
Aku menyisir setiap celah yang ada di kamar dengan panik, karena tas kerjaku raib entah kemana. Padahal semua proposal yang aku harus periksa hari ini ada di sana.
Ini buruk!
Aku kembali berkeliling antara ruang kamar dan lemari dinding untuk mencarinya. Ini benar-benar pagi yang melelahkan!!
Aku telah memeriksa lemari dinding untuk ketiga kalinya, sebelum ingatanku memberi petunjuk.
Kau benar-benar bodoh Lui!!!!! umpatku dalam hati. Kau meninggalkannya di mobil Duke tadi malam!!. Terbayang bagamana Duke menaruhnya di kursi belakang, saat kami akan berangkat ke restoran.
Ooh----ini sempurna sekali. Dia tidak hanya mengacaukan makan malamku,sekarang dia juga mengacaukan pekerjaanku.
Apa aku harus menelponnya untuk memintanya membawanya kesini? Tetapi tentu saja itu tidak mungkin, karena ponselku juga berada di dalam tas! Aku membanting bantal yang tidak bersalah ke lantai dengan keras.
Ini sangat menyebalkan!!
Tapi aku memang tidak akan menelponnya, jika itu hanya untuk meminta tasku kembali.
Aku masih marah dengan perbuatannya tadi malam. Dan setelah berpikir beberapa lama, aku merasa jika Jovi benar. Duke terlalu aneh.
Banyak sekali hal yang disembunyikannya dariku.
Aku kembali teringat ketika di dalam lift, dia mengatakan soal Mom yang menyukai alam dari Oscar. Tapi sekarang aku juga meragukan kata-katanya. Karena pada saat dia mengatakannya, dia menunjukkan gesture yang sama ketika dia berbohong, yaitu menunduk sembari menghindari tatapan mataku.
Pagi ini aku ingin bertanya lebih banyak pada Oscar soal Duke, tetapi ternyata Oscar sudah berangkat pagi-pagi sekali, karena akan menghadiri meeting di Roma.
"Ini sangat menyebalkan!!!!" Aku berteriak sekuat tenaga. Charlie sedang berada di dapur, dia tidak akan mendengarnya.
Aku turun kebawah dan meraih telepon rumah yang terdapat di sebelah tangga. Jovi menjawab panggilanku pada deringan pertama.
"Hello? siapa ini" jawabnya dengan suara sedikit bingung. Tidak banyak orang yang menelpon dengan menggunakan nomor rumah saat ini.
"Jovi? It's Lui, bisakah kau mengirimkan daftar proposal yang hari ini akan aku survey melalui email? Please?" tanyaku langsung.
Aku sudah lumayan ahli menggunakan komputer sekarang. Aku bisa mencetak ulang proposal itu di ruang kerja milik Oscar.
"Tentu saja bisa, tetapi bukankah kau sudah membawa semua berkasnya kemarin?"
Kembali nada heran terdengar dari Jovi.
"Aku meninggalkan tasku di mobil Duke tadi malam" jawabku dengan berat hati. Aku tidak ingin di berondong dengan pertanyaan aneh oleh Jovi saat ini.
"Apa?? Bagaimana bisa? Karena itukah kau menelepon menggunakan nomor aneh, karena ponselmu tidak ada?" Sekarang nada jahil yang biasa aku dengar jika Jovi sudah sangat bersemangat.
"Maaf Jovi, aku akan menceritakan semua padamu nanti, tapi sekarang aku tidak bisa. Aku harus segera berangkat sebelum terlambat" ujarku, memberi alasan.
Aku hanya tidak ingin membicarakan kekacauan acara malam tadi.
"Baiklah!! tapi kau harus menceritakan padaku semuaaaaanya nanti" jawabnya, masih dengan semangat yang sama.
"Yes sir!!" candaku, sambil mengakhiri panggilan telepon itu.
Aku berjalan pelan menuruni tangga menuju ruang kerja Oscar sambil memikirkan siapa sebenarnya Duke.
Dia mengaku sebagai teman Oscar, dan Oscar juga mengakuinya, walaupun wajahnya saat itu sedikit aneh. Oscar terlihat marah.
