Finding You, Again

Finding You, Again
Again 19 - Before We Part Ways



"Apakah ada yang punya ide bagaimana kita akan kembali ke darat?"


Dihyan melihat ke arah laut yang masih pasang.


"Bee, apakah kau masih bisa membuat jalan lagi?"


Duke menoleh ke samping, tapi Lui sudah memejamkan mata sambil menggenggam erat kaki Duke.


Untuk sesaat Duke khawatir Lui pingsan. Tapi kemudian dia mengenali nafas teratur itu. Lui hanya tertidur.


"Bagaimanapun dia adalah penyihir pemula, wajar jika sekarang kelelahan" kata Dihyan.


Dihyan tidak pernah berharap mereka akan kembali dengan cara yang sama.


"Aku sudah memanggil helikopter, setelah itu kita bisa memikirkan cara lain. Mereka akan datang setengah jam lagi" Seruan terdengar dari arah laut.


Faust terlihat duduk tidak jauh dari mereka. Dia melambaikan telepon satelit yang baru saja digunakan untuk memanggil bantuan.


Helikopter tidak akan bisa memuat seluruh sisa pasukan, tapi setidaknya, mereka yang terluka bisa lebih cepat mendapat pertolongan. Setelah itu Duke baru akan memikirkan cara lain untuk membawa sisanya.


Mungkin dengan kapal.


Duke lega, dia tidak perlu berpikir keras lagi. Karena tubuh dan pikirannya sudah sangat letih. Dia sekarang hanya perlu menunggu.


"Aku harus belajar jika teknologi manusia bisa sangat membantu" Dihyan menyahut, sambil mengangkat bahunya kemudian duduk.


Duke melepas transformasinya, setelah menyandarkan Lui dengan hati-hati.


Selesai memakai celana yang disodorkan oleh Farjad, Duke mengangkat kepala Lui dan meletakkannya kembali di paha.


Duke kemudian bersandar pada batu besar di belakangnya, sambil melihat api biru yang hampir padam. Tubuh Crispin hanya menyisakan abu.


Dengan baik hati, Pyre menjaga agar api itu tetap menyala, mengubahnya menjadi api unggun besar, menghangatkan Hunter dan juga imperfect yang tidak kebal dengan udara dingin.


"Minum?" Dihyan menyodorkan botol yang Duke yakin terbuat dari kayu, tapi sangat mengkilap, sampai terlihat seperti kaca.


Dihyan baru saja menarik botol itu keluar dari sihir ruang. Sangat praktis.


"Susu?" Duke mencium aromanya, saat mendekatkannya ke mulut.


"Tentu saja" Dihyan tersenyum lebar.


Duke bukan penggemar susu, tapi tidak menolaknya.


Tubuhnya letih dan perlu asupan makanan. Dan ternyata susu itu sangat segar, Duke menyerahkan separuh sisanya pada orang yang ada di sebelahnya.


"Ops.... minuman ini bukan seleramu" Duke tersenyum, saat sadar jika ternyata itu adalah Oulam.


"Thank anyway. Aku tetap akan menghitung niat baikmu" kata Oulam, sambil meneruskan kegiatannya membebat tangannya yang patah.


"Kau akan baik-baik saja?"


Duke tidak menanyakan keadaan tangannya. Dia lebih peduli bagaimana perasaan Oulam, setelah kepergian Hazel.


"Aku akan bertahan!" Suara Oluam terdengar mantap.


"Baguslah!" Duke menepuk bahu Oulam, sementara tangan yang lain menyodorkan botol susu pada Farjad, yang baru saja datang, setelah selesai memindahkan tubuh serigala Roan.


Dia meletakkan tubuh Roan di dekat tempat Duke, kemudian dengan enteng duduk di sebelah Oulam, meminum semua susu yang tersisa dalam sekali tegukan.


Sejenak Duke memeriksa Roan, dan lega melihatnya masih bernafas. Besar kemungkinan Roan akan bertahan.


Duke mengembalikan perhatiannya pada api biru Pyre.


Pada suasana ini, tidak ada lagi yang peduli makhluk jenis apa yang ada di sebelah siapa.


Di depannya, dia melihat beberapa Farkas dengan santai mengobrol dengan Hunter dan juga Imperfect. Mereka saling berbagi cerita pertarungannya dengan seru.


Kamaria menunjukkan sikap biasa, saat salah satu imperfect membantunya merawat goresan panjang di kakinya. Bahkan Faust menerima uluran botol minum dari salah satu warrior Levana dengan wajah bebas kerutan tidak suka.


