Finding You, Again

Finding You, Again
Us 32 - Wedding and Happy ?



"Apa anda kurang nyaman tentang sesuatu?" tanya Julie, yang sedang menyapukan make up ke wajahku.


Dia salah mengartikan penyebab wajahku yang memerah dengan tiba-tiba.


"Ah --tidak. Jangan khawatir" Aku mencoba tidak tersenyum, agar tidak merusak riasan di wajahku yang baru setengah jadi.


Julie tersenyum mendengar jawabanku, dan meneruskan pekerjaannya.


Tadi anganku dengan liar mengulang adegan yang terjadi kemarin malam di kabin.


Aku ingin sekali memukul mulut lancang yang mempertanyakan keputusan Duke untuk kembali. Aku malu sekali jika mengingat saat itu.


 


Aku harus berkonsentrasi agar tidak berpikiran macam-macam. Ingatlah, masih ada upacara penobatan yang mengharuskanmu tampil tanpa cela Lui, benakku memperingatkan.


Otakku nakal tidak terkendali, membayangkan apa yang akan terjadi setelah segala semua acara hingar bingar pernikahan ini selesai.


Aku tidak sepolos itu, hingga tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku tahu, hanya secara garis besarnya tentu saja.


Ugh...Ini menyedihkan, keluhku untuk kesekian kalinya.


Dari sekian banyak hal yang harus aku khawatirkan --penobatan, pemberian insignia, dan tentu saja berusaha berjalan lurus tanpa terjatuh saat menuju altar-- justru hal itulah yang menjadi sumber paling utama untuk rasa gelisahku.


Sedari tadi, aku tiba-tiba mulai sangat sadar mengenai bentuk tubuhku. Apakah tubuhku cukup indah dilihat? ataukah justru memalukan?


Aku tidak pernah menilai tubuhku dari sudut pandang seksualitas, karena aku menjaganya tetap ramping demi kepentingan profesionalitas sebagai ballerina.


Aku juga tidak pernah menerima komentar apapun soal tubuhku dari pria. Partner baletku hanya memuji bagaimana indahnya tarianku, bukan tubuhku. Apakah itu berarti bentuk tubuhku buruk?


Dan setelah mengingat bagaimana bentuk tubuh Duke yang tanpa sengaja aku lihat dari dekat kemarin dulu, aku semakin tidak percaya diri.


Karena tubuh itu sangat sempurna, otakku dengan detail mengingat seluruh lekukan yang terbentuk di badannya.


Hentikan Lui...!! Anganku akan semakin malas menyingkirkan bayangan itu, jika aku memikirkannya terlalu lama.


Dan jangan memulai membahas tentang pengetahuan dan pengalaman.


Pengalamanku di bidang 'itu' tentu saja nol, karena aku hidup dalam dunia yang aneh, sedangkan untuk Duke---- menurut dugaanku dia akan lebih berpengalaman. Lihat saja wajah tampannya!


Aku sekarang menyesal tidak pernah bertanya tentang masa lalunya.


Well, tapi hal itu wajar, mengingat kami baru berkenalan sebulan yang lalu. Pengetahuanku tentang Duke juga sangat terbatas. Kemudian aku dengan berani akan menikahinya?!!


Apa yang kupikirkan?!


Oh Lui.... Apa yang kau lakukan? Berhenti berpikir tentang hal yang aneh! Batinku jengkel.


Aku tidak boleh meragukan keputusan ini, hanya karena minimnya wawasanku tentang s*x. Pernyataan itu terdengar menggelikan di kepalaku.


Aku tidak ingin memikirkannya!!! Teriakku dalam hati.


Bayangan liar seperti itu, sangat tidak sesuai dengan ketegangan yang melanda seluruh tubuhku saat ini. Semua persiapan pernikahan pastilah telah menganggu kestabilan pikiranku.


Atau mungkin juga, aku hanya kurang tidur, gara-gara kejadian tadi malam.


Setelah kami kembali ke Manor, Myra menguliahi aku dan Duke panjang lebar. Tapi kami menerimanya dengan rela, karena kami memang pantas dimarahi.


Namun akibat kejadian itu aku baru bisa memejamkan mata pada pukul 3 pagi.


