
Telur mata sapi yang ada di piringku, terbujur kaku tanpa kehangatan.
Aku menusuknya dengan malas, mencoba untuk membuatnya agar menjadi lebih terlihat lezat.
Daging adalah menu sarapan favorit pilihanku, tapi keadaan perutku yang masih tidak menentu, membuat dr. Sidra melarang memakan sesuatu yang berat pada pagi hari. Aku harus puas dengan telur dan sayuran untuk sarapan.
Di hadapanku, Oscar juga mengaduk sarapannya dengan wajah masam. Saat ini masih terlalu awal untuk sarapan karena kami berangkat sebelum fajar, tapi Mom tidak membiarkan kami pergi, sebelum dia memasukkan 2 piring sarapan ke mobil. Dia bahkan mengemas bekal praktis untuk El yang akan menyetir.
Oscar mendecak tidak senang "Aku belum mengucapkan selamat tinggal pada Lui"
"Kau bisa menelponnya kapan saja sekarang"
Walaupun Blackmoon berada di tengah hutan, tapi penerimaan sinyal kami tetap bagus. Ayah khusus membangun tower pemancar di sekitar sini. Pada awalnya hanya karena Monath campground membutuhkannya, tapi kini hampir semua warga pack juga ikut menikmatinya.
Moderenisasi yang diterima dengan tangan terbuka, terutama oleh Roan. Dia tidak pelu pergi ke kota untuk bisa memakai benda kesayangannya.
Dengan semua kelengkapan itu, aku tidak pernah berpikir, jika Bee akan butuh ponsel sebelum ini. Bee sangat berbeda dari Roan. Dia nyaris tidak peduli dengan keberadaan ponsel.
"Lagipula kau tidak akan diizinkan menemui Bee sebelum dia bangun" tambahku, pada Oscar.
"Diijinkan? Oleh siapa? Bukankah kau penguasa di pack?" tanya Oscar dengan nada meremehkan.
"Well, orang yang menjaga Bee, memiliki kekuasaan yang sedikit lebih dariku. Aku tidak mau membantahnya" Aku tersenyum kecut.
Hal ini adalah kenyataan, aku lebih baik menelan sendok yang ada di tanganku saat ini, dari pada harus membantah Mom soal merawat Bee. Dia tadi memberiku tatapan membunuh, ketika aku mengusulkan agar Oscar menemui Bee sebelum pulang.
Mom menentangnya, karena itu berarti Bee akan kehilangan waktu tidur.
Obsesi Mom untuk menjaga Bee, sudah mendekati titik tidak sehat seperti Charlie dan Oscar. Tapi mungkin ini juga salah satu pesona Bee, dia selalu bisa membuat orang di sekelilingnya untuk jatuh cinta tanpa syarat kepadanya. Kecuali ayahnya yang berhati batu.
"Why are you blushing?" Oscar memandangku heran. Lamunanku tentang Bee ternyata membuatku wajahku merona.
"Nothing!!" jawabku cepat. Tidak perlu membagi pikiran seperti itu dengannya.
"Kau benar-benar penguasa di pack ini bukan?" tanya Oscar, sambil menusuk telur mata sapinya.
Dia memandangku dengan mata menyipit.
"Kurang lebih. Aku belum menjalani upacara pengangkatan, karena aku belum memiliki Zhena"
Ini akan menjadi pembicaraan yang panjang.
Oscar mengangkat alis meminta pejelasan, sesuai dengan apa yang aku perkirakan tadi.
"Zhena adalah pasangan dari Alpha, istri Alpha. Salah satu syarat untuk menjadi Alpha adalah memiliki Zhena, karena seorang Alpha harus memberikan garansi untuk memiliki keturunan"
"Peraturan macam itu?" sergah Oscar.
"Well aku bisa mengerti. Karena seorang Alpha tanpa keturunan berarti perang sipil. Akan buruk untuk kelangsungan hidup pack".
Perebutan kedudukan tanpa hubungan darah Alpha secara langsung adalah bencana. Blackmoon cukup beruntung karena selalu memiliki penerus sah sejak ribuan tahun lalu, baik Scion ataupun Damsel.
