
Kabut putih tebal menyelimuti pandanganku. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan mendapati hanya terlihat warna putih kabut.
"Helloo....!" Aku berteriak untuk memanggil siapa saja yang mungkin berada di sini.
Aku lalu berjalan tanpa arah sampai kemudian pandanganku sedikit jernih.
Kabut yang mulai menipis membuat pemandangan semakin jelas. Aku berada di atas sebuah bukit di tepi laut rupanya.
Sesosok wanita berdiri membelakangiku. Rambutnya yang berwarna keemasan terurai panjang, dan bergerak pelan tertiup angin. Aku menggosok mataku untuk memperjelas pandangan di antara kabut. Wanita itu berdiri di tepi bukit dan memandang kearah laut.
Itu Bee, wanita itu adalah Bee. Aku akan mengenali rambut pirang berwarna madu itu dimanapun.
"Bee....!!" Aku berseru memanggilnya, sambil berlari kencang untuk menghampiri.
Bee menoleh kemudian tersenyum lebar ke arahku. Senyum yang indah bagaikan matahari.
Ohh.. aku sangat merindukan senyum itu.
Bee melambai lalu berbalik kembali menghadap laut. Tapi, tiba-tiba dia mulai berjalan maju mendekati tepi bukit.
"Bee, berhenti!!" teriakku, aku mempercepat lariku. Tapi entah mengapa seolah jarak diantara aku dan Bee semakin jauh. "Bee..berhenti berjalan" teriakku dengan panik, aku lihat Bee semakin dekat dengan tepi bukit.
Dalam gerak pelan aku melihat tubuh Bee semakin jauh kemudian menghilang ditelan bukit ,
Bee melompat ke bawah!!!
"No!..No!.. jangan, kumohon jangan!!" teriakku lagi.
Aku sampai ke tepi bukit dengan nafas tersengal. Tapi aku terlambat. Bee sudah tidak ada di sana.
Aku berlutut dan memandang ke bawah melalui tepi bukit, tapi yang terlihat hanya air laut tenang tanpa ombak.
"Bee..kumohon, jangan lakukan ini padaku" bisikku dengan putus asa.
^^^^^^^^^^
Suara mesin EKG memasuki jarak pendengaranku.
Suara detak konstan itu, perlahan membawa kesadaranku kembali. Aku mencoba untuk membuka mata, tapi berat sekali. Sekali lagi aku mencobanya, dan akhirnya berhasil. Mungkin tidak sempurna, karena pandanganku masih sangat kabur.
Dimana ini?
Aku menarik nafas panjang, dan kemudian menyesalinya. Tarikan nafas itu membuat dadaku seolah tertusuk pisau tajam berkali-kali. Aku mendengus untuk menahan sakit yang muncul itu.
Tapi dari tarikan nafas tadi, aku menjadi tahu dimana lokasiku berada. Aroma desinfektan mendominasi ruangan ini. Aku sedang berada di rumah sakit.
"Kau sadar!! Akhirnya kau sadar"
Suara yang penuh dengan rasa syukur bercampur dengan isak tangis itu, berasal dari sebelah kanan.
Aku menoleh dengan susah payah, untuk melihat siapa yang berada di sana, dan kemudian menyesalinya juga. Karena ternyata wanita rubah itu yang sedang berada di sana.
Aku ingin mengusirnya sekarang juga, tetapi mulutku terasa kaku dan susah sekali bergerak. "Aku akan memanggil dokter" katanya, sambil berdiri kemudian keluar dari ruangan.
Oh... Syukurlah, batinku.
Tidak perlu bersusah payah mengusirnya. Aku memejamkan mata lagi, untuk menenangkan diri. Kemudian ingatanku tentang kejadian sebelum aku berada disini, mulai menyerbu.
Egon, vampire, dan El.
Aku ingat vampire pirang itu menghampiriku, dengan niat membunuh. Aku rasa tujuannya tidak tercapai karena sekarang aku berada di rumah sakit.
Darn it!!! Aku senang karena masih hidup, but I also feel like a **.
