasanku.
"Jangan berkata seperti itu, kau menjijikkan!! Berani sekali kau mengatakan hal seperti itu. Aku benar-benar salah menilaimu, Duke!!"
Bee menggelengkan kepala dan menatapku dengan wajah benci, lengkap dengan air mata yang mengalir.
Menjijikan???!!
Aku semakin tersesat. Aku mendapat firasat telah terjadi kesalahpahaman besar di sini. Tapi tidak tahu apa.
Aku berjalan pelan, dan meraih kedua tangan Bee yang menutup telinganya.
"Jangan berani menyentuhku!!!"
Bee menyentakkan tanganku dengan keras, berusaha melepaskan diri. Tapi aku menahannya, dia harus mendengar penjelasanku.!
"Tidak!" jawabku datar. "Aku harus mengatakan sesuatu, dan kau harus mendengarnya"
"Aku tidak mau!!!!"
Bee menjerit keras dan menyentakkan genggamanku dengan sekuat tenaga, dan tentu saja masih gagal.
Tapi karena usaha itu, tubuhnya menjadi tidak seimbang dan jatuh ke ranjang yang ada di belakangnya.
Aku yang tidak menyangka akan mendapat perlawanan sengit, ikut tertarik mengikuti berat tubuh Bee, dan jatuh dengan posisi mendarat tepat berada di atasnya.
Syukurlah. satu tanganku dengan reflek menahan agar tubuhku tidak jatuh dengan telak di atas tubuhnya.
Posisi Bee yang sekarang berada di bawahku memberi keleluasaan. Bee tidak akan mempunyai pilihan lain selain mendengarku.
Aku meraih tangan kanannya, yang berusaha mendorongku mundur, dan mengangkatnya ke atas kepala Bee, menyatukannya dengan tangan kiri yang sedari tadi masih aku pegang.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!!"
Bee menjerit panik dan menyentakkan tangannya berkali-kali, mencoba lepas dari cengkeramanku.
"Tenanglah Bee, aku hanya ingin kau mendengar---"
PRAAAAAANGGG!!!!!!!
Suara berisik barang pecah belah berjatuhan membuatku terperanjat.
Di depan pintu Mom memandang aku dan Bee dengan wajah pias. Sarapan yang tadinya berada di atas nampan berjatuhan di kakinya.
"DUKE PACIAN THEOBALD!!! BERANI SEKALI KAU!!" Mom berteriak histeris, sambil berlari menghampiriku.
"Berani--sekali--kau --melakukan--perbuatan--hina -- seperti--- itu --padanya. Aku--tidak --membesarkanmu--untuk--menjadi --pria--br*ngs*k--seperti--ini!!"
Dengan kalap Mom memukulku dengan nampan besi yang ada di tangannya. Untuk setiap kata, dia melayangkan satu pukulan.
"Mom berhenti! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!!' Aku mengangkat tangan, berusaha menghentikan pukulannya.
Pukulan itu tidak sakit, dan aku yakin nampan besi itu telah berubah bentuk sekarang. Tapi jelas pemandangan ini memalukan.
"Apa maksudmu dengan 'tidak seperti yang kau bayangkan'? Kau menahan kedua tangan Bee di atas tempat tidur, dan aku bisa mendengar teriakan penolakan darinya tadi!" jerit Mom. Kembali mencoba untuk memukulku dengan nampan.
"Aku tahu, tapi ini benar-benar hanya kebetulan Mom!"
Ini menyebalkan, aku bangkit dari ranjang, menyambar nampan itu, dan melemparnya jauh dari jangkauan.
"Kau tahu aku tidak akan melakukan perbuatan sehina itu Mom, tidak setelah apa yang aku lihat di kepala El"
Aku berdiri di depan Mom, dan memandangnya tepat di mata untuk membuatnya percaya dengan kata-kataku.
Nafas Mom menjadi lebih lambat, begitu mendengar nama El di sebut.
