Finding You, Again

Finding You, Again
INTERVAL - Something You Need to Remember



Gadis yang telah tertimbun rasa putus asa itu mengangkat kepalanya dengan sentakan.


Telinganya menangkap panggilan dari satu pintu yang ada di depannya. Dan panggilan itu semakin lama semakin keras.


Gadis itu bergegas bangun dan mendekat ke pintu asal suara yang didengarnya.


Kegembiraan dan rasa terima kasih merasuki tubuhnya. Karena telinganya tidak salah.


Ada seseorang yang memanggilnya, dan sekarang dia melihat kenop pintu di hadapannya itu bergoyang, pertanda seseorang tengah berusaha membukanya dari sisi yang lain.


Dengan bersemangat, gadis itu mulai menggedor pintu.


"Tolong aku, aku mohon buka pintu ini" bisiknya, dengan penuh haru.


Entah sudah berapa lama dia telah terkurung di ruangan gelap tanpa batas ini. Gelap, sepi dan sendiri. Akhirnya kini ada yang mendengar panggilannya.


Suara yang memanggilnya masih sangat jelas, tapi entah kenapa pintu tetap membeku. Walaupun gadis itu juga telah membantu dengan mengguncangnya sekuat tenaga, pintu itu tetap tertutup dengan kokoh.


 


Bee... apakah kau ada di sana?" Suara yang sangat akrab berbisik di balik pintu tempatnya bersandar.


"Ya... aku di sini. Aku mohon bukalah pintunya" isaknya dengan sisa tenaga yang ada.


"Bukan aku yang akan membukanya Bee, tapi kau" bisik suara di balik pintu lagi


"Aku tidak bisa membukanya" kata gadis itu pelan.


"Kau akan bisa membukanya sekarang, kau tahu siapa aku bukan?"


"Aku tidak..." gadis itu menutup mulut sebelum bisa menyelesaikan kalimat.


Dia tidak tahu siapa pria yang berbicara dari balik pintu, tapi ada perasaan rindu dan nostalgia yang menyelimuti hatinya.


Dia ingin meneriakkan sebentuk nama yang terkumpul di ujung lidahnya, tapi otaknya tidak mampu menyuarakannya dengan benar.


"Aku akan menunggu Bee" kata suara itu lagi.


"Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi" gadis itu memohon dengan sangat, tidak tahan dengan segala kesunyian dan kegelapan yang mengurungnya selama ini.


"Tak akan Bee, aku tidak pernah meninggalkanmu" suara berat dan jernih itu memberinya ketenangan yang tidak pernah ia rasakan selama ini.


"Aku akan selalu di sini bersamamu"


Gadis itu semakin bingung, ia sangat yakin mengenal suara itu.


Tapi begitu ingin memanggil namanya, mulutnya terkunci. Ia kembali memejamkan mata berusaha keras memanggil pria yang ada di balik pintu.


"Bee...?" suara lembut kembali memanggilnya pelan. Dan seperti keajaiban, sebentuk nama hadir di bibirnya.


"Pace.....?? " bisiknya lirih.


 


 


******o0o*****


 


PIECE OF MEMORY


 


"Suara berisik apa itu?"


Gadis bermata biru bertanya dengan nada kesal.


Rambut pirangnya yang diikat dengan rapi di belakang kepala, bergoyang tertiup angin, saat dia membuka jendela mobil untuk melihat lebih jelas keadaan di luar. Wajahnya yang elok sedikit rusak karena sekarang menyandang kemuraman.


Suasana hatinya sedang sangat buruk, hingga gangguan sekecil apapun, sangat berpotensi untuk membuatnya mood-nya semakin terpuruk.


Mobil yang ditumpanginya merapat di area dropping point London Heathrow Airport.


"Sepertinya ada selebriti yang akan melakukan penerbangan dari bandara ini. Aku melihat papan nama bertuliskan nama David di acung-acungkan sedari tadi".


Perempuan yang rambut pendeknya nyaris semua memutih menjawab, sambil menatap kerumunan orang yang kebanyakan berjenis kelamin perempuan itu.


Mereka berjumlah ratusan, dan semuanya sedang mengobrol secara bersamaan dengan berisik. Kelompok itu jelas adalah kerumunan penggemar. Mereka sedang menunggu idolanya yang akan melakukan penerbangan dari bandara ini juga.


Selain kerumunan penggemar, gerombolan wartawan rupanya juga ada di sana. Mereka sedang berjaga-jaga dengan waspada, menunggu jika orang yang ditunggunya tiba-tiba muncul.


Melihat banyaknya jumlah wartawan yang ada, bisa dipastikan mereka sedang menunggu selebriti papan atas.


Pemandangan yang biasa sebenarnya. Tapi sekali lagi, gadis itu berada dalam keadaan yang sangat sensitif. Dia tidak mengijinkan sedikitpun gangguan mengusik hatinya.


"Manusia kurang kerjaan!!" gerutunya sambil menyeret koper besar, mengikuti wanita setengah baya yang mulai melangkah masuk ke bandara.


