Finding You, Again

Finding You, Again
Us 14 - Matter and Unexpected



"That's not nice" ucapku, dengan lelah.


Sepucuk pistol ditodongkan tepat diantara kedua mataku, begitu kami bertemu.


Oscar yang sama sekali tidak terusik dan masih memandang aku dengan tatapan membunuh.


"Beri satu alasan, kenapa aku tidak meledakkan kepalamu saat ini juga" desisnya, dengan gigi terkatup, Seraya melepas pengaman di pistolnya bersiap untuk menembak.


"Aku bisa memberimu tiga. Pertama, kau tidak akan bisa meledakkan kepalaku dengan pistol itu, tulangku lebih keras daripada manusia. Kedua, begitu kau menarik pelatuknya, saat itu juga El yang sekarang berada di dalam mobil akan mematahkan lehermu. Dan yang ketiga, kita berdua tahu, kau akan kesusahan menjelaskan pada Bee bagaimana aku bisa mati saat bertemu denganmu"


Mata Oscar melotot memandangku. Semua alasanku masuk akal, dia tidak bisa sembarangan menarik pelatuk pistol itu.


" Kadang aku lupa kau bukan manusia". Setelah beberapa saat, Oscar akhirnya menyerah dan menyarungkan pistolnya kembali.


Aku tidak akan marah dengan perbuatannya ini.


Aku sangat mengerti alasan kemarahannya, semua orang tidak akan rela jika anggota keluarganya harus terlibat bahaya.


Apalagi bagi orang yang over protektif seperti Oscar. Aku harus bersyukur dia tidak menembak dengan seketika, walaupun itu tidak akan membunuhku, luka tembakan di kepala akan tetap terasa menyakitkan.


"Kita harus cepat, kedatanganmu tidak boleh menarik perhatian" Aku memberi isyarat padanya untuk mengikutiku.


Dengan jentikkan tangannya, Oscar menyuruh Alex yang bersiaga di dalam mobil untuk pergi, kemudian dia berjalan mengikutiku.


"Kau sudah menerima ramuan dari Alva? Minumlah sekarang. Begitu tiba di pack, aroma tubuhmu harus sudah hilang" Aku membuka pintu camping car yang akan membawa kami ke pack.


"Kita akan menggunakan ini ?" Oscar bertanya heran sambil memandang ke sekeliling ruangan di camping car.


"Aku akan menjelaskan nanti. Sekarang yang terpenting kau harus meminum ramuan dari Alva" Aku memotong rasa penasarannya, dengan tegas.


Sambil mendecak kesal, Oscar meraih sesuatu dari saku mantelnya. Botol kaca berukuran sekitar 500 ml --berisi cairan berwarna hijau yang terlihat beracun-- diletakkannya di meja. Untuk sesaat dia memandang botol itu dengan skeptis.


Aku mengerti, aku juga akan ragu jika berada dalam posisinya.


Cairan itu terlihat seperti jus rumput liar bercampur lumpur. Warnanya sedikit berbeda dengan ramuan penghilang aroma yang dulu aku minum, tapi aku menebak rasanya tidak akan jauh berbeda.


Dalam sekali tarikan nafas Oscar meminum cairan itu. Matanya langsung menyipit, dan aliran ramuan itu sedikit tersendat karena rasa yang tidak lezat.


"Jika kau hanya mengada-ada soal meminum ramuan ini, aku akan membunuhmu dua kali!!" ancamnya, sambil terengah setelah selesai meminumnya.


Itu berarti tebakanku benar, rasa ramuan itu memang seburuk yang biasanya.


Perlahan aroma Oscar mulai menghilang. Ramuan dari Alva tidak pernah gagal. Werewolf yang lain tidak akan bisa mencium aroma manusia dari tubuh Oscar.


Tapi butuh sedikit lebih banyak ramuan untuk mengelabuhi hidungku. Aku masih bisa mencium aroma pohon dan keju darinya.


Dosis yang diminum Oscar akan menyembunyikan aromanya selama dua hari. Aku harap itu waktu yang cukup.


Setelah itu Oscar hanya diam dan memandang keluar jendela, mungkin untuk sekedar menikmati pemandangan.


Atau mungkin juga karena dia sudah kehabisan kata makian yang bisa dilontarkannya padaku. Apapun alasannya aku sangat berterima kasih, setidaknya sisa perjalanan ini akan berlangsung dengan tenang.


Tapi ketenangan itu tidak berlangsung lama. Kantuk yang mulai menyerang di penggal paksa oleh Oscar dengan pertanyaannya.


