Finding You, Again

Finding You, Again
Us 4 - Storm and Waiting



Mobil yang ditumpangi Id dan El sudah terparkir dengan rapi di garasi.


Berarti El memang sudah kembali ke Lykos. Aku menyerahkan kunci pada Steve, yang menunggu dengan sabar di depan pintu.


Terdengar suara Uncle Rex sedang berbicara dengan seseorang, ketika aku memasuki Mansion.


Aku tidak mengenali aroma maupun suara lawan bicaranya. Aromanya tercium seperti susu pekat dan mesiu.


Kombinasi yang aneh!


El menyambut di ruang tamu, sambil menyerahkan ponsel.


"Kau meninggalkannya di ruang meeting tadi"


Di belakangku, terdengar suara decakan marah. Menurut Roan, perbuatan meninggalkan ponsel sembarangan sama dengan perbuatan kriminal penelantaran anak.


"Mereka menunggu anda di ruang kerja, Scion" Id menunduk dengan hormat, sambil menunjukkan arah ke ruang kerja.


Aku mengangguk mengerti, kemudian bergegas menuju kesana.


Emosiku sedikit tersulut. Uncle Rex tahu, urusanku dengan Bee berjalan dengan sangat lambat. Dia seharusnya tidak menggangguku dengan apapun, jika tidak sangat penting.


Aku membuka pintu, untuk mendapati Uncle Rex sedang duduk minum teh dengan seseorang yang sangat asing bagiku, dan dia manusia. Dari usianya, aku menaksir sekitar 60 tahun.


Badannya tegap dan cukup berotot. Rambutnya sebagian besar telah memutih, karenanya dia terlihat seperti sedang memakai wig yang terbuat dari bulu serigala Roan.


Aku lega saat ini aku tidak bisa bertransformasi. Kalau aku bertransformasi, sudah pasti Roan akan membunuhku jika mendengar pemikiranku tentang rambut abu-abu itu.


Kacamata pria itu mempunyai frame lensa yang cukup lebar dengan model yang ketinggalan jaman sekitar 20 tahun. Dia memakai jeans biru pudar, tapi untuk atasan, dia mengenakan jas dengan kemeja yang rapi. Perpaduan yang unik.


Aku melangkah mendekati mereka. Orang itu tersenyum lebar melihatku, jenis senyum yang diberikan ayah ketika melihatku berhasil melakukan sesuatu yang membuatnya bangga.


"Kau tumbuh dengan sempurna, bahkan melebihi ayahmu" katanya dengan suara yang lembut. Warna suaranya terlihat janggal karena tidak sesuai dengan penampilannya yang sedikit berantakan.


Siapa dia? Mendengar perkataannya tadi, berarti dia mengenal ayahku.


"Perkenalkan dia adalah Abel, Abel Franklyn" Uncle Rex bangun dan memperkenalkan kami semua dengan pria itu. Dia menjabat tanganku kemudian Roan dan El. Nama itu terdengar tidak asing.


"Kau hunter teman ayahku!" seruku.


Aku ingat. Dialah hunter yang membantu pack Ibu ketika diserang oleh para penyihir. Dialah penghubung antara ayah dan ibuku.


"Kau benar, aku sudah berteman dengan ayahmu jauh sebelum kau lahir, maupun bertemu dengan Myra"


Dia kembali tersenyum memandangku. "Aku hanya pernah melihatmu sekali, ketika kau masih berumur 2 bulan. Owen membawamu keluar pack untuk menemuiku. Dia memamerkanmu dengan sangat bangga" Abel terkekeh kecil mengenangnya.


"And I'm really sorry to hear about what happen to your father. Aku ingin sekali datang saat pemakaman, tapi kau tahu itu tidak akan mungkin" Dia menepuk bahuku dengan simpati, dan wajah muram saat mengatakan hal itu.


Hunter tak bisa masuk ke wilayah pack begitu saja, itu sama saja dengan cari mati.


