Finding You, Again

Finding You, Again
Again 11 - Awaken



Tanpa mengetuk, Duke menendang pintu kamarnya agar terbuka.


Oscar yang sedang duduk membaca, bangun dengan terperanjat. Dia menjatuhkan bukunya ke lantai, ketika melihat Duke masuk sambil membawa Lui yang sudah tidak sadarkan diri.


"Apa yang kau lakukan padanya?" celanya.


"Are you idiot? Aku bahkan tidak bersamanya sebelum dua menit yang lalu" hardik Duke kesal, mendengar tuduhan tidak berdasar itu.


Oscar menutup mulut, ketika melihat Sorrel muncul di belakang Duke dan segera memeriksa Lui.


Wajah Sorrel sedikit berkerut dan itu cukup membuat udara menghilang dari paru-paru Duke. Dia tidak ingin mendengar kabar buruk tentang kondisi Lui.


"Jangan cemas, dia baik-baik saja. Lui hanya pingsan karena manteraku" jelas Sorrel, sambil meneruskan kegiatannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Duke bertanya sambil memandang Sorrel yang menyelesaikan mantranya dengan lambaian tangan. Sebentuk lingkaran sihir yang terbentuk di sekitar Lui menghilang.


"Panggil Nona Roan, aku juga ingin mengetahui cerita lengkapnya dengan lebih detail"


Sorrel menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, dan menuangkan air dalam gelas yang ada di meja. Duke mengetikkan sederet pesan pada Roan, lalu duduk di sebelah Lui.


Oscar mengerutkan kening " Apa hubungan Roan dengan semua ini?" katanya sambil menunjuk Lui yang terbaring, dia sudah kembali duduk di kursi.


Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu, karena ketukan pelan telah terdengar dari pintu.


"Masuk" Duke menyahut.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Duke pada Roan yang masih sedikit timpang saat berjalan.


"Jauh lebih baik dari pada Kamaria. Arana sampai harus membawanya ke rumah sakit karena dia belum bisa menggerakkan kakinya" Setelah berjalan timpang, Roan di sebelah ranjang yang berisi Lui..


Oscar yang berada di seberangnya, terlihat mematung, dan ini tentu saja membuat Duke heran.


Beberapa menit yang lalu, dia ingin sekali mendengar apa yang terjadi pada Lui, tapi sekarang dia justru tidak mengacuhkan Roan. Oscar malah beranjak menjauh kemudian duduk di sofa.


Dan tentu saja Sorrel memilih untuk tertawa saat itu.


Tawa senang yang sangat menyebalkan, karena Duke tidak punya tebakan masuk akal tentang penyebab tawa itu terjadi


"Ceritakan dengan lengkap apa yang sebenarnya terjadi" Duke meminta pada Roan.


Duke mengabaikan keheranannya tentang Oscar dan Sorrel, memutuskan untuk membahas hal yang lebih penting.


"We are fine until that b*tch coming" kata Roan jengkel.


"Kamaria?" tebak Duke. Roan mengangguk.


Kemudian Roan menceritakan detail lengkap kejadian di taman. "Kabut biru seperti saat aku memberinya insignia?" tanya Duke.


"Ya, tapi lebih pekat dan dingin. Dingin yang membuat aku dan siewolf lain nyaris membeku. Kamaria yang berada paling dekat dengan Lui, karena itu dia menerima kerusakan yang paling parah" Roan terlihat sangat puas, tidak sedikitpun terbetik rasa simpati darinya untuk Kamaria.


"Aku sudah tahu tentang kekuatan Elf Lui, tapi aku tidak menyangka akan muncul tanpa harus berlatih. Menarik sekali!" kata Sorrel.


"Kabut biru itu kekuatan Elf Lui?" Oscar terkejut, dia juga tidak menyangka kekuatan Lui akan keluar begitu saja.


"Seharusnya kau tidak perlu heran Oscar, kau sendiri juga begitu, walaupun sekarang masih sangat lemah" jelas Sorrel.


"Ah.... tentu saja" Duke menepuk tangannya mengerti.


Duke teringat beberapa kali ketika Oscar marah, suhu ruangan tempatnya berada tiba-tiba menurun. Selama ini Duke mengira rasa dingin itu hanya terjadi di dalam otaknya. Intimidasi dari Oscar rupanya bersifat magis.


"Benar sekali Duke" Sorrel menyetujui hal yang didengarnya dari pikiran Duke.


"Lui juga memiliki kekuatan itu sekarang. Darah Alpha milikmu benar-benar luar bisa kuat, sampai bisa membangkitkan kekuatan Lui yang jauh terpendam di dalam DNA-nya"


"Dengan sedikit latihan dariku, kekuatan itu akan menjadi kunci kemenangan kita pada perang ini" Sorrel melebarkan mata dengan penuh semangat.


Duke menelengkan kepala mendengar perkataan Sorrel.


"Apakah kau bermaksud membawa Bee ke Alaska?" tanyanya, dengan nada marah yang berbahaya.


"Tentu saja. Ini adalah jawaban dari berita buruk yang dibawa oleh Abel" kata Sorrel.