Hal ini tentu saja buruk, karena pada pukul 6 pagi Myra telah memaksaku bangun untuk bersiap.


Julie datang satu jam kemudian dan membawaku ke salon. Aku akan melakukan seluruh proses persiapan di salon, kemudian dari sana, aku akan menuju tempat acara berlangsung.


Aku melancarkan protes pada Myra tadi, karena upacara pernikahan baru akan dilakukan sore hari. Tak perlu menyuruhku bersiap sepagi itu. Tapi tentu saja Myra tak mengacuhkan perkataanku. Dan sekarang aku tahu kenapa.


Sekali lagi aku menjalani perawatan lengkap dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Julie mengulang seluruh kegiatan yang telah aku lakukan tiga hari yang lalu.


Apakah ini perlu? batinku dengan getir. Setelah semua proses itu, Julie hanya memiliki waktu 2 jam untuk merias dan mempersiapkan bajuku.


Upacara pernikahan akan di lakukan tepat pada senja hari nanti --musim dingin memiliki siang yang lebih pendek-- dan upacara penobatan pada malam hari setelah matahari tenggelam.


Dan syukurlah, cuaca agak mendukung dengan adanya matahari, setelah sepagian tadi salju turun dengan lebat.


Baju pengantinku dirancang khusus agar aku tidak merasa kedinginan. Baju itu dibuat di bawah pengawasan ketat Myra dalam waktu satu minggu. Dan menurutku itu sudah sangat luar biasa cepat, karena Myra menuntut begitu banyak detail.


Setelah selesai, gaun itu jadi luar biasa indah dan yang terpenting hangat.


Hampir seluruhnya berwarna putih, tapi lace dan juga mutiara yang menghiasi tepinya berwarna biru lembut. Bordiran biru putih dan juga hiasan pita teranyam sempurna di gaun itu, membuat gaun itu seolah telah dilukis dengan cermat. Aku menyukainya tentu saja.


Walaupun seleraku aneh, tapi aku mengakui gaun itu cantik sekali, terlebih setelah melihat sepatu yang menjadi pasangannya mempunyai wedges heel dengan tinggi tak mencapai 5 senti. Model yang sangat sempurna untuk menunjang kesejahteraan kakiku.


Charlie menangis terharu saat melihat gaun itu, dan sekali lagi meneriakkan kekesalannya karena tidak bisa hadir.


Myra berhasil menenangkan Charlie, dengan berjanji akan melakukan video call selama upacara berlangsung.


Hal itu juga berhasil mengurangi beban rasa bersalahku, karena aku tahu bagaimana kecewanya Charlie.


Tok...tok!!! ketukan pelan membuat Julie menghentikan sapuan kuasnya.


"Masuk" ucapku.


Oscar muncul di pintu dengan dandanan super tampan, karena telah memakai setelan tuxedo dan juga mantel tebal dengan bulu di leher.


"Aku hanya membutuhkan sepuluh menit untuk berdandan, dan kau bahkan belum memakai gaunmu" ucapnya sambil menggeleng tak percaya.


Syukurlah wajahnya terlihat ceria. Aku khawatir dia akan muncul dengan wajah masam. Bagaimanapun Oscar masih sedikit keberatan dengan pilihanku untuk bersama Duke.


Julie menunduk menghormat ke arah Oscar, sebelum kemudian meneruskan riasannya.


"Kau tidak tahu seberapa inginnya aku menjadi lelaki saat ini, agar tidak perlu menjalani semua ***** bengek memusingkan" keluhku muram.


"Ehmm... sebenarnya Scion juga sedang menjalani banyak ritual saat ini. Saya rasa anda tidak perlu iri" sahut Julie sambil mengulum senyum.


"Benarkah?" Duke tidak bercerita akan menjalani ritual apapun padaku.


Mungkin dia menjalani tradisi werewolf yang tidak akan aku mengerti.


"Dia keluar dari Manor hampir bersamaan denganmu, dan aku tidak melihatnya lagi setelah itu. Manor saat ini nyaris kosong" jelas Oscar sambil duduk santai di sofa sudut.


Hmmm... Duke rupanya juga sedang sibuk.


