
Aku tahu, ini salah. Tapi godaan untuk melihat Bee mengalahkan apapun resiko yang mungkin aku tanggung. Termasuk akibat dari ancaman Oscar, dan juga kemungkinan aku ditangkap karena menjadi penguntit.
Jadi, di sinilah sekarang, aku berada di cafe yang sama dan pada jam yang sama, sedang melihat Bee makan siang dengan temannya.
Id benar, hampir setiap hari Bee makan di gerai itu.
Aku menatapnya sambil tersenyum senang. Hari ini Bee datang sesuai jadwal, karena kemarin aku menunggu sampai malam, tapi Bee tak juga muncul.
Pelayan cafe ini menatapku dengan curiga kemarin karena aku berada di sini terlalu lama. Tapi karena aku memesan kurang lebih 5 cangkir kopi dan 6 gelas ice americano, serta dengan rutin pura-pura mengetik di laptop yang sekarang berada di hadapanku, akhirnya mereka menyimpulkan aku hanyalah novelist yang sedang mencari inspirasi.
Usahaku untuk menumbuhkan cambang, dan selalu memakai kacamata berlensa normal, mendukung penyamaranku, Aku juga tidak lagi mengecat semburat putih pada rambut di atas telingaku. Aku sebagai David tidak pernah absen mengecatnya. Bahkan Justin tidak tahu mengenai rambut putih ini.
Semua ciri mencolok yang ada di tubuhku, sangat jauh dari sosok David Adalrik.
Ada beberapa pengunjung yang berbisik bahwa aku memang mirip -- dalam hal ketampanan tentu saja-- dengan David Adalrik, tetapi hanya itu saja, mereka tidak bereaksi lebih jauh.
Bagaimanapun juga, setahu mereka David sudah mati. Tidak ada alasan bagi mereka untuk berpikir aku akan duduk menikmati kopi dan bersantai di cafe.
Jika kau ingin membaur, bersikap dan berdandanlah seperti orang kebanyakan.
Aku menyerap ilmu dari Mark, yang hari ini tidak bisa aku lihat keberadaannya. Tapi bukan berarti dia tidak ada. Aku yakin dia berada tidak jauh dari Bee.
"Kau tahu bukan, jika sikapmu itu terlihat mengerikan? Tersenyum lebar sambil menatap ke kejauhan. Kau terlihat seperti orang mesum sedang mengincar mangsa" kata Roan, sekali lagi mengaduk minumannya dengan bosan.
Aku hanya mengangkat bahu, sambil meneruskan kegiatanku memandang Bee.
Selama tiga hari sebelumnya, aku berhasil menyelinap ke cafe ini tanpa mereka ketahui.
Tetapi kemarin, ketika aku kembali terlalu malam, El dan Roan mengomel, karena menurut mereka tindakanku pergi sendiri ke sini, sangat berbahaya. Karena ancaman Oscar, serta mengingat keadaanku yang tidak bisa bertransformasi.
Sampai titik itu, aku mempertimbangkan memakai Alpha Tone untuk membuat mereka diam.
Mereka menabur garam di atas lukaku!! Tidak perlu menyebut kelemahanku di saat aku sedang sangat putus asa.
Itu alasan cukup untuk menggunakan Alpha tone kepada mereka. Tapi tentu saja aku tidak menggunakannya. Jadi sekarang aku berada di cafe ini bersama dengan El dan Roan.
Dering ponsel milik Roan membuat kami terlonjak secara bersamaan.
Roan mendecih dengan jengkel sebelum menjawabnya. "Yes.. Dad?"
Uncle Rex yang menelpon. Roan bergeser menjauh memunggungi El, untuk berbicara dengan ayahnya.
"Kau tidak bisa terus seperti ini, Duke. Kita sudah berada di London selama hampir 3 minggu lebih, dan masih berjalan di tempat" kata El, dengan suara pelan.
"Itu karena apapun pilihan yang aku ambil setelah ini, resikonya akan aku tanggung seumur hidupku, El. Wajar jika aku membutuhkan waktu untuk memutuskannya" geramku.
"Pilihan? Kau tidak akan mempertimbangkan untuk meninggalkan Lui bukan? Kau akan kehilangan wolf-mu untuk selamanya, jika tidak bersamanya" El berkata padaku dengan suara pelan, tapi dengan nada marah. Dia tidak rela aku menjadi lemah.
"Ya--jika itu membuatnya bisa hidup. Aku tidak ingin membunuh Bee hanya karena keinginanku!" jawabku juga dengan pelan, tapi tegas.