Dia sebenarnya tidak keberatan menggunakan penerbangan komersil, tapi suasana ramai dan gerah di bandara, berhasil menambah kadar kemurkaannya. Seharusnya dia menunggu saja, sampai pesawat milik ayahnya ada di London.


"Lui! Kita sudah hampir terlambat" Wanita itu melambaikan tangannya menyuruh Lui berjalan lebih cepat.


Lui semakin cemberut, dia tidak suka di buru-buru. Apalagi perjalanan ini tidak dilakukan atas keinginannya.


Jika bukan karena bujukan kakak tersayang dan juga Ibunya, dia lebih memilih bergelung di kamar dan melupakan semua hal tentang dunia di sekelilingnya.


Dia tidak lagi memiliki sesuatu untuk diperjuangkan. Satu-satu hal paling berarti dihidupnya, telah direnggut paksa. Keadaan tubuhnya yang mengharuskannya memilih kepahitan seperti sekarang.


Ingatan akan hal itu, membuat air matanya kembali tergenang.


Tapi Lui menghapusnya sebelum benar-benar jatuh. Dia bertekad untuk tidak menangis di depan umum, apalagi akan ada kemungkinan dia akan pingsan jika menangis terlalu hebat. Lui menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.


"Kau tunggulah disini sebentar, aku akan mengurus beberapa hal dulu"


Lui hanya mengangguk, tidak mempunyai keinginan untuk membuka mulut.


Gadis itu tahu, tidak seharusnya dia memperlakukan Charlie dengan dingin, karena dia hanya bersikap seperti biasanya.


Tapi sikapnya yang over protective seperti kakaknya, membuatnya selalu teringat hal apa yang membuatnya menjadi seperti sekarang. Dan karena hal itu, mereka semua memperlakukannya seperti gadis kaca!!!


Lui menggelengkan kepala dengan keras, mencoba mengusir pikiran tidak menyenangkan yang memenuhi kepalanya dengan rasa putus asa.


Dia melayangkan pandangan ke segala arah, mencoba menikmati pemandangan sibuk yang di tawarkan oleh bandara itu. Bandara itu adalah bandara yang paling sibuk di London, seharusnya banyak hal yang bisa dilihatnya.


 


 


******o0o******


 


Di dropping point yang sama, taksi berwarna hitam berhenti. Dua sosok tubuh yang menjadi penumpangnya mengeluh dalam waktu yang bersamaan ketika melihat kerumunan di bandara.


"Mereka tahu kau akan pergi hari ini?" tanya pria berambut cokelat gelap pendek, bertanya pada pria di sebelahnya, yang berambut hitam sedikit panjang.


Kacamata hitam lebar bertengger di hidungnya. Dahinya berkerut melihat pemandangan diluar jendela taksi.


"Tidak! Jadwal awal penerbanganku sebenarnya adalah besok. Tapi pasti mereka menebaknya dengan tepat. Setelah semua sampah yang diberitakan tadi malam, mereka tahu aku akan meninggalkan London lebih cepat" jelasnya, sambil menghela nafas putus asa.


"Yeah, itu bukan hal yang sulit di tebak Duke. Wanita ular itu benar-benar mengerjaimu dude!" Pandangan penuh simpati melayang dari pria berambut pendek.


"Tak ada gunanya membahas hal itu saat ini, sekarang yang penting kita harus berusaha untuk tidak menarik perhatian mereka" Duke mengeluarkan masker hitam dan menutup sebagian wajahnya.


Dia harus segera turun, supir taksi itu mulai memandang mereka dengan aneh, karena mereka tak juga turun setelah sampai di tujuan.


"Ayo El" kata Duke melangkah memasuki bandara dengan menunduk.


Duke berharap penyamarannya cukup untuk mengelabuhi gerombolan yang menunggunya di bandara. Dia sangat malas jika harus menjelaskan kejadian terkutuk itu. Pikiran dan tubuhnya lelah.


Membayangkan wajah wanita ular itu saja sudah membuatnya mual. Aroma parfumnya yang menusuk membuatnya harus menahan nafas setiap kali dia mendekat padanya.


Menjijikkan! batinnya sambil bergidik.


 


Baju yang dipakainya saat ini sangat jauh dari gayanya yang biasa.


Duke hanya memakai kaos pendek hitam, jaket kulit dan juga celana denim biru pudar. Koper yang biasanya tidak pernah absen menemaninya selama perjalanan kemanapun, diganti dengan tas punggung praktis berwarna biru tua. Topi hitamnya ditarik sangat turun sehingga wajahnya tersembunyi.


Popularitasnya selama 2 tahun lebih berkarya di dunia tarik suara sangat luar biasa. Saat ini dia masuk sebagai 10 jajaran musisi yang berpenghasilan terbesar di dunia. Menyembunyikan sosoknya adalah pekerjaan yang hampir mustahil.


Pada awal karirnya, karena alasan keamanan. Ia sangat tertutup dan sangat jarang menampakkan wajahnya di depan media. Tapi seiring popularitas, pihak label rekaman mendesaknya untuk muncul. Dan Duke menyesalinya dalam waktu singkat, dia tidak bisa hidup dengan normal setelahnya.


