
Manusia yang ada di meja itu, semua bereaksi dengan berbeda.
Jovi pada awalnya memekik terkejut, tapi kemudian tersenyum lebar dan bertepuk tangan kecil. El dan Farjad seolah tertular, mulai bertepuk tangan kecil bersamanya.
Charlie melebarkan mata sambil memandang takjub ke arah Bee, tapi mulutnya tidak bisa berkata-kata.
Bee juga terlihat sedikit gelisah, tapi akhirnya membalas senyuman dan lambaian dari Jovi. Dia mempererat genggaman tangannya, seakan meminta bantuan dariku.
"Ya.. kami akan menikah minggu depan, Tapi maaf, karena sesuatu hal. Kami tidak bisa mengundang kalian di sana" tambahku, untuk mengalihkan perhatian.
"Whaaaat???"
Jovi melengkingkan nada tertinggi begitu kalimatku selesai.
Aku tersenyum penuh sesal "Maaf Jovi, aku berjanji setelah keadaan keluargaku lebih tenang, kami akan mengadakan pesta lain yang lebih besar. Saat itu kami akan mengundang kalian semua"
Aku memandang Jovi dengan wajah memohon pengertian.
Aku tahu bagaimana berartinya pernikahan seorang sahabat. Dia pasti sangat kecewa karena mengetahui pernikahan itu akan berlangsung tanpa dirinya.
Mendengar penjelasanku amarah Jovi sedikit reda, atau mungkin juga karena Bee memberi isyarat, bahwa dia akan menjelaskannya nanti.
"You're joking right?!"
Kali ini aktor itu tak lagi memandang Bee, dia melihatku dan juga Oscar, yang kini dengan santai meminum kopinya sampai tandas.
"Tidak, aku bukan tipe orang yang suka dengan gurauan saat makan malam" sahutku, melihat Oscar tidak mempunyai keinginan untuk menjawab.
"Kau baru bertemu dengan Lui sebulan yang lalu, ini tidak mungkin!!" Suaranya semakin keras sekarang.
"Zeno---"
Aku memotong ucapan Bee, yang sedang berusaha memberikan penjelasan pada aktor itu dengan mempererat genggaman tanganku. Bee tidak perlu memberikan penjelasan apapun, jika dengan terpaksa aktor itu meminta penjelasan, aku yang akan berbicara
"Apa maksudmu dengan tidak mungkin?" tanyaku, dengan suara yang aku usahakan senormal mungkin.
"Kau pasti memaksanya, atau mungkin juga kau!"
Tangannya sekarang menunjuk Oscar yang mulai menghabiskan kopi di cangkirnya yang telah di isi ulang.
"Apa kau gila? Lui gadis dewasa yang bisa mengambil keputusan sendiri, untuk apa aku memaksanya? Dan jika benar Duke memaksanya, kau pikir aku akan membiarkannya bebas berkeliaran?"
Nada suara Oscar normal, tapi rasa dingin menguar dari perkataannya yang mengandung ancaman samar.
"Tentu saja tidak ada yang memaksaku. Aku secara sadar mengambil keputusan ini!" Bee menyahut dengan suara sedikit bergetar, hasil dari mengumpulkan segala keberaniannya.
Aku mengelus bahunya sebagai pujian atas usahanya itu.
Wajah aktor itu semakin memucat mendengar perkataan Bee.
"Kau sudah mendengarnya dengan jelas! Jadi pelankan suaramu, kau membuat telingaku berdenging" desisku.
"Baiklah. Aku harap ini akan menjadi pintu pembuka bagi Monath dan Delmor untuk bisa bekerja sama dengan lebih baik di masa depan"
Sekali lagi Oscar mengangangkat cangkirnya, aku rasa dia sengaja melakukannya untuk memotong perdebatanku.
"Oscar!!" Bee merajuk cemberut memandang Oscar. Dia pasti kesal karena Oscar membawa bisnis dalam urusan pernikahan kami.
"Apakah kau menerimaku karena ada agenda khusus dengan Monath?" tanyaku, sambil tersenyum masam.
"Hei.. sebagian besar isi otakku adalah bisnis, tentu saja aku akan memaksimalkan potensi yang datang dengan sendirinya. Aku tidak akan menyia-nyiakannya" jawab Oscar dengan enteng.
Aku tidak bisa menebak apakah dia serius atau hanya bercanda.
"Apa maksudmu?" Aktor itu bertanya lagi pada Oscar dengan penasaran.
"Oh.. Duke adalah pemilik Monath" Jawab Oscar.
Wajah aktor itu terlihat seperti seseorang telah meninju perutnya, aku bahkan merasa sedikit kasihan. Tapi aku tidak berencana memupuk perasaan itu.
"Baiklah, aku akan mengakhiri ini. Senang mengenal kalian semua. Nikmatilah sisa malam ini" pungkas Oscar, sambil bangkit dari duduknya membawa cangkirnya yang belum kosong. Aktor itu mengikuti langkah Oscar dengan seketika.
