Finding You, Again

Finding You, Again
Us 25 - Question and Sleep



"Duke!!"


Aku berseru panik ketika tubuh Duke, tiba-tiba limbung setibanya kami di Manor.


"Duke! Ada apa?"


Aku berbalik menghampirinya dan tubuh Duke tumbang.


Aku mencoba menangkapnya, tapi ukuran tubuh kami yang jauh berbeda, tidak mengijinkan rencanaku berhasil. Aku justru nyaris terbanting ke lantai, karena berat tubuhnya.


"Help-- Please!!" Air mataku menggenang dengan cepat, melihat keadaan Duke.


Ada apa dengannya?


Rasa takut menguasaiku, saat Duke menutup mata. Tubuh yang sedari tadi hangat, sekarang suhunya menurun dengan cepat.


Butir-butir keringat memenuhi wajahnya.


Aku menopang kepala Duke dengan pahaku. Sambil mencoba untuk berteriak, dengan suaraku yang sekarang semakin tercekat oleh tangis.


"Siapa saja----"


Aku berseru lega, saat akhirnya dua orang memasuki Manor dengan berlari. Aku tidak mengenal mereka, tapi dengan sigap mereka membopong tubuh Duke.


Mereka lalu membaringkan tubuh Duke di kamarku---- kamar Duke yang aku tempati.


"Kami akan memanggil Dr. Sidra dan Zhena Myra"


Mereka berpamitan sambil menunduk hormat padaku. Aku mengangguk pelan.


Aku berlari menuju almari, dan menarik salah satu handuk yang tertumpuk rapi. Setelah membasahinya dengan air, aku mengusap wajah Duke dengan handuk basah itu, dengan harapan akan membuatnya lebih nyaman.


Tubuh Duke masih dingin, dan keringatnya juga semakin banyak, tarikan nafasnya juga sangat berat. Ada apa dengannya? Air mataku yang sempat kering, kembali terbit karena khawatir.


Aku harap Dokter segera datang untuk memeriksa.


"Duke!!! Apa yang terjadi" Seruan panik datang dari pintu, ternyata Myra yang bergegas berlari menghampiri ranjang.


Dia memeriksa suhu dan memijat tangan Duke yang belum merespon.


"Apa yang terjadi Lui?" Myra menatapku dengan wajah pucat. Aku menggeleng panik.


"Kami hanya berjalan memasuki Manor, tiba-tiba Duke mengeluh kesakitan sambil memegangi kepala, lalu dia pingsan" jelasku, mencoba untuk tidak terisak.


Aku menghapus air mataku yang turun deras sekarang. Myra mengangguk pelan.


Dia kembali mengalihkan perhatiannya pada Duke. Dan tak lama. Dr. Sidra memasuki kamar dengan berlari.


"Scion!!" panggilnya sambil menepuk pelan pipi Duke.


Dia mengeluarkan peralatan Dokter dan mulai memeriksanya. Setelah itu, dia menyuntik lengan Duke dengan obat. Dengan perlahan nafas Duke menjadi lebih ringan, titik-titik keringat juga tidxvak lagi banyak terlihat di wajahnya.


"Jangan khawatir Zhena, Scion hanya mengalami kelelahan yang sangat akut. Saya rasa Scion tidak mendapatkan istirahat yang cukup setelah acara Brawl kemarin. Penggunaan mindlink secara eksesif akan memberi dampak buruk untuk tubuh"


Dr. Sidra menjelaskan pada Myra, yang sekarang juga bernafas lega seraya mengangguk.


"Ya Sidra, aku juga mengkhawatirkan hal yang sama dari kemarin. Tak heran jika sekarang dia tumbang"


"Saya akan membawa peralatan untuk memasang infus sebentar lagi. Kemudian saya akan memberinya obat agar tidurnya menjadi lebih tenang. Dan saya mohon biarkan Scion tidur paling tidak selama seharian penuh" Myra mengangguk mengerti.


Dr Sidra keluar dari kamar setelah berpamitan.