El menggeleng tidak percaya mendengar jawabanku
"You're insane bro! Jika dia tidak mengingatmu kau yang akan mati" katanya, sedikit pedas dari yang biasanya.
Dia melihat bagaimana tubuhku membaik begitu aku melihat Bee. El tidak akan lupa bagaimana keadaanku yang payah sebelumnya.
Selama tiga hari sendirian menatap Bee, pikiran itu perlahan muncul.
Bee terlihat begitu cemerlang dan bahagia dengan hidupnya yang sekarang. Dia punya teman, pekerjaan yang sebenarnya tidak perlu, dan mungkin juga kekasih --aku menahan keinginanku untuk muntah ketika mengingat ini-
Aku memang ingin Bee mengingatku dan memilikinya lagi, tetapi aku juga tidak ingin mengganggu apa yang sudah dimilikinya saat ini.
Tapi dia milikku!!
Suara hati egois kembali membisikkan pilihan yang lain.
Dia adalah mate-ku. Bisa jadi El benar, di salah satu sudut hatinya, masih ada cinta Bee yang tersisa untukku. Yang dibutuhkan Bee hanyalah ingatan tentangku agar rasa cinta itu muncul kembali.
Belum lagi aku membutuhkan werewolf-ku untuk menjadi Alpha. Aku tidak mau mengingkari janjiku pada ayah. Aku harus menjadi Alpha.
"Just get a new one Dad, kau sudah menghilangkannya! Memang apa lagi yang bisa kau lakukan?!" Suara Roan yang sedang berbicara dengan uncle Rex tiba-tiba meninggi.
Membuat El memberinya tatapan jengkel yang tidak di pedulikan oleh Roan.
Kata-kata Roan tadi menggelitik perasaanku yang sedang bimbang, lalu seolah-olah ada cambuk yang melecut otakku, menghadirkan gagasan cemerlang.
Aku tersenyum dengan penuh kemenangan. Aku tahu apa yang harus aku lakukan!!
Senyum lebarku perlahan berubah menjadi tawa terbahak, selain gembira karena menemukan pilihan yang lain, aku sekaligus juga merasa bodoh sekali. Kenapa hal ini tidak terpikirkan olehku sebelumnya?
Mungkin tidak akan mudah, dan bisa saja tidak berhasil. Tapi aku akan mencobanya. Pilihan ini tidak akan membuat 'kerusakan' yang berarti pada Bee, jika ternyata tidak berhasil.
Roan menatapku dengan prihatin, karena mengira aku telah menjadi gila, sementara El menatapku dengan mulut terbuka karena heran. Kali ini, aku yakin El tidak bisa menebak apa yang aku pikirkan..
"Ayo kita pergi" Aku menutup laptop dan beranjak pergi. Bee dan temannya sudah meninggalkan gerai sekitar 10 menit yang lalu.
El dan Roan mengikutiku dengan langkah gelagapan, sama sekali tidak menduga perubahan hatiku.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya El, sesampainya kami di mobil.
"Apakah aku perlu memanggil psikiater?" tanya Roan, hampir bersamaan.
Aku mengibaskan tanganku dengan bersemangat, menyuruh mereka diam.
"Tenanglah, aku tidak apa-apa! Aku tertawa karena akhirnya aku tahu apa yang harus aku lakukan, dan aku merasa sedikit bodoh karena tak memikirkan ide ini sebelumnya!" kataku
"Apa?" Roan meminta penjelasan dengan tidak sabar.
"Aku akan membangun yang baru. Seperti yang kau katakan kepada uncle Rex tadi" Aku memandang Roan dengan senyum lebar.
Sayangnya, penjelasanku semakin memperdalam kerutan di dahi Roan dan El.
"I don't understand! Kau akan membeli jam tangan baru seperti ayah?" tanya Roan.
"What?? of course not! Untuk apa aku membeli jam tangan baru?" Aku bingung dengan arah pembicaraannya.
"Well, itu yang akan dilakukan ayah, dia akan membeli jam tangan baru, karena dia sudah menghilangkan arloji peninggalan Ibuku" jelas Roan dengan wajah yang luar biasa bingung.
"Bukan itu maksudku!!" sergahku cepat.
Aku mulai mengerti kesalahanku dalam menjelaskan pada mereka tadi.
"Maksudku adalah, kata-katamu pada Uncle Rex tadi memberiku ide. Aku hanya harus membangun ingatan baru dengan Bee. Aku tidak harus membuatnya mengingat tentang diriku yang dulu. Aku hanya harus membuatnya jatuh cinta lagi kepadaku..." terangku dengan suara mantap.
