
Suara burung berkicau mengalihkan perhatianku, yang sedari tadi tertuju pada notebook di tangan. Beberapa burung mendarat di tepi balkon, sebelum kemudian terbang lagi, karena menyadari kehadiranku di dekatnya.
Tempat ini, sudah resmi menjadi tempat favoritku di Lykos. Yaitu balkon kecil di depan kamar tidurku.
Balkon ini menghadap ke arah timur. Berbatasan dengan taman dan hutan kecil yang memisahkan rumah ini, dengan tetangga yang berjarak kurang lebih tiga kilometer.
Balkon ini terletak di lantai dua, jadi aku bisa dengan bebas melihat pemandangan tanpa gangguan orang yang berlalu lalang. Itu berarti satu-satunya cara mencapai tempat ini, adalah dengan melewati kamarku, tempat ini benar-benar bebas gangguan.
Jika malam, tempat ini juga tidak kalah indah. Taburan bintang terlihat jelas, karena sedikitnya polusi cahaya. Jika kau ingin menghindar dari dunia, aku sangat merekomendasikan balkon ini sebagai tempat pelarian.
Aku memandang langit biru dari tempatku berbaring--kursi malas-- sambil menenangkan perutku yang kembali mual. Aku tidak ingin memuntahkan apapun lagi, karena memang tidak ada apa-apa lagi yang bisa aku muntahkan.
Tidak ada makanan yang bisa masuk ke perutku sejak aku mendengar tentang kondisi Bee. Minuman juga bernasib sama, aku kembali memuntahkannya begitu aku mencoba menelan.
Tapi aku tidak peduli dengan keadaan itu!!
Saat ini, aku hanya ingin duduk dan menunggu Id. Ketukan dan panggilan Roan serta Tita, sama sekali tidak aku hiraukan. Aku hanya akan menjawabnya jika itu Id.
Dua hari yang lalu, setelah aku mendengar penjelasan Alva, aku menyuruh Id untuk mengikuti Bee dan mencari informasi tentang segala kegiatannya saat ini, bagaimanapun caranya. Aku ingin melihat Bee.
Tapi sejak itu pula, Id belum memberi kabar. Aku bayangkan tugas itu tidak akan mudah, mengingat segala penjagaan yang dilakukan Oscar.
Aku menyambar ponsel secepat kilat, ketika deringan tanda panggilan masuk menyala. Tapi aku membantingnya kembali di meja dengan kecewa, Alva yang menelepon, bukan Id.
BRUAKKKKK---!!!!!!
Tiba-tiba terdengar suara benturan keras dari arah kamarku.
Aku terlonjak bangun, dengan reflex menyambar pistol yang terletak di sebelah ponsel, lalu mengacungkannya ke arah sumber suara.
Aku bergerak maju memasuki ruang tidur, dan aroma lily menghampiri hidungku.
"For f*ck sake, are you crazy?! Kenapa kau merusak pintuku!" bentakku pada El, yang berdiri sambil mengangkat tangan di depan pintu kamar, yang tergantung miring di engselnya.
"Dan kau akan menembakku karenanya?" tanyanya balik, sambil menunjuk pistol yang masih aku arahkan padanya.
Aku mendecak kesal, kemudian melangkah ke tempat tidur untuk menyusupkan pistolku ke bawah bantal.
"Jika kau membukanya dengan suka rela, aku tidak akan mendobraknya" kata El.
"Why are you here? Kau seharusnya ada di Quebec" tanyaku, dengan malas.
Aku berbaring di tempat tidur, karena sekarang kepalaku terasa berputar.
"Aku memang berada di Quebec, tetapi Roan menelponku dengan panik kemarin. Mengatakan jika kau akan mati!" jawabnya, dengan nada khawatir.
Aku hanya mengangkat bahuku, mungkin memang aku akan mati. Mate yang tidak diinginkan lagi akan mati bukan? Keadaanku memburuk dengan cepat, semenjak tahu bagaimana Bee telah melupakan aku.
