
Aroma masakan yang menyebar dari arah dapur, dengan otomatis membuat beberapa pintu di Manor terbuka saat menciumnya.
Werewolf tidak pernah menahan diri dari makanan lezat. Itu berlaku bagi semuanya, tanpa peduli berasal dari mana.
El bergegas menaiki tangga menuju lantai dua dan berhenti di depan pintu kamar Duke.
"....dan kau pasti tidak akan percaya, Mom akhirnya malah mengundang mereka untuk makan di Manor. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana aku harus menjelaskan hal itu pada werewolf yang lain"
Suara Duke yang sedang berbicara pelan menembus pintu.
Duke sedang melakukan kebiasaan anehnya, yaitu berbicara pada Lui yang sedang koma. El tidak heran, dia sudah terbiasa melihatnya dulu.
El sebenarnya malas untuk mengganggu, tapi dia juga tidak ingin berada dalam situasi sulit sendirian. Menjelaskan keberadaan 3 manusia di meja makan bukan hal yang mudah.
Tadi malam saja, dia melihat bagaimana saat menjamu Levana, mata abu-abu Kamaria dan Shashi akhirnya menancap ke arah pintu ini.
Mereka tentu mencium aroma Lui, tapi memutuskan untuk tidak bertanya. Duke juga melihat hal itu, tapi tidak berkeinginan untuk menjelaskan.
Pack berikutnya yang datang adalah Shavarana. Mereka tidak terlihat menyadari keberadaan Lui, tapi bukan berarti mereka tidak tahu. Bisa saja mereka hanya bersopan santun. Pack Celaine yang datang setelahnya juga bersikap sama.
Dengan bayangan tidak menyenangkan itu, El membuka pintu dan melongok ke dalam.
Duke sedang berbaring miring di sebelah Lui sambil membelai pelan tangannya yang pucat. Oscar dan Alva sedang duduk di sofa, tekun membaca buku Alva yang kemarin tiba.
Oscar sama sekali buta tentang ilmu sihir, tapi itu tidak menghentikannya untuk membaca buku-buku milik Alva. Berharap akan menemukan cara untuk membuat Lui bangun. Dia hanya mendongak sebentar mendengar suara pintu terbuka, lalu pandangannya kembali ke arah buku.
Duke yang melihat El di pintu, bangun dari ranjang dan menghampirinya.
"Sarapan sudah siap, dan untuk sopannya kau tentu harus ada di sana" kata El.
"Hmpp... bilang saja kau tidak ingin sendirian menghadapi mereka" dengus Duke, sambil masuk ke dalam lemari untuk berganti baju
"Yup, kenapa aku harus mengerjakan pekerjaan Alpha sementara kau ada?" balasnya dengan lelah.
Duke keluar kamar sambil menggerutu panjang pendek, tapi tidak membantah.
"Di mana Mom?" tanyanya dengan heran, biasanya Myra yang ke atas untuk memanggilnya makan.
"Aunt Myra sedang memanggil manusia yang ada di rumahku" El tersenyum gugup, menyusul Duke menuruni tangga.
Pendapatnya sama dengan Duke, menurutnya ide mengundang tiga manusia ke meja makan sangat buruk.
Mereka kemudian menuruni tangga dengan cepat, tidak ingin membuat tamu mereka menunggu.
Di sudut matanya, Duke melihat Aygul dan Arana menghampirinya.
Mereka sudah berganti baju dengan menggunakan pakaian mereka sendiri. Pakaian mereka terlihat sangat mencolok di mata Duke, karena warnanya yang tajam.
Di belakangnya Kamaria mendahului duduk di sofa ruang tengah setelah sebelumnya menyambar secangkir kopi dari meja.
"Pagi Duke! Aku senang kau akhirnya muncul. Aku mengira aku harus makan dengan werewolf asing sendirian" Sapa Aygul, sambil menduduki sofa di hadapan Kamaria.
Arana tersenyum ramah, kemudian mengikuti suaminya duduk.
"Kau tidak akan sendirian, akan ada beberapa tamu yang tak diharapkan sebentar lagi" kata Duke, juga meraih secangkir kopi yang tersedia di meja kemudian duduk di satu satunya tempat yang tersisa, di sebelah Kamaria.
Wajah Kamaria yang langsung berbinar puas, luput dari perhatian Duke, karena dia tidak peduli dengannya sedikitpun.
