Finding You, Again

Finding You, Again
David 15 - Dead End Ahead



Lembaran halaman majalah yang ada di pangkuanku, sudah jauh dari kata rapi, karena aku terus membolak-baliknya dengan gelisah sedari tadi.


Tatapan pasien di lobby rumah sakit tempat Alva bekerja seolah mengulitiku.


Aku sebenarnya sudah terbiasa dengan tatapan wanita yang tertuju ke arahku, dan pada situasi normal aku tidak terlalu mempedulikan hal itu.


Tapi karena status kematianku, aku khawatir salah satu dari mereka akan mulai berteriak 'zombie' jika berhasil mengenali wajahku.


Hal ini membuatku sangat gelisah, aku tidak bisa duduk tenang sedari tadi. Aku tidak berani melepaskan kacamata hitamku sedetikpun, agar wajahku terus tersembunyi.


Di sebelahku, Roan tengah duduk dengan nyaman sambil menyedot minuman, tanpa peduli pandangan beberapa pria yang tertuju padanya.


Aku mengakui Roan sangat cantik. Jika dia sedang diam, seperti sekarang ini.


Rambutnya hitam, panjang dan lurus. Bentuk wajah tirus dengan mata besar berwarna abu-abu nyaris perak, membuatnya menonjol diantara gadis lain . Tadi salah satu perawat laki-laki hampir menabrakkan kursi roda yang sedang didorongnya ke tembok, matanya terlalu sibuk melirik ke arah Roan.


Penampakan dua makhluk dengan nilai di atas rata-rata, membuat kami berdua seolah menjadi tontonan hidup di lobby rumah sakit ini.


Aku datang tepat waktu sesuai dengan janji, tetapi kata resepsionis, Alva akan sedikit terlambat karena ada kasus darurat. Dan itu sudah berlalu hampir satu jam yang lalu. Leherku mulai pegal karena aku tidak bisa menegakkan kepala.


"David!!.. Oh My God!!"


Seruan Alva -yang juga membuat seluruh kepala di lobby rumah sakit itu menoleh-- membuatku tersentak.


F*ck!! Aku segera berlari ke arah Alva dan memeluknya dengan erat. Seraya berharap, tindakanku akan membuat penonton malu.


Dan terkabul. Seperti di komando, orang-orang yang tadi memandang Alva, hampir semuanya menunduk atau membuang pandangan karena jengah.


Tanpa membuang waktu, aku menyeret Alva yang masih dalam pelukanku masuk ke dalam lift kosong dan memencetnya tombolnya agar menutup.


Alva meronta di pelukanku, karena tanpa sadar aku membekap mulutnya dengan erat.


"Apa yang kau lakukan?! Apakah kau sudah gila?!" tanyanya sambil terengah-engah, setelah aku melepaskan bekapan.


"Aku yang seharusnya bertanya seperti itu, apa maksudku meneriakkan namaku di luar sana? Kau ingin semua orang tahu aku tidak mati?" Bentakku, dengan tidak kalah kesal.


Alva masih mengatur nafasnya yang tersengal dan tidak menjawab. Kekuatan pelukan tadi lebih besar dari pada yang aku bayangkan.


"I'm Sorry, Ok? Aku hanya ingin orang-orang itu berhenti memandangi kita tadi. Aku tidak seharusnya meremas tubuhmu" kataku.


Alva mengerutkan dahinya mendengar kata-kataku.


"Itu terdengar lebih tidak pantas dari pada pelukanmu tadi, David. Orang akan salah sangka jika melihat pelukanmu tadi dan mendengar kata-katamu barusan" Ujarnya datar, sambil memencet lantai 7 untuk tujuan lift yang kami naik


Sejenak aku memikirkan maksud ucapannya,


"F*ck!!! " umpatku dengan keras ketika mengerti. Aku bisa dituduh melakukan pelecehan seksual berdasarkan perkataan Alva.


"Language please!!! " katanya lagi dengan kesal. Dia tak mentolerir kata-kata kasar dalam keadaan apapun.


