Finding You, Again

Finding You, Again
Again 17 - Blue Flower



Dibawah tenda yang gelap gulita itu, terdapat deretan ranjang darurat yang kini berisi jejeran tubuh yang berada dalam kondisi beragam.


Beberapa diantaranya masih bisa mengerang kesakitan, tapi ada juga yang hanya berbaring diam.


Di sisi paling dekat dengan pintu, Duke sedang duduk menggenggam tangan Lui.


Lututnya bergerak gelisah dan matanya sedang menerawang.


Luka Lui lumayan dalam, tapi dr. Sidra dan sudah merawatnya tadi, lengkap dengan suntikan obatnya yang biasa. Menurut dokter, dia akan bangun setiap saat.


Lukanya sendiri sudah terbalut rapi, dan dia siap bertarung kembali. Lukanya sembuh dengan cukup cepat, terutama saat dia tadi berada dalam lingkaran sihir Lui. Lingkaran sihir itu memberinya kemampuan sembuh yang lebih cepat lagi, seperti Elf.


Mata Duke menatap kosong ke depan karena otaknya sibuk memikirkan strategi berikutnya. Dan dia semakin membenci absennya El pada saat seperti ini. Berdiskusi dengan El, biasanya membuat masalah terlihat lebih mudah.


"Hmmmmm----" Lui mengerang sambil mencoba mengangkat tangannya.


"Bee? Kau bisa mendengarku?" Duke mengguncang bahu sehat Lui dengan pelan.


"Pace?" bisik Lui.


"Ya--- ini aku"


"Apakah aku sudah sadar? Kenapa semua gelap?" tanya Lui dengan bingung.


"Kau sedang berada di tenda khusus untuk vampire, karena itu semua gelap"


"Oh..." Lui bergumam mengerti.


Lui ditempatkan di dalam tenda itu, karena tenda korban yang biasa sudah sangat penuh.


Tidak hanya Lui, beberapa werewolf dan juga hunter yang terluka sangat parah dan membutuhkan ketenangan ditempatkan pada tenda yang sama.


Tidak banyak korban vampire yang di rawat di sana, karena sebagian kecil pasukan mereka yang tersisa, tidak mengalami luka serius yang membutuhkan perawatan intensif. Sedangkan sebagian besar dari mereka mati di medan perang,


Setelah sedikit terbiasa dengan kegelapan itu, Lui meraba-raba dan akhirnya menemukan wajah Duke.


Wajah yang terasa setengah basah dalam sentuhannya. Hati Lui mengerut menyakitkan ketika sadar apa yang menyebabkan air mata Duke menetes.


Tapi Lui menggigit bibirnya, menahan emosi. Dia tidak ingin menambah kesedihan Duke. Lui bergeser dan merasakan sengatan dari bahu kanannya. Tapi dia memaksakan diri untuk duduk.


"Jangan banyak bergerak Bee. Lukamu cukup lebar" Duke berdiri dan membantunya.


Setelah merasa posisi duduk Lui nyaman, Duke duduk kembali dan meletakkan kepalanya di pangkuan Lui, mencari kenyamanan.


Dengan spontan Lui mengelus kepala Duke pelan.


"El?" Lui bertanya dengan sedikit tercekat, karena takut mendengar jawaban Duke.


"Hidup, tapi kritis. Dia berada dua ranjang sebelah kirimu" kata Duke menunjuk ke arah kiri, lupa jika Lui tidak akan bisa melihatnya.


Tapi Lui tetap mengangguk lega, setidaknya masih ada sedikit harapan El akan hidup.


Lui tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Duke, jika El dan Myra meninggalkannya bersamaan.


"Setelah melawan Linus, rupanya El menghadang Crispin. Organ dalamnya banyak yang hancur karena pukulan. Dr. Sidra tidak tahu apakah nantinya dia akan bertahan" jelas, Duke tanpa diminta.


Meskipun masih tidak tahu siapa sebenarnya Linus, dan mengapa begitu penting bagi El untuk bertarung dengannya, Lui memutuskan untuk bertanya hal lain.


Dia tidak ingin membahas kemungkinan El tidak akan selamat.


"Roan?"


"Bersama jasad ayahnya dan bahunya patah. Tapi dr. Sidra sudah merawatnya, dia akan sembuh"


Lui mengetatkan rahang, mendengar hal itu. Dia sudah cukup hancur saat melihat keadaan Roan sebelum dia pingsan tadi, apalagi sekarang.


