
Ada sesuatu yang mengejarku.!!! Besar dan Berat...
Kegelapan total semakin mengurungku dalam rasa mencekam. Aku bisa mendengar derapan kaki dari makhluk yang berada di belakangku. Entah sudah berapa lama aku berlari, karena sekarang nafasku mulai tersengal dan kakiku berteriak ingin menyerah karena lelah.
Tapi tidak!! aku harus berlari, akan sangat mengerikan jika makhluk itu berhasil mengejarku.
Aku menghapus keringat dan air mata yang sekarang bercampur menjadi satu di wajahku. Aku harus terus berlari, langkah kaki itu semakin mendekat. "Siapa saja tolong aku!!" Aku berteriak, berharap akan ada yang mendengarnya.
Sesosok manusia terlihat berdiri diam di depanku. Perasaan yang lega luar menerpaku. Aku akan meminta pertolongannya.
Tanpa peduli apapun lagi, aku menghambur dan mengguncang lengannya. "Aku mohon tolong aku, ada sesuatu
yang mengejarku"
Sosok itu sama sekali tidak bersuara, tetapi dia merengkuh tubuhku dalam pelukannya. Tubuhnya berbau sangat harum dan hangat.
Hangat itu mengalirkan rasa aman yang membuat nafasku tenang kembali. Pelukannya sangat nyaman, seolah aku berbaring dengan memakai selimut wol di depan perapian. Membuatku merasakan rindu dan nostalgia.
Tapi suara derak mengerikan, tiba-tiba saja terdengar dari tubuhnya.
Aku melepaskan diri dari pelukan itu.
Sosok yang tadi memelukku itu, tiba-tiba berubah. Tubuhnya membesar beberapa kali lipat. Bulu hitam legam tumbuh memenuhi badannya. Wajahnya dengan perlahan memanjang, taring yang tajam tumbuh di mulutnya.
Di tangan dan kakinya tidak lagi terdapat jari-jari. Cakar yang tajam telah menggantikannya. Serigala raksasa dengan bulu hitam legam berdiri di depanku dengan keempat kakinya. Mulutnya tertarik ke belakang, memperlihatkan taring tajam berwarna putih.
Suara teriakan tersangkut di tenggorokanku. Air mataku turun semakin deras, karena ketakutan menelanku dengan utuh.
"Siapa saja tolong aku!!!" rintihku dengan ngeri.
-----------*0o0*----------
"Kenapa dia terus menyentak?" tanyaku pada Alva.
"Dia sedang bermimpi, jangan terlalu khawatir" sergah Alva dengan jengkel.
Aku memanggilnya ke Lykos untuk memeriksa Bee, karena tubuhnya terluka di beberapa bagian. Tapi kata Alva tidak ada luka cakaran dari werewolf, hanya memar dan goresan biasa.
Berbeda denganku,yang sebagian besar punggung dan tanganku sekarang masih terbalut perban. Kecepatan penyembuhan tubuhku sudah kembali, tapi luka dari makhluk inhumane butuh waktu sedikit lama untuk sembuh dari pada luka biasa. Dan biasanya meninggalkan bekas.
"Kapan dia akan sadar?" tanyaku, tidak sabar.
Sudah 3 jam berlalu sejak Bee pingsan, tetapi belum ada tanda-tanda dia akan segera sadar.
"Kau tahu aku tidak bisa memastikannya? Jangan membuatku jengkel atau aku akan mengusirmu dari sini!!" hardik Alva.
Aku memberengut kesal, tapi aku akan menurutinya. Alva bisa jadi sangat tidak ramah, jika dia ingin.
Aku membawa Bee ke Lykos, karena tempat ini akan lebih aman untuknya. Mansion Delmora tidak akan bisa menahan serangan inhumane. Aku berperang mulut dengan Oscar beberapa menit yang lalu karena hal ini. Dia sangat murka mendengar aku akan membawa Bee ke Lykos.
Dan aku sangat bersyukur dia ada di Roma saat ini. Aku merasa dia akan datang dengan bala tentara lengkap, jika sedang berada di London. Oscar juga menyumpahiku untuksegera mati, ketika aku menceritakan kronologis kejadian itu.
Dia sangat marah karena aku telah membuat Bee menjadi terlibat dengan dunia inhumane. Aku samasekali tidak membantah, karena Oscar benar. Aku yang membawa Bee memasuki dunia inhume.