Tapi aku tidak akan mengatakan hal itu pada El, karena hanya akan menambah kegusaran.
"NO!!, you're not gonna die. Tidak dalam waktu dekat!" El berseru dengan penuh keyakinan, dia melangkah pelan dan duduk di ujung ranjang menghadap ke arahku.
Aku menghindari pandangannya, tidak ingin El mengetahui apa yang ada di pikiranku. Dia akan semakin marah, jika tahu sebenarnya aku juga ingin mati.
Aku sudah lelah dengan semua ini. Aku hanya ingin rasa sakit ini berhenti.
"Aku bicara pada Alva, dia sudah menceritakan padaku tentang semuanya, dan aku mengerti kenapa kau seperti ini. Tapi tidak bisakah kita membicarakannya? Aku tidak akan mengijinkanmu mati dengan mudah" katanya dengan nada kesal.
"Pertama kau membuangku ke Quebec, dan sekarang kau ingin mati? tidak akan semudah itu!" Butuh beberapa saat untuk menyadari bahwa El sedang memarahiku.
Jika itu Roan, aku tidak akan seheran ini, tapi El mengomel? Ini kejadian yang melebihi keajaiban dunia untukku.
"Ya!! Aku marah padamu!" Bentaknya, melihat pandangan heran yang terpampang di wajahku El berdiri, lalu mulai berjalan mondar-mandir di sekitar ranjang.
"Kau memang selalu bertindak tidak masuk akal tentang segala hal yang berkaitan dengan Lui!! Aku mengerti apa yang menyebabkannya sekarang, tapi aku masih tidak akan membiarkanmu bertindak gegabah, ingat itu!!"
Telunjuknya menunjuk tepat di wajahku, yang masih melongo melihatnya marah.
El tidak pernah membentakku sebelum ini. Dia tidak pernah menyuarakan keberatannya dengan amarah. Tindakannya selalu penuh dengan perhitungan.
"Sekarang aku mohon mandilah, you're smell like monkey *ss!!" bentaknya lagi.
Waow.. jika bukan El yang mengatakannya mungkin aku akan tersinggung, tapi sekali lagi, aku tidak bergerak karena takjub.
"Berhenti memandangiku!!" akhirnya dia berhenti mondar-mandir dan menatapku secara langsung.
Aku bisa melihat bahwa kali ini El benar-benar serius, mata hitamnya melihatku dengan kesal.
Aku mencium lenganku dan kaget, karena memang aromaku sedikit menyakitkan.
Terakhir aku mandi adalah 3 hari yang lalu. "Hei--ini tidak terlalu buruk!" ucapku membela diri.
El memutar bola matanya dengan tidak percaya mendengar jawabanku, kemudian dia melangkah dan mengambil handuk bersih dari tumpukan di meja, lalu melemparnya padaku.
Mengalah, aku beranjak menuju kamar mandi. Tetapi begitu berdiri pemandangan sekitarku berputar.
Aku jatuh terduduk di ranjang sambil memegangi kepalaku yang sekarang berdenyut kencang.
"Itu karena kau tidak makan apapun selama 3 hari ini!!" hardik El dengan keras.
"You know---- Aku lebih menyukai dirimu yang dulu, kepribadianmu yang baru menyebalkan" ucapku sambil memejamkan mata dan berbaring miring di ranjang, bentakkannya mengirimkan denyutan baru ke kepalaku.
El berjalan mendekat sambil menelpon seseorang, entah siapa aku tidak bisa mendengarnya.
Telingaku berdenging seirama dengan denyutan di kepala, tapi aku bisa merasakan El duduk di sebelahku.
"Kau tidak bisa terus seperti ini Duke! Ini tidak seperti dirimu" kata El, dengan nada normal.
Dia tidak tega memarahiku lagi. Kondisiku terlihat sangat buruk di matanya. Aku menarik nafas panjang untuk meredakan nyeri di kepalaku sebelum menjawab.
"Aku lelah!!" jawabku, dengan singkat.
"Itu tidak seperti dirimu, Duke!" ulangnya.