"Selain yang sudah aku dengar, siapa saja yang meninggal?" Lui mengeratkan genggaman tangannya pada Duke.


Lui memutuskan untuk mendengarkan semuanya sekaligus. Dan menerima kesedihannya saat itu juga.


"Pasukan Aliansi kehilangan separuh lebih anggotanya. Dan Blackmoon, kehilangan 69 warriornya"


Mata Lui berkaca-kaca dan tangannya bergerak menutup mulut, untuk mencegah isakkan.


Dia sudah melihat bagaimana keadaan di medan perang tadi. Tapi mendengar jumlah kehilangan dari pihak mereka tetap membuatnya terguncang.


"Mom, uncle Rex, Id, Tita, Dey, Lyla, Ivalio, Quinton, ................."


Air mata Lui mulai menetes mendengar Tita dan Id, dan semakin deras saat mendengar nama Dey juga Lyla.


Dia hanya mengenal Dey sekilas, tapi dia tahu Duke sangat mempercayainya.


Lui juga membayangkan senyum ompong Mada, saat dia menaburkan bunga di pernikahannya kemarin dulu.


Bagaimana cara mengatakan padanya jika ibunya telah meninggal?


Duke menyebut seluruh nama warrior Blackmoon yang meninggal, tentu saja sebagian besar tidak dikenal oleh Lui.


Tapi Lui mendengarkan semua nama itu dengan khidmat. Duke menyebut mereka semua bukan agar Lui tahu, dia sedang memberikan penghormatan terakhir dan ucapan selamat jalan.


"Dari pack lain, Jacy, Urtzi, Shashi, Magena......" setelah nama Magena di sebut, Lui tidak bisa mendengar sisanya. Hunjaman pedih mengalihkan perhatiannya lagi.


"Untuk Hunter, kita kehilangan Abel, Lael dan banyak lagi...."


Dan itu adalah titik puncak kesedihan Lui, dia merengkuh kepala Duke dan mereka menangis bersama dalam kegelapan, sambil berusaha menahan suara isakkan agar tidak terdengar pasien lain.


Adalah biasa bagi Lui untuk menangis, tapi Roan dan juga Duke adalah pribadi yang tangguh. Melihat mereka berbalut kesedihan seperti ini membuat Lui merasa dua kali lipat lebih sedih.


Dia merasa tidak ada lagi harapan untuk mereka setelah ini.


"Du--ke!" Panggilan dari ranjang di seberang mereka membuat Duke terperanjat dan bangun. Dia tidak tahu siapa yang ada disana. Sedari tadi perhatiannya hanya tercurah pada Lui dan terkadang El.


Setelah melihatnya lebih seksama, pria yang berbalut perban pada sebagian besar badannya itu adalah Oulam. Dia duduk di samping salah satu ranjang dan sedang menggenggam tangan pasien yang terbaring di sana.


"Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu kalian. Tapi aku ingin memohon sesuatu kepadamu" kata Oulam, dengan nafas memburu.


"Tentu saja!" jawab Duke cepat, sambil menghapus sisa air mata dan merapikan diri. Dia tidak ingin terlihat kacau di hadapan orang selain Lui.


"Bisakah kau memastikan jasad para vampire terhindar dari matahari? Aku tidak ingin jasad mereka rusak terbakar saat kami membawanya kembali nanti"


Duke mengangguk, "Jangan khawatir, hal itu sudah di urus"


Omega dan juga warrior yang masih cukup sehat yang melakukannya. Mereka tidak hanya mengumpulkan korban tewas dari werewolf tapi juga dari pihak vampire dan Hunter.


Untuk korban tewas vampire mereka khusus meletakkannya pada bangunan yang tertutup, terpisah dari yang lain.


"Bisakah kau memastikan----Hazel juga telah berada disana? Aku meletakkan jasadnya di sebelah bukit tempat para penyihir berada"


Oulam tidak terisak ataupun menangis. Tapi suaranya bergetar pedih.


"Tentu saja, aku akan memeriksanya sendiri nanti" kata Duke.


"And we are really sorry to hear your lost" tambahnya, dengan nada lebih rendah.


Oulam hanya mengangguk lemah menanggapinya.


Sementara Lui kembali terisak, membayangkan pertemuan singkat dengan Hazel kemarin. Perjumpaan mereka ternyata hanya berumur beberapa jam.