Abel menghubunginya untuk memberitahu jika pasukan yang ditunggu Crispin mulai berdatangan. Dan jumlah yang datang jauh lebih banyak dari pada perkiraan. Ini jelas kabar yang sangat merugikan bagi pihak mereka.


"Dengan kekuatan Lui, kita bisa menahan mereka paling tidak selama beberapa detik. Kau tahu itu akan sangat berpengaruh pada hidup dan matinya pasukanmu"


Dalam hatinya Duke tahu, perkataan Sorrel sangat masuk akal. Dengan kecepatan dan kelincahan vampire mutan yang dia lihat minggu lalu, kekuatan Lui akan menahan mereka selama beberapa saat, dan itu cukup.


Beberapa detik itu akan memberi mereka celah untuk menyerang terlebih dahulu.


Tapi membawa Bee ke medan perang adalah ide buruk, sangat buruk.


"Akan ada banyak werewolf yang menjaganya. Dan ada kau di sana. Kau bisa mengawasinya secara langsung" Sorrel membujuk dengan suara lebih lembut.


"Kau memberiku tugas untuk melawan Crispin, dan juga aku ingin membunuh Egon. Jika kau belum sadar, kemungkinan aku akan sangat sibuk" kata Duke dengan sinis.


"Tinggalkan Lui bersamaku!" Roan bangun dan memandang Duke.


Ide Sorrel sangat brilian menurutnya, Duke tidak boleh mengacau, hanya gara-gara sifat paranoid-nya.


"Kau akan ikut berperang?" Oscar menyahut dengan tiba-tiba, dan yang lebih membuat terkejut, pertanyaan itu ditujukan untuk Roan.


Roan hanya mengangguk samar, sehingga Duke yang menjawab "Tentu saja, Roan adalah petarung paling handal setelah aku dan El. Aku tidak mungkin meninggalkannya"


"Dan kenapa kau bertanya?" Duke tidak pernah melihat Oscar dan Roan mengobrol sebelum ini.


Kepeduliannya yang tidak masuk akal menurut Duke.


"Eh... Aku hanya ingin tahu siapa yang akan menjaga Lui jika dia ikut ke sana" jawab Oscar dengan tenang.


Tapi sepersekian detik sebelumnya, Duke melihat topeng poker face Oscar rusak. Wajahnya sedikit memerah.


"Ada apa denganmu?" tanya Duke kebingungan.


Tapi Oscar hanya mengangkat bahu. Wajahnya kembali ke raut yang biasa. Wajah dingin yang tidak tersentuh.


"Kau menyetujui Lui ikut ke Alaska?" tanya Sorrel pada Oscar, dia berusaha mencari dukungan atas idenya.


"Tidak, aku tidak menyetujuinya. Kenapa Lui harus ikut kesana?" kata Oscar dengan keras. Dia tentu saja tidak menyetujui segala hal yang membahayakan Lui, seperti biasa.


Derajat keheranan Duke semakin bertambah, dia tidak mengeluh Oscar menolak usulan Sorrel. Tapi sikapnya semakin absurd. Kenapa dia bertanya soal keikutsertaan  Roan jika ternyata dia tidak setuju dengan ide Sorrel?


"Apa yang kalian bicarakan? Aku ikut kemana?"


Suara Lui menyahut, membuat mereka semua menoleh.


Duke langsung berlari mendekati ranjang dengan posesif.


"Aku baik-baik saja" Lui menjawab sebelum Duke sempat bertanya.


Lui sadar pada saat yang tepat, dia sempat mendengar beberapa potong percakapan mereka. Lui menegakkan duduknya di ranjang dan memandang ke sekitar.


Duke tersenyum gembira, kemudian meremas tangan dingin Lui dengan lega.


Sorrel juga tersenyum melihat Lui "Apa yang kau rasakan?" tanyanya.


"Aneh.. karena aku tadi sedang berada di taman" jawab Lui, sambil mencoba memanggil ingatan terakhirnya.


"Kamaria" gumamnya pelan.


"Badai.. ada badai salju di taman" kata Lui dengan tidak yakin.


Dia seperti melihat badai, tapi tidak yakin hal itu benar-benar terjadi. Apa aku tadi hanya bermimpi? batin Lui dengan bingung.


"Kau tidak bermimpi, Lui, badai itu memang terjadi. Dan kaulah yang menyebabkannya" kata Sorrel. "


"Heyy...?" Lui berseru antara heran dan tidak percaya. Dia menunjuk wajahnya sendiri dengan mulut yang telah terbuka.


Sorrel mengangguk meyakinkan, "Aku tidak menyangka kau adalah tipe yang pencemburu" kata Sorrel tertawa geli.


"Cemburu?" Duke menyahut dengan cepat, dia menoleh memandang Lui yang mulai salah tingkah.


"Aku tidak cemburu, tapi wanita itu sangat......" Seperti biasa suara Lui semakin mengecil, karena tentu saja selain marah karena perkataan Kamaria pada Roan, dia memang cemburu.


Lui tidak bisa berbohong.