Setelah penjelasan panjang, dan jujur. Banyak makian, hinaan -- dari Oscar -- serta permohonan--dariku-- akhirnya Oscar menyerah. Dia setuju Mansion Delmora tidak layak untuk menghadang serangan inhumane.
Aku juga menyampaikan apa yang terjadi dengan Mark.
Untuk sejenak setelahnya, Oscar terdiam. Bee dan Oscar sudah mengenal Mark hampir selama 15 tahun. Aku akan heran jika dia bersikap biasa saja.
Suaranya terdengar serak penuh dengan emosi, ketika dia berjanji akan mengirim seseorang ke Lykos untuk mengambil jenazah Mark dan juga mobil yang dipakai Bee.
Ketukan di pintu membuat Alva terlonjak, dia penyihir yang terlalu mudah di takuti. "Masuk!" ujarku.
Id muncul kemudian menunduk memberi hormat kepadaku. "Mr. Franklyn sudah datang Scion".
Aku mengangguk mengerti, "Dan dia juga mengundang anda untuk turun Ms. Leona" ucapnya dengan ragu, pada Alva.
"Why?? Aku tidak mau berurusan dengan apapun yang kalian lakukan" tolaknya tegas.
"Datanglah, kau tahu dia berbeda dengan hunter yang lain!" desakku.
Dengan memutar bola mata Alva beranjak keluar dari kamar. "Tolong minta Tita untuk menjaganya" pintaku pada Id.
"Segera Scion!"
Aku menyentuh kening Bee yang sekarang bersuhu normal, kemudian menciumnya lembut.
"Wake up sleepy head, I have a lot to say" bisikku.
Tapi matanya masih terpejam rapat, membuat kenangan buruk menyapa benakku. Putus asa, ketakutan, khawatir menderaku dengan keras bagaikan cambukan di punggungku. Menyakitkan......!
Aku menarik nafas panjang untuk mengusir semua itu dari hatiku. Aku harus tenang sekarang. Bee akan bangun sebentar lagi. Dan aku akan menunggu!
Setelah menenangkan diri, aku keluar dari kamar. Tita sudah berada di depan pintu. Aku memberinya isyarat dengan mataku menyuruhnya masuk, dia mengangguk patuh,
Aku menuruni tangga menuju ruang kerja, aroma gurih susu tercium dari sana.
Di ujung tangga, Dey dan Farjad berdiri tegak dalam diam. Mereka seperti murid yang sedang mendapat hukuman di luar kelas.
Melihatku datang, serentak mereka melangkah menghampiriku.
Tapi aku mencegahnya dengan tanganku. "Nanti!" ujarku, pendek. Aku tidak ingin mendengar permohonan maaf saat ini. Ada hal lain yang lebih mendesak.
Di ruang kerja aku mendapati El, Roan dan Abel duduk di sofa sambil berbincang. Alva berdiri dengan canggung di dekat meja. Sangat tidak nyaman melihatnya.
"Duduklah
Alva" Aku menunjuk ruang kosong d sofa sebelah tempatku duduk. Masih tanpa suara, Alva duduk di sana.
"Kau akan menceritakan semua pada kami sekarang?" tanya Uncle Rex.
Wajahnya terpajang di layar laptop yang terbuka di atas meja kerja. Dia memandangku dengan penasaran, bersiap untuk mendengarkan.
Dia sudah kembali ke Quebec, tidak seperti Abel yang masih berada di London untuk memantau gerakan
Crispin.
Tapi tentu saja. dia tidak ingin ketinggalan berita. Penggunaan teknologi modern seperti ini membuatku gembira. Karena itu berarti aku tidak perlu mengulang cerita berkali-kali.
"Bolehkah aku pergi? Aku tidak ingin mendengar cerita apapun!" Alva menyahut datar, menyembunyikan rasa kesal. Abel tersenyum lembut ke arahnya.
"Maafkan saya, Miss. Leona. Tapi saya rasa dalam waktu dekat ini, kami akan membutuhkan keahlian anda pada bidang selain kedokteran. Jadi saya harap anda tidak menarik diri. Saya ingin anda bersiap" ujar Abel ramah dan sopan.
Dari perkataannya, aku menduga Abel sudah sangat mengenal Alva. Bukan kejutan untukku, dunia inhumane bukan tempat yang luas.
Sejenak Alva terlihat ingin membantah, tapi aku mencegah dengan memegang tangannya. Dia bisa membicarakan penolakan atau apapun itu denganku, tapi tidak sekarang.