Dia lalu melihat bagaimana Farjad tanpa ragu, membantu Oulam dan juga Dihyan merawat luka mereka. Dengan terampil dia membebat luka mereka dengan kain seadanya.


Walaupun masih berstatus mahasiswa, ilmu kedokteran Farjad ternyata tidak mengecewakan. Pertolongan pertama itu sangat membantu mereka.


Kini tangan Dihyan yang patah, tidak lagi terjuntai dengan tidak nyaman. Oulam juga sangat girang, karena rasa nyerinya sedikit berkurang, setelah Farjad mengikat lukanya dengan rapi.


Duke gembira melihat itu, dia dulu tidak yakin dengan Aliansi impian Abel. Tapi kini dia mengakui ide Abel ternyata sangat cemerlang.


Duke berjanji untuk lebih membuka hati pada kaum inhumane lain. Selama ini dia terlalu cepat menilai karena keburukan yang disebar oleh sebagian dari mereka.


"Terima kasih" ujar Duke, pada Farjad, saat dia membersihkan luka di wajahnya, akibat cakaran Crispin.


Luka itu pasti akan meninggalkan bekas. Tapi Duke tidak peduli, Lui tidak akan keberatan, jika wajahnya menjadi sedikit lebih jelek.


"Untuk Roan juga" tambahnya, sambil menunjuk tubuh abu-abu Roan.


Duke tidak memerintahkan Farjad untuk memeriksa Roan. Tapi pasti dia merasakan kekhawatiran Duke saat mereka masih terhubung tadi.


"Gamma Roan akan baik-baik saja, Alpha. Dan saya lebih menyukai tugas seperti ini, dari pada tugas menjaga Zhena. Pekerjaan ini tidak mengancam nyawa"


Farjad membalas ucapan terima kasih Duke, dengan kalimat tidak terduga. Kalimat itu masih tidak menghapus kesopanan, tapi hampir terdengar sesantai El.


Sejenak berada dalam kepala Duke membuatnya tahu, jika Alpha tidak segarang apa yang terlihat selama ini. Mungkin agak sedikit pemarah, tapi Duke hanya akan tegas pada saat diperlukan.


Duke langsung terkekeh mendengar balasan Farjad, bahkan Dihyan ikut tersenyum mendengarnya.


"Jangan khawatir, setelah ini aku yang akan menjaganya" kata Duke sambil mengelus rambut emas Lui dengan lembut.


"Apa kau tidak ingin kembali ke dunia musik?"


Oulam yang sedari tadi hanya tersenyum mendengar percakapan mereka, tiba-tiba bertanya pada Duke.


"Memang kepana? Jangan katakan kau merindukan nyanyianku?" Duke tersenyum miring.


"Kau menyanyi?!!" Faust yang berada di seberangnya, menyahut dengan kaget. Dia juga mendengarkan percakapan mereka ternyata.


"Kau tidak tahu?? Dia ini David Adalrik. Penyanyi dan pemain piano termuda yang mendapat penghargaan Grammy"


"Oulam... pelankan suaramu!! Lagi pula dia tidak akan tahu apa yang kau maksud"


Duke sedikit jengah mendengarnya.


Faust mungkin tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Oulam, tapi beberapa Hunter, bahkan ada beberapa imperfect jelas mengerti. Mereka memandang Duke dengan tertarik, beberapa berbisik dengan bersemangat, mengatakan jika tebakannya benar.


Diantara mereka rupanya ada yang menebak jika Duke adalah David Adalrik.


Dengan heran, Faust memandang temannya yang ternyata mengenali Duke.


"Kau benar-benar penyanyi dan pemain piano?" ulangnya, masih tidak percaya.


"Ya, tapi aku berhenti. David Adalrik sudah mati"


"Dan aku menyayangkannya. Aku penggemar beratmu. Kau tahu itu"


Oulam terdengar benar-benar kecewa.


"Aku akan mengundangmu, jika suatu saat aku ingin menyanyi lagi. Tapi aku meragukannya. Alpha pekerjaan yang menyita waktu" kata Duke.


Oulam langsung bertepuk tangan gembira, "Aku akan menunggu, kapanpun itu"


"Dan aku berani bertaruh tanganku yang masih utuh, nona muda yang ketus itu akan mencari tahu soal David Adalrik begitu dia sempat" Oulam menambahkan dalam bisikan.