"Kita sudah memasuki wilayah pack?" Dia menunjuk bangunan tower yang menjadi batas penjagaan pack.


Aku mengangguk "Itu tower penjagaan. Tidak terlalu berguna, karena apapun yang datang, kami sudah bisa mencium aromanya terlebih dulu, dari pada melihatnya" jelasku sambil menguap lebar.


Saat ini hampir tengah malam. Kantukku sudah tidak tertahankan. Beberapa hari ini, aku berlari dalam hutan saat malam karena aku terlalu gelisah dan tidak bisa tidur.


Suara tawa Bee dan aromanya yang memenuhi Manor membuatku selalu terjaga. Mempunyai indera super sangat menyebalkan pada saat seperti itu.


"Bangunan apa itu?" tanya Oscar lagi, sambil menunjuk bangunan besar berbentuk seperti stadion, yang berdiri kokoh di sebelah jalan masuk pack.


"Hall utama, kami menyelenggarakan upacara dan beberapa acara yang perlu kehadiran penghuni pack di sana"


"Apakah itu rumah sakit?" Oscar menunjuk bangunan bercat putih, dengan nada antusias yang tidak mampu di tahannya.


Aku mengangguk, mulai malas untuk menjelaskan. Aku tidak suka menjadi tour guide dadakan.


"Ini seperti kota di dalam hutan, apakah kalian mempunyai pembangkit listrik sendiri?" Masih dengan penasaran, Oscar tidak berhenti bertanya.


Dan sekali lagi aku mengangguk.


"Pembangkit listrik geothermal. Kami sebenarnya bisa melihat dengan baik tanpa lampu, tapi beberapa peralatan dunia modern tidak akan bisa berfungsi tanpa listrik, terutama peralatan di rumah sakit. Karena itu akhirnya kami membangun pembangkit listrik swadaya". Aku menjelaskan dengan setengah hati.


Oscar mengangguk-anggukan kepalanya mendengar jawabanku.


Matanya kembali memandang keluar jendela. Dia terlihat seperti anak laki-laki saat pertama kali ke taman hiburan. Antusias dan penuh rasa ingin tahu. Sangat berbeda dengan mata seseorang yang menodongkan pistol beberapa saat yang lalu.


Kami tiba di mansion lewat tengah malam. Aku sudah menyuruh beberapa penjaga untuk menyingkir malam ini, tetapi aku tetap was-was.


Aku nyaris menyeret Oscar agar kami bisa secepatnya masuk dalam Manor.


Tapi suara langkah kaki di belakangku membuatku berhenti. Aku tidak akan lari, karena hal itu kan lebih mencurigakan. Dan dari arah samping Manor, kakek buyutku tercinta muncul bersama dengan Amon.


"Kau dan ayahmu memang sangat mirip, bahkan tentang hal seperti ini. Tapi setidaknya kau menyamarkan baunya. Kau sedikit lebih pintar dari ayahmu" ujarnya, sambil menatap Oscar tajam.


"Thanks for the compliment. Tapi aku sedikit sibuk sekarang. Aku tidak punya waktu untuk meladeni omong kosong" Menanggapi caciannya sekarang, hanya akan membuang waktu, aku sudah membawa Oscar kemari.


"Kau akan kehilangan jabatanmu sebagai Alpha jika kau terus mempertahankan Mate manusia itu" geramnya rendah, dengan nada memperingatkan.


"Dan aku rasa itu kabar bagus untukku, jadi aku tidak perlu berada di sini!!"


"Kau membuang hak lahirmu demi seorang manusia yang sakit-sakitan?" Nadanya mulai meninggi karena amarah.


Aku bisa merasakan Oscar yang berada di sampingku bergerak maju. Tapi aku menahannya dengan tangan.


"Ya, aku akan membuangnya. Karena seperti yang kau ketahui, aku tidak akan berfungsi dengan baik sebagai werewolf tanpa dirinya!!" teriakku sambil terengah.


Emosi yang aku tahan beberapa hari ini meledak.


"Seharusnya kita tidak perlu mendebatkan hal ini lagi, jika saja kau bisa mempercayai bahwa Bee adalah Mate-ku. Tapi karena kau memilih tidak percaya, aku tidak akan memaksa. Karena itu kau boleh mengganti aku dengan siapapun, jika kau bisa!!" tantangku dengan gusar.


Mengganti Alpha atau Scion hampir mustahil dilakukan, karena itu berarti meminta persetujuan seluruh warga pack. Aku akan melihat bagaimana dia bisa melakukannya.


