
Uncle Rex sampai menumpahkan kopi yang ada di tangannya, saat mendengar pernyataan Abel.
"Kau bercanda!" ujarnya. Tapi Abel menggeleng sambil tersenyum.
"Aku akan mencoba menerima jika itu pack werewolf yang lain Abel, tapi vampire? Aku rasa kau sudah tidak waras bila percaya mereka akan membantu dalam hal ini. Mereka akan menari dengan gembira jika bisa dengan bebas membantai manusia seperti Crispin" ujarku, dengan keras.
Membayangkan aku harus bekerja sama dengan mereka membuatku jijik.
Selain vampire yang dulu aku bunuh, aku juga berkesempatan untuk bertemu vampire lain dalam keadaan yang sedikit lebih baik --tanpa perlu ada darah yang tercecer-- , tapi aku tidak akan bisa melupakan rasa mual di perutku, setiap kali mengingat aroma darah yang memenuhi ruangan tempat kami bertemu.
Ugh... Dan sekarang Abel ingin aku mengulanginya?
"Kau salah soal itu! Percaya atau tidak, ada beberapa dari mereka yang sangat tidak suka dengan hingar bingar yang ditimbulkan oleh Crispin. Tapi seperti kita, mereka tidak bisa lagi menghentikannya, karena kekuatan Crispin yang telah berkembang diluar bayangan mereka" bantahnya, mantap.
"Jangan katakan kalau kau juga berteman dengan vampire selain dengan werewolf" kata Faust, dengan nada menuduh.
"Kau pintar Faust, aku gembira sekali memilikimu sebagai cucu" pujinya, enteng.
Faust sama sekali tidak merasa gembira, dia mengeluarkan dengusan jijik mendengar pujian Abel.
"Dan bagaimana kau bisa selamat, tanpa mendapatkan gigitan di lehermu?" tanyaku, mengabaikan fakta bahwa wanita bermulut tajam itu adalah cucu Abel.
Sudah cukup untukku jika dia adalah manusia, aku tidak ingin mengenalnya lebih jauh.
Aku lebih tertarik dengan penjelasan Abel tentang vampire yang beradab.
"Mereka adalah clan vampire yang sangat modern. Mereka menciptakan sistem memangsa tanpa harus membunuh manusia"
"Sistem apa? Apa mereka meminum darah binatang? Atau mereka membuat darah sintetis?" Faust menyindirnya dengan jengkel.
"Mereka akan mati jika meminum darah binatang Faust, dan darah sintetis adalah fantasi paling indah yang bisa mereka bayangkan" jawabnya dengan sabar.
"Mereka tidak lagi meminum darah langsung dari leher. Tapi meminumnya dari para donor. Mereka membayar orang untuk memberikan darahnya pada mereka" Penjelasan itu membuatku terbelalak.
Vampire bukan makhluk tenang jika berhadapan dengan darah. Insting akan mengambil alih, membuat mereka menjadi gila. Karena itu tidak ada korban yang selamat dari buruan mereka.
Satu-satunya hal yang membuat manusia tidak punah walaupun menjadi santapan mereka, karena mereka tidak terlalu sering membutuhkan darah. Vampire hanya perlu meminum darah sekali atau dua kali selama setahun.
Tapi karena kecanduan dengan rasa membunuh yang menurut mereka menyenangkan, mereka akhirnya membantai manusia untuk berolahraga, bukan karena kebutuhan.
Karena itu Hunter masih memburu mereka dengan aktif sampai sekarang. Tapi ternyata tidak semua, Abel mempunyai banyak kejutan di balik lipatan bajunya.
"Pada awalnya memang sedikit sulit, mereka harus berlatih untuk menekan nafsu membunuh mereka. Tapi setelah berpuluh-puluh tahun, mereka menjadi terbiasa sekarang" Abel melanjutkan penjelasannya.
"Untuk vampire yang belum bisa menahan diri dengan sempurna, mereka meminum darah dari gelas seperti wine. Tapi beberapa dari mereka yang sudah ahli, akan meminum darah secukupnya dari para donor" tambahnya dengan bersemangat.
"Clan vampire ini tahu, bila hidup vampire sangat bergantung pada manusia. Mereka sadar, sebanyak apapun manusia yang mereka bantai, rasa haus dalam kepala mereka tidak akan pernah terpuaskan. Selain itu, mereka juga lelah dengan kehidupan yang terus menerus menjadi pelarian. Dengan sistem itu, mereka tidak perlu lagi lari dari hunter. Mereka bisa hidup damai dalam persembunyian selama beberapa abad"
Abel mengakhiri penjelasannya dengan nada puas.
Hunter melacak keberadaan vampire dengan banyaknya mayat dan pembunuhan misterius. Absennya mayat tentu menyembunyikan keberadaan vampire dengan sempurna.