Tapi tidak dengan Arana, dia melihat Kamaria,dengan mata menyipit. Dia tahu saat itu juga apa yang terjadi padanya.
Aygul mengangkat bahu mendengar ucapan Duke, "Aku suka kejutan" katanya.
Duke hanya tersenyum mendengarnya. Dia senang Aygul menuruti permintaannya untuk bersikap santai, Duke hanya berharap kemungkinan mereka bertarung akan lebih kecil jika mereka bersikap lebih akrab.
Tapi Alpha yang lain masih sangat kaku dan memanggilnya Alpha Theobald, walaupun dia telah meminta mereka untuk memanggilnya Duke.
Duke sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Karena Werewolf sangat teritorial. Jika dua Alpha berada dalam satu wilayah, biasanya akan terjadi pertumpahan darah.
Hanya karena pergaulannya dengan manusia, Duke dengan mudah menahan insting itu. Dan melihat sikap Aygul, kemungkinan besar dia juga sama. Tapi 2 Alpha yang berbeda, Duke bisa melihat mereka berusaha keras bersikap lebih beradab.
Dan kemudian ada satu Beta siewolf yang tanpa diminta oleh Duke untuk bersikap santai, saat ini menggeser posisinya sehingga nyaris menempel pada Duke.
"Apakah kau tidak akan mengajakku berkeliling ke sekitar Manor? Aku penasaran sekali dengan pemandangan disini" katanya dengan nada manja merayu yang membuat Duke merinding.
Jika tidak mengingat dia sedang menggelar pertemuan damai dengannya, Duke ingin sekali bergeser menjauh saat itu juga.
Tapi demi sopan santun, Duke tersenyum " Maaf, tapi jadwalku sangat padat, Kamaria. Aku akan meminta El untuk mengajakmu berkeliling" kata Duke, dengan nada seramah mungkin.
Perkataan dan nada Kamaria sama sekali tidak cocok dengan aura penguasa yang ada di dirinya. Duke menjadi bingung sekarang.
"Oh.. Panggil saja aku Aria. Dan jangan menyuruh El, aku ingin kau yang mengantarku" rengeknya, lengkap dengan tangan yang sekarang menarik Duke penuh paksaan.
Arana melihat pemandangan itu dengan jengkel. Kamaria pasti tahu Duke telaj memiliki Zhena, berani sekali dia menggodanya secara terang-terangan.
"Tidak Aria. Maaf. Dan lagi pula sebentar lagi waktunya sarapan"
Duke mulai sedikit bergeser menjauh dan melepaskan cengkeraman Kamaria di tangannya, tapi tidak berguna, karena dia terus mengikutinya bergeser juga. Mustahil lari dari belitan Kamaria.
Untunglah, bantuan datang semenit kemudian. Aroma Myra yang sejak tadi ditunggunya mendekat.
"Masuklah!" suara Myra yang ceria, terdengar dari pintu depan.
Diikuti oleh langkah tiga pasang kaki yang canggung. Myra menggiring mereka memasuki Manor. Aygul dan Arana segera mengernyitkan dahi.
"Siapa mereka?" Arana langsung bangun, sambil menatap mereka dengan penasaran, ketika rombongan itu telah memasuki jarak pandangnya.
"Mereka manusia yang datang bersama clan Vampire" jelas Duke pelan, yang segera dimengerti oleh Aygul.
Tapi Arana butuh sedikit penjelasan lagi. "Heh... Apa---oh mereka manusia yang menyediakan darah untuk vampire!!!" serunya.
Tanpa berusaha menurunkan volume untuk bersopan santun.
"Arana!" Aygul menegur pelan dan menariknya duduk kembali.
Kelemahan Aygul hanya satu, yaitu istrinya yang terlalu antusias dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
Kamaria saat itu hanya memandang mereka tanpa bersuara, matanya dipenuhi rasa ingin tahu, tapi mulutnya terkunci.
"Ya, kau benar" Duke akhirnya masa bodoh karena memikirkan hal ini terlalu keras.
Duke yakin seluruh werewolf yang ada di ruang makan mendengar seruan Arana tadi. Setidaknya dia tidak harus bersusah payah menjelaskan lagi.
Duke memberi isyarat pada Aygul, Arana dan Kamaria untuk masuk ke ruang makan, yang telah dihuni oleh seluruh tamu Manor.
Mata mereka semua terarah kepada ketiga manusia yang kini berdiri canggung menerima semua perhatian itu.