Dia tahu bagaimana aku berjuang keras menerima ingatan saat Linus melecehkan El. Aku tidak akan melakukan perbuatan terkutuk seperti itu pada siapapun.
Mom akhirnya mengangguk lemah.
"Tapi apa yang kalian lakukan? Apa yang terjadi"
Aku dan Mom menoleh pada saat yang bersamaan ke arah Bee, dan mendapatinya telah menutup mata di ranjang.
"Bee!!!'
Aku menyentuh keningnya dan mendapati suhu tubuhnya tinggi, pertanda dia pingsan karena gumpalan darah di otaknya.
Aku merapikan posisi Bee, dan bergegas mengambil vial obat di laci meja.
Aku meminta Dr. Sidra untuk meninggalkan beberapa vial di sana, setelah kejadian penyerangan kemarin. Aku tidak harus membawanya ke rumah sakit atau memanggilnya sekarang.
Dengan hati-hati, aku menyuntikkan obat itu di lengan kanan. Aku kembali memeriksa suhunya setelah beberapa menit, dan demamnya mulai menurun pertanda obatnya telah bekerja.
"Dia akan sadar bukan?" Mom duduk di ranjang dan mengelus tangan Bee.
"Apa yang terjadi dengan kalian? Kenapa Bee berteriak marah padamu?"
Belum aku menjawab, Mom sudah menghujaniku dengan pertanyaan lain, sambil memandangku tajam. Pandangan yang berarti aku harus menjawab pertanyaan tadi dengan sejelas-jelasnya.
"Aku--- menciumnya tadi malam, kurang lebih seperti itu" jelasku, sambil menunduk.
Mengakui kau telah mencium seseorang pada ibumu, bukan hal yang mudah. Ini memalukan!!
"Kau apa?!" Mom berteriak terkejut.
"Aku bersumpah itu terjadi tanpa paksaan Mom. Tapi aku memang melakukannya tanpa persetujuan Bee" jelasku.
"Dan aku bersumpah dia membalas ciumanku" tambahku, cepat.
Karena mata Mom telah melirik berbahaya ke arah nampan yang tadi aku singkirkan. Bersiap memukul lagi.
"Kau yakin dia membalasnya?" Mom menatapku, dengan mata menyipit dengan curiga.
Aku mengangguk keras.
"Lalu apa yang salah? Seharusnya kalian tidak bertengkar jika memang dia membalas ciumanmu" Mom masih menatapku dengan ragu.
"Aku tidak tahu Mom, setelahnya Bee tiba-tiba menamparku dan meneriakkan sesuatu hal tentang Roan?!"
Aku tiak bisa menyembunyikan nada heran di suaraku. Wajah Mom mengerut bingung. Mom memandang Bee dengan penuh tanya.
"Apakah dia salah paham tentang hubunganmu dengan Roan? Mungkin Lui mengira kalian adalah sepasang kekasih"
Mom memandangku dengan skeptis.
"Whaat?!!..ha..ha..ha"
Aku terkekeh geli mendengar perkataan Mom. Itu asumsi yang sangat absurd dan sangat mustahil terjadi.
Melihat wajah Mom yang masih serius, aku menghentikan tawa itu.
"Are you serious Mom? Tidak mungkin ada orang yang mengira aku mempunyai hubungan romantis dengan Roan. Kami selalu bertengkar ketika bertemu"
"Itu benar. Tapi kalian tidak pernah bertemu maupun bertengkar di depan Lui. Dia hanya memandang kalian dari kejauhan selama ini. Bisa jadi Lui salah paham" Mom menjelaskan dengan alasan yang sangat logis.
Aku terdiam memikirkannya. Ini adalah satu-satunya penjelasan yang masuk akal, kenapa Bee bersikap seperti itu tadi malam.
Situasi seperti ini tidak pernah terlintas sama sekali di benakku, karena membayangkan aku memiliki hubungan dengan Roan, sudah cukup untuk membuatku bergidik ngeri.