Sedangkan Jovi, tanpa membuang waktu sedetikpun, melompat bangun dan seolah terbang menghampiri Bee.
"Kau berhutang banyak penjelasan padaku !" Dia menarik tangan Bee yang sedari tadi masih berada dalam genggamanku.
"Oh ayolah!!" Jovi mengerang, ketika melihat tangan kami muncul dari balik meja masih dalam keadaan berpegangan erat.
Aku tersenyum geli melihat wajah jengah Jovi, sedangkan Bee dengan salah tingkah melepas genggamannya.
"I'll be right back" bisiknya pelan, sambil mengikuti langkah Jovi yang terburu-buru meninggalkan ruang makan.
Aku hanya memberi senyum mengerti.
"Fiuuh...!" Mom bernafas lega sambil melirik Charlie. "Dan kau pasti punya banyak pertanyaan untukku"
Charlie mengangguk dengan bersemangat.
Aku bangkit dan menghampiri El. "Berjagalah di sekitar rumah ini, periksa semua aroma yang tercium mencurigakan"
Aku berbisik, tapi aku rasa semua werewolf mendengarnya. Kecuali Mom, mereka bangkit hampir bersamaan.
"Baiklah!" El memberi isyarat agar semua werewolf mengikutinya.
Aku menyambar cangkir dan berjalan mengikuti aroma Oscar dan aktor itu, meninggalkan Mom dan Charlie yang sekarang mulai membicarakan tentang wedding dress.
Aku sampai di susunan tangga berputar di sudut lorong. Suara Oscar terdengar dari atas. Maka aku naik dan mendapati bahwa aku berada di kolam renang luas, yang mengeluarkan uap hangat.
Kolam itu berada di lantai paling atas rumah ini, dengan tembok kaca di sekeliling. Balkon yang ada di luar tembok sekarang di penuhi salju. Kontras dengan suhu ruangan ini yang sangat hangat seperti musim semi.
Tidak perlu bertanya siapa yang sering menggunakan kolam ini. Bee sangat menyukai air. Aku yakin Oscar khusus membangun kolam ini untuknya setelah Bee berhenti balet.
Di sudut kolam itu, berderet kursi pantai berwarna-warni yang dua diantaranya berisi Oscar yang sedang berbaring santai, sedangkan aktor itu duduk menghadapnya dengan punggung tegak.
Mereka menoleh saat mendengar langkah kakiku, wajah aktor itu langsung berubah menggelap, sedangkan Oscar terlihat tidak peduli. Aku mengikuti Oscar berbaring dengan santai di kursi sebelahnya.
Mereka masih tak bersuara,
"Jika kau ada pertanyaan maka katakanlah sekarang, aku ragu kita akan bertemu lagi setelah malam ini!" Aku menaruh cangkir milikku dan memejamkan mata.
"Aku punya banyak pertanyaan untuk Lui, bukan kau" Aktor itu menjawab dengan nada geram.
"Oh, berarti kau akan membawa pertanyaan itu sampai mati. Aku tidak akan pernah mengizinkanmu berdua bersama Bee"
"Bee? Siapa Bee?"
"Kau mengenalnya sebagai Eluira tentu saja" jawabku sinis.
"Panggilan macam apa itu? Menjijikan sekali" Hidungnya mengkerut mendengar jawabanku.
"Panggilan yang sangat disukai Lui. Dan aku berencana akan terus memanggilnya seperti itu"
"Zen! Sudahlah, kau tidak memiliki kesempatan lagi. Lui memilih berdasarkan akal sehatnya. Dan percayalah aku tidak memaksanya hanya untuk mengembangkan Delmor. Jadi hentikan amarahmu, dan cobalah untuk mencoba menerima keputusan Lui dengan lapang dada"
Oscar akhirnya menyahut dengan wajah jengkel.
Sepertinya aktor itu kembali menuduh Oscar merencanakan pernikahan ini karena bisnis. Pemikiran dengan tingkat keakuratan yang menyedihkan.
"Tapi--tapi dia baru bertemu dengan Lui sebulan yang lalu, bagaimana bisa?"
Sekarang dia mengacak-acak rambutnya dengan kesal, kemudian menghempaskan diri dengan jengkel ke kursi.
"Bukankah kau sudah menyerah dan hanya ingin berteman saja dengan Lui? Kenapa kau mempermasalahkan semua ini sekarang?" tanya Oscar.
"Aku hanya mengatakannya agar Lui tidak menghindar, aku tak ingin hubungan kami menjadi jauh"
Aktor itu, rupanya tak kenal kata mundur.
"Sayang sekali Bee sangat serius menanggapinya, dan dia sudah menganggapmu sebagai teman. Karena itu dia menerimaku"
Jika bisa, aku sangat yakin aktor itu ingin sekali membunuhku. Tapi tentu saja itu mustahil. Dia hanya bisa menatapku dengan mata galak
"Aku berusaha selama berbulan-bulan untuk mendekati Lui, kenapa kau--- Ck!!" Dia kembali bangun mencoba untuk mencerna kejadian saat makan malam tadi.