"Bagaimana kalian bisa serendah ini, hingga mau menjadi sumber makanan bagi makhluk keji itu?" Alpha Rigel dari Celaine mendesis dengan jijik.
Tiga manusia yang baru saja meletakkan badan mereka di kursi, seketika membeku.
Satu-satunya wanita yang ada di kelompok itu langsung menunduk, tidak mampu menatap ke depan, tapi dua orang pria dengan berani mencoba menatap Rigel.
"Yang menjadi alasan utama adalah uang tentu saja. Mereka membayar kami dalam jumlah yang lumayan" kata pria bertubuh kekar yang dipanggil Barclay oleh Arkin.
"Jadi kami menganggap ini adalah pekerjaan" Barclay melanjutkan.
"Aku akan sangat menghargai jika kita semua bisa melewati sarapan ini dengan tenang. Dan Alpha Rigel, saya harap anda menghormati tamu saya" kata Duke, habis kesabaran.
Dia bersedia menjadi tuan rumah pertemuan ini bukan untuk melihat debat kusir tentang sesuatu yang tidak dipedulikannya.
Alpha Rigel terlihat sangat murka tapi istrinya yang duduk disebelah, berbisik pelan dan akhirnya dia tenang. Perempuan yang tadi menunduk sekarang melirik Duke dengan mata penuh terima kasih.
"Jadi kau setuju dengan semua ini Alpha Theobald?" tanya Alpha Urtzi dari Shavarani sambil menatap Duke dengan tajam.
"Tentu saja tidak. Aku juga menganggapnya menjijikkan. Tapi mengingat itu adalah jalan satu-satunya agar mereka bisa makan selain membunuh, aku akan membiarkannya" jawaban Duke, segera membungkam segala amarah Rigel.
Dia akhirnya hanya mendengus dan kembali memandang piring. Alpha Urtzi mengangguk pelan, menyetujui pendapatnya.
Wanita yang tadi berterimakasih pada Duke, pias mendengar kata-katanya. Dia salah menduga Duke akan membelanya.
Sementara Kamaria tersenyum puas melihat bagaimana cara Duke mengatasi masalah.
Tidak diragukan lagi, Kamaria semakin menginginkan Duke yang terlihat sangat sempurna di matanya.
Kabar Duke yang sudah memiliki Zhena tidak membuatnya mundur, apalagi dia tidak melihat sedikitpun sosok Zhena semenjak datang kesini.
Suasana sarapan menjadi dingin dan canggung setelah semua argumen itu, sesuai dengan perkiraan Duke.
Myra memandangnya dengan mata meminta maaf, dia tidak berpikir sejauh itu ketika mengundang mereka makan bersama kemarin.
Yang paling Duke inginkan saat ini adalah agar matahari cepat terbenam, sehingga pertemuan terkutuk itu bisa segera di mulai.
-----////-----
Pack paling akhir yang datang adalah Pack Moonrise, pack kecil tempat asal Myra.
Yang menjadi Alpha di pack itu setelah Myra menjadi Zhena di Blackmoon, adalah Jacy Kalani, paman dari Myra.
Rombongan dari Moonrise datang pada senja hari dengan membawa tiga werewolf. Myra sangat gembira ketika akhirnya bisa bertemu keluarganya setelah sekian lama.
"Kau semakin cantik keponakan" kata Jacy melihat rambut putih Myra. Tawa Myra berderai mendengar hal itu.
Jacy kemudian memberi pelukan hangat pada Duke yang di balasnya dengan canggung.
Dia belum pernah bertemu Jacy sebelum ini. "Sayang sekali kau terlalu mirip dengan Owen" katanya sambil memandang wajah Duke.
Duke hanya tersenyum mendengar itu, bingung, apakah kalimat itu adalah pujian atau bukan.
Myra langsung mengajaknya masuk ke Manor, sedangkan Duke kembali keluar, karena rombongan Hunter akan datang.
Dan benar, tidak lama, mobil mereka mendekat ke gerbang Manor.
"Abel!" Duke menyapa hangat Abel yang turun dari mobil, sampai-sampai Abel berhenti melangkah karena terkejut.
Duke jarang beramah-tamah. Tapi karena ketegangan yang sedari tadi terjadi di Manor, Duke merasa lega bertemu seseorang yang tidak berpotensi mengajaknya bertarung, selain Jacy tentu saja.