Kamaria sangat cantik. Kecantikan eksotik dilengkapi dengan tubuh yang ideal. Lui tidak suka mengingat bagaimana sikapnya pada Duke.


Duke memang merasa terganggu dan tidak menanggapinya. Tapi bukan berarti dia tidak cemburu.


Duke terkekeh geli, saat mulai mengerti apa yang menyebabkan Lui marah.


Lui bukan orang yang mudah terbawa emosi. Tapi dia bisa menjadi sangat pencemburu. Duke telah mengalami kejadian buruk karena hal ini. Dia senang Lui bisa membaca bagaimana perasaannya tadi, tidak mungkin terjadi kesalahpahaman sekarang.


"Kau tentu tahu bagaimana perasaanku Bee, kau tidak perlu cemburu" bisik Duke pelan.


Lui mengangguk malu dengan wajah semerah udang rebus.


"Bisakah kita kembali membahas hal tadi? Aku ikut kemana?" kata Lui, berusaha mengubah topik diskusi sebelum dia tidak bisa lagi menahan rasa malu dan bersembunyi di balik selimut.


"Aku ingin kau ikut ke Alaska, karena kekuatanmu akan sangat membantu dalam peperangan nanti" kata Sorrel, sebelum Duke bisa mencegahnya.


Duke meneriakkan sumpah serapah dalam kepala sehingga hanya Sorrel yang mendengar. Dan tentu saja Sorrel mengabaikannya.


"Kekuatanku? Kekuatan apa?" Lui masih tak mengerti.


Dengan tenang Sorrel menjelaskan kekuatan Elf yang diwarisi Lui darinya.


Sorrel adalah Elf dengan kekuatan elemen air, kekuatan Lui dan juga Oscar adalah bagian dari elemen Sorrel yaitu es. Kabut biru itu adalah perwujudannya, kabut dingin yang bisa membekukan makhluk inhumane sekalipun.


Menurut Sorrel, kemampuan ini langka karena Lui mengeluarkannya tanpa melalui pelatihan yang benar. Dan saat ini di sanctum Appolline hanya dirinya yang bisa melakukan sihir seperti itu.


"Jika kau bisa melakukannya, kenapa bukan kau saja yang ikut ke Alaska?" Duke memotong cerita Sorrel dengan jengkel.


Sorrel tersenyum dan melambaikan tangannya, dia menarik keluar tongkatnya dari lingkaran sihir. Tongkat yang masih berwarna sehitam arang.


"Aku tidak akan bisa mengeluarkan kekuatanku dengan maksimal sebelum tongkatku kembali normal. Setidaknya aku membutuhkan waktu 100 tahun untuk menjadi normal"


Lui terkesiap, dia mengingat kejadian itu di ingatan Duke.


"Kami yang menyebabkannya?" Rasa bersalah segera memenuhi benak Lui.


"Tidak Lui. Ini adalah pilihanku, dan aku tidak akan pernah menyesalinya. Kau tidak perlu merasa bersalah" Sorrel tersenyum sambil memandang Lui dengan hangat, dia juga memberi anggukan kecil pada Duke, yang membuatnya membuang muka menghindari mata Sorrel.


Sorrel terkekeh senang, karena dia tahu Duke sedang berusaha menyembunyikan rasa bersalah dengan memikirkan saat-saat pemakaman ayahnya berlangsung.


Harapan Duke, ingatan sedih itu akan menyamarkan perasaan yang sebenarnya.


"Jangan menyiksa dirimu" Sorrel mengibaskan tangan ke arah Duke. Ingatan sedih yang dilihatnya membuatnya merasa tidak nyaman.


Lui hanya memandang percakapan sunyi itu dengan penasaran.


"Aku ingin ikut ke Alaska" kata Lui dengan penuh tekad.


Ini adalah kesempatan langka dia bisa berguna untuk Duke sebagai inhumane. Dia tidak akan menyia-nyiakannya.


"Itu sangat berbahaya Lui" Oscar menyahut seketika.


"Aku tahu, tapi aku ingin membantu. Kau pasti tahu, jika kita tidak memenangkan perang ini. Mereka akan menyerang manusia biasa. Ini bukan lagi masalah Inhumane" kata Lui.


"Benar, tapi membawamu ke medan perang.... Aku tidak bisa membayangkannya" Duke mengacak rambutnya dengan jengkel.


Dia bisa melihat mata Lui yang telah membulat penuh tekad, akan sangat sulit mengubah keputusannya ini.


"Lui akan baik-baik saja. Aku dan Roan akan menjaganya"


Myra tiba-tiba membuka pintu berseru dengan lantang. "Maaf, aku mendengarkan dari balik pintu" katanya dengan malu.


Dari tadi dia menunggu kesempatan untuk masuk, tapi enggan memutus pembicaraan seru yang terjadi.


"Aku tahu Mom" kata Duke sambil menggeleng Dia bisa mencium aroma vanilla sejak tadi. Duke sengaja tidak mengundangnya masuk, karena tahu Ibunya akan menyetujui usulan Sorrel.


