
"Hari ini kau memuaskan hasrat bertarungmu selama setahun?" tanyaku pada Roan, yang sedang melahap makan siangnya, sambil duduk di ranjang.
Dia mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Mereka lemah sekali, aku hampir jatuh kasihan saat beberapa dari mereka berlari sambil mengepit ekornya" Roan sudah sangat sehat, terbukti ejekannya sudah kembali terdengar normal.
Insting bertarung Roan, yang sudah terbiasa berlatih dengan ayahku memang di atas rata-rata. Tidak banyak werewolf yang bisa menyamai Roan
"Kau sudah bertemu dengan Amon?" tanya Roan, sambil menepis beberapa remah makanan yang jatuh di selimut.
Aku menggeleng. "On my way, aku hanya ingin melihat keadaanmu sebentar".
"Liar!... kau hanya ingin melihatnya!!" sahut Roan, sambil mengangkat dagunya ke arah ranjang Bee. "Dia pingsan di tempat persembunyian?"
"Tidak, hanya tertidur. Kata Dr. Sidra itu hal yang biasa jika seseorang merasa lega, karena lolos dari kejadian yang menakutkan"
Roan mengangguk sambil tersenyum jahil, "She growing some b*lls, I guess".
Aku ingin sekali menyikat mulutnya karena mengucapkan hal seperti itu soal Bee, tapi aku akan melepaskannya, sebagai imbalan atas pekerjaaan luar biasa, dalam menghadapi para pemberontak tadi.
Tanpa peringatan, Roan tiba-tiba memelukku dengan tangannya yang penuh perban. Jika saat ini aku tidak sangat terkejut, sudah pasti aku akan mendorongnya menjauh. Apa kepalanya terbentur?
"I miss you" ucap Roan dengan nada yang sangat manis, hingga membuatku bergidik dan mual.
"Apa yang..." Dia tidak membiarkan aku menyelesaikan kalimat, karena tangannya menutup mulutku dengan cepat.
"Tentu saja ingin kau menemaniku di sini, tapi aku tahu kau harus pergi menginterogasi Amon. Aku akan menunggu" tambahnya masih dengan nada manis.
Sekarang matanya memberi isyarat padaku untuk segera pergi dari ruangan. Aku tidak mengerti apa yang baru saja terjadi, tapi aku akan menurutinya.
Tingkah lakunya yang sering berubah seperti ini sangat menakutkan. Berada di dalam ruangan yang sama dengan Roan, disaat dia sedang berbuat hal gila seperti tadi, jelas bukan pilihan pintar.
----------- *0o0*----------
Aku ingin sekali menghapus semua hal yang baru saja aku dengar dan lihat, dari pikiranku.
Ranjang tempatku berbaring seakan berubah menjadi sekumpulan onak dan duri yang menusuk-nusuk jantungku.
Pemandangan yang aku lihat sesaat setelah membuka mata sangat tidak indah.
Tangan Roanna yang terbalut perban memeluk punggung telanjang Duke dengan erat. Suara bernada mesra dari Roanna seolah membuat telingaku meleleh karena panas.
Haruskah mereka melakukannya di sini?!!
----------- *0o0*----------
Aku menyambar kaos yang diulurkan oleh El dan memakainya sambil terus berjalan menuju ke dalam gua bawah tanah.
Bau tanah lembab yang bercampur dengan bangkai binatang pasti akan menyiksaku, jika saja aku belum belajar untuk mengendalikan kekuatan indera penciumanku. Bau ini saja bisa berarti siksaan bagi werewolf.
Deretan jeruji yang biasanya kosong, kini terisi oleh 17 werewolves yang berada dalam kondisi yang berbeda-beda. Beberapa diantaranya ada yang terbaring dengan luka yang lebar, sedangkan yang lain dalam keadaan duduk dengan luka yang lebih ringan.
Amon berada di pojok ruangan dengan posisi berdiri. Ck..darah Alpha tentu memberinya kemampuan untuk sembuh lebih cepat.
"Aku senang kau sehat Amon!" sapaku dengan ramah, untuk menyindirnya.
Dia menatapku dengan pandangan penuh dendam. "Just kill me!!" bentaknya.
"Oh--- itu hal yang mudah sekali, tapi aku belum mempermalukanmu di depan semua penghuni pack. Aku akan memastikan hal itu terjadi, sebelum membunuhmu!"