"Aku tak peduli berapa lama kau berusaha mendekati Bee, yang pasti sekarang dia adalah milikku" ujarku dengan tegas.
"Jadi setelah kau mengetahui fakta ini, aku akan sangat berterima kasih jika kau tidak lagi mengganggunya. Definisi mengganggu yang aku maksud, termasuk diantaranya adalah memeluk Bee ketika kalian bertemu"
Aku menjelaskan dengan sedetail mungkin agar dia mengerti, tidak akan ada kesempatan baginya untuk mendekati Bee selama aku masih hidup.
"Ck.. posesif sekali, apakah kau takut perasaan Lui akan meragu begitu aku memeluknya?" Nada suaranya mengejek.
"Nope, aku hanya tak suka, saat sesuatu yang sudah menjadi milikku disentuh oleh orang lain!" balasku datar, membuat guratan kesal di wajahnya semakin dalam.
"Apakah kalian akan melakukan perdebatan ini semalaman? Aku bosan mendengarnya!"
Oscar sekali lagi menyahut dengan kesal. Wajah tuan rumah yang ramah dan hangat yang tadi di sandangnya selama makan malam, sama sekali tak bersisa.
"Tidak!! Aku akan pergi. Terima kasih atas makan malamnya" Aktor mengangguk ke arah Oscar kemudian berjalan meninggalkan kolam.
"Bye....!" Aku melambai sesopan mungkin, sambil melihatnya menuruni tangga.
"Haruskah kau bersikap sekejam itu padanya? Dan aku mohon, hapus mimik wajah puas yang sangat menyebalkan itu dari wajahmu!" sergah Oscar, jengkel.
"Aku tidak---!" Aku mencoba membantah, tapi mungkin saja aku melakukannya tanpa sadar.
"Tidak?! Aku tadi hampir menendang kakimu saat makan malam karena tidak tahan melihatnya"
Aku mengangkat bahu tanpa merasa bersalah, tapi aku segera memperbaiki raut wajahku. Bukan ide yang bagus untuk membuat Oscar jengkel saat ini.
Kami akhirnya hanya berbaring menikmati udara hangat yang terus menguar dari kolam.
"Kenapa kau memanaskan air kolam renang malam-malam begini?" tanyaku penasaran, setelah sekian lama melihat uap yang tak henti-hentinya naik dari permukaan kolam.
"Lui biasanya berenang sebelum tidur. Karena itu Charlie menghangatkannya karena tahu Lui akan pulang"
"Aku akan membawa Bee ke Lykos malam ini!". Aku tidak akan membiarkan Bee berada di sini dengan penjagaan manusia.
"Hell no! Apa maksudmu? Di sini adalah rumahnya, kenapa dia harus menginap di sana?"
"Aku tidak akan melepaskan Bee hanya dengan pengawasan manusia, Oscar! Kau lupa siapa yang mengincarnya. Kau pikir kenapa aku membawa begitu banyak orang ke sini?!" jelasku.
Aku tidak percaya dia masih bertanya.
"Ck... Lui tidak akan kemana-mana. Tinggalkan beberapa orangmu di sini, setelah itu kau pulanglah ke Barnet!" Putusnya setelah berpikir sejenak.
"Apa yang membuatmu berpikir aku akan meninggalkan Bee di sini? Dari semua werewolf yang ada di sini, akulah yang paling kuat, dan paling berpengalaman menghadapi vampire. Jadi sudah jelas, aku akan berada dimanapun Bee tinggal"
Oscar terlihat seperti ingin melemparku dengan cangkir di tangannya, saat mendengar jawabanku. Tapi dia tahu, semua yang aku katakan adalah benar.
Akhirnya dia menyerah dan menghempaskan badannya ke kursi, sambil meraih ponselnya dari kantong dan mulai mengetik.
"Aku akan menyiapkan kamar untuk kalian!" ujarnya, pasrah.
"Thanks! Tapi sebagian besar werewolf saat ini sedang berpatroli di sekeliling Mansion, mereka belum akan membutuhkan kamar selama beberapa jam kedepan"
"Hhhh.. ya--ya" gerutunya jengkel.
"Tapi tolong jangan berubah wujud di sekitar mansion. Aku memasang cctv dengan jumlah puluhan. Aku tak ingin ada makhluk aneh yang terekam" kata Oscar memperingatkan.
Hmm.. aku harus segera memberitahu El. Aku harap mereka belum ada yang bertransformasi. Dengan segera aku mengetikkan pesan kepada El.
"Aku sudah membayangkan situasi ini beribu kali dalam benakku, tapi masih saja terasa menyebalkan!!" Keluh Oscar sambil meluruskan posisi duduknya.
"Maksudmu?"
"Lui akan menikah denganmu. Sejak pertama aku bertemu denganmu, saat pertama Lui memperkenalkanmu padaku dengan mata bersinar bahagia. Aku tahu ini akan terjadi" jelasnya sambil menghembuskan nafas panjang, seolah telah melepaskan beban yang mengganjal di hati.