"Dimana Roan? Aku harus membawanya kesini untuk menjelaskan jika kami tidak ada hubungan apa-apa pada Bee"
"Dia sedang pergi dengan Rex ke kota. Ada gadget baru yang ingin dibelinya" kata Mom, sambil mengangkat bahu.
"CK.. uncle Rex terlalu memanjakannya!" Sungutku, Aku harus menunggu sampai siang paling tidak.
"Ya, dan tidak ada yang bisa mencegahnya. Kau tahu itu" Mom menyelimuti tubuh Bee.
Dia merapikan rambut Bee yang sedikit terserak, dan kemudian mengelus dahinya lembut.
"Bangunlah sayang! Kau membuat anakku sangat tersiksa dengan cintanya" Mom berbisik di telinga Bee.
"Dia akan bangun beberapa saat lagi Mom, jangan khawatir"
Aku merebahkan diriku di sofa dan menggeliat dengan penat. Kepalaku kembali terasa berat, karena aku pasti tidur tidak lebih dari dua jam tadi malam.
"Aku akan memanggil seseorang untuk membereskan itu!" Mom menunjuk tumpukan piring, gelas dan makanan yang berserakan di depan pintu.
Aku mengangguk pelan dan Mom segera keluar.
Aku mengetikkan pesan yang meminta Roan agar segera ke Manor setibanya dia di pack.
Dia harus membantuku untuk menjelaskan semuanya.
----------- *0o0*----------
Aku menatap kosong ke arah langit-langit kamar tanpa berani bersuara.
Kesadaranku telah pulih beberapa saat yang lalu. Tapi aku tidak berani bergerak karena takut akan membangunkan macan tidur----err serigala tidur yang ada di sofa.
Nafasnya berat dan teratur, menandakan dia tertidur nyenyak.
Aku melirik mulutnya yang sedikit terbuka dengan bentuk yang sangat menantang.
Bagaimana bisa seseorang terlihat begitu indah pada saat sedang tidur?!
Aku menggerutu dengan kesal dalam hati. Aku meraba bibirku yang masih tak bisa melupakan kenangan tadi malam.
Bibir lembut dan basah menyapu bibirku yang beku dengan lelehan hangat, membuatku terhanyut dengan seketika.
Duke benar, aku memang membalas ciuman itu, aku tidak menolaknya. Akal sehatku datang sedikit terlambat, tamparan itu datang sangat terlambat.
Apa yang kau pikirkan Lui?? Kau terlihat seperti wanita murahan yang menggoda Duke.
Ughhh.. perutku mual membayangkan perbuatanku tadi malam.
Kesalahan itu dimulai, ketika aku sangat menikmati sentuhan hangat tangan Duke di wajahku.
Aku mengabaikan peringatan tanda bahaya di otakku, yang menyuruhku menolak ajakan Duke untuk berjalan-jalan, ataupun menyingkirkan tangan Duke dari wajahku. Tapi ciuman itu adalah kesalahan yang sangat fatal.
Dia tidak seharusnya melakukan itu. Tidak dengan adanya Roanna. Kini Duke tanpa merasa malu malah ingin membahasnya!
Amarah membakar hatiku dengan cepat. Aku sama sekali tidak menyangka Duke mempunyai sifat playboy seperti itu.
Apa yang akan dilakukannya sekarang?
Apapun keputusannya, hanya akan membuat aku dan Roanna terluka.
Aku tidak bermimpi Duke akan meninggalkan Roanna untukku, tapi jika memang itu benar terjadi, aku juga tidak akan menerimanya. Roanna selalu ketus, dan tidak pernah bersikap ramah padaku, tapi bukan berarti aku akan membiarkannya terluka.
Aku tidak serendah itu!
Dan jika dia memang tidak ingin meninggalkan Roanna, sikap yang paling tepat adalah meninggalkan aku sendiri dan melupakan kejadian tadi malam, bukan malah tertidur nyenyak di sini.