"Tapi orang tua itu tidak setuju kau bersama Lui, karena dia manusia" Oscar masih tidak puas setelah penjelasan panjang itu.
"Ya, dia adalah salah satu Elder di sini. Dia adalah Alpha sebelum kakekku. Dia tidak lagi memiliki kekuasaan, tapi masih memiliki beberapa pengaruh di pack. Biasanya keputusan penting yang diambil Alpha, harus meminta persetujuan kepada para Elder sebelum melakukan sesuatu. Untuk mencegah Alpha berbuat bodoh"
"Kakek kakek buyutmu ?" Oscar sepertinya terkejut, mendengar aku memiliki hubungan darah dengan Elder Victor..
Aku mengangguk dengan masam. "Ya, salah satu yang paling menyebalkan"
"Sayang sekali kita tidak bisa memilih dari keturunan siapa kita akan lahir, kau lihat sendiri bagaimana ayahku" ujar Oscar. dengan tak kalah pahit.
Aku hanya bisa mengangguk. Untuk hal itu aku sangat setuju dengannya.
"Tapi kau benar akan meninggalkan pack dan juga jabatan itu, jika mereka tidak setuju soal Lui?"
Pertanyaan yang telah berjuta kali aku dengar, dan aku masih tidak menyukainya sampai sekarang.
"Ya aku akan membuangnya. Dan tolong jangan membahas hal ini lagi" Aku memohon dengan memelas.
Sarapan yang belum seberapa banyak masuk ke perutku, seakan ingin naik kembali saat aku memikirkannya.
"Berapa lama lagi kita akan sampai, El?" . Kami kembali menaiki camping car yang biasa untuk perjalanan ini.
"Sekitar 2 jam" jawabnya pendek.
Sempurna---- aku masih harus menjawab semua pertanyaan Oscar selama 2 jam. Ini akan menyenangkan, batinku dengan tingkat ironi tidak terbatas.
"Aku punya permintaan untukmu.. ah bukan perintah!" Nada bicara Oscar menjadi serius dan matanya memandangku dengan tajam..
Aku mengabaikan rasa kesal yang muncul, oleh keberaniannya memerintahku dan memilih untuk mendengarkan.
"Aku ingin kau tidak mengatakan apapun pada Lui soal kalian adalah mate. Setidaknya sampai perasaan Lui jelas. Jelas bahwa dia akan memilihmu atau tidak" tegasnya.
Aku mendecak kesal. "Aku tidak sebodoh itu, dengan menjelaskan hal seajaib itu padanya. Kau pikir Bee akan percaya?"
Baru beberapa hari ini Bee tahu soal makhluk inhumane sepertiku. Masih butuh sedikit waktu, agar Bee menjadi terbiasa dengan segala keanehannya. Dan soal mate, adalah hal terakhir yang ingin aku jelaskan padanya.
Persoalan mate ini sedikit lebih ajaib, bahkan untukku yang terbiasa berjalan dengan empat kaki.
----------- *0o0*----------
"Myra, are you a werewolf?" tanyaku, tanpa basa basi.
Aku memendam pertanyaan ini semalam suntuk. Bukannya aku tidak percaya dengan kata-kata Oscar. Tapi aku hanya ingin memastikan.
Rasa penasaran ini bahkan mengalahkan rasa kecewa atas berita yang dibawa Myra, soal Oscar sudah kembali ke London dini hari tadi.
Myra terlihat sedikit terkejut, karena tidak menyangka aku akan bertanya tentang hal itu.
Tapi kemudian dia tersenyum, dan menggeleng. "Hampir benar, I'm a siewolf, I'm a female wolf" jawabnya mengoreksi istilah yang aku sebutkan.
"Why? Apa kau takut padaku?" tanyanya sambil memandangku.
Dengan cepat aku menggeleng. "Tentu saja tidak! Kau sangat baik, aku tidak mungkin takut padamu" jawabku dengan mantap.
Setelah pembicaraanku dengan Oscar kemarin, aku banyak merenungkan masalah ini.
Aku sudah sangat jahat pada Duke. Dia memang bersalah karena berbohong, tapi dia menyelamatkan aku dari para werewolf jahat itu.