Alva menurut, dia mengatupkan mulutnya erat-erat, kembali diam.
Aku menceritakan semua kejadian di tanah kosong itu. Tapi meninggalkan detail tentang Linus. Aku akan memberitahu El secara pribadi.
Abel mendengarkan dalam diam, beberapa kali dia mengangguk pelan, seolah pertanyaannya terjawab. Uncle Rex mengumpat kencang pada saat aku menyebut Egon, Roan juga berdesis.
Saat mencapai bagian aku menghancurkan perut Egon, Abel tersenyum puas. Tapi Roan memberiku tatapan
menghina, sudah pasti dia mencela karena tembakanku meleset.
"Dan aku akan memberikan fakta terakhir, mereka memiliki penyihir di pihak mereka. Egon sendiri yang mengatakannya. Walaupun saat itu dia sedang mengeluh karena penyihir itu melakukan pekerjaan yang ceroboh" ujarku, menutup penjelasan panjang lebar itu.
Alva mengernyit tidak suka, saat mendengar fakta penyihir bekerja sama dengan Crispin.
"Dia akan selamat dan kembali sehat dalam waktu kurang dari seminggu" uncle Rex mengomentari keadaan Egon, dengan nada berat.
Aku mengangguk.
"Kau beruntung Egon tidak membawa makhluk lain saat itu. Kau bisa mati konyol" Abel memandangku tajam.
Aku mengedikkan bahu "Saat itu pilihannya adalah aku atau Bee, aku akan tetap memilih Bee"
Abel tersenyum penuh pengertian. Dia mungkin sudah terbiasa dengan perilaku gila ayah ketika bersama Mom.
"Tapi apa yang membuatmu bisa bertransformasi lagi? Apakah kau berhasil... kau tahu---" tanya Roan dengan penasaran.
"Ah...ya, Apakah itu berarti kau sudah kembali normal?" Abel langsung menyambar topik itu tanpa ragu.
Dengan enggan aku menggeleng,
"Aku tidak tahu, Bee--maksudku Lui, dia mengkhawatirkanku. Begitu aku mendengar dia mengatakannya, aku menjadi--mmm hangat. Aku rasa itu yang membuatku bisa kembali bertransformasi"
Aku berusaha menjelaskan dengan kalimat yang masuk akal, seraya membunuh rasa malu.
Tapi tidak berhasil, karena mereka semua memandangku dengan aneh.
"Aku tidak tahu, itu jawaban yang paling bagus yang bisa aku berikan, oke!" seruku, jengkel.
Bagaimana bisa aku menjawab sesuatu hal yang sangat langka seperti ini, sedangkan satu-satunya sumber untuk aku bisa bertanya sudah meninggal?
Abel akhirnya mengangkat kedua tangannya. Dia mengerti keenggananku membahas hal itu.
"Saat ini Crispin sudah menjadi sangat berbahaya, hunter di beberapa wilayah sudah sangat ingin membunuhnya, tetapi sebanyak apapun pasukan yang kami kirim, mereka tidak pernah kembali"
Abel langsung melemparkan topik lain, sehingga urusanku menjadi lebih tidak menarik.
"Aku sudah berhenti mengejarnya selama 6 bulan ini, karena 12 Hunter dari unit-ku telah menjadi korban. Saat ini Dewan Hunter sedang mendiskusikan cara untuk bisa menghancurkannya. Tapi tentu saja para dewan yang picik itu tidak pernah berpikir untuk bekerjasama dengan kaum inhumane" Jelas Abel dengan getir.
"Crispin didukung oleh banyak vampire, saat malam hari, pasukannya benar-benar seperti mimpi buruk. Setelah di dukung oleh Egon, dan bahkan penyihir, akan sangat mudah bagi mereka untuk bergerak pada saat siang hari"
"Seberapa besar pasukan mereka?" tanyaku. Abel menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Kami tidak tahu pasti, karena seperti yang aku katakan tadi, tidak ada anggota kami yang selamat saat mendekati mereka" katanya dengan gamblang.
"Dan beberapa waktu lalu mereka menghancurkan Elven Sanctum di Black Forest, semua elf yang ada di sana tewas. Aku tidak bisa mengukur seberapa banyak kekuatan elf yang telah di hisapnya" lanjut Abel, dengan nada penuh sesal.
"He did what?!!" Uncle Rex berseru terkejut dari dalam laptop.