Tapi Duke menyesuaikan diri dengan cepat. Dengan pelajaran yang diterimanya dari sekolah khusus ketika kecil, dia bisa menempatkan diri sesuai perannya saat ini.


Tapi hanya satu yang membuatnya selalu kerepotan. Yaitu banyaknya penggemar wanita yang mengejar kemanapun dia pergi. Seperti saat ini.


Karena itulah dia membawa El, untuk berkamuflase.


El adalah wajah baru yang tidak dikenal fans maupun wartawan. Dengan adanya dia, mereka tidak akan memandangnya dengan detail. Penyamarannya menjadi penumpang biasa, akan lengkap dengan adanya El di sampingnya.


Tapi sebenarnya El keberatan dengan rencana tiba-tiba ini. Sedari tadi dia bergumam pelan di sebelah Duke, tentang bagaimana seharusnya dia tidak meninggalkan kampus saat ini.


"Liburan musim panasmu telah dimulai 2 hari yang lalu El. Kau tidak perlu ada di kampus" sanggah Duke dengan jengkel.


"Justru itu, aku sudah mendapat banyak kerja sambilan untuk mengisinya. Kau tentu tahu biaya kuliahku tidak murah" katanya, sambil menerawang menghitung di kepala berapa gaji yang bisa didapat, jika waktu kerjanya terpotong oleh perjalanan ini.


Duke mendesah kesal.


Dia akan senang hati membayar semua biaya kuliah El, tanpa perlu pengembalian. Tapi El menolaknya mentah-mentah, dengan alasan tidak ingin lagi merepotkannya.


"Aku akan membayarmu 3 kali lipat per jamnya, selama kau menemaniku di perjalanan ini" ujar Duke, sebagai usaha terakhir membantunya.


El sejenak terdiam, dia ingin menolak, tapi surat tagihan uang kuliah dan juga asramanya sudah menumpuk di kamar. Dia tidak punya jalan lain jika semester depan dia masih ingin kuliah di Oxford.


Dengan kemampuan otak El, sebenarnya dia bisa saja mendaftar sebagai penerima beasiswa dari kampus atau mungkin juga mengajukan pinjaman. Tapi identitas yang dipakainya saat ini adalah palsu. Tentu saja hal itu membuatnya tidak bisa mendaftar untuk program apapun.


Pelarian tidak memiliki banyak pilihan.


"Baiklah, aku akan menghitungnya dengan cermat" jawab El akhirnya menyerah.


Dalam hatinya, dia sedikit tak suka jika harus menerima uang dari Duke, karena Duke telah sangat berjasa dalam kehidupannya. Tapi kebutuhannya akan uang sudah sangat mendesak.


Dengan langkah yang sedikit pincang --sekali lagi untuk menyamarkan cara berjalannya yang biasa-- Duke berjalan masuk ke bandara. Sambil menahan nafas karena tegang\, dia melewati kerumunan yang tampaknya tak tertarik dengan sosoknya maupun El di sebelahnya.


Kepala-kepala di kerumunan itu masih menjulur memandang ke arah kendaraan yang datang silih berganti, berharap penumpangnya adalah idola yang dia tunggu. Sementara sang idola, berjalan pincang melewatinya.


Sesampainya di daerah check in, mereka berdua hampir bersamaan menghembuskan nafas lega. "That was intense" kata El sambil mengelus dada dengan lega.


"Ya, aku belum pernah melakukan hal ini sebelumnya" kata Duke sambil membuka kacamatanya dan menyelipkannya di kantong celananya. Dia sebenarnya kurang nyaman memakainya di dalam ruangan yang tertutup.


El memberi isyarat menunjuk ke arah petugas, dan Duke memberi anggukan setuju. Tanpa membuang waktu, El meninggalkannya untuk mengurus tiket mereka.


Duke melihat ke segala arah untuk mencari tempat yang kosong. Cukup sulit ternyata, karena bandara itu penuh.


Dia berharap agar El cepat selesai, sehingga mereka bisa langsung menuju ruang tunggu VIP. Di sana dia bisa membuka masker dengan sedikit bebas.


Setelah beberapa saat, Duke akhirnya melihat beberapa kursi kosong, dan berjalan mendekat dengan tangan terbenam di saku jaketnya.


DRTTT!!


Ponsel di saku depan celananya bergetar. Duke menarik tangannya keluar dari saku, dan menekan wireless earphone mungil yang menempel di telinga kanannya.


"Dave?" suara yang dia kenal baik memanggilnya, itu Justin.


"Yes?"


"Kau sudah keluar dari London?" tanya suara manager-nya di seberang.


"Hampir, aku sedang di bandara!"


"Aku akan mencoba memberi klarifikasi bahwa semua yang dikatakan wanita terkutuk itu tidak benar, tapi itu akan butuh waktu. Aku akan meminta bantuan Sal agar semua cepat selesai" kata Justin dengan nada berat..