Setelah acara ini, aku tahu Duke masih harus mempersiapkan pertemuan antar inhumane untuk membahas sesuatu.


Dan karena ini baru pertama kalinya terjadi, Duke berusaha keras agar semua sempurna. Itu saja sebenarnya sudah cukup membuatnya repot. Tapi ternyata persiapan pernikahan dan penobatan ini juga tidak kalah merepotkan.


"Tegang?" tanya Oscar sambil menatap bayanganku yang terpantul di cermin.


"Tentu saja, lebih dari pada apapun" jawabku, sambil menatap balik melalui cermin.


Oscar tersenyum, "Bisa kubayangkan, kau tidak pernah dekat dengan pria manapun sebelum ini. Tiba-tiba sekarang kau akan menikah. Aku sungguh tertarik untuk mendengar dari Duke bagaimana malam kalian nanti" katanya dengan jahil.


"Oscar!! Itu tidak lucu" seruku kesal, perkataannya dengan tepat menancap pada rasa gelisahku.


Julie sampai harus memegang kepalaku agar diam, karena aku menyentaknya terlalu kencang.


Oscar mengalihkan perhatian ke ponsel yang ada di tangannya, sadar godaannya hanya akan membuat Julie melambat.


"Siapa perempuan berambut panjang yang tadi malam ikut makan malam bersama kita?" tanyanya tiba-tiba.


"Oh... Roan?" Perempuan yang ada hanya ada Roan dan Tita. Dan Tita berambut pendek, sangat pendek. Dan lagi, Oscar sudah bertemu Tita di Mansion Delmora sebelumnya. Cuma Roan yang belum dikenalnya.


"Dia teman Duke. Ada apa?" tanyaku heran.


Tidak biasanya Oscar bertanya tentang seseorang. "Tidak ada, hanya saja sepertinya dia orang yang unik" jawabnya sambil lalu.


Basa-basi yang aneh, batinku.


Aku sebenarnya ingin menanyakan sesuatu kepada Oscar, tapi kebimbangan membuatku diam. Biasanya Oscar akan marah jika aku menanyakan tentang hal ini.


Aku harus bertanya, tekadku.


"Oscar?" panggilku pelan.


Oscar mendongak dengan alis terangkat.


"Apakah kau memberitahu Dad jika aku akan menikah?" Dan benar, wajah Oscar berubah masam.


"Tentu saja, tapi dia tidak bisa datang. Hanya aku yang memiliki ijin untuk masuk ke pack ini. Sudahlah, tidak usah membahas hal yang remeh" jawabnya.


Aku tidak pernah dekat dengan ayah, karena kesibukannya, bahkan setelah pensiun dari Delmor.


Pada awalnya, aku mengira akan lebih sering bertemu dengannya. Tapi ternyata, dia memutuskan untuk pergi ke Perancis mengurus wine cellar milik Delmor di sana.


Sedikit rasa kecewa menyusup di hatiku sekarang, aku berharap setidaknya Dad akan menelpon untuk mengucapkan selamat. Tapi mungkin dia sedang sibuk sekali.


Dad memang bukan orang yang bisa diam untuk waktu lama.


Tapi kata Oscar hal itu tak penting. Dan aku rasa dia benar. Aku tidak berhak mengeluh dengan adanya Oscar.


Bisa di katakan Oscar lebih dekat dengan sosok yang bisa aku panggil ayah dari pada Dad. Oscar telah menjadi saudara yang sangat luar biasa bagiku. Aku sangat beruntung memilikinya.


Aku ingin bertanya lebih lanjut tentang Dad, tapi Oscar menyela dengan pertanyaan seputar detail urutan upacara nanti, bersamaan dengan selesainya penjelasanku, Julie juga selesai meriasku.


"Maaf, saya rasa anda harus keluar" Julie mengusir Oscar dengan halus.


Oscar langsung bangun dari sofa dan menuju pintu. "Aku akan menunggu di depan" katanya.


Aku mengangguk, dan dengan tergesa Julie mulai memakaikan gaun indah itu.