Kami berjalan dalam diam menuju ruangan Alva di lantai 7 untuk menghindari tatapan orang di sana. Untunglah, tidak begitu banyak orang yang berada di bagian rumah sakit ini.


Aku melepaskan kacamata hitam yang aku pakai begitu sampai di ruangan Alva, bukan hobiku untuk memakai kacamata hitam di dalam ruangan.


Dan kali ini Alva yang memelukku. Alva bukanlah orang yang mudah emosional, aku rasa dia benar-benar gembira melihatku.


"Aku senang kau benar-benar masih hidup, aku nyaris jatuh dari kursi, ketika resepsionis menyebut namamu tadi pagi. Berita yang aku dengar ternyata tidak salah" Alva memandang wajahku. Seakan ingin meyakinkan, bila yang berada di hadapannya benar-benar aku.


"Kau mendengar berita jika aku masih hidup? Siapa yang memberitahumu?"


Aku agak sedikit terkejut, karena Alva sangat jarang mengikuti berita dari dunia manapun, baik manusia atau inhumane.


Dia hanya mengangkat bahu, menolak menjawab.


Ck..---. Tidak mudah untuk membuat Alva bicara.


Dia melepaskan pelukan, kemudian berjalan mengambil botol minuman untuk kami berdua dari lemari pendingin mini yang terletak sudut.


"Aku tahu waktumu tak banyak, jadi aku akan langsung ke intinya Alva. Apakah aku bisa menemui Bee? Kau tahu, aku harus menemuinya" tanyaku langsung tanpa basa-basi.


Alva menarik nafas panjang dengan berat, kemudian menjatuhkan dirinya ke kursi kerjanya di balik meja. Wajahnya terlihat murung. Itu berarti kabar buruk, aku tidak suka ini.


Setelah beberapa detik duduk dalam diam, Alva akhirnya menggeleng pelan, "Maafkan aku David, kau tidak bisa menemuinya. Dan aku harap kau tidak mencobanya" jawabnya dengan pelan.


"Tidak!! aku harus menemuinya!"


Dengan keras, aku menyangkal diagnosanya. Aku mulai berjalan mondar-mandir dengan kalut.


"Mungkin dia akan pingsan, tetapi itu hanya sementara, dia akan bangun seperti biasanya" seruku, mencoba beralasan.


"Bukan seperti itu, David. Aku mohon duduklah, aku akan menjelaskan semua padamu. Tapi kau perlu duduk untuk mendengarnya" Alva melihatku dengan wajah prihatin.


Aku duduk kembali, mencoba untuk tenang.


Alva meluruskan posisi duduknya kemudian memutar kursi sehingga sekarang kami duduk dengan berhadap-hadapan.


"Aku tidak akan bertanya kenapa kau memalsukan kematianmu. Kemungkinan besar, hal itu berhubungan dengan dunia inhumane, aku sungguh tidak ingin mendengar apa penyebabnya. Aku juga tahu, kau tidak mungkin ingin menyakiti Eluira dengan sengaja. Tetapi kabar kematianmu adalah hal yang terburuk yang bisa terjadi pada Lui, karena sekali lagi, dia kehilangan dunianya"


Alva menatapku tanpa berkedip.


Alva sudah mengenalku cukup lama untuk menyimpulkan itu semua, dan aku juga tahu dia tidak ingin berhubungan lagi dengan dunia inhumane. Keberadaanku bersamanya adalah keistimewaan karena situasi darurat.


Aku agak sedikit lega karena tidak harus menceritakan semua yang aku alami di pack. Itu bukan suatu cerita yang indah untuk dibagikan. Maka aku hanya mengangguk mengerti.


Dan aku juga sangat mengerti dengan keadaan Bee, karena itu aku tak bisa berhenti khawatir ketika berada di pack. Hal terburuk yang aku bayangkan, benar-benar terjadi. Keadaan kepala Bee tidak memungkinkan untuk mendapatkan kejutan seperti ini.