Kakinya yang panjang menekuk, karena panjang sofa tidak bisa menampungnya.
Posisi itu jelas tidak nyaman, apa yang membuatnya bertahan di sini?
Aku tidak bisa menebak jalan pikiran Duke, yang menurutku tidak masuk akal.
Seolah mendengar amarah di benakku, Duke tiba-tiba membuka mata dan langsung memandang tepat di mataku.
Aku sempat tertegun sejenak, tapi setelah akal sehatku kembali, aku membalikkan badan memunggunginya.
Aku tidak ingin melihatnya, tidak saat dia bisa memandangku juga.
Langkah kaki Duke mendekat, membuat tubuhku menegang dengan waspada. Ranjangku bergerak pelan, menjadi pertanda Duke duduk di sebelahku.
"Apakah karena aktor itu kau bersikap seperti ini?" suara Duke terdengar bergetar.
"Maksudmu Zeno?! Apa hubungannya dengan semua ini?" Aku menoleh menatapnya dengan bingung.
Wajah Duke tiba-tiba memancarkan rasa lega luar biasa, tapi itu tidak menjawab pertanyaanku.
Apa maksudnya? Dengan kesal aku kembali berbalik memunggunginya.
"Bee, ada kesalahpahaman besar yang terjadi saat ini. Kau harus mau mendengar penjelasanku secara lengkap" ucapnya, lembut.
Tubuhku kembali bergetar karena merasakan suara Duke semakin dekat.
Aku menggeleng "Aku sudah cukup mengerti, kau tidak perlu menjelaskan apa-apa, karena apapun keinginanmu aku akan menolaknya!" jawabku dengan tegas--atau berusaha tegas.
"Bee, kau salah paham. Aku dan Roan--"
"AKU DATANG!!"
Pintu kamar terbuka dengan tiba-tiba, menampakkan Roanna yang tersenyum ceria sambil menenteng tas belanjaan dengan jumlah tidak terhitung ditangannya.
Senyumnya langsung hilang saat melihatku dan Duke.
Oh Tuhan!!.. dia pasti salah paham. Duke sedang duduk di ranjangku saat ini. Dia pasti marah! Dengan panik aku duduk, dan bergeser sedikit menjauh dari Duke
Roanna berjalan masuk tanpa mengatakan apapun. Dia meletakkan tas belanja dengan sangat hati-hati, yang membuatku berpikir, apapun yang dibelinya pasti sangat berharga.
Dia lalu duduk di sofa yang menjadi tempat tidur Duke, dan memandang kami berdua dengan raut wajah datar.
"Roanna, aku mohon kau jangan salah paham, Duke hanya menemaniku karena aku pingsan tadi, kami-"
"Hentikan itu!! Penjelasanmu menggelikan sekali Bee, dan kau seharusnya sudah tertawa sekarang!!"
Duke memotong perkataanku dan menunjuk Roan, yang sekarang mengernyit bingung.
Tertawa?
Duke berharap Roanna akan tertawa, setelah melihat aku dan dia berada di ranjang yang sama?!! Apa dia sudah gila?
Roanna melebarkan matanya yang cantik, menandakan dia mulai paham dengan situasi antara aku dan Duke.
Aku memejamkan mata dengan pasrah, aku akan menerima apapun makian yang akan dilontarkannya padaku.
"HA.........HA.........HA...........HA-------!!"
Tawa keras terbahak pecah di kamarku.
Aku membuka mata, dan mendapati Roanna tertawa sambil memegangi perutnya, dia bahkan bertepuk tangan dengan bersemangat.
Aku menegakkan tubuh, dan melirik ke arah Duke, yang sedang melihat Roanna dengan wajah sama bingungnya denganku.
"Berhenti!! Tawamu membuatku yakin kau memiliki keterkaitan dengan segala kesalahpahaman ini Roan!"
