Finding You, Again

Finding You, Again
Again 2 - Compliance



Suasana Blackmoon yang berselimut salju tebal, dingin dan suram, sangat tepat menggambarkan bagaimana suasana Manor saat ini.


Hiruk pikuk kegembiraan perayaan yang terjadi tiga hari lalu, sama sekali tidak berbekas.


Masih ada patung es yang menghiasi sudut-sudut pack, tapi lampu dan pita-pita telah diturunkan. Membuat jalanan kembali pucat.


Semua penghuni pack seolah bisa merasakan awan hitam yang menaungi tempat tinggal Alpha mereka yang baru.


Semenjak dua hari yang lalu, seluruh penghuni Manor, berada dalam masa berkabung. Suasana berduka dan sunyi membuat orang enggan berbicara.


Di kamar yang ditempati Lui berkumpul beberapa sosok, yang semuanya berkonsentrasi memandang Lui yang tidak bergerak.


Duke memandang suram ke arah ranjang tanpa suara. Di samping ranjang itu, Oscar berdiri dengan wajah yang tidak kalah murung. Mereka berdua sedang memandang Alva dan Dr. Sidra yang memeriksa Lui.


Duke memanggil Alva kemarin, hari kedua setelah Lui tidak sadarkan diri. Dr. Sidra sudah menyerah dan tidak sanggup mencari jawaban atas apa yang diderita Lui. Tanpa banyak bantahan, Alva bersedia datang. Mengabaikan keengganannya bersinggungan dengan inhumane.


Duke bahkan tidak bersusah payah meminta persetujuan Elder saat membawa Alva masuk. Dan sampai saat ini, tidak ada Elder yang mempertanyakan keberadaan penyihir di pack.


Mereka tentu bisa merasakan bagaimana gawatnya keadaan Lui.


 


Duke melirik Oscar yang tiba-tiba bergerak dan duduk di sofa.


Duke dengan sikap Oscar. Dia mengira Oscar akan meledak, atau setidaknya berusaha membunuhnya karena telah membuat Lui kembali koma.


Tapi setelah Duke menceritakan detail kejadian itu, amarah yang mengambang di mata Oscar dengan perlahan berubah menjadi putus asa dan kebingungan. Sesudahnya, Oscar lebih sering melamun dengan wajah gundah.


Namun Duke tidak terlalu peduli, karena perasaannya juga dalam keadaan kacau balau.


Putus asa dan kegelapan mengusainya semenjak kejadian malam penobatan itu. Dia sampai tidak berani untuk bertransformasi, karena tidak ingin werewolf yang mempunyai hubungan mindlink dengannya merasakan kepedihan itu.


Terutama El dan juga Ibunya. Sudah cukup drama dalam hidup mereka, tidak perlu menambahkan perasaan mengerikan yang sekarang dirasakannya.


Walaupun demikian, rasa putus asa milik Duke, seolah merembes keluar dari tubuhnya, karena tidak satupun werewolf yang berani mendekat semenjak penobatan.


Hanya El, Roan dan Ibunya, yang berani mengajak Duke berbicara. Itupun hanya sekedar mengajaknya makan, yang lebih sering di tolak. Wajah tampan  yang biasa terlihat jarang tersenyum, semakin menyeramkan.


Mimpi buruk yang sangat ditakuti Duke, berulang dan mewujud nyata, apalagi dengan sebab yang tidak masuk akal. Adalah wajar jika saat ini, seluruh aura-nya hanya memancarkan warna hitam penuh kesedihan.


Meski sudah berpikir keras, Duke masih tidak bisa menetapkan penyebab pasti semua bencana ini. Dia ingin sekali menunjuk upacara pemberian insignia itu, sebagai penyebabnya.


Karena jika memang pemberian insignia itu yang mengganggu mantra Alva di tubuh Lui, dia akan bisa memperbaikinya.


Tapi firasat Duke mengatakan hal yang sebaliknya, karena kini wajah Alva semakin lama semakin suram tertutup kecewa.


Beberapa jam kebelakang, Alva telah mengeluarkan berbagai macam mantra dan juga ramuan yang diketahuinya pada Lui.


Pada awalnya Dr. Sidra dan juga Oscar, menontonnya dengan tertarik karena ini adalah pertama kalinya mereka melihat penyihir bekerja.