"Sungguh?!"
Aku tidak percaya, karena Oscar sangat jauh dari kata ramah saat pertama kali bertemu denganku. Namun dia mengangguk sambil tersenyum miring tanda bersungguh-sungguh.
"Dan juga beberapa bulan yang lalu saat tahu bahwa kau masih hidup. Aku sudah mengira kau pasti akan melakukan perbuatan gila untuk bersama Lui lagi"
Oscar kini memandang kosong ke arah langit-langit.
"Kau tahu dan masih berusaha sekeras itu untuk mencegahku mendekati Bee?" dengusku sebal. Seharusnya dia membantuku.
"Tentu saja! Aku sangat marah padamu. Kau pikir bagaimana keadaan Lui setelah mendengar berita kematianmu dari televisi?"
Nafas Oscar mulai terengah dikuasai emosi.
"Dia hancur Duke! Dan aku tidak mampu melakukan apapun untuk memperbaikinya. Kau membuatku nyaris kehilangan satu-satunya keluarga yang paling berharga. Menurutku balasan yang kau terima belum setimpal. Aku masih ingin menyiksamu lebih lama lagi sebenarnya, tapi Lui--- dia terlalu mudah dibujuk"
"Dibujuk? Aku tidak pernah membujuknya dengan apapun" sahutku kesal.
"Dan apa maksudmu dengan balasan? Kau tahu pada akhirnya Bee akan memilihku, tapi kau sengaja mempersulitnya hanya untuk membuatku menderita?"
Terbayang bagaimana aku setengah mati memutar otak hanya untuk meminta izinnya .
"Tentu saja!" jawabnya dengan ringan, tanpa merasa bersalah.
"Kau pikir aku akan menyambutmu dengan tangan terbuka dan senyum lebar saat kau kembali ke sini?" Oscar membelalakkan mata dengan galak.
"Walaupun aku tidak bisa melihatnya, aku membayangkan dengan hati puas bagaimana tersiksanya dirimu memandang Lui dari kejauhan tanpa bisa berbuat apapun"
"Ck... tapi kau membuyarkan segala kesenanganku, saat kau malah dengan gampang bisa datang ke tower Delmor bersama Rex"
"Hhhhh... Monath! Aku seharusnya memeriksa latar belakangmu dengan lebih jauh. Belum lagi dengan adanya werewolf br*ngs*k yang menipu Lui. Mereka mengacaukan rencanaku"
Oscar menjelaskan panjang lebar, tanpa peduli bagaimana perasaanku saat mendengarnya.
"Padahal aku sudah menghapus semua jejakmu dengan sempurna. Aku mengganti ponselnya, membuang semua hadiah darimu yang ada di sini. Memberikan larangan pada temanmu untuk menghubunginya. Tapi semua sia-sia"
"Teman?" sahutku. Siapa yang ingin menghubungi Bee?
Oscar mengangguk.
"Managermu, Justin. Sebelum Lui kehilangan ingatan, dia sempat menghubungi beberapa kali. Tapi Lui tidak dalam keadaan yang bisa menerima telepon. Setelah Lui kehilangan ingatan, aku memberi peringatan padanya agar tidak menghubungi lagi. Dia sangat setia padamu, karena dia marah sekali saat mendengar laranganku. Tapi dengan sedikit ancaman, dia menurut"
Aku tidak peduli kata orang yang mengatakan Oscar tampan dan sebagainya, karena di mataku sekarang dia adalah psikopat. Dia menikmati setiap detik rasa sakitku dengan senyum.
Jika bisa, dengan senang hati, aku akan melempar kursi sekaligus diri Oscar ke bawah saat ini juga.
Justin adalah satu-satunya manusia yang mengetahui hubunganku dengan Bee.
Dia sedang bernasib malang, sehingga harus berurusan dengan Oscar. Aku harap dia baik-baik saja. Justin orang yang baik, walaupun sedikit cerewet. Aku harus memeriksa keadaanya begitu sempat.
TAK!!!!!.............
Pegangan cangkir yang ada di tanganku patah karena tanganku mencengkeramnya terlalu kuat.
"Owhh.. itu luar biasa!!" seru Oscar dengan nada mengejek, lengkap dengan tepuk tangan.
Dia tahu pasti, aku tidak akan bisa menyentuh sehelaipun rambutnya, karena hal itu akan membuat Bee kecewa. Karena itu, dia dengan santai mengejek segala penderitaanku. Dan tentu saja aku harus menelannya bulat-bulat.
"Aku akan memberitahumu tentang sesuatu yang akan segera membuat mood-mu membaik. Ini juga yang menjadi penyebab aku membiarkan Lui mengambil keputusan sendiri"
"Aku kira kau membiarkannya karena itu adalah keinginan Bee"
Omong kosong apalagi yang akan diceritakannya?
Seolah aku harus berterima kasih padanya\, karena akhirnya bisa menikah dengan Bee. Pada titik ini aku sudah tidak bisa lagi memilih mana yang lebih menyebalkan\, Oscar atau aktor t*l*l tadi.