"Ow..." raut mengerti mulai terbentuk di wajah mereka.
El mengangguk-anggukan kepalanya "Aku rasa itu ide yang sangat brillian" katanya mulai tersenyum.
"Tapi apakah kau bisa membuatnya kembali jatuh cinta padamu?" tanya Roan dengan nada skeptis.
What a killjoy...!!! Aku ingin sekali menarik lidah tajam itu agar tidak bisa diam selama beberapa saat.
"Bisakah kau menjadi lebih positif?" El mendesis pada Roan dari balik setir, sambil meliriknya dengan galak lewat kaca spion.
"Hei... aku hanya memikirkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi!!" sahut Roan, tidak mau kalah.
Ini adalah tanda untukku agar segera menutup telinga, karena perdebatan mereka akan sangat lama.
Perdebatan yang lebih baik tidak aku dengarkan.
Aku akan tetap melakukannya tentu saja. Aku akan mendekati Bee seperti pria normal lainnya, seperti saat aku pertama kali bertemu dengannya dulu.
Ingatan tentang pertemuan pertama kami membawa senyuman ke wajahku. Aku teringat raut wajah kesal Bee saat itu. Wajah marahnya itu sudah cukup untuk menjeratku dalam hitungan detik.
Setelah aku memikirkanya berulang kali, aku yakin Bee juga sedikit terguncang saat melihat wajahku saat itu.
Aku sering mendengar orang menyayangkan temperamenku yang buruk, karena hal itu sangat bertolak belakang dengan ketampanan yang aku sandang. Dan itu cukup memberi gambaran bagaimana manusia biasa menilaiku.
Aku tidak akan kalah bersaing dengan aktor itu di bidang wajah dan penampilan.
Pertemuan pertamaku dengan Bee, sebenarnya bukan contoh yang bagus untuk menggambarkan tentang keterpesonaan, karena Bee mendapatkan kesan yang buruk tentangku saat itu.
Dia bahkan memarahiku dengan sebab yang tidak aku mengerti. Tapi aku tak akan lupa bagaimana beberapa detik sebelumnya iris biru Bee menatapku tanpa berkedip.
Aku pernah menanyakan hal ini pada Bee dengan nada bercanda, apakah dia memang terpesona dengan wajahku saat itu. Tapi bee menolak untuk menjawab dan segera mengalihkan wajahnya yang memerah dari pandanganku. Aku menganggapnya sebagai jawaban iya.
Aku menyingkirkan jauh-jauh wajah Oscar yang mulai terbentuk di benakku. Aku akan memikirkannya nanti.
Dia tak punya alasan --mungkin ada, seperti bahwa aku bukan manusia, tapi aku akan memikirkan cara untuk menjelaskan padanya nanti-- melarangku bertemu Bee dengan cara ini. Aku hanya akan pergi dari hidup Bee jika ini tak berhasil.
Ck.. aku segera menyingkirkan pikiran ini jauh-jauh, membayangkan rencana ini gagal membuatku mual lagi. Lebih baik aku membuat memikirkan bagaimana nanti aku akan mendekati Bee.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Tapi ternyata tidak..!!
Sekarang sudah pukul 3 pagi, dan aku masih gelisah. Berkali-kali aku bangun dan tertidur tidak nyenyak. Gelisah karena rencana pertemuanku dengan Bee.
Padahal aku sudah puluhan kali mengulang skenario pertemuan 'pertama' itu di benakku.
Tapi rasa gugup tidak juga hilang.
Dengan rajin, aku juga meyakinkan diriku sendiri, jika ini akan mudah. Aku sudah tahu bagaimana sifat Bee, apa yang disukainya, apa yang tidak disukainya, aku tahu semua tentang Bee.
Tapi tetap saja, bayangan akan berbicara dan bertemu langsung dengan Bee membuatku gelisah. Bagaimana jika ternyata dia tidak menyukaiku? Seperti kata Roan, manusia itu sangat susah di prediksi.
Ck... aku seharusnya menyumpal mulut Roan dengan kaos kaki, sehingga tidak perlu mendengar kata-kata pesimis itu.
Tapi terlambat, sekarang kata-kata itu terngiang-ngiang di telingaku, bersiaga menghancurkan segala pemikiran dan rencana indah yang aku bentuk.
Dengan jengkel aku melempar selimut ke samping dan berjalan menuju balkon kamar. Udara musim gugur yang dingin terasa hangat menerpa kulitku.