Aku tidak bisa lagi menahan emosiku mengingat apa yang dilakukannya pada Mom, Bee dan juga Roan.
"Kau yang seharusnya merasa malu, kau ingin mengangkat Zhena dari bangsa manusia, bangsa yang telah banyak membunuh kaum kita!!" Amon membentak dengan nada tinggi.
"Kau jangan berpura-pura peduli dengan nasib pack ini Amon!!! Kau hanya memberikan alasan itu untuk menggaet banyak werewolf, agar mereka mau melakukan serangan ini. Kau dan Egon telah bekerjasama untuk menggulingkan aku dan ayahku, jauh sebelum aku membawa calon Zhena kesini!" Aku menghardik, dengan amarah bergolak liar.
Berani sekali dia menggunakan Bee untuk membenarkan perbuatan hinanya ini.
"Katakan kalau hal itu tidak benar Amon!!! Kau tidak mungkin bekerjasama dengan Beta pengkhianat itu!!!" Seseorang bangkit dari duduknya dan berjalan dengan timpang menghampiri Amon dengan wajah bengis.
Aku mengenalnya, dia adalah Quinton, salah satu Theta* di pack. Dan memiliki pengaruh yang lumayan di jajaran warrior, dia memimpin tiga regu warrior.
Amon dengan terang-terangan menghindari pandangannya. Tanpa peringatan, Quinton menghampiri Amon dan mencekiknya. Amon yang tidak siap dengan serangan itu, gagal menghindar
"Berhenti!!" hardikku, dengan Alpha tone.
Segera saja genggaman tangan Quinton terlepas dan menunduk patuh.
Semua Werewolves yang berada di dalam penjara itu juga melakukan hal yang sama. Amon dengan tubuh bergetar berusaha mengangkat kepalanya, tapi berakhir menyedihkan. Kepalanya tetap tertunduk dan nafasnya terengah
"Sempurna!!! " seruku dengan puas. Dia mencoba melawan darah Alpha yang mengalir di tubuhku.
Menyenangkan melihatnya gagal..
"Sembuhkan luka kalian. Aku tidak ingin melawan hewan yang terluka saat Brawl nanti! "
Aku berkata dengan nada ringan. Tapi beberapa wajah yang terbaring langsung pucat mendengarnya. Quinton juga sedikit terperanjat.
"Scion... " Dia berusaha mengutarakan keberatan, sambil sesekali melirik ke arah Amon.
"Jangan khawatir, aku belum menjadi Alpha, kau tidak perlu setakut itu, mungkin kalian masih punya kesempatan untuk menang" Aku tersenyum sinis, memandang deretan tubuh yang gemetar di dalam penjara..
Tidak satupun dari mereka menjawab, bahkan Amon kini mematung diam.
"Apakah kau atau Uncle Rex berhasil memperoleh informasi?" Aku bertanya pada El, yang berdiri di belakangku.
"Nihil, mereka tidak berkata apapun, kecuali fakta jika aku tidak pantas menanyai mereka" Lapornya dengan senyum hambar.
Aku tertawa kering mendengarnya. Beberapa orang yang terbaring di lantai adalah anggota keluarga dengan status Theta dan Iota*, tentu saja mereka membenci El, karena dia menjadi calon Beta padahal hanya berstatus omega.
Dasar sampah!!!
"Kalian bersembunyi di balik alasan yang mengatasnamakan kebaikan pack, padahal kalian mempunyai keinginan tersembunyi. Aku tidak akan bersusah payah lagi untuk bertanya. Sampai bertemu di Brawl. Aku akan mengumumkan isi otak kalian kepada seluruh warga pack" tutupku, sambil berbalik pergi.
Aku masih bisa mendengar beberapa erangan dan keluhan dari mereka, terutama Quinton. Aku mendengarnya memanggilku beberapa kali, sebelum akhirnya suaranya teredam oleh dinding gua.
Brawl adalah jenis hukuman terburuk bagi werewolf. Jika dalam dunia manusia mungkin lebih di kenal dengan nama pertarungan Gladiator. Werewolf yang bersalah akan bertarung melawan Alpha, atau untuk keadaan sekarang, akan melawanku.
Pertarungan yang sedikit tidak imbang.