"Ini salahku!!" Aku bergumam dengan tangis yang tidak lagi mampu aku tahan begitu Dr Sidra hilang dari pintu.


"Hehh?" Myra memandangku heran, dia memberi isyarat dengan jarinya agar aku mendekat.


"Duke membawaku berkeliling tadi malam, seharusnya dia beristirahat setelah bermain piano. Tapi dia membawaku berkeliling pack tadi malam" Aku mulai merasa frustasi.


Myra menarikku untuk bergabung dengannya duduk di ranjang.


"Apakah kau yang meminta Duke untuk membawamu pergi?" tanyanya.


Aku menggeleng.


"Aku juga menduga begitu, jadi sudah jelas itu bukan salahmu, sayang" Myra mengusap rambutku yang berantakan.


"Sekarang tenanglah, dia akan baik-baik saja setelah istirahat panjang. Kau mendengar kata Dokter tadi bukan?"


Aku mengangguk, dan berusaha menghentikan tangis. Tidak akan lucu jika aku ikut pingsan sekarang


"Sekarang mandilah dengan air hangat dan ganti baju. Kau sangat pucat dan dingin"


Mata Myra kembali bersinar setelah kekhawatirannya sirna.


Aku menuruti perintah Myra beranjak menuju kamar mandi, setelah menarik baju ganti dari laci di depan kamar mandi.


Aku berjengit ketika air hangat menggigit kulitku. Suhu air di dalam bathup itu hangat itu seperti yang biasa, tapi Myra benar, aku baru merasakan bahwa tubuhku menggigil.


Bukan hanya karena suhu udara di luar, tapi karena rasa takut ketika melihat Duke pingsan.


Aku menyiramkan air ke bahu, mencoba membuat tubuhku menghangat lebih cepat. Rasa resahku yang perlahan hilang , juga membantu sehingga tubuhku tak lagi menggigil.


Aku heran dengan kenyataan betapa rapuhnya aku, saat melihat Duke menderita.


Aku bisa merasakan bagaimana kegelapan menghampiriku, rasa bahagia seolah merembes keluar dari tubuhku, saat Duke menutup matanya tadi.


Apakah ini normal jika kau sedang jatuh cinta?


Apakah ini normal, padahal aku baru bertemu dengannya beberapa minggu yang lalu?


Dia sosok yang sama sekali asing untukku, tapi kenapa aku menerimanya dengan mudah?


Aku tidak memiliki jawaban atas pertanyaan itu, karena pengalamanku jelas nol dalam percintaan, jika tidak bisa dikatakan minus.


Tapi jelas aku tidak bisa mengingkari semua perasaan bahagia, saat aku bersama Duke. Semua terasa benar dan tepat, tanpa keraguan.


Aku membenamkan seluruh kepalaku ke dalam air untuk berpikir dengan lebih jernih.


Terbayang percakapan canggung antara aku dan Duke, setelah tiba-tiba Duke berkata dia ingin menikah denganku.


Duke segera meminta maaf dan tidak memaksaku untuk menjawab saat itu juga


Tapi dia juga memohon padaku untuk memikirkannya dengan mendalam, karena dia benar-benar serius dengan lamarannya itu.


Saat itu sel otakku telah dilanda serangan kepanikan kronis.


Setelahnya, Duke mengajakku kembali ke Manor karena hari telah gelap. Duke berlari pulang, untuk mempersingkat waktu perjalanan kami. Menurutnya mobil yang kami bawa tadi akan baik-baik saja di sana.


Terus terang saja, aku merasa lebih nyaman dengan hal itu, setidaknya aku terhindar dari kewajiban untuk berbicara. Karena isi kepalaku sedang sangat kacau saat itu.


Perjalanan pulang di punggung Duke berlatar kegalauan.


Duke berlari lebih cepat dari pada saat kami berangkat tadi, tapi aku tidak mengeluh, karena memang malam mulai larut.


Duke memasuki Manor dan menghilang dalam ruangan berpintu besar. Dia memberiku isyarat untuk menunggunya sebelum masuk tadi. Aku menduga Duke memasuki ruangan itu untuk berubah kembali menjadi manusia.