"Karena sekarang tidak ada lagi yang tersisa untukku Eldred!!" kataku, dengan nada tinggi sambil melotot.
Aku tidak lagi memperdulikan pemandangan berputar karena membuka mataku lebar-lebar.
"Apa lagi yang ada untukku? Aku tidak bisa bersama Lui lagi, itu berarti aku juga tidak bisa mendapatkan wolf-ku, yang mana itu juga berarti aku tidak mungkin menjadi Alpha!!" teriakku. Aku tidak peduli jika seluruh penghuni rumah ini mendengarnya.
"Dan jika aku ingin menjalani hidupku sebagai manusia, itu juga sudah tidak bisa. Apa aku perlu mengingatkanmu jika aku sudah mati untuk dunia ini?! Apa lagi yang ada untukku?! Yang tersisa dari keputusan bodoh yang aku buat 8 tahun lalu, hanyalah rasa sakit dan kehilangan!!"
Aku berteriak dengan sekuat tenaga. Nafasku terengah karena memuntahkan segala hal yang aku pendam tiga hari ini.
Seharusnya aku tidak melampiaskan amarahku pada El, tapi---dia yang memancingku untuk ini.
"Aku lebih suka dirimu yang marah-marah dan penuh emosi seperti ini. Setidaknya kau terasa hidup" kata El dengan tenang.
Aku mendengus kesal mendengar perkataannya.
"Jadi kau merasa ini semua terjadi karena keputusanmu untuk pergi dari pack? Ayolah.. kau tahu ini tidak benar. Jika kau tidak pernah pergi dari pack, kau tidak akan pernah bertemu Lui. Apa kau juga menyesali pertemuan itu?" tanyanya dengan sedikit sinis.
Tidak! Tentu saja tidak, batinku.
Pertemuan dengan Bee adalah hal yang paling indah dan magis yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku tidak akan pernah menyesalinya.
El tersenyum kecil melihatku tidak menjawab pertanyaan itu. Dia tahu persis apa jawabanku, tanpa harus aku ungkapkan.
"Sekarang berhentilah menyalahkan dirimu dan berpikirlah dengan jernih. Kau mungkin memang bersalah dalam beberapa hal, tapi tidak semua akibat dari kesalahanmu adalah hal yang buruk. Banyak hal luar biasa lain yang juga terjadi karenanya. Kau bisa mengetahui siapa sebenarnya Ibu kandungmu, kau bertemu dengan Mate-mu. Kau bahkan bisa tahu siapa sebenarnya musuhmu"
El berhenti sejenak mengambil nafas.
"Dan untukku--- aku bisa melihat dunia yang dulu tidak berani aku bayangkan, walaupun hanya dalam mimpi. Seumur hidup, aku akan terus merasa berterima kasih padamu, untuk semua yang sekarang aku miliki" kata El, dengan suara yang sarat dengan emosi, yang mencoba ditahannya.
"Aku mohon, jangan menyerah dengan keadaan ini" lanjutnya lagi.
Tadi itu adalah kalimat terpanjang yang pernah aku dengar dari El.
Suara langkah kaki mendekati kamar, menyurutkan niatku untuk membalas perkataan El.
Roan muncul sambil membawa makanan di nampan. Dia memandang dengan teliti pintu yang miring.
"Aku seharusnya memikirkan cara ini!" katanya, terdengar sedikit kecewa karena kehilangan kesempatan untuk menjebol pintu. Roan meletakkan nampan itu di meja sebelah ranjang kemudian duduk di sebelah El.
"Makanlah, keadaanmu buruk sekali" ucap Roan, dengan lembut.
Tidak ada sindiran atau ejekan? ini juga keajaiban dunia yang lain.
"Apa kalian sedang bertukar jiwa? Sikap kalian aneh sekali!" tanyaku, sambil memandang mereka dengan heran.
"Itu karena kau terlihat lebih buruk, daripada anjing yang kehilangan tuannya"
Hanya perlu satu kalimat, dan Roan kembali ke dirinya yang semula.