Duke tergelak mendengarnya, tapi dia setuju. Melihat bagaimana wajah Faust yang sangat penasaran, bisa dipastikan dia akan mencari tahu soal David setelah ini.


Well, setidaknya pundi uangnya akan bertambah lagi, karena royaltinya akan bertambah begitu Faust mendengarkan lagunya.


"Kakek akan sangat bahagia melihat keadaan ini" Dihyan tiba-tiba menyeletuk.


"Sorrel?" Oulam terdengar ragu. Seperti Duke, dia menganggap Sorrel sedikit berbahaya dan tidak bisa ditebak.


Dihyan mengangguk.


"Kakek selalu menginginkan kaum inhumane berdamai. Bagaimanapun juga, kalian semua memiliki darah Elf. Dia selalu sedih ketika mendengar berita keganasan inhumane di luar sana. Menurutnya, kekerasan itu terjadi karena kesalahan bangsa Elf yang tidak berhasil menghilangkan sifat liar kalian"


Wajah bangga yang ditunjukkannya dulu ternyata tulus. Duke tidak akan lupa senyuman Sorrel saat dia mengatakan pertemuan Aliansi adalah pertama kalinya dia melihat werewolf dan vampire berada dalam satu tempat, tanpa terjadi pertumpahan darah.


"Pengendalian diri yang kami dapat dengan bersusah payah" kata Oulam. Dan Duke menyetujuinya.


Akan lebih mudah jika dia membiarkan instingnya menjadi liar seperti para Stray Serbia. Tapi semua warga Blackmoon memilih untuk bekerja keras dan berusaha membaur dengan manusia.


Sulit, tapi sebagian besar dari mereka berhasil.


Mungkin cita-cita Sorrel tidaklah terlalu tinggi.


Mungkin suatu saat kaum inhumane akan hidup bersama dengan damai, bahkan mungkin bersama manusia.


"Setelah hari ini, aku akan bertanya terlebih dahulu sebelum membunuh vampire yang aku temui" kata Duke.


Dia akan memastikan vampire itu masih menjalankan cara tradisional dalam mencari mangsa.


Oulam tertawa sumbang, "Aku ragu kau akan bertemu dengan vampire sepertiku secara tidak sengaja. Jumlah kami sangat sedikit--- semakin sedikit"


Oulam memandang sekitar lima atau enam vampire yang hampir semuanya terluka parah. Hanya itu yang tersisa dari pasukan mereka, ditambah beberapa yang masih memulihkan diri daratan.


"Ajaklah lebih banyak vampire untuk menikmati hidup, bukan bertahan hidup" saran Duke.


Bertahan hidup berarti kau tidak perlu peduli dengan makhluk lain selain dirimu sendiri. Menikmati hidup berarti kau harus belajar untuk menghargai nyawa makhluk lain. Sesederhana itu.


"Itu adalah harapanku. Aku akan mencoba dengan lebih keras setelah ini" kata Oulam.


Duke tersenyum puas mendengar janji Oulam.


Mereka hanya sebagian kecil dari seluruh struktur kehidupan inhumane, tapi mereka sama-sama berharap perubahan itu akan membawa pengaruh yang lebih baik di masa depan nanti.


 


 


\~\~\~\~\~\~\~IlI\~\~\~\~\~\~


 


 


Tanpa banyak pilihan, Duke memusatkan semua kegiatan pasca perang di bandara Ted Stevens, Anchorage. Peran Seema dan suaminya jelas sangat besar dalam hal ini.


Mereka berdua yang memastikan tidak ada manusia yang akan melihat proses panjang pengangkutan korban. Untuk mewujudkannya, mereka hanya bisa menyediakan waktu beberapa jam di malam hari, sebelum bandara itu sibuk lagi nantinya.


Segala proses pengangkutan harus berjalan cepat. Dan Duke telah merencanakan semuanya dengan detail.


Duke telah meminta Seema untuk membeli helikopter pengangkut yang paling besar untuk mempermudah segalanya.


Helikopter akan bisa mengangkut korban dari Wales secara langsung menuju ke Anchorage. Dari sana, Duke sudah menyiagakan seluruh Jet Monath dan juga pesawat Air Bus Oscar, yang akan mengangkut semuanya ke Quebec.


Dan Seema menurutinya dalam waktu singkat. Segala perizinan yang dibutuhkan, diurus dengan bayaran tinggi.


Seema menyiapkan tiga unit helikopter jenis Mi 26, yang bisa mengangkut jumlah korban paling banyak. Tiga Helikopter itu bergantian membawa korban dari Wales ke bandara ini.