"Apakah keadaannya sangat -----" Aku tidak bisa menyelesaikan pertanyaanku, karena rasa bersalah mulai menguasai seluruh kesadaranku.


"Ya---keadaan Lui setelah mendengar kabar kematianmu sangat buruk. Buruk saja masih lebih baik dari pada keadaannya saat itu. Saat itu aku sangat takut, jika Lui tidak akan bisa bertahan"


"Dia berkali-kali pingsan, sedangkan kau tahu sendiri obat yang aku buat, tidak mungkin digunakan secara terus menerus dalam waktu berdekatan. Obat itu bukan untuk manusia biasa!"


Obat khusus untuk Bee ketika pingsan, sebenarnya adalah ramuan sihir ciptaan Alva. Dia bekerja keras untukmembeuatnya terlihat basa, agar Oscar dab juga Bee tidak curiga.


"Aku berulang kali harus memberi peringatan pada Oscar untuk tidak berlebihan. Tapi pilihan apalagi yang dipunyainya? Oscar mati-matian berusaha menyelamatkan sebagian kecil harapannya untuk membuat Lui tetap sadar. Aku masih ingat umpatan yang dilontarkannya untukmu sampai membuatku merinding"


Aku mencoba mengalihkan pedih yang menyerangku dengan memikirkan Oscar. Aku tidak bisa memperkirakan apa yang akan dilakukan Oscar padaku jika dia tahu aku masih hidup saat itu.


"Aku, Oscar dan Charlie, hanya bisa memandang saat Lui semakin tenggelam dalam duka. Duka yang sudah melampaui tangis. Dia hanya memandang kosong tanpa keinginan untuk hidup. Aku sampai harus memberinya infus, karena pada akhirnya dia sama sekali tidak merespon apapun. Lui masih sadar, tetapi jiwanya seolah hilang"


Mata Alva berkaca-kaca mengenang kembali saat itu.


Kata demi kata yang terlontar dari mulut Alva, membuatku merasa seolah telah dihempaskan dari ketinggian gedung.


Bagian dalam tubuhku berkedut menyakitkan karena tumpukan rasa bersalah yang menebal. Aku yang membuat Bee sampai seperti itu, Aku----!!!


"Lalu tiba-tiba keajaiban terjadi. Atau dulu kami mengira itu adalah keajaiban. Tapi sekarang entahlah...."


Suara Alva semakin pelan saat mengucapkannya. Mata yang semula memandangku, mulai beralih memandang objek lain di ruangan itu.


"Ada yang lebih buruk?" Aku mulai takut mendengar lanjutan cerita Alva.


"Pada hari ke-7 setelah mendengar kabar kematianmu, Lui pingsan lagi. Aku melarang Oscar untuk menyuntikkan ramuan, karena pemakaiannya yang sudah melebihi dosis yang seharusnya. Saat memeriksanya, aku tidak bisa menyarankan hal lain kecuali menunggu. Menunggu saat ramuan yang telah berada di sistemnya hilang, sehingga aku bisa menyuntiknya lagi. Aku memberi kisaran waktu sekitar sehari semalam"


Alva meminum air putih yang berada di depannya dan meneruskan ceritanya lagi.


"Tapi aku sangat terkejut ketika mendapat telepon dari Oscar esok paginya. Dia mengabarkan jika Lui telah siuman, tanpa menggunakan ramuan itu. Aku mengabaikan penjelasan Oscar yang mengatakan keadaan Lui sedikit aneh, karena sangat gembira, mengira keadaan Lui sudah membaik. Tetapi kami salah. Itu bukan pertanda baik"


Sejenak Alva menarik nafas panjang.


"Jawaban muncul begitu aku bertemu Lui. Saat melihatku, Lui tidak lagi mengenaliku! aku adalah orang asing bagi Lui"


Aku mengerutkan kening mendengar perkataan Alva.


"Apa maksudmu Bee tidak mengenalmu lagi? Dia sudah bertemu denganmu jutaan kali" Ujarku. tidak percaya.