"Apa kau gila? Untuk apa kau menghubunginya?" Duke langsung berseru marah.


Sal memang akan menyelesaikan hal ini dengan mudah, tapi bayaran yang dimintanya tidak pernah masuk akal.


Bayaran yang dimintanya tidak berupa uang, karena hal itu terlalu mudah. Duke tak ingin melakukan hal aneh lagi untuk Sal.


Terakhir Duke berurusan dengannya, dia harus melakukan konser untuk para vampire!


Fakta jika Sal adalah seorang inhumane, tentu tidak pernah terbayang di benak Justin. Dia hanya tahu Sal adalah sosok yang berpengaruh di dunia hiburan.


Duke masih beruntung, Sal tidak tahu mengenai identitasnya yang sebenarnya.


Saat mereka bertemu pertama kali, dia masih secara rutin meminum ramuan yang menyamarkan aroma, agar dia tidak mudah ditemukan.


Jika saat itu identitasnya sebagai werewolf terbuka, Duke tidak keberatan membunuh Sal. Dan sangat yakin ia akan melakukannya dengan cukup mudah, tapi itu akan sangat menarik perhatian.


Perhatian adalah hal terakhir yang dinginkan Duke untuk menimpanya. Status pelariannya dari dunia inhumane harus tetap rahasia.


Membunuh vampire selebritis jelas akan mendatangkan banyak Hunter, belum lagi polisi manusia karena status Sal yang berpura-pura menjadi manusia biasa.


Duke dengan terpaksa menerima syarat Sal saat itu.


Dan dua jam konser yang dimintanya, menjadi sangat menyiksa. Duke harus berpura-pura tidak mencium bau amis darah dari kerumunan penonton di depannya. Duke jelas tidak ingin mengulang pengalaman memuakkan itu lagi.


Dan sekarang, Justin malah dengan lancang meminta bantuan Sal lagi. Duke nyaris mengumpat keras, jika tak ingat dia sedang menyamar saat ini.


Duke begitu fokus pada amarahnya, hingga tidak menyadari seseorang mendekat dan memanggilnya dari arah belakang.


"Excuse me, Sir?" suara sopan menyapanya dari belakang. Tapi Duke masih tenggelam dalam rasa kesal.


"Sebenarnya apa maumu?!" hardiknya pada Justin, masih dengan jengkel.


Duke sama sekali tidak bermaksud buruk, tapi sayangnya teriakan itu sangat tepat menjawab sapaan gadis pirang yang sekarang memandangnya dengan wajah tak percaya, karena kalimat sopannya telah dibalas dengan hardikan.


Dari tempatnya berdiri, dia tak bisa melihat Duke sedang berbicara melalui earphone. Dia mengira hardikan kasar itu ditujukan untuknya.


Mata biru itu melebar penuh emosi, suasana hatinya yang sejak awal tidak menentu menjadi semakin buruk.


"Apakah itu sikap yang pantas!?" bentaknya, dengan suara tidak lagi ramah.


Duke yang mulai sadar ada yang mengajaknya berbicara, membalikkan badan.


Dan saat mata mereka berdua bertemu, tubuhnya seolah terlempar ke alam lain.


Pada detik itu semua cahaya dan juga udara di sekeliling Duke seakan membeku karena semua perhatiannya tersedot menjadi satu titik.


Mata Duke menatap makhluk mungil cantik berambut pirang keemasan, yang sedang berdiri di depannya dengan wajah tak ramah dan penuh amarah.


Tubuhnya jauh lebih pendek dari Duke, tapi itu tidak mengurangi nilai apapun darinya.


Dalam setiap tarikan nafas Duke, tercium aroma manis campuran kopi, cokelat dan sedikit bau hutan penuh matahari.


Bahkan dengan hidung yang masih tertutup masker, Duke bisa mengenali semua bau menyenangkan itu dengan akurat.


Duke menurunkan masker itu, agar bisa menikmati kecantikan yang berdiri di hadapannya dengan seluruh panca indera yang dimilikinya.


Tarikan nafas gadis itu, kedipan kelopak matanya, hidungnya yang sedikit berkeringat, semuanya sempurna di mata Duke.


Semua pesona itu membuat Duke sama sekali tidak mempedulikan panggilan Justin yang berteriak di telinganya, saat Duke tidak lagi menanggapi penjelasanya.


Sedangkan Lui yang tadi sangat marah saat diperlakukan secara kasar, hanya bisa terpana. Karena mata cokelat kekuningan yang menyorot tajam padanya.


Wajah pria kasar itu tertutup masker, tapi mata itu indah sekali.


Pria itu berukuran raksasa jika dibandingkan dengan dirinya. Lui seperti berhadapan dengan batu karang kokoh yang menjulang di hadapannya.


Tapi mata itu yang paling menarik perhatiannya. Lui belum pernah melihat mata seperti itu sebelum ini. Belum lagi pria itu sangat wangi.


Hembusan udara yang menerpa hidung Lui saat dia berbalik, menguarkan aroma favorit Lui, aroma petrichor dan sirup maple yang manis.