"Apakah kau akan membuatku percaya, jika ada manusia yang dengan rela memberikan darahnya untuk mereka?" tanyaku lagi dengan ragu.
"Tentu saja, mereka membayar dengan harga yang lumayan. Dan lagi mereka memberikan fasilitas yang lengkap agar manusia-manusia donor itu selalu sehat" jawabnya sambil tersenyum, sementara aku membayangkan barisan manusia yang sedang antri untuk menjual darahnya seperti di pusat donor darah yang ada di rumah sakit.
"Mereka memperlakukan manusia seperti hewan ternak, Kakek!!" Faust bergidik mendengar penjelasan Abel.
"YMemang, tapi menurutku itu lebih baik dari pada pilihan yang lain" Abel menimpalinya dengan pelan.
Aku setuju dengan Faust, itu agak menyedihkan. Tapi dengan pilihan yang lain adalah kematian, aku rasa ide untuk peternakan terdengar lebih indah.
"Jadi apa setelah ini? Kita akan berkumpul dan menyerang Crispin?" tanya Uncle Rex. Da dengan cepat menerima keadaan, dan tidak ingin lagi membahas hal menjijikkan tadi.
"Tidak akan semudah itu Rex. Kita harus bertemu untuk menyatukan visi dan misi. Kau tidak akan maju berperang dengan seseorang yang belum pernah kau temui bukan?"
"Ya, aku harus percaya mereka tidak akan berbalik dan mematahkan leherku, saat aku berada di dekatnya" tukasku dengan tajam.
Aku masih tidak menyukai ide Abel.
"Tepat sekali, nah.. aku telah berhasil menemui beberapa Alpha dan mereka juga telah setuju untuk bertemu dan mengadakan diskusi dengan clan vampire sekalipun" ujar Abel, mengabaikan nada sarkastik dari ucapanku.
"Mereka pasti juga sudah gila" Aku tidak bisa membayangkan mereka setuju, untuk bertemu dengan pemimpin clan vampire.
Aku mempunyai alasan kuat yaitu balas dendam dan melindungi Bee, tapi aku tidak mengerti alasan mereka hingga bisa menyetujui hal ini.
"Bukan gila, tapi mereka putus asa, Duke. Pilihan mereka saat ini hanya 2 yaitu melawan dan mati di buru oleh Crispin atau bergabung menjadi pembawa kehancuran bagi kedua ras di bumi. Dan seperti kita yang ada di sini, ide Crispin untuk menguasai dunia terdengar seperti kiamat. Tentu saja mereka akan memilih untuk bertemu dengan vampire jika itu mengurangi resiko kehancuran tatanan dunia" jelasnya.
"Dan dimana tepatnya kita akan mengadakan pertemuan ini dan kapan?" tanya Faust, raut mukanya tidak lagi menunjukkan wajah memberontak, hanya pasrah dan lelah.
"Blackmoon Pack, milik Duke" jawab Abel, sambil menunjukku dengan tangannya.
"Kau menyuruhku memasukkan Hunter, werewolf dari pack lain dan juga vampire ke dalam pack?!!" Aku tidak bisa lagi menahan diri, dan berteriak.
Apakah dia sudah mulai pikun karena usia tua?
"Kau gila Abel, aku nyaris berlutut untuk meyakinkan para Elder agar Lui bisa tinggal di pack. Dan sekarang----ini?" Uncle Rex kehilangan kata-kata, karena hal itu memang sangat mustahil.
"Akan mudah dilakukan jika Duke telah menjadi Alpha. Mereka tidak akan bisa menolak!" Tangkis Abel dengan tangkas.
"Aku belum menjadi Alpha" geramku, marah.
"Maka jadilah Alpha, kau sudah memiliki Zhena" balas Abel dengan heran. "Apa lagi yang menghalangimu? Kita harus bergerak cepat Duke, aku tidak mau Crispin semakin kuat"
"Itu tidak semudah yang kau kira!" bentakku hilang kesabaran.
Jika bisa, aku ingin membuat Bee menjadi Zhena sekarang juga. Tapi....
"Aku harap kau sudah melakukan upacara penobatan Alpha sebelum minggu depan, aku menjadwalkan pertemuan itu minggu depan. Mereka semua sudah setuju untuk mengadakan pertemuan di Blackmoon" katanya seolah hal itu akan mudah dilakukan.
"Dan kenapa Blackmoon? Masih banyak tempat lain yang bisa kita gunakan" Uncle Rex mencoba mengusulkan jalan lain.
"Karena Blackmoon saat ini adalah pack yang paling makmur. Tentu saja mereka semua sangat ingin melihat keadaannya" Abel tersenyum saat mengucapkannya.
Apakah dia baru saja melontarkan lelucon di saat seperti ini?