"Duke! Aku ingin berbicara sebentar"


Seseorang memanggilnya dari pintu tenda yang tertutup rapat. Tenda itu memiliki dua lapis pintu untuk memastikan tak ada sinar matahari yang lolos.


"Pergilah!" bisik Lui.


Dan ternyata pembicaraan itu tak lama, hanya sekitar tiga menit Duke kembali pada Lui. Dia menggenggam tangan Lui, lalu mengelusnya pelan.


"Dihyan akan memakamkan Sorrel sebentar lagi. Dia ingin tahu apakah kau bisa menghadirinya" bisik Duke.


"Di sini?" Lui bingung, tapi ini di Alaska. Apakah Dihyan tidak ingin membawanya kembali ke Apolline?


"Pemakaman mereka kemungkinan sedikit berbeda. Dan dia malas menjelaskan padaku tadi" kata Duke.


Dihyan hanya bertanya tanpa memberikan penjelasan sedikitpun.


"Tentu saja aku mau menghadirinya" jawab Lui.


"Aku akan membawamu keluar untuk bersiap" kata Duke, sambil mengangkat tubuhnya dari ranjang.


Dia berhenti sejenak memandang Oulam, "Aku akan memastikan jasad Hazel sudah diungsikan"


"Terima kasih" kata Oulam, sambil mengangguk pelan.


\~\~\~\~\~\~\~IlI\~\~\~\~\~\~


Setelah sedikit merapikan diri dan berganti baju dengan sesuatu yang lebih pantas, Lui bersama Duke berjalan menuju pantai.


Menurut Dihyan, Sorrel akan dimakamkan di dekat laut.


Duke menolak untuk membiarkan Lui berjalan sendiri, meskipun Lui memaksanya. Luka Lui masih rentan terbuka jika terkena goncangan. Duke tidak akan membiarkan luka itu berdarah lagi.


Setengah perjalanan, Lui sudah merasa bersyukur karena dia tidak berjalan sendiri.


Tempat yang dipilih Dihyan ternyata terletak di sebuah bukit. Bukan hal yang sulit untuk Duke untuk melompat naik sambil membawa Lui. Tapi akan sangat mustahil bagi Lui jika ia ingin berjalan sendiri ke atas.


Sesampainya di atas, mereka berdua mengerti kenapa Dihyan memilih tempat itu.


Dari atas bukit, pemandangan yang terpapar di hadapan mereka sangat indah.


Mereka bisa melihat lautan luas dengan bebas.


Dan Duke bersyukur mereka setuju untuk datang kesini. Pemandangan itu meringankan kepalanya yang berdenyut. Udara laut yang dingin dan segar menjernihkan otaknya hampir seketika.


Lui yang sudah turun dari gendongan Duke, juga terlihat menikmati apa yang dia lihat. Berkali-kali dia menarik nafas panjang, dan akhirnya mencoba untuk tersenyum.


"Tempat ini luar biasa indah" kata Lui.


"Setuju" Duke mengangguk. "Ayo"


Tangannya terulur menggandeng Lui mendekat pada rombongan yang berada di tepi bukit.


Dari kejauhan Lui bisa melihat wanita Elf bertelinga kelinci yang ia tahu bernama Pyre, Faust dan juga para imperfect, baik yang datang bersama Dihyan ataupun yang bersama para Hunter.


Ketika mereka sampai ke tepi bukit dan melihatnya, Sorrel terlihat seperti tertidur.


Wajahnya damai, dan tidak tampak ada luka apapun. Jasad itu melayang beberapa senti di atas tanah, seperti tongkat Lui yang dulu melayang di atas danau.


"Apakah dia terluka?" tanya Duke pelan, mencoba untuk tidak terdengar tidak sopan.


Dihyan menggeleng.


"Tidak secara fisik. Kakek melawan sihir pembangkit dengan revert. Dia mengembalikan sihir itu pada penyihir yang membuatnya. Untuk melakukannya, membutuhkan pengorbanan dari darah miliknya. Dia berhasil mengirim sihir itu kembali, tapi harus menukarnya dengan nyawa. Karena sihir yang menggunakan darah terlarang bagi Elf murni. "


"Tapi dia menggunakan darahku" ujar Duke.


Tanpa sadar menggosok tangan yang dulu sengaja digores saat Sorrel meminta darahnya.