Duke mengatakan kalau dia adalah pemilik dari Aviary, dan karena aku tahu --aku mencarinya di internet tadi pagi-- jika pemilik Aviary dan Montcalm Royal London House Hotel adalah Monath Corp\, apakah itu berarti Duke adalah pemilik Monath Corp?
Jika memang iya, aku tidak heran jika dia mengenal Oscar, karena Monath -- sekali lagi aku tahu dari internet- adalah salah satu korporasi yang bisa menyaingi Delmor.
Dan itu akan menjelaskan mobil sport yang dipakainya tadi malam. Juga menjelaskan segala kelengkapan baju serta aksesoris yang menempel di badannya, semuanya meneriakkan harga mahal.
Tapi jika dia seburuk yang Jovi kira, Oscar tidak akan mengijinkan aku untuk pergi dengannya.
Dulu Oscar bahkan tidak mengizinkanku untuk mengenal teman-teman sekolahnya\, karena menurutnya mereka hanyalah b*j*ng*n manja yang kaya raya.
Mesin printer berdengung menandakan pekerjaannya sudah selesai memutus lamunanku. Aku menyambar tumpukan kertas yang ada di sana dan menyusunnya sesuai dengan tempat-tempat yang aku kunjungi.
Hanya ada tiga tempat, tetapi letaknya sedikit berjauhan. Aku akan ke Malborough terlebih dahulu karena itulah yang terjauh, kemudian terakhir akan ke South Down national park, karena itulah yang paling dekat dengan London. Setelah itu aku kan ke kantor. Hari ini aku akan ditemani oleh Mark, karena Alex ikut bersama Oscar ke Roma.
Aku harus menyingkirkan pemikiran tentang Duke jauh ke dalam benakku, karena hari ini aku akan sibuk sekali.
----------- *0o0*----------
Sudut mataku menangkap beberapa ekor tupai yang berlarian ketika aku menembakkan pistol. Mereka meninggalkan sekumpulan biji yang berhasil dikumpulkan, dan berlari menaiki pohon yang paling tinggi.
Pistol ini telah dilengkapi peredam, tetapi suara yang dihasilkan tetap membuat mereka takut. Tanpa menoleh, aku kembali melanjutkan kegiatan menembak itu.
Lykos tidak dilengkapi dengan tempat latihan menembak. Karena itu Id mengubah halaman samping yang dekat dengan hutan sebagai lapangan tembak.
Id telah menempelkan beberapa sasaran menembak, yang berupa papan dengan bentuk manusia di depan pohon. Sasaran itu sekarang telah dipenuhi dengan lubang-lubang, dengan lubang paling besar berada di kepala.
Kemampuan menembakku sudah membaik, jika sebulan yang lalu, aku hanya bisa menembak dengan sasaran yang tidak beraturan, maka saat ini, aku sudah bisa memusatkan incaranku pada bagian dada dan kepala.
Latihan rutin jelas sangat membantu.
Dengan bersemangat aku memuntahkan seluruh isi magazen dari pistol glock yang ada ditanganku. Entah sudah berapa banyak peluru yang aku pakai hari ini. Karena papan sasaran tembak yang aku pakai sekarang, tampak sangat compang-camping.
Aku meraih magazen baru dari sakuku, ini adalah magazen yang kelima hari ini, magazen yang kosong berserakan di sekitar kakiku. Setelah itu aku kembali menghajar papan yang tidak bersalah itu.
I'm screw it up big time!!
Dan sekarang aku tidak tahu bagaimana aku bisa memperbaiki ini. Bee sudah pasti sangat marah padaku. Dia paling benci jika seseorang berbohong padanya. Dan aku telah melakukannya.
Itu saja sebenarnya sudah membuatku muak pada diriku sendiri.
Tapi aku tidak akan bisa mendekati Bee tanpa kebohongan. Aku bisa membuat ini berjalan mulus, jika saja aku bisa berbohong dengan lebih baik. Apakah aku harus mengambil kursus untuk bisa berbohong lebih baik?
"Kau membuat Dey takut" El yang sedari tadi berdiri diam di belakangku, bersuara.
"Aku belum berbicara dengannya sama sekali hari ini, bagaimana bisa dia takut?" Aku sama sekali belum berbicara dengan siapapun kecuali El. Semenjak matahari terbit aku menghabiskan waktuku di sini.