Dan aku benar, dua atau tiga menit kemudian Duke keluar dengan wajah canggung. Aku yang tidak tahu harus berkata apa juga diam.


"Bee, aku minta maaf jika aku lancang atau membuatmu gelisah. Tapi percayalah aku tak memiliki banyak pilihan" Duke menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari, pertanda frustasi.


Kami berjalan beriringan dengan pelan, menuju ruang makan.


Tidak mempunyai banyak pilihan? Tanda tanya hadir dalam benakku.


"Apa maksudmu?"


Aku menoleh ke arah Duke untuk meminta penjelasan, dan saat itulah aku menyadari bahwa Duke tertinggal di belakangku.


Dia memegangi kepalanya dengan kedua tangan, sambil menampakkan raut wajah kesakitan, dan sisanya terjadi dengan begitu cepatnya.


Karena kapasitas otakku yang sedikit terbatas, aku membenci jika masalah datang bertubi-tubi seperti ini.


Aku akan menyingkirkan masalah pernikahan dan memikirkan bagaimana kesehatan Duke, putusku sambil mengakhiri kegiatan mandi itu.


Infus telah terpasang di tangan kanan Duke ketika aku keluar dari kamar mandi. Ada dua kantong yang tergantung di tiang infus, tapi jantungku justru menciut melihat alat bantu pernafasan yang berada di sebelah ranjang.


Dr. Sidra tidak memasangnya pada Duke, tapi dia tentu meletakkannya di sini untuk bersiap-siap jika sesuatu yang buruk terjadi.


Aku tidak menyukainya.


Aku pernah berbulan-bulan hidup di rumah sakit dan itu terjadi tidak hanya sekali. Melihat peralatan itu di sini memberiku perasaan tidak nyaman.


Myra melambai padaku dari arah sofa. Dia duduk di sana dengan di temani Roanna dan juga El.


El memandang ke arah ranjang dengan wajah khawatir. Roanna tidak melihat Duke, tapi tangannya yang tidak berhenti saling meremas, menandakan dia juga khawatir.


Aku duduk di sebelah Myra, dan diam. Kami berempat hanya duduk diam selama beberapa menit.


"Kau sudah beraroma seperti Lui lagi" Myra memecah kesunyian, sambil tersenyum lemah dan mengelus tanganku.


Aku membalasnya dengan senyum sopan, menghargai usahanya untuk menghiburku.


"Dia memang Lui, auntie. Memang akan berbau seperti apa?' Roanna mengangkat alisnya.


"Dia berbau seperti Duke tadi" Myra menjawab dengan senyum semakin lebar.


Tidakk!!--- hal itu tidak perlu dijelaskan. Aku harap pembahasan ini tak akan lama.


"Aghhhhh--- tiba-tiba tidak ingin lagi berbagi mindlink dengan Duke lagi. Isinya pasti akan membuatku merinding" Roanna berseru dengan gusar.


Tangannya menyisir rambut hitamnya yang tergerai bebas.


"Hati-hati dengan perkataanmu Roan!" Desis El, sambil melirik Roan dengan galak.


"Jangan bodoh El, mindlink tidak akan terputus hanya karena aku mengatakannya dengan keras" bantahan keluar dari mulut Roan hampir seketika.


Apa yang sebenarnya membuat mereka bertengkar? Aku membatin dengan penuh tanda tanya.


"Kalian berhentilah bertengkar!!" Suara Myra terdengar letih.


"Sorry" El berbisik pelan penuh penyesalan. Roanna menunduk, yang aku tahu juga berarti penyesalan.


Tok..tok... .


"Masuk!" Myra bangkit untuk melihat siapa yang datang.


Laki-laki dengan seragam perawat muncul sambil membawa tas besar.


"Selamat malam Zhena. Saya akan menjaga Scion untuk malam ini"


Pria itu menganggukkan kepala kepada Myra.