"Ini tidak lucu Abel!!" Uncle Rex sekarang juga ikut marah.
"Apakah kau tidak salah paham? Mungkin mereka tidak ingin bekerja sama, mereka hanya ingin menyelidiki keadaan Blackmoon" ujar Duke, mulai curiga dengan niat Alpha yang lain.
"Tidak, jangan salah sangka. Mereka sudah bersedia bertemu sebelum aku menyebut Blackmoon. Aku yang memilih tempatnya. Blackmoon adalah pack yang memiliki sihir perlindungan terkuat diantara semua pack yang ada saat ini" Abel kali ini menjawab dengan serius.
"Dan tentu saja aku menginginkan tempat yang paling aman untuk mengundang Alpha dan pemimpin para Vampire. Jika sedikit saja rencana pertemuan tercium oleh Crispin, dia pasti akan membuat rencana untuk menggagalkannya. Karena itu aku ingin perlindungan maksimal dari penyihir mereka" lanjutnya.
Alasan Abel sangat masuk akal, tapi bukan berarti------
'DRTTT'
Ponsel di sakuku bergetar karena ada panggilan yang masuk. Aku mengambilnya dengan kesal. Siapa yang menghubungiku disaat seperti ini?!
Nama Tita terpampang di layar, ada apa?
"Yes?"
"Scion, kami di serang!!" suara panik Tita membuat tubuhku dingin..
Bee...?
"Siapa..." aku tidak bisa menyelesaikan pertanyaam itu, karena aku hanya mendengar suara berisik sesuatu terbanting di telingaku.
"F*ck!!!!!" makiku dengan sekuat tenaga.
"Ada apa?" tanya Uncle Rex
"Ada serangan di pack" jawabku singkat sambil membuka baju, dan menyisakan celana panjang untuk kesopanan.
Akan lebih cepat kembali ke pack dalam wujud serigala. Siapapun yang menyerang pack pasti sudah tidak ingin melihat matahari. Mereka menyerang pada waktu yang sangat tepat, yaitu ketika aku absen dari pack.
Kata pengkhianat muncul ke permukaan otakku, bagaikan mercusuar.
"El!!' Aku memanggil El yang sedari tadi menunggu di luar ruangan.
El berlari dengan wajah heran, karena melihatku telah bertelanjang dada.
"Kita kembali dengan berlari, ada serangan di pack!" jelasku.
Tanpa ragu, El segera berbalik keluar dan membuka bajunya. Aku berjalan menuju hutan, Uncle Rex muncul bertelanjang dada di belakangku.
"Kau ikut pulang Uncle?" tanyaku.
"Roan ada di sana, tentu saja aku pulang" jawabnya, tanpa memandangku.
Dia mengkhawatirkan keadaan Roan, yang menurutku tidak perlu. Roan akan mengunyah siapa saja yang mendekatinya hingga menjadi serpihan.
Kami bertiga masuk ke dalam hutan dan bertransformasi, dan langsung berlari dengan kecepatan penuh. Aku tidak akan berhenti untuk apapun.
Dengan kecepatan penuh, setidaknya butuh waktu kurang dari 20 menit untuk sampai di pack.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Aku melolong dengan sekuat tenaga begitu aku tiba di depan Manor.
Dan karenanya beberapa werewolf keparat berhamburan keluar dari Manor. Mereka ketakutan melihatku datang.
Dasar werewolf sampah!!
El dan juga Uncle Rex yang melihat hal itu segera melesat mengejar mereka ke arah hutan.
Aku menyambar werewolf bernasib sial yang berada paling dekat denganku, dan menerkamnya tanpa ragu.
Taringku menembus punggung lunak penuh bulu itu dengan mudah, cakarku menginjak kepalanya agar dia diam, tidak bergerak. Dengkingan lemahnya membuatku berhenti, aku tidak ingin membunuhnya sekarang, tidak sebelum aku menanyainya.
Dari benak El , aku melihat dia berhasil menerkam dan melumpuhkan satu diantara Werewolf yang mencoba kabur tadi, dan dengan cepat dia mulai mengejar yang lain
Sepanjang perjalanan ke sini, aku melihat kilasan benak Roan dan Mom. Mereka bertarung sengit dengan werewolf yang sayangnya aku kenal.
Mereka werewolf dari Blackmoon, dugaan kasarku sangat tepat sasaran. Fakta itu selain membuatku marah juga membuatku gembira, karena para pengkhianat telah keluar dari persembunyian.
Dua werewolf berlari mendekatiku, mereka warrior penjaga Manor.
"Katakan padaku!!" ujarku masih dalam Alpha mode. Aku harus mendengar pikiran mereka.
Tidak lama arus ingatan yang berasal dari dua werewolf ini mengalir ke benakku. Tapi sayang ingatan mereka hanya berkisar saat mereka mendapat panggilan dari Mom untuk bertarung.