"Karena itulah dia takut. Dia merasa jika dirinya yang akan menjadi sasaran tembak jika papan itu sudah hancur" kata El sambil menunjuk papan sasaran yang sekarang kepalanya sudah hilang.
"Katakan padanya untuk jangan khawatir, satu-satunya benda yang saat ini ingin aku tembak, adalah kepalaku sendiri" jawabku dengan muak dan jengkel.
"Itu tidak lucu!!! Kau membicarakan soal bunuh diri!!" El menghardikku sekarang.
"Dan aku sedang tidak melucu, El, Aku memang kadang ingin mati saja" ucapku dengan pelan.
Aku menghempaskan tubuhku ke tanah dan berbaring telentang dengan letih. "Apa lagi yang harus aku lakukan sekarang El?" tanyaku, putus asa.
"Kau tahu, aku juga tidak bisa menjawabnya kan?" El menjawabnya dengan nada yang tidak kalah putus asa. Dia mengikutiku duduk di tanah sekarang. "Kau menyerah?" tanyanya.
Aku menggeleng. "Aku hanya tidak tahu lagi bagaimana aku akan menyelesaikan masalah ini. Aku mempertimbangkan untuk belajar cara berbohong yang lebih baik" ucapku, datar.
Tawa geli El langsung terpecah saat mendengar ideku.
"Aku tidak yakin akan ada orang yang mengajarkan hal itu. Dan lagi kau benci berbohong. Tidak ingatkah bagaimana keadaanmu setiap kali kau pulang setelah acara jumpa pers? Kau selalu pulang dalam keadaan seperti orang sakit, hanya karena selama di sana beberapa kali kau harus berbohong" tanyanya.
"Kau akan sakit karena depresi jika harus melakukannya setiap hari Duke"
Itu adalah penjabaran yang sangat akurat. Aku sama sekali tidak suka menghadiri jumpa pers, siaran pers atau apapun itu. Karena di dalamnya pasti akan ada kebohongan, entah soal apapun.
Jika tidak sangat terpaksa, biasanya Hugh yang mewakiliku. Tapi beberapa kali aku sendiri yang harus melakukannya. Dan itu adalah mimpi buruk. Aku tidak ingin mengingatnya lagi sekarang.
"Apakah kau sudah menghubungi Lui untuk mencoba meminta maaf?" tanya El.
Aku menggeleng. "Apa yang harus aku katakan jika dia bertanya lagi? Aku tidak sanggup jika harus membohonginya lagi El!" jelasku.
"Apa kau sudah membicarakan... err perasaanmu?" El bertanya dengan ragu.
"Perasaan apa? Bahwa aku tergila-gila padanya? Tentu saja belum!!" Aku menjawab dengan ketus.
"Tidak perlu marah padaku, Aku hanya bertanya!" El menggerutu pelan mendengar jawabanku.
Suara langkah yang mendekat dari belakang, membuat aku dan El menoleh secara bersamaan. Id berlari dari dalam rumah.
"Maaf Scion, tadi saya menemukan ini saat membersihkan mobil yang anda pakai tadi malam" ujarnya. sambil menyorongkan tas berwarna hitam padaku. Oh cr*p!!
Itu adalah tas milik Bee. Aku yang meletakkannya di jok belakang tadi malam.
"Thanks Id" ucapku. Id mengangguk "Makan siang untuk anda juga sudah siap" tambahnya. Aku menggeleng atas tawarannya itu. Aku sedang tidak ingin makan.
"Kau melewatkan sarapan tadi, kau harus makan!!" El kembali membentakku.
Aku memandang El dengan seksama, sambil melambai menyuruh Id untuk pergi dengan tanganku.
"Apa?? Kau akan menyuruhku diam dengan alpha tone-mu?" tantang El tanpa takut, karena tahu bahwa apa yang dilakukannya itu adalah benar.
Menyerah, aku akhirnya menurunkan pandangan, urung memarahinya.
"Tas ini milik Bee, aku yang meletakkannya di mobil tadi malam. Dan karena sekarang sudah siang, itu berarti sudah sangat terlambat untuk mengantarkannya. Aku tidak hanya membuatnya marah karena telah berbohong, tapi sekarang aku juga mengacaukan jadwal kerjanya" jelasku, dengan muram.