Salah satu kelebihan werewolf, kau tidak perlu mengkhawatirkan musim dingin. Werewolves kebal terhadap rasa dingin. Kami memakai mantel saat musim gugur dan salju, hanya sebagai kebiasaan agar tidak dipandang aneh oleh manusia.
Aku melangkah menuju pagar pembatas. Bulan sabit di langit mulai surut pertanda pagi sebentar lagi datang. Aku menghela nafas panjang, menguatkan tekadku.
Ayolah Duke...!! Ini tidak seperti dirimu sendiri.
Kau biasanya menerjang rintangan apapun tanpa ampun. Mana tekad yang membawamu pergi dari pack 8 tahun yang lalu?
Perbuatan itu memang sudah terbukti bodoh, tapi butuh keberanian yang sangat besar untuk melakukannya, seperti saat ini.
Mungkin keputusanku sekarang ini, akan menjadi keputusan bodoh juga, tetapi bukan berarti aku akan mundur.
Ini bagian tanggung jawabku untuk menjadi Alpha, aku harus kembali sebagai werewolf yang utuh bagaimanapun caranya. Aku harus memperjuangkan perasaan cintaku pada Bee, entah sampai batas apa.
Suara langkah berdebam dari arah hutan kecil yang berbatasan dengan rumah ini, menarik perhatianku. Tidak lama dua werewolf dalam wujud serigalanya berlari keluar dari sana.
Bulu coklat kemerahan El memantulkan sinar bulan temaram membuatnya terlihat berkilau.
Serigala Roan berwarna abu-abu gelap nyaris hitam, dengan warna putih melingkar di lehernya seperti kalung. Mereka baru saja pulang setelah berlari menyusuri hutan yang sempit itu.
Bagaimanapun juga werewolf memerlukan beberapa saat untuk melepaskan wujud serigalanya.
Waktu masih di LA, aku akan menyetir selama kurang lebih 3 jam ke arah barat laut menuju hutan di Ventura Country.
Hutannya masih lumayan lebat, aku bisa dengan bebas berlari semalaman tanpa takut ada yang memergoki. Yah.. walaupun kadang ada saja beberapa remaja yang kadang berada di sana, entah sedang melakukan apa.
Aku yang bisa mencium bau mereka dari jarak beberapa kilometer, biasanya langsung berlari menghindar. Tidak nyaman memang, tapi itu harus dilakukan, agar tidak menimbulkan kehebohan karena munculnya serigala dengan ukuran tinggi lebih dari dua meter.
Otot tubuhku berkedut seolah menyuruh bergabung dengan mereka. Aku merindukan sosok serigalaku. Perasaan bebas ketika berlari, bersatu dengan alam sekelilingku.
Aku mengepalkan tangan untuk menahan perasaan yang meluap.
El dan Roan sekarang berjalan pelan menuju ke rumah, mereka saling memandang tanpa suara. Tapi aku tahu, di dalam mindlink, mereka tentu saja sedang berdebat.
Aku tidak merindukan bagian itu. Dengan telinga manusia, aku masih bisa mengabaikan perdebatan mereka, tetapi di dalam wujud serigala, aku dengan terpaksa mendengarkannya sampai selesai.
Jika sudah seperti itu, aku hanya bisa bernyanyi keras-keras dalam hati, berharap mereka mendengarnya dan berhenti. Tapi lebih sering caraku itu gagal.
Kepala berwarna coklat milik El tiba-tiba menoleh ke arahku. Dia melihatku dan terdiam selama beberapa saat.
"Aku tidak bisa mendengarmu El" desisku pelan. Tapi aku tahu El mendengarnya, karena kemudian dia menundukkan kepala dengan sedih dan meneruskan langkahnya menuju rumah. Roan hanya melirikku sekilas.
Aku harus mendapatkan serigalaku lagi.
Aku harus!! tekadku dengan bulat. Aku kembali ke dalam dan merebahkan diriku ke ranjang. Berharap kantuk segera datang.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Aku memandang bayangan di cermin dengan puas. Kaos turtleneck berwarna gading dan mantel hitam panjang menjadi pilihan bajuku hari ini, karena Bee pernah berkata, jika aku terlihat lebih menawan ketika memakai kaos turtleneck .
Aku rasa penampilanku akan cukup untuk menarik perhatian Bee. Mungkin sedikit curang, tapi aku akan menebar pesona dengan maksimal dihadapannya hari ini.
Aku meraih ponsel yang tergeletak di ranjang kemudian keluar kamar untuk sarapan. Nafsu makanku sudah membaik dan sanggup makan 0.5 kg steak untuk sarapan.