Setelah itu, hanya ingatan saat mereka terluka, dan hilang kesadaran. Mereka terbangun saat mendengar lolonganku.
"Menyedihkan!" kata El di benakku. Karena kami terhubung dengan mindlink, dia juga melihat hal yang baru saja aku lihat.
"Roan pingsan!!" seru El, tiba-tiba.
Aku tidak bisa melihat benak Roan lagi, dan juga Mom. F*ck!! Apa yang terjadi dengan mereka?
"Uncle Rex, cari Roan. Aku akan melihat keadaan Mom!!" Aku membuka kanal mindlink dengan Uncle Rex.
"Aku sedang melakukannya. Untuk Zhena, kau tidak perlu khawatir. Aku melihat beberapa omega membawanya ke rumah sakit. Terluka tapi tidak berbahaya. Kau carilah Lui! Nyawamu tergantung pada keadaannya"
Dia benar, aku tidak bisa berkonsentrasi penuh sedari tadi karena mengkhawatirkan keadaan Bee.
Setidaknya aku tahu Mom sudah aman di rumah sakit.
"Pergilah ke rumah sakit dan rawat luka kalian!" Aku memandang dua werewolf, yang sedari tadi menunduk di hadapanku, menyesali kekalahannya.
"Kami baik-baik saja, Scion" jawab salah satu dari mereka dengan keras kepala.
"Kalian pergilah ke sana, atau aku akan membuat kolam darah di kaki kalian menjadi lebih besar!" hardikku.
Tetesan darah dari kaki depan mereka mulai membentuk genangan di tanah, mereka harus segera di rawat. Luka karena cakaran dan gigitan werewolf yang di derita mereka cukup dalam.
Tanpa pilihan lain, mereka beranjak pelan menuju arah rumah sakit.
Dengan jantung berdebar aku berjalan masuk ke manor.
Tidak satupun werewolf terlihat di sana. Tapi ceceran darah menghiasi beberapa bagiannya. Aroma yang bercampur baur, membuat pencarianku semakin tidak mudah.
Omega yang biasa ada di Manor pasti sudah mengungsi, karena sudah jelas dari keadaannya, telah terjadi sesuatu yang luar biasa di Manor. Hampir semua perabotan hancur, sofa dan beberapa hiasan dari kaca remuk tanpa bentuk.
Aku menutup mata untuk berkonsentrasi dan mencari aroma Bee. Setelah beberapa saat aku menemukan aroma samar hutan kopi dan cokelat berasal dari ruang makan.
Ruang makan itu juga sudah berubah menjadi medan perang. Meja makan besar itu, terbelah menjadi dua, serpihan kaca yang berasal dari jendela yang pecah, bertebaran di beberapa tempat.
Aroma Bee tersebar sampai di pintu samping Manor. Aku sedikit lega, itu Berarti Bee sempat keluar dari ruangan ini. Dan jika dia keluar dari pintu itu, aku tahu dimana dia berada.
"El? Apa yang kau temukan?" tanyaku, setelah aku menemukan jejak Bee, serentetan pemandangan yang dilihat El mulai terlihat jelas lagi di benakku.
"Pengkhianat!! dan banyak" jawabnya dengan geram. "Kau bisa mengatasinya?"
El tidak menjawab, tapi benaknya memperlihatkan pemandangan beberapa werewolf mendengking dan terluka di depannya, aku tidak perlu meragukan kemampuan bertarung El.
"Roan terluka tapi dia akan baik-baik saja! Dia hanya tak sadarkan diri karena kehilangan terlalu banyak darah. Uncle Rex membawanya ke rumah sakit barusan!" Lapor El.
"Seret yang masih hidup ke penjara, dan buang yang telah mati. Aku ingin laporan lengkap tentang siapa yang menginisiasi hal ini! Aku akan berada di rumah sakit setelah ini"
Aku akan menemui Mom, setelah memastikan keadaan Bee.
"Baik, Scion!" jawab El, resmi.
Well, siapapun yang menjadi pengkhianat yang tertangkap, tidak akan hidup lebih lama lagi. Aku sendiri yang akan merobek lehernya.
Aku beranjak menuju tempat penyimpan baju cadangan yang berada di dekat meja makan, kemudian melepas transformasi. Tempat Bee berada tidak akan bisa dimasuki oleh werewolf dalam bentuk serigala.
Aku memakai celana panjang secepat kilat, lalu berlari keluar menuju tempat persembunyian Bee.
Tempat itu adalah ruang bawah tanah yang sengaja dibuat untuk menyembunyikan anggota keluarga Alpha yang masih kecil jika ada penyerangan.