 


 


----------- *0o0*----------


 


 


Ternyata, selain menyetujui pemberian insignia pada Bee di depan umum, aku juga menyetujui sederet ritual tidak penting yang mendahului acara penobatan nanti. Jadi sekarang aku sedang berada di tengah padang salju, akan menghadapi El dan Roan bertarung.


Ini salah satu ritual konyol, yang mana aku harus melawan El dan Roan, untuk menunjukan kekuatan Alpha sebelum penobatan. Hal yang sebenarnya tidak perlu. Semua penghuni pack tahu bagaimana kekuatanku.


Lawanku adalah El dan Roan karena mereka yang akan menjadi Beta dan Gama. Dan karena kami bertiga telah terhubung dengan mindlink, diputuskan kami bertarung dalam bentuk manusia


Aku tidak keberatan bertarung dengan El, tapi Roan---dia perempuan.


Jika dalam bentuk serigala, aku tidak pernah memikirkan hal itu, tapi bertarung dengan Roan dalam bentuk manusia membuatku sedikit frustasi, karena harus menekan ego yang tidak mengizinkan aku melukai perempuan.


Aku tidak pernah menganggapnya perempuan, tapi bukan berarti dia bukan perempuan. Ini menyebalkan!


Dan karena itu, aku melumpuhkan Roan begitu pertarungan mulai.


Dengan begitu aku tidak perlu memikirkan panjang lebar tentang tata krama kesopanan pada wanita.


Roan berjalan keluar lapangan sambil menatapku jengkel, tentu saja karena dia berharap akan bisa bertarung lebih dari sekedar tiga menit. Tapi aku mengalahkannya dengan mudah.


Kemampuan Roan bertarung sebagai manusia tentu jauh di bawahku, karena dia tidak pernah menerima pelatihan bertarung sebagai manusia. Aku unggul dengan telak.


Para Elder dan juga para Gentry di pack yang menjadi penonton, bertepuk tangan sopan melihat kemenanganku. Tanpa sorak-sorai seperti saat Brawl kemarin, karena pertarungan tadi sudah sangat jelas hasilnya.


Sedangkan untuk El, aku harus bekerja sedikit lebih keras. Selama 8 tahun di luar pack, sama sepertiku, El juga berlatih ilmu bela diri manusia. Dan kemampuan kami nyaris seimbang.


Aku tidak akan lupa, El pernah mengalahkanku saat berlatih tanding tanpa kekuatan werewolf. Karena itu, aku akan berkonsentrasi penuh dalam menghadapinya.


El membungkuk 45 derajat sebagai bentuk penghormatan padaku. Setelah mengangkat wajahnya dia tersenyum. "Saya senang memiliki kesempatan untuk bertarung dengan anda Scion"


Kalimat penuh sopan santun itu menjadi pertanda, dia ingin aku bertarung dengan sangat serius, karena El akan melakukan hal yang sama.


"Saya akan menikmatinya!" Aku melengkapi jawaban itu, dengan senyum yang tidak kalah sopan.


Begitu Elder Victor memberi tanda, aku menerjang kaki El. Dia menghindar dengan mulus, lalu melayangkan pukulan ke wajahku.


Aku menghindar hanya dalam jarak beberapa centimeter. Aku bahkan bisa mendengar desiran angin yang menyertai pukulannya.


Pukulan dan tendangan El datang bertubi-tubi setelahnya.


Aku juga melayangkan banyak balasan dan tangkisan. Tapi sepuluh menit berlalu, tidak satupun pukulan kami mengenai sasaran.


Kami berdiri berhadapan, kemudian tertawa geli. "Aku tidak menyangka kau bisa menghindari semuanya" kataku.


"Aku juga tidak menyangka jika ternyata tak satupun pukulanku mengenaimu" balasnya.


"Round 2?" ujarku, sambil mengacungkan telunjuk dan jari tengah.


"With pleasure Scion!" Jawabnya.


Aku akan mengeluarkan sedikit lebih banyak kekuatan werewolf-ku sekarang. Jelas El bukan lawan yang bisa aku kalahkan dengan cara biasa.


Kecepatanku meningkat tajam di ronde ini, dan aku bisa melihat wajah El mulai gugup, karena beberapa pukulanku masuk dengan telak. Aku bisa merasakan bagaimana El juga mulai menarik kekuatan werewolf-nya.