Karena tidak ada lagi yang perlu dikatakan, maka aku berjalan meninggalkannya menuju Manor, sambil mengatur nafas agar tidak lagi terengah.


Aku benar-benar ingin membuka otak pria tua itu agar menjadi lebih mengerti tentang masalahku. Tapi yang kami lakukan setiap kali bertemu hanyalah beradu mulut. Ini menjengkelkan.


"Kau tidak mengatasi hal tadi dengan pandai Duke. Menantangnya seperti tadi bukan langkah yang pintar." El bersuara untuk pertama kalinya malam ini.


"Aku tahu. Tapi aku percaya anggota pack ini tidak akan menodai rasa hormat mereka pada ayahku. Aku melihat bagaimana mereka sangat mencintai ayah pada saat pemakamannya kemarin. Aku akan mempercayai rasa cinta mereka pada ayah"


Jika benar mereka bersedia mengganti aku dengan orang lain, itu berarti semua warga pack menodai nama ayah. Aku juga tidak berkeinginan untuk menjadi Alpha bagi pack yang telah mencoreng kehormatan ayah. Dengan sukarela aku akan pergi.


"Kau sekarang berhutang banyak penjelasan padaku. Aku tahu kau tidak pernah berbohong, tapi kau jelas tidak mengatakan semuanya. Terutama persoalan tentang mate dan jabatanmu itu. Saat di London kemarin aku tidak meminta penjelasan. Tapi mendengar mulut kurang ajar pria tua tadi, aku tahu Lui sedang terlibat hal yang besar. Jadi sekarang kau harus mulai menjelaskan padaku, atau aku akan membawa Lui pulang dengan paksa"


Nada menuntut Oscar terdengar sangat menintimidasi. Dia sudah duduk menyandarkan badannya pada sofa di ruang kerjaku.


Oscar memandangku dan bersiap untuk mendengarkan cerita. Dia tidak ingin mendengar penolakn, matanya terus mengikuti setiap detail gerakanku.


Aku menarik nafas berat, karena tahu, aku tidak punya jalan lain selain menceritakan semua.


"Aku akan memperingatkanmu, semua yang aku ceritakan bukan untuk kau bagi dengan siapapun, bahkan Bee. Mengerti?!"


Oscar hanya mengangguk. Maka aku mulai menceritakan apa sebenarnya yang terjadi secara lengkap. Mulai dari kenapa aku bisa mati, dan kemudian apa yang melatarbelakangi penyerangan pada Bee di hutan beberapa hari yang lalu, serta mate.


Sepanjang aku bercerita, Oscar mendengarkan tanpa banyak komentar. Sesekali dahinya berkerut berpikir keras.


"Jadi hal ini semua terjadi karena kau memilih Lui untuk menjadi mate-mu?" tanyanya, menyimpulkan cerita panjangku.


Aku bisa melihat wajah Oscar perlahan menjadi lebih menyeramkan karena amarah.


"Tidak, kau salah. Aku tidak memilih. Aku bahkan tidak tahu bahwa mate itu adalah hal yang nyata sampai beberapa bulan yang lalu. It's just destiny" jelasku pelan.


"Destiny my foot.....!!" gumam Oscar, sambil tersenyum sinis. Kata-kataku tentu terdengar seperti dongeng baginya.


"Jadi Lui tidak akan punya pilihan lain selain bersamamu?" tanyanya kemudian.


Aku mengangguk dengan sedikit ragu.


"Kau ragu!!" sahutnya, sedetik setelah aku mengangguk.


Bagaimana dia bisa tahu?


"Well, satu-satunya contoh mate yang aku temui adalah werewolf. Mereka berdua werewolf. Aku sedikit ragu apakah hal-hal yang berkaitan tentang mate itu akan tetap berlaku padaku dan Bee, karena Bee adalah manusia" jelasku, dengan enggan.


"Apa yang membuatmu yakin kalau Bee adalah mate-mu? Bisa jadi kau salah" katanya, tanpa perasaan.


Aku memilih untuk menjawabnya dan menelan kembali makianku "Aku kehilangan kemampuan werewolf-ku saat Bee menghapus ingatan soal diriku. Aku nyaris seperti manusia"


"Tapi Bee baik-baik saja" sanggahnya.


"Bagian mana yang kau sebut baik? Dia kehilangan ingatan hampir sepanjang 3 tahun hidupnya" El menyahut dengan geram tanpa bisa ditahan.