Myra mengangguk. "Baiklah, terima kasih"


Myra kemudian menoleh kepadaku, "Lui, untuk sementara kau akan tidur di kamar lain. Ayo aku akan mengantarmu" Dia mengulurkan tangannya memintaku bangkit.


"Can I stay?" tanyaku sambil memandang Duke. Aku tidak ingin meninggalkannya.


"Lui, kau juga hampir tidak tidur malam kemarin. Aku tak mau merawat dua orang yang pingsan"


Tidak seperti biasanya, suara Myra terdengar tegas sebagai pertanda dia tak mau dibantah. Aku menunduk dan berjalan menghampirinya.


"Kau bisa melihatnya kembali besok. Untuk malam ini istirahatlah. Dia akan menjaga Duke untuk kita" Myra menunjuk perawat yang sekarang berdiri dengan kikuk di sebelah ranjang.


Ini pertama kalinya aku melihat Myra begitu serius.


"Roan dan El, kalian pulanglah. Tidak ada yang bisa kalian lakukan saat ini, terutama kau El, aku tahu kau khawatir, tapi kau harus beristirahat. Bukankah besok jadwalmu pergi ke Quebec untuk mengurus Monath?"


Seperti aku, mereka tidak membantah dan hanya mengangguk. Myra mengatakan sesuatu kepada perawat itu, kemudian meraih tanganku dan kami berempat keluar kamar secara bersamaan.


Roanna dan El turun setelah melambaikan tangan padaku. Aku mengikuti Myra yang membawaku ke kamar lain di lantai dua.


Aku tidak menyukai ide ini, tapi jika kamarku masih di lantai dua, mungkin aku bisa menyelinap dan melihat Duke nanti malam.


Myra berhenti dengan mendadak kemudian berbalik dan memandangku


"Bagaimana kalau kita tidur bersama malam ini Lui? Aku tidak yakin ada kamar lain yang siap kau tempati saat ini" katanya, sambil menatapku penuh arti.


Apa ini? Apakah dia tahu niatku untuk menyelinap?


Tapi itu mustahil, kecuali dia bisa membaca pikiran.


Myra tersenyum dan menarikku ke arah tangga. "Aku mungkin tidak bisa membaca pikiranmu, tapi aku bisa menebak apa yang akan kau lakukan nanti" kata Myra, dengan nada puas.


Aku hanya bisa memberengut dengan kecewa. Myra sekarang terdengar seperti Oscar, apakah jalan pikiranku sebegitu mudahnya ditebak?


Myra membawaku ke sebuah kamar di lantai bawah.


Kamar itu memiliki pintu yang besar dengan ukiran bergambar kepala serigala dan bulan sabit. Aku ingin melihat ukiran itu dengan lebih teliti, tapi Myra telah melambai menyuruhku segera masuk.


Kamar itu hampir sama besar dengan kamar Duke yang aku tempati. Tapi dengan perabotan yang lebih lengkap. Di kamar Duke hanya ada ranjang , sofa dan almari, menyisakan ruangan lapang yang luas.


Tapi di kamar ini terdapat sofa, meja kecil untuk minum teh. Meja kerja di pojok ruangan, dan ranjang dengan gaya classic lengkap dengan kanopi.


Tapi satu hal yang segera menarik perhatianku, foto dan satu lukisan besar di dinding.


Di foto itu aku bisa mengenali Duke on mini mode--berwajah angkuh dan masih sama mempesonanya seperti sekarang--, Myra dengan rambut hitam, dan laki-laki yang aku yakin adalah ayah Duke.


Aku bisa melihat rahang yang tajam dan juga mata cokelat terang milik Duke menurun darinya. Tidak salah lagi, kamar ini adalah kamar Myra.


Aku menghampiri foto itu. Myra berambut hitam sangat mempesona, dan aku rasa werewolf berumur panjang, karena jika tidak, berarti Myra meminum sesuatu ramuan untuk membuatnya awet muda.


Di sebelah foto itu, lukisan seorang wanita yang duduk dengan gaya anggun dengan gaun indah berwarna ungu pucat.