Lingkaran diagram sihir dan mantra dengan berbagai macam warna silih berganti melayang dan bersinar di atas tubuh Lui. Mulai dari diagram sederhana berwarna kuning, sampai diagram lebar berwarna kemerahan yang bertuliskan simbol rumit.


Tapi keingintahuan mereka mulai surut, setelah beberapa saat, tidak terlihat perubahan apapun pada tubuh Lui. Tubuh itu tetap diam, bernafas pelan dengan bantuan alat bantu pernafasan.


"Aku tidak bisa!! Tidak ada yang salah dengan mantra yang aku pasang di kepala Lui, aku tidak tahu bagaimana cara untuk membuatnya sadar"


Setelah mencoba hampir lima jam tanpa lelah, Alva akhirnya berseru putus asa, sambil membanting tangannya ke ranjang tempat Lui berbaring.


Tidak ada satupun makhluk di kamar yang menjawab seruan putus asa itu. Mereka semua hanya diam masih memandang tubuh Lui.


Dengan perlahan Dr. Sidra membereskan alat-alat kedokterannya, lalu keluar dari kamar itu tanpa berpamitan, Tahu tidak ada lagi yang bisa dilakukannya.


Wajah Duke tersapu oleh duka dan juga kesakitan yang semakin mendalam.


"Kau memasang mantra di kepala Lui?" Oscar yang bertanya, sambil memandang Alva.


Itu adalah kalimat terpanjang yang di ucapkan oleh Oscar setelah tiga hari ini membisu.


"Tentu saja!! Kau pikir bagaimana Lui bisa sadar dari koma dulu? Aku memasang mantra untuk mengurangi pengaruh gumpalan itu pada tubuhnya. Dan mantra itu masih ada di sana tanpa kerusakan. Pemberian insignia oleh Duke tidak meninggalkan bekas apapun kecuali tanda di bahunya itu"


Alva menjawab emosi, karena merasa pertanyaan Oscar sedikit bodoh. Tanpa menyadari ini semua tentu baru bagi Oscar. Dia tidak tahu Alva adalah penyihir sebelum hari ini.


Setelah upacara penobatan, luka goresan yang diberikan oleh Duke sembuh dan membentuk tato bulan seperti yang seharusnya, bahkan lebih cepat. Tidak seperti luka manusia biasa.


Alva heran dengan ini, tapi tidak memiliki jawaban memuaskan yang bisa menjelaskan fakta itu. Sama gelapnya dengan kejadian cahaya biru aneh itu. Alva hanya bisa menganga heran, ketika mendengar cerita Duke.


Keadaan Lui benar-benar misteri besar.


Misteri yang tidak tahu kapan akan terjawab. Yang juga berarti Duke tak akan pernah tahu kapan Lui akan membuka matanya lagi.


Kenyataan pahit itu, mulai meresap ke dalam pikiran Duke dan membuatnya terhempas, meninggalkan harapan yang tadi sempat hadir dengan kedatangan Alva.


Duke sekali lagi harus menunggu Lui membuka mata. Dan yang lebih buruk, Duke tidak lagi bisa mengandalkan bantuan kekuatan Alva.


Emosi mulai menguasai Duke. Perlahan, rasa panas menjalari tubuhnya. Putus asa, kepedihan dan amarah menelannya dengan sempurna. Tanpa peduli lagi dengan pengendalian diri, Duke melepaskan werewolf-nya begitu saja.


Serigala raksasa mewujud di kamar itu, di bawah pandangan terperangah dari Oscar dan Alva.


Merasuknya kekuatan Alpha pada tubuh Duke, bukan tanpa efek apapun. Dengan meningkatnya kekuatan, Duke harus menyesuaikan diri dengan kekuatan barunya. Dia seharusnya berlatih mengendalikan kekuatannya lagi.


Tapi tiga hari ini, Duke sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Pengendalian dirinya berada dalam level terendah saat ini.


Mengabaikan wajah terkejut Oscar dan Alva, Duke membuka jendela kamar dengan moncongnya lalu melompat turun.


Dia hanya ingin berlari, dengan harapan sebagian perasaan dukanya akan larut bersama angin.