Aku tidak seharusnya berteriak ketakutan saat melihat wujud lainnya, walaupun wujud itu memang menyeramkan.
Myra berjalan menghampiriku, kemudian duduk di sebelahku. "Siapa yang memberitahumu? Apakah Oscar?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Maaf, karena aku sudah bersikap sangat buruk tentang hal itu. Aku menyebut kalian---monster" Aku menarik nafas panjang penuh penyesalan.
"Tidak apa, kau tidak pernah menyebutku monster" Myra tersenyum cerah. Dia terlihat gembira.
"Aku tahu, tapi aku sangat takut pada............"
Aku tidak bisa menyebut nama Duke dengan benar, debaran jantungku mengalahkan lidahku dan membuatnya kelu. Bukan karena takut tentu saja.
"Aku berteriak dan menyebutnya monster! Ini memalukan, aku sudah bersikap sangat buruk padanya"
Aku mengucapkannya dengan cepat, sebelum keberanianku kembali surut.
"Oh.. Lui. Itu manis sekali" Myra tiba-tiba memelukku dengan senyum lebar.
Ada apa? Apa yang membuatnya begitu gembira?
"Aku yakin Duke akan gembira mendengar itu. Tapi sayang, dia sedang pergi mengantar kakakmu ke kota" tambahnya.
Dia gembira karena aku tak takut lagi pada Duke? Tapi kenapa?
"Bagaimana kalau kita sarapan bersama di bawah hari ini?" usul Myra, sambil menarikku berdiri.
"Hmmm... baiklah" Usul yang lumayan menarik. Dan aku tidak akan tega menolak, Myra terlihat sangat bahagia.
"Bagus!! Sebentar" Myra berlalu dengan secepat kilat keluar dari kamar.
Apa yang membuatnya tiba-tiba sangat bersemangat seperti itu?
Aku sedikit lega karena Duke tidak ada, karena aku tidak tahu harus bersikap seperti apa padanya setelah semua itu. Aku memarahinya, berteriak padanya, dan masih banyak lagi. Yang pasti, aku telah bersikap sangat tidak sopan.
Itu memalukan!
Apalagi dengan fakta yang baru aku tahu, jika Duke adalah 'penguasa' di sini. Aku dengan sangat berani telah memarahinya.
Aku meragukan tebakan Myra, jika Duke akan senang mendengarku tidak lagi takut kepadanya.
Aku telah memanggilnya monster! Aku harus berusaha keras untuk meminta maaf padanya setelah ini. Tapi membayangkan aku berbicara dengan Duke sudah membuatku berdebar.
Jantungku semakin sering tidak mendengar perintah dari otakku, yang menyuruhnya untuk tenang, setiap kali aku memikirkan Duke.
Aku harap, hal itu terjadi hanya karena aku merasa malu dengan segala perbuatanku padanya, bukan yang lain!
Myra membuka pintu kamar dan melambai padaku " Ayo.. turunlah"
Aku mengangguk dan bangkit keluar mengikuti Myra yang telah berjalan di depanku.
Dia membawaku ke ruang makan yang terletak di sayap bagian barat rumah ini. Meja makan yang cukup menampung lebih dari 10 orang telah tertata rapi di depan jendela.
Nafasku terhenti di tenggorokan ketika melihat siapa yang telah menunggu kami.
Gadis cantik berambut hitam itu duduk disana!!
Mendadak aku menyesal menerima tawaran Myra untuk melakukan sarapan bersama ini.
Selain gadis itu, ada dua orang lain yang duduk di sana. Sepertinya mereka pasangan suami istri mereka duduk berdampingan dan berbicara akrab.
"Id, Tita, Aku senang kalian bersedia datang" Myra menyapa mereka dengan senyum.
Dia memeluk wanita yang bernama Tita itu dengan hangat.
"Anda tak perlu merepotkan diri seperti ini Zhena, kami sedang bertugas" Pria yang di panggil Id oleh Myra, berkata dengan sedikit wajah ragu.
Tapi Myra mengibaskan tangannya, pertanda dia tidak peduli.