"Aku tidak bisa makan" jelasku. Aroma yang tercium dari nampan itu sebenarnya sangat lezat.
Tapi bayangan aku akan memuntahkannya lagi, membunuh nafsu makanku dengan cepat.
"Duke!! Kau tidak akan menyelesaikan apa-apa jika kau mati, yang ada hal itu hanya akan menyusahkan".
El membentakku sekali lagi, sementara tangannya menyambar piring di atas nampan dan menyorongkannya ke arahku. Aku menggeleng pelan, menolak.
"Apa kau ingin meninggalkan Zhena Myra sendiri di dunia ini dan membuatnya meninggal juga?" tanya El dengan pelan.
"Don't you dare!!" geramku memperingatkan, dia tidak boleh membawa Mom dalam diskusi ini.
"Aku harus mengatakannya!! Kau sepertinya lupa, bila kau masih mempunyai Ibu yang menunggumu pulang, dia menelponku kemarin, karena kau tidak menjawab panggilan darinya" Dengan tenang, El melancarkan serangannya.
Tahu dia sudah menang dalam perdebatan ini.
Dengan kesal aku menyendok sedikit bubur, dan memasukkannya ke mulut.
Aku menelannya sambil berharap berhasil menahannya di perut dalam waktu yang agak lama. Tapi tidak sesuai dengan harapan, makanan itu kembali.
Aku melempar piring itu dengan sembarangan, kemudian menyeret kakiku ke kamar mandi.
Aku memuntahkan lebih banyak daripada hanya sekedar sesendok bubur ke dalam closet. Setelah beberapa menit yang menyakitkan, aku duduk dengan lemas di lantai kamar mandi sambil memejamkan mata.
Apa yang terjadi dengan tubuhku? Aku benar-benar berniat makan tadi.
Apa ini karena Bee tidak lagi menginginkan aku? Apa sedikit demi sedikit, aku menuju kematian?
Aroma El memenuhi kamar mandi pertanda dia menyusulku masuk.
Tidak lama, aku merasakan tangannya meraih bahu dan menarikku berdiri. Tidak ingin melawan lagi, aku hanya menurut, saat dia memapahku kembali ke kamar, dan membaringkanku di ranjang.
"Kau tidak bisa menelan makanan?" tanya Roan, tangannya sibuk membereskan pecahan piring, yang akul empar tadi.
Aku mengangguk pelan dari atas bantal
"I told you already, and you ignore it" tukasku, dengan kesal.
"Aku mengira kau hanya tidak ingin makan" kata El dengan lirih, sambil memandangku dengan muram.
Aku hanya bisa mendengus kasar mendengar jawabannya.
Tok---Tok---Tok!
Ketukan pelan di pintu, mengagetkan kami bertiga.
Kami sama sekali tidak menyadari ada orang di pintu, padahal kami adalah werewolf.
Tapi melihat siapa yang datang aku segera maklum. Itu Alva, dia sangat terlatih untuk menyembunyikan keberadaannya dari makhluk inhumane apapun.
"Kau terlihat jauh lebih buruk dari pada dugaanku" katanya sambil menggelengkan kepala pelan.
"Dia tid ak bisa menelan makanan sama sekali" kata El seolah sedang berada dalam ruang pemeriksaan dokter.
"Ada apa dengan kalian berdua?! Ini menyebalkan sekali, Lui juga melakukan hal yang sama saat mendengar kabar kematianmu, dia nyaris mati kelaparan karena menolak makan, dan sekarang kau juga!" hardik Alva dengan kesal.
Ucapannya segera menghapus sedikit warna yang tersisa di wajahku, dan isi perutku kembali bergolak, walaupun tak ada lagi yang mengisinya.
Aku mencoba bangkit dari tempat tidur untuk menuju kamar mandi. Tapi tangan El menahanku, dan dengan cekatan, Roan mengulurkan tempat sampah kosong yang berada di dekat jendela.
Aku memuntahkan asam lambung ke dalam tempat sampah itu.