Karena jelas-jelas aku kalah bertarung darinya, vampire itu nyaris mengunyahku dengan taringnya.
Rasa jijik memenuhi mulut keringku, mengingat perbuatan Egon kepada El. Belum lagi pengkhianatannya yang telah membuat pack ini...
Tunggu dulu!!
Ada dimana aku sekarang? Apakah masih berada di wilayah pack?
Jika rencana Egon berhasil, maka bisa dipastikan aku tidak berada di pack lagi. Aku ingin menarik nafas lagi untuk mencari tahu hal ini.
Tetapi ingatan rasa menusuk di dadaku tadi, membuatku urung melakukannya. Aku akan bertanya saja nanti.
Rasa lega menjalari tubuhku, ketika beberapa saat kemudian, dokter yang datang dan memeriksaku, ternyata adalah dokter Sidra. Dia adalah dokter di rumah sakit Blackmoon. Jadi aku masih berada di dalam wilayah pack.
Bagus lah...!
"Senang melihat anda sadar kembali Scion.." Sapanya dengan ramah, sembari memeriksa tanda-tanda vital dari tubuhku.
"Tujuh belas hari adalah ukuran waktu yang sangat lama untuk seorang werewolf kehilangan kesadaran" Jelasnya sambil lalu.
"A..aku pingsan selama 17 har..ri?" Tanyaku dengan terbata, mulutku masih terasa kelu.
"Ya..anda pingsan selama 17 hari" Dia menjawab, sambil memandangku dengan kerutan di dahi dan menghentikan kegiatannya.
"That's b*llsh*t" umpatku dengan lancar.
Aku akan mengumpat lebih sering, jika itu membantu menghilangkan rasa tebal di mulutku.
Tapi tidak mungkin aku pingsan selama 17 hari.
Ayolah.. aku hanya pingsan selama 3 hari ketika dulu jatuh dari tebing --another youth story, for another time-- bagaimana bisa aku sekarang pingsan selama 17 hari?
"Maaf sekali, tetapi ini benar Scion. Laju kecepatan penyembuhan luka anda sangat lambat, hampir mendekati manusia biasa. Apakah anda sedang terkena racun atau sesuatu?" tanyanya, dengan nada serius.
Aku menggeleng pelan. Racun apa? Aku akan tahu jika ada racun di makananku. Hidungku akan mengenalinya dengan mudah.
Tapi mengapa laju penyembuhanku sangat lambat? Saat aku masih dalam kurungan, tulang rusukku juga tak kunjung sembuh.
Belum lagi aku tidak bisa melakukan transformasi menjadi serigala. What an odd!! Apa yang terjadi dengan tubuhku?.
"Apakah kau sudah melakukan pengecekan racun terhadap darahku?"
Akan menjadi masalah besar, jika aku tidak bisa lagi bertransformasi. Aku harus mencari penyebabnya, dan secepatnya pulih. Ada vampire berkepala pirang yang menunggu untuk aku bunuh.
"Sudah Scion. Saya telah melakukan berbagai macam tes untuk mendeteksi apakah ada racun yang menghalangi proses penyembuhan anda. Tapi hasilnya nihil. Kami tidak menemukan apapun di tubuh anda, dan terus terang saja, saya belum pernah menemui kasus seperti ini sebelumnya"
"Saya tadinya berharap akan bisa mendapatkan keterangan tentang apa yang menyebabkan kondisi ini, begitu anda bangun" katanya, dengan nada sedikit kecewa, karena gagal menanggulangi kondisi tubuhku.
"Tidak apa, jika sudah selesai kau boleh pergi" kataku menenangkannya. Aku ingin berpikir dengan tenang sekarang.
Setelah menganggukkan kepalanya tanda menghormat, dia pun keluar dari kamar.
Ketika dokter Sidra membuka pintu, aroma yang sangat aku kenal hadir di hidungku. Dan benar, karena wanita rubah itu sekarang melangkah masuk dengan ragu-ragu.
