
Aku melempar tongkat penyangga dengan kesal ke tanah. Tongkat itu lebih ke arah mengganggu, daripada membantu proses berjalanku.
Dr. Sidra dengan sabar mengambilnya dan menyerahkannya kembali padaku.
Dengan jengkel aku meraihnya, dan mencoba untuk melangkah dengan lebih tegap.
Tulangku belum pulih sepenuhnya, tapi dr. Sidra telah memberiku izin untuk berlatih berjalan walaupun masih menggunakan tongkat.
Mungkin aku werewolf pertama dalam sejarah yang harus berlatih berjalan menggunakan tongkat. It's humiliating!!!
But, I have to work it out somehow. Aku tidak ingin muncul ke acara pemakaman dengan menggunakan tongkat atau terlihat tidak sehat. Aku tidak ingin ada kabar yang bocor keluar jika aku melemah.
Egon akan menari bahagia mendengar kabar itu.
Ugh... aku benci mengakuinya.
Tapi sisi werewolf-ku benar-benar melemah.
Dr. Sidra dengan santai, malah mengatakan, keadaan tubuhku memang lemah untuk werewolf, tetapi untuk ukuran manusia, aku termasuk dalam kategori manusia yang sangat sehat dan kuat.
Apakah menurutnya dengan mengatakan hal itu padaku, aku akan menjadi lebih gembira dan terhibur? Because, after he said that, I feel like a cr*p.
Itu adalah ucapan penghiburan terburuk yang pernah kudengar, padahal aku sudah sering mendengar Roan berbicara. Kalimat itu bahkan lebih buruk dari pada hanya diam.
Tapi aku tidak bisa marah kepadanya setelah itu, karena dia mengatakannya dengan wajah tulus dan penuh senyum.
Dia memang seorang dokter yang jenius, tetapi untuk kemampuan bersosial nilainya nol.
Tapi meskipun mempunyai kemampuan medisnya yang luar biasa itu, dia masih tidak bisa menemukan apa penyebab dari semua kekacauan di tubuhku.
Dia telah melakukan banyak tes dan pemeriksaan tapi tidak ada hasil.
Padahal aku belum memberitahu tentang hal yang terburuk, yaitu ketidakmampuanku ber-tranformasi.
Saat ini hanya aku yang tahu soal ini, atau mungkin El juga tahu. Dia belum bertanya kepadaku lagi soal hal itu
Yaah.. mungkin dia akan bertanya, jika saja aku memberinya kesempatan untuk bertemu denganku. Tapi aku menolak kunjungan dari siapapun selama 5 hari ini.
Aku tidak bertemu siapapun kecuali dr. Sidra dan perawat. Aku tidak ingin bertemu siapa-siapa saat ini.
Semua insiden yang terjadi beberapa bulan ini, berhasil membuat isi kepalaku berantakan.. Orang Tua itu, bagaimana bisa dia...
Yang pasti, aku tidak ingin mendengar penghiburan dalam bentuk apapun dari siapapun. Aku ingin berkonsentrasi penuh menyembuhkan diri. Aku akan menunda segala emosi yang bisa aku rasakan jika bisa. Dan menghindari semua orang adalah kuncinya. Hhhhhh......
It's really depressing!!. Sebaiknya aku berlatih berjalan lagi, putusku.
Aku menyeret kaki kananku yang masih memakai gips --and I hate this cast, it's so itchy-- memutari sekeliling kamarku. Bukan tempat ideal untuk berlatih berjalan dengan adanya sofa dan kursi, tetapi aku tidak ingin mengambil resiko kabar soal keadaanku bocor keluar.
Aku berhasil berjalan sekitar 10 langkah, sebelum rasa sakit di dadaku karena tekanan dari tongkat penyangga itu mengambil alih dan membuatku berhenti.
Rusukku belum sembuh sempurna. Tulangku sudah tersambung, tapi memarnya masih ada.
Aku semakin membenci tubuhku saat ini. Dan ini ironis, karena dulu aku pernah mengutuk nasibku yang terlahir sebagai werewolf dan bukan manusia. Dan inilah--- ketika keadaan tubuhku mendekati manusia, aku justru membencinya.
Yeaa.. karma it's a b*tch, batinku getir.