Siapa dia? Wajahnya cantik, tapi terlihat sedih di mataku. Rambutnya hitam bergelombang, matanya cokelat gelap.


"Pakailah ini!" Myra muncul di belakangku sambil mengulurkan baju tidur sutra berwarna pink pucat.


"Siapa dia Myra?" tanyaku dengan menunjuk lukisan itu.


Myra terdiam selama beberapa saat, kemudian berjalan maju dan mengelus pelan lukisan itu.


"Dia adalah sahabat pertamaku di Blackmoon sekaligus pahlawan dalam hidupku" Suara Myra sarat dengan emosi saat mengucapkan hal itu.


"Aku memasang lukisan ini di sini agar aku selalu ingat bahwa aku tak akan bisa hidup bahagia bersama Duke dan juga Owen tanpa dirinya".


Myra memejamkan mata erat, seolah menahan arus emosi yang datang.


"Kita harus tidur sekarang Lui!" Nada tegasnya sudah kembali, dan bergegas menarikku ke arah ranjang.


Aku sebenarnya ingin bertanya lebih banyak tentang lukisan itu, tapi aku tidak berani lagi membantah. Setelah berganti baju, aku menyusul Myra berbaring di ranjang.


"Pertama kalinya tidur dengan orang lain?" Nada menggoda di suara Myra sudah kembali seperti biasa.


Aku tersenyum dan mengangguk.


"Well, kau harus berlatih mulai sekarang" jawabnya sambil terkekeh pelan.


"Myra!!" Aku menggerutu pelan, bagaimana bisa dia menggodaku di saat seperti in


"Tidurlah" bisik Myra sambil memejamkan mata.


Hhhh.. aku menurut, karena tidak mungkin aku bisa menyusup ke kamar Duke malam ini.


Aku yakin Myra akan terbangun dengan hanya mendengar suaraku turun dari ranjang


 


 


----------- *0o0*----------


 


 


Bee? Di depanku Bee diam berdiri sambil melambai memintaku untuk mendekat.


Aku mencoba melangkah, tapi kakiku membeku. Aku menunduk untuk melihat apa yang menahanku.


Kakiku terbelit akar dan jalinan pohon merambat!!


Dengan kesal aku mencoba memotongnya, tapi akar pohon itu sama sekali tidak terpengaruh, walaupun aku telah mengerahkan kekuatan maksimal.


"Tunggu sebentar!! " seruku pada Bee, yang sudah semakin tak sabar.


Tangannya melambai dengan penuh semangat, sambil menunjuk ke arah hutan yang membentang lebat di sampingnya.


Apa yang sekarang dilihatnya? Dengan kasar aku mencoba memotong sulur dan akar itu sekali lagi, tapi masih tak ada hasil.


Akar apa ini sebenarnya?


Bee yang tak ingin lagi menunggu, kini mulai berjalan masuk ke hutan.


"Tunggu!! Jangan Bee. Itu Berbahaya!! " Seruku sambil menjejakkan kaki dengan putus asa.


Tapi Bee tak peduli, sosok tubuhnya kini menghilang di telan pepohonan hutan.


 


 


----------- *0o0*----------


 


 


Can I call him Sleeping Beauty----I mean Sleeping Handsome?


Apapun itu, yang pasti aku tidak bosan, walaupun telah memandangi wajah Duke selama dua jam terakhir. Aku sungguh berharap, wajahku akan mempesona seperti itu saat pingsan.


Nafasnya sudah jauh lebih tenang sekarang. Dan hanya ada satu botol infus yang menggantung di tiang, yang berarti, Duke tidak lagi membutuhkan obat, hanya nutrisi biasa.


Beban di hatiku seketika terangkat melihat hal itu tadi. Dr. Sidra juga memberiku kata-kata yang menenangkan saat dia ke sini memeriksanya tadi. Duke akan pulih seperti sedia kala ketika bangun nanti.


Karena keadaan Duke yang sudah jauh lebih baik, pikiranku mulai bergeser ke arah lamaran pernikahan itu. Apa yang aku harus katakan pada Duke ketika dia bangun nanti?