Dari luar, ruangan itu sama sekali tidak terlihat, karena pintunya menyaru sempurna dengan tebing rendah di belakang Manor. Tapi dengan sentuhan pada tempat yang tepat, aku membuka panel yang memperlihatkan sederetan angka, menungguku untuk mengetikkan kombinasi.
Hanya beberapa orang yang mengetahui kombinasi ruangan ini. Dan dari aroma yang tercium kuat di depan pintu yang mengantar Bee ke sini adalah Tita. Aku senang keputusanku untuk membawa Tita dan Id pulang, berbuah manis.
Aku bisa melihat bekas pertarungan di dekat pintu, tapi pintu itu sendiri masih utuh. Pintu itu terbuat dari baja dengan ketebalan lebih dari sepuluh senti, aku ragu ada werewolf yang bisa membukanya dengan paksa.
Aku menggeser pintu berat itu.
Selain aroma apak khas ruangan bawah tanah, aku juga mencium aroma Bee yang jernih, tanpa ada aroma darah atau apapun. Rasa lega luar biasa melingkupiku. Dia selamat tanpa luka.
Aku menuruni tangga dengan pelan, tapi aku masih tidak melihatnya. Pandanganku menelusuri setiap jengkal ruangan kecil itu dengan heran. Aku bisa mencium aromanya di sini dengan kuat.
Dia ada di sini!
"Bee?!" panggilku dengan pelan.
Aku tidak bisa menahan senyum sekarang. Bersembunyi di bawah ranjang tidak akan menghalangi werewolf untuk menemukanmu Bee, batinku dengan geli.
Tapi aku menghargai niatnya. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Sudah jelas Bee akan kembali ketakutan jika melihatku. Apa aku harus memanggil seseorang kesini?.
"Duke? Kaukah itu?" Suara mencicit pelan membuatku tercengang.
Did she just call me? batinku, masih tidak percaya.
"Duke?" panggilan kedua membuatku yakin, Bee memang memanggilku.
Dengan pelan aku melangkah dan berlutut di sebelah ranjang. Aku mengintip ke bawah dan melihat gundukan yang aku yakin berisi Bee. Dia membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut.
Aku berdiri dan menggeser ranjang itu dengan sekali helaan nafas, agar Bee lebih mudah keluar dari kolong. Bee sedikit tersentak merasakan gerakan di sekitarnya.
"Bee? Apakah kau baik-baik saja?" tanyaku sepelan mungkin seraya berlutut dengan salah satu kakiku di sampingnya. Aku harus berhati-hati agar tidak membuatnya ketakutan.
Mendengar suaraku, Bee bangun dengan tiba-tiba dan berusaha membuka belitan selimut di tubuhnya. Aku bersyukur telah menyingkirkan ranjang itu, jika belum, kepalanya akan membentur ranjang dengan telak.
Aku mengulurkan tangan, untuk meraih selimut dan membantunya keluar dari belitan. Tapi ternyata tidak perlu.
Ketika tanganku mendekat, selimut itu meluncur jatuh di paha Bee dan menampakkan wajah pucat dengan rambut yang berantakan. Dan percayalah, Bee tetap terlihat cantik dengan keadaan seperti itu.
Tanganku terhenti dengan canggung di sebelah pipi Bee. Mata birunya menatapku tanpa berkedip.
Selama beberapa detik kami hanya saling memandang.
Perasaan lega kembali meluap melingkupi hatiku.
Tanpa aku sadari, tanganku bergerak mengelus pipinya yang halus. Aku benar-benar bahagia dia selamat tanpa kurang satu apapun.
Tapi kemudian, sebutir air mata menuruni pipi Bee.
"Don't cry" bisikku otomatis, sambil menghapus air mata itu.
Dia pasti sangat takut, berada sendirian menunggu di sini.
Tiba-tiba saja Bee menubrukku dengan keras, dia memelukku dengan erat dan mulai menangis. Bahunya berguncang seirama dengan isakkannya. Aku tercabik antara perasaan gembira dan marah sekarang.
Gembira karena Bee memelukku dengan sukarela, dan marah kepada siapapun yang telah membuatnya ketakutan.
"Mereka...datang..ddan melukai......"
"Stt...." Aku menghentikan penjelasan terbata, yang disuarakan Bee diantara tangisnya.
"Tenanglah, mereka tidak ada lagi disini. Tenanglah!! bisikku pelan, untuk menenangkannya.
Aku mengusap punggungnya, berharap itu akan menghiburnya.
Aku merindukan ini Bee!! batinku, sambil mempererat pelukanku.
Terhanyut dalam rasa nyaman dan suara detak jantung Bee yang berada begitu dekat denganku. Benakku terisi oleh musim semi yang datang lebih cepat.
Hangat, sekaligus sejuk dan menentramkan. Sudah begitu lama aku tidak merasa seperti ini. Aku sangat berharap waktu berhenti, aku tidak ingin pelukan ini berakhir.