Duke memutuskan untuk membawa semua inhumane dengan luka yang sangat berat ke rumah sakit pack. Luka mereka terlalu aneh jika sampai terlihat di rumah sakit Monath di Quebec, tempat dia menempatkan imperfect dan Hunter.


Dan dokter Sidra langsung setuju, karena dengan begitu, dia bisa melakukan perawatan dengan bebas, tanpa perlu berpura-pura menjadi manusia.


Setelah mengirim korban terluka, Duke juga masih akan menggunakan helikopter itu untuk mengangkut semua korban tewas.


Untuk korban dari pihak musuh, yang masih memiliki bentuk tubuh dan belum terbakar, Duke mengerahkan omega dan warrior yang tersisa untuk membereskan.


Sedangkan korban dari pasukan Aliansi, semuanya akan dimakamkan di tanah Blackmoon.


Kecuali Urtzi dan Magena. Duke sebisa mungkin akan mengirim mereka pulang bersama dengan para warrior yang telah pulih. Warga pack akan membutuhkan jenazah untuk upacara dan lainnya.


Dia juga akan mengirim jenazah Shashi pulang bersama Kamaria, dan berharap itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Kamaria.


Duke melirik jam digital merah yang mengedip di dinding bandara. Waktu yang diberikan Seema hanya tersisa sekitar satu jam lagi. Setelah ini, bandara akan kembali diisi pegawai manusia.


Helikopter yang ditunggunya adalah kloter terakhir dan sedang mengangkut apapun yang masih tersisa di Wales.


Setelah melakukan dua kali perjalanan, hanya tinggal omega, warrior yang sehat, dan tidak ketinggalan Dihyan, Pyre, Oulam dan juga Faust berada di rombongan itu.


Mereka semua menolak untuk ikut di rombongan sebelumnya, karena sama-sama menganggap luka mereka tidak membahayakan nyawa.


Begitu helikopter itu sampai, bersama dengan penumpang terakhir itu, Duke dan juga Lui akan kembali ke Quebec menggunakan dua jet Monath yang tersisa.


Dengan begitu semua urusan di sini akan selesai. Duke bisa langsung kembali ke pack dan mengurus segala kerepotan yang ada di sana.


Semua urusan di Quebec telah diserahkannya pada Seema, dan itu cukup. Seema sangat terampil seperti Rex. Keberadaannya hampir menutupi absennya El dan Rex secara bersamaan.


"Tenanglah, mereka akan datang sebentar lagi" kata Lui.


Lui menarik tangan Duke agar duduk. Dia sudah melihatnya gelisah berjam-jam, dan ingin membuatnya lebih santai. Mereka hanya harus menunggu satu penerbangan lagi, Duke tidak perlu setegang itu.


Duke tersenyum dan menghempas diri di sofa. Dengan letih dia menyandarkan kepala pada pundak Lui yang sehat. Bahu Lui yang sebelah, masih dalam proses penyembuhan.


"Menjadi Alpha luar biasa melelahkan. Bagaimana denganmu? Apa kau menikmati peran sebagai Zhena hari ini?" tanyanya, sambil merangkup kedua tangan Lui dengan tangan kirinya.


"Melelahkan---tapi setidaknya kita menang" Lui tersenyum kecil.


Lui bertugas menyeleksi siapa saja yang akan dibawa ke rumah sakit pack, dan mana yang akan di tinggalkan di Quebec. Hal ini mudah untuk Lui, karena dia tahu benar, luka seperti apa yang pantas berada di rumah sakit manusia.


Tapi setelah melihat begitu banyak luka dan darah, Lui tentu saja letih dan ingin membaringkan badan, barang sejenak. Untuk membuat bayangan mengerikan peperangan menjadi mimpi, jika dia bisa.


Lui masih tidak bisa percaya,  dia bisa bertahan melihat semua kucuran darah dan juga anggota tubuh melayang. Lui masih merasa ngeri dan mual, tapi setidaknya dia tidak pingsan.


Mungkin Roan benar, kekuatan elf memberinya nyali yang sedikit lebih besar.


"Aku akan membawa kemanapun yang kau inginkan, setelah semua ini selesai. Kemanapun!" Duke mengangkat tangan Lui dan menciumnya.


Tentu saja dia tahu keletihan Lui, karena dia sendiri juga merasakan hal yang sama.


"Kemanapun?"


Duke mengangguk, "Kau lupa kita belum berbulan madu?"