"Oh..." wajah El terlihat prihatin.
Aku memandang tas Bee yang ada di tanganku dengan kalut. Apa yang harus aku lakukan dengan benda itu sekarang? Aku menarik nafas panjang putus asa.
Setitik aroma mengganggu hidungku ketika aku menarik nafas. Aroma itu berasal dari tas milik Bee.
"Apakah kau menciumnya?" tanyaku pada El sambil menyorongkan tas itu padanya. El mendekatkan wajahnya kemudian mengendusnya selama beberapa saat. "Tinta, kertas dan sedikit aroma pembersih kulit" ujarnya.
"Bukan!! ..." Aku juga mencium itu semua, tetapi bukan itu yang menjadi masalah.
Aku membuka tas itu dan mengeluarkan isinya ke tanah. Tumpukan kertas proposal , ponsel, kemudian dompet berjatuhan dari tas itu. Aroma itu berasal dari tumpukkan kertas yang berada di dalam tas Bee.
Bagaimana bisa aku tak menciumnya tadi malam? Tapi aroma yang tertinggal di lembaran kertas itu memang begitu samar, aku tak akan menciumnya jika tas itu tak berada sangat dekat saat aku menarik nafas.
Aku bisa merasakan aliran darah meninggalkan wajah. Aroma itu semakin jelas, setelah kertas itu terbuka di luar tas.
"Ada apa?" tanya El, dia memandangku dengan khawatir. Aku bisa merasakan bahwa wajahku menjadi lebih dingin karena pucat.
"Kertas ini beraroma seperti ikan mati...." ucapku dengan pelan. Aroma itu sangat samar, tetapi aku tidak akan salah. Aroma ini adalah aroma vampire itu....
----------- *0o0*----------
"Kita akan kemana setelah ini Miss?" tanya Mark dengan sopan.
Kami baru saja selesai makan siang di salah satu gerai makan yang menyediakan burrito. Bukan makanan favoritku, tapi lumayan untuk mengganjal perut yang lapar.
Tidak banyak restaurant yang bisa kami jadikan pilihan di sekitar sini.
"Hanya satu lagi Mark, South Down national Park". Dari kaca spion aku bisa melihat bahwa Mark mengernyitkan keningnya.
"Ada apa? jaraknya tidak terlalu jauh bukan?" tanyaku.
"Tidak Miss Delmora, tetapi di sana hanya ada bukit kapur dan hutan" jelasnya.
"Oh iya, aku tahu. Proposal ini memang menginginkan bantuan untuk mendirikan semacam animal shelter. Aku rasa itu lokasi yang tepat. Mereka berjanji untuk menemuiku di sana" jawabku.
Mark mengangguk berkali-kali dengan wajah mengerti.
"Bangunkan aku jika kita sudah sampai"
Aku ingin tidur sejenak. Mataku terasa pedas, karena tadi malam aku tidur dengan gelisah.
"Baik Miss Delmora" Mark menyahut dengan patuh.
----------- *0o0*----------
"Apa maksudmu Duke? Bagaimana bisa barang milik Lui beraroma seperti vampire?" tanya El, yang sekarang wajahnya juga memucat dengan cepat.
Dia tahu masalah apa yang akan kami hadapi jika memang dugaanku benar.
"Kertas ini bukan milik Bee. Kertas ini adalah proposal yang dikirimkan kepada Bee untuk meminta bantuan. Siapapun pengirimnya dia pernah berhubungan dengan vampire itu El" jelasku, dengan tak sabar.
Dengan segera aku bangkit dan berlari menuju ke Lykos. Ini sudah hampir jam makan siang, Aku sungguh berharap aku tidak terlambat.
"Id..!!" Aku berseru memanggil Id setelah sampai di dalam.
"Jadi maksudmu sekarang Bee sedang mendatangi siapapun yang mengirimkan proposal itu, dan mereka adalah vampire?" El bertanya dengan nada tidak percaya sekarang.
"Tidakkah kau mengerti!! Ini jebakan. Kita selama ini mengira vampire gila itu datang ke London untuk mencariku. Tapi tidak El. Mereka memang mengincar Bee sejak awal. Proposal ini adalah buktinya!!" bentakku.