"Aku rasa lebih baik jika kita tidak membicarakan soal Lui saat ini" kata El, sembari mengulurkan handuk basah padaku, kemudian berjalan menaruh tempat sampah itu di luar kamar.
Aku sangat berterima kasih untuk ini. Handuk basah itu meringankan rasa berdenyut di kepalaku.
Setelah aku mengusap wajah dengan handuk itu, aku menaruhnya di dahi. Dan memejamkan mata dengan pasrah.
"Aku akan memeriksa keadaanmu" suara Alva terdengar dekat di telingaku.
Aku merasa ada benda dingin yang masuk ke baju dan menempel di dadaku. Aku sudah tidak mempunyai tenaga lagi untuk melawan ataupun protes, jadi aku hanya membiarkannya saja.
"Kenapa kau kesini ?" tanyaku kepada Alva, yang masih memeriksa tekanan darahku.
"Aku tidak ingin ke sini, Eldred yang menelponku. Dia bilang keadaanmu parah sekali".
Aku memandang El dan Roan bergantian. "Siapa lagi yang kalian telepon dan mengatakan jika aku akan mati? Apakah Uncle Rex tahu?" tanyaku dengan kesal. Aku tidak suka jika banyak orang tahu keadaanku sedang kacau, terutama Mom.
El dan Roan menggeleng secara bersamaan. "Aku tidak akan sebodoh itu mengabarkannya pada ayah" kata Roan kesal karena tuduhanku. "Aku hanya mengatakan padanya, kalau kau sedang membutuhkan bantuanku" El menjawab dengan mantab.
Aku sedikit lega, setidaknya aku tak akan membuat Mom khawatir.
"Kenapa tanda vital tubuhmu terbaca seperti manusia? Dan kenapa warna matamu berubah menjadi cokelat terang? Terakhir kali aku bertemu denganmu sebelum kau hilang, warnanya masih hijau" tanya Alva tiba-tiba, sambil memandang alat ukur di tangannya.
Aku, Roan dan El saling menatap, tidak tahu harus berkata apa.
"Aku rasa kau tak perlu tahu soal itu, kau tak ingin terlibat dengan urusan inhumane bukan?" Aku benci berbohong, dan jelas tidak bisa mengatakan tentang keadaan tubuhku kepadanya.
Ini adalah jawaban paling bagus yang bisa aku berikan.
Alva terlihat cukup puas dengan jawabanku. Dia hanya mengangkat bahu, kemudian memasukkan alat-alat yang dipakainya untuk memeriksaku kedalam tas.
"Kau lemas karena malnutrisi, aku akan memberimu infus dan obat untuk lambungmu. Aku ragu obat itu akan bekerja dengan baik, karena masalahmu sebenarnya berasal dari sini" kata Alva sambil menunjuk ke kepalaku.
Dia mulai menusukkan jarum pada lenganku dan memasang infus. Dengan santai dia menggantungkan kantong infusku pada tiang tempat tidur.
Gerakannya sejenak terhenti, saat sadar luka tusukan infus itu berdarah, tidak sembuh seperti biasanya. Tapi Alva tidak berkomenttar. Dia hanya mengambil kapas dan menutup luka itu dengan perban.
"Stress dan depresi, karena itu tubuhmu menolak semua makanan yang masuk. Jika kau tidak segera menenangkan pikiran, maka keadaanmu akan semakin buruk." lanjutnya dengan tenang.
Menenangkan pikiran? hal itu lebih mudah dikatakan daripada dilakukan.
Aku hanya mengangguk, hanya anggukan pilihan yang tersedia untukku.
"Aku harus segera pergi, tetapi ada satu hal lagi yang harus aku katakan kepadamu" ujar Alva sambil menaruh sehelai kertas resep di meja.
"Jangan!! Tidak bisakah itu menunggu?" El menyahut dengan khawatir.
Dia langsung mendekat ke arah ranjang kembali, begitu Alva selesai memeriksaku.
"Bukan tentang Lui, ini soal Oscar" jawabnya pelan. Aku yang tidak bisa menebak apa yang ingin dikatakannya, menunggu dengan penasaran.