Apa yang bisa kau lakukan, jika berada dalam situasi pertarungan, dimana lawanmu bisa menyuruhmu untuk menunduk dengan sekali bentakan?
Karena itulah pertarungan Brawl menjadi hukuman terburuk bagi werewolf. Tapi aku tidak akan sehina itu untuk bertarung menggunakan Alpha tone. Aku akan mencabik tubuh Amon dengan pelan dan menyakitkan.
"Kau akan membuat semua orang tahu apa yang dipikirkan Amon?" tanya El, sambil berjalan mengikutiku ke arah Manor dengan wajah mengerut, karena bau menyengat yang belum hilang.
Aroma gua itu benar-benar memuakkan.
Badanku dan juga El masih membawa aroma menjijikkan itu, bahkan setelah kami keluar dari gua. Aku akan mandi sebelum menyusun rencana berikutnya.
"Ya, aku ingin melihat benaknya dengan teliti. Aku ingin memperoleh informasi tentang Egon dan vampire itu" jawabku.
"Kau akan membagi isi kepalamu dengan seluruh pack, Duke. Satu sentuhan yang salah akan membuat semua orang tahu tentang semuanya, tentang Lui, ayahmu dan juga Zhena Myra" kata El, dengan nada khawatir.
El yang biasanya bersikap sangat positif menyadari resiko yang akan aku lalui dengan mengadakan Brawl.
"Aku tahu, tapi aku bosan harus menyembunyikan Bee. Dia adalah satu-satunya Zhena untukku. Akan percuma menyembunyikannya lebih lama lagi. Jika dia tidak di terima di Blackmoon, maka aku akan pergi. Tapi sebelumnya aku akan mengoyak leher Amon" Aku sudah bertekar bulat.
Aku tidak suka membayangkan Bee harus terus bersembunyi. Dia adalah Zhena bagiku, aku akan mengumumkannya pada dunia, baik mereka suka atau tidak.
"Aku akan ikut kemanapun kau pergi dan akan mengikuti semua keputusanmu tanpa bertanya lagi" kata El, setelah beberapa saat kami berjalan dalam diam. Aku berhenti dan memandang El sejenak.
"Kau werewolf Blackmoon, El, kau tidak bisa meninggalkannya" Aku tidak ingin membuat El menjadi Stray.
Jika aku pergi dari sini, itu karena memang aku tidak punya pilihan lain, tapi tidak bagi El. " Kau bisa hidup dengan nyaman di sini" tambahku.
Kehidupan sebagai werewolf Stray sangat keras. Aku tidak ingin lagi menyeret orang lain untuk hidup dalam penderitaan.
Setelah delapan tahun hidup di luar pack, kami berdua tahu itu. Sekitar tiga tahun kebelakang kehidupan kami sudah jauh lebih baik, karena karirku mulai naik, dan El memperoleh pekerjaan yang lumayan sambil meneruskan kuliahnya.
Tapi sebelum itu hidup kami jauh dari kata nyaman dan bahagia. Aku tidak ingin El kembali hidup seperti itu.
"Kehidupan nyaman yang penuh hinaan dan cacian maksudmu" sergah El dengan muram.
Ck.. Aku melupakannya.
Kehidupan di pack ini, tidak pernah mudah bagi El. Situasi yang berkaitan dengan Linus memastikannya. Seluruh anggota pack tahu apa yang dilakukan Linus pada El.
Mereka tahu jika El adalah korban, tapi mereka tidak bisa menerima El tanpa mengingat apa yang dilakukan ayah tirinya, sehingga mereka selalu menjaga jarak, tidak ingin memasuki kepala El yang kacau.
Aku menepuk bahunya pelan "Aku akan membawamu kemanapun aku pergi El"
El tersenyum puas mendengarnya. Dia berjalan di sampingku dengan wajah yang lebih ceria, daripada saat kami baru keluar dari gua tadi. Sisi polos dari El yang sudah jarang aku lihat.
Salah satu omega menghampiriku, saat tiba di depan pintu masuk manor. Dia menyerahkan kardus dengan tulisan cakar ayam, nyaris tidak terbaca yang ditujukan untukku.
Layanan pos tidak sampai di dalam pack, tapi kami punya satu rumah yang terletak di daerah terluar pack, khusus untuk menerima kiriman. Paket ini pasti baru datang dari sana.