Myra membutuhkan alasan untuk berada di sana, dan dia baru saja menemukannya, yaitu menjaga Lui.


"Well, dengan penjagaan petarung hebat dan juga mantan Zhena dengan kekuatan Dyad, Lui akan baik-baik saja di sana" Sorrel menepukkan kedua tangannya dengan puas.


"Aku akan memulai pelatihan, begitu keadaanmu normal Lui" Sorrel berjalan keluar setelah mengatakan hal itu. Myra yang juga tidak ingin mendapat bantahan dari Duke mengikuti Sorrel keluar.


Roan tanpa banyak bicara juga mengikuti mereka. Dia tidak ingin berada di dekat Duke yang sedang marah.


Sebelum bisa berkata apapun pada Lui, ponsel Duke bergetar menampakkan nama El di layar. "Kau sudah selesai bukan? Aku melihat Sorrel keluar. Para Elder masih menunggumu"


Jika tidak mengingat ini adalah ponselnya yang kesekian, dia akan membanting benda pipih itu sekarang juga. Tapi Duke mencoba menahan diri, satu hal yang mulai terpatri di pikirannya. Amarah tidak pernah membawa kebaikan pada dirinya.


Setelah menghembuskan nafas perlahan, dia berdiri "Bee, aku harus kembali ke bawah".


Lui mengangguk "Aku akan menunggu".


Dengan hentakan kaki yang lebih keras dari pada biasanya Duke keluar dari kamar.


Lui bangun dari ranjang, cara berjalannya sudah hampir mendekati normal, dia mengambil tempat di sebelah Oscar.


"Ternyata sihir bekerja jauh lebih baik dari pada infus" kata Oscar mengomentari tubuh Lui, yang pulih dengan cepat.


"Setidaknya aku tidak perlu memakai itu lagi" Lui menunjuk kursi roda di sudut ruangan.


"Kau sangat jauh" Oscar mengeluarkan nafas panjang, dan menghempaskan tubuhnya di sandaran sofa. Nadanya terdengar putus asa.


"Jauh? Aku berada di sebelahmu" Lui memandang Oscar yang tampak sangat lelah.


"Seumur hidup aku berusaha menjauhkan dirimu dari kehidupan inhumane, tapi sekarang.... sudahlah"


Oscar urung menyelesaikan kalimat itu, karena tidak ingin membebani Lui dengan rasa kecewanya.


"Oscar, aku bahagia dengan semua ini. Dunia inhumane sangat unik dan berwarna-warni. Aku menikmatinya" Lui mengelus tangan Oscar pelan.


Dia ingin Oscar mengerti dengan pilihannya.


"Kehidupan monoton yang aku jalani sebelum bertemu David sekarang terlihat bagai mimpi. Ada banyak kehidupan lain yang bisa aku jalani selain dengan balet"


Oscar meringis mendengar itu. Dia yang bertanggung jawab atas kehidupan Lui yang monoton.


"Aku mencintai balet, mungkin untuk selamanya. Tapi dunia itu sudah berakhir untukku. Dan aku sangat mencintai kehidupanku yang baru bersama David" tambah Lui.


Ingatan Lui yang kembali secara utuh membuatnya bisa mencurahkan segala perasaannya dengan lebih baik kepada Oscar. Adalah pilihannya untuk meninggalkan kehidupannya yang dulu. Dan dia tetap akan mengambil keputusan yang sama apabila bisa mengulang waktu.


"Kenapa kau merahasiakan soal Sorrel dariku?" tanya Lui. Ketika Oscar tidak menanggapi perkataannya.


"Aku merahasiakan banyak hal darimu Lu... dan akan lebih baik jika tetap seperti itu" jawab Oscar dengan senyum penat.


Lui tidak pernah meragukan keputusan Oscar, walaupun banyak hal yang ingin dia tanyakan. Oscar akan bercerita jika memang sudah waktunya. Dia telah terbiasa mempercayai kakaknya tanpa bertanya lagi.


"Kau tidak marah aku menghapus Duke dari kehidupanmu? Aku menyangka kau akan menyerangku begitu kita bertemu" Oscar memandang Lui sambil tersenyum masam.


Dia tahu perbuatannya akan terlihat salah di mata Lui, dengan banyaknya kebohongan yang telah dia katakan selama enam bulan kepergian Duke. Tapi Oscar tidak menyesal, dia mengambil keputusan logis pada saat yang genting.


Lui menghela nafas dan menatap Oscar, dia paling tak suka jika ada seseorang yang membohonginya. Tapi dia juga sangat mengenal Oscar.


Duke dan Oscar, mereka berdua sama, akan berbohong hanya jika keadaannya berada dalam bahaya. Dia tidak berhak marah karena itu..


"Tidak, aku tahu kau melakukannya untukku. Tapi seharusnya kau tidak menghalangi Duke saat ingin mendekatiku"


Mata Lui menyipit galak.


"Kenapa kau sangat membencinya? Hubungan kalian baik-baik saja sebelumnya" tanya Lui penasaran, mereka biasa makan malam bertiga dengan damai.