Dengan perlahan pertarungan ini mulai seru.


El berhasil menyapu pipiku dengan tinju saat aku lengah, tapi aku membalasnya dengan tendangan perut dan pukulan di dada.


Wajahnya mulai mengernyit kesakitan, tapi El masih mencoba berdiri tegak. Menunjukkan bukti  pertarungan belum berakhir.


Baiklah kalau begitu, aku akan memberikan apa yang dia mau.


Terjanganku masuk dengan sukses, dan El terpental sejauh 2 meter kebelakang.


Dengan semakin meningkatnya kecepatan, El tentu luput melihat seranganku yang terakhir tadi, karena itu sekarang dia terbaring sambil mengerjapkan mata tidak percaya.


Lompatannya untuk bangun mulai goyah karena kesakitan. Ini adalah kesempatanku sebelum dia sempat memulihkan diri.


Aku melontarkan tinju ke arah dadanya, yang berhasil di tangkis olehnya. Tapi dia membutuhkan kedua tangan untuk menahan kekuatanku dan itu adalah celah yang aku inginkan. Aku mengangkat kaki kananku dan menghantam sisi tubuhnya dengan telak.


Seruan kesakitan lolos dari mulut El, dan dia jatuh berlutut. Belum sempat dia bangun, aku meletakkan tinjuku tepat di lehernya, sebagai tanda pertarungan ini telah aku menangkan.


Sorak-sorai yang lebih bersemangat memenuhi udara. Tidak seperti saat pertarungan dengan Roan tadi, pertarunganku dengan El jelas lebih menarik. Elder dan juga gentry yang hadir sekarang menampakan wajah puas. Mereka terhibur tentu saja.


Di sudut mata, aku melihat gerombolan gentry muda yang bertepuk tangan sopan dengan senyum kecut. Mereka termasuk dalam golongan gentry yang meragukan kenapa aku memilih El sebagai Beta.


Mereka sebenarnya sama dengan warrior pengikut Quinton, tapi sedikit lebih pintar karena tidak terhasut oleh perkataan Amon. Mereka patut bersyukur masih memiliki gelar gentry-nya sampai sekarang.


Pertunjukkan pertarungan ini akan sedikit memberi gambaran bagaimana kekuatan El. Mereka sangat bodoh jika masih mengatakan El tidak pantas menjadi Beta.


Elder Victor memanggil kami untuk maju berkumpul di hadapannya, Roan menyusul tak lama kemudian.


Sederet perkataan pujian kosong melewati telinga kami bertiga tanpa hambatan. Kemudian Elder Victor mengambil darah Alpha dari peti yang dulu di telah diserahkannya padaku. Dia menuang sebagian kecil isi botol itu ke mangkuk tanah.


Tangannya dengan cekatan menggambar simbol kuno untuk kaum werewolf di telapak tangan kanan El dan Roan yang telah teracung, dengan menggunakan darah Alpha. Menandakan pengikatan mereka kepada pack dan seluruh Alpha yang sebelumnya.


Kemudian Elder Victor menyerahkan pisau kecil padaku.


Aku menggores telapak tanganku, lalu darah yang mengucur ditampung oleh Elder Victor pada mangkuk yang sama dengan darah ayah.


Setelah darah itu menyatu sempurna, Elder Victor menyerahkan mangkuk itu padaku.


Roan dan El menurunkan salah satu lututnya ke tanah di hadapanku.


Aku menggambar simbol Beta pada dahi El, dan simbol Gama pada dahi Roan. Menyatakan mereka adalah Beta dan Gama di bawah pemerintahan Alpha Duke Theobald.


Setelah beberapa saat lukisan darah itu menghilang dari dahi mereka, meresap ke dalam kulit dan akan mengalir bersama aliran darah mereka. Demikian juga simbol yang ada di tangan kanan mereka, simbol itu telah menghilang memasuki tubuh El dan Roan.


Begitu aku menerima darah Alpha malam nanti, El dan Roan juga akan merasakan sedikit perubahan. Kekuatan mereka akan bertambah seiring kekuatan Alpha yang masuk ke tubuhku.