Duke menghardik Roanna, dan dia segera saja berhenti, sambil menghapus air mata yang menetes karena tawa.
Roanna duduk kembali di sofa dan menenangkan diri. Tapi aku bisa melihat, tawanya tidak seratus persen bisa ditahan.
"Aku berhasil! Aku tahu aku berhasil. Oh ini luar biasa" Roanna kembali mengatakan hal yang sama sekali tidak bisa aku mengerti.
"Roan.. berhenti tertawa! Dan jelaskan apa maksudmu! Aku tidak suka menunggu" Nada geram terdengar di suara Duke.
"Oh baiklah-- aku mungkin telah melakukan sesuatu agar Lui cemburu padaku" Roanna berkata dengan santai, sambil meminum air yang ada di meja. Tertawa membuatnya kehabisan nafas.
Dia apa? Aku tidak mempercayai telingaku. Dia sengaja membuatku cemburu? Apa maksudnya?
"Kau melakukan apa?" Duke bangkit berdiri, memandang Roanna dengan galak.
"Oh ayolah Duke! Hubungan kalian sama sekali tidak mengalami kemajuan. Aku hanya ingin membuat Lui cemburu dan membuatnya sadar tentang perasannya padamu. Dan melihat keadaan kalian saat aku masuk tadi, aku berhasil bukan?"
Senyum puas terukir di mulut Roanna.
"Dan bagaimana persisnya kau melakukan hal itu?" Duke menggeram marah.
Mata Roanna memandang Duke dengan sedikit panik sekarang. Seakan sadar jika dia telah melampaui garis batas kesabaran Duke.
"Kau tak ingat? Pelukan dan juga kata-kata mesra yang aku berikan padamu beberapa hari yang lalu? Euwww!! mengingatnya saja membuat aku kembali mual. Aku sampai harus memelukmu tanpa baju saat itu"
Roanna mengibaskan tangannya dengan jijik, seolah melepaskan sesuatu yang masih menempel di sana.
Duke mengernyitkan dahi.
"Saat dirumah sakit itu?" Duke bertanya dengan ragu.
Roanna mengangguk "Kau tidak melihatnya karena kau sedang menghadap ke arahku. Tapi Lui sudah bangun saat itu, benarkan?"
Roanna mengalihkan pandangannya padaku, meminta persetujuan dengan mata yang jenaka. Aku tentu saja mengangguk.
Aku masih bingung dengan arah pembicaraan mereka, tapi aku memang sudah bangun saat Roanna memeluk Duke di rumah sakit.
Duke memandangku, dengan terheran-heran.
"Oh.. dan juga saat kita berbicara di taman. Kau ingat saat aku merangkul bahumu?" Roanna menambahkan dengan mengedipkan mata.
Dia terlihat terlalu gembira.
"Apa?! Bee tidak mungkin melihatnya! Dia sedang ada di kamar, dia bahkan belum bisa berjalan!" Duke membantah.
"Stupid Wolf!! Dia sedang berada di balkon dan memandang kita yang sedang mengobrol di bawah. Saat itulah aku tahu jika Lui masih mencintaimu, dia memandangku dengan mata ingin membunuh karena cemburu. Masa lalu ----"
"Roan!!"
Duke membentak sambil melotot kepadanya, seolah memberi peringatan agar dia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Masih? Apa maksudnya dengan aku masih mencintai Duke?
Bentakan Duke, membuat Roanna seperti tersadar akan sesuatu, tapi kemudian dengan cepat mimik mukanya kembali penuh senyum.
Aku ingin sekali bertanya soal kata 'masih' itu, tapi aku enggan menyela amarah Duke.
Dia masih memberi tatapan melotot galak pada Roanna saat ini.
"Yah.. maksudku. Aku tahu dia cemburu melihatku mengobrol akrab bersamamu, Duke, bukan begitu Lui?" Roanna kembali memandangku dengan tatapan jahil.