"Karena dia meninggalkanmu. Aku akan membenci siapapun yang menyakitimu, Lu"


Oscar bangkit dari sofa dan menggeliatkan badan. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan, karena tidak perlu menyembunyikan hal-hal tentang Duke dari Lui. Menyimpan rahasia memang melelahkan.


"Itu bukan keinginannya. Kau tidak bisa menyalahkannya" protes Lui.


"Tentu saja bisa" bantah Oscar, tidak mau kalah.


Lui hanya bisa menggelengkan kepala menyerah.


Mereka masih tidak sadar jika mereka sangat mirip, batin Lui. Duke dan Oscar nyaris identik dalam menyikapi hal yang menyakitinya.


"Aku akan kembali ke London besok" kata Oscar. "Kau sudah sehat dan gembira, maka tanggung jawabku sudah berakhir" lanjutnya sembari mengelus pelan rambut Lui untuk merapikannya.


"Kenapa?....." Lui merengek manja. Dia mungkin sudah menikah, tapi Oscar akan tetap menjadi kakaknya untuk seumur hidup.


"Lu.. aku sudah berada disini selama dua minggu. Jika kau masih ingat, aku adalah CEO sebuah perusahaan multinational"


"Apa kata Tony?" Lui meringis membayangkan kebingungan Tony dengan absennya Oscar selama ini.


"Kemungkinan besar dia akan mengajukan surat pengunduran diri saat aku kembali nanti. Aku memberinya banyak tugas yang nyaris mustahil untuk diselesaikan"


Oscar tersenyum membayangkan Tony yang meneleponnya dengan suara penuh tangis kemarin.


"Benarkah? Dia sangat terampil" Lui akan menyayangkan jika Tony sampai berhenti, pekerjaannya sangat rapi dan jarang mengeluh tentang jadwal gila Oscar.


"Dia bisa menyerahkan surat pengunduran diri, tapi aku akan merobeknya tentu saja" Senyuman jahil muncul di wajah Oscar.


Lui tertawa pelan mendengarnya, kehidupan Tony tidak akan pernah mudah.


"Hubungi aku jika Anjing itu membuatmu susah" pesan Oscar dengan nada sinis yang biasa.


"He's a Wolf not dog...." desah Lui, menyerah mendamaikan mereka berdua. Dia masih mendengar nada permusuhan di suara Oscar.


Tok..tok...Tok!


"Masuk!" sahut Lui sambil beranjak dari sofa.


Wajah Sorrel muncul dari pintu. "Aku harap waktu yang aku berikan cukup" katanya sambil melihat ke arah Oscar.


"Oh.. cukup tentu saja. Terima kasih banyak" kata Oscar dengan sarkastik.


"Maaf, tapi waktuku untuk melatih Lui sangat sempit"


Sorrel tahu Oscar ingin berbicara banyak dengan Lui, karena itu dia meninggalkan mereka berdua tadi. Sebenarnya dia ingin segera memulai pelatihan bersama Lui, karena waktu yang memang telah sangat mendesak.


Beberapa hari lagi para warrior akan segera berkumpul di Quebec.


"Aku akan bersiap" kata Lui sambil beranjak menuju almari, mengambil mantel.


"Tidak perlu Lui, gaunmu itu akan cukup. Tidakkah Duke memberitahu jika suhu dingin tidak akan berpengaruh lagi pada tubuhmu?" kata Sorrel.


"Tidak..!" kata Lui dengan heran, tubuhnya akan baik-baik saja di udara dingin?


"Kau adalah separuh Elf dengan kekuatan es, akan sangat menggelikan jika kau membeku bukan? Kau akan baik-baik saja, percayalah!" kata Sorrel, seraya melambai menunjuk lantai menyuruh Lui untuk berdiri di sana.


Lui bergeser tanpa banyak bertanya.


Seiring lambaian tangan Sorrel, lingkaran sihir muncul di sekeliling kaki Lui. "Tutup matamu" kata Sorrel.


Dengan perlahan sosok Lui mengabur. Tubuhnya terasa dingin seolah ada yang menyiramnya dengan seember air, dengan urutan yang terbalik. Karena rasa dingin itu berpusat dari dalam dirinya baru kemudian menyebar ke seluruh tubuh.


Pemandangan pohon tertutup salju tebal membentang di depan Lui, dia sedang berdiri di sebelah timur Manor. Taman yang sering dia lihat dari balkon kamar Duke.


Detik itu juga, jelas bagi Lui, bahwa tubuhnya memang kebal dengan rasa dingin, karena serbuan angin bersalju terasa sejuk di kulitnya.


Senyum Lui semakin lebar, saat mampu menyentuh salju tanpa harus merasa dingin. Ini seperti mimpi menjadi nyata baginya.


"Aku tidak bisa membawamu terlalu jauh, karena itu berarti aku akan membutuhkan tongkat" kata Sorrel.


Lui hanya mengangguk, berpindah dalam sekejap dari kamar ke sini saja sudah cukup membuatnya takjub, jika bisa dia ingin sekali mempelajarinya.