"Thanks" sahutku dengan singkat. Ucapan belasungkawa itu tulus, tidak seperti Oscar.


Abel mengangguk dengan sedih.


Aku kemudian duduk di hadapannya. "Ada hal apa memanggilku pulang Uncle?" tanyaku langsung.


"Abel mempunyai kabar yang pasti ingin kau dengar. Ini soal Crispin dan Egon" jawab Uncle Rex. Suaranya terdengar agak khawatir.


"Crispin terlihat di Dover sekitar 3 hari yang lalu " Abel berkata dengan suara yang lebih jelas sekarang.


"Dover? Like in England?" Roan menyahut, dengan nada tak percaya.


"Dia ada di inggris?" tanyaku, tanpa sadar aku mengepalkan tanganku dengan erat, saat mendengar hal itu.


"Ya, dan kita tahu pasti alasan kenapa dia ada di sini, yaitu kau"


Uncle Rex memandangku dengan mata yang penuh amarah. Tapi amarah itu bukan untukku.


Ini akan menjadi kabar yang bagus jika saja aku dalam keadaan normal. Sudah pasti aku akan menunggunya dengan senang hati.


"Sebenarnya apa yang membuat mereka begitu tertarik dengan Blackmoon?" tanyaku sambil memandang Abel.


Aku harap dia memiliki jawaban yang pasti. Aku bosan dengan dugaan dan perkiraan.


"Karena kalian adalah pack werewolf paling besar di dunia Duke! Jawabannya sangat simple" Abel tersenyum getir.


"Crispin bertujuan untuk membangun dunia dengan inhumane sebagai penguasa, dia berusaha membuat tatanan dunia baru. Kau pasti setuju jika ide itu adalah kebodohan bukan?"


Aku mengangguk mendengar perkataan Abel. Inhumane memang jauh lebih kuat dari manusia biasa. Tetapi bisa dipastikan jika manusia dan inhumane berperang, itu akan menjadi buruk.


Selain karena alasan kemanusiaan, jumlah inhumane yang sangat sedikit bisa jadi akan punah. Dan jelas jumlah manusia yang jadi korban akan sangat banyak. Aku tidak ingin membayangkan itu semua.


"Isi kepala vampire itu adalah sampah!" ucapku dengan marah.


Vampire itu ingin menyulut perang di antara inhumane dan manusia. Yang mana hubungan itu sudah berlangsung dengan penuh kedamaian selama ribuan tahun. Yah---walaupun kedamaian itu terjadi tanpa sepengetahuan manusia. Tapi rencana vampire itu tetap saja gila.


Abel mengangguk.


"Dan dia tahu, Balckmoon dan ayahmu akan menghalanginya dengan sekuat tenaga. Karena itu ketika dia bertemu Egon...." Abel tidak melanjutkan kalimatnya, tapi kami semua tahu apa akibat pertemuan itu.


Jadi Egon mendukung tujuannya untuk menghabisi manusia? Otaknya lebih sakit dari pada yang aku duga.


"Mereka pasti pasangan yang serasi, A f*ckhead and a traitor" Roan mengucapkan itu dengan menggeram penuh emosi.


Abel sejenak memandang Roan dengan heran. Aku tahu apa yang dipikirkannya, wajah cantik Roan tidak cocok disandingkan dengan ucapan kasar yang keluar dari mulutnya.


"Dan sekarang mereka mengincarku, karena aku Scion Blackmoon!" ujarku, menyimpulkan alur pemikiran yang baru saja aku dengar.


Abel dan uncle Rex mengangguk bersamaan.


Aku masih ingat, bagaimana saat tangan vampire gila itu mencengkeram rambutku, bersiap untuk mencabut kepalaku dari tempatnya menempel.


Dia memang berusaha membunuhku saat itu. Dia pasti sangat jengkel ketika rencananya gagal. Dan sekarang dia ke sini untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.