Tapi mengapa pria itu memanggil Myra dengan Zhena? Apakah itu nama keluarganya?
Melihatku tidak bergerak, Myra menarikku mendekat. "Nah! Perkenalkan, gadis manis ini bernama Eluira Delmora"
Aku tidak percaya, Myra baru saja memperkenalkan aku dengan menyebut kata gadis manis.
Aku terlihat seperti ubur-ubur, jika di bandingkan dengan gadis berambut hitam itu!! Aku bisa merasa wajahku merona karena malu.
Tapi Myra tidak berhenti "Lui, perkenalkan. Ini Roanna Ewaldo, dan ini adalah Idonea Magnus dan istrinya Tita"
Aku mengulurkan tanganku yang sedikit bergetar pada gadis itu, dia memandangku dengan seksama dari ujung kepala sampai ke kaki, sebelum menerima tanganku. "Hai..!" sapanya tanpa semangat.
Aku hanya bisa mengangguk. Ini canggung sekali.
Aku mengulurkan tanganku kepada pasangan suami istri itu, yang menyambutku dengan lebih hangat.
"Senang berkenalan dengan anda Ms. Delmora" sapanya.
"My pleasure Mr. Magnus, Mrs. Magnus" balasku menjabat mereka secara bergantian.
"Ah. panggil saja saya Id, dan istri saya Tita, Ms. Delmora" pintanya dengan resmi.
What?!! Mereka jelas-jelas lebih tua dariku
"Itu.. sedikit.." aku ragu mengucapkannya, karena wajah mereka menegaskan tidak ingin ada penolakan.
"Baiklah, dan tolong panggil aku Lui saja" tukasku, mencoba mengurangi kecanggungan itu.
Tapi wajah mereka sekarang terlihat ragu dan memandang Myra seolah meminta ijin.
Myra mengangguk pelan sebelum akhirnya mereka menyetujui permintaanku. Pemandangan yang sedikit ganjil menurutku, apakah mereka memerlukan ijin dari Myra hanya untuk memanggilku Lui?
Myra tidak memberiku kesempatan berpikir, karena sekarang dia menyuruhku duduk di sebelah Roanna. Aku semakin tidak menyukai acara ini.
Id dan Tita duduk di hadapanku, sedangkan Myra mengambil tempat di ujung meja yang berdekatan dengan tempatku duduk.
Myra mengobrol ringan dengan Tita menanyakan tentang keadaannya, aku rasa mereka sudah lama tidak bertemu.
"Oh.. Apakah daerah kalian tinggal berdekatan dengan Lui?" tanya Myra tiba-tiba.
Aku sedikit terkejut karena namaku yang disebut tiba-tiba, mengangkat pandangan dari piring dengan heran.
"Oh.. belum lama ini mereka tinggal di London Lui" jelas Myra.
"Benarkah?" tanyaku.
"Benar Nona, kami tinggal di Barnet" jawab Id.
"Oh, London Utara. Tempat itu sedikit jauh dari rumahku" Aku menjelaskan sambil memandang Myra, yang kini mengangguk mengerti.
"Auntie, kapan Duke kembali?" tiba-tiba Roanna yang sedari tadi makan dalam diam, bertanya sambil menatap Myra.
Myra memandang Roan dengan mata melebar, "Malam ini Roan, apa dia tidak mengatakannya padamu?". Walaupun berwajah heran, Myra tetap menjawab seraya menyendokkan makanan ke mulutnya.
"Tidak!! Dan itu menyebalkan. Padahal aku ingin sekali bertemu dengannya, aku merindukannya, auntie" kata Roanna, dengan nada merajuk.
Dan segera saja potongan keju gurih yang ada di mulutku rasanya berubah seperti kertas.
Saat ini aku mempunyai keinginan absurd, yaitu menusukkan garpu ke tangan Roanna, yang sekarang berada persis di sebelah tangan kiriku.
Tapi suara tersedak dari Myra mengalihkan perhatian. Myra terbatuk hebat sambil memegangi dadanya. Aku menyambar segelas air, menyodorkannya pada Myra.