"Maafkan aku, cantik. Sihir ini membutuhkan tahun yang panjang untuk mempelajarinya. Mungkin nanti kita akan mendapat kesempatan jika perang ini usai" kata Sorrel ramah.


"Aku akan sangat senang" kata Lui dengan mata berbinar, tidak bisa menyembunyikan antusiasmenya.


"Sekarang aku ingin kau memusatkan perhatian pada hal yang ingin kita pelajari, mengerti?"


Sorrel berjalan menuju salah satu kolam buatan yang membeku dan menyentuh lapisan es di permukaan.


Es dan salju yang ada di sekeliling kolam itu mencair. Rahang Lui menganga dengan otomatis melihat pemandangan itu.


"Latihan pertamamu akan berhasil jika kau berhasil membekukan air kolam ini" kata Sorrel sambil memberi isyarat pada Lui untuk mendekat.


Lui berdiri di tepi kolam sambil meremas tangannya dengan gugup. Dia sama sekali tidak memiliki gambaran apapun tentang sihir.


"Aku tidak menyukai fakta jika kekuatanmu muncul ketika kau marah Lui. Amarah akan menjadi jalan yang paling mudah memang, tapi kekuatan yang muncul dari amarah nyaris mustahil untuk dikendalikan" Jelas Sorrel memulai pelajarannya.


"Tutup matamu dan berkonsentrasilah pada alam sekitar. Aku ingin kau mengatakan padaku apa yang kau rasakan" lanjutnya, sambil bergeser sedikit menjauh dari Lui.


Lui menutup mata, mencoba menjalankan perintah Sorrel sebaik-baiknya.


Ini adalah tantangan untuk Lui, karena dia terbiasa mempelajari Balet dengan melihat gerakan dan terarah.


Pelajaran sihir adalah kebalikan dari itu, Sorrel bisa saja mencontohkan gerakan atau lambaian tangan dan juga mantera pada Lui, tapi hal itu tidak akan berguna karena sihir Elf sebagian besar berdasarkan ikatan makhluk dengan alam.


Ikatan itu yang mencoba di bentuk oleh Sorrel, karena sebagai manusia, kehidupan Lui sebagian besar dihabiskan di dalam ruangan, bukan alam terbuka seperti Elf biasa.


Perintah Sorrel yang abstrak itu justru membawa Lui ke alam lamunannya yang liar. Kebiasaannya melamun membuatnya sulit berkonsentrasi dalam keadaan diam.


"Konsentrasi Lui, kebiasaan melamun tidak buruk, kau hanya harus memfokuskannya pada keadaan di sekelilingmu"


Sorrel memperingatkan, karena benak Lui lepas landas tidak terkendali.


Lui mengeluh dalam hati.


"Akan sedikit sulit mungkin, tapi cobalah bersabar. Darah Elf akan menuntunmu" lanjut Sorrel, memberi semangat.


Lui menarik nafas panjang menenangkan diri. Dia mencoba membayangkan apa yang dilihatnya dengan lebih detail, dengan harapan hal itu akan membantu.


Hembusan angin bersalju membelai kulitnya seperti sapuan bulu lembut yang sejuk. Telinganya menangkap suara obrolan beberapa warga yang melintas di dekat Manor.


"Hmmm.... ck ---sangat manusia" Sorrel mendecak, menyimak jalan pikiran Lui yang sangat biasa. Bukan itu yang dicarinya.


Sorrel meraih tangan kanan Lui dan menariknya turun. Lui sedikit terkesiap, karena jemari panjang Sorrel tidak sehangat yang diperkirakannya. Lebih dingin dari Duke, tapi tidak menyakitkan.


Sorrel mencelupkan tangan Lui kedalam air kolam, "Mungkin kita harus memberimu sedikit gambaran yang lebih nyata" katanya.


"Aku setuju" kata Lui, karena dia masih tak mengerti apa yang diminta oleh Sorrel.


"Kekuatan yang ada di dalam tubuhmu adalah air. Aku ingin kau berkonsentrasi menggunakan air yang kau sentuh dengan tanganmu. Cobalah untuk mencari ke dalam tubuhmu, kekuatan itu" kata Sorrel.


Dia mengatur tubuh Lui untuk duduk dengan lebih nyaman.


Lui kembali menarik nafas panjang dan berkonsentrasi. Dia bisa merasakan tangannya berada di dalam air, dan sekali lagi dia merasa takjub, bagaimana air sama sekali tidak menyiksa kulitnya. Air itu terasa seperti air di musim panas.


"Lui.. Kau terhanyut lagi" suara Sorrel melecutnya kencang.


"Maaf" kata Lui sambil menggelengkan kelapa, berusaha memfokuskan pikiran lagi.


Lui tiba-tiba teringat perjalan singkatnya dengan Sorrel tadi, rasa dingin yang menjalar keluar dari tubuhnya.


"Bagus, kekuatanmu bereaksi kepada sihir yang aku gunakan. Cobalah mencarinya lagi" Sorrel berseru girang mendengar pikiran Lui.


Lui tersenyum dan memejamkan matanya erat-erat, membayangkan pusat dari rasa dingin yang dirasakannya tadi. Dingin yang menjalar dari pusat tubuhnya dan keluar.