Setelah itu kami bertiga berdiri di hadapan Elder Victor, menerima wejangan panjang lain yang enggan aku dengarkan. Apa yang ingin aku dapat dari omongan kosong penuh sopan santun tidak tulus?


Kemudian lebih banyak wejangan dari Elder yang lain, yang kurang lebih aku dengar sebagai peringatan, bahwa kekuasaanku memang mutlak, tapi jika aku melakukan sesuatu yang buruk sebagai Alpha, mereka akan bergerak untuk melindungi warga pack.


Manis sekali bukan?! Mereka mengancam akan menggulingkanku, jika aku berbuat bodoh. Itulah inti pembicaraan ini.


"Well done My boy!" Mom menghampiriku setelah semua selesai.


Dia mengusap rambutku dengan wajah puas dan bangga. "Aku yakin ayahmu akan sangat gembira jika dia melihatmu hari ini" kata Mom dengan suara serak.


Aku mengangguk dan memberinya pelukan kilat.


Aku ingin sekali berbincang dengannya, tapi El sudah melambai dan menyuruhku kembali ke Manor.


Aku memang sudah agak terlambat. Matahari sudah miring ke barat, upacara pernikahan akan segera di mulai. Dan aku tidak mungkin menghadirinya sambil bertelanjang dada seperti sekarang.


"Cepat pergilah!" Mom menepuk punggungku pelan. Mom sendiri sudah memakai gaun dan riasan untuk upacara, dia sebenarnya tak perlu menghadiri tradisi tak penting tadi. Tapi dia datang ke sini begitu selesai mempersiapkan diri.


Rasa gugup dan gembira mulai mengalahkan kejengkelan yang sedari tadi aku rasakan. Akhirnya hari ini tiba--------Aku akan menikah dengan Bee.


Dan tidak perlu mencubit diriku sendiri untuk tahu bahwa ini bukan mimpi, karena sentuhan lembut tangan Bee tadi malam seolah masih terasa membekas di kulitku. Tangan yang lembut dan hangat. Tangan yang beberapa jam lagi akan menjadi milikku.


 


 


----------- *0o0*----------


 


 


Duke!


Setelah berhasil menjalani separuh dari jalur yang harus aku tempuh untuk mencapai altar, akhirnya aku bisa melihatnya.


Aku sudah sangat bersyukur bisa berjalan sejauh itu tanpa terjatuh, mengingat lututku bergetar hebat semenjak aku turun dari mobil tadi, Jika bukan karena genggaman tangan Oscar, aku pasti sudah tidak bisa berjalan sejak tadi.


Duke berdiri di depan Elder Victor sambil tersenyum lebar begitu mata kami bertemu.


Dan tentu saja dia lebih dari sempurna. Aku mengeratkan genggaman pada tangan Oscar, karena kakiku tiba-tiba kehilangan kekuatannya lagi, dan mataku mulai berair karena terharu.


Duke tidak memakai tuxedo, tapi sejenis trench coat nyaman yang sangat pas di badannya, dengan kerah tegak dan panjangnya mencapai betis.


Warnanya hitam legam, tapi sulaman dan bordiran yang menghiasinya sebagian besar tepinya berwarna biru gelap dan putih, seirama dengan warna gaunku.


Rambutnya telah dipotong sedikit lebih pendek, dan sekarang tersisir rapi, menyamarkan sedikit warna putih yang biasanya ada di atas telinga. Wajahnya yang menawan, akan sanggup membuat wanita manapun menoleh saat melihatnya.


Mata hijau Duke yang berbinar terlihat sangat kontras dengan sekelilingnya, karena mata lain yang kini memandangku berwarna cokelat atau kuning. Mata itu nyaris tidak berkedip, menatap satu demi satu langkah kakiku yang mendekat ke arahnya.


Aku akan mengakuinya dengan sukarela, dia memang mempesona! batinku. Dan aku masih tidak akan percaya, jika ada yang mengatakan makhluk sempurna ini akan menjadi suamiku sebentar lagi...


Ini tidak nyata! batinku mulai gugup.


Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan makhluk dari negeri dongeng seperti Duke? Dia tampan, sangat manis dan juga baik. Apa aku pantas mendampinginya?