"Dan kau melihat akibatnya bukan?" Dihyan menunjuk tongkat berwarna hitam legam yang menancap di sebelah tubuh kaku Sorrel.


Pantas saja Dihyan memprotes saat Sorrel akan melakukannya dulu. Sihir yang dilakukannya ternyata sangat berbahaya bagi Elf.


"Tapi bukankah kau membuat tongkat Lui dari darahku?"


Duke teringat kali kedua Sorrel meminta darahnya. Dan dia mengatakan Dihyan yang membuat tongkat itu.


"Tapi kenapa?" tanya Lui, sambil mengusap air mata yang turun.


Dia kembali merasa bersalah, dan sejujurnya Duke juga merasakannya. Dia masih ingat bagaimana Sorrel sangat kepayahan setelah melakukan sihir itu.


Dihyan terdiam sejenak.


"Jawaban yang paling baik yang bisa aku berikan adalah, karena itu adalah pilihan yang diambilnya. Seperti Ibumu" jawab Dihyan, kali ini memandang Duke.


"Kakekku adalah seseorang yang sangat jeli dan cermat. Dia mungkin terlihat santai dan selalu bersikap spontan, tapi sebenarnya, dia selalu memperhitungkan setiap langkah yang akan diambilnya dengan sangat hati-hati. Dia memikirkan seribu prediksi yang mungkin, sebelum akhirnya mengambil keputusan."


"Jadi dia tahu benar apa yang dilakukannya. Aku yakin dia sudah memikirkan semua yang terjadi pada kalian berdua bertahun-tahun lalu semenjak kalian bertemu pertama kali. Jadi tidak perlu merasa bersalah"


"Dan kau tidak perlu menangis Lui. Kakek sudah hidup cukup lama. Dia memilih sendiri bagaimana hidupnya akan berakhir. Dan dia ingin mengakhirinya disini. Tapi sebenarnya akan lebih baik jika dia memberitahuku sebelumnya"


Dihyan tersenyum masam, dan Duke mengerti kenapa. Sifat penuh perhitungan Sorrel tentu saja tidak buruk, tapi terkadang sulit untuk dimengerti. Mereka selalu berpikir jauh ke depan mendahului orang lain.


"Aku akan memulainya" kata Dihyan, setelah Lui tenang kembali.


Mengikuti yang lain, Duke dan Lui sedikit mundur. Dihyan mengeluarkan tongkat putihnya.


Dengan sekali ayunan, dia membentuk lingkaran sihir paling komplek yang pernah dilihat Lui. Dan Lui sekarang mengerti kenapa Sorrel menyebut sihir pengikat yang dipelajarinya dengan kata sederhana.


Jumlah simbol yang ada di lingkaran itu jauh lebih banyak, dan berlapis-lapis. Lui tidak bisa membayangkan berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk mempelajarinya.


Dengan perlahan tubuh Sorrel melayang sedikit lebih tinggi sebelum akhirnya tenggelam dalam cahaya menyilaukan. Lui memejamkan mata, tidak tahan dengan sinar itu. Dan kemudian Lui merasa kulitnya menghangat.


Ketika membuka mata, Lui merasa seperti bermimpi, karena bukit bersalju itu, telah berubah menjadi bukit berbunga.


Tumpukan salju yang tadi menutupi permukaan tanah, telah berganti dengan tunas rumput hijau muda


Di tempat tubuh Sorrel berada, kini tumbuh sebatang pohon semak setinggi dada dengan daun hijau segar bersemburat merah. Tongkatnya yang menghitam tidak terlihat lagi.


Seperti melihat video tahapan pertumbuhan tanaman yang dipercepat, Lui melihat bunga berwarna biru muncul dari pucuk-pucuknya.


Tidak butuh waktu lama, bunga biru itu mekar sempurna.


Belum sempat Lui melihatnya dengan lebih jelas, bunga itu mulai berguguran.


Tapi bunga itu tidak jatuh ke tanah. Bunga yang berjumlah sekitar sepuluh itu mengapung sejenak di udara, sebelum akhirnya melayang dengan tujuan yang berbeda.


Salah satunya terbang ke arah Lui, yang langsung gugup karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


Lui mencoba menangkap bunga biru itu, tapi ternyata dia tak bisa memegangnya langsung.