Aku mendesah tajam untuk menyuarakan ketidaksetujuan atas kehadirannya. Apa yang dilakukannya di sini? biasanya dia tidak pernah meninggalkan sisi Orang Tua itu.
"Maafkan aku.." cicitnya pelan. "Aku hanya ingin mengetahui bagaimana keadaanmu" Suara lirih seperti bisikan.
"Ck.. ! Aku baik-baik saja" jawabku tajam. "Sekarang, bisakah kau pergi?" Aku tidak ingin melihatnya di hadapanku.
"Bersikaplah yang sopan Duke!! Kau tidak boleh bersikap kasar padanya" Uncle Rex memasuki kamar rawat dengan muka tidak bersahabat.
El yang mengikuti di belakangnya hanya memandang tanpa kata, sedangkan Roan mengernyitkan dahinya tanda tidak setuju dengan perbuatanku.
"Tidak kau juga, Uncle Rex" kataku dengan nada kesal.
Kenapa setiap orang menyuruhku bersikap sopan kepadanya? Aku membencinya.
El dan Roan kemudian berjalan melewati Uncle Rex, menghampiri tempat tidurku.
El memelukku dengan erat, sedangkan Roan hanya melihat keadaanku dengan wajah puas.
"Kau tak apa-apa?" tanyaku kepada El. Terakhir kali kulihat Egon mematahkan salah satu kaki belakangnya.
"Aku sembuh" Jawabnya singkat.
Tapi aku melihat bekas luka memanjang dari mulai rahang kanan, sampai ke leher. Mungkin vampir merah tu berhasil melukainya. Tapi wajah El tidak menjadi buruk karenanya. Matanya yang berwarna cokelat jernih, lengkap dengan wajah maskulin, masih cocok di sebut tampan.
"Dia baik-baik saja, dan telah sembuh total dari lukanya, tapi kau tidak!! kau malah pingsan selama 17 hari dan semua tulangmu yang patah belum tersambung kembali" Jelas Roan dengan 'baik hati', menyampaikan keadaanku, dan seperti biasa dengan nada sedikit mengejek.
Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar penjelasannya.
"Lukamu parah sekali Duke, hampir semua tulang rusukmu patah atau retak, belum lagi luka cakaran yang nyaris merata di punggung dan dada. Kaki dan tanganmu juga retak di beberapa bagian. Beruntung luka sayatan karena cakar, serta tulang hidung dan rahangmu sudah sembuh" Uncle Rex menjelaskan padaku dengan lebih lembut.
Dia duduk di kursi sebelah kanan ranjang tempatku berbaring sekarang.
"Bagaimana aku bisa selamat? aku ingat vampire itu sudah berada di depanku ketika itu"
"Aku datang pada saat yang tepat" Jawab Uncle Rex.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Dan kenapa si Br*ngs*k Beta itu melakukan ini semua?" tanyaku. Aku malas menyebut namanya dengan mulutku.
Jelas Uncle Rex menghindari bahasan mengenai sikap Egon, karena aku yakin pengkhianatan itu juga sangat menyakitkan baginya.
"Yeah.. of course, aku kebetulan sedang tidak sibuk" ujarku sarkastik. Uncle Rex tersenyum kecil mendengarnya.
"Sehari sebelum kejadian itu, Egon mengirimkan separuh lebih warrior yang kita punya ke pantai di daerah Forestville. Dia memberi informasi palsu tentang pasukan vampire yang berencana untuk menyerang pack ini. Sebelumnya memang telah ada laporan beberapa pembunuhan sadis yang terjadi di sekitar daerah itu. Tentu saja dengan adanya laporan lanjutan ini, Alpha Owen dan aku dengan mudah mempercayainya. Tidak ada alasan untuk curiga tentang informasi itu"
Mulut uncle Rex mengatup kencang ketika mengucapkannya. Aku bisa membayangkan bagaimana perasaannya sekarang. Seperti sampah, karena teman yang dia percayai telah berkhianat.
"Kemudian aku dengan bodoh mengajukan diri untuk memimpin pasukan itu. Aku menyesalinya sekarang" kata uncle Rex dengan suara yang lebih pelan penuh emosi.