"Bagus!!' Sorrel tiba-tiba berseru gembira.


Lui segera membuka mata, "Yes!!" pekikkannya membahana di seluruh taman.


Air kolam itu membeku... Bukan hanya di permukaan, tapi seluruh air di dalamnya, beserta dengan tangannya.


"Oh.---." Lui meringis menyesali perayaan keberhasilan yang terlalu awal, karena kini, dia tidak bisa menarik tangannya keluar dari es.


Lui mencoba berdiri agar memiliki tenaga yang lebih, tapi dia tak bisa bergerak. Karena kakinya juga ikut membeku di atas salju.


Sorrel tertawa "Jalan kita masih panjang Lui" katanya sambil menyentuh permukaan kolam dan juga salju, membebaskan tangan dan kaki Lui dari es.


"Aku siap" kata Lui sambil berdiri dengan mata berbinar.


Satu sikap menonjol yang dia bentuk selama pelatihan keras sebagai balerina selama puluhan tahun adalah pantang menyerah. Kegagalan tidak akan membuatnya mundur, apalagi dalam subyek yang sangat menarik seperti sihir.


"Bagus!" Sorrel bertepuk gembira melihat semangat Lui. Pelatihan ini akan sulit, tapi setidaknya muridnya terlihat sangat rela menjalaninya.




"Kita masih bisa mengobrol seperti ini, kau tidak perlu berubah kembali" kata Lui sambil memeluk kaki besar Duke yang berbulu dengan gemas.



Sosok serigala Duke seperti mewujudkan fantasinya, atas boneka raksasa yang bisa kau peluk sampai puas.



"Kau tahu aku bisa mendengar semua apa yang kau pikirkan, termasuk semua yang aku yakin kau tak ingin aku mengetahuinya" Duke menyundulkan dahi pada bahu Lui.



"Hmmm..... aku tidak memiliki rahasia apapun yang tidak kau tahu" kata Lui setelah berpikir beberapa detik.



\*"Termasuk bagaimana kau ternyata sangat menikmati kegiatan kita tadi malam?" \*



Duke terkekeh mendengar kepanikan di kepala Lui.



"Curang!!!... kau tak boleh dengan sengaja membuatku memikirkannya"



Lui mengerucutkan mulut sambil menghentakkan kaki di atas salju.



"Dan lagi itu bukan rahasia, kau tahu aku menikmatinya" tambah Lui dengan wajah memerah, ia meninggalkan Duke dan berjalan menuju danau Blackmoon yang membeku.



Pantulan sinar bulan yang pucat membuat pemandangan salju di sekitar danau berwarna keperakan.



Duke terkekeh dalam kepalanya, tapi dia menuruti keinginan Lui dan tetap mempertahankan wujud serigalanya.



Duke mendekati Lui yang sedang mengelus es di danau dengan tangannya.



Dia sudah menerima jika Lui benar-benar kebal dengan udara dingin. Duke membiarkan Lui keluar hanya dengan memakai gaun rumahnya yang biasa.



"*Kau akan membekukan seluruh pohon jika terus marah*" kata Duke sambil duduk di sebelah Lui.



"Aku tidak marah" bantahnya sedikit lebih keras dari pada yang diharapkannya.



"*Ya.. ya. Aku akan mengabaikan amarahmu Bee*" ujar Duke dengan malas, sambil bergelung dan mengubur tubuh Lui dengan bulunya. Pikiran Lui sedang kacau, karena itu dia sedikit sensitif.



"Haaahhh..." Lui menyandarkan tubuhnya ke badan Duke dengan penat. Dan langsung mendesah puas, karena kehangatan dan kelembutan bulu Duke, memberinya rasa nyaman luar biasa.



"Maaf, aku hanya kesal karena latihanku tak berjalan lancar" kata Lui sambil berbaring miring dan terus membenamkan wajahnya pada bulu hitam Duke.



Diabeberapa kali bisa mengeluarkan kabut beku, tapi pengendaliannya jauh dari kata bagus. Tidak terhitung lagi berapa kali dia membekukan kakinya.



"*Kau harus bersabar Bee. Aku tidak tahu banyak tentang ilmu sihir, tapi kesabaran ada disetiap sudutnya*" Kata Duke, merasakan kegelisahan Lui.



\*"Kau tahu, Alva memerlukan waktu hampir sebulan sebelum bisa merawat gumpalan di kepalamu. Dan nyaris dua bulan untuk bisa menyelesaikan ramuan yang biasa disuntikkan ke tubuhmu? \**Dia terus mencari dari kemungkinan keberhasilan yang sangat kecil, karena dia merawatmu dengan sihir yang sama sekali baru*"



"Benarkah?" Lui membelalakkan matanya denan takjub.



Duke membagi ingatannya saat dia menemani Alva berjuang menyelamatkan Lui.



Alva berkali-kali gagal, karena sihir yang ditanam di kepala Lui luar biasa rumit dan baru. Saat itu, otak Lui keadaannya sudah sangat lemah. Apalagi Alva bekerja dengan asumsi Lui adalah manusia.