Myra meminumnya dalam sekali tarikan nafas dan akhirnya batuknya berhenti.
"Apa maksud..."
BUUUMM..... Brakk!!!
Belum sempat Myra menyelesaikan pertanyaannya pada Roanna, suara benturan keras membuat kami semua terlonjak.
Kemudian entah berasal dari mana, sesuatu melayang melintasi ruang tengah, lalu mendarat di belakang Id dan Tita dengan bunyi berdebam keras.
Itu werewolf!!!
Werewolf dalam bentuk serigala dan terluka parah. Darah berleleran dari beberapa bagian badannya.
Dengan reflek aku membuka mulut untuk menjerit karena pemandangan mengerikan itu, tapi Roanna membekap mulutku sebelum aku bisa menjerit.
"Jangan menjerit!" bisiknya.
"Tita!! Bawa Lui ke tempat persembunyian dan hubungi Duke" Suara bernada tegas mengagetkanku.
Myra yang meneriakannya. Wajahnya yang biasa ramah penuh senyum tidak terlihat lagi. Myra sekarang terlihat sedikit mengerikan.
"Tapi Zhena.."
"Jangan membantah!! Berani sekali mereka mengganggu ketenangan pack" Myra kembali berteriak memotong ucapan keberatan dari Tita.
Tita segera saja bangkit dan menyambarku berdiri. Dia menarik lepas tirai yang menempel di jendela dan menyelimutkan tirai itu padaku. Aku yang sedari tadi hanya bisa melihat semua kejadian di depanku tanpa bisa berkata apa-apa, memekik terkejut.
Tapi sebelum sempat memprotes, Tita telah menyeretku menjauh dari ruang makan.
"Roan!!! hancurkan mereka!!!"
Aku masih biasa mendengar suara Myra yang terdengar seperti raungan di telingaku, sebelum Tita menyeretku semakin jauh.
"Maafkan saya. Saya harus menyembunyikan identitas nona. Warna rambut anda sangat mencolok di sini dan saya harap aroma anda agak tersamar dengan adanya tirai ini"
Suara Tita meminta maaf terdengar teredam, karena kepalaku yang sekarang tertutup.
Baru beberapa saat kami melangkah, suara pekikkan terdengar dari Tita.
Tangannya yang menggandengku terlepas. Tubuhku langsung terpelanting karena kerasnya dorongan yang menabrak Tita. Kain yang menutup tubuhku tertarik turun dan aku bisa melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi.
Werewolf dengan bulu cokelat gelap berdiri di depan kami, sementara Tita tersungkur di bawah tembok sambil mengernyit kesakitan.
Werewolf itu mulai menggeram sambil memandangku. Aku tidak perlu meragukan apa niatnya, tatapannya sangat buas.
Tiba-tiba saja aku merasa muak dan marah.
Apa salahku sehingga mereka mengejar kemanapun aku pergi? Aku sudah meninggalkan rumah, dan mereka tetap menyusul ke sini. Kenyataan ini sungguh melelahkan.
"Apa maumu? " bentakku.
"Apa salahku sehingga kau mengejar kemanapun aku pergi?!! " tanyaku sambil berteriak dengan penuh amarah kepada serigala itu.
Aku bangkit berdiri dan menatap matanya dengan galak.
Werewolf itu tampak terkejut melihatku berteriak padanya. Sejenak dia memandangku, tapi kemudian dia kembali mendengus hingga mulutnya tertarik ke belakang. Taringnya yang tajam seolah tidak sabar ingin mengoyak tubuhku.
Dan tentu saja aku takut, amarahku kembali dikalahkan oleh ketakutan
Saat itulah dari arah samping seekor serigala lain yang berbulu abu-abu dengan sedikit warna hitam di ekornya, menerjang membuatnya terlontar menjauh dariku.
Aku melihat ke arah tempat Tita jatuh, tapi di sana hanya ada tumpukan baju. Dan aku mengerti. Werewolf yang menolongku itu, adalah Tita.
Aku semakin bersorak gembira, ketika satu werewolf lagi datang dan membantu Tita. Werewolf itu berukuran sedikit lebih besar dan berwarna hitam di sebagian besar tubuhnya, yang berwarna abu-abu hanya bagian kakinya saja.