Elf adalah makhluk yang sedikit berbeda dari makhluk inhumane lain. Aku sendiri belum pernah
bertemu karena mereka sangat menutup diri.
Tetapi dari buku yang aku baca, penampilan mereka sedikit berbeda dengan werewolf maupun vampire, karena itu mereka sama sekali tidak bisa berbaur dengan manusia seperti kami.
Dan elf seharusnya memiliki kekuatan yang lebih hebat dari semua makhluk inhumane.
Elf memiliki ilmu sihir yang lebih kuat dari penyihir, dan konon kabarnya mereka lebih lincah dari werewolf maupun vampire. Fakta itu saja sudah membuatku tidak ingin bertemu salah satu dari mereka.
Tapi vampire gila itu telah berhasil menghancurkan dua elven sanctum! Itu kabar yang sangat buruk.
Berarti Crispin cukup kuat untuk melawan elf, dan dia menjadi lebih kuat lagi setelah menghisap kekuatan dari elf ada di sana. Crispin benar-benar serius ingin mengobarkan perang dengan manusia.
"Gerakan Crispin yang telah sangat berani, menandakan waktu kita tidak banyak dan dia sangatkuat. Aku harus segera melaporkan hal ini pada Dewan Tertinggi. Aku berharap mereka akan membuka mata mereka lebih lebar lagi sekarang!" Abel terdengar sangat jengkel.
Aku bisa mengerti dan bersimpati dengan kesulitan Abel. Menjelaskan sesuatu yang baru pada sekelompok orang tua yang kolot, memang memerlukan tenaga ekstra. Seperti saat aku menghadapi Elder di Blackmoon.
"Saat ini yang pasti kau harus segera meninggalkan Lykos, Duke. Kau tidak tahu rencana apa lagi yang ada di otaknya. Kau tidak akan bisa bertahan dengan hanya penjagaan 6 werewolf, dan lagi kita belum tahu pasti apakah keadaanmu sudah lebih baik atau belum!" Abel memandangku dengan wajah tegang.
"Dan kemanapun kau pergi, bawalah Miss Delmora bersamamu. Mereka sudah terbukti akan mempergunakannya untuk menghancurkanmu. Bagaimanapun manusia sasaran yang lebih mudah daripada seorang Scion, kau mengerti? Aku sedikit menyesal karena Ms. xDelmora harus mengalami semua ini, tapi dia adalah mate-mu. Fakta itu saja akan membuatnya menjadi incaran Crispin " lanjutnya dengan bijak.
Tentu saja aku mengerti, alasan itu jugalah yang membuatku membawa Bee ke Lykos. Egon tahu pasti, jika aku akan mati saat sesuatu terjadi pada Bee. Dia pasti tidak akan berhenti memanfaatkan informasi itu untuk menyerangku.
Aku akan membawanya ke Blackmoon. Tempat paling aman di dunia saat ini adalah Blackmoon. Karena aku
akan ada di sana.
"Kau sudah memutuskan?" tanya Abel melihat tekad di mataku.
"Tentu saja, aku akan membawanya ke Blackmoon!" Aku mengangguk tegas.
Abel dan Uncle Rex mengangguk secara bersamaan.
"Keputusan bagus, walaupun aku butuh bekerja keras untuk mewujudkannya" ujar uncle Rex dengan mantab. Aku tahu dia harus kembali membujuk para Elder untuk menerima Bee di dalam pack.
"Tidak, itu keputusan yang gegabah. Karena itu berarti aku menculiknya. Aku yakin dia tidak akan setuju untuk pergi" ujarku dengan muram. Aku tidak akan lupa amarah Bee padaku.
"Dia tidak akan menolaknya sekarang" sahut Alva. "Jika kau membawanya sekarang, kemungkinan besar dia baru siuman ketika kalian sudah sampai di Quebec. Aku akan memberinya sedatif paling ringan untuk menundanya sadar" jelasnya lebih detail, melihat kerutan tidak mengerti di dahiku.
"Kau menyarankan agar aku membawanya sekarang dalam keadaan tidak sadar?" tanyaku heran. Alva biasanya tidak pernah memihak padaku, jika itu berkaitan dengan Bee.
"Dia tidak akan selamat di luar pack, Duke. Vampire mutan dan penyihir adalah kombinasi mematikan. Penyihir akan dengan mudah melacak keberadaan Lui. Tapi dengan perlindungan lapisan sihir di wilayah Blackmoon, mereka akan memerlukan waktu 1000 tahun untuk bisa menemukan Lui" jawabnya dengan suara datar, pertanda
sebenarnya dia tidak menyukai ide itu.