"Jangan khawatir aku akan menghadapinya"


Aku memang belum bisa bertransformasi, tapi dari pertarungan terakhir dengannya, kekuatan kami tidak berbeda jauh.


Aku kalah hanya karena keadaanku yang sudah terluka sebelumnya. Kali ini aku berada dalam kondisi maksimal, semaksimal yang aku bisa capai, tanpa wujud serigala.


"Sebelum kau berlari untuk menyambutnya, ada hal lain yang perlu aku ceritakan"


Abel kembali memandangku, kali ini dengan mata penuh kekhawatiran, seperti Uncle Rex.


"Crispin bukan vampire biasa, dan aku rasa kau tahu itu bukan? Kau sudah pernah bertarung menghadapinya" tanya Abel.


Aku mengangguk. Vampire gila itu memang tidak seperti vampire lain yang pernah aku temui. Dia kuat dan sangat cepat. Aku tidak akan lupa tanganku yang retak, hanya karena menahan pukulannya.


"Crispin mempunyai kebiasaan membunuh lawan inhumane nya dengan cara mencabut jantungnya. Kau tahu kenapa?" tanya Abel, sambil memandang kami bertiga.


"Because he's sick psycho?" jawab Roan dengan heran, menurutnya tidak perlu mencari alasan dari perbuatan menjijikkan semacam itu. Dia pembunuh gila yang kejam, itu saja.


"Tidak! Dia mencabut jantung inhumane untuk di makan. Dengan begitu dan entah bagaimana caranya, dia mentransfer kekuatan inhumane itu kedalam  tubuhnya"


Rasa mual menerpa perutku ketika mendengar penjelasan Abel. Hal itu tidak pernah terlintas dipikiranku.


El dan Roan bersamaan mengeluarkan erangan jijik dari mulutnya. Aku memandang Abel dengan tidak percaya.


"Itu benar. Kau sudah melawannya, tentu kau tahu bagaimana kekuatannya. Semakin banyak inhumane yang dibunuh olehnya, dia akan semakin tak terkalahkan" ujar Abel, mengulang fakta mengerikan yang baru saja diungkapnya.


Bayangan luka di bagian dada jasad ayahku berkelebat di benakku. Amarah segera mendidihkan darahku.


Luka itu bukan hanya karena dia mencabut jantung ayah, tetapi karena dia memakannya? Aku memejamkan mata, menahan keinginanku untuk membalik meja di hadapanku.


Suara derakkan sesuatu yang patah terdengar dari sebelah kiriku. Aku membuka mata, dan melihat ponsel yang telah hancur di tangan kiriku.


Tanpa sadar aku meremasnya dengan sekuat tenaga, untuk menahan amarahku tadi. Ponsel itu sedari tadi aku pegang setelah El menyerahkannya padaku.


Aku membuka telapak tangan kiriku, dan patahan ponsel itu jatuh ke lantai.


"Duke!!!" jeritan marah Roan terdengar sangat nyaring di telingaku.


"Berhenti menghancurkan ponselmu!! Itu sudah ponselmu yang ketiga dalam waktu 2 bulan ini!!"


Aku tidak melakukannya secara sengaja, kecuali ketika aku melemparnya ke TV atau ketika aku membantingnya di cafe.


Maka aku mengabaikan mata Roan yang melotot dan kembali memandang ke arah Abel. Dia juga sedang memandangku, bergantian antara wajah dan tangan kiriku.


"Kekuatanmu memang lebih dari werewolf lain, seperti yang dikatakan ayahmu"


Berapa banyak yang dia tahu, batinku.


"Ya, dan kau tahu apa penyebabnya" Uncle Rex menimpali perkataan Abel dengan datar, menyiratkan jika pengetahuan Abel tentang kekuatanku, bukan hal baru.


"Aku hanya belum pernah melihatnya secara langsung, itu saja" Abel menggeleng dengan pelan, "Mate rupanya memang penyatuan yang sangat istimewa" ujarnya.


