
Sekali lagi Lui membalikkan badan yang terlindung di balik selimut. Sudah selama hampir empat jam dia berbaring, tetapi matanya tidak juga terpejam.
Hatinya terus merasa gelisah, dan dia kesal, karena harus mengakui, jika rasa resahnya bersumber dari pertemuannya dengan pria bermata coklat terang itu. Sosoknya yang mencolok, meninggalkan bekas mendalam dalam benak Lui.
Lui sangat jarang -- jika bisa dikatakan tidak pernah-- bertemu dengan seseorang yang bisa menyaingi Oscar dalam soal wajah\,
Wajah yang dilihatnya tadi siang itu terlihat tidak manusiawi. Dia terlalu tampan!
Seharian ini Lui harus menahan keinginannya untuk menangis setiap bayangan pria itu muncul lagi. Dia sampai tidak berani bertanya lebih lanjut pada Charlie, tentang siapa pria itu, walaupun sebenarnya dia sangat penasaran tentang jati dirinya.
Pria itu juga meninggalkan sederet pertanyaan yang tidak bisa dijawab olehnya.
Siapa dia? Lui belum pernah sekalipun bertemu dengannya jika memang dia adalah teman Oscar.
Tapi memang Oscar tidak banyak memiliki teman. Dan juga Oscar tidak pernah membawa siapapun yang dia sebut sebagai teman ke rumah ini.
Oscar sendiri yang mengatakan, dia lebih suka menjamu tamunya di London, dia sengaja membeli satu rumah khusus untuk itu.
Jadi siapa pria itu? Lui ingin bertanya pada Oscar, tapi tidak yakin bisa menampilkan wajah datar saat melakukannya.
Bagaimana jika aku malah menangis saat bertanya? It will be a disaster. Oscar akan mulai mencercaku dengan banyak pertanyaan setelahnya. Lui membatin dengan gusar.
Tidurlah Lui! Tidak akan ada gunanya kau memikirkannya. Kau mungkin tidak akan bertemu dengannya lagi! Suara hatinya membujuk halus.
Dengan terpaksa, Lui mencoba memejamkan mata. Tapi dalam hati dia tahu benar usahanya ini juga akan sia-sia.
Pria itu sangat menyebalkan!! kutuknya dalam hati.
----------- *0o0*----------
Bayangan wajah Lui yang penuh tanda tanya, saat melihatnya kemarin siang, terus menggores hatinya setiap kali kenangan itu muncul.
Ini sangat ironis, karena di sisi lain dia menginginkan agar rasa rindunya pada Lui akan terobati dengan pertemuan itu. Tapi di sisi lain, luka baru terbentuk karenanya.
Aku hanya ingin melihatnya lebih dekat, hanya itu, batinnya dengan getir.
Rasa rindu membuat angannya berkali-kali memunculkan sosok Lui, tapi secara bersamaan setiap Lui muncul, bayangan mata biru yang berkedip karena terkejut saat melihat sosok asing di hadapannya, menyayatkan luka dalam di hatinya.
Jalan yang ditempuhnya setelah ini tidak akan mudah. Rencananya sudah tersusun rapi. Tapi bayangan kegagalan membuatnya gelisah.
Aku tidak akan kalah Bee, aku akan mengalahkan rasa sakit ini untukmu.
Aku tidak akan pernah menyerah pada rasa sakit ini, jika itu bisa membuatku terus bersamamu. Duke membukatkan tekad dalam hati.
Kita akan kembali bersama Bee. Aku tidak peduli berapa lama waktu yang kau butuhkan agar bisa jatuh cinta padaku lagi.
Selama beberapa saat Duke melantunkannya dalam hati. Ketakutan jika rasa sakit itu akan menelan semua tekad itu terus menghantuinya.
"Please love me.. again!!"
Bisiknya dengan lirih. Bisikkan lemah itu mengandung harapan bahwa pengorbanannya saat ini tidak akan sia-sia.
Dengan pengorbanannya, Duke menginginkan hati Lui yang seutuhnya, seperti dulu lagi.
Beginning of US