"Kau tahu apa alasan sehingga Zeno bisa mendekati Lui dengan cukup mudah? Yah-- walaupun akhirnya semua usaha Zeno hanya berakhir kegagalan. Fakta Lui menerima setiap ajakan kencan dari Zeno adalah kejutan untukku"
"Bukankah itu normal? Bee tidak mempunyai ingatan apapun tentang diriku, wajar jika dia menerima ajakan kencan dari pria---yang mendekatinya"
Aku nyaris menyebutnya pria br*ngs*k\, tapi aku menahan diri mengingat dia adalah teman Oscar.
Oscar tersenyum kecil mendengar tebakanku.
"Tidak, itu tidak normal. Lui tidak pernah menerima ajakan kencan dari siapapun yang mendekatinya sebelum bertemu kau. Kau tahu ini bukan?"
Aku mengangguk.
"Tapi dia menerima ajakan Zeno. Aku baru mengetahuinya penyebabnya beberapa minggu yang lalu, yaitu mata hijau miliknya. Lui tanpa sadar mencari bayanganmu pada Zeno" Katanya sambil menyesap kopinya sampai licin tandas.
"Kau bercanda!" ujarku, otomatis. Bee tidak lagi mengingat hal apapun tentangku. Bagaimana bisa?
Tapi memang aktor itu bermata hijau, walaupun sedikit lebih pucat dibandingkan warna mataku sekarang.
"Tidak! Karena itulah hubungan mereka tidak bisa terjadi. Lui hanya mengejar bayanganmu. Kemudian dia menemukan Zeno, tapi tentu saja itu salah. Akhirnya Lui menyerah, dia memutuskan bahwa Zeno bukan pria yang dia inginkan" Oscar menggelengkan kepala dengan jengkel.
"Aku ingin sekali meledakkan kepalamu saat tahu mengenai hal ini. Tapi tentu saja tidak mungkin, karena itu berarti, seumur hidup Lui akan terus mencari tanpa bisa menemukan apa yang sebenarnya dia cari"
Aku dilanda perasaan aneh, campuran antara gembira, sedih dan rasa bersalah luar biasa. Aku menutup wajahku dengan tangan untuk mencerna semua itu dengan lebih baik. Dan sekali lagi perkataan El terngiang di telingaku.
Bagaimana Bee akan selalu menyimpan rasa cinta untukku walaupun tak ada lagi memori tentangku. Inikah bukti bahwa kami adalah benar-benar pasangan mate? Tapi itu juga berarti Bee berada dalam badai emosi yang membingungkan selama ini.
"Kau tahu semuanya sekarang, untuk itu aku akan memohon untuk terakhir kalinya padamu" Nada suara Oscar berubah serius.
"Bahagiakan Lui, dia berhak mendapatkan seluruh cinta yang ada di dirimu" tambahnya dengan penuh perasaan.
Ugh.. aku tidak siap dengan perubahan suasana yang tiba-tiba seperti ini.
Hubunganku dengan Oscar tak pernah stabil, selalu berkutat antara benci dan juga kagum, karena aku tahu bagaimana besarnya rasa sayangnya untuk Bee.
Dan sekarang, dia bertindak seperti seorang kakak sejati, karena dia memohon padaku, bukan mengancam.
"Ya.. tentu saja. Aku juga berencana seperti itu" jawabku pendek, tidak perlu mengingatkanku tentang hal seperti itu.
"Ah..! Sedikit trivia untukmu. Pastikan Lui tidak bertemu dengan Lockhart di masa depan. Aku tak yakin dia bisa menahan diri untuk tidak menyerang Lui" kata Oscar, telah kembali dengan nada pongahnya.
"Apa hubungan wanita ular itu dengan hal ini?" tanyaku heran.
"Tidak banyak, tapi Lui menyelamatkan Zeno dari cengkramannya beberapa bulan yang lalu. Bukan dengan sengaja, tapi aku yakin Lockhart sudah sangat ingin menyerang Lui, karena itu kedua kalinya dia membuatnya kehilangan mangsa" jelasnya.
"Bee bertemu dengan wanita ular itu lagi? Dan apa maksudmu dengan menyelamatkan?" suaraku meninggi dengan otomatis.
"Aku mengundang ayahnya, dan dia ikut hadir pada pesta penggalangan dana Lui. Dia sangat terkejut saat tahu Lui adalah keluarga Delmora. Untuk amannya, aku telah memberinya peringatan saat itu agar dia tidak menyentuh Lui" jelas Oscar.
Aku tidak heran dengan sikap Oscar, Florence memang tak akan bisa menyentuh Lui, tapi bukan berarti dia tidak akan mencoba, wanita itu sangat nekat.
"Saat itu aku sedikit takjub, betapa rapinya ingatan Lui terhapus. Tanpa beban sedikitpun, Lui bertanya pada Jovi soal Lockhart. Sedangkan Lockhart langsung mengenalinya dalam sekali pandang, kau harusnya melihat bagaimana wajahnya saat Lui sekali lagi mengalahkannya dalam lelang itu" Oscar tertawa berderai dengan nada kejam.