Tetapi Alva yang paling tahu betapa berbahayanya ancaman penyihir.
"Aku hanya tidak ingin kau membuang-buang waktu meyakinkannya. Membawa Lui kesana adalah satu-satunya cara agar dia terlindungi" tambahnya, sambil memandangku yang masih ternganga mendengar usulannya.
Abel langsung tersenyum puas melihat Alva, "Aku senang melihatmu aktif dalam diskusi ini Ms. Leona" sahutnya.
"Jangan berlebihan, aku melakukan semua ini untuk Lui. Aku tidak akan membiarkannya terbunuh setelah semua usaha yang aku lakukan untuk menyelamatkannya" Dia membentak dengan galak kepada Abel.
"Kau..!" Alva menudingkan jari telunjuknya ke wajahku masih dengan galak,
"Pastikan dia selamat dan tidak mengalami stress berlebihan di sana, aku akan mengirimkan beberapa vial obat besok. Untuk saat ini bawalah semua yang bisa kau temukan"
Aku tentu saja mengangguk patuh. Kau tidak ingin membantah perkataan penyihir yang sedang kesal. Bisa berakibat buruk.
Alva beranjak dari tempat duduknya dan keluar tanpa pamit.
"Aku akan mempersiapkan keperluan perjalananmu" Uncle Rex memutuskan video call-nya. Layar laptop itu kembali menampilkan pemandangan hutan.
Abel juga beranjak, kemudian memakai mantel yang sedari tadi tersampir di tempat duduknya.
"Aku harus berbicara dengan beberapa orang tua kolot, jadi aku rasa aku juga harus pergi" katanya, tersenyum kecil ke arah kami bertiga yang tersisa di ruangan itu.
"Kau juga tua!" sahutku. Abel tidak muda lagi untuk ukuran manusia, dia tidak seharusnya menyebut orang lain dengan kata tua.
Abel terkekeh mendengarnya "Kau benar-benar mirip dengan ayahmu" katanya, sambil memandangku sendu.
Dia meremas bahuku dengan kuat, tangannya yang lain melambai kepada Roan dan El. Dia kemudian keluar dari ruangan itu masih dengan tersenyum kecil.
Hunter yang sangat unik, batinku.
"Kita bersiap pergi?" tanya El, bangkit dari duduknya.
"Sebelum itu, ada yang ingin aku ceritakan" Aku memandang lekat wajah El. Dia terlihat bingung, tapi kembali menyandarkan tubuhnya pada sofa, bersiap mendengarkan.
"Aku bertemu dengan Linus"
Roan mendesis marah, sedangkan El membelalakkan matanya tidak percaya.
"Dia salah satu serigala yang menyerangku bersama Egon"
"Werewolf sampah yang bergabung dengan werewolf sampah!!" Caci Roan, dengan nada muak. El masih terdiam, tapi aku bisa melihat rahangnya mengeras menahan amarah.
"Kita akan segera bertemu lagi dengannya, tenanglah!" ujarku. El mengangguk dengan wajah angker.
"Dan akan aku pastikan tidak ada yang ketiga kalinya"
Tangan El mengepal kuat, mencerminkan tekadnya untuk membunuh Linus begitu mereka bertemu lagi.
"Kita harus segera bersiap untuk pergi" kataku Aku mengingatkan rencana yang sudah kami setujui tadi.
Roan segera bangkit "Aku akan memberitahu yang lain" katanya, setelah itu berlalu pergi.
"Kau baik-baik saja?" tanyaku, pada El yang masih diam.
Dia mengangguk, lalu juga beranjak dari sofa.
"Tolong beritahukan juga pada Id, agar semua werewolf yang masih terisa di London, sebaiknya kembali ke Blackmoon. Aku tidak ingin ada werewolf yang mati konyol hanya karena bertemu dengan musuh secara tidak sengaja" tambahku.
"Tentu saja, mereka adalah sasaran empuk ketika sendirian" jawab El, matanya sudah kembali fokus, sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu.
Sekarang aku harus memikirkan cara untuk meyakinkan Oscar, bagaimanapun juga membawa Bee ke Blackmoon tidak sama dengan membawanya ke Lykos.
Aku juga harus bisa meyakinkan Oscar, untuk tidak membunuhku saat mengabarkan rencana ini.