Bunga itu seperti terlindung di dalam bola udara yang tidak kasat mata. Dan Lui lega, karena sepertinya dia melakukan hal yang benar. Dihyan juga memegang salah satu bunga dalam bola dengan kedua tangannya.


Sisa bunga yang lain, menghampiri beberapa imperfect di dalam rombongan. Namun Lui melihat ada dua bunga yang terbang tinggi di udara sebelum akhirnya hilang dari pandangan.


Dengan isyarat kepalanya, Dihyan menyuruh Lui mendekat, demikian juga para pemegang bunga yang lain. Mereka ber-delapan termasuk Dihyan.


Dengan gugup Lui melirik kepada imperfect yang lain, tapi mereka terlihat sangat tenang.


Saat pandangannya kembali pada Dihyan, Lui kembali tegang.


Karena sekarang dia mulai melakukan sihir yang lain, dan Lui tidak tahu apa itu. Demikian juga para imperfect lain di barisan itu. Mereka menutup mata dan mengangkat bunga itu sejajar dengan wajah, kemudian lingkaran sihir biru terbentuk di bawah kaki mereka.


Bunga itu, dengan perlahan terlihat seperti terurai oleh udara, menjadi serpihan yang sangat halus, sebelum akhirnya menghilang.


Ketika mereka semua membuka mata, Lui langsung menunduk malu, karena dia masih memegang bunga dalam keadaan utuh.


"Aku akan membantu" kata Dihyan, sambil bergeser ke hadapannya.


Dan dengan mudah, Dihyan memunculkan lingkaran sihir di bawah kaki Lui, membuat mulutnya ternganga.


Lui kemudian melihat bunga yang di hadapannya mulai menghilang.


Tapi dia juga merasakan sesuatu yang lain. Tubuhnya sedikit tersentak, saat rasa dingin yang sangat akrab merasuki tubuhnya. Rasa dingin seperti saat Sorrel membawanya berpindah tempat.


"Apa itu tadi?" tanya Lui, setelah Dihyan membuka matanya lagi. Dia memandang kedua tangannya yang kini mulai menghangat.


"Ketika Elf meninggal, terutama yang memiliki kedudukan tinggi seperti kakek, mereka akan mewariskan sihir pada keturunannya. Karena kau seorang imperfect, mungkin tidak merasakan perubahan apa-apa saat ini, tapi nanti saat kau akan merasa berbeda begitu mencoba untuk mengeluarkan sihir"


Lui kembali memandang tangannya, yang kini sudah terasa biasa. Kemudian melihat Dihyan kembali untuk berterima kasih atas bantuannya.


"Oh..."


Lui baru menyadari jiaka di kepala Dihyan kini muncul tanduk dengan ukuran mini. Dengan reflek Lui meraba kepalanya sendiri.


Dihyan langsung tertawa geli melihat kepolosan Lui, bahkan imperfect yang ada di sebelahnya juga tersenyum.


"Kau tidak akan menumbuhkan tanduk Lui. Tanduk ini adalah sebagai tanda pemimpin dari sanctum seperti mahkota. Dan karena kakek meninggal, aku yang akan menggantikannya" jelas Dihyan.


Lui mengangguk mengerti dengan wajah memerah. Sudah lama dia tidak merasa semalu ini.


"Kau lihat tidak satupun dari mereka bertanduk bukan? Dan mereka semua sama sepertimu, adalah keturunan dari kakek" Dihyan menunjuk deretan di sebelah Lui, kemudian rombongan imperfect lain yang ada di belakang.


Lui tiba-tiba merasa canggung. Bukankah itu berarti dia masih bersaudara dengan mereka semua? Dia tidak tahu harus menanggapi apa mendengar penjelasan Dihyan. Apalagi saat dia sadar, mata para imperfect itu semua tertuju padanya.


"Tapi kenapa hanya beberapa orang yang mendapatkan bunga itu?" Duke mungkin terdengar sedikit lancang, tapi Lui bersyukur, karena pertanyaan itu mengalihkan perhatian imperfect lain darinya.


"Karena tidak semua keturunannya bisa memakai sihir seperti Lui. Tidak semua keturunan Elf menjadi sempurna, beberapa dari kami hanya makhluk aneh"


Kali ini Faust mendahului Dihyan menjawab pertanyaan Duke.


Faust masih berdiri tegak, tapi melihat posturnya yang sedikit menunduk, jelas dia juga terluka. Tapi sedang berpura-pura baik-baik saja.