"Kau terlihat buruk" kata Abel sambil memandang Duke dengan heran.
Seharusnya Duke akan berbinar gembira setelah menikah, tapi justru Abel merasakan kesedihan dan putus asa.
"Ceritanya panjang" kata Duke, tanpa bermaksud untuk bercerita.
"Jika itu maumu" kata Abel sambil menepuk punggungnya.
Di belakang Abel, muncul Faust dan juga seorang Hunter yang beraroma matahari dan buah plum, tapi bau obat-obatan mengalahkan aroma itu. Ketika melihat tangan yang terbebat perban, Duke bisa menebak asal aroma obat itu.
"Kau---" Duke mengenali hunter itu.
Dia adalah hunter yang menunggang di punggungnya beberapa hari yang lalu. Hunter itu menunduk hormat pada Duke.
"Dia memaksa untuk ikut karena ingin berterima kasih padamu" kata Abel sambil mengusap bahu hunter muda itu.
"No need" sahut Duke pendek. Dia hanya melakukan hal yang memang sudah seharusnya.
"Apapun itu, anda telah menyelamatkan nyawa saya" katanya, sambil memandang Duke dengan berani.
Sangat jarang ada manusia yang berani beradu pandang dengan Duke. Selain karena warna matanya yang tidak biasa, aura yang dipancarkan Duke biasanya membuat mereka takut.
"Siapa namamu?" tanya Duke, dengan tertarik.
"Lael Maaz" jawabnya dengan mata berbinar gembira, karena akhirnya bisa berbicara sedikit panjang dengan Duke.
Semenjak bertemu Duke, Lael sudah sangat kagum dengan apa yang ada pada Duke, dan tentu saja Abel tahu. Karena itu dia membawanya ke sini.
Duke mengulurkan tangan yang segera disambut Lael dengan sukacita.
Abel tersenyum melihat itu, bukan hal aneh jika Duke memiliki penggemar.
Selain menarik musuh, kekuatan Duke juga akan mendatangkan banyak pengagum. Tapi tidak dengan Faust, wajahnya mengernyit tidak suka melihat kejadian tadi. Dia terlihat lega, saat rombongan itu mulai berjalan.
Duke tidak membawa Abel ke Manor, tapi langsung menuju ke tempat pertemuan itu berlangsung, yaitu perpustakaan pack.
Bangunan itu dipilih karena ukurannya yang cukup besar untuk bisa menampung seluruh tamu. El telah mengatur agar beberapa rak buku digeser menjadi berdekatan sehingga ada ruangan kosong besar di tengah-tengah,
Di sana telah duduk Aygul, Akhtar, dan juga Urtzi bersama dengan Zhena-nya, Magena.
Mereka masing-masing membawa sebuah buku dan sedang membaca dengan tekun, atau mungkin berpura-pura tekun. Karena perhatian mereka langsung beralih ketika rombongan Duke mendekat.
Aygul mengangkat wajah saat Abel masuk ke ruangan, senyum lebarnya merekah dengan cerah.
"Abel Franklyn---- senang bertemu lagi denganmu, kawan" katanya tanpa ragu memeluk Abel dengan hangat.
Wajah Faust yang sudah sangat menyeramkan, semakin berkerut melihat pemandangan itu.
"Faust--- kau tidak ingin memelukku?" tanya Aygul, langsung begitu melihatnya, sambil merentangkan tangannya lebar-lebar.
Dari sikapnya Duke memperkirakan dia sudah mengenal Faust sebelumnya.
Tapi Faust menjawab permintaan Aygul dengan acungan jari tengah nan cantik.
"Sepatah kata lagi tentang masa kecilku, aku akan menembak kakimu tanpa ragu" kata Faust, kejam.
"Baiklah--baiklah" Aygul tampak masih menyayangi kakinya, hingga dia melambai menyerah dan menyusul Abel yang sedang beramah-tamah dengan Alpha Urtzi.
Setelah itu, silih berganti Alpha yang datang. Urutan berikutnya adalah Beta Kamaria dan Shashi.
Kamaria tanpa basa-basi menempatkan diri di sebelah Duke yang kebetulan masih kosong.Dia mulai merasa takdir berpihak padanya.
Sedangkan Duke mendesah berat, dia menginginkan Myra yang duduk di sebelahnya.
Diapit oleh Kamaria dan Aygul sedikit berlebihan untuknya. Mereka berdua kadang terlalu banyak bicara.