Werewolf Tita meninggalkan pertarungan dan menghampiriku. Mungkin menurutnya werewolf yang baru datang itu tidak memerlukan bantuan untuk mengalahkan werewolf jahat yang berusaha menerkamku tadi.
Werewolf Tita memandangku sebentar, lalu kemudian pemandangan ajaib berlangsung dengan cepat di hadapanku.
Tubuh serigala Tita menyusut dengan diikuti suara berisik. Bulu lebat di seluruh tubuhnya menghilang masuk ke dalam pori-pori, perlahan wajahnya mulai terlihat normal. Kemudian Tita yang seperti aku lihat tadi pagi berdiri di hadapanku, dan telanjang!!!.
Aku menunduk dengan malu. Mataku tertuju pada tumpukan baju di dekat tembok. Aku berlari mengambilnya dan menyerahkannya pada Tita yang telah mengikutiku.
"Terima kasih Nona" ucapnya sambil tersenyum, dan dengan cepat memakai bajunya kembali.
"Lui!" Koreksiku.
Dia hanya mengangguk dan kembali meraih tanganku.
"Kita harus menjauh dari sini" katanya sambil memandang ke arah kedua serigala yang masih saling serang di belakangnya. Aku melihat percikan darah berterbangan sekarang.
Mereka terluka!
Tapi Tita tidak membiarkanku melihat lebih lanjut, dia menyambar tirai yang berada di tanah dan kembali menutup tubuhku.
Tita kemudian membawaku berlari dengan kecepatan penuh. Nafasku sedikit tersengal sekarang. Aku rasa Tita lupa mempertimbangkan jika aku manusia biasa.
Tidak lama Tita melambat, kemudian aku mendengar suara tombol yang di tekan secara bergantian. Aku rasa dia membuka sesuatu yang memiliki pintu otomatis.
Setelahnya aku mendengar suara sesuatu yang berat di geser, dan Tita menarikku untuk maju dengan perlahan.
Tita menuntunku dengan pelan, karena dia menuruni tangga seraya menarik lepas kain yang menutupi kepalaku.
Mataku sedikit terpejam karena silau oleh cahaya lampu yang tepat berada di depanku.
Aku memandang berkeliling, dan menyadari kami berada di sebuah ruangan bawah tanah. Ruangan itu nyaman, lengkap dengan kulkas dan tempat tidur. Ruangan ini terlihat seperti ruangan bersantai.
Aku menuruni sisa tangga sambil melihat ke sekeliling.
Tita sekarang merogoh kantongnya dengan gugup ketika kami sampai di bawah.
Dia menemukan ponselnya, kemudian mengumpat. "**, aku lupa kita tidak bisa mendapat sinyal di sini"
Aku meraih ponsel milik Oscar di saku, dan melihat ponsel itu juga dalam keadaan yang sama, karena kami berada di ruang bawah tanah.
"Maaf Miss Delmora, tapi saya harus menghubungi Scion sekarang. Saya harus meninggalkan anda di sini sebentar"
"Aku akan baik-baik saja, pergilah dan hati-hati" balasku, tanpa bertanya lagi.
Walau aku penasaran apa yang dimaksud dengan Scion, tapi aku tidak ingin menghalangi tugasnya.
Tita mengangguk "Saya mohon jangan membuka pintu itu untuk siapapun yang mengetuknya. Orang yang menjemput anda sudah pasti tahu kombinasi untuk pintu itu" pesannya.
Dia terlihat puas melihatku mengangguk, kemudian segera berlari menaiki tangga. Dia menempelkan telinganya sejenak di pintu dan kemudian menariknya terbuka dan menghilang.
Berada di sini sendirian membuatku tersiksa, aku sangat ingin mengetahui apa yang terjadi, tapi aku juga sadar bahwa keluar dari sini hanya akan membawa bencana. Siapapun yang menyerang kami mempunyai kekuatan yang bisa melempar dan melukai werewolf dengan sangat parah.
Siapapun itu, hanya perlu menjentikkan jarinya untuk membunuhku.