"Ini bukan salahmu Dad" Kata Roan, menghibur ayahnya.
"Ya, ini bukan salahmu Uncle. Perbuatan hina yang dilakukan Egon memang tidak akan pernah kita duga" tukasku.
"Tapi tidakkah informasi itu terdengar terlalu mencurigakan? Pasukan vampire menyerang pack ini? Sejak kapan mereka berkeinginan menyerang pack werewolf?" tanyaku, dengan bingung.
Vampire dan werewolf memang bermusuhan. Tapi sudah beratus-ratus tahun tidak terjadi kontak apapun diantara werewolf dan vampire, terutama mereka yang berada dalam lindungan pack, bahkan tidak juga melalui telepon.
"You've been gone for 8 years Duke, keadaan sudah banyak berubah. Serangan tadi malam itulah salah satu buktinya. Aku akan menjelaskan padamu soal ini nanti, ketika kau pulih 100%, Oke?" Ujar Uncle Rex dengan suara yang lebih serius
"Bagaimana keadaan pack? Aku mendengar jeritan anak-anak dan juga bau terbakar saat itu" Aku harap kerusakannya tidak terlalu parah,
"Ya, ada beberapa vampire yang menyerang pemukiman. Tapi beruntung, walaupun sebagian besar warrior sedang pergi bersamaku, banyak Siewolf yang masih terjaga, terutama Anna. Egon terlalu meremehkan kekuatan mereka, Anna berhasil mengalahkan 2 vampir dan mencabut kepala mereka" Uncle Rex menatap Roan dengan bangga.
Tapi Roan justru mendecak dengan kesal, dia tak suka dipanggil Anna. Karena menurutnya, nama Anna membuatnya terlihat lemah.
"Dia dan Siewolf yang berada di pack bahu membahu melawan penyusup itu. Dan mereka semua bertarung dengan berani melindungi rumahnya. Ketika terdesak para vampire b*j*t itu mulai membakar rumah untuk mengalihkan perhatian sehingga mereka bisa kabur. Tapi dengan gerakan cepat dari warga\, api bisa dikendalikan dan dipadamkan. Aku sangat bersyukur karena tidak banyak warga yang terluka serius. Dan saat ini proses perbaikan sedang di laksanakan"
Aku hanya bisa mengangguk mendengar perkataan Uncle Rex, karena menurutku itu lebih mirip laporan dari pada cerita.
"Lalu? apa yang terjadi dengan Egon dan para vampire itu? Apakah mereka mati?" Aku harap mereka belum di bunuh. Aku ingin merasakan darah hitam vampire itu di cakarku.
"Mereka kabur, ketika aku datang. Egon tahu, jika para warrior kembali, maka mereka akan kalah. Apalagi matahari juga sudah hampir terbit. Para vampire tidak akan berguna di siang hari"
"Bagaimana kau tahu jika ini adalah jebakan, paman?" tanyaku. Jika uncle Rex dan para warrior tidak kembali, sudah bisa dipastikan aku akan tamat, dan mungkin juga pack ini.
"Aku menyadari suatu keanehan, setelah informan yang dihubungi oleh Alpha Owen akhirnya memberi kabar. Benar ada beberapa pembunuhan sadis di Forestville, tapi bukan oleh vampire. Begitu mendengar hal ini, aku langsung memutar balik. Di tengah perjalanan kembali, ayahmu menghubungiku. Dia merasakan ada penyusup yang menerobos di pack. Saat itu juga, aku mempercepat lariku kembali ke pack. Dan syukurlah, aku belum terlambat" uncle Rex menghela nafas panjang.
Orang tua itu terikat dengan sihir perlindungan pack. Hanya Alpha yang bisa merasakan saat seseorang menerobos ke dalam pack tanpa ijin.
"Saat itu, aku masih dengan bodoh percaya, jika Egon juga menerima informasi yang salah dari anak buahnya soal kejadian Forestville. Tapi kenyataan yang aku temui ketika sampai di pack membuka mataku. Kau tahu sendiri vampire itu, tidak akan bisa memasuki wilayah pack tanpa bantuan dari dalam " tambahnya, sambil mengusap wajah dengan letih.