Aku mencium aroma kotak dan mengenali bau susu yang terpapar di bungkusnya. Itu aroma milik Abel.
Aku merobek kardus dan mendapati 3 buah ponsel, beberapa anak kunci dan dompet di dalamnya. Ponselku termasuk diantaranya.
"Oh, it's mine" sahut El sambil menyambar salah satu ponsel dan kunci di kotak itu.
Menilik dari aromanya, ponsel dan anak kunci yang lain adalah milik uncle Rex. Kami bertiga meninggalkannya di pondok berburu, karena kami pergi dalam bentuk serigala.
Abel pasti mengirimnya kemari. Aku menyalakan ponsel dan sederet pesan dari Abel masuk dengan berurutan.
Sebagian besar bertanya tentang keadaan pack, sebagian lagi menegaskan, pertemuan antar inhumane akan tetap berlangsung minggu depan di sini.
"F*ck*ng old man!!!" umpatku. Dia sama sekali tidak tahu\, situasi macam apa yang aku hadapi.
El bertanya dengan alisnya yang kini naik.
"Apa yang harus aku lakukan, agar Bee mau menikah denganku sebelum minggu depan?" tanyaku getir
"Tidur--- lalu bermimpilah" jawab El datar.
"Aku sedang tidak bercanda El" desisku dengan mulut terkatup.
Bukankah dia seharusnya memberikan pendapat yang positif? Aku merasa seperti sedang berbicara dengan Roan. Atau memang kesempatanku memang seburuk itu?
"Jawabanku akan tetap sama, kau bahkan tidak bisa mendekat, tanpa Lui berteriak atau takut. Kemungkinan terbesarmu untuk menikah dengannya, hanyalah dalam mimpi" ulangnya masih dengan kejam.
Mungkin suasana hati El, sepertinya belum membaik, karena hinaan yang diterimanya dari penghuni sel tadi.
"Kau tahu, jika aku pergi dari sini, aku akan meninggalkanmu dengan senang hati!" Aku membalas dengan tidak kalah kejam, sambil berjalan masuk ke dalam Manor.
"Hey.. Duke, kau tahu aku hanya bercanda bukan?" nNada suara El langsung berubah lunak.
"Kau tidak mengatakan permasalahannya secara menyeluruh tadi. Aku akan memberi nasehat yang lebih baik jika sudah mendengarnya secara utuh" katanya lagi, sambil berusaha menyusulku dengan panik...
Aku akan membiarkannya menderita selama beberapa saat..
----------- *0o0*----------
Apa yang harus aku lakukan??!!
Aku memeluk Duke!!.
Saat itu, aku sama sekali tidak bisa berpikir jernih, tapi sekarang aku ingin sekali menyembunyikan wajah, ketika mengingatnya kembali. Dan yang lebih buruk, saat itu Duke sedang dalam keadaan bertelanjang dada.
This is really embarrassing!! batinku, merana.
Belum lagi setelahnya, aku melihat dengan jelas bagaimana mesranya Duke dan Roanna.
Aku merasa seperti sampah karena menikmati pelukan Duke. Amarah lagi-lagi menguasai otakku ketika teringat adegan di rumah sakit itu.
Dey berhenti berjalan, dan membuatku nyaris menabraknya, karena dia berada persis di depanku..
Kami sudah sampai di depan kamar tanpa aku menyadarinya.
Dey hanya tersenyum "Kita sampai" katanya, sambil menunjuk pintu kamar yang aku biasa tempati.
Setelah mendengar ucapan terima kasih dariku, Dey segera berlalu pergi dengan kakinya yang pincang.
Aku bangun di rumah sakit, tapi Dr. Sidra menyatakan aku hanya tertidur. Setelah memeriksaku dengan teliti, dia menyuruh aku kembali ke Manor, dengan pengawalan Dey.
Aku berguling di ranjang dan menyembunyikan wajah di dalam selimut begitu aku berada di kamar.
Aku masih tidak habis pikir, bagaimana bisa aku tertidur ketika memeluk Duke? Kata memalukan saja, tidak cukup untuk menyebutnya.
You're idiot Lui,
Tapi pelukannya nyaman sekali, kata suara hatiku yang lain. Ya-- memang, tapi bukan berarti kau bisa tertidur di sana dengan sembarangan! celaku dengan jengkel.