Alva sampai terobsesi dengan kasus Lui, karena secara tidak langsung, kasus itu memberinya keinginan untuk mempelajari sihir yang lebih. Sihir yang sebelumnya nyaris ditinggalkan olehnya. Kasus itu membuat Alva sadar jika ilmu sihirnya bisa menolong manusia.



Sorrel sudah memperbaiki mantera itu, hingga Lui tidak akan terlalu mudah pingsan. Tapi batasan-batasan yang sebelumnya tetap berlaku. Sorrel yang luar biasa juga tidak mampu membuat gumpalan di kepala Lui hilang.



Serapuh itulah keadaan otak Lui.



Lui mengangguk paham melihat ingatan Duke.



"Tapi aku tidak memiliki waktu berbulan-bulan. Sorrel mengatakan kalian akan berangkat ke Quebec beberapa hari lagi" kata Lui dengan putus asa.



"Aku ingin membantumu" lanjutnya sambil mengelus perut Duke yang menjadi tempatnya bersandar .



"*Aku tahu, Bee. Kekuatanmu akan sangat berguna, tapi kami sudah mempersiapkan perlawanan yang cukup lumayan*"



Lui tidak menyahut, tapi benaknya menggambarkan kekhawatiran dan juga resah.



Duke menggosok dahinya ke tubuh Lui. "*Aku akan baik-baik saja*"



"Kau benar, ini ide yang buruk" Wajah Lui semakin muram, sadar jika perasaan yang coba dia sembunyikan terbaca oleh Duke. Padahal dia berusaha untuk tidak membuat Duke risau dengan rasa khawatirnya.



\*"Mindlink kadang memang sangat menyebalkan" \*Duke tertawa pelan melihat kekesalan Lui.



"Tapi jika aku harus memilih, aku lebih menyukai keadaan ini. Aku tidak akan pernah menyesal" kata Lui dengan mantap.



Menelusuri benak Duke adalah pengalaman yang paling indah menurutnya.



\*"Aku juga" \*Duke menyetujui pemikiran Lui dengan alasan yang sama. Dia menyukai apa yang ada di pikiran Lui.



Lui tersenyum kecil mendengar itu.



Detik berikutnya memori mereka berdua memutar ingatan yang sama. Ingatan saat mereka berdua bertemu pertama kali.



Duke merasakan kejengkelan Lui, ketika dia mengira Duke membentaknya. Dan Lui menyelami bagaimana Duke merasa bingung menghadapi amarahnya yang salah sasaran.



"*Kau memang sudah tertarik padaku saat itu*" goda Duke melihat kegugupan Lui yang dulu berhasil disembunyikannya. Lui hanya bisa tersenyum malu,



"Kau juga" kata Lui melihat Duke dengan terang-terangan mengubah penerbangannya ke Paris.



\*"Memang, dan kau tahu itu" \*Duke tidak pernah menyembunyikan hal itu dari Lui.



"Sorrel benar, benakmu sangat jujur" kata Lui dengan puas.



Duke mendengus jengkel karena penyebutan nama Sorrel. Dia masih tidak suka dengan kelancangannya. Lui tertawa geli, Duke kadang terlalu membesar-besarkan masalah.



Menit-menit berikutnya, mereka tenggelam dalam segala kenangan yang telah mereka lalui bersama.



Ingatan Lui yang penuh kabut sekarang mewujud dengan nyata. Bagaimana mereka menyusuri padang bunga yang indah di Perancis, hutan yang sejuk di Jerman, dan juga pantai yang indah di Yunani.



Ingatan yang dulu hanya berupa potongan membingungkan, sekarang terangkai menjadi kisah utuh yang indah, dengan sosok Duke di setiap lembar harinya.



"Bagaimana aku bisa melupakan semua itu?" Lui kembali menyuarakan keheranannya.



"*Karena kau mencintaiku Bee, karena itu kau melupakan aku*" jawab Duke dengan cepat, berharap bisa memotong rasa sesal Lui.



Lui mengeratkan genggamannya pada kaki depan Duke, "*Forever and always*" bisiknya dengan sepenuh hati.



Gambaran rasa cinta yang membuncah, membuat Duke seakan sedang berada di bawah sentuhan matahari hangat di musim semi.



\*"Forever and Always" \*



Duke membalas dengan segala cinta yang ada di hatinya yang membuat mata Lui berkaca-kaca.



\*"Aku mengucapkannya bukan karena ingin membuatmu menangis Bee" \*



"Maaf" Lui tertawa sambil mengedip menahan air matanya.



Duke memperbaiki posisi duduknya "*Naiklah, kita kembali ke kabin*" katanya.



Acara piknik malam hari mereka telah usai. Mereka harus tidur, terutama Lui karena besok jadwalnya adalah berlatih kembali bersama Sorrel.



Tapi tentu saja Duke tidak berencana langsung tidur ketika mereka tiba di kabin.



Lui memberinya jeweran kecil di telinga ketika melihat apa yang dipikirkannya, tapi tidak memprotes.