"Kau akan kemana?" Myra bertanya dalam kepala Duke, ketika dia telah berlari selama beberapa menit.


"Keluar dari kepalaku Mom! Aku mohon"  Duke mengabaikan pertanyaan Ibunya. Dia pasti melihat Duke berlari dan ikut bertransformasi.


Dengan desahan berat, Myra menurut. Kepala Duke kembali sunyi.


Tapi beberapa saat kemudian, suara di kepalanya kembali mengganggu.


"Duke? " panggil El dengan ragu.


"Pergi!!" Duke menghardik kasar sambil menggertakkan gigi, berusaha dengan keras menahan kesedihannya agar El tidak terpengaruh.


"Jangan seperti itu, kau bisa membaginya dengan kami, mungkin akan terasa lebih ringan setelahnya" El tentu merasakan bagaimana usaha Duke menjaga agar pikirannya tetap jernih.


"Tidak!!... Pergilah! Dan kau juga Roan" 


Satu pikiran lagi muncul saat Duke mengatakan hal itu. Roan dengan kekhawatirannya.


"Tapi.---"


"Lepaskan transformasi kalian!!" 


Duke menggeramkan Alpha Tone dari tenggorokannya.


Dia sangat membenci keadaan dimana harus menggunakan Alpha tone pertamanya sebagai Alpha, kepada El dan Roan.


Tapi dia sungguh tidak ingin mereka terpengaruh oleh apa yang dirasakannya saat ini.


Dengan perlahan dan tidak rela, benak El dan Roan memudar.


Sampai di tepi danau Blackmoon, Duke berhenti berlari lalu melolongkan kepedihannya ke arah langit malam gelap tanpa bulan.


Dengan tubuh terhuyung, Duke berjalan mendekati danau membeku dan duduk memandangi es tebal itu, dengan hati gundah gulana.


Mentalnya yang tergerus kesedihan, membuat Duke kehilangan pengendalian atas inderanya. Dengan bebas telinga, hidung dan matanya menangkap segala hal yang biasanya terblokir.


Perubahan yang paling mencolok dari masuknya kekuatan Alpha, satu diantaranya adalah inderanya yang sekarang menjadi lebih kuat.


Telinganya bisa mendengar dengan jelas suara berbagai binatang malam, yang sedang berburu dalam jarak berkilo-kilo meter jauhnya. Belum lagi hidungnya bisa dengan tepat mengenali, salah satu binatang itu adalah lynx yang sedang mengejar kelinci malang untuk makan malam.


Matanya juga semakin tajam, hingga bisa melihat gerakan lembut di bukit seberang danau, yang disebabkan oleh rubah putih, sedang mengintai mangsanya di antara timbunan salju.


Duke tahu, dia harus melatih semua itu, agar tidak menghambat kegiatannya. Indera yang terlalu sensitif akan menjadi kelemahan jika berada diluar pack. Terlampau banyak warna, suara dan juga aroma yang mengganggu.


Dia harus belajar mengendalikannya mulai dari awal lagi, atau nanti tidak akan bisa bersikap normal di luar pack.


Pikiran Duke sejenak teralihkan dengan segala kegiatan alam di sekeliling yang tertangkap oleh inderanya. Dia menikmatinya sebagai rekreasi kecil untuk mengistirahatkan kepalanya yang berat.


Sambil menyenandungkan nada yang muncul begitu saja di kepalanya, Duke memejamkan mata, menerima segala hal yang disodorkan oleh alam sekitarnya.


Angin musim dingin menerpa helaian bulu hitamnya yang lebat, dengan lembut.


Desiran suara angin itu, mengantarkan aroma salju beku dan juga berbagai macam aroma penghuni hutan. Mulai dari lynk yang tadi, sampai kalkun liar yang didengarnya sedang berusaha mencari ranting untuk membuat sarang.


Duke menenangkan pikirannya sembari mengambil nafas panjang, kemudian sedikit demi sedikit berusaha mengabaikan suara dan aroma alam, menutupnya sampai batas wajar.


Otot dan syarafnya harus belajar, seberapa banyak kekuatan yang harus dipakainya pada saat keadaan biasa.