Belum lagi Bee pernah berada dalam perawatan Alva selama 4 bulan setelah dia koma. Ini tidak masuk akal.


"Ini benar-benar terjadi Dave, dia tidak mengenalku lagi. Lui sangat panik saat itu, karena ingatannya berserakan tidak beraturan. Setelah itu, dia berkali-kali mengatakan tidak bisa mengingat apa yang menyebabkannya pingsan. Saat itulah aku sadar, Lui tidak hanya melupakanku. Lebih tepatnya, dia telah melupakan segala hal yang berkaitan denganmu, David Adalrik"


"Ingatan tentang dirimu telah hilang dari memori Lui" Alva mengulang, karena melihatku diam tidak bereaksi.


Kursi yang aku duduki seolah berubah menjadi bara api yang membakar tubuhku dengan pedih.


Sekali lagi, fakta yang disampaikan Alva membuatku ingin berhenti bernafas dan memejamkan mata selamanya.


"Karena itulah, Lui juga tidak mengenalku lagi. Kaulah yang memperkenalkan aku padanya untuk pertama kalinya. Benaknya juga ikut menghapus seluruh keberadaanku. Semua kejadian dan juga orang yang ditemuinya ketika bersamamu tidak tersisa sedikitpun di ingatan Lui"


Alva menjelaskan dengan lebih detail hal yang membuat hatiku remuk.


"Semuanya?" Aku mendesis putus asa. anggukan Alva adalah vonis terakhir, yang melemparku dalam kegelapan.


Seseorang pasti telah menusuk dadaku saat ini, karena sakit yang aku rasakan begitu nyata, menikam jantungku tanpa belas kasihan.


Kenangan kami? Tiga tahun yang kami lalui telah hilang? Kami tertawa dan menangis bersama.


Aku menunggunya untuk bangun selama hampir setahun penuh. Aku mengusahakan bermacam cara agar Bee bisa mmbuka mata lagi.


Kini semua itu hilang? Ingatan itu segalanya untukku. Ingatan itu yang membuatku bertahan sampai sekarang.


Tanpa sadar aku tertawa, tawa kasar dan sumbang. Aku menertawakan kebodohanku sendiri. Aku yang membuat semua ini terjadi. Aku meninggalkan Bee.


Alva menggenggam tanganku mencoba untuk menenangkan.


"Haruskan aku melanjutkannya?" tanyanya. Aku mengangguk pelan.


Hatiku sudah remuk redam, tidak mungkin ada hal lain yang bisa lebih menyakitiku lagi.


"Dengan segala pengalaman yang aku punya, apa yang terjadi kepada Lui menjadi teka-teki yang baru untukku. Aku tidak pernah menemui kasus seperti ini. Lui bisa mengingat bahwa Ibunya telah meninggal, tapi.."


"Tunggu!! Dia sudah bersamaku saat itu. Jika diagnosa itu tadi benar, seharusnya Bee tidak ingat lagi kejadian saat ibunya meninggal" Aku menyela dengan keras.


Kemungkinan Alva salah dalam hal ini sangat kecil, tapi aku akan menggenggam erat harapanku, walaupun hanya sedikit.


"Kau salah" Alva menyanggah dengan lebih kalem.


"Dia masih mengingat kejadian itu, karena saat itu, pikiran Lui sedang tidak tercurah padamu. Dia tenggelam dalam duka luar biasa ketika Ibunya meninggal. Duka itu memberikan celah pada ingatannya, karena saat itu dia sedang tidak memikirkanmu"


Bantahan Alva kembali mengirimkan hunjaman rasa sakit ke dadaku, ******* harapanku menjadi debu.


"Hal itu dibuktikan dengan hilangnya ingatan Lui tentang bagaimana dia sadar dari koma. Kau ada disana bersamanya saat itu" Tambahnya pelan.