Gerakan kecil saat pria itu membuka masker, membuat nafas Lui tersendat.


Karena ternyata wajah itu luar biasa rupawan. Mata itu hanya potongan kecil dari sebentuk wajah indah yang tersembunyi. Dengan wajah seperti itu, wajar jika ia menyembunyikannya. Wanita manapun akan secara sukarela memandangnya.


Hidung yang tinggi, alis mata hitam tebal, wajah kokoh dipadu dengan rambut hitam yang sedikit muncul dari balik topi. Lui nyaris tidak berkedip menikmatinya.


Selama beberapa detik mereka hanya berpandangan tanpa kata. Kata-kata penuh amarah yang dipersiapkan Lui seolah lenyap dari otaknya.


Duke yang juga telah tenggelam dalam perasaannya, juga tidak mengeluarkan sepatah katapun.


Lui yang tersadar memutuskan kontak mata dengan kaget, menoleh mencari Charlie.


Wanita itu menghampirinya dengan nafas tersengal.


"Kabar baik Lui, penerbangan yang kita pesan sudah berangkat. Tapi sekitar dua jam lagi, akan ada penerbangan lain ke Paris. Kita beruntung masih ada tiket yang bisa dipesan. Ayo, kita bisa menunggu di ruang VIP yang lebih tenang"


Charlie menarik tangan Lui agar mengikutinya.


"Tunggu!!" Duke mencegah mereka pergi.


Dia tidak akan membiarkannya pergi sebelum tahu apapun mengenai gadis itu. Dia bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya, tapi satu hal yang pasti diinginkannya, yaitu gadis itu!


Charlie menatapnya heran. "Siapa kau?"


"Er-----" Duke bingung harus berkata apa.


"Dia hanya pria kurang ajar yang tidak tahu terima kasih!" Lui menjawab pertanyaan Charlie dengan wajah masam dan suara kesal.


Dia teringat apa yang menyebabkannya memanggil pria itu. Amarahnya telah kembali, seiring dengan kesadarannya.


"Ap--apa?" Duke tergagap karena heran.


Apa salahku? batinnya bingung. Dia tidak ingat pernah melakukan apapun yang akan membuat gadis cantik itu merasa kesal.


Lui melemparkan paspor yang tadi dipungutnya ke arah pria itu.


"Aku hanya ingin mengembalikan paspormu yang jatuh. Tidak perlu menghardikku dengan kasar. Memang hanya kau yang sedang mengalami hari yang buruk?" Amarah Lui tak terbendung lagi.


Dia sudah menahan perasaannya selama beberapa hari ini, tapi pandangan mata cerah yang hangat itu, membuat Lui kehilangan pengendalian diri.


Duke memungut paspornya dari lantai, dengan kepala penuh tanda tanya.


Dia ingat mengantongi paspor itu di saku jaketnya. Pasti paspor itu jatuh ketika dia menarik tangannya keluar dari kantong.


Tapi apa yang membuat gadis itu marah?


"Apa maksudmu?" Duke memandang gadis itu sekali lagi meminta penjelasan.


Tapi air mata mulai menggenang di mata biru itu. Dan dengan ajaib, Duke mulai merasa hancur dan putus asa.


Duke sama sekali tidak mengenal gadis asing itu, tapi melihat air matanya, Duke merasa tak berdaya. Dia akan melakukan apapun agar gadis itu berhenti menangis.


Apapun itu!!


"Jangan Lui" Charlie panik melihat Lui yang mulai berlinang air mata.


Dia harus mencegah agar Lui tidak menangis, atau akan terjadi masalah besar.


"Sudahlah, jangan marah lagi. Ayo!" Dengan sekuat tenaga Charlie menarik tangan Lui, agar mengikutinya.


Dia melirik ke arah pria bertopi itu sebentar, sambil menganggukkan kepala sebagai isyarat meminta maaf.


Charlie tidak yakin apa yang terjadi, tapi amarah Lui jelas berlebihan. Charlie harus segera menyingkir sebelum kejadian itu menjadi perhatian orang banyak.


"Tunggu dulu" Dengan tak berdaya, Duke ingin berlari mengikuti mereka.


Tapi tarikan di tangannya membuatnya terhenti. "Apa yang kau lakukan? Kenapa kau melepas maskermu?" El berbisik di telinganya dengan panik.


Duke tersadar dan kemudian melihat ke sekeliling. Beberapa orang mulai memandangnya dengan tertarik.


Dengan cepat Duke menaikkan maskernya dan memakai kacamata hitamnya lagi. Mereka berdua kemudian berjalan menjauh agar tak lagi menarik perhatian.


"Kita akan ke Paris" kata Duke tegas.


"Apa maksudmu?" El langsung berhenti berjalan karena kaget, karena jelas tiket yang dibelinya bertujuan Los Angles, sesuai dengan tujuan yang tadi dikatakan Duke.


Tapi Duke tak menjawab, dia menghampiri petugas dan menanyakan apakah masih ada tempat di penerbangan ke Paris yang berangkat dua jam lagi. Setelah itu dia akan ke ruang tunggu VIP tentu saja.