Aku bahkan belum sempat meminta maaf padanya, tapi sekali lagi aku membuat kesalahan. Pasti sangat tidak menyenangkan baginya karena di peluk oleh gadis selain Roanna.
Dia sangat baik, karena tidak langsung mendorongku dengan kasar. Bahkan menurut Dr. Sidra, dia membawaku ke rumah sakit karena mengira aku pingsan. Memalukan!!!!
Cklekk...... !!
Suara pintu terbuka membuatku bangun dan duduk di tempat tidur, siapa yang masuk ke kamar ini tanpa mengetuk?
Aku memandang pintu masuk yang masih tertutup, dan kemudian tersadar, suara itu berasal dari pintu kamar mandi.
"Aghh...!!" Aku memekik terkejut.
Duke berdiri di depan pintu kamar mandi hanya dengan memakai handuk di pinggang.
Dari wajahnya, dia juga sama terkejutnya denganku.
Sesaat akal sehatku menghilang, wajahku menghangat.
Kali ini, seluruh sel otakku menyetujui kalau tubuh itu menguarkan aura menggiurkan. Bagaimana tidak? Otot perut dan dadanya, membentuk tubuh itu menjadi lebih sempurna, dari pada yang aku bayangkan.
"How....? I'm really sorry. Aku pikir kau masih ada di rumah sakit" kata Duke, setelah sadar dari rasa terkejutnya.
"Aku baru saja kembali" jawabku otomatis, sambil menundukan pandangan, karena durasi mataku meneliti tubuhnya, sudah jauh melampaui batas wajar.
"Excuse me!" ucapnya sambil berjalan masuk ke dalam lemari dinding di depan kamar mandi, dengan langkah cepat dan menutup pintunya.
Kenapa dia ada di sini? batinku. Lebih tepatnya kenapa dia menggunakan kamar mandi yang ada di sini?
Mustahil jika dia tidak bisa menemukan kamar mandi lain di rumah ini.
----------- *0o0*----------
Aku mengumpat sekuat tenaga tanpa suara. Aku tidak menyadari jika Bee sudah kembali. Aroma Bee yang telah menyebar di kamar ini membuatku lengah.
Aku segera menyambar pakaian dan memakainya dengan kecepatan penuh. Aku pasti membuatnya sangat terkejut.
Bee masih berada dalam posisi yang sama saat aku keluar dari lemari. Dia memandangku sebentar, kemudian menunduk lagi.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengganggumu, aku akan pergi" Aku menunduk sedih, melihat Bee masih tidak ingin memandangku.
Aku rasa dia pasti sangat ketakutan waktu berada di ruang bawah tanah tadi, sehingga dia memelukku tanpa banyak berpikir.
"Tunggu!!" Bee berseru menghentikan langkahku, yang sudah hampir mencapai pintu keluar.
Aku berbalik memandangnya. Dia sudah berdiri di depan ranjang, tapi matanya tertuju ke lantai.
"I apologize for...." Bee berbisik pelan, dengan suara yang perlahan semakin mengecil, kakinya bergerak-gerak dengan gelisah.
Telingaku tidak diragukan lagi ketajamannya, tapi aku masih tidak bisa mendengar sisa gumamannya.
"Maaf, tapi aku tidak mendengar perkataanmu" Aku berjalan sedikit mendekat padanya.
"Aku meminta maaf, karena sudah bersikap sangat kasar padamu sebelumnya, dan untuk yang lainnya!"
Bee, mengatakannya dengan kecepatan melebihi seorang rapper. Wajahnya gugup luar biasa, tapi matanya tepat memandangku.
Sesaat aku kehilangan kemampuan untuk memproses ucapannya. "Kau meminta maaf?" tanyaku dengan tercengang.
Bee mengangguk cepat.
"Aku seharusnya tidak memanggilmu monster, padahal kau sudah menyelamatkanku saat di hutan kemarin dulu" jelasnya. Dia mulai memandang lantai lagi.
Musim semi di hatiku yang sempat layu kembali lagi. Perasaan yang sekian lama merana seolah tersiram dengan air, dan mekar sempurna.
Bee memandangku tepat di mata secara langsung dan dia meminta maaf!
"Tapi aku memang monster!" tukasku dengan sedikit sangsi, karena tidak ingin berharap terlalu tinggi.