Jacy dan Myra datang bersamaan. Mereka berdua juga sangat gembira melihat Abel.
Dengan mudah, mereka bertiga tenggelam dalam nostalgia pertarungan di Moonrise dua dekade yang lalu.
Mereka semua menyapa Abel dengan hangat.
Duke semakin penasaran dengan Abel. Apa sebenarnya yang sudah dilakukannya selama ini? Dia tidak hanya berteman dengan Ayahnya, tapi seluruh Alpha yang ada di sini. Bagaimana dia bisa mendekati Rigel yang sangat kaku itu?
Sosok yang muncul berikutnya, menjadi kejutan untuk Duke, Alva berjalan pelan memasuki perpustakaan.
Duke memandangnya dengan mata bertanya, Alva hanya memberinya anggukan sambil melihat ke arah Abel. Rupanya Abel yang membujuknya.
Alva kemudian duduk di sebelah kanan Myra dan melihat kosong ke depan, menandakan kemalasannya untuk berada disini.
"Coming" desis Duke pelan, sambil memandang ke pintu.
"Siapa?" Akhtar yang duduk di sebelah Aygul, ikut memandang ke pintu.
"Darah" jawab Duke sambil mengerutkan hidungnya.
Aygul menarik nafas kemudian memandang Duke.
"Kau sudah mencium baunya?" tanya Aygul, sekali lagi menarik nafas.
Jarak perpustakaan ini dan rumah El cukup jauh. Para Alpha yang lain yang mendengar percakapan itu melakukan hal yang sama, tapi seperti Aygul, mereka belum menangkap aroma vampire.
"Hidung Duke lebih sensitif dari werewolf biasa, jarak tangkap hidungnya lebih jauh dari kalian" kata Abel dengan ceria.
Dia tidak bermaksud buruk, tapi dengan segera suasana berubah menjadi sedikit tegang. Satu Alpha yang lebih kuat dari yang lain? Itu sama dengan undangan pertarungan.
Bahkan Aygul mengeratkan tangan untuk mencegah instingnya mengambil alih. Kecuali Jacy, dia hanya tersenyum kecil memandang Duke. Dia tahu pasti bagaimana kekuatan Duke, dan tidak ingin mempermalukan diri sendiri dengan menantangnya.
Duke dengan otomatis merasakan ketegangan di udara dan menggeram rendah di tenggorokan, dia akan senang hati menyambut tantangan mereka. Mungkin itu akan ampuh untuk menjernihkan pikiran suntuknya.
Beberapa menit berlalu tanpa suara. Mereka semua berusaha menahan sifat liar yang berusaha mengambil alih.
Faust juga merasakan itu, dia mengelus pinggang tempat pistolnya terselip, bersiap untuk kemungkinan terburuk.
"Good evening!" Suara berat Oulam memecah kesunyian dan memutuskan ketegangan di udara.
"Evening Oulam, Arkin" Abel yang pertama kali berbicara. Dia berdiri dan menyambut mereka berdua dengan jabatan tangan.
"Kalian hanya berdua?" tanya Abel, sambil melirik ke pintu. Berharap ada vampire lain yang datang.
"Ya, mereka terlalu tegang untuk bertemu dengan darah baru" kata Arkin dengan dingin. Dia menjabat tangan Abel, tapi tidak tersenyum.
"Duduklah" Abel menunjuk kursi kosong dan mereka duduk.
Ketegangan yang terbentuk antara sesama werewolves tadi, berganti dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Mereka memiliki musuh yang sama, vampire!
Dengan santai Abel memperkenalkan mereka satu demi satu. Duke, Kamaria dan Aygul memberi anggukan demi sopan santun, ketika Abel menyebut nama Arkin dan Oulam. Tapi Urtzi dan Rigel hanya berkedip.
Dengan sifatnya yang lebih santai, Oulam tidak mempermasalahkan hal itu, tapi Arkin tidak. Wajahnya menandakan dia tidak menyukai sambutan dingin itu, tapi Arkin menahan diri dan kemudian mengalihkan pandangan ke tempat lain.
Abel memperkenalkan Alva hanya dengan menyebut namanya, tentu saja beberapa Alpha sedikit heran.
Tapi Aygul memberi tatapan mengerti, absennya aroma dan minimnya tanda kehidupan Alva, cukup menjelaskan siapa Alva.