Tapi sebenarnya apa yang mereka inginkan dariku? Rasa kesal kembali melanda. Aku melihat bagaimana werewolf tadi sangat bernafsu ingin membunuhku.
Dan yang lebih menyebalkan, Oscar bahkan tidak mau menjelaskan apapun padaku. Aku biasanya berhasil membuatnya bicara sebelum ini.
Tapi Oscar telah mencegah sebelum aku bisa memulai drama rengekanku yang biasa
Sikapnya itu yang membuatku berhenti. Karena itu berarti hanya satu, Oscar tidak mengatakannya karena dia melindungiku. Aku mengenali karakteristik Oscar untuk hal seperti ini. Dia tidak akan mengatakan sesuatu yang memang tidak perlu aku ketahui, walaupun aku memaksa.
Tapi jika aku memang perlu mengetahuinya, walaupun itu menyakitkan untukku, dia tidak akan ragu untuk mengutarakannya.
Aku dulu sangat tidak menyukai hal ini, tapi setelah beberapa kali aku menyesal karena tidak mempercayai penilaiannya, aku menjadi terbiasa untuk tidak bertanya jika Oscar menolak rengekanku.
Suara berdebam pelan di pintu membuatku terlonjak kaget. Segera saja suhu badanku turun karena ketakutan.
Apa itu tadi? Ada sesuatu atau seseorang di depan pintu!
Bayangan serigala yang tadi menghadang mulai menghantuiku. Ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan Oscar.
Aku memandang nanar pintu itu dan berharap pintu itu tidak akan terbuka. Dengan perlahan aku beringsut mundur sembari menarik selimut dari ranjang kecil di pojok ruangan. Ide cemerlang muncul ketika aku melihat ranjang itu.
Aku menundukkan kepala dan memeriksa ruangan dibawah ranjang. Sempit, tapi bukan masalah bagiku. Hari ini adalah pertama kalinya aku bersyukur, karena tubuhku yang mungil membuatku lebih mudah bersembunyi.
Aku bergeser dengan pelan memasuki kolong setelah membungkus tubuhku dengan selimut.
----------- *0o0*----------
"Kau sangat tepat waktu seperti ayahmu" Abel menjabat tanganku dengan hangat ketika kami bertemu.
Sesuai janji, kami bertemu di sebuah penginapan untuk pemburu, yang tersebar di beberapa tempat di sekitar Quebec. Menurut El, penginapan berburu ini juga milik Monath. Fakta yang sekarang tidak terlalu membuatku terkejut.
Tapi ada kejutan lain yang menungguku di dalam. Uncle Rex sedang duduk di depan perapian, dengan segelas kopi di tangannya. Aku tidak tahu dia akan mengikuti pertemuan ini.
"Uncle.." sapaku, Uncle Rex berdiri dan memelukku singkat. "Aku menyangka kau akan menempel pada gadis itu sekarang, bukan malah meninggalkannya sendiri di pack" Dia tersenyum menggodaku.
Aku hanya bisa tersenyum masam mendengar itu. Aku belum menceritakan padanya tentang keadaan Bee dan aku, yang saat ini sangat jauh dari kata akrab.
Ada hal lain yang menggangguku sekarang. Uncle Rex tidak sendirian.
Seseorang berdiri di sebelah perapian. Yang menjadi masalahnya adalah, aku tidak mencium aroma apapun darinya. Akibatnya aku tidak bisa menerka makhluk apa dia sebenarnya.
Ini menyebalkan, aku belum pernah mengalami hal ini. Hidungku tidak pernah gagal sebelumnya. Aku ingin menarik nafas lebih dalam untuk mencari sedikit aroma darinya, tapi aku juga tidak ingin terlihat terlalu ingin tahu.
Gadis itu juga memandangku dengan tertarik, sebelum akhirnya mengalihkan perhatian pada cangkir di tangannya, saat pandangan mata kami bertemu.
Gadis itu mungkin berumur sama denganku, rambutnya berpotongan sangat pendek dan rapi. Dia memakai celana hitam ketat dan baju turtleneck yang juga hitam. Aura di sekelilingnya memancarkan hal yang sama seperti Roan.