Tapi sesaat kemudian, tubuh Bee melemas di pelukanku dan suara isakkannya tidak lagi terdengar.
Bee pingsan!!
Tanpa membuang waktu. Aku membopong tubuhnya dan membawanya berlari menuju rumah sakit.
Dr. Sidra yang membawa persediaan obat Bee. Dalam keadaan seperti ini, tidak sepantasnya aku memanggilnya ke sini. Aku yakin dia sedang sibuk menangani pasien yang terluka.
Membawa Bee ke rumah sakit mungkin adalah perbuatan beresiko, karena itu berarti keberadaannya akan di ketahui seluruh penghuni pack bukan hanya para gentry dan Elder.
Tapi persetan dengan orang-orang. Aku sudah bosan menyembunyikan ini semua.
Jika setelah ini, mereka tidak lagi ingin aku menjadi Alpha, aku akan pergi dari sini. Aku bisa memburu Egon dan Crispin sendiri nanti.
----------- *0o0*----------
Suka cita menerjang perasaanku tanpa peringatan, menenggelamkan emosiku yang lain.
Rasa ketakutan yang tadi mencengkeram, selama aku berada di bawah ranjang menguap dengan cepat setelah aku melihat wajah Duke. Mata yang memandangku menawarkan sejuta kehangatan yang seolah menunggu untuk aku raih.
Sentuhan hangat jemarinya di pipi, membuatku terlena dan membuka kanal perasaanku yang lain.
Perasaan yang membuat seluruh tubuhku mendadak meleleh, dan perutku dipenuhi dengan gelitik halus. Hatiku tak sanggup lagi menampung semua itu.
Perasaan yang meluap-luap itu, tidak mampu lagi aku tahan, air mataku segera saja berlomba mencari jalan keluar.
"Don't cry" bisiknya dengan lembut, sambil menghapus air mataku yang telah jatuh.
Rasa takut, lega, bahagia dan entah rasa apa lagi yang tidak sanggup aku kenali, seolah berlomba mencari kesempatan untuk mengalir keluar.
Aku tidak peduli lagi!! Aku hanya ingin dia tahu, aku sangat lega dan berterima kasih atas semua hal yang dilakukannya untukku, maka aku memeluknya dengan segala daya yang tersisa di tubuhku.
"Mereka...datang..ddan melukai......" Aku mencoba menjelaskan tentang semua hal yang terjadi tadi, tapi lidah dan otakku tidak bisa tersambung dengan sempurna.
"Sssssttt....,tenanglah, mereka tidak ada lagi disini. Tenanglah" suara Duke yang berbisik tepat di telingaku seolah menemukan jalan langsung ke arah jantungku. Suaranya membuat detak jantungku bergerak teratur.
Dengan perlahan, tangan Duke memelukku dengan semakin erat. Aku merasa bodoh sekali karena telah menuduhnya sebagai monster padahal dia selalu memperlakukanku dengan lembut.
Dan saat itu, perasaan yang sedari tadi bercampur aduk tanpa bisa aku kenali, seakan melebur dan membentuk satu perasaan yang begitu menyenangkan dan nyaman. Aku bisa menerjemahkan perasaan ini dengan mudah.
Aku bahagia....
Aku bahagia berada di pelukan laki-laki ini. Laki-laki yang tidak pernah berjalan menjauh, setelah semua hal buruk yang aku lakukan padanya.
Yang aku inginkan sekarang hanyalah tenggelam dalam lautan rasa nyaman yang hangat ini....
----------- *0o0*----------
"Give me a bed, dan panggil Dr. Sidra" Aku memanggil asal, segerombolan perawat yang hanya bisa terpana saat melihatku datang sambil membopong Bee.
Ck.. bukankah seharusnya mereka sedang sibuk karena banyak werewolf yang terluka?
Salah satu dari mereka segera berlari sambil mengangguk. Dia menuntunku ke salah satu ruangan dan menunjuk ke ranjang yang masih kosong.
Suasana UGD yang sedari tadi berisik dan sibuk, seakan padam ketika aku masuk. Mereka menancapkan pandangan padaku dan Bee secara bergantian dengan penasaran.
Ini menyebalkan!!
"Adakah ruangan kosong yang lain?" tanyaku pada Dr. Sidra yang bergegas menghampiri, ketika aku masuk.
Tanpa banyak bicara, dr, Sidra menunjuk ruangan di sebelah. Dua orang perawat mendorong ranjang yang telah berisi Bee ke ruangan yang tadi ditunjuknya.
Ruangan itu hanya berisi 3 tempat tidur, dan satu tempat tidur berisi Roan yang sedang di temani oleh Uncle Rex di sebelahnya.
"Bagaimana keadaannya paman?" tanyaku, sambil berjalan menghampirinya.