Aku jelas saja merasa bahagia dan tersanjung dengan lamaran itu, tapi kemarin adalah hari pertama kita resmi menjadi sepasang kekasih.


Aku sangat tergoda untuk berkata iya, tapi aku harus memikirkan segala hal yang akan mengikuti di belakangnya, yang aku yakin akan cukup rumit karena Duke bukan manusia!!!


Otakku yang tidak terbiasa memikirkan hal rumit seperti ini, sudah mengeluh lelah sedari tadi. Tapi hal ini tidak bisa di hindari. Aku harus sudah bisa menjawab saat Duke bangun nanti.


Aku ingin sekali membagi kegelisahan ini dengan seseorang, tapi siapa?


Charlie akan mempertanyakan sejuta fakta yang ingin aku sembunyikan, terutama tentang inhumane.


Jovi? Dia akan kelewat antusias dan histeris. Dia tidak akan mampu memberi nasehat padaku dengan teriakannya.


Aku mendesah panjang dan kemudian bangkit menuju jendela. Aku ingin keluar dan menjernihkan pikiran, tapi tumpukan salju di luar jendela memblokir jalanku menuju balkon.


Salju turun dengan lebat kemarin. Pemandangan di sekitar pack pasti akan sangat indah. Tapi level meter minatku untuk menikmati salju, saat ini adalah berada di angka nol.


Aku berbalik dan duduk di sofa meraih mug cokelat panas dari meja. Berharap aroma cokelat akan cukup membuatku menjadi lebih tenang.


Duke adalah inhumane, dan aku manusia.


Aku tidak membicarakan perbedaan fisik, karena jelas saja tubuh Duke sangat mempesona sebagai manusia maupun serigala.


Wajahku tersipu hanya dengan memikirkan hal ini.


Tapi untuk hal yang lain, seperti bahwa Duke adalah penguasa di pack ini, itu berarti dia akan menghabiskan seluruh hidupnya di sini, apakah aku siap untuk meninggalkan dunia manusia?


Aku tidak mempunyai banyak kehidupan sosial di London, tapi tetap saja aku mempunyai beberapa hal yang aku harus lakukan di sana.


Tetapi hal yang paling membebani pikiranku adalah, laju umur kami yang berbeda.


Aku tadi bertanya pada Nora, yang mengantarkan sarapan untukku tentang umur werewolf secara umum, dan aku terkejut karena umur Nora adalah 96 tahun!!


Padahal di mataku dia tak mungkin berumur lebih dari 40 tahun.


Kecurigaanku saat melihat foto Myra di kamar tadi malam terjawab. Laju umur kami sangat berbeda.


Nora menjelaskan, laju pertumbuhan werewolf semakin lama akan semakin melambat. Pada masa bayi sampai remaja, werewolf akan sama seperti manusia. Tetapi menginjak umur 20 tahun, pertumbuhan werewolf akan semakin lambat.


Karena itu Nora terlihat seperti manusia berumur tiga puluh tahun lebih di usianya yang ke - 96.


Aku semakin terhempas dalam keraguan setelah mendengar penjelasan Nora. Aku akan menjadi tua dan keriput seperti manusia biasa, sedangkan Duke kurang lebih akan berwajah sama sampai kira-kira 100 tahun lagi!!


Kami berdua sangat berbeda!!


Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya! Apakah Duke tak pernah memikirkan hal ini? Dengan gusar aku mencengkeram mug, mencoba menahan air mata yang akan jatuh, tapi gagal.


Air mataku turun dengan lancar, meneriakkan kegelisahanku.


"Lui!" Myra menyentuh lembut bahuku, membuat aku tersentak.


Dengan gugup aku menghindari pandangannya, menyembunyikan air mata. Aku tidak mendengarnya datang!


"Ada apa? Kau tidak perlu khawatir soal Duke. Dia akan baik-baik saja" Myra menatapku, dengan wajah bingung.


Dia telah melihat air mataku. Tapi apa yang akan aku katakan?