Dia juga tahu soal ayah dan Ibuku. Ayahku pasti mempercayainya dengan sepenuh hati, sampai menceritakan sola mate padanya.


"Mungkin itu yang membuatmu bisa bertahan menghadapi Crispin, makhluk inhumane yang lain biasanya tidak akan selamat setelah bertemu dengannya"


Perkataan Abel ini mengingatkanku akan sesuatu.


"Benarkah dia sudah menghancurkan pack werewolf, elven sanctum dan juga witch coven?" tanyaku.


Abel mengangguk.


"Karena itu dia bisa mengalahkan ayahmu, walaupun dengan bantuan Egon, vampire normal tidak akan bisa melawan ayahmu dan selamat. Dia adalah Alpha mate, Alpha terkuat. Tetapi Crispin sudah menjadi lebih kuat dari vampire biasa, karena sudah menyerap kekuatan dari sekian banyak inhumane yang telah dikalahkannya. Dan sekarang dia menjadi lebih kuat lagi, karena....ayahmu"


Abel tersendat, ketika menyebut fakta bahwa ayahku juga menjadi korban vampire gila itu. Aku bisa merasakan amarah yang memancar dari matanya.


Tentu saja, jantung dan darah seorang Alpha akan membuatnya lebih kuat, apalagi ayahku adalah Alpha terkuat karena bertemu dengan mate-nya. Dia mendapatkan mangsa paling sempurna malam itu.


Vampire gila itu menentukan sasarannya dengan sangat hati-hati.


"Ini buruk sekali! Bukan hanya dia kuat, tapi luar biasa kuat" El mengulangnya dengan nada muram.


"A worthy opponent" Roan menyahut dengan senyum sinis tersungging di bibirnya. Aku hanya mengangguk mendengar mereka.


"Tapi, kenapa tidak ada vampire yang melakukan ini sebelumnya? Mereka sudah meminum darah dari semenjak mereka ada!" El bertanya sambil memandang Abel dengan tertarik.


"Karena sebelumnya, vampire tidak pernah meminum darah sesama inhumane, apalagi memakan sebagian dari mereka. Darah inhumane tidak terasa lezat di lidah mereka. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa menemukan fakta soal transfer kekuatan ini. Yang pasti, perbuatannya terhitung sangat rendah dan menjijikkan, bahkan dalam standar vampire" jawab Abel, dengan wajah mengernyit.


Itu benar. Aku masih ingat bagaimana dia mengeluh rasa darah werewolf menjijikkan, tapi itu tidak membuatnya berhenti menjilat darah yang melumuri tangannya.


"Aku lega karena kau mempunyai darah keturunan dari penyatuan mate yang membuatmu jauh lebih kuat dari werewolf lain, setidaknya mereka tidak akan bisa membunuhmu dengan mudah" Abel menatapku dengan tersenyum kecil.


Dengusan dan keluhan yang lolos dari mulut Roan dan Uncle Rex segera menghapus senyuman Abel.


Aku yang kehilangan kemampuanku bertransformasi, adalah sasaran empuk untuk mereka. Aku mengacak rambutku dengan frustasi.


Bee, tidak bisakah kita bersama lagi sekarang juga? Aku membatin dengan putus asa. Kekuatanku harus segera kembali.


"Ada apa?" Abel mendeteksi keluhan di dalam dengusan dan erangan Uncle Rex.


"Duke kehilangan wolf-nya saat ini, dia juga bertemu dengan mate -nya seperti Owen" Uncle Rex, menjelakan dengan pelan.


Abel membelalak dengan terkejut. Dia bangkit dari duduknya, "Itu kabar yang bagus!! Tapi juga buruk sekali"


Aku bisa melihat, bagaimana raut wajah Abel berubah dari gembira menjadi kalut, dalam beberapa detik saat mengucapkan kalimat itu.