"No, tentu saja bukan! Kau bukan monster. Kau werewolf, tapi kau bukan monster" tegasnya, dengan mata penuh tekad, kembali memandangku.
Perasaanku melambung ke udara dengan ringan. Tanpa bisa aku cegah, aku tersenyum lebar dan nyaris berseru gembira.
"Aku senang mendengarnya"
Aku berusaha berbicara sedatar mungkin. Aku tidak ingin membuatnya menjadi canggung, jika aku terlihat terlalu bersemangat.
"Oscar bercerita banyak soal makhluk inhumane kemarin, dan kata Myra aku tidak perlu takut kepadamu, karena kau adalah werewolf yang baik" jelasnya dengan lebih tenang.
Inilah Bee yang biasa aku lihat dahulu, polos dengan mata berbinar ramah.
Inilah Bee yang sangat aku rindukan, dengan mata birunya yang memandangku tanpa takut.
Aku kembali bersusah payah menahan diri, untuk tidak memeluknya sekarang juga. Dadaku sesak penuh dengan rasa bahagia dan kerinduan.
"Terima kasih.." Aku bisa mendengar, suaraku sedikit bergetar, penuh dengan emosi yang coba aku tahan.
Bee menggeleng dengan cantik.
"Kau tidak perlu berterima kasih, hanya karena aku menyadari kebodohanku. Aku yang seharusnya berterima kasih karena kalian telah menerimaku di sini. Aku terlalu banyak menerima kebaikan darimu dan juga Myra. Aku pasti sudah mati di tangan werewolf jahat itu, jika kau todak membawaku kesini, "
Aku menelengkan kepala dengan sedikit bingung.
Menerima? Bee ada di sini karena keinginanku.
"Apa maksudmu?" tanyaku, sambil duduk dan memberi tanda pada Bee agar menyusulku di sofa.
Pembicaraan ini akan menjadi lebih panjang dari yang seharusnya.
Bee menurut, dan duduk di hadapanku. "Well, kata Oscar, werewolf jahat itu mengincarku, karena aku memiliki sesuatu yang istimewa. Alasan aku bisa selamat sampai sekarang adalah karena kau membawaku ke sini"
Eh..? Oscar yang mengatakan apa? .
Apa yang dikatakan Oscar tidak sepenuhnya salah, tapi kini Bee menganggap semua ini terjadi karena kesalahannya? Ini tentu saja tidak benar..
"Dan aku sama sekali tidak tahu hal istimewa apa yang membuat mereka mengincarku!!" sungutnya dengan wajah kesal, sebelum aku sempat menjelaskan. "Oscar tak mau mengatakannya padaku!"
"Aku mencoba bertanya kepada salah satu dari mereka tadi pagi, tetapi mereka juga tak menjawab!!" Bee mulai terdengar jengkel.
"Kau apa?! Bertanya pada siapa?" Aku menatapnya bingung.
"Aku bertanya pada salah satu serigala yang akan menyerangku tadi pagi, kenapa dia ingin membunuhku. Tapi dia hanya memandangku dengan mulut terbuka, memperlihatkan taringnya yang besar" jelasnya dengan lugu.
Aku tidak bisa menahan tawa setelah mendengar itu. Aku mencoba menahan diri sebisa mungkin, tapi beberapa kekehan kecil lolos dari mulutku.
"Mereka bukan tidak ingin menjawabnya, Lui, tapi mereka tidak bisa menjawabnya. Kami tidak bisa berkomunikasi dengan kata-kata saat dalam bentuk serigala" jelasku.
"Bentuk moncong serigala tidak memungkinkan kami berbicara dengan bahasa manusia, kami hanya bisa menggonggong" tambahku.
Wajah Bee seketika memerah.
"Ow.. pantas saja! Tita juga sama sekali tidak berkata apapun ketika dia berubah menjadi serigala" Wajah mengerti Bee terlihat lucu.
Aku juga merindukan ini. Wajah Bee saat menyadari kekeliruannya, tidak pernah gagal membuatku tersenyum.
"Aku tidak berpikir sejauh itu, aku kira kalian tetap bisa berbicara walaupun telah berubah" Bee mengusap lengannya dengan malu.
"Bukan masalah, itu bisa dimengerti" ujarku menenangkannya. Bee tersenyum manis mendengar perkataanku.