Pengkhianatan Egon yang membawa mereka masuk. Keberadaan pack ini tidak akan mudah ditemukan tanpa adanya pemandu.
"Jadi vampire berhasil mengelabuhi semua warrior penjaga dan masuk ke dalam pack?"
Hal ini menjadi lebih penting untukku saat ini. Karena berarti pertahanan pack ini sangat lemah dan harus segera diperbaiki. Bagaimana bisa mereka melewatkan aroma menjijikkan yang disebar oleh vampir pirang itu?
Uncle Rex menggeleng pelan, "Tidakkah kau menyadari sesuatu yang aneh hari itu? Sesuatu yang seharusnya tidak ada?" tanyanya.
Hmmmm... aku masih mengingat hari itu dengan baik. Rusukku patah, skipping breakfast and lunch, writing song, smelly niter, steak diner and...
"Niter.. bau niter menyebar sampai ke ruang tahananku" ujarku, dengan yakin. Bau itu akan membunuh kemampuan penciuman werewolf secara masal.
"Precisely!! Salah satu truk pengangkut niter terguling di lokasi yang sangat dekat dengan daerah utama pack. Kecelakaan yang disengaja tentu saja. Dengan itulah Egon menyamarkan bau vampire-vampire itu. Semua werewolf di pack ini tidak bisa mencium bau apapun selain niter. It was really neat" Kata uncle Rex dengan nada agak kagum.
"Kau tidak perlu memujinya untuk itu" decakku kesal.
"We got beaten, tapi setidaknya kita semua selamat. I will find those piece of **, even if I have to go to the end of the world"
Aku mungkin hanya menggumamkan hal itu, tapi aku tahu semua yang ada di situ mendengarnya. Aku sangat kesal karena kekalahan ini. Aku kan membuat mereka membayar membayar dengan setimpal.
Isakan tangis sangat lirih tertangkap oleh telingaku.
Oh.. aku benar-benar lupa kalau wanita rubah ini masih ada di sini. Aku memandang ke sofa tempat wanita itu duduk dengan kesal.
"Aku sudah mengatakan dengan jelas, aku tidak ingin kau ada di sini!" Bentakanku membuat bahunya tersentak.
Aroma dari tubuhnya membuatku mual, bukan karena berbau busuk --aroma tubuhnya adalah vanila-- tapi aroma itu selalu membuatku merasa dikhianati. Cukup Egon saja yang membuatku mual hari ini, tidak dia juga.
"Kau tidak boleh berkata seperti itu kepada Zhena, Duke!" Uncle Rex kembali memperingatkanku, kali ini dengan lebih keras.
"Aku membencinya paman!!" Aku tidak peduli jika semua orang di pack ini membelanya.
Aku membencinya dengan sepenuh hati.
"Duke!!!!" Bentak Uncle Rex sembari bangkit dari kursi tempatnya duduk. "Kau sudah keterlaluan sekarang" Uncle Rex mengatakannya dengan sedikit menggeram pertanda bahwa dia sangat serius.
Amarahku karena semua pengkhianatan ini, langsung tersulut mendengarnya. "You knew nothing about this problem, Uncle!" ujarku meradang.
Emosiku yang naik dengan tiba-tiba, membuat kepalaku berdenyut menyakitkan. Tapi aku tidak peduli.
"It's you that knew nothing about her, Duke!" balasnya, dengan muka marah.
"Jangan Rex, kumohon jangan..!!" kata wanita itu sambil masih terisak memandang Uncle Rex dengan mata memohon.
"Tapi kita harus..." Perkataan Uncle Rex dipotong oleh gelengan dan isakkan tangis yang semakin keras dari wanita itu.
Suara tangisan itu bisa membuatku gila, rasa nyeri di kepalaku semakin menjadi-jadi.