Dr. Sidra memeriksa gips yang membalut kaki kananku, setelah dia membantuku untuk naik kembali ke ranjang. Dia lalu menyampaikan kabar gembira, gips itu sudah bisa dibuka besok. Dan aku sangat berterima kasih.
Setelah itu, dia berpamitan keluar dari kamar.
Pikiranku kembali melayang tidak tentu arah dalam kesendirian ini.
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Haruskan aku tinggal? Atau pergi??
Aku peduli dengan pack ini, tetapi Alpha? Aku tidak bisa --- Tidak jika aku harus meninggalkan Bee.
Selama berada di sini, aku setengah mati menahan keinginan untuk menghubungi Bee. Aku tidak ingin menyeretnya dalam kerumitan dunia Inhumane yang liar ini.
She's human, manusia biasa. Dunia inhumane terlalu liar untuk Bee.
Aku akan menemuinya setelah semua masalah di sini selesai. Walaupun itu berarti aku harus menahan semua rasa rindu ini dalam hati saat ini.
Ohh... I miss you so much Bee. Jika bisa, aku ingin tenggelam dalam pelukanmu dan melupakan semua kerumitan hidupku di sini. Andai aku bisa...
\~\~\~\~\~\~\~\~
BLAAKK!!!!
Suara pintu terbanting membuatku hampir mengumpat.
Uncle Rex tiba-tiba memasuki kamar tanpa menunggu persetujuanku.
"Aku tidak akan peduli, walaupun setelah ini kau akan membunuhku. We need to talk, right now!!" katanya, sambil mengangkat tangan, melihat tatapan tidak suka yang muncul di wajahku.
Aku ingin istirahat panjang yang tenang, tidak bisakah mereka mengerti?
Aku hanya mendecakkan lidahku sebagai tanda setuju. Aku bukannya tidak menduga saat seperti ini akan datang.
Dia duduk di sofa yang dan meletakkan amplop coklat besar bawaannya di meja. "Aku tidak sendiri, aku harap kau akan mengizinkan mereka masuk"
"Aku tahu kau tidak sendiri. Aku bisa mencium aroma mereka ketika kau masuk tadi. Tapi haruskah kau membawa wanita itu?" Kejengkelanku semakin bertambah.
Harus berapa kali aku mengatakan padanya, aku tidak ingin berada dekat dengan wanita itu!
Uncle Rex memejamkan matanya dan menggeram, dia menelan kembali kata apapun yang hendak diutarakan padaku. Dia tidak ingin memulai pertengkaran lain dan memutuskan untuk mengabaikan kata-kataku tadi.
"Masuklah!" katanya sambil melambaikan tangan ke pintu.
El, Roan dan wanita rubah itu pun memasuki ruangan. Dengan santai El dan Roan duduk di kursi sebelah tempat tidurku, masing-masing di sebelah kanan dan kiriku.
Sedangkan wanita itu, melangkah pelan kemudian duduk di sebelah uncle Rex.
Apa yang terjadi pada wanita rubah itu? She's look awful.
Kantung matanya tebal dan hitam, dan tubuhnya juga semakin kurus. Dia lebih terpukul dari pada yang aku kira,. Dia terlihat kacau sekali setelah kepergian ayahku.
Tapi bukan berarti aku akan memaafkan perbuatan yang telah dia lakukan kepada Ibuku, tidak akan.
"Dua hari lagi adalah acara pemakaman Alpha Owen, kita tidak bisa menundanya lebih lama lagi" kata uncle Rex memulai pembicaraan. Penundaan itu karena memang menunggu hingga aku sehat. Karena aku adalah calon Alpha berikutnya dari pack ini.
Akan ada ritual khusus bagi seorang Scion pada acara itu nanti. Biasanya setelah acara pemakaman atau upacara pengunduran diri seorang Alpha, upacara penobatan akan segera dilakukan sehari setelahnya.
"Apakah kau sudah memilih siapa yang kan menjadi Beta dan Gamma pack ini?" tanyanya dengan nada datar.
Wow!! straight to the point.
"Siapa bilang aku mau menjadi Alpha di pack ini?" sanggahku, yang segera membuat kerutan di dahinya.
"Kau tidak bisa menolak menjadi seorang Alpha, Duke. Kau pikir siapa yang akan menggantikan Alpha Owen jika bukan kau?" tanyanya dengan volume suara yang lebih tinggi.