 


---------*000*--------


 


"Rambutmu warnanya sangat cantik" Kata Duke seraya mengambil sejumput rambut Lui yang sedang berbaring tengkurap di rerumputan.


Dia sedang membaca selebaran tentang sirkus yang akan datang beberapa hari lagi. Dan Duke tadi mengajaknya kesana.


Siang hari yang cerah dan udara Rhode Valley yang hangat, membuat acara piknik mereka hari ini sangat sempurna.


Tikar yang ternaungi daun lebat, membuat tempat pilihan Duke hari ini benar-benar nyaman.


"Eh..." Lui mengalihkan perhatian, dan meraih ujung rambut panjangnya.


"Rambutku berwarna biasa saja, ini pirang" kata Lui dengan heran.


"Tidak, it's almost like a gold. Berkilau di bawah sinar matahari" Duke memandang Lui dengan dalam.


"Hentikan itu, kau membuatku malu" Lui menutup kedua mata Duke dengan tangannya, karena tak tahan dengan pandangan tajam dari Duke.


Duke tidak pernah sadar, bagaimana mata cokelat terang itu bisa membuat Lui melayang.


Duke tertawa terbahak, karena tahu bagaimana wajah Lui akan memerah setelah ini.


"Sedikit fakta remeh untukmu, Eluira berarti rambut emas" Jelas Lui setelah berhasil mengusir rasa malunya dan duduk tegak di hadapan Duke.


Setelah beberapa minggu bersama Duke, dia masih tak terbiasa dengan segala pujian dan sanjungan manis yang diberikan olehnya. Lui sangat heran bagaimana bisa Duke mengatakan hal itu tanpa merasa malu.


"Well... it fit perfectly then. Your Mom is really smart" kata Duke, nama itu sangat sempurna untuk Lui.


"What about your name?" tanya Lui dengan tertarik.


"Namamu kurang lebih berarti pemimpin yang penuh dengan kedamaian. Aku tak akan heran jika kau ternyata adalah seorang pangeran dari negara yang tersembunyi" tambah Lui sambil tertawa.


Duke nyaris tersedak karena ketepatan Lui menebak masa lalunya. Maka Duke hanya meringis kecil tanpa bisa memberi tanggapan pintar.


"Ayahku mempunyai selera yang unik aku rasa" gumamnya, sambil merogoh ke dalam keranjang bekal dan meraih sebutir apel disana.


Dengan mudah, Duke merobek apel itu menggunakan tangan, menjadi dua bagian yang sama persis. Dia lalu mengulurkan separuh apel pada Lui, yang menerimanya dengan mata menyipit.


Kemampuan membelah apel dengan tangan adalah tidak biasa, Lui yakin itu.


Lui pernah melihat beberapa orang melakukannya, tapi dengan usaha yang cukup luar biasa dan menghasilkan belahan apel yang cacat .


Tapi Duke tidak terlihat mengerahkan banyak tenaga, dan apel yang kini memasuki mulutnya, tepiannya sangat mulus. Duke melakukannya semudah menyobek roti tawar.


"Kemampuan bahasa Latinmu cukup lumayan ternyata" ujar Duke, yang tidak menyadari keheranan Lui, kembali membahas nama mereka.


Biasanya orang hanya akan berkata namanya aneh, tapi Lui tahu dengan pasti arti namanya. Duke juga menguasai sedikit bahasa Latin sebenarnya. Karena dia akan memerlukannya suatu saat nanti, mungkin.


"Yup, Ibuku punya ketertarikan aneh pada bahasa latin, juga pada alam dan pepohonan" kata Lui.


Ibunya memang sedikit unik. Dia bisa dengan fasih berbicara bahasa latin kuno. Karena itu Lui sangat akrab dengan istilah-istilah dalam bahasa Latin.


Duke mengangguk mengerti. Dia sudah pernah bertemu Belva, selain dari pandangannya yang tajam, Duke tidak melihat keanehan lain. Tapi karena mereka hanya bertemu selama beberapa menit, jelas penilaian Duke sangat tidak valid.


"Rambutmu memang berwarna keemasan, tapi aku lebih melihatnya seperti madu ini" kata Duke sambil menunjuk setoples madu, yang telah berkurang separuh karena berpindah ke atas pancake bekal mereka.


"Hmm...." Lui mengangkat toples itu dan mengamatinya bergantian dengan rambutnya.


"Kau benar, aku tidak pernah menyadarinya" kata Lui .


"Ah..." Duke menepuk tangannya dengan wajah bersemangat, ide yang menarik baru saja terlintas di benaknya.


"Can I call you 'Bee'? tanyanya sambil mengelus lagi rambut pirang Lui.


" Bee? Lebah? Karena rambutku seperti madu?" Lui tersenyum karena menurutnya itu adalah ide yang lucu.