"Can you all just shut up?!!" bentakku, sambil memegang kepala yang sekarang mulai terasa seperti terbelah. Aku tidak butuh pertengkaran lain saat ini. Mataku terpejam menahan sakit.
Ruangan rawat itu segera saja menjadi senyap. Perlahan aku membuka mata dan mendapati bahwa semua orang di ruangan itu sedang menundukkan kepala mereka, tidak satupun yang memandangku.
Bahkan Roan menundukkan kepalanya, walaupun kakinya bergerak-gerak gelisah tetapi kepalanya menunduk, patuh.
"Ada apa dengan kalian?" tanyaku, perlahan El mengangkat kepalanya dan memandangku.
"Alpha tone" jawabnya singkat.
"Omong kosong macam apa itu El? Kau tahu aku tidak bisa menggunakan Alpha tone, Orang Tua itu........"
Pemahaman yang menerkam seperti singa, serta merta membungkam mulutku. Cepat dan menyakitkan.
"Apa yang terjadi uncle? Kenapa laranganku untuk menggunakan Alpha tone tiba-tiba terlepas?" Aku bertanya dengan suara gemetar. Larangan itu tidak akan mungkin lenyap begitu saja, kecuali......
Uncle Rex mengangkat kepalanya dan memandangku dengan raut murung.
"Duke ------ Alpha Owen is gone. Aku mungkin datang tepat waktu untuk menyelamatkanmu. Tapi tidak untuknya. Aku datang terlambat"
Mata Uncle Rex berkaca-kaca sekarang.
Kabar itu seolah menggenang di permukaan otakku. Aku mendengarnya, tapi otakku menolak untuk memprosesnya.
"You Lie!!...Kalian semua bohong..!!" teriakku sambil memandang ke seluruh ruangan.
Aku berharap seseorang akan berkata bahwa ini hanyalah lelucon. Tapi mereka semua hanya menundukkan kepala tidak berani memandangku.
Terkecuali El, dia memberiku anggukan kecil dengan raut muka sedih.
Anggukan itu seolah bagai palu yang memukul dadaku dengan keras. Tidak mungkin Orang tua itu---Alpha--Ayahku-- Dia--....................
"Biasakah kalian semua pergi?" Aku meminta dengan sangat pelan.
"Duke....." Aku memotong perkataan El dengan lambaian tanganku. Aku tidak ingin mendengar apapun saat ini.
Dengan perlahan mereka bangkit dan meninggalkan ruang perawatanku. Kesunyian yang tiba-tiba itu segera menyapuku dengan kesedihan.
Selama delapan tahun terakhir ini, aku memang membencinya.
Tapi selama 17 tahun sebelumnya, aku memujanya. Dia ayah yang luar biasa. Dia mengajariku tentang kehidupan, pertarungan, kehormatan, tanggung jawab, kepercayaan dan kejujuran. Segala pondasi kehidupan yang aku tahu semua berasal darinya.
Aku sangat memujanya. Karena itulah, kebersamaannya dengan wanita rubah itu membuatku sangat sakit.
Kebohongannya telah mengkhianati seluruh kepercayaanku padanya. Pengkhianatannya pada Ibuku, bertentangan dengan semua hal yang telah diajarkannya.
Tapi sebelum semua itu, dia adalah ayah yang nyaris sempurna.
Pandangan mataku mulai kabur karena air mata.
Kau bodoh Duke!! Apa yang kau tangisi dari Orang Tua itu?
Kau membencinya.!! .
Kau bahkan tidak ingin berada di pack ini lagi karena kau benci padanya. Dia mengkhianati Ibumu Duke!!
Dia telah dibutakan oleh rasa cintanya kepada wanita rubah itu. Kau tidak perlu membuang tenaga untuk berduka karena kematiannya!
Ini lucu sekali, aku seharusnya tertawa bahagia mendengar berita ini. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi. Dan sekarang keinginanku itu terkabul. Tapi--aku sama sekali tidak merasa bahagia. Aku justru merasa hampa.
Ini lucu sekali, bagaimana mungkin aku merasa hampa? Dan bagaimana mungkin aku menangis??
Aku membencinya......