"You, kau pantas menjadi Alpha di pack ini Uncle" jawabku.
"Are you insane?" kata uncle Rex sambil tertawa kering.
Kemudian dia meraih amplop cokelat besar di meja dan melangkah mendekat menyerahkannya padaku.
"Apakah kau tidak ingin menjadi Alpha karena hal ini?"
Dengan penasaran aku membuka dan mengeluarkan isi dari amplop itu yang ternyata berupa tumpukan foto.
Dan foto-foto itu adalah foto Bee!!!
Beberapa diambil saat dia sedang bersamaku, sebagian lagi foto Bee yang sedang melakukan kegiatan sehari-hari di studionya.
Tarikan nafas pendek dan tercekat karena terkejut lolos dari mulutku. El kurasa juga terkejut melihat foto itu, karena dia tiba-tiba berdiri dari kursi.
"Siapa dia?" tanya Roan dengan penasaran, sambil meraih salah satu foto Bee yang sedang makan di Cafe Burger bersama seseorang wanita berkacamata dan berambut cokelat gelap.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanyaku, dengan nada rendah.
Amarahku yang tidak pernah jauh tenggelam dari permukaan, perlahan mulai muncul. Aku tidak akan memaafkan, jika mereka berani mengganggu Bee.
"Kau pikir ayahmu akan membiarkan penerus Alpha di pack ini pergi begitu saja tanpa pengawasan?" jawab uncle Rex.
"Ck.."
Aku sudah mencurigai ini terjadi, begitu Roan berkata, jika Alpha mengatakan pada semua orang, kalau dialah yang mengirim El dan aku keluar dari pack, bukan karena kami kabur.
Ternyata aku benar -- aku memang tidak akan bisa lari dari takdirku, dan tidak juga dari ayahku.
"Tidak bisakah kau memilih salah satu siewolf di pack, kemudian menjadikannya Zhena pack ini? Banyak siewolf yang memiliki kualifikasi luar biasa di sini, Roanna misalnya?" katanya, dengan nada putus asa.
"Dad,satu kata seperti itu lagi, Aku berjanji---akan mencabut kepalamu.. " ujar Roan, dengan sadis.
Ide itu juga terdengar menggelikan di telingaku, tapi kata-katanya itu menandakan dia sudah kehabisan cara untuk membujukku tetap tinggal dan menjadi Alpha.
"Look, she's amazing woman, but she's human, kau tidak bisa membuatnya menjadi Zhena di pack ini"
Jika bukan uncle Rex yang mengatakan hal itu, aku sudah pasti akan mematahkan salah satu tangannya saat ini juga.
"Aku juga tidak bermimpi untuk menjadikannya Zhena, karena itu aku tidak ingin menjadi Alpha di pack ini" Suaraku terdengar menggeram, mencoba untuk menahan emosi yang sudah terkumpul tidak terkendali.
"Kau tidak bisa menghindari takdirmu, Duke. Kau Scion di pack ini" katanya lagi dengan nada putus asa.
"Aku tidak ingin menghindari takdirku sebagai seorang werewolf, tapi aku tidak akan menukar kehidupanku dengan Bee, hanya untuk menjadi seorang Alpha" teriakku tegas.
"Oh.. namanya Bee? Nama yang unik sekali" celetuk Roan tiba-tiba.
"Bukan!! dan aku tidak ingin membahasnya sekarang!!" bentakku.
El memberi desisan peringatan agar diam, kepada Roan.
"Kau sudah tahu tentang ini tentu saja!" sahutnya lagi, dengan suara jengkel sambil melotot marah ke arah El.
"Aku sebenarnya tidak ingin mengatakan hal ini kepadamu, tetapi kau keras kepala sekali!!" kata Uncle Rex, setelah terdiam selama beberapa saat dengan suara serius. Hingga aku merasa akan ada badai yang datang.
"Apa maksudmu?" tanyaku penasaran dan takut.
Ayahku sudah tahu soal Bee, aku takut membayangkan apa yang akan dilakukannya setelah ini.
"Wanita itu... yah.. Gadis itu---" katanya dengan ragu.
"Lanjutkan!!!" bentakku dengan tidak sabar.
"Apa maksudmu paman? Itu tidak mungkin!!" ujarku dengan panik, Bee tidak akan melupakanku begitu saja. Tidak akan.