Nadanya sangat getir. Duke mengingat perkataan Faust soal dia membenci inhumane. Aturan itu juga berlaku untuk Sorrel rupanya.


Apakah ketidakpuasan akan sosoknya sebagai imperfect yang membuatnya membenci inhumane? batin Duke.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Dihyan pada Duke, seolah sengaja tidak ingin membahas pernyataan Faust lebih jauh lagi.


"Tentu saja aku akan memburu Crispin. Dia lari ke arah laut bukan?"


Faust mengangguk, "Si Brengsek itu berhenti di Fairway Rock. Mereka tidak punya banyak pilihan karena matahari sudah hampir terbit kemarin. Kemungkinan besar mereka berlindung di dalam gua yang ada di pulau itu"


Pulau Fairway Rock berjarak sekitar 30 kilometer dari pantai. Pulau itu tidak berpenghuni karena hanya terdiri dari batuan, dan ukurannya tidak terlalu besar.


Duke cukup bersyukur Crispin memilih tempat itu untuk bersembunyi, bukannya Diomede.


Diomede juga pulau kecil, tapi ada kehidupan manusia di sana. Akan menjadi petaka jika dia bisa mencapai pulau itu.


Keputusannya untuk berlindung di Fairway, juga berarti satu. Dia masih memiliki cukup banyak pasukan vampire yang harus dijaga agar tetap hidup. Mungkin bukan masalah bagi Crispin untuk menyeberang saat siang, tapi pasukannya tidak.


"Kita harus menghabisi semuanya, sebelum mereka bisa meninggalkan Fairway Rock"


Duke memutuskan itu rencana yang paling bagus. Akan sangat sulit melacaknya, jika Crispin berhasil mencapai daratan Rusia.


"Bagaimana kita bisa kesana? Berenang 30 km dalam air sedingin es sedikit mustahil bagi imperfect" Faust menyorongkan masalah serius.


Werewolf, dan vampire yang tersisa bisa mengarungi air es dengan jarak 30 km, tapi bagi imperfect dan hunter itu tugas yang mustahil.


Sebagian besar Hunter jelas manusia, dan untuk imperfect, walaupun kemampuan bertarung mereka sangat luar biasa, tapi daya tahan tubuhnya hampir mirip manusia.


Ada beberapa yang kebal dengan udara dingin seperti Lui, tapi sebagian besar seperti Faust yang masih perlu memakai mantel tebal untuk melawan dingin.


Dan masalahnya, pasukan aliansi selain werewolf yang masih dalam keadaan sehat, paling banyak berasal dari imperfect yang datang bersama Dihyan.


Duke memandang Dihyan. "Tidakkah kau bisa membawa kami kesana?"


"Tidak bisa. Aku sendirian bisa pergi ke Blackmoon saat ini juga---- tapi dengan membawa orang lain, aku hanya bisa menutup jarak sekitar 10 km. Aku membawa mereka kesini dengan bantuan kakek kemarin. Dan sejujurnya, aku masih memikirkan cara bagaimana membawa mereka ke Apolline tanpa dirinya, karena Pyre juga belum mampu melakukannya. Dia masih sangat muda"


Dihyan bersungut-sungut kesal sekarang.


Pyre yang mendengar namanya disebut menoleh sejenak, tapi kemudian menunduk, kembali menekuni tanaman semak Sorrel yang kini tidak lagi berbunga.


Pantas saja Dihyan masam, saat membahas bagaimana Sorrel tidak banyak menjelaskan apa yang akan diperbuatnya.


"Aku membutuhkan latihan sekitar 500 tahun lagi untuk mencapai level itu" tambah Dihyan, sambil menunjuk tanduk yang ukurannya sangat mini, jika dibanding dengan milik Sorrel.


"Apakah hanya ada tiga Elf di Apolloine?" Duke sedikit kesal, karena sebenarnya dia mengharapkan lebih banyak bantuan dari para Elf.


Tentu saja ia cukup gembira dengan hadirnya para imperfect, mereka sangat hebat dalam bertarung, Tapi lebih banyak Elf akan mempermudah banyak hal.