"Oh.... apakah kita boleh pergi begitu saja meninggalkan pack?" Lui mengernyit tak percaya.


"Tentu saja, tapi mungkin tidak dalam waktu dekat" Duke tersenyum menyesal.


"Sudah kuduga. Jangan khawatir, aku tidak membutuhkan liburan saat ini. Tidur dan mandi air hangat akan cukup membuatku pulih" kata Lui.


Duke membahas perjalanan itu karena melihatnya lelah. Tapi ajakannya tidak realistis. Mereka akan dihujani dengan tugas baru, begitu sampai di Blackmoon.


"Mandi air hangat adalah ide bagus. Aku akan menemanimu " Nada suara Duke sudah berubah jahil.


Lui memberi cubitan kecil di pipi Duke yang tidak terluka.


Tebakan Duke sangat tepat, Lui tidak keberatan dengan luka itu. Menurut Lui, bekas luka itu tidak mengurangi ketampanan Duke. Malah menurutnya, Duke terlihat lebih mempesona.


Tapi Lui tak berencana mengatakannya pada Duke tentu saja. Rasa percaya dirinya yang sudah hampir menyentuh langit, tidak perlu ditambah lagi.


 


"Lui!!"


Seruan penuh rasa lega itu, membuat mereka terlonjak. Semua werewolf yang ada di sekitar mereka, tidak mungkin memanggilnya Lui.


"Oscar!!"


Lui terkesiap saat melihat sosok yang berlari kecil menghampirinya. Oscar menghampirinya dan memeluk Lui dengan lega.


Lui meringis menahan sakit saat Oscar tanpa sengaja menekan bagian luka di bahunya. Tapi dia tidak berkata apapun, untuk menghindari amarah Oscar.


"Bagaimana kau bisa kesini?" tanya Duke, sambil menyingkirkan tangan Oscar dari bahu Lui yang terluka.


Duke harus bertanya, karena tidak seharusnya manusia bisa masuk ke dalam bandara saat ini.


"Dia mengenali wajahku, dan mengizinkanku masuk" kata Osar, sambil menunjuk ke arah Farjad yang sedang berdiri tidak jauh di belakangnya.


Duke mengangguk mengerti. Itu berarti dia tidak perlu mengkhawatirkan keamanan yang bocor.


"Kau terluka?" tanyanya pada Lui.


Oscar langsung tahu begitu Duke menyingkirkan tangannya tadi.


"Hanya sedikit tergores"


Lui tidak berbohong, tapi goresan kuku werewolf sebenarnya tidak bisa dikategorikan sebagai 'sedikit'.


Oscar memandangnya curiga, tapi dia memilih untuk mengalihkan amarahnya pada Duke.


"Anjing bodoh! Kau bahkan tidak becus menjaganya" umpatnya.


"Oscar!!"


Lui berseru lelah, dia tidak ingin mendengar pertengkaran konyol mereka lagi. Dan Duke tahu, karena itu dia hanya tersenyum masam, tidak menanggapi amarah Oscar.


Akhirnya Oscar hanya bisa memberengut, karena tidak mendapatkan perlawanan seperti yang diinginkan.


"Jadi bagaimana? Apakah semuanya selesai?" tanya Oscar, dengan nada lebih netral.


"Ya.... kami mengakhiri semuanya" jawab Duke, dengan mantap.


Duke memandang Lui yang kini juga tersenyum mendengar jawabanya,


"Kami?" Oscar heran dengan penyebutan kami.


"Bee berjasa besar dalam peperangan ini. Tanpa dirinya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kami bisa menang kemarin" jawab Duke, sambil mengelus pipi Lui dengan bangga.


Dia mungkin membenci fakta Lui harus terlibat perang ini, tapi usaha Lui adalah satu diantara sekian banyak faktor penunjang kemenangan mereka. Duke tidak akan mengingkarinya.


Oscar masih terlihat tidak puas dengan keterangan itu. Lui akhirnya menceritakan versi singkat bagaimana dia membantu pasukan aliansi kemarin.


Duke hanya mendengarkan, sambil sesekali melirik jam. Waktu yang disediakan Seema hanya tersisa 35 menit. Seharusnya mereka berangkat sekarang. Tapi penumpang yang ditunggunya belum juga terlihat


"Kenapa kalian hanya berdua? Dimana yang lain?" Oscar melihat sekitar dengan heran.


Dia pasti tidak terbiasa melihat Duke tanpa kehadiran El atau Roan.