Dengan tangan yang agak gemetar Uncle Rex menyerahkan foto lain dari dalam kantongnya.
Foto itu adalah Bee sedang berjalan-jalan dengan seorang pria di sebuah taman, Queen's Marry Park. Aku mengenali bunga mawar kuning di latar belakangnya.
"Mungkin dia hanya sedang berjalan-jalan dengan temannya" Aku memberi alasan dengan suara bergetar. Kata-kata itu terdengar bodoh di telingaku.
Karena aku tahu. Bee tidak mempunyai seorangpun teman, tidak dengan wujud pria dewasa. Bee hanya bersosialisasi dengan anak-anak muridnya.
"Itu bukan satu-satunya foto mereka berdua" kata Uncle Rex dengan nada menyesal. Aku mengulurkan tanganku meminta foto-foto lain darinya.
"Aku rasa itu bukan ide yang bagus" Kata El, dia tidak ingin aku semakin terluka, karena tahu benar, bagaimana perasaanku terhadap Bee.
Aku masih tetap mengulurkan tangan meminta foto itu. Aku harus melihatnya.
Uncle Rex menyerahkan beberapa foto lagi dengan ragu.
Semua foto-foto itu menunjukkan Bee sedang bersama dengan pria tadi. Mereka.....
Aku tidak ingin melihatnya lagi.Aku meremas foto-foto itu dan melemparkan gumpalan itu ke lantai.
Seiring aku menarik nafas, emosiku dalam diriku meledak.
BRAKKKK!!!!!!!
Aku melempar tiang infus di samping tempat tidurku, keseberang ruangan dengan sekuat tenaga. Aku yakin seluruh penghuni bangsal di sekelilingku mendengar suara berisik itu.
Sekarang ini yang ingin aku lakukan adalah, pergi ke London dan mematahkan leher siapapun pria di foto itu.
"Bisakah, kalian semua pergi dari sini?" Nada sopan pertanyaanku, semata agar keinginanku untuk melemparkan barang lagi menjadi luntur.
"Ya, tentu saja! tapi sebelum itu, aku ingin meminta maaf atas sesuatu" Kata uncle Rex sambil berdiri dengan gaya sangat formal.
"Apalagi uncle?"
Terus terang saja, aku tidak ingin mendengar kalimat apapun yang keluar dari mulut itu sekarang. Tidak ada lagi yang berarti saat ini. Tidak ada lagi...
"Semua yang terjadi sekarang ini, di antara kalian, kau dan wanita di foto itu maksudku. Semua itu, mungkin salahku" katanya.
"Omong kosong apalagi ini?" bentakku. Aku sama sekali tidak mengerti kemana arah pembicaraan ngawur ini.
"Ketika Alpha Owen berkata ingin membawamu kembali ke sini, dia meminta pendapatku tentang bagaimana cara yang tepat, agar kau memutuskan segala hubungan dengan dunia manusia. Aku memberikan ide, cara yang terbaik adalah dengan menghilangkan identitasmu di dunia manusia selamanya. Dan Alpha Owen menyetujuinya"
Apa maksud semua ini? Menghilangkan identitasku? Aku tidak bisa menghilang begitu saja, akan ada berjuta-juta orang yang mencariku jika aku hilang, kecuali...
"Maksudmu, kalian semua mengatur agar aku mati? Kalian membuat David Adalrik mati?" Akhirnya aku mengerti.
"Ya.. aku yang mengatur semuanya. Aku membuat skenario kau berlayar sendiri, kemudian kapalmu terkena badai dan hilang. Untuk dunia manusia, David Adalrik sudah mati" ujarnya, dengan nada menyesal.
"Aku tidak tahu jika ternyata semua menjadi kacau seperti sekarang. I'm really sorry Duke" tambahnya.
"Pergilah!!" Bentakku. Aku tidak ingin mendengar kata-katanya lagi. Sudah cukup semua kerusakan yang ditimbulkannya. Penjelasannya hanya membuatku semakin sakit.
"Bolehkah aku tinggal?" El bertanya dengan ragu. Aku menatapnya dan melihat rasa khawatir terpancar dari wajahnya yang pucat.
Aku mengangguk pelan sebagai tanda setuju.
"Aku juga" kata Roan sambil duduk kembai di posisi semula, setelah tadi dia sempat berdiri.
"Tapi diamlah.." ujarku padanya.