"Oscar sudah tahu tentang semuanya, dia sudah tahu jika kau masih hidup. Oscar juga sudah tahu soal siapa kau sebenarnya, dia tahu nama aslimu dan yang lainnya" kata Alva, dalam sekali tarikan nafas.
"Maksudmu? Aoal aku adalah werewolf?" tanyaku.
Mencoba mencari kepastian sekali lagi, karena hal yang dikatakannya nyaris tidak mungkin. Bagaimana Oscar bisa tahu? Dia manusia, tidak seharusnya dia bisa mencari informasi soal makhluk inhumane.
Itu mustahil!
Tetapi anggukan Alva atas jawaban pertanyaanku tadi, menumbangkan rasa tidak percaya itu. Oscar benar-benar tahu soal identitas inhumane milikku!
Ini luar biasa.
"How it's that possible? Dia manusia biasa bukan?" Roan yang kali ini memprotes.
"Dia memang manusia, tetapi sedikit luar biasa. Dia tahu banyak tentang werewolf dan juga posisimu sebagai Scion Blackmoon. Oscar bahkan juga tahu jika aku adalah penyihir. Dia datang kepadaku hanya untuk menegaskan, bahwa info yang diterimanya benar. Saat itulah dia memberitahuku jika kau masih hidup"
Alva menjelaskan dengan detail yang membuat bulu kudukku meremang.
Oscar tahu tentang pack dan Scion? Ini jelas bukan kabar bagus.
Karena ini berarti, ada satu halangan lagi yang membuat jarak antara aku dan Bee semakin jauh. Dengan sifatnya yang super paranoid itu, Oscar tidak akan pernah mengijinkan Bee berdekatan dengan dunia inhumane.
Tapi yang lebih penting, dari mana dia tahu tentang dunia inhumane?!
"F*ck...!!!" umpatku sekeras yang aku bisa.
Tidak bisakah keadaanku sedikit membaik? Jika tadi aku mengukur kesialan nasibku sudah sedalam lautan, maka kini aku tenggelam ke dalam kerak dasar laut.
Alva berjengit dengan wajah tidak suka mendengarku mengumpat. Roan dan El terlonjak, karena tidak menyangka aku masih bisa bersuara sekeras itu.
Alva bangun dari tempat duduknya dan menenteng tasnya erat-erat. Tetapi wajahnya masih terlihat ragu, matanya melirik ke arahku dan pintu keluar secara bergantian. Masih ada hal yang mengganjal di pikirannya
"Katakanlah, aku tidak apa-apa!" ujarku.
Aku hanya ingin tahu soal semuanya, tidak peduli jika hal itu memperburuk keadaanku.
"Ini soal Lui, dan mungkin juga Oscar. Aku ingin mengatakan hal ini saat kau datang kemarin, tapi kau tidak mau mendengarkan aku sampai selesai" katanya lagi. Menyalahkan aku karena kerepotan yang harus ditanggungnya sampai sekarang.
"Apakah kau ingat? Hal yang aku katakan padamu dulu, saat aku pertama kali memeriksa Lui? Jika keadaan Lui adalah keajaiban? Dengan gumpalan itu berada di otaknya, seharusnya dia tak selamat" tanya Alva.
Aku mengangguk, tentu saja aku ingat, aku nyaris mematahkan tangan kanannya dengan cengkramanku dulu. Berani sekali dia mengatakan hal seperti itu.
"Well... apa yang terjadi pada Lui saat ini, juga merupakan hal yang terlalu ajaib untuk bisa terjadi pada manusia! Amnesia dengan target yang sangat spesifik seperti ini, tidak pernah terjadi di dalam dunia medis manapun Duke. Aku tidak pernah mengatakan hal ini kepada Oscar atau padamu, karena aku tidak pernah menyangka mereka mempunyai kaitan dengan inhumane. Tapi saat Oscar mendatangiku dengan fakta-fakta tentang dirimu, aku sadar bahwa mereka berbeda"
Aku semakin mengernyit karena penjelasan Alva semakin terdengar tidak masuk akal.