Dia terlihat sedikit marah pada Oscar.


Oscar memandang El tajam. "Itu hal yang bagus, karena jika dia masih mengingat tentang David, aku yakin dia tidak akan hidup sekarang" Oscar membalas perkataan El dengan keras.


"Dan, kau masih tidak percaya jika mereka mate. Kau baru mengatakannya dengan mulutmu sendiri, Lui tidak akan bisa hidup tanpa Duke" El sedikit terengah saat mengatakannya.


"Aku sangat ingin tahu bagaimana Lui akan bersikap saat ini, jika tahu kau melarangnya bertemu dengan Duke, aku yakin dia akan membencimu seumur hidup" tambahnya, El ternyata bisa bersikap sangat brutal bila dia mau.


Aku sendiri tidak terlalu yakin bagaimana Bee akan bersikap. Jika beberapa hari yang lalu Oscar ingin membawanya pulang, aku yakin Bee akan merasa senang karena bisa jauh dariku.


"Pertemuan kalian hanya membawa nasib buruk untuk Lui. Jika kau tidak muncul, dia tidak perlu terlibat dengan dunia penuh makhluk buas seperti saat ini" Oscar mengatakannya dengan sedikit bergumam.


Aku rasa argumen El mulai terasa masuk akal untuknya, karena sekarang sia mencari jalan lain, untuk keluar dari lingkaran inhumane.


"Ya itu pasti. Hidupnya akan lebih mudah jika Bee tak bertemu denganku 3 tahun yang lalu. Tapi aku tidak pernah memilih hal itu untuk terjadi. It just happen" Aku mulai merasa frustasi.


"Itu tidak benar Duke. Lui bahkan tidak akan memiliki kehidupan, jika tidak bertemu denganmu. Lui akan meninggal saat dokter memutuskan untuk mencabut alat bantu kehidupannya dua tahun yang lalu" El kembali bersuara.


"Lui tidak akan bisa sadar tanpa bantuan dari Alva, sementara Alva adalah bagian dari dunia kami. Kau sudah setuju jika Lui akan menjadi bagian dari dunia kami, begitu kau memutuskan untuk menerima bantuan Alva. Apakah dengan fakta ini kau masih menyesali keterlibatan Lui dengan dunia kami? Jika jawabanmu iya, maka kau tidak sepintar yang dikatakan orang!"


El memandang Oscar tepat di wajahnya saat mengucapkan semua itu.


El kemudian memberi lirikan mencela padaku, karena aku terlihat pasrah menerima tuduhan Oscar. Tapi aku memang tidak pernah bisa berpikir jernih, ketika menghadapi Oscar dan Bee. Mereka berdua membuatku sedikit bodoh.


Aku mulai yakin bahwa Oscar juga sangat mahir dalam memanipulasi pikiran orang lain, atau minimal pikiranku.


Oscar bangkit dari duduknya kemudian memilih untuk memandang keluar. Aku ragu hal itu dilakukannya untuk menikmati pemandangan. Karena taman di luar sekarang gelap gulita.


"Aku hanya ingin Lui memiliki kehidupan yang tenang tanpa riak apapun. Sudah banyak hal buruk yang terjadi padanya. Bahkan sebelum dia dilahirkan" Oscar masih memunggungi kami saat mengucapkan hal itu. Tapi nada getirnya sangat kentara.


"Apa maksudmu?". Bee tidak pernah menceritakan dengan detail keadaan keluarganya, jika memang topik itu tidak relevan dengan percakapan kami.


"Tidak pernahkah kau bertanya-tanya kenapa kehidupan Lui sangat condong ke arah balet? Kenapa hal yang ada dalam hidupnya sebelum dia pensiun, hanya ada balet?" tanya Oscar, setelah berbalik menghadap aku dan El, tapi matanya tidak fokus. Sepertinya Oscar tenggelam dalam kenangannya sendiri.


Aku mengangguk. "Pernah, pada awal kami bersama. Tapi bukankah balet adalah panggilan jiwanya?"


"Memang, tapi aku..ah bukan! Kami yang menyempitkan dunia Lui hanya pada balet. Me and My Mom" ujarnya dengan nada sedih.


"Why?" Aku sedikit terperangah mendengar pengakuannya. Aku tidak menyangka jika ketertarikan Bee pada balet tidak terjadi secara alami.


Tidak menginginkan Bee? Orang sinting macam apa yang tidak menginginkan Bee? Aku menahan umpatan yang sudah ada di ujung lidahku. Karena umpatan itu bukan untuk Oscar.