Abel menyadari semua ketegangan itu dengan senyum maklum. Dia tahu ini bukan pekerjaan yang mudah. Setidaknya tidak ada cakar yang keluar malam ini.
"Baiklah, kita semua sudah berkumpul, jadi aku nyatakan pertemuan ini dimulai" kara Abel, dengan nada meninggi. Berusaha membuat suasana lebih hidup.
Semua memandangnya, tapi tidak satupun memberi reaksi, maka Abel melanjutkan.
"Seperti yang kita tahu, kelompok ini dibentuk karena ancaman satu vampire yang mempunyai cita-cita liar untuk membunuh seluruh umat manusia" katanya. Dia lega karena beberapa kepala memberikan reaksi dengan anggukan.
"Pertemuan ini selain untuk membahas bagaimana kekuatan pasukan Crispin, juga untuk menegaskan jika kita semua yang ada di ruangan ini akan berada dalam sisi yang sama saat perang terjadi" tambahnya dengan nada yang lebih serius.
Isu ini yang paling penting, sedikit percikan abu pengkhianatan, akan membuat mereka terbakar habis.
"Aku ingin tahu alasan apa yang membuat kalian ingin melawan Crispin. Hal yang ditawarkannya sangat menggiurkan" Urtzi menyela Abel.
Dia tidak mengatakan secara spesifik, tapi semua yang ada di ruangan itu tahu, dia bertanya pada Arkin dan juga Oulam.
"Oh, alasan kami sangat simple. Kami tidak akan bisa hidup tanpa manusia. Jika rencana Crispin untuk membunuh semua manusia, itu berarti kami akan kelaparan" Oulam menjawab dengan nada ringan.
Ini masuk akal, tapi itu hanya gurauan tentu saja. Crispin tidak akan sebodoh itu dengan membantai makanannya sendiri sampai tidak bersisa.
"Dan kau pikir kami akan percaya?!" bentak Rigel, kesal melihat gaya santai Oulam.
"Lam! Kau tidak bisa bercanda pada saat seperti ini" Abel menegur pelan. Oulam hanya mengangkat bahu, sambil melirik Arkin.
Arkin menegakkan duduknya, lalu meletakkan tangannya yang pucat di meja.
"Crispin adalah vampire, tapi dia telah melakukan hal yang paling menjijikkan yaitu meminun darah inhumane yang terlarang. Selain itu dia juga tidak ragu untuk meruntuhkan clan vampire lain yang telah berumur ratusan tahun. Dengan kata lain, dia adalah sampah yang harus kami bersihkan. Sebenarnya kami lebih suka membersihkannya sendiri, tapi kami tahu sampah itu telah menjadi jauh lebih kuat, lebih dari pada yang bisa kami bayangkan"
Suara Arkin mungkin lebih jernih dari Oulam, tapi kematangan dan ketenangan membuat semua yang duduk mendengarkannya tanpa membantah.
Rigel dan Urtzi menatap mereka dengan mata yang masih meragu, karena memang akan sangat berbahaya jika para vampire berpindah haluan.
Tapi bagi Duke itu cukup, dia akan menghabisi mereka tanpa berpikir panjang, jika pada akhirnya mereka memilih untuk berkhianat, semudah itu. Kekuatannya akan mengatasi mereka dengan mudah. Kekuatan yang tidak dimiliki oleh Alpha lain.
"Untuk aku, karena aku sangat menikmati kehidupanku saat ini. Aku tidak menginginkan ada peperangan bodoh yang akan membuatku susah" sahut Aygul, mengemukakan alasannya bergabung dengan sisi ini.
Tidak ada yang bertanya kepadanya. Aygul mengambil sikap itu, semata agar para Vampire tidak merasa terpojok atas pertanyaan Urtzi.
Sikapnya sesantai Oulam, membuat Duke berpikir mereka berdua ada disini hanya karena ingin bertarung.
"Aku ingin melindungi Pack Levana, jumlah kami yang tidak banyak akan semakin habis jika berperang. Aku tahu pasti manusia memiliki senjata yang mengerikan. Inhumane mungkin akan menang, tapi darah Levana terlalu berharga untuk ditumpahkan karena alasan konyol seperti itu. Kami telah hidup dengan damai selama beberapa abad" Kamaria mengemukakan alasan yang lebih mulia.