"Ya...dan karena kau selalu berdengung dengan berisik ketika melihat padang bunga, seperti lebah"


Duke terkekeh mengingat bagaimana antusiasme Lui, setiap kali mereka berpiknik ke padang bunga yang baru. Untunglah Perancis mempunyai banyak padang bunga di musim panas.


Lui memukul punggung Duke pelan sambil tertawa, karena tahu perkataan Duke sangat benar. Dia tidak pernah bisa membendung semangatnya, setiap kali melihat padang bunga terhampar di hadapannya.


Menurutnya, itu adalah pemandangan yang paling indah di dunia. Musim favoritnya adalah musim dingin bersalju, tapi pemandangan padang bunga benar-benar mencuri nafasnya.


"Hmm.. sekarang aku juga harus memikirkan suatu nama panggilan untukmu" sahut Lui, tak mau kalah.


"Duke Pacian Theobald...Duke Pacian Theobald..." Lui bergumam berulang-ulang sambil berpikir keras.


Duke sekali lagi, tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Dia menyukai bentuk bibir Lui saat menggumamkan namanya. Dan lagi wajah Lui yang sedang berpikir keras terlihat sangat sempurna di matanya.


"Ah.. aku tahu. I will call you 'Pace'" kata Lui dengan wajah puas.


Duke mengernyit mendengarnya.


"Pace? Like walking pace?" Tanya Duke dengan nada tak yakin.


"Yup... Kau sangat menyukai kecepatan. Aku tidak akan lupa bagaimana kau membawaku seperti angin ketika kita mengendarai mobil kemarin, kau terlalu tergila-gila dengan kecepatan. Nama itu akan selalu mengingatkanmu agar berhati-hati dalam setiap langkah" kata Lui. Lengkap dengan gaya seorang guru yang sedang memarahi muridnya yang bandel.


"Dan juga karena nama Pacian, aku menyingkatnya menjadi Pace" tambahnya, dengan mata berbinar. Ide itu sangat sempurna menurut Lui.


Duke tertawa puas sekaligus heran. Itu nama yang sangat cocok untuknya.


Dan juga untuk serigala yang ada di tubuhnya. Tidak ada yang bisa menyamai kecepatannya ketika berlari sebagai serigala, hal itulah yang membuatnya sangat tergila-gila dengan kecepatan.


Sekali lagi Lui menebak dengan tepat inti dari dirinya. Ini luar biasa, batin Duke, terpana.


Duke mengangkat kaleng jus-nya "Untuk nama kita yang baru, Bee and Pace" kata Duke bersulang dengan nada resmi.


Lui tertawa gembira dan ikut mengangkat jus di tangannya. "For Bee and Pace, may all good thing happen to them" kata Lui tak mau kalah.


Tawa berderai mereka berdua mengisi udara musim panas di lembah itu, selama beberapa menit kemudian.


Tawa yang dulu hampir mustahil terdengar dari mulut Lui. Tapi kehadiran Duke membuat kehidupannya berubah drastis.


Duke yang tidak pernah lelah menghibur Lui, membuatnya nyaris melupakan depresi yang dialaminya karena harus meninggalkan balet.


Lui tentu saja masih kecewa dengan hal itu.


Tapi Duke membuka matanya, bahwa kehidupan yang dijalaninya hanyalah sebagian kecil dari dunia yang berputar.


Banyak pintu lain yang akan terbuka untuknya setelah ini.


Dan Duke, memastikan diri akan selalu berada disamping Lui saat ia membuka salah satu pintu itu.


Kapan dan dimanapun yang Lui inginkan.


 


 


---------*000*--------


 


"That's a lot of pink, Bee" kata Duke, menggaruk kepalanya sambil mengitari deretan kaleng besar cat berwarna pink yang berjejer memenuhi sebagian besar lantai studio.


"Studio ini hanya akan menerima murid tingkat dasar Pace, itu berarti mereka adalah anak-anak. Dan anak-anak suka warna pink bukan?" Lui berargumen dengan ragu.


Sejujurnya dia tidak mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman menghadapi anak-anak.


Tapi ini adalah keputusan penting pertama yang diambilnya setelah dia berhenti balet. Lui sudah bertekad akan berusaha sekuat tenaga untuk membuatnya berhasil. Dan dia bahagia karena Duke ada di sini untuk mendukungnya.


"Mungkin, tapi aku rasa kau bisa mengecat seluruh gedung ini dengan cat sebanyak itu. Bayangkan bagaimana Oscar akan gembira, karena kau mengubah salah satu bangunannya menjadi pink"


Duke terkekeh sendiri membayangkannya.


Lui tergelak mendengar hal itu


"Aku mungkin terlalu bersemangat hingga menambahkan angka nol di belakang saat memesan semua ini" kata Lui, menunjuk deretan cat sambil tersipu. Dia mulai sadar, asal dari rasa heran Duke.


"Dan kenapa kau bersikeras mengecat sendiri studio ini? Bukannya kontraktor yang kau pesan seharusnya membereskannya juga?" tanya Duke, sambil merapikan beberapa kertas koran yang terlepas dari selotipnya di lantai.