Jika aku mengenal Belva Delmora, maka ayah mereka --Daniel Delmora-- adalah orang asing bagiku. Dan aku sama sekali tidak punya informasi tentangnya. Aku hanya tahu ia brengsek karena pernah memutuskan untuk mencabut alat penopang kehidupan Lui saat ia koma.


Bee hanya menyebutnya beberapa kali selama kami bersama dulu. Dan aku tidak bertanya lebih lanjut, karena aku juga tidak ingin bercerita tentang kondisi keluargaku. Aku dalam keadaan membenci ayah saat itu.


"I have a story for you, do you want to hear it?"


Itu adalah pertanyaan retoris, karena tanpa aku jawab, Oscar akan tetap bercerita.


Tapi aku dan El mengangguk sopan.


Oscar akhirnya kembali duduk di sofa yang berseberangan denganku. Dia menyandarkan seluruh beban badannya dengan pasrah di sofa.


"Keluarga Delmora adalah keluarga yang sangat tua. Aku pernah menyelidiki dan menemukan sejarah keluarga kami sudah ada sejak sekitar 100 tahun lebih"


Oscar memandangku untuk menemukan wajah terkejut. Tapi itu bukan kabar baru untukku, tentu saja aku tidak bereaksi.


Oscar tersenyum samar melihat reaksi minim itu. lalu sadar jika aku telah mengetahui tentang rahasia keluarganya itu. Dia lalu melanjutkan ceritanya seolah tidak terusik.


"Setelah ayah dan Ibuku menikah, mereka tidak segera memiliki keturunan. Hal itu sangat mengkhawatirkan, karena yang terpenting bagi Delmora adalah penerus untuk melanjutkan keberadaan keluarga kami. Setelah 5 tahun yang berat bagi Ibuku, karena harus menghadapi rongrongan dari keluarga ayah, akhirnya Ibuku hamil"


"Kemudian hadirlah anak laki-laki, sebagai penerus yang sangat dinantikan. Mereka berdua berbahagia. Tapi 6 tahun kemudian sesuatu yang tidak pernah mereka berdua harapkan, terjadi. Ibuku kembali mengandung" Sejenak Oscar menarik nafas panjang.


"Ayahku tidak menginginkan kehamilan itu, karena anak kedua... membebaninya. Dan menurut ayahku, aku telah memiliki semua yang dia inginkan sebagai penerus. Dia menyuruh ibuku untuk menggugurkan kandungan".


Resmi sudah, aku membenci ayah Bee!


"Ibuku menentang keras keputusan ayah. Saat itu aku baru berumur 6 tahun, tapi masih lekat dalam ingatanku,  bagaimana pertengkaran itu terjadi. Skala pertengkaran yang sangat luar biasa, membuat aku terus mengingatnya. Ibuku yang biasanya tidak pernah membantah apapun keputusan ayahku, melawan dengan gigih. Setelah usia kandungan Ibuku menginjak beberapa bulan, ayahku akhirnya menyerah dan membiarkannya"


Aku mengangkat alis untuk menyatakan keheranan, karena tidak mungkin keputusan diambil tanpa sebab.


"Karena ia tidak menganggapnya penting." Oscar tertawa pelan dan sumbang.


"Setelah Lui lahir, aku dan Ibuku sangat gembira, dia adalah bayi mungil paling indah yang pernah aku lihat. Aku menyayanginya saat itu juga tanpa syarat. Tapi sikap ayahku tidak berubah, dia masih tidak peduli dengan apapun yang berkaitan dengan Lui"


"Kenapa? Bukankah dia sudah menerima " Aku heran lagi.


"Karena aku!" Nada yang sangat pahit terdengar di jawaban Oscar.


"Aku mempunyai segala yang diinginkannya sebagai penerus keluarga. Pintar, dengan wajah rupawan, cekatan dan terampil berbicara. Aku mengambil semua perhatian ayah dari Lui"


Dia memuji kelebihannya dengan nada tidak suka. Seolah berdosa karena memiliki semua itu.


"Ayahku adalah orang yang sangat praktis dan dingin, dia hanya akan membuang dengan kejam hal-hal yang tidak diperlukannya. Baik itu anak buah, perusahaan atau apapun, termasuk Lui. Saat Lui lahir, ayah sama sekali tidak datang ke rumah sakit. Dia tidak merasa perlu. Lui tumbuh hanya dengan kasih sayang dari Ibu dan aku".