Yang tentu membuat Duke heran. Tidak terdengar lagi suara merayu dan melengking seperti tadi pagi, hanya suara seorang Alpha yang tegas. Sikapnya seperti bunglon yang berubah sesuai dengan tempatnya.
"Celaine, akan berperang membela werewolf karena alasan yang sama" kata Rigel singkat.
"Crispin telah menghancurkan pack milik keluarga istriku. Itu alasan kuat, aku rasa" Urtzi mengepalkan tangannya di meja dengan geram.
"Dia membunuh ayahku dan juga memakan jantungnya kira-kira 6 bulan yang lalu. Akan sangat menggelikan jika ada yang menganggap aku akan bergabung dengannya" jawab Duke datar, dia melirik Myra yang wajahnya mengeras menahan emosi.
Duke mengelus punggung Myra pelan, menyesal telah mengatakan sesuatu yang membuat ibunya sedih.
"I'm sorry to hear that" kata Aygul, sambil menundukkan kepala dengan simpati.
Gumaman dukacita menyebar, dan ditanggapi Myra dengan ucapan terima kasih.
"Itu berarti dia membunuh suami dari keponakanku satu-satunya. Itu alasanku ada disini" kata Jacy tiba-tiba, membuatnya kepala yang menatap Duke dan Myra berpaling.
"Well, kita semua sudah saling mengerti aku harap" kata Abel, tersenyum.
Dia tidak bertanya pada Alva, yang sedari tadi tidak menunjukan reaksi apapun. Dan jelas Alva tidak ingin menjelaskan apapun pada siapapun. Maka Abel juga mengabaikannya.
"Belum" ujar Duke tiba-tiba.
"Aku juga ingin jaminan semua Hunter ada di pihak kita" katanya tegas. Dia tidak akan lupa dengan beberapa Hunter yang dilihatnya di Lavrentiya.
Wajah Faust langsung menggelap, dia tidak ingin Duke menunjukkan keburukan Hunter di hadapan mereka, tapi mengingat apa yang dilakukan mereka pada kakaknya, Faust akhirnya diam.
"Apa maksudmu? Tentu saja Hunter ada di pihak kita!" Kamaria menyahut heran.
"Kau yang akan mengatakannya, atau aku?" Duke memberi kesempatan pada Abel untuk menjelaskan semuanya.
"Eh...baiklah" desah Abel. Terlihat dia sebenarnya juga tidak ingin membahas hal ini.
"Beberapa hari yang lalu, Duke dan juga cucuku Faustina berhasil mendekati gerombolan Crispin di Lavrentiya, disana mereka melihat beberapa Hunter pengkhianat yang bergabung dengan Crispin" jelas Abel, pelan.
Pengkhianatan itu tentu membuatnya malu.
"Kau sepertinya telah menjalani minggu yang sangat menarik Duke" bisik Aygul, dengan senyum iri.
Duke hanya tersenyum, karena Aygul benar. Mengesampingkan kematian Dom, hari itu sangat menyenangkan.
"Hah!!.... ini bukan hal baru Abel, beberapa dari kalian memang brengsek" Jacy tertawa kecil, dia teringat bagaimana Hunter membantu para penyihir menyerang pack Moonrise.
"Ya, aku mengakui itu. Tapi jangan khawatir, Hunter yang diselamatkan Duke dari sana, memberikan informasi yang lebih dari cukup untuk mengetahui siapa saja yang berkhianat. Saat ini kami telah membereskannya. Seluruh Hunter yang ada saat ini, akan bekerja keras memburu Crispin" jelas Abel dengan mantab.
"Semuanya? Dewan Tertinggi menyetujui kerjasama dengan Inhumane?" sahut Duke tak percaya, dulu Abel mengeluh mereka sangat kolot.
Pasti ada alasan kuat yang membuat mereka setuju.
"Well, mereka tidak punya pilihan lain" Abel merogoh sesuatu dari saku, dan meletakan benda kecil berbentuk bulat sebesar genggaman tangan, terbuat dari platina mengkilat.
Duke menatapnya dan melihat ukiran pistol dan pedang yang menyilang, mengapit mahkota kecil. Ada huruf kuno kecil yang mengelilingi lingkaran gambar itu. Duke mengernyit tak mengerti.
"Kau diangkat menjadi Ketua Dewan Tertinggi Hunter?" Arkin berseru kaget, mengenali benda itu.
Itu adalah plat platina, perlambang kedudukan tertinggi di jajaran Hunter.