Pikiran tak masuk akal, mulai menderaku, seiring langkahku yang semakin dekat.


Oscar melepas pegangan tangannya, ketika sampai di depan panggung. Dia menatapku sejenak dan tersenyum. "Berbahagialah!" bisiknya sambil memberi kecupan kecil di pipiku.


Tangannya kemudian melepas genggamanku dan memindahkannya pada tangan Duke yang telah terulur.


Tentu saja ini bukan mimpi Lui, sentuhan lembut dan hangat tangan Duke membawaku kembali ke alam nyata dan keyakinan.


Ini bukan mimpi indah Lui---- ini nyata!


 


 


----------- *0o0*----------


 


 


Aku melangkah mantap menaiki tunggul pohon lebar yang akan menjadi tempat aku dan Bee mengucapkan janji kami.


Di sana Mom sudah bersiap dengan ponselnya. Aku tahu dia berjanji pada Charlie untuk melakukan video call selama upacara berlangsung maka aku tak berkomentar.


"Gugup?" El berbisik dari belakangku.


"Pertanyaan bodoh!" umpatku. El hanya tersenyum kecil mendengar jawabanku.


Tentu saja aku gugup. Obsesi terbesar dalam hidupku akan terwujud sebentar lagi. Aku boleh merasa gugup.


Warga pack berdiri teratur memagari jalan yang akan menjadi tempat Bee berjalan masuk. Anak-anak kecil yang berdiri memegang keranjang penuh bunga --Mada dengan gigi ompongnya juga ada di sana-- mulai bergerak-gerak tak sabar. Mereka menjulurkan kepala kecilnya menanti Bee.


Dengungan penuh semangat dan rasa penasaran merambat di bawah tenda besar. Dari percakapan yang aku dengar sekilas, sebagian besar warga pack--terutama wanita-- ingin segera melihat Bee dalam balutan gaun pengantinnya.


"Bawa pengantin wanitanya masuk!!" suara tajam Elder Camille, seolah membelah es di udara.


Seiring dengan perintah itu, gumaman dan dengungan menjadi sunyi senyap. Warrior yang berjaga juga berhenti berjalan dan duduk rapi pada kaki belakangnya.


Musik yang di dominasi suara ocarina dan biola mendesau memenuhi udara, segera mengubah suasana menjadi lebih tenang dan syahdu.


Lima detik kemudian seruan kagum mulai terdengar dari ujung barisan. Dan aku melihat penyebabnya beberapa detik kemudian, yaitu Bee yang sedang berjalan menuju tempat upacara.


Segala yang ada di sekeliling Bee terlihat tidak nyata di mataku, karena Bee telah mencuri seluruh cahaya dari sekitar dan membuat objek di sekelilingnya -- termasuk Roan-- menjadi kusam. Sosok tubuh Bee sangat mencolok karena keindahannya.


Gaun panjang perpaduan warna putih dan biru melambai pelan karena tiupan angin musim dingin. Ekor gaun sepanjang dua meter, mengikuti langkah Bee.


Rambut Bee yang tergelung rendah berhiaskan bunga-bunga kecil yang ditata dengan memikat.


Dan di kepalanya tersemat mahkota kecil berkilau. Kepala Bee memang diselimuti selubung transparan, tapi selubung itu tidak bisa menyembunyikan sedikitpun kecantikannya.


Dengan langkah pelan Bee berjalan di lautan guguran bunga yang telah di lemparkan oleh anak-anak dengan suka ria.


Bee menyapa Mada dengan lambaian tangan saat melihatnya. Mada membalasnya dengan sepenuh hati, sampai Lyla harus menenangkannya, agar dia tidak melompat memeluk Bee.


Dan kemudian aku tenggelam dalam kolam jernih berwarna biru di wajahnya.


Mata itu kini telah memandangku dengan penuh cinta, seperti dulu.


Mata yang membuatku sanggup menghadapi apapun yang dilontarkan oleh nasib kepadaku.


Mata yang akan menemani kemanapun aku melangkahkan kaki setelah ini.


Mata yang akan aku pastikan selalu ada di dekatku.


 


 


 


 


 


 


The End of 'Us'