"Fine, dia hanya tertidur sekarang, dia sudah bisa mengumpat dengan sangat baik saat tersadar tadi" Uncle Rex tersenyum kecil.
Sangat khas Roan. Aku mengelus tangan yang masih terbalut perban dengan bangga. "Good job, Roan" kataku dengan puas.
"Kau akan ada di sini bukan?" tanya Uncle Rex sambil bangkit dari duduknya.
Aku mengangguk, sambil menoleh ke arah Bee.
"Aku mempunyai banyak pertanyaan untuk para pengkhianat itu" ucap Uncle Rex dengan geram. "Aku akan memberi laporan padamu jika semua telah jelas" tambahnya.
Uncle Rex kemudian berlalu tanpa menunggu jawabanku.
"Saya rasa Ms. Delmora hanya tertidur, Scion" kata Dr. Sidra sambil berbalik dan tersenyum.
"Apa??" seruku kaget, sambil berjalan mendekati ranjang Bee kembali dan menyentuh keningnya.
Suhunya normal dan nafasnya sangat teratur. Dia memang tertidur, aku tidak memeriksanya tadi. Aku hanya berasumsi Bee pingsan ketika tubuhnya melemas.
"Mungkin dia hanya merasa lega dan akhirnya seluruh rasa lelah dan penat menyerang, sehingga membuatnya tertidur. Itu hal yang biasa ketika seseorang berhasil lolos dari sesuatu yang menakutkan" Jelas dr. Sidra.
Aku mengangguk mengerti dan lega. Ini tentu saja lebih baik dari pada pingsan.
"Saya harus kembali ke UGD, Scion" Dia berpamitan.
"Tunggu! Dimana Ibuku?" kunjunganku di UGD tadi memang hanya sebentar, tapi aku yakin dia tidak ada di sana.
"Zhena Myra berada di kamar rawat, bersama dengan Elder Victor, saya akan menyuruh perawat untuk mengantar anda kesana" jawabnya sambil keluar ruangan dengan bergegas.
Jawaban dr. Sidra membuatku terpana. Apa aku tidak salah dengar tadi? Dia dengan siapa?
Ini pasti guyonan! Aku keluar ruangan itu dan bertemu dengan Dey yang hendak keluar dari UGD, kakinya sedikit pincang, tapi selain itu dia terlihat baik.
"Good timing" ujarku.
Aku memotong sapaannya dengan lambaian tangan. "Bisakah kau berjaga di ruangan ini sebentar? Aku harus melihat keadaan Ibuku" pintaku. Mungkin aku terlalu sopan, karena Dey sedikit kaget mendengar permintaanku
"Tttentu saja Scion" jawabnya sambil tergagap. "Jangan meninggalkan kamar ini sebelum aku datang".
Dia mengangguk dan kemudian masuk ke dalam ruangan
Perawat yang ditugaskan dr. Sidra membawaku ke lantai dua rumah sakit, dia berhenti di depan salah satu kamar rawat inap, lalu meninggalkanku setelah menunduk memberi hormat.
Aku mengetuk pelan "Masuk!" Suara Mom menyahut dari dalam.
"Oh..Duke!" katanya dengan gembira, sambil merentangkan tangan ketika melihatku.
Tanpa ragu aku menyambutnya. Aku lega dia tidak terluka parah. Salah satu kakinya masih terbalut perban, tapi aku bisa mencium bau obat dari badannya. Kemungkinan dia juga terluka di beberapa bagian tubuh.
"Aku baik-baik saja, hanya beberapa goresan di punggung dan dada" jelasnya, saat melihat pandangan menyelidik dariku.
Aku akan membunuh siapapun yang melakukan semua ini padanya. Berani sekali mereka melukainya!
Gerakan pelan di sudut ruangan menarik perhatianku. Elder Victor terbaring dengan luka yang lebih parah dari Mom, sebagian besar wajahnya tertutup perban.
"Dia menyelamatkanku" bisik Mom, tidak ingin dia mendengarnya.
"Kau bercanda Mom! Dia membencimu!" ujarku, tanpa berusaha menurunkan volume suaraku.
"You're right boy, Aku membencinya". Suara berat dan kasar menyahut dari tempat Elder Victor terbaring. Dia siuman ternyata.
Aku menyesal tidak menyebutkan hal yang lebih buruk tentangnya tadi.
"Berita yang sangat mengejutkan!" sindirku keras.
Elder Victor terkekeh dengan keras. Tawa kering dan hambar. Mom memegang tanganku erat, mencegahku untuk berbicara lebih banyak lagi.
"Dia yang paling pertama datang di Manor, dia menyelamatkanku dari Amon" kata Mom, berusaha agar aku tidak lagi mengucapkan kata-kata kasar padanya.
"Amon? Amon yang melakukan semua ini? Amon yang bekerja sama dengan Egon?" seruku dengan marah.