Aku yakin sekali wajahku telah memerah. Roanna membaca hatiku dengan ketepatan yang mengagumkan.
Aku membenamkan wajah di lutut dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhku, menyembunykan rasa malu yang teramat sangat.
"Dan kau Duke, kau terlalu khawatir sehingga tidak bisa melihat bagaimana perasaan Lui yang sebenarnya!! Kau terlalu takut untuk mengambil tindakan, karena--- em hal itu" suara Roanna menembus selimutku.
Hal apa? batinku.
Tapi itu tidak penting saat ini.
Aku menenangkan nafasku sejenak dan berpikir.
Jadi antara Roanna dan Duke tidak ada hubungan apapun? Aku bisa merasakan seluruh sel di otakku menarikan *pas de quatre** dengan bahagia.
Jantungku seolah ingin meledak dengan segala informasi yang membuatku melayang.
"Ahhhh.... "
Tarikan pelan selimutku membuatku memekik terkejut. Duke memaksaku keluar dari selimut.
"Kau dengar itu Bee, kau tidak memiliki alasan lagi untuk mengatakan kau tidak menikmati ciumanku tadi malam"
Senyum penuh kemenangan merekah menampakkan deretan gigi putih Duke. Dia sudah kembali duduk di ranjang, dan mencondongkan tubuhnya ke arahku.
"Eww..euww.. setidaknya tunggulah sampai aku keluar" Roanna mengeluh jijik. Dia mengangkat kantong belanja dengan hati-hati, kemudian berjalan menuju ke pintu.
Duke sama sekali tidak menoleh, saat Roanna bergerak. Dia terus memadangku tanpa terputus.
Aku merasa bagaikan kelinci yang terjebak di depan serigala. Aku tidak bisa lari maupun menghindar lagi.
"Aku tidak---" aku mencoba membantah lagi dan berpaling menghindari mata Duke. Tapi suaraku semakin menghilang sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku. Aku tidak bisa memberi alasan lain yang masuk akal.
Duke meraih daguku dan memutarnya, agar menghadap ke wajahnya.
Tapi aku masih tidak bisa, mataku menghindar dengan otomatis karena malu.
"Look at me in the eyes, Eluira" Suara Duke pelan, tapi penuh dengan nada menuntut, tidak memberiku pilihan untuk menolak.
Aku menggulirkan pandangan, dan menemukan mata cokelat terang yang kini berkilat penuh tekad.
"Ada yang ingin kau katakan padaku?" tanyanya, dengan suara serak seolah menahan emosi.
Aku memejamkan mata dan mengigit bibirku dengan gugup.
"Jangan menggigitnya seperti itu atau aku akan menganggapnya sebagai undangan. Dan percayalah untuk kali kedua, aku akan menambah durasi ciuman itu menjadi jauh lebih lama".
Mata Duke mengedip dengan berbahaya, sambil memandang lekat ke arah bibirku,
Dengan panik aku menutup mulut dengan tangan. Aku tidak siap untuk menerima ciuman kedua. Bisa-bisa aku pingsan lagi.
"I apologize for the slap" bisikku, dengan sisa suara yang masih bisa aku hasilkan.
"And--?" Duke menunggu lanjutan kalimatku, sambil tersenyum lebar.
"And yes! Aku juga menikmati ciuman itu"
Aku bisa mengucapkannya setelah bersusah payah, menyingkirkan seluruh rasa malu yang aku miliki.
Duke tertawa pelan dengan nada penuh kemenangan. "Good girl" pujinya.
Wajah kami sekarang berjarak kurang dari 3 cm. Tapi Duke mendekat,
Segala aroma mapel dan hutan menguar dari tubuhnya, memasuki indera penciumanku dengan menggoda. Tangan Duke terangkat dan mendongakkan kepalaku dengan lembut.