"Ingatan Lui yang hilang, terseleksi dengan sangat sempurna. Ingatannya akan tetap ada, jika kau sama sekali tak berkaitan dengan suatu kejadian yang dia saksikan. Tapi jika sedikit saja ada kau -- atau orang yang mengenalmu -- di dalamnya, sudah pasti kenangan itu akan terhapus dari benak Lui. Karena itu, Lui menjadi sangat bingung. Ingatannya penuh dengan lubang, lubang yang seharusnya berisi kenangan tentang dirimu"


Alva kembali menarik nafas panjang, tapi tidak denganku. Rasa sesak karena sedih mencengkeram erat dadaku, seolah menyumbat aliran udara yang masuk ke paru-paruku.


"Setelah menyadari hal itu, aku dan Oscar memutuskan untuk menghapusmu secara total dari kehidupan Lui" lanjutnya, dengan pelan penuh dengan nada penyesalan.


"Maafkan aku, aku tidak memiliki cara lain untuk membuat Lui menjadi lebih baik saat itu" Alva melanjutkannya dengan sedikit terisak.


Aku hanya melemparkan pandangan kosong padanya, tidak mampu lagi berpikir.


"Tidak bisakah kau melakukan sesuatu dengan ramuan atau mantra milikmu? Kau penyihir yang hebat Alva!" Aku nyaris berbisik saat mengucapkannya. Putus asa dan kesedihan menggerus semua tenaga yang terisasa di tubuhku.


"Tidak ada!! Maafkan aku. Tidak ada yang bisa aku lakukan pada Lui setelah semua ini. Benaknya terlalu lemah untuk menerima mantra ataupun ramuan lain"


Wajah penuh sesal Alva yang sekarang berhias air mata, seakan melindas semua asa yang aku coba bangun.


"Oscar membuang semua benda yang berkaitan denganmu. Mengganti ponsel Lui, dan menghapus semua jejak foto kalian berdua. Oscar memberi kehidupan yang sama sekali baru pada Lui, kehidupan tanpa dirimu. Lui kembali menjadi normal setelah itu, dia masih pingsan karena gumpalannya itu, tetapi dia berfungsi dengan baik sebagai manusia "


Alva melanjutkan ceritanya sambil bersandar di kursi dan memandang langit-langit ruangan.


"Peringatan untukmu, aku harap kau tidak berbuat bodoh dengan memaksa Lui untuk mengingat tentang dirimu. Jika sampai Lui koma lagi, aku tidak akan bisa menyelamatkannya lagi Dave. Mantra yang aku gunakan hanya berlaku sekali "


Nada suara Alva masih prihatin, tapi dengan jelas aku mendengar sedikit intimidasi disana.


Alva tahu apa yang mungkin aku lakukan pada saat keputus asaan mengambil alih. Tapi kali ini aku akan mendengarnya. Aku tidak ingin melihat Bee kembali pada keadaan yang mengenaskan seperti dulu.


Ini cukup-----!


Aku masih ingin mendengar semua penjelasan Alva, tetapi---aku tidak sanggup lagi.


"You know--Thanks for the time. But I need to go now!"


Aku berpamitan sesopan mungkin, sambil beranjak, dan berjalan keluar dari ruangan itu.


"What? wait!!..No !! Tunggu dulu--- Dave!!"


Aku masih mendengar panggilan Alva yang terkejut dengan kepergianku yang tiba-tiba. Tapi aku tidak peduli.


Aku tidak ingin mendengar apapun lagi. Aku tidak akan bisa menanggung rasa sakit lebih dari ini.


Aku memakai kacamata hitam lagi dan bergegas turun ke lobby. Lift dari lantai 7 berjalan sangat pelan.


This is s*ck!!


Begitu sampai di lobby, Roan berlari kecil menghampiriku. Dia sudah membuka mulutnya untuk bertanya, tetapi melihat raut wajahku, dia mengurungkan niatnya. Akhirnya dia berjalan di sebelahku tanpa banyak bertanya.


"Kau bisa menyetir?" tanyaku pada Roan.