Dalam perjalanan menuju ke ruang makan, aku melihat Roan dan El yang sedang terpaku menatap televisi. Ini pemandangan yang luar biasa menurutku.
Roan memang biasanya menonton acara pagi di televisi, tapi tidak dengan El. Menurut El, acara tv hanya akan membunuh sel otak dengan percuma.
"Apa yang kalian lakukan? Apakah sarapan sudah siap?" tanyaku, yang membuat mereka tersentak. Sentakan itu berarti mereka sangat fokus pada acara TV, sampai-sampai tidak mendengar suara langkah kakiku. Itu tidak biasa terjadi pada werewolf.
Roan dengan kaget melihatku, sementara tangannya dengan cepat menyambar remote yang ada di sebelahnya dan menekan tombol power.
Sedangkan El melirikku dengan gugup. Jelas saja mereka sedang menyembunyikan sesuatu.
"Tidak ada apa-apa, mari kita makan!" kata Roan sambil bangun dari sofa, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Aku segera mengalihkan pandanganku pada El, yang saat itu juga memalingkan wajahnya ke arah lain, menghindari mataku.
"Katakan padaku, sebelum aku memaksa kalian dengan cara yang tidak aku suka!!" perintahku, dengan nada berbahaya.
El kemudian mendesah panjang "Nyalakan lagi, aku rasa Id akan melapor padanya walaupun kita diam" kata El kepada Roan yang menggeleng tidak setuju.
Firasat buruk segera saja menghampiriku.
Aku melotot kepada Roan sebagai tanda bahwa kesabaranku sudah hampir habis. Dengan muka tidak rela, akhirnya Roan menghidupkan televisi mewah berlayar 55" itu dengan remote di tangannya.
Running text mencolok di bagian bawah yang tertulis dengan huruf besar itu, segera menarik perhatianku.
'AKTOR TAMPAN ZENOBIA TERENCE, TERTANGKAP BASAH BERKENCAN DENGAN PEWARIS DELMOR CORP'
Satu kalimat itu saja, segera membuat darahku naik ke kepala.
Pembawa acara wanita itu, dengan genit menerangkan, jika dia iri sekali dan ingin tahu, bagaimana cara pewaris Delmor yang misterius -- tentu saja yang dimaksud di sini adalah Bee, bukan Oscar-- berhasil menggaet hati... pria itu.
Otakku tidak ingin menyebut namanya.
Aku meremas ponsel di tanganku, yang seketika membuatku teringat akan Oscar. Aku memencet dan menunggu nada sambung untuk dijawab.
"Yes?!" Suara di seberang sana terdengar kasar dan jengkel.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membiarkan berita seperti itu keluar?" tanyaku dengan tidak kalah kasar.
Dengan sudut mata, aku masih melihat foto Bee terpampang di layar televisi. Foto itu memang sedikit kabur, tapi keterangan yang dibacakan oleh pembawa acara itu menjelaskan dengan detail identitas Bee.
"Kau--tak--berhak--" suara Oscar menjawab dengan suara terputus-putus karena geram.
"Aku masih berhak, karena Eluira adalah milikku. Tak peduli dengan apapun yang kau lakukan, dia adalah milikku" potongku dengan berteriak, sisi egoisku tidak lagi peduli dengan apapun.
"Sekarang katakan padaku apa hubungan mereka yang sebenarnya?" tanyaku masih dengan kasar. Tidak menjawab, Oscar mematikan sambungan teleponnya begitu saja.
"You son of a b*tch!!" makiku dengan kencang, sambil melempar ponselku ke layar televisi. Aku tiak ingin melihat berita seperti itu lagi...
"No..no!!" seru Roan berusaha mencegahku, tapi terlambat. Ponsel yang berumur kurang lebih dua minggu itu, menancap dengan sempurna di tengah layar televisi yang seketika itu padam.
Id datang berlari dengan tergopoh-gopoh karena mendengar keributan. Pandangannya menyapu seluruh penjuru ruangan dengan heran.
"Id, aku ingin kau mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan segera berikan laporan padaku!!" perintahku padanya.
Aku berlalu kembali menuju ke kamar, tanpa memperdulikan pandangan Id yang masih bingung karena tidak mengerti dengan maksud perintahku.
"Aku akan jelaskan" terdengar suara El di bawah, sebelum aku membanting pintu kamar agar menutup.
Sumpah serapah yang ingin aku teriakkan menggumpal di dadaku.
Dan segera saja, perutku mendesakkan isinya ke tenggorokan. Padahal makanan terakhirku adalah kemarin siang. Aku segera berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan asam lambung ke kloset.
I hate my life.. batinku dengan lemas.