Aku tidak mempunyai keinginan dan daya untuk melawan. Tubuhku dengan patuh mengikuti keinginan Duke. Jarak bibir kami sekarang hanya setipis kertas.
BLAAAKKK!!!!!
Pintu kamar sekali lagi terbuka dengan brutal, Myra, El dan juga Roanna berdiri dengan canggung di sana.
Terperanjat, aku bergerak menjauhi Duke.
Duke mendesah dengan penuh nada frustasi "Kalian sengaja! kalian dengan sengaja melakukannya!!" Duke berseru marah.
Dia bangkit dan menunjuk ketiga orang yang masuk ke kamar. Roanna berdiri di belakang Myra sambil terkikik. Myra hanya tersenyum, tapi El berwajah sangat serius.
"Tidak!! Ini penting, para Elder sudah menunggumu di bawah" El menerangkan sambil melontarkan mata penuh penyesalan padaku dan juga Duke.
"Those----" Apapun kata yang ingin di ucapkan Duke di telannya kembali dengan susah payah. Dia mendelik dengan wajah penuh amarah.
"Apa yang mereka inginkan?" Duke bertanya sambil mengatupkan giginya.
"Menjadwalkan penobatan Alpha dan juga eh--kelengkapannya" El memandangku dengan aneh saat mengucapkannya.
"Aku sedang berusaha melengkapinya!" Duke berkata sambil menunjukku.
Aku? Apa hubunganku dengan penobatan Alpha?
"Duke, temuilah mereka. Dan beri penjelasan yang paling masuk akal. Katakan kau membutuhkan sedikit waktu lagi. Dan setelah itu sampaikan pada Abel, pertemuan itu akan sedikit tertunda"
Myra mendekati Duke dan mengelus punggungnya agar amarah Duke reda.
"Tenanglah, kau masih memiliki banyak waktu dengan Lui setelah ini" Myra menoleh padaku sambil mengedipkan sebelah matanya.
Tidak ayal, wajahku menghangat. Tidak diragukan lagi, Myra mengetahui segala apa yang terjadi antara aku dan Duke.
"Bee, kita belum selesai..." Duke tiba-tiba berpaling dan berkata dengan suara sedikit keras padaku. Tapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kecil.
Tidak menunggu reaksi dariku, dia berbalik pada Myra.
"Thanks Mom, tolong jaga dia untukku" Duke mengenggam tangan Myra, yang tadi mengelus punggungnya. Myra mengangguk sambil tersenyum.
"AAHhhh--!!"
Pemahaman baru menghajarku bagai kilatan petir. Ingatan sesaat sebelum aku pingsan tadi melayang turun.
Dan itu membuatku memekik panik.
"Apa? Ada apa?" Duke yang setengah jalan menuju pintu berhenti dan berbalik memandangku dengan khawatir, karena teriakanku tadi.
"Kau memanggilnya Mom!" Aku menunjuk Myra dengan tangan bergetar.
Duke menelengkan kepala heran "Of course, she's my mom. Aku harus memanggilnya apa?" tanyanya.
Wait!!..what??---What?? Myra..Myra?
"Kau--kau, maksudku anda..." Aku terlalu terkejut untuk menyusun kata-kata dengan benar.
"Duke, El. Kalian segeralah menuju ke bawah. Aku akan menjelaskan nanti" Myra memandangku dan sekali lagi mengedip dengan jahil.
Duke mengangkat bahu dan keluar dari kamar dengan diikuti oleh El. Sementara Roanna dan Myra menghampiriku dan duduk manis di ranjang.
"Nah Lui, kita harus berbicara tentang banyak hal, tapi pertama tutuplah mulutmu, kau terlihat seperti ikan yang kekurangan nafas jika mematung seperti itu" Myra tertawa, dan mengatupkan mulutku dengan tangannya.
"Kau--Anda..." Kata-kataku kembali tertelan rasa panik.
"She's cute Auntie, kau benar" kali ini Roanna yang berbicara. Wajahnya berseri penuh dengan senyum lebar. Aku belum pernah melihatnya dengan wajah seramah ini.