Aku belum pernah bertemu dengan ayah Bee, tapi aku tidak yakin bisa menyapanya dengan ramah saat kami bertemu. Karena saat ini, aku ingin memisahkan kepalanya dari sisa badan tempatnya menempel.


Bagaimana bisa dia mengabaikan anak kandungnya seolah Bee adalah sampah yang tidak terpakai?


"Aku dan Mom berjuang dengan sangat keras untuk menutup lubang yang di tinggalkan oleh absennya kasih sayang ayahku. Aku menyiraminya dengan perhatian dan seluruh kasih sayang yang aku punya. Sedangkan Mom, memperkenalkan Lui pada balet. Kegiatan yang akan sangat menyita waktu, sehingga kau tidak akan menyadari keadaan dunia yang sedang berjalan di sekitarmu. Kami berdua lega, karena Lui ternyata juga sangat berbakat dan jatuh cinta pada balet dengan mudah. Mom memastikan Lui selalu sibuk, dan dunianya hanya tercurah pada balet, sehingga tidak akan menyadari ayahku yang selalu bersikap tak acuh padanya"


Oscar kembali menarik nafas panjang.


"Kami berhasil. Lui sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi di dunia selain balet. Dia tidak menyadari bagaimana ayahku tidak peduli dengan kehidupannya. Pada acara pementasan ataupun kelulusan dan kompetisi, Mom selalu memberikan alasan yang masuk akal atas ketidakhadiran ayahku di sana. Kami membungkus dunia Lui dengan sempurna"


"Maksudmu kau membuatnya menjadi gadis yang naif, dan menerima semua hal tanpa berpikir panjang atau bertanya. Kau membiarkannya menjadi gadis kaca, yang akan pecah, bahkan jika hanya tergores. You make her really vulnerable," ujarku, mengoreksi kalimatnya.


Aku tahu mereka bertujuan baik, tapi sikap terlalu melindungi Belva dan Oscar, membuat Bee menjadi gadis yang kurang tanggap, dan terlalu polos.


Oscar tersenyum masam mendengar kesimpulanku yang berupa fakta tidak terbantahkan.


Salah satu pertanyaanku terjawab. Aku dulu sangat heran, bagaimana bisa ada seseorang yang begitu polos dan naif seperti Bee? Apalagi ketika tahu latar belakang Bee yang berasal dari keluarga kaya raya dan terpandang. Perpaduan yang sedikit mustahil menurutku.


Gadis kaya raya yang aku kenal, biasanya mempunyai sifat manja yang menjijikkan. Tidak seluruhnya tentu saja, tapi sebagian besar.


"If you said so, tapi hanya itu yang bisa kami pikirkan untuk membuat Lui tidak terluka. Kau tahu, Ayahku benar-benar tidak pernah mengajaknya berbicara, sebelum dia berumur 8 tahun? Itu pun hanya beberapa patah kata. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Lui, jika dia tahu apa yang sebenarnya ada di pikiran ayah"


Penyangkalan keberadaan yang sangat kejam. Aku tadi sedikit tidak setuju dengan cara Oscar menutupi kebusukan ayahnya dari Bee. Tapi Oscar benar, aku juga tidak tahu bagaimana Bee akan bereaksi, jika dia tahu ayahnya tidak pernah menginginkan dia ada, itu terlalu kejam.


Ayah Bee lebih bengis dari pada yang aku kira ternyata. Aku tidak akan pernah membiarkannya mendekati Bee sampai kapanpun.


"Kau tahu bagaimana setelahnya. Charlie dengan berani menentangnya. Saat itu juga, aku menyatakan perang dengan ayah. Aku tidak bisa memaafkannya lagi, itu adalah kali kedua dia akan membunuh Lui. Setelah itu, aku merebut segala kekuasaan yang ada di tangannya dan mengusirnya dari London. Kau tidak menyadarinya mungkin, tapi itu sekitar saat kau membawa Alva."


Oscar berkata dengan geram dan mengepalkan tangannya dengan erat.


"Bagaimana kau bisa menggulingkan kekuasaan ayahmu? Selama ini aku mengira hal itu terjadi dengan alami, ayahmu memang ingin mengundurkan diri dan beristirahat" Aku menjadi penasaran sekarang.


"Karena memang hal itu yang kami umumkan ke luar. Dan aku mendapat batuan dari beberapa keluarga ibuku, saat melakukannya" jawabnya, dengan nada segan yang sangat kentara. Pertanda dia tidak ingin menjelaskan hal ini lebih lanjut.