"Aku salut kau sudah tidak takut lagi pada werewolf, kau bahkan berani membentaknya. Itu bukan hal yang mudah dilakukan"
"Aku hanya sedang sangat marah saat itu, mereka mengejarku sampai ke benua lain, untuk alasan yang tidak aku mengerti. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh mereka?" Bee kembali bersungut-sungut.
Emmmm.... Apa yang harus aku katakan?
Bukan ide yang bagus untuk mengatakan, jika dia menjadi incara, karena dia adalah mate-ku. Tapi aku juga tidak bisa membiarkannya, menganggap semua kerepotanku adalah kesalahannya.
"Aku ingin kau tahu, keberadaanmu di pack ini adalah keinginanku" Aku akan mencoba menjelaskan dengan masuk akal.
Bee memandangku penuh tanya. "Tapi aku di bawa ke sini karena werewolf itu ingin membunuhku bukan?" tanya Bee, sambil menunjuk wajahnya.
"Mereka mengincarmu karena aku" jawabku dengan berat.
Aku masih belum menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan semua tanpa menyebut soal mate.
Bee tidak berkata apapun mendengar itu, tapi wajahnya masih penuh dengan kebingungan.
"Mereka adalah musuh pack ini, dan kau dekat denganku. Mereka mengincarmu untuk menyakitiku, dan karena kau adalah manusia biasa, bagi mereka kau adalah sasaran yang mudah"
Aku mengatakan hal yang kurang lebih jujur, tanpa menyebut mate.
"Dekat? Mereka mengincarku padahal aku hanya makan malam sekali denganmu?" Nada tak percaya jelas terdengar di ucapan Bee.
"Ya.." jawabku pendek.
Tidak ingin berbohong lebih jauh. Jelas Egon mengetahui soal Bee, lama sebelum kami makan bersama di Aviary, karena mereka menyelipkan proposal ke Delmor sejak jauh hari sebelumnya.
Tapi Bee sepertinya lupa, dan aku tidak akan mengoreksi hal itu.
"Apakah mereka sudah gila?!" serunya dengan sedikit keras.
"Mungkin, aku tidak meragukan, jika jalan pikiran mereka sudah rusak" sahutku otomatis.
Bee sedikit tersenyum mendengar itu. Tapi wajahnya kembali menjadi serius.
"Look, aku benar-benar minta maaf, karena harus membawamu dalam carut marut dunia inhumane. Aku berjanji, jika semua telah selesai kau akan bisa kembali ke London dengan aman"
Walaupun aku berharap kau tidak akan kembali ke sana, batinku dengan galau.
Bee mengangguk-angguk mengerti, keningnya berkerut berpikir keras. Aku tidak tahan untuk tidak menatapnya dengan seksama. Dia terlihat begitu cantik saat sedang berpikir.
Krrr...kk.........!!!
Bee memegang perutnya dengan wajah tersipu. Dia terlihat salah tingkah sambil melirikku.
"Are you hungry? "
Bee mengangguk pelan. "Kami sedang sarapan saat mereka menyerang tadi" jelasnya, masih dengan wajah memerah karena malu.
Hmm... Semua omega yang ada di Manor sedang bekerja keras untuk membereskan sisa kekacauan tadi pagi. Mereka tak akan sempat memasak.
"Ikutlah denganku, aku akan memasak makan malam sederhana untuk kita karena aku juga lapar"
Aku berdiri dan melambaikan tanganku mengajaknya berdiri. Makanan terakhirku adalah telur dingin dan sayuran, dini hari tadi.
"Kau bisa memasak?" tanyanya, dengan senyum penuh keraguan.
"Tentu saja" sahutku dengan tenang.
Aku hidup sendiri selama hampir 8 tahun, dan karena hidungku yang sangat sensitif, aku tidak bisa makan secara sembarangan.
Pilihan pintar yang aku ambil, adalah memasak makanan sendiri sesuai dengan keinginan. Aku mengambil kelas memasak yang paling mahal untuk menjadi ahli seperti sekarang.
Aku sangat percaya diri dengan kemampuan memasakku.
Dan tidak perlu penjelasan, Bee sangat payah dalam hal memasak. Charlie bahkan tidak pernah mengizinkannya menyalakan kompor.