"Lui, jawab aku!" desaknya, sambil menggenggam tanganku.


Tangan Myra yang hangat seharusnya menawarkan kenyamanan, tapi kehangatan itu justru mengingatkan, jika aku dan Duke benar-benar berbeda. Tangan manusia tidak akan sehangat itu pada suhu sedingin ini.


Air mataku semakin deras turun.


"Oh Lui. Ada apa?" Myra memelukku lembut, sambil mengelus pelan punggungku.


Isakkanku semakin tidak terkendali sekarang.


Tak bisakah aku berbahagia dengan pilihanku? Salahkan aku mencintai Duke? Aku kemarin sangat bahagia dengan kenyataan bahwa cintaku terbalas, tapi sekali lagi aku terpuruk dengan kenyataan yang tidak bersahabat.


"Lui?!" Nada tidak sabar sekarang terdengar dari Myra.


Dengan terbata-bata aku mencoba menjelaskan keadaanku. Aku sebenarnya tidak ingin menceritakan soal lamaran Duke pada Myra, tapi aku tidak tahan dengan beban pikiran ini.


Dan setelah mengeluarkannya aku merasa sedikit lega. Tangisku berkurang drastis.


"Oh poor baby, kau pasti sangat bingung" Myra kembali memberiku usapan lembut di punggung.


"Aku tidak menyangka Duke akan berani melamarmu secepat ini" Mata Myra memandang ke arah langit-langit dengan pikiran terfokus pada hal lain.


Aku mendengarnya bergumam tentang cinta, mate dan entah apalagi.


Apa maksudnya?


"Perjalanan cinta kalian memang tidak akan mudah Lui. Aku tahu sedari awal saat Duke mengatakan dia telah jatuh cinta pada manusia biasa"


"Ini adalah kasus pertama yang aku lihat. Hubungan antara Werewolf dan manusia bukan hal yang umum, dan sejujurnya, aku sangat meragukan bahwa hubungan ini akan berhasil pada awalnya"


Myra berhenti sejenak sambil menarik nafas panjang yang berat.


"Tapi Duke tidak peduli dengan semua itu, dia menerjang segala aturan dan rintangan yang menghadang di hadapannya untuk bisa bersamamu. Dia tetap meneriakkan pada dunia, jika dia sangat mencintai sesosok manusia mungil bernama Eluira Delmora" jelas Myra, sambil tersenyum lembut dan mengusap pipiku.


"Aku tak akan mengkritik ataupun menyalahkan Duke, karena aku sangat mengerti tentang cinta yang tidak terduga. Kita tidak bisa memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta, rasa itu akan melibasmu tanpa ampun. Tanpa peduli ketika seluruh akal sehat kita berteriak bahwa hal itu adalah salah"


Nada Myra terdengar sangat merana sekarang.


Aku termangu mendengar semua perkataan Myra antara bahagia dan heran.


Apa yang dialami Duke selama 3 minggu ini?


Dari cerita Myra, orang akan menduga bahwa aku sudah bertemu Duke selama bertahun-tahun bukan 3 minggu. Halangan dan rintangan terdengar sedikit berlebihan padahal kami baru bertemu kurang dari sebulan.


"Kau mencintai Duke?" tanya Myra, sambil memandangku tak berkedip.


Aku mengangguk "A lot" tambahku sambil berbisik malu. Myra tersenyum lega mendengar jawabanku.


"Dan itu saja cukup Lui. Ingatlah, Duke juga merasakan hal yang sama denganmu. Bayangkan bagaimana jika kalian berpisah saat ini. Apakah akan mudah? Bisakah kau kembali ke kehidupanmu yang biasa, sama seperti saat sebelum kau bertemu dengannya?"


Dengan cepat aku menggeleng.


Jika melihat Duke pingsan saja sudah cukup untuk mengirimku ke alam yang penuh ketakutan dan rasa cemas, aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa dirinya. Kekosongan dan hampa yang dulu aku rasakan kembali menghantui benakku.