"Aku sangat bersyukur ketika kemudian kau datang bersama Alva. Aku sudah membayangkan yang terburuk, seandainya ayahku berhasil menjalankan keputusannya." Oscar bergidik ngeri.


Bulu kudukku juga meremang. Aku tidak tahu jika saat itu, bisa menjadi akhir hidup Bee.


Setelah aku berdebat dengan dokter br*ngs*k itu\, aku sedang dalam proses mencari bantuan Alva. Aku tahu jika dokter manusia tidak bisa menanganinya\, maka dokter yang merupakan penyihir adalah pilihan yang tepat untuk menolong Bee.


Butuh waktu sedikit lama untuk membujuk Alva, terutama karena aku adalah Scion dari Blackmoon. Dia tidak ingin lagi berhubungan dengan dunia inhumane, menolong seorang scion, jelas salah satu kriteria berhubungan dengan inhumane.


Aku memohon tanpa rasa malu dan tanpa lelah padanya. Setelah sekitar dua minggu membuatku sibuk, dia akhirnya menyerah. Alva berkata dia bersedia menolong, karena dia ingin melihat siapa wanita yang berhasil membuatku berlutut memohon padanya.


Bangsa werewolf yang terkenal karena keangkuhan dan sifatnya yang kasar, biasanya tidak akan memohon dengan mudah. Dia ingin melihat apakah hal yang aku perjuangkan sepadan dengan apa yang aku lakukan.


Dan saat kembali, aku mendengar dari Charlie, jika Oscar telah menjabat sebagai CEO Delmor Corp. Saat itu aku sedikit tidak peduli dengan apa yang terjadi, sehingga aku mendengarnya sambil lalu. Setelah tahu drama apa di baliknya aku sedikit terguncang.


Tapi dari cerita Oscar, akhirnya aku tahu apa yang menjadi sumber sister complex-nya. Aku akan mencoba lebih bertoleransi dengan sikap paranoid Oscar setelah ini.


"Aku hanya menginginkan kehidupan yang tenang untuk Lui, dia berhak mendapatkannya lebih dari siapapun di keluarga kami. Aku tidak ingin dia menjalani kehidupan seperti ini, David"


Aku mendengar nada memohon yang samar.


"Maaf, tapi jika keinginan Bee adalah untuk pergi meninggalkan aku, maka aku akan pasrah menerimanya. Tapi aku tidak kan pernah melepaskan Bee sebelum itu terjadi, karena hal itu akan sama saja kau menyuruhku untuk mati!"


El mengangguk setuju. Dia puas aku tak meng-iyak-an begitu saja permintaan Oscar.


"Tapi aku mengerti dengan segala kekhawatiranmu. Aku berjanji, jika memang Bee memilih aku, aku akan menjadikannya wanita paling berbahagia di dunia ini. Ingatlah itu!" tambahku dengan yakin.


Dia akan melihat tekad bulat tanpa cela. Dan dia akan tahu dengan pasti karena kemampuannya yang aneh itu.


Oscar memandangku dengan seksama, dan kemudian mengangguk. Lalu dia mengangkat kedua kakinya ke sofa, dan mulai memejamkan mata.


"Aku akan mengantarmu ke salah satu kamar, kau tidak perlu tidur disini" Aku terkejut melihat sikapnya yang tiba-tiba santai.


"Just give me some blanket, aku sangat lelah dan penat sekarang. Aku tidak ingin melangkahkan kakiku kemanapun lagi" jawabnya, masih dengan mata terpejam.


Yah.. jika itu yang kau inginkan.


Aku menunjukkan padanya saklar lampu jika dia ingin mematikannya, kemudian pergi untuk mengambil selimut dengan diikuti oleh El.


"Aku akan berjaga di depan" kata El pelan setelah kami sampai di luar pintu. Aku mengangguk, hal ini harus dilakukan mengingat pertemuanku dengan Victor tadi.


Aku tidak ingin dia melakukan sesuatu pada Oscar.


"Panggil Dey atau Id jika kau lelah" ujarku pelan. El mengangguk paham dan berlalu pergi.


----------- *0o0*----------


Malam ini sedikit menyebalkan!


Aku tidur terlalu cepat, karena tadi Myra berkata, besok Oscar akan datang.


Aku hanya ingin segera bertemu Oscar, tapi sekarang aku malah terbangun dini hari. Aku melirik jam dinding yang menyala dalam remang-remang sinar lampu tidur, saat ini pukul 2:30 pagi.