Yaitu aura dengan peringatan 'Touch it, and I'll kill you!!'
"Perkenalkan, ini adalah Faust. Dia hunter sama sepertiku" Abel muncul dari belakangku dan menghampiri gadis itu. Aku mengulurkan tangan dengan sopan, tapi gadis itu hanya memandangnya dengan malas.
"Faustina!!" Abel memberinya teguran sedikit keras.
Wajahnya berubah cemberut. Tapi akhirnya dia mengulurkan tangan walaupun dengan tak rela.
Sikap yang luar biasa sopan!
"Mohon kalian memaafkannya, dia selalu bersikap waspada jika bertemu dengan inhumane yang baru dikenalnya" jelas Abel, dengan mata penuh sesal memandangku.
Aku mengangguk mengerti. Aku akan bersikap sama jika saja belum pernah bertemu atau mendengar tentang Abel. Hunter dan inhumane bukan gabungan yang tepat untuk berkumpul di ruang perapian seperti ini.
"Dan kau membawanya kesini karena...?" tanya Uncle Rex.
"Dia salah satu hunter yang juga percaya, jika Crispin hanya bisa dihentikan dengan bantuan inhumane" jawab Abel sambil duduk di salah satu sofa.
Dia memberi isyarat kepada kami semua agar mengikutinya duduk. Gadis itu dengan segera, mengambil tempat di sebelah Abel, seolah tidak ingin salah satu dari kami duduk di sampingnya.
Percayalah, itu akan menjadi hal terakhir yang aku inginkan. Aku hanya membutuhkan satu Roan dalam hidupku.
"Saat ini sudah jelas Crispin adalah ancaman bagi semua makhluk, baik itu manusia ataupun inhumane. Tapi sampai sekarang, aku tidak berhasil meyakinkan Dewan Tertinggi Hunter untuk mencari bantuan kepada Inhumane" Abel langsung memulai diskusi, tanpa membuang waktu.
"Mereka dengan keras menentang rencanaku. Mereka bilang hunter tidak bisa mengandalkan keberpihakan inhumane yang sewaktu-waktu bisa berubah" lanjutnya, dengan wajah tidak suka.
"Keberpihakan?!? Apakah mereka pikir aku akan berpihak kepada pembunuh ayahku? Mereka lebih bodoh dari pada yang aku kira ternyata" sergahku, jengkel.
Pendapat yang menggelikan sekali!
"Hei... jaga ucapanmu! Mereka berpendapat seperti itu karena berurusan dengan makhluk seperti kalian tidak pernah berakhir baik" bentak Faust, sambil melotot garang.
"Pffttt.. !! Nona, keberadaanmu disini membuktikan jika kau juga berpendapat sama denganku. Mereka tidak punya cukup otak dan nyali untuk menerima perubahan. Tidak perlu membela mereka dengan membabi buta!!" balasku sambil menatapnya tajam.
Aku tidak akan mengalah padanya.
Abel mengangkat tangan, menghentikan perdebatan kami. Aku membuang pandanganku dan beralih memandang Abel, menunggu penjelasan lanjutan darinya.
"Aku berhasil meyakinkan beberapa Hunter seperti Faust, tapi itu tidak akan cukup. Karena itu, aku akhirnya memutuskan untuk menjalankan rencana lain. Dan untuk keberhasilannya, aku membutuhkan sedikit bantuan darimu, Duke"
"Apa?" Uncle Rex menyahut dengan cepat dan bersikap waspada.
Seolah tahu, apa yang dikatakan Abel berikutnya bukan hal yang mudah.
"Aku berencana untuk meminta bantuan dari makhluk inhumane lain yaitu beberapa pack werewolf lain dan juga clan vampire" jawab Abel dengan nada yakin.
Vampire?!!
Apakah dia sedang mabuk?
Aku tidak akan heran jika ternyata Abel sudah meminum sebotol whiskey sebelum datang kemari. Sayangnya aku tidak mencium setitikpun aroma alkohol darinya. Itu berarti dia sangat serius saat mengatakan kita akan bekerja sama dengan para vampire!!