Dengan anggukan pelan, uncle Rex dan wanita rubah itu --yang sekarang sudah mulai menangis lagi-- keluar dari ruanganku.
Desahan nafas beratku adalah satu-satunya suara yang ada di ruangan itu selama beberapa menit berikutnya.
El hanya duduk membisu. Roan memungut foto-foto yang telah aku lemparkan ke segala arah.
Sedangkan aku-----aku perlu waktu untuk mencerna dengan pelan, semua informasi absurd yang aku dengar dengan bertubi-tubi tadi.
Jadi----David sudah mati.
David Adalrik adalah nama yang aku gunakan ketika di dunia manusia. Aku tidak mungkin menggunakan nama asliku ketika di sana. Karena aku memang sedang melarikan diri.
Dan aku juga sulit membayangkan nama asliku--Duke Pacian Theobald-- cocok di pakai sebagai nama musisi. Namaku lebih cocok disematkan untuk ksatria jaman pertengahan dari pada musisi.
Kemudian setelah aku mati, Bee berkencan dengan pria lain? Well, itu terdengar normal. Normal tapi sangat menyakitkan untukku.
"She's beautiful, sedikit pendek tapi cantik" kata Roan tiba-tiba, sambil memandang salah satu foto yang telah dipungutnya.
"Apa kau sudah hilang ingatan? Aku menyutuhmu untuk diam!" bentakku, aku tidak membutuhkan komentar sinis saat ini.
"Aku tahu kau sudah mati baginya, tapi dia mulai berkencan dengan pria baru, hanya setelah 3 bulan kau kembali kesini Duke. Dia tidak pantas kau bela" Lanjut Roan, tanpa menimbang bagaimana perasaanku.
"Aku tidak butuh komentar itu darimu Roan! Kau tidak mengenalnya. Dan bagaimana kau tahu soal 3 bulan itu?" Tidak mungkin Bee melupakanku begitu saja setelah tiga bulan.
Dia menyerahkan salah satu foto Bee yang sedang makan bersama pria itu. Mereka sedang makan malam bersama di restaurant. Roan menunjuk angka yang tertera di sudut foto.
"Foto ini bertanggal paling awal dari semua foto lain yang ada. Aku rasa ini adalah pertama kalinya mereka keluar bersama" Jelasnya.
"Dan dia sudah terlihat tertawa bahagia saat itu, tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan kekasihnya" tambahnya dengan baik hati.
"Roan, Cukup!!" Kali ini El yang membentaknya. Karena aku tidak memiliki hal apapun yang bisa aku katakan untuk menjawab argumen Roan. Pikiranku kosong saat ini.
"Kau tidak berhak berbicara seperti itu tentang dia, kau tidak mengenalnya. Dia tidak akan mungkin melupakan Duke begitu saja. Pasti ada penjelasan yang lain tentang ini" El berkata dengan nada tegas.
Roan hanya mengedikkan bahunya sambil tersenyum masam. Tapi dia tidak membalas ucapan El.
Ucapan El menyadarkanku tentang sesuatu. Dan aku merasa bodoh sekali karena idtak memikirkan ini sebelumnya.
Bee yang aku kenal, tidak akan melakukan ini, Kami saling mencintai, ini fakta.
Bee tidak akan begitu saja melupakanku ketika aku mati. Aku percaya ini. Jadi kenapa aku harus mempercayai laporan dari uncle Rex ataupun prasangka Roan dalam hal ini?
Aku yang paling mengenal Bee. Aku yang paling tahu sifat dan karakter Bee.
"Give me your phone!" kataku kepada Roan.
"Eh--kenapa?" katanya dengan nada protektif.
Aku mendesis kesal. "Karena El tidak mungkin punya ponsel saat ini, ponselnya pasti sudah di ambil ketika kami di bawa kesini. Sekarang berikan dan jangan bertanya" Aku tahu Roan adalah teman, tapi kadang dia suka sekali menguji kesabaranku.
Dengan sedikit cemberut, dia menyerahkan ponselnya padaku.
Aku memencet nomor yang telah aku hafal di luar kepala, dan menunggu.
Jantungku berdebar keras ketika nada panggil mulai terdengar di telingaku. Aku percaya dengan Bee, tapi apa yang akan aku katakan padanya nanti?