Aku menyimpulkan hal ini karena sedari tadi aku hanya melihat werewolf pengkhianat dengan tingkat rendah. Aku tidak yakin mereka berani menyerang, tanpa hasutan dari seseorang dengan golongan yang lebih tinggi. Dan begitu nama Amon disebut, semua menjadi jelas.
Aku harap Roan belum membunuhnya, aku ingin merasakan darahnya di tanganku.
"Aku mencurigainya sejak awal, ketika aku sama sekali tidak melihatnya saat vampire itu datang ke sini membunuh ayahmu. Alasan yang diberikannya padaku setelahnya, sangat tidak masuk akal. Mulai saat itu, aku mengawasinya dengan ketat. Dan pagi tadi dia menghilang begitu kau pergi dari pack. Aku tahu dia akan melakukan sesuatu" Elder Victor bercerita sambil menatap ke langit-langit.
"Dan kau berbaik hati menceritakan kepada kami setelah semua ini terjadi? Tidakkah menurutmu sekarang terlambat?" tukasku dengan jengkel.
Aku tidak percaya dia menyimpan semua informasi itu, tanpa memberi tahuku. Aku dan Uncle Rex memeras otak untuk mencari siapa yang berkhianat diantara anggota pack. Dan dia mengetahui jawabannya selama ini.
Aku urung mengumpatnya, karena tangan Mom berkali-kali meremas jariku pelan untuk memperingatkan.
"Karena aku ingin tahu siapa saja anggota pack yang setia padanya, Bocah!" hardiknya sambil bangkit dari tidurnya dan duduk di ranjang.
"Jika saat itu aku langsung mengatakannya, sudah pasti mereka akan menghilang kembali dalam bayangan. Aku senang mereka memutuskan untuk mengerahkan kekuatan maksimal mereka hari ini, sekarang kita bisa dengan mudah membasmi hama yang ada di pack ini bukan?" tambahnya lagi, dengan nada sombong.
Dia tentu merasa sedang berada di atas angin karena rencananya berhasil.
Sekali lagi Mom meremas jariku dengan kencang. Dia sangat mengenalku untuk tahu kapan aku akan mengumpat.
"Aku mengira kau yang berkhianat!". Aku rasa akan wajar jika aku mengira dia adalah dalang dari semua ini.
Pikiran itu jelas pernah terlintas, apalagi melihat kedekatannya dengan Amon dan juga kata-katanya beberapa hari yang lalu. Amon bisa menjadi Alpha jika aku tidak ada, dia mempunyai darah Alpha dengan silsilah rumit, sama seperti Roan.
"Jalan pikiranmu sangat naif, Bocah! Kau tidak seharusnya mempercayai begitu saja apa yang kau lihat di permukaan" celanya, sambil melihatku dengan sebelah matanya yang masih sehat.
"Well... hal yang ada di permukaan sangat sulit diabaikan, karena kuatnya kebencian yang menguar dari tubuhmu" balasku pedas.
Aku bisa melakukan perdebatan ini seharian.
"Kau dan mulutmu yang tajam!!" dia bergumam dengan kesal sekarang.
"Aku memang membenci Ibumu dan juga kau, tapi aku juga ikut membangun pack ini dengan darah dan keringatku. Aku tidak akan pernah mengkhianatinya. Camkan itu, Bocah!!" pungkasnya dengan bentakan.
Tidak ingin lagi mendengar jawabanku, dia berbaring menghadap ke tembok, memunggungi aku dan Mom.
"Apakah kau ingin pindah ke kamar lain Mom?" tanyaku dengan keras.
Mom hanya menggeleng sambil memandangku tidak percaya. Dia mendelik galak tidak setuju dengan ucapanku yang pasti dinilainya sangat tidak sopan.
Tapi aku tidak peduli. Dia menyakiti perasaan Mom selama 25 tahun!! Butuh sekedar luka di wajah untuk membuatku melupakan perbuatannya.
"Aku harus menjenguk Bee dan menyelesaikan beberapa hal yang lain, Mom" Aku mengatakannya dengan suara pelan sekarang.
"Oh, bagaimana keadaannya? Apa dia terluka?" tanyanya dengan khawatir.
Aku menggeleng "Dia hanya ketakutan dan sekarang tertidur, aku menjemputnya di persembunyian tadi. Dia baik-baik saja" jelasku.
"Ya sudah, pergilah" katanya menenangkan aku.
Aku memeluknya sekilas, tapi tiba-tiba Mom menepuk punggungku.
"Use some clothes, apakah kau berkeliaran dengan penampilan seperti itu?" Katanya sambil menunjuk tubuhku yang sedari tadi bertelanjang dada.
Ups.......Aku lupa!!!
Pantas saja orang-orang memandangku dengan aneh sedari tadi.