"Ya, mulai aktif semenjak 2 hari yang lalu, mereka akhirnya mengakui jika aku hebat" kata Abel, menertawakan leluconnya sendiri.
"Kebiasaan burukmu untuk melucu di saat yang tidak tepat masih sama ternyata" Myra menggelengkan kepalanya melihat tawa Abel.
"Baiklah--baiklah. Maafkan aku" Abel memasukkan plat itu kembali kedalam mantel.
"Dengan laporan dari Lael, kami berhasil mencabut seluruh pengkhianat dari jajaran Dewan, dengan demikian aku bisa menjamin kesetiaan Hunter" katanya, dengan lebih serius.
Duke mengangguk puas sambil melihat ke arah Lael yang sedang tersenyum senang. Dia ternyata lebih berguna dari pada yang Duke perkirakan.
Duke senang perbuatannya menyelamatkan Lael tidak sia-sia. Dengan ini pula, berarti dia tidak perlu membunuh banyak manusia saat peperangan nanti.
"Apa alasan mereka bergabung dengan Crispin? Dia membunuh Hunter sebagai hiburan selama makan malam" tanya Duke, sikap mereka masih tidak masuk akal menurutnya.
"Hmmm... mereka ingin pengakuan Duke. Hunter hidup dalam bayangan, kami menjaga manusia. Tapi manusia tidak tahu mengenai keberadaan kami. Crispin menjanjikan kehidupan yang lebih normal" kata Abel dengan getir.
Fakta ini cukup menyedihkan sebenarnya, keinginan Hunter begitu sederhana, tapi itu tidak membuat mereka menjadi benar.
"Itu alasan yang sangat menyedihkan" sahut Myra, tanpa sadar menyuarakan kata hatinya.
Tubuh Faust menegang mendengarnya, tapi kemudian membuang muka.
Suasana kembali berubah suram.
Tanpa peringatan apapun, tiba-tiba Duke bangkit dengan mendadak dan memandang ke sekeliling. Membuat semua orang di ruangan itu terperangah.
"Ada apa?" Myra bertanya dengan cemas, dia tahu Duke tidak akan berbuat seperti itu tanpa alasan yang kuat.
"Ada sesuatu yang datang" kata Duke dengan gusar.
Dia tahu hal ini agak sedikit mustahil. Jika ada penyusup di pack, warrior yang dia sebar di segala penjuru pasti akan melolong. Tapi Duke tahu dengan pasti bahwa instingnya tidak akan salah.
Ada sesuatu yang menerobos sihir perlindungan pack Blackmoon!!
"Aku tidak mencium apapun" Aygul telah berdiri dan mencium udara. Kamaria, Rigel, Jacy dan Urtzi juga sama.
"Aku juga, tapi aku tidak akan salah"
Duke menghentakkan kaki dengan kesal, karena hidungnya masih tidak menangkap aroma apapun.
"Apa maksudmu Duke?" Abel mulai juga terlihat panik.
"Apa itu?" Kamaria menunjuk lantai kosong di belakang Duke.
Di sana muncul dua diagram lingkaran cahaya dengan pendar berwarna biru. Lingkaran sihir dengan simbol-simbol rumit yang tidak bisa dikenali oleh Duke.
Lingkaran itu semakin lama semakin terang.
"Itu tidak mungkin!! Tidak ada penyihir yang bisa menembus sihir pack ini" Alva berseru gusar.
Dan itu benar, sihir pelindung di pack ini telah diperkuat selama ribuan tahun. Hanya penyihir bodoh yang mencoba menembusnya. Dia akan mati kehabisan tenaga sebelum berhasil.
Tanpa banyak berpikir, Faust dan Lael menarik pistolnya keluar.
Geraman gusar terdengar dari empat Alpha dengan posisi siaga untuk bertransformasi, bahkan Arkin dan Oulam telah mengeluarkan kuku beracunnya dan bersiap melompat.
"Oh----!!" Seruan penuh rasa paham terlontar dari mulut Abel, ketika sesosok tubuh mewujud di tengah diagram cahaya itu.
Semua yang hadir menyipitkan mata karena cahaya itu semakin terang, hingga membuat pupil mereka mengecil.
Ketika cahaya itu meredup, Duke bisa melihat dengan jelas sosok yang muncul, tapi otaknya menolak untuk memproses keanehan yang dilihatnya saat ini.
Karena kata aneh saja, tidak cukup menggambarkannya.