"Lui, aku akan sangat sedih jika kau mulai memanggilku dengan 'anda' atau panggilan sopan yang lain. Aku ingin kau tetap memanggilku Myra" Dia menjawil hidungku pelan.
Aku masih tidak berkedip karena kejutan ini.
Tidak pernah terbayangkan sedikitpun, jika Myra adalah Ibu dari Duke. Terutama karena Myra tidak terlihat cukup tua untuk menjadi ibunya.
Aku sekarang mencoba mengingat-ingat segala hal yang pernah aku katakan dan lakukan pada Myra.
Ohh---aku harap tidak ada hal memalukan yang aku ceritakan padanya.
Dan pantas saja Myra menangis bercucuran air mata saat membicarakan ayah Duke, dia istrinya!!!
"Kau tidak pernah mengatakan----" protesku, pelan.
Setidaknya aku akan bersikap lebih sopan jika tahu.
"Hmmm-- Pada awalnya, fakta itu memang rahasia. Karena aku harus membuatmu mengerti jika kau tidak perlu merasa takut pada Duke. Dengan mengatakan padamu jika aku adalah Ibunya, tentu saja tidak akan membantu misiku. Tapi setelah kau terbiasa dengan kami semua, aku menjadi lupa. Aku tidak sadar jika kau belum tahu tentang hal itu" jelas Myra, sambil mengelus rambutku lembut.
"Maaf, jika hal ini membuatmu terkejut. Tapi aku harap tidak ada yang berubah dalam hubungan kita. Aku sangat menikmati keberadaanmu di sini Lui. Dan aku sangat setuju dengan pilihan Duke. Kau memang gadis yang manis, aku bisa mengerti kenapa Duke bisa tergila-gila padamu" tambahnya, dengan tawa pelan.
"Dia tidak---" wajahku tidak bisa menahan rasa malu yang melanda.
Aku menutupnya dengan tangan. Aku ingin mencubit diriku sendiri untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi.
"Sejujurnya, aku tidak menyangka Duke akan menjatuhkan pilihan pada gadis yang sangat polos sepertimu Lui, Aku berharap dia jatuh cinta pada gadis penjajah yang akan membuatnya menderita" Kali ini Roanna yang berbicara, dengan nada kecewa.
Dengan santai dia merebahkan dirinya di ranjang, sejajar dengan arahku duduk.
Karena komentarnya itu, Myra memberi jentikan pelan di dahinya. "Aww.. auntie" Roanna merajuk marah sambil cemberut pada Myra.
"Mulutmu harus belajar untuk memilah ucapan Roan!" tegur Myra.
"Jangan dengarkan dia Lui, mulut Roan memang tidak memiliki saringan yang memadai" Myra memandangku dengan mata menyesal.
"Aku tidak apa-apa"
Aku tidak akan tersinggung dengan ucapan Roanna. Aku sudah terbiasa mendengar ucapan seperti itu dari Jovi, walaupun tidak sefrontal ini.
"Dan sekarang kita akan makan siang!! Aku menyesal karena sarapanmu harus berakhir di lantai, jadi sekarang kita akan ke bawah untuk makan siang. Bagaimana? Setuju?" Myra bangkit dan mengulurkan tangannya padaku.
Sikap Myra sama sekali tidak berubah, seolah beberapa menit yang lalu tidak terjadi apapun antara aku dan Duke.
Aku langusng lega. Sejujurnya aku tidak tahu harus bersikap seperti apa jika bertemu dengan orang tua Duke dengan cara yang biasa. Aku tidak ahli dalam hal seperti ini.
*Pas de Quatre : Tari balet kuartet yang di ciptakan oleh Jules Perrot in 1845, dengan menggunakan komposisi musik dari Cesare Pugni. Memiliki irama yang ceria dengan banyak lompatan dan putaran.