Bagaimana aku mengatakan padanya bila aku masih hidup? Bagaimana bila dia malah jatuh pingsan setelah mendengarnya?
Oh.. aku akan gila jika memikirkan segala kemungkinan itu.
"Hello?"
Suara yang memenuhi mimpi-mimpi dan anganku karena kerinduan, menyapaku dengan hangat. Saat itu juga, aku menyadari betapa aku sangat merindukannya, lebih dari pada yang aku kira.
"Bee?" kataku dengan suara tercekat oleh emosi.
"Siapa ini?.. Maaf tapi aku tidak dapat mendengarmu dengan jelas. Hello?" tanyanya, dengan nada sedikit bingung.
Aku terlalu grogi tadi, sehingga suaraku terdengar tidak jelas.
"Honey Bee?"ulangku dengan lebih jelas.
"Anda mencari Honey Bee? Saya rasa anda salah sambung Mr. Tidak ada siapapun yang bernama Honey Bee di sini" jawab Bee, dengan lancar.
Aku mematikan telepon itu dengan otomatis karena terkejut dan heran.
Tidak ada yang bernama Bee disini? Ini jelas bukan jawaban yang aku harapkan dan jauh dari apa yang aku bayangkan.
"Dia tidak ingin bicara denganmu?" tanya Roan dengan suara malas, dari sofa tempatnya berbaring.
"Itu tidak mungkin Roan!! Dia tidak akan melakukan hal seperti itu pada Duke" bentak El lagi dengan kesal.
"Aku tidak mengerti! "
Dia tidak tahu siapa Bee? Tapi dialah Bee.
Apakah dia memang sudah mencampakkanku? Tapi jika benar dia telah bersama pria lain, jawabannya tetap tidak akan seperti itu.
"Apa yang akan kau katakan pertama kali, jika seseorang yang sudah kau anggap mati, tiba-tiba meneleponmu?" tanyaku sambil memandang Roan dan El, yang sekarang juga memandangku balik dengan muka bingung.
"Terkejut?" jawab El dengan ragu.
"I will freak out and throw the phone away" kata Roan, lebih realistis.
Ya-- itulah reaksi yang aku harapkan dari Bee.
"Tapi dia bilang, dia tidak mengenal dirinya sendiri!" ujarku masih dalam kebingungan.
"What?... that's creepy" kata Roan yang sekarang telah duduk karena merasa tertarik.
"Itu aneh sekali" El juga berpendapat sama.
Apa yang terjadi?? Jawaban Bee sangat tidak masuk akal. Aku tidak bisa memprediksi apa yang sebenarnya terjadi pada Bee.
Aku harus mencari jawabannya dengan jelas, aku tidak mau mengambil keputusan hanya berdasarkan kesimpangsiuran berita yang aneh seperti ini.
"Kau benar Eldred, ini aneh dan tidak biasa. Dan untuk tahu jawabannya kita harus mencari tahu ke sana" putusku dengan yakin.
Yang aku tahu, Bee yang aku kenal, tidak akan meninggalkan dan melupakanku begitu saja. Aku harus mencari jawabannya. Dan jawaban itu tidak akan bisa aku temui di sini. Aku harus pergi ke London secepatnya.
"Dan apa yang akan kau lakukan dengan pack ini? Kau akan meninggalkannya begitu saja?" suara Roan kembali melemparku, ke dalam kenyataan rumit yang sedamh terjadi.
"Aku peduli dengan pack ini, tapi aku juga tidak akan menjadi Alpha jika harus meninggalkan Bee, Roan. Tidak akan" kataku. Aku tidak akan menyerah begitu saja.
"Hhhhhh... kau memang keras kepala, Duke" desaunya dengan dongkol.
"Duke hanya mengikuti apa yang diinginkannya. Itu bukan sesuatu yang buruk" bela El dengan keras.
"Kalian...." belum sempat Roan menyelesaikan ucapannya pintu kamarku tiba-tiba terbuka.
Uncle Rex masuk dengan terburu-buru dengan wajah khawatir. Wanita rubah itu berada di belakangnya dan mempunyai raut wajah yang sama dengan uncle Rex.
"Apakah kau kehilangan kemampuan untuk bertransformasi menjadi serigala?" tanyanya tanpa berbasa-basi.
Oh.. **!! batinku, bagaimana dia tahu soal itu?.....