Dihyan kembali tersenyum,"Banyak, tapi hanya kami bertiga yang bersedia membantu. Bangsa Elf tahu tentang peperangan ini, tapi membantu manusia ada dalam urutan terakhir dalam daftar prioritas mereka. Kebanyakan Elf menganggap manusia sebagai makhluk rendah yang kejam"


Duke langsung terdiam, karena mengerti. Pengalaman dengan manusia pasti meninggalkan bekas luka yang cukup mengerikan pada bangsa Elf.Dia seharusnya merasa beruntung dengan adanya Sorrel, Dihyan maupun Pyre.


"Mereka tahu Cripin berbahaya, tapi bekerjasama dengan inhumane dan manusia tidak akan pernah terbayang bagi mereka. Elf adalah makhluk kuno dengan ingatan yang panjang" tambahnya.


Duke mengacak rambutnya kesal, dia tidak bisa menyalahkan siapapun untuk hal ini.


Manusia mungkin bodoh karena mengkhianati kepercayaan Elf, tapi tanpa pengkhianatan itu, kaum werewolf -- termasuk dirinya-- tidak akan pernah ada.


"Bagaimana dengan berlari? Apakah jarak 30 km bisa ditempuh oleh imperfect dengan berlari?" Lui menyela diskusi itu dengan ragu-ragu.


"Di atas es, mungkin aku bisa membekukan air laut, sehingga kalian bisa berlari diatasnya" tambah Lui terburu-buru, sebelum ada yang menyahut.


"Itu sebenarnya ide yang bagus" Faust mengucapkannya dengan takjub, tidak menyangka Lui akan mengemukakan ide itu.


"Tapi kecepatan kalian tetap tidak akan sama dengan inhumane lain" Duke menyanggah ucapan Faust.


"Well, kami dengan senang hati akan menerima tumpangan dari para werewolf, seperti Lui"


Faust tersenyum puas, melihat Duke yang berjengit tidak suka mendengar usulannya itu.


Tidak semua werewolf akan rela memberi tumpangan. Lui adalah kasus yang khusus karena dia adalah istrinya, dan jelas kejadian Faust dan El juga sama.


Tapi Duke tidak yakin ia bisa membujuk warrior lain untuk melakukannya juga. Namun ide Lui terlalu bagus untuk tidak di coba.


"Membekukan air laut akan sedikit sulit Lui, karena ombak dan salinitasnya" Dihyan memandang ke arah laut dan berpikir.


"Dan aku tidak bisa membantumu nanti. Sihir pembeku milik kakek tidak menurun padaku ataupun imperfect yang lain" Dihyan memandang Lui yang sekarang mengeratkan rahang.


"Aku akan berusaha, dan pasti bisa!" Lui mengepalkan tangan dengan tekad bulat.


Dihyan tersenyum melihat tekad Lui, "Bagus! syarat dari sihir yang paling utama adalah percaya pada diri sendiri kau akan bisa. Aku harap tekat itu tidak akan surut sampai nanti"


"Tidak akan!!" Lui menggeleng.


"Demi pengorbanan Myra dan yang lainnya. Kita harus berhasil". Mata Lui membulat senada dengan tekatnya.


Duke tahu ini bukan saat yang pantas, tapi entah kenapa dia memiliki keinginan untuk mencium Lui saat ini juga.


Bukan sifat Lui untuk menjadi berapi-api dan berani seperti itu. Melihatnya seperti itu, membuat Duke terpesona sekaligus terharu.


Duke melihat ke arah Dihyan, yang tiba-tiba memandangnya dengan aneh. Dan sesuatu mengusiknya.


"Apakah tanduk itu membuatmu bisa mendengar pikiran orang lain?" tanyanya galak.


Dihyan terkekeh "Belum sejelas Kakek. Tapi emosimu sangat kuat Duke, aku bahkan tidak perlu berusaha mendengarkan"


"Itu sudah cukup untuk membuatmu menjadi menyebalkan" Faust menyahut dengan kesal, sambil mundur teratur menjauhi Dihyan.


"Lui--sebaiknya kita turun. Tidak ada lagi yang perlu kita lakukan disini" Suasana hati Duke juga langsung berubah menjadi buruk.


"Faust, kita harus sampai ke Fairway Rock sebelum senja. Aku memberi waktu dua jam, setelah itu kita berangkat" Tanpa menunggu jawaban Faust, Duke berbalik dan melangkah pergi.


Lui yang masih bingung dengan cepatnya suasana berubah, mengikuti Duke setelah menunduk berpamitan sesopan mungkin.