"Tentu saja! aku....." Aku memotong penjelasan dengan melemparkan kunci mobil, ke arahnya.


Aku sedang tidak ingin menyetir saat ini, karena tidak yakin bisa melawan keinginanku untuk menabrakkan diri ke tembok, dan membuat diriku benar-benar mati.


Roan yang biasa mengoceh tanpa henti, rupanya sedikit mengerti dengan keadaanku, dia tidak mengeluarkan sepatah katapun selama perjalanan. Kesunyian yang aku butuhkan untuk meratapi nasibku.


Bee---apakah kau benar-benar melupakanku? Ini tidak mungkin terjadi!


Aku mencoba menyangkal dan mencari penjelasan lain yang lebih tidak menyakitkan. Tetapi aku sendiri mempunyai bukti, jika semua hal yang diceritakan Alva adalah benar.


Kalimat aneh yang diucapkan Bee saat aku menghubunginya beberapa waktu lalu, sekarang menjadi masuk akal. Dia tidak mengingat pernah menjadi Bee, karena itu dia berkata tidak ada yang bernama Bee di sana.


Apa yang aku harus lakukan sekarang? Seluruh isi perutku mendadak terbalik, mual dan pedih.


"Stop!!" teriakku pada Roan, yang serta merta terlonjak karena terkejut.


Tetapi dengan patuh dia menepikan mobil di tepi jalan. Aku bergegas turun dan memuntahkan seluruh sarapanku di tepi jalan.


Untunglah kami berhenti di tepi jalan sepi, hanya ada hutan dan jurang di sekitar..


"Duke!! Kau tidak apa-apa?" Roan terdengar sangat panik, sambil mengulurkan tissue yang diambilnya dari laci. Aku menerima tissue itu, dan memberi isyarat padanya untuk menjauh.


Aku tidak ingin dia melihatku seperti ini.


Aku tidak tahu lagi apakah air mata, atau keringat yang sekarang mengalir di wajahku. Aku jatuh terduduk, karena perlahan kakiku kehilangan kekuatannya untuk menopang tubuh.


Aku bisa mendengar langkah kaki Roan yang hendak mendekat, sekali lagi aku melarangnya dengan kibasan tangan. Aku tidak ingin simpati dari siapapun saat ini.


Aku hanya ingin luluh dalam sakit dan nestapa ini. Aku duduk sambil merengkuh erat kedua kakiku, berharap dapat mengurangi rasa sakit di dadaku. Tetapi sekuat apapun aku menekannya, sakit itu tidak juga berkurang.


Aku sangat merindukanmu Bee, kau tidak bisa melakukan hal ini padaku!


Tidak bisakah aku bersamamu lagi? Ini semua memang salahku, tapi kau tidak bisa menghukumku seperti ini Bee, ini terlalu menyakitkan.


Aku melangkah pelan mendekati pembatas jalan, yang memisahkan aspal dengan jurang yang menganga lebar. Sesaat pikiran bodoh melintas di kepalaku, mungkin jika aku melompat dan mati, maka rasa sakit ini akan hilang.


Tapi berarti aku juga tidak akan bisa melihatmu lagi, Bee.........


Selama beberapa saat, keinginan untuk mengakhiri ini semua, dan keinginanku untuk bertemu Bee, berperang di dalam benakku.


Aku akan menemuimu, walaupun untuk yang terakhir kali, tekadku.


Aku memandang jurang itu sekali lagi, dan bersusah payah menepis keinginanku untuk melompat. Aku tidak bisa mati di sini, tidak sebelum melihat Bee.


Aku berjalan tertatih ke arah mobil, menolak uluran tangan Roan yang ingin membantu berjalan.


Sesampainya di mobil, aku mengetikkan perintah untuk Id pada ponselku. Roan yang juga telah masuk kembali ke mobil, menjalankannya seperti kesetanan, agar bisa segera sampai di Lykos. Dia pasti sangat khawatir melihat keadaanku.


Ck... aku benci menjadi lemah.