"El terluka parah, begitu juga Roan" jawab Lui.


Sengaja menghindari nama Myra. Dia tidak ingin kehilangan sedikit senyum Duke.


"DIMANA!!!?"


Oscar tiba-tiba berdiri dengan panik.


Duke sampai mengalihkan perhatiannya dari jam, dan menoleh melihatnya.


Poker face yang selama ini dibanggakan oleh Oscar, hancur tidak bersisa. Wajahnya menunjukkan kepanikan murni.


"Siapa?" Lui bertanya dengan bingung. Dia tidak mengerti apa yang membuat Oscar tiba-tiba panik.


"Roan! Dimana dia sekarang?' ulang Oscar, tidak sabar melihat mereka berdua memandangnya dengan wajah terpana.


"Quebec. Dia ada di rumah sakit Monath" jawab Lui, tapi dia masih tidak bisa menerjemahkan kepanikan Oscar.


Tulang punggung Roan patah, dan jika manusia biasa yang mengalaminya, sudah pasti akan mengalami kelumpuhan total. Tapi Dr. Sidra menjamin dia akan baik-baik saja.


Karena itu, Lui mengirimnya ke rumah sakit Monath. Rumah sakit pack yang tidak seberapa besar sudah kehabisan tempat.


Luka Roan sedikit tidak manusiawi, tapi dengan rekayasa rekam medis, dia akan lolos seperti pasien manusia biasa.


Dengan secepat kilat Oscar menarik ponsel, "Tony, aku harus segera terbang ke Quebec. Segera urus semua dokumennya. Saat ini juga!!"


Oscar mengakhiri panggilannya dengan brutal.


"Jika kau ingin ke Quebec, kau boleh ikut kami. Kami hanya tinggal menunggu beberapa orang lagi"


Duke menawarkan jalan yang termudah. Satu penumpang tambahan tidak akan menjadi masalah, karena mereka semua terbang dengan ilegal. Oscar tidak perlu mengurus perizinan apapun.


"Tapi kenapa?" Lui akhirnya bisa bertanya, setelah kepanikan Oscar terlihat sedikit surut mendengar tawaran Duke.


"Eh......"


Terlihat jelas Oscar sedang berusaha menghindar. Dengan sangat kentara ia menghindari mata Lui dan juga Duke.


Dan satu utas kenangan tersambung di kepala Duke.


"Kau---!! Kau adalah hal yang coba disembunyikan oleh Roan?" serunya, tidak percaya.


Roan suka mengumpat, tapi kebiasaan mengumpatnya akhir-akhir ini telah melampaui batas wajar. Duke tentu saja curiga, tapi dia tak sempat memikirkannya karena semua keriuhan perang.


Tapi sekarang semua jelas, umpatan itu untuk menyembunyikan apapun yang berkaitan dengan Oscar.


Duke juga kembali teringat sikap aneh Oscar, saat dia mendengar Roan akan ikut berperang. Saat itu pikiran Duke penuh kekhawatiran soal Lui, jadi dia melewatkan petunjuk sebesar itu.


Tapi kini semuanya jelas, apalagi sekarang Duke bisa melihat bagaimana wajah Oscar bersemu merah.


Duke melihatnya dengan takjub, karena menurutnya pemandangan ini lebih langka daripada penampakan panda di alam liar.


Dan jelas Lui juga berpikiran sama.


Mulutnya ternganga lebar, dia tentu saja mengingat bagaimana Roan mengancamnya saat mereka bersama Sorrel.


Dia sama sekali tidak tahu hal apa yang ingin disembunyikan Roan dari Sorrel. Ternyata hal itu adalah Oscar.


Lui juga tidak menduga jika pertanyaan iseng Oscar, soal Roan saat dia menikah dulu, akan berujung pada hubungan seperti ini. Dia tidak pernah membayangkannya!


Tapi Oscar terselamatkan dari pertanyaan lanjutan, oleh kedatangan Faust. Sosoknya terlihat berjalan pincang memasuki bandara.


Penumpang yang ditunggu telah sampai. Waktu yang ada hanya tersisa 15 menit.


Mereka harus segera berangkat!!


Mengabaikan protes Lui yang ingin bertanya panjang lebar pada Oscar, Duke menariknya menuju hanggar.


Oscar terlihat ingin sekali menolak tawaran Duke, tapi bayangan Roan yang sedang sakit membuatnya menyerah.


Dengan nafas berat, Oscar mengikuti langkah Duke menuju hanggar tempat jet Monath terparkir.