"Id..." seruku, lagi, karena Id belum terlihat.
Aku sudah curiga dari beberapa hari kemarin. Patroli yang dilakukan El dan yang lain, tidak pernah menemukan tanda-tanda apapun tentang pergerakan musuh di sekitar Lykos, dan ternyata firasatku kali ini tepat.
Sejak awal mereka tidak mengincar diriku, karena jelas Bee adalah sasaran yang lebih mudah. Dan dengan membunuhnya, aku juga akan mati. Hal ini membuat tubuhku meremang.
El merebut tumpukan kertas dari tanganku dan mengendusnya. "Aku tidak mencium apapun!"
"Kau meragukan hidungku?" Aku memandang El dengan tajam.
Dengan cepat El menggeleng. Dia tahu dengan pasti bahwa hidungku tak pernah salah mengenali aroma. "Tapi ini siang hari, mereka tidak akan keluar pada siang hari Duke"
"Mereka telah bersekutu dengan Egon dan entah makhluk apa lagi yang lain, kau pikir mereka tidak akan memiliki ide untuk mengirim seseorang yang akan baik-baik saja jika berjalan di bawah matahari?!!" Aku mulai gusar dengan segala pertanyaan yang diajukan El.
El mengangguk menyetujui pemikiranku. "Hanya saja jika semua kesimpulanmu benar, berarti keamanan kita kembali bocor.
"Ada pengkhianat diantara kita karena semua informasi soal Lui adalah mate-mu sangat rahasia. Kau sadar dengan hal ini bukan?" El kembali memandangku, dengan wajah khawatir.
Sangat sedikit anggota pack yang tahu mengenai Bee yaitu para Elder. Mereka menolak memberiku ijin sebelum tahu mengenai Bee. Aku sendiri yang memberi penjelasan, walaupun tidak dengan mendetail.
Jika vampire b*j*t itu sampai tahu soal Bee\, tidak diragukan lagi\, memang ada seseorang dalam pack yang membocorkannya.
"Aku akan mengurus itu nanti El. Yang sekarang harus kita lakukan adalah menjauhkan Bee dari mereka" pungkasku pelan, karena Id telah datang dengan berlari ke arahku.
"Maafkan saya Scion, saya sedang menyiapkan..." Aku memotong penjelasannya dengan kibasan tanganku.
"Ada berapa orang werewolf yang saat ini siap untuk pergi selain aku dan El?" tanyaku. "Hanya ada saya Scion" jawab Id dengan bingung.
"Kemana mereka semua?" El bertanya dengan heran.
"Dey sedang melakukan patroli, Farjad sedang berada di kota. Hari ini gilirannya untuk berbelanja. Roan tadi mengikutinya ke kota karena ingin membeli sesuatu, Sedangkan Tita sedang tidur karena dia berpatroli tadi malam" jelas Id.
"Aku tidak bisa lagi melacak bau itu berasal dari mana, karena kertas-kertas ini telah bercampur lama di dalam tas. Satu-satunya jalan kita harus berpencar menuju tiga tempat ini"
"Kau akan pergi sendiri?" El mengangkat alisnya, mendengar penjelasanku. "Kita tak punya waktu lagi untuk menunggu, Bee pasti sudah mendatangi lokasi sekarang!" ujarku keras.
"Kau tidak bisa pergi sendiri dengan keadaanmu sekarang!!" sekali lagi El membantah ucapanku. Aku menggeleng keras menolak argumennya.
"Kita harus pergi sekarang atau semua terlambat! Dan jangan salahkan aku jika aku akan memaksamu nanti!" desakku, dengan sedikit membentak.
Aku tidak ingin menggunakan Alpha tone pada El, tapi di waktu yang genting seperti ini, aku tidak ingin memperpanjang perdebatan.
Bisa jadi Bee sudah bertemu dengan mereka sekarang.
Wajah El segera saja berubah masam, tetapi dia mengangguk kalah. Kemudian berpaling pada Id untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Aku mengambil salah satu proposal yang menurutku berbau paling tajam. Karena saat ini kurang lebih aroma yang tercium dari mereka adalah sama, bisa saja aku salah. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku menyerahkan sisanya pada El dan Id.