Kekosongan dan hampa yang dulu aku rasakan setelah aku kehilangan ingatan, tidak pernah lagi menyiksaku sejak aku betemu Duke.


Deraan rasa bersalah yang aneh ketika aku bersama Zeno juga tidak muncul, walaupun Duke telah menciumku beberapa kali. Padahal dulu bergandengan tangan dengan Zeno, sudah membuatku ingin mematahkan tanganku sendiri


Jika ini tidak memiliki arti bahwa aku sangat mencintai Duke, maka aku tidak tahu lagi harus menerjemahkannya seperti apa.


"Aku tidak bisa memberi nasehat soal umur kalian yang pasti akan sangat berbeda nantinya. Itu hanya bisa dijawab oleh Duke. Dan dia bukan orang yang gegabah. Jangan takut, Lui. Duke sangat mencintaimu. Aku pastikan hal itu tidak akan menyurutkan niatnya"


Myra tersenyum, menepuk tanganku pelan.


"Aku tidak akan memaksamu menjawab apapun soal lamaran itu. Tapi aku akan memintamu memikirkannya dengan dalam dan hati-hati. Dunia kalian sangat berbeda dan akan sangat sulit membuat semua orang mengerti akan cinta kalian. Tetapi aku juga tahu bagaimana kekuatan cinta bisa mengalahkan akal sehat. Karenanya aku juga memintamu untuk tidak menyerah untuk berbahagia. Jangan takut untuk mengikuti kata hatimu Lui"


Myra memelukku erat setelah mengatakan semua itu. Kegelisahan yang tadi aku rasakan sirna sedikit demi sedikit mendengar nasehat Myra.


"Apakah tidak apa-apa jika aku berkata iya? Kami baru bersama selama sehari" tanyaku.


"Aku akan sangat gembira jika kau menjawab iya, karena itu berarti aku akan mendapatkan seorang putri yang sangat manis" Myra tertawa lepas sambil menjawil pipiku.


Aku tersipu mendengar pujiannya. Aku ingat bagaimana Myra berkeinginan untuk memiliki seorang anak perempuan.


"Dan soal satu hari, aku rasa itu bukan alasan. Cinta terkadang tak membutuhkan waktu untuk tumbuh. Cinta hanya membutuhkan hati" jawabnya, sekali lagi dengan senyum yang terlihat getir di mataku.


"Hmmmmm-- aku justru lebih khawatir dengan kehidupanmu sebagai manusia Lui. Duke jelas akan menjadi Alpha dan akan menghabiskan sebagian besar waktunya di pack. Itu berarti kau akan pindah ke sini secara permanen. Apakah kau siap? Kakakmu akan sangat keberatan pasti" katanya, sambil mencubit dagu pertanda sedang berpikir keras.


Oscar!!! Demi semua hal yang ada di otakku!!


Aku dengan berani telah melupakannya. Apa yang akan diperbuatnya, jika aku mengatakan bahwa aku akan menikahi Duke?


Awan mendung hitam muncul di otakku dengan seketika. Bagaimana bisa aku melupakan hal sepenting itu?


"Apakah kau akan mundur jika Oscar keberatan dengan semua ini?"


Myra kembali bertanya dengan pandangan menyelidik.


Sejujurnya aku tidak akan berhenti meskipun Oscar berteriak 'tidak' padaku. Tapi aku tak ingin menyakiti Oscar seperti itu. Aku harus membujuknya dengan pelan agar dia setuju.


Maka aku menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Myra.


Dia kembali tersenyum lebar, "Tentu saja, itu baru terlihat seperti semangat juang di mataku. Tapi kau harus bekerja keras untuk membujuknya Lui. Kami bertemu sangat sebentar, tapi dari sikapnya aku tahu dia sangat posesif padamu. Aku membayangkan dia pasti terguncang mendengarmu ingin menghabiskan seumur hidupmu dengan inhumane"


"Kemungkinan besar seperti itu. tapi aku akan mencoba membuatnya mengerti" Meskipun aku masih tak tahu bagaimana caranya.