Lui sudah selesai menutupi seluruh permukaan lantai dengan koran kemarin. Duke sebenarnya ingin membantu. Tapi Justin memberinya pekerjaan tambahan, dengan imbalan hari liburnya akan ditambah menjadi seminggu. Duke langsung menerimanya saat itu juga.


Liburan berarti dia bisa menghabiskan seluruh waktunya bersama Lui. Duke tidak akan pernah menolaknya.


"Tentu saja, mereka berkali-kali menawarkannya padaku. Apalagi setelah tahu siapa aku. Salah satu pegawainya nyaris menangis saat melarangku mengecat. Mereka sangat takut jika Oscar marah. Dan menurutku itu konyol, karena aku tidak pernah melihat Oscar marah. Dia selalu ramah pada pegawainya. Kekhawatiran mereka tak masuk akal" jelas Lui, sambil mulai menyingsingkan bajunya.


Dia juga menggelung rambutnya, agar tidak mengganggu saat dia mengecat nanti.


Ramah?


Kening Duke mengkerut saat mendengar hal itu. Kata ramah tidak pernah terlintas di benak Duke saat menggambarkan sosok Oscar.


Oscar adalah banyak hal, tapi ramah bukan salah satunya. Duke mulai bertanya-tanya, sebenarnya bagaimana sifat Oscar yang asli?


Lamunan Duke terputus, saat melihat Lui bersusah payah menggeser tangga di tengah ruangan. Dia bergegas menghampiri dan mengambil alih pekerjaan berat itu.


"Well, look at that. Aku mempunyai pembantu yang handal" Lui berseru, melihat Duke dengan mudah mengangkat tangga itu.


"Dan bayangkan, kau tisak perlu membayarnya sepeserpun. Penawaran yang luar biasa menarik bukan?" Duke juga mulai menggulung lengan bajunya.


Tawa Lui semakin kencang mendengar ucapan Duke.


Duke kemudian mengikuti Lui yang melangkah menuju ke depan tembok.


"Kau sadar bukan kalau kita berdua adalah seniman di bidang musik dan tari? Bukan pelukis?"


Duke sekali lagi mencoba mengurungkan niat Lui.


"Setidaknya aku ingin mencoba di bagian ini, Pace, jika hasilnya buruk aku akan menyerah" kata Lui menunjuk bagian tembok polos di depannya.


"As your wish, My Queen Bee. Lebah pekerjamu ini akan mengabulkannya "


Duke mulai mencelupkan kuas ke dalam kaleng dan menyapukannya ke tembok.


Lui sambil tertawa geli juga melakukan hal serupa.


Mereka berdua akhirnya bekerja dengan banyak cerita yang mengalir meningkahi ayunan kuas.


"Kita membutuhkan kuas yang sangat besar, sehingga dengan sekali sapuan seluruh tembok akan tertutup rata" keluh Duke.


Setelah satu jam berlalu, pekerjaan mereka jauh dari kata selesai, dan hasil pekerjaan mereka juga jauh dari kata sempurna.


Tembok hasil karya mereka, sekarang penuh cat yang tidak merata. Jejak sapuan kuas mereka yang tak tentu arah membuat permukaan tembok bergelombang dan jelek.


"Hmm... bagaimana jika kau bertransformasi, lalu berguling didalam cat? Dengan sekali sapuan dari bulu badanmu, tembok ini akan tertutup warna pink!" Kata Lui setengah hati.


Lui juga mulai kesal, karena pekerjaan ini tidak semudah yang dibayangkannya.


Mendengar itu, Duke langsung tertawa terbahak-bahak. Itu adalah lelucon tentang werewolf yang sudah jarang didengarnya. Walaupun payah, dia masih terhibur.


"Idemu sangat luar biasa, dan aku harap kau yang akan memandikanku setelah semua selesai. Kau harus menggosok setiap helaian buluku sampai bersih" goda Duke sambil melihat dengan mata jahil ke arah Lui.


Harapan Duke terkabul, wajah Lui menyala terang.


"Pace!!"


Lui berteriak sambil menghentakkan tangannya, dan tanpa sengaja memercikkan tetesan cat warna pink ke baju Duke.


"Ops...!! Maaf" Lui meminta maaf, tapi terlambat menyembunyikan senyum kecil di sudut mulutnya.


Tentu saja Duke melihat hal itu.


"It's war then!!" seru Duke, sambil menghampiri Lui dengan kuas teracung.


"Aghhh.......!!!'" Lui langsung berlari mengitari studio berusaha menghindar.


Tapi mana mungkin dia mengalahkan lari werewolf?


Dalam beberapa detik Duke sudah berhasil menorehkan warna pink panjang di lengannya, kemudian berlari menjauh dengan tawa membahana.


"Pace!!" Lui kembali berseru, tapi wajahnya tidak menunjukkan amarah, justru tawa tergelak yang ada.


Dan jelas, setelah semua itu, pekerjaan mengecat akan diserahkan kepada kontraktor.


Karena ketika mereka pulang, studio itu penuh tertutup warna pink. Kecuali pada temboknya.