"Jadi maksudmu,mereka juga inhumane?!" El bertanya, dengan nada tidak yakin kepada Alva.
"Tidak, mereka manusia! Aku yakin itu. Kau kira sudah berapa kali aku memeriksa tubuh Lui? Aku tidak akan salah soal ini! Tapi mereka berbeda, dan aku tidak tahu apa"
Alva membentak agak sedikit jengkel. Dia tidak suka ada yang meragukan kemampuannya sebagai dokter dan penyihir. Seorang Alva akan mengenali inhumane dari jarak bermeter-meter.
Alva melirik jam di tangannya dan mendesis.
"Aku harus pergi sekarang, aku tidak seharusnya berlama-lama berada di sarang werewolf" katanya, sambil berjalan keluar dengan terburu-buru.
Roan memandang jengkel ke arah punggung Alva yang telah menghilang. Dia pasti tidak suka dengan penyebutan sarang werewolf.
Untuk beberapa menit berikutnya, kami bertiga terdiam karena memikirkan kata-kata Alva.
Mungkin Alva hanya sedikit berlebihan, mereka memang berbeda dengan keluarga yang lain. Karena mereka memiliki jaringan mafia besar di dunia, mungkin itu akan memberimu akses informasi ke dunia inhumane, tebakku dengan sedikit ragu. Karena itu masih tak menjelaskan tentang kondisi Bee.
"Aku akan memberikan resep ini pada Tita untuk di tebus" kata El, sambil menyambar resep yang ditinggalkan Alva di atas meja dan pergi keluar kamar. Resep untuk werewolf hampir mirip dengan manusia, hanya dengan dosis yang lebih tinggi.
"Apakah ini berarti keadaannya menjadi lebih buruk?" tanya Roan dengan pelan.
"Tentu saja Bukan hanya aku telah membuat keadaan Bee memburuk, sekarang aku tidak lagi masuk dalam kriteria aman pilihan Oscar. Dia tidak akan membiarkan Bee berdekatan dengan makhluk inhumane jenis apapun" kataku dengan berat hati.
Tapi apa maksud Alva dengan mengatakan mereka berbeda?
Kepalaku berdenyut kencang begitu aku memikirkan ini lagi.
Sudahlah!! Tak ada gunanya aku memikirkannya sekarang, yang terpenting sekarang bagaimana sikap Oscar, setelah tahu bahwa aku adalah werewolf.
Aku sangat mengenal Osca. Jika berkaitan dengan Bee, bisa di bilang kami sangat mirip.
Kami sama-sama tidak suka bila Bee berdekatan dengan bahaya. Aku tidak akan menyangkal, kehidupan sebagai makhluk inhumane memiliki resiko cedera atau tewas lebih banyak dari pada manusia.
"Mengapa Alva mengatakan jika warna matamu hijau? Setahuku matamu selalu berwarna cokelat"
Roan bertanya dengan penasaran, dia pasti sudah ingin bertanya dari tadi. Tapi keberadaan Alva membuatnya menahan diri.
"Setelah bersama dengan Bee selama beberapa saat, warna mataku berubah menjadi hijau. Aku tidak merasakan hal apapun saat itu, tiba-tiba saja mataku sudah berubah hijau. Aku sampai harus berbohong pada orang-orang jika aku mengganti warnanya dengan operasi" jelasku.
"Apakah itu terjadi karena Lui adalah Mate-mu?" tanya Roan lagi.
Aku sebenarnya malas membahas hal sepele ini sekarang, tapi pertanyaaan Roan membuatku tertarik.
Aku tidak pernah berpikir bahwa perubahan warna mataku berkaitan dengan mate. Karena tidak pernah tahu tentang fakta itu.
Selama ini, aku hanya menganggap itu normal dalam proses pendewasaan werewolf yang sedang jatuh cinta.
Memang terdengar sedikit bodoh, tetapi hanya kesimpulan itu yang menurutku masuk akal.