Aku tidak tahu harus berkomentar apa, karena itu aku hanya tersenyum masam. Tapi aku lega, ingatan tentang Florence sama sekali tidak pantas untuk disimpan.
"Kau belum menjelaskan soal lelang itu!" kataku dengan tegas. Aku ingin tahu bagaimana Bee bisa terlibat dengan aktor itu.
Oscar terlihat ingin menjawab, tapi aku memegang tangannya untuk mencegah. Aku mendengar langkah kaki menaiki tangga.
Aku mencium aroma vanilla dari arah tangga. Mom muncul dari sana.
"Lui bersama dengan pria itu" katanya, melapor tanpa basa-basi.
Aku bangkit dan berjalan turun tanpa menoleh lagi.
----------- *0o0*----------
"Maksudmu selama ini kau tinggal di rumah Duke, dan akhirnya kalian saling jatuh cinta? Itu terdengar terlalu sederhana" Kata Jovi meragukan ceritaku. Kami berdua mengobrol sambil berbaring berdampingan di atas ranjang kamarku.
Aku menyadari bahwa ceritaku sangat singkat, karena aku harus memotong cerita yang menjelaskan bagian werewolf. Agak sedikit sulit, tapi cukup lumayan, walaupun belum bisa meyakinkan Jovi sepenuhnya.
"Ya, tapi begitulah. Aku berada di sana sebulan ini, dan sekarang aku baik-baik saja."
"Dan tadi Oscar bilang Duke adalah pemilik Monath? That was crazy! Monath memiliki jaringan bisnis yang hampir sama besarnya dengan Delmor, atau mungkin lebih, aku tak tahu dengan persis!"
Jovi tak bisa menyembunyikan nada antusiasnya.
"Benarkah?" Aku tidak membaca dengan detail mengenai Monath, aku hanya tahu bahwa mereka adalah korporasi besar yang berpusat di Quebec.
Mungkin Oscar tidak bercanda ketika mengatakan ingin terjadi kerjasama yang lebih antara Monath dan Delmor.
"Untuk kali ini kau tak memiliki keraguan lagi bukan?" Jovi memandangku dengan khawatir.
Dia tentu tidak lupa bagaimana terpuruknya aku setelah makan malam yang berujung kekacauan dengan Zeno.
Aku mengangguk pasti.
"Karena sesuatu hal, aku sempat takut dan menjauhi Duke awalnya, tapi itu tak menghentikanku untuk terpesona. Aku sangat heran saat menyadari hal itu, bagaimana bisa aku terpesona pada sesuatu yang aku takuti. Tapi kemudian aku belajar bahwa ketakutanku sangat konyol dan yaaaahh-- tak ada yang bisa aku lakukan selain menerima semua perasaan itu"
"Kau takut pada Duke? Kenapa?" Jovi mulai bertanya menyelidik.
Aku seharusnya tidak menceritakan hal itu, sesalku.
"Ada beberapa hal yang terjadi, sehingga aku menjadi salah paham, tapi sudahlah. Itu tak penting sekarang" Aku mencoba menghindar.
"Tentu saja tidak penting. Kalian bahkan sudah merencanakan pernikahan. Tapi apa ini tidak terlalu cepat?"
Syukurlah Jovi tidak memaksaku menjelaskan.
"Aku juga berpikir seperti itu saat Duke melamar. Aku meragukan telinga dan juga kewarasan Duke saat itu. Tapi Duke berkata dia tak akan mundur, apapun jawabanku. Aku akhirnya berkata iya"
Aku masih gagal mengatur raut wajahku, yang kini pasti memerah.
"Oh.. so sweet!!" Jovi memelukku dengan erat sekali lagi.
"Aku gembira melihatmu seperti ini. Tidak lagi penuh keraguan dan kebingungan" tambahnya, dengan mata berbinar memandangku.
"Ya, aku juga sedikit heran Jov. Semenjak sebagian ingatanku hilang, aku selalu merasa sedikit gelisah tanpa tahu apa penyebabnya. Tapi semua itu tak ada lagi. Tidak ada lagi pikiran membingungkan yang membuatku galau. Semua selalu terasa benar"
Aku mengungkap seluruh perasaanku padanya.
"Benarkah? Bagaimana dengan rasa bersalah aneh yang melandamu ketika kau bersama Zeno?" Jovi terlihat semakin penasaran.
"Aku bahkan sempat lupa jika aku pernah mengalami benak yang penuh kekacauan seperti itu."
Jovi mengangguk-angguk mengerti.
"Oh... sekarang aku merasa bodoh sekali karena telah memberi tahu Zeno soal kepulanganmu. Aku seharusnya tidak melakukan hal itu" Jovi menutup wajah dengan kedua tangannya.