"Apa yang terjadi? Apakah mate-mu juga sudah bersuami?" tanyanya.


Kesimpulan liarnya yang menyamakan situasiku dengan ayah, meninggalkan rasa tidak menyenangkan di lidahku. Aku masih sedikit beruntung karena Bee belum menikahi siapapun. Aku harus merasa bersyukur untuk itu.


"Tidak, dia bukan istri dari siapapun!" jawabku.


"Lalu apa? Kenapa kalian bisa berpisah dan membuatmu kehilangan wolf?" tanyanya, tak sabar.


Aku tidak ingin bercerita panjang lebar saat ini. Maka aku memandang El dan dia mengerti.


Dari mulut El,  mengalir ceria panjang dan rumit mengenai aku dan Bee . Tidak dengan detailnya, hanya beberapa yang perlu diketahui olehnya


 


 


----------- *0o0*----------


 


 


Jam di ponselku menunjukkan pukul 00:03 a.m. Aku mendesah dengan kesal.


Aku seharusnya tidur sekarang, besok akan sangat sibuk. Untuk 3 hari kedepan, aku dan Jovi berencana untuk mengadakan survey lapangan untuk beberapa proposal yang sudah lolos seleksi kami.


Letak tempatnya masih di sekitar London, tapi ada 15 tempat yang harus kami datangi dalam waktu 3 hari. Itu akan sangat melelahkan.


Tapi sekarang, aku justru tidak bisa memejamkan mata dengan tenang.


Aku melirik notifikasi ponsel dengan setengah hati. Dan kemudian kembali kecewa. Tidak ada apapun di sana, pesan ataupun panggilan tidak terjawab. Aku meletakkannya kembali di meja sebelah ranjang.


Tentu saja aku tidak mengharapkannya untuk menelponku secepat ini, tapi tetap saja aku merasa kecewa.


Ini semua gara-gara Jovi!! Aku seharusnya mengacuhkan segala perkataannya.


Semenjak sore tadi, dia terus menggodaku. Jovi terus menerus mengirim pesan padaku, hanya untuk tahu berapa lama waktu berlalu sebelum aku membalasnya.


Biasanya aku akan membalas pesannya keesokan pagi atau kadang malah tidak terbalas, karena aku jarang melihat ponsel, sampai saat aku tiba kembali di kantor.


Jovi sering mengomel karena ini. Tidak akan ada gunanya dia mengirim pesan, jika aku baru membacanya setelah kami bertemu.


Tapi tadi setelah makan malam, aku dengan iseng melihat ponselku, dan melihat pesan dari Jovi. Aku langsung membalasnya tanpa berpikir panjang.


Tapi setelahnya, Jovi terus saja menggoda, jika aku memeriksa ponsel, karena sedang menunggu telepon dan pesan dari Duke. Dia terus mengirimiku berpuluh-puluh pesan yang hampir membuatku membanting ponsel karena kesal.


Aku tidak memeriksa ponsel karena mengharapkan pesan dari Duke, itu hanya perbuatan iseng. Yaaah--aku memang sedikit penasaran, hanya sedikit! Dan aku tidak berharap.


Penasaran!...itu saja.


Kau mengingkari perasaanmu lagi Lui!! Sepenggal benakku memberontak dengan sangat bersemangat.


Aku menarik nafas panjang karena kesal. Benakku kembali bercabang. Sebagian hati dan pikiranku sudah menyerah dengan segala pesona Duke, sedangkan yang lain memperingatkanku, kejadian dengan Zeno yang berakhir buruk untuk kami berdua.


Aku memejamkan mata erat, berharap kantuk yang aku tunggu segera datang. Tapi bayangan mata coklat terang yang memandangku dari seberang meja tadi siang, tidak lelah menggangguku.


Jika seperti ini, aku tidak akan bisa tidur sampai pagi. Dengan desahan pasrah aku merapatkan selimut..........