Bukan saat yang tepat untuk terjaga Lui, gerutuku dalam hati.


Ceklek..!!


Suara handle pintu diputar membuat jantungku seolah terbang karena terkejut. Dengan reflek aku menarik selimut sampai menutupi wajah. Sosok manusia berjalan pelan memasuki kamarku.


Itu Duke....!!!


Aku memang tidak bisa melihat jelas dari balik selimut tipis, tapi aku akan mengenali sosok tubuh yang menjulang tinggi itu dimanapun.


Dari balik selimut, aku melihatnya melangkah ke arah pintu kamar mandi, yang berjarak beberapa meter di bagian kiri ranjang dan kemudian menghilang masuk.


Aku membuka selimutku, lalu berbalik memunggungi pintu kamar mandi. Aku menahan nafas dengan jantung berdebar.


Aku tidak siap jika harus menghadapi Duke sekarang. Aku memang tidak setakut seperti saat aku pertama kali melihatnya beberapa hari yang lalu, tapi aku belum bisa berhenti merinding, setiap kali mengingat kejadian tatkala dia berubah menjadi serigala.


Langkah kaki Duke kembali terdengar. Dia sudah keluar dari kamar mandi!!


Aku memejamkan mata erat, sudah sangat terlambat untuk menarik selimut sekarang.


Terdengar suara sesuatu di geser, mungkin pintu lemari dinding. Aku tidak mendengar suara apapun selama beberapa saat, tapi aku yakin dia masih ada di kamar.


Kemudian apa yang aku takutkan terjadi, suara pelan langkah kaki Duke mendekati ranjang.


Aku memejamkan mata dengan lebih erat dan mencoba menenangkan jantung yang sekarang berdebar bertalu-talu. Usapan lembut pada pipi, hampir membuat aku terlonjak. Tapi aku berhasil menahan diri dan sama sekali tidak bergerak.


Jejak tangan Duke, meninggalkan rasa hangat di pipiku. Aku harus mengakui, jika sentuhan itu membuatku nyaman. Rasa hangat terus menjalar sampai ke ujung kakiku, dalam waktu sepersekian detik.


"Maafkan aku Bee! Aku yang membuatmu bermimpi buruk" Duke berbisik pelan dan lembut.


Suaranya yang berat dan serak, terdengar sedih. Hal itu yaris membuatku membuka mata dan memeluknya dengan hangat, agar dia terhibur. Tapi tentu saja itu bukan hal yang tepat untuk dilakukan.


Tangannya masih mengusap pipiku saat mengucapkannya. Jantungku yang sama sekali tidak bisa aku tenangkan, memilin dadaku dalam taraf yang tidak pernah aku bayangkan.


Dengan hembusan nafas berat, Duke mengelus bahuku dan akhirnya melangkah pergi. Jantungku berpacu dalam level yang mengkhawatirkan sekarang.


Suara pintu yang ditutup dengan hati-hati, tidak segera membuatku menghembuskan nafas lega. Bagaimana jika dia masih berada di dalam?


Setelah beberapa saat, aku sama sekali tidak mendengar suara apapun. Kecuali bara api yang berkeletak di perapian, aku berbalik. Kamar itu telah kosong.


Jantungku melambat setelah menyadari hal itu. Tubuhku juga kembali melemas, tapi rasa hangat itu masih bertahan.


Aku memegang pipi tempat Duke menyentuhku tadi. Dan tanpa bisa aku tahan, tiba-tiba saja aku tersenyum sangat lebar dan merasa gembira.


Aku pasti sudah tidak waras. Apalagi sekarang rasa nyaman yang aneh mulai merambati jantungku.


Apakah dia meminta maaf karena telah membuatku ketakutan? jika iya, itu manis sekali!!


Otakku mulai kehilangan kontrol.


Apa yang kau lakukan Lui? Ini bukan sikap seseorang yang baru saja disentuh oleh monster!! Hardik suara hatiku memperingatkan.


Ya---itu benar. Aku tidak seharusnya gembira ketika Duke menyentuhku, atau meminta maaf dengan manis.


Tapi dia memanggilku Bee tadi, apa maksudnya?


Dan pasti aku memang gila, karena aku sama sekali tidak keberatan dengan panggilan itu. seakan itu adalah namaku sejak lama.


Jika tadi aku berharap bisa tidur lagi, kini hal itu mustahil terjadi. Aku akan terjaga sampai pagi sekarang. Tidak mungkin aku akan tertidur setelah kejadian mendebarkan itu.