Segera saja rasa bersalah menggelayut di hatiku. Tapi aku tahu dengan pasti apa penyebabnya, yaitu karena aku telah menyakiti Zeno. Aku menolaknya mentah-mentah beberapa waktu yang lalu, dan sekarang tiba-tiba aku membawa berita pernikahan.
Oh... aku kejam sekali.
"Haruskah aku meminta maaf padanya? Dia terlihat sangat kecewa tadi." tanyaku dengan ragu.
"Tidak Lui, kau sudah dengan jelas menolaknya sebelum ini. Kau bebas untuk jatuh cinta dan menikah dengan siapapun. Sedikit kejam, tapi kau tidak bersalah untuk hal ini. Kau hanya bersalah ketika kau memberi terlalu banyak harapan padanya. Tapi kau sudah memutus harapan itu, seharusnya Zeno mengerti"
Aku mengangguk mengerti, walaupun masih tidak bisa merasa lega.
Tok..tok..tok !!
"Lui, apakah kau di dalam? Aku ingin berbicara sebentar"
Itu Zeno, dia ada di depan pintu kamarku!
Aku segera memandang Jovi dengan panik luar biasa, apa yang harus aku lakukan sekarang?
"Buka pintu, dan hadapi dengan berani Lui. Paling tidak dia sedikit berhak untuk mendengar penjelasanmu" kata Jovi dalam bisikan.
"Sebentar!" Jovi menyahuti panggilan Zeno dengan suara keras.
"Jovi!!" Aku mendesis panik.
"Ayolah.." Jovi mendorongku bangun. Dengan gugup aku merapikan gaun, berjalan ke pintu dan membukanya.
"Hai" sapaku canggung. Zeno tersenyum kecil melihatku.
"Kau tak keberatan aku meminjamnya sebentar?" Kata Zeno, sambil memandang Jovi di balik punggungku.
"Tentu saja, tapi kembalikan dalam keadaan utuh ya!" sahut Jovi jahil.
"Jov!!" Aku menegurnya pelan, tapi berterimakasih untuk gurauannya, karena membuatku sedikit rileks.
Aku memberi isyarat pada Zeno untuk mengikutiku.
"Kalian akan kemana?" Suara Myra menghentikan kami di lorong. "Oh.. kami hanya akan berbicara sebentar" sahutku dengan otomatis.
Myra hanya mengangguk mendengar jawabanku, tapi matanya memandang tajam ke arah Zeno yang segera membuatnya menunduk. Mata tajam Myra bisa membuat siapapun salah tingkah.
"Apa kau tahu di mana Duke?" tanyanya setelah selesai mengamati Zeno.
"Eh..." Aku sedikit terkejut dengan pertanyaan Myra, bukankah dia dengan mudah bisa mencium aroma Duke, tanpa perlu bertanya?.
"Dia dan Oscar di atas. Ada tangga di ujung lorong. Mereka ada di tepi kolam renang" jelas Zeno dengan baik hati.
"Oh..baiklah, terima kasih" Myra menjawab dengan hangat sambil segera berlalu menuju tangga ulir.
Apa maksud semua itu? Aku hanya bisa menggeleng tak mengerti.
Aku membawa Zeno ke sudut rumah, yang berisi Grand piano dan juga sofa nyaman. Tidak ada yang bermain piano di rumah ini, tapi dulu Mom membelinya dengan harapan Oscar atau aku akan belajar memainkannya. Tapi kami berdua tidak berbakat musik. Akhirnya piano itu hanya teronggok di sana selama bertahun-tahun.
Kami berdua duduk berhadapan di sofa dan kemudian tenggelam dalam kebisuan yang canggung. Aku sama sekali tak punya ide untuk memulai percakapan dengan topik apa.
"Lui, maaf jika ini semua terdengar lancang dan aku tahu, aku sama sekali tak berhak untuk bertanya, tapi tentu saja aku penasaran"
Akhirnya Zeno memecah kesunyian dengan susah payah.
Aku hanya bisa mengangguk karena kemampuanku berbicara seolah lenyap melihat raut wajah Zeno yang terlihat sedih, dan akulah yang menyebabkannya.
"Kau benar-benar akan menikah dengannya tanpa paksaan? Dari Oscar atau siapapun?"
"Aku memutuskan menikah dengannya karena itu adalah keinginanku Zeno. Dan aku rasa Oscar tidak akan pernah memaksaku untuk menikah dengan siapapun. Dia bukan orang seperti itu" Aku mengernyit heran, karena Zeno masih memiliki ide konyol ini.
Oscar orang yang lembut dan pengertian, dia tak akan melakukan perbuatan jahat seperti itu.
"Jadi kau benar-benar mmm--mencintainya?"
Oh-- ya Tuhan. Ini adalah ide buruk, aku telah menyakiti pria yang ada di depanku, yang kini memandangku dengan mata penuh luka. Tapi aku harus berkata apa? Dan harus memulai dari mana untuk menjelaskan?
"I'm sorry...." Aku akhirnya mengucapkan kalimat pertama yang berenang-renang di benakku sedari tadi.
Aku tahu Jovi tidak menyarankannya, tapi aku akan mengikuti kata hatiku saat ini.