"Siapapun yang kembal terlebih dulu, suruh mereka menyusulku di alamat ini" Aku memperlihatkan alamat yang tertera di proposal yang telah aku pilih yaitu South Down national Park.
El mengangguk mengerti, "Aku akan menghubungi Roan"
"Dan saya akan menghubungi Farjad dan menyuruhnya segera kembali" Id menimpali. Aku mengangguk setuju. "Maaf, tapi kau harus membangunkan Tita. Setidaknya harus ada yang berjaga di sini, suruh dia untuk menghubungi Uncle Rex dan Abel" ucapku padanya.
Id menganguk mengerti "Tentu saja Scion".
Mendengar semua rencana telah tersusun rapi, El berlari keluar sambil melepaskan bajunya satu persatu, bersiap untuk bertransformasi agar bisa memanggil Roan.
Id juga segera berlalu untuk memanggil Tita.
Aku segera berlari menuju garasi. South Down national Park berjarak kurang lebih satu jam perjalanan dari sini. Aku harus bisa menjangkaunya sebelum Bee tiba di sana.
Aku menyambar pistol yang terletak di laci mobil dan menyelipkan pisau di kakiku. Ini akan cukup untuk menghadapi mereka nanti.
----------- *0o0*----------
"Saya rasa ini tempatnya Miss" Mark menghentikan mobilnya pada sebidang tanah kosong. Kami sudah berputar-putar sedari tadi sebelum akhirnya menemukan mereka.
Tempat ini memang cocok sekali digunakan sebagai animal shelter. Tanah kosong itu dikelilingi dengan hutan yang lumayan lebat.
Jalan menuju kesini sedikit sulit, tapi dengan besarnya biaya yang mereka minta, aku harap mereka juga memperbaiki akses ke tempat ini.
Ada 4 orang yang berdiri di tanah kosong itu. Mereka memandang ke arah kami dengan wajah tertarik.
Aku menyambar salinan proposal mereka dan dengan cepat berjalan keluar dari mobil.
Aku sudah sangat terlambat. Kami menghabiskan waktu sekitar satu jam hanya untuk mencari tempat ini. Mark yang juga telah turun dari mobil, mengikutiku di belakang.
"Maafkan kami karena terlambat. Kami agak tersesat tadi" Aku menyesal karena tidak bisa tetap waktu. Mereka pasti sudah menunggu lama.
Salah satu dari mereka maju menghampiriku dan tersenyum lebar. "Tidak masalah. kami punya banyak waktu" katanya dengan sangat ramah, seraya mengulurkan tangan untuk berjabatan. Pria ini sangat simpatik. Aku akan memberinya nilai tambah untuk itu.
Ketiga pria yang lain berdiri diam di belakangnya. Mereka tidak berusaha maju untuk menyambutku.
Ada apa dengan mereka? Mereka terlihat sedikit ganjil dan canggung. Aku menatap mereka satu persatu, dan menyadari bahwa salah satu dari mereka wajahnya sangat rusak.
Aku nyaris memekik saat melihatnya.
Kecelakaan macam apa yang membuatnya sampai memiliki bekas luka mengerikan seperti itu? Apakah ada hewan buas yang menyerangnya?
Separuh wajah bagian kanannya benar-benar rusak. Hidungnya hilang sama sekali, mulutnya nyaris tidak berbentuk, hanya seperti torehan miring yang secara paksa berada di sana.
Mata kanannya juga sama sekali hilang. Hanya menyisakan permukaan bergelombang tanpa tanda-tanda apapun. Mata sebelah kirinya memandangku dengan penuh selidik.
Dengan bersusah payah, aku akhirnya bisa mengembalikan perhatian pada pria yang mengajakku berbicara tadi.
"Perkenalkan, saya Egon Kaindra, anda bisa memanggil saya dengan Egon. Kita berbicara lewat telepon kemarin" ucapnya lagi dengan nada lebih lembut. Wajahnya terlihat seperti pria yang berumur 30-an.
Tubuhnya sangat tegap dengan kulit berwarna kecoklatan.
"Ya tentu saja, saya ingat. Saya Eluira Delmora, senang bertemu dengan anda" balasku, dengan tidak kalah ramah.