Dan karena satu-satunya tempat aku bertanya adalah El, dia juga tidak tahu menahu soal penyebab perubahan warna mataku.
"Mungkin saja. Aku tidak tahu pasti kapan warna mataku berubah menjadi coklat lagi. Terakhir aku melihatnya masih hijau ketika di LA" Aku menjawab Roan setelah beberapa saat berpikir.
Aku melihat mata coklatku untuk pertama kalinya, saat bercermin di kamar mandi rumah sakit, tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Aku sedang sibuk menyembuhkan diri.
"Aku melihatnya sudah berwarna coklat ketika kau bangun di rumah sakit setelah serangan vampire itu. Aku ingin bertanya, tapi saat itu bukan saat yang tepat. Aku sempat mengira mata coklatmu kembali, karena kau berada di wilayah pack lagi. Tapi tebakan Roan lebih masuk akal" Kata El sambil melangkah masuk ke kamar.
Dia mendengar pembicaraan kami dari lorong, karena pintu kamarku tidak bisa ditutup dengan rapat.
"Aku sudah menyuruh Tita memanggil orang untuk memperbaikinya" Ujar El dengan nada meminta maaf, melihat pandangan jengkelku yang tertuju ke pintu.
"Apa kau akan menyerah tentang Lui?" Roan bertanya tanpa basa-basi, biasanya aku suka dengan sikap spontannya.
Tapi kata-katanya tadi membawaku ke dalam kenyataan yang sedari tadi aku ingin hindari.
Aku hanya terdiam mendengarnya. Aku memang tidak ingin menyerah, tapi aku merasa sangat lelah dengan semua ini.
Lima bulan ke belakang hidupku serasa diterjang gelombang tsunami. Kehilangan ayahku, pengkhianatan Egon, rasa bersalah kepada Mom, belum lagi vampire. Dan sekarang Bee...apa yang harus aku lakukan padamu Bee?
"Tentu saja tidak!! Kau sudah menyuruh Id pergi menguntit Lui, itu berarti kau tidak menyerah untuk mendapatkannya bukan?" El menjawab pertanyaan Roan, sekaligus menginginkan komitmen agar aku tidak menyerah.
"Tidak bisakah kau pergi menemuinya sekarang dan mengkonfirmasinya soal semua ini?" tanya Roan lagi.
Pertanyaannya mencerminkan sifat Roan yang selalu berpikir praktis. Terjang! baru nanti berpikir tentang akibatnya. Tapi Bee tidak bisa dihadapi dengan cara itu.
"Apa kau sudah lupa hal yang telah aku jelaskan padamu tadi? Lui sakit, ada kemungkinan dia akan koma jika Duke menemuinya dan mengatakan semua ini padanya!!" Nada bicara El meninggi. Jengkel Roan tidak juga mengerti dengan kondisi Bee.
"Maaf... saya hanya ingin mengantarkan obat" suara Tita di depan pintu menghentikan perdebatan itu.
El beranjak dan mengambil bungkusan obat dari tangan Tita. "Terima kasih" ucapnya pada Tita.
Tita tersenyum kemudian berlalu.
Aku duduk dengan pelan di kasur agar selang infusku tidak bergeser. El menyerahkan beberapa pil padaku, yang segera aku telan dengan bantuan air.
Infus itu lumayan manjur, aku merasakan sedikit sentakan dari perutku, tapi obat itu tidak aku muntahkan lagi.
El mendesah dengan lega melihatnya, dia juga khawatir aku akan memuntahkan obat itu lagi.
Roan terlihat sudah ingin membahas lagi pertanyaannya tadi, tapi El menatapnya dengan tajam, mencegahnya untuk bertanya. El tahu, aku tidak ingin lagi meneruskan pembicaraan itu.
Mataku yang sedang memandang mereka tiba-tiba terasa berat, cr*p... !! Obat itu ternyata mengandung obat tidur.
Baiklah... !! Mungkin dengan tidur rasa lelahku pada dunia ini dan nasibku, akan berkurang.