"Jangan konyol Lui. Kau tak perlu meminta maaf" Zeno menepis permintaan maafku dengan gelengan kepala.
"Aku mencintai Duke" ujarku cepat, sebelum kehilangan keberanian.
Aku hanya bisa menunduk, tidak berani memandang luka Zeno.
"Oh..." Zeno berseru pelan dan kemudian kembali terdiam.
"Well... itu kabar yang bagus Lui. Aku senang kau akhirnya bisa menemukan seseorang yang tidak membuatmu merasa bersalah ketika kau bersamanya" ujar Zeno dengan suara bergetar.
"Kau tahu?" tanyaku kaget sambil mengangkat muka. Wajah Zeno sedikit memucat, tapi bibirnya tersenyum simpul.
"Aku memaksa Jovi untuk bercerita. Karena aku sangat bingung dengan semua sikapmu sebelum ini. Dan Oscar melarangku untuk bertanya ataupun membicarakannya denganmu. Aku senang Jovi akhirnya bersedia bercerita setelah aku bujuk berkali-kali" jelasnya.
"Dan jangan marah padanya, karena aku yang memaksa" tambahnya dengan cepat, mencegahku merasa kesal pada Jovi.
Aku menggeleng, aku harus berterima kasih pada Jovi karena membuat Zeno mengerti dengan keadaanku yang tidak stabil saat itu.
"Dia orang yang baik?" tanyanya lagi. Aku mengangguk tanpa ragu
"Duke sangat ramah dan pengertian walaupun aku sudah bersikap sangat buruk padanya" jawabku.
Zeno mengernyitkan kening mendengar jawabanku, seakan tidak percaya dengan apa yang aku katakan tentang Duke, tapi tak bertanya lebih lanjut.
"Well--baiklah. Selamat atas pernikahanmu Lui. Aku harap kau bahagia. Dan juga sayang sekali aku tidak bisa menghadirinya" kata Zeno dengan senyum tulus sambil berdiri mengulurkan tangan.
Aku berdiri dan menyambut tangannya dengan lega.
"Terima kasih Zeno" Aku sedikit tercekat dengan emosi, membayangkan bagaimana perasaan Zeno saat ini.
Zeno melambai untuk yang terakhir kalinya sebelum akhirnya menghilang di lorong yang akan mengantarkannya ke pintu keluar.
Aku menghempaskan diriku di sofa sambil menghembuskan nafas panjang, antara lega dan rasa bersalah. Tapi ini memang harus terjadi seperti ini, apalagi yang bisa aku lakukan untuk menghiburnya?
"Nicely done, Bee!" Suara berat menyahut dari sebelahku, membuat aku nyaris terpekik.
"Duke! Kau nyaris membuatku terkena serangan jantung!" Aku berseru sambil berdiri karena kaget. Duke berdiri di sebelah sofa dengan senyum lebar.
"Apa kau mendengar semuanya? Sejak kapan?"
Aku tidak mendengar suara apapun yang menandakan kedatangannya.
"Hmm...... sejak dia bertanya apakah Oscar memaksamu menikah!" jawabnya.
Itu berarti dia mendengar sejak awal. Belum sempat aku mengatakan sesuatu, Duke menarikku duduk di depan piano, membukanya dan mulai memeriksa dengan teliti tuts yang ada di depannya.
"Aku senang kau menyelesaikan segala urusanmu dengan tenang" kata Duke.
"Ya, aku harus menjelaskan semuanya paling tidak. Bagaimanapun aku bersalah karena terlalu memberi banyak harapan padanya" Sulit memang, tapi aku lega karena tidak lagi memiliki ganjalan.
"This piano is out of tune" ujar Duke, mendengar beberapa nada sumbang yang dikeluarkan piano itu .
"Tidak ada yang memakainya semenjak Mom membelinya sepuluh tahun yang lalu. Akan sangat mengherankan jika suara yang dihasilkannya masih bagus"
Meski ada beberapa nada sumbang, nada lembut mengalun memenuhi sudut mansion, saat jari Duke menari dengan lincah di atas warna hitam putih. Sumbangnya beberapa nada, berhasil disembunyikan oleh ketrampilannya bermain.
Aku heran Duke belum menjadi terkenal karena permainan pianonya. Dalam keadaan biasa, aku dengan senang hati akan membayar untuk mendengarkannya bermain. Suara dentingan yang dihasilkannya begitu halus dan jernih.
Segala kepanikan, rasa sesal dan juga gugup yang aku rasakan, menguap bersama dengan dentingan itu, meninggalkan kehangatan yang mengaliri setiap denyut jantungku.
Nyaman dan nyaris menghipnotis.
Aku teringat, bagaimana suara piano justru membuatku semakin gelisah ketika aku makan malam dengan Zeno dulu.
Aku menghembuskan nafas lega, karena keputusanku sudah benar.
Aku memang ingin menghabiskan sisa umurku dengan Duke. Pria yang kini tenggelam dalam dentingan nada indahnya.