Selama beberapa jam berikutnya, Duke hanya duduk diam dan terus melakukan latihan itu tanpa lelah, karena dengan begitu kesedihannya sedikit terlupakan. Latihan dan kerja adalah pengalihan pikiran paling ampuh untuknya.


Dengan perlahan Duke membuka mata dan mendapati cahaya itu adalah matahari terbit. Dia menghabiskan waktu semalam suntuk untuk berlatih.


Pengendalian kekuatannya sudah lebih baik, tapi masih butuh beberapa latihan penyesuaian.


Duke ingin sekali melanjutkan latihan itu, tapi keletihan menyerangnya begitu matanya terbuka lebar.


Latihan itu memang tidak membutuhkan banyak gerak, tapi jelas menguras pikiran dan tenaga.


Dengan pelan Duke berjalan meninggalkan danau itu sambil melirik ke arah pondok mungil yang dihadiahkan pada Lui.


Lukanya menganga lebar, begitu benaknya tertuju pada Lui.


Dengan menghentakkan ke-empat kakinya, Duke berlari ke arah Manor, mencoba tidak mempedulikan hatinya yang berdarah.


 


Sampai di Manor, Duke memilih untuk masuk lewat jendela kamarnya, menghindari pintu utama, agar tidak mengundang banyak tanya. Dengan ringan dia melompat menuju balkon kamarnya.


Kamar itu sekarang hanya berisi Oscar, yang sedang tertidur di sofa dengan posisi tidak nyaman. Oscar jarang meninggalkan Lui, biasanya dia hanya keluar untuk mengganti baju atau makan.


Oscar terbangun kaget, ketika Duke membuka jendela dan masuk.


Tanpa berkedip, dia memandang sosok raksasa itu memasuki kamar. Duke berjalan pelan menghampiri ranjang kemudian mengelus pelan tubuh Lui dengan keningnya, sebagai sapaan.


Duke mengatur nafasnya selama beberapa detik, dan dengan perlahan, tubuh itu menyusut, berubah menjadi berkaki dua lagi.


Oscar memaki pelan. Dia tidak sengaja melihat tubuh telanjang Duke, dan segera memalingkan wajah ke arah lain.


Duke hanya mendengus tidak peduli mendengar makian itu, lalu meraih handuk dari tumpukan di meja dan melangkah menuju kamar mandi.


"Mana Alva?" tanyanya pada Oscar setelah dia keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang lebih layak.


"Perpustakaan" jawab Oscar pendek, sambil berbaring kembali di sofa, tapi matanya tetap tertuju ke arah Duke.


"Dia ingin memeriksa beberapa buku kuno yang ada di sana, mungkin akan ada yang menjelaskan tentang fenomena cahaya biru Lui" jelasnya melihat Duke mengernyit.


"Oh..." Duke hanya menyahut pendek setelah mengerti.


"Ah--- dia juga meminta agar beberapa buku miliknya di kirimkan ke sini, dia ingin memeriksanya juga" tambah Oscar yang sekarang sudah kembali menutup mata.


Duke mengangguk dan meraih ponselnya di meja. Dia akan meminta bantuan Uncle Rex agar bisa mengangkut apapun yang dibutuhkan Alva ke sini, lebih cepat jika memakai pesawat milik Monath.


Duke akan melakukan hal apapun yang diminta oleh Alva. Hanya dia harapan Duke untuk keluar dari situasi mengerikan ini, walaupun Alva juga masih tidak tahu harus berbuat apa.


"Pagi Bee!" bisiknya pelan, sambil mengecup dahi pucat itu.


Mata Duke menelusuri seluruh wajah cantik Lui yang membeku.


Satu-satunya hal yang bisa dilakukannya adalah menunggu. Menunggu keajaiban lain yang akan membuat Lui membuka mata.


"Tadi malam aku melihat lynk di hutan dekat pondok kita. Kau pasti akan suka jika melihatnya, kau selalu punya ketertarikan aneh pada kucing bukan? Dan percayalah, lynk itu berbulu sangat lebat, jauh lebih lebat dari kucing biasa. Aku ingin sekali menangkapnya untukmu, tapi dengan bulu selebat itu, aku rasa alergimu akan kambuh"


Duke mengawali ceritanya dengan tertawa kecil.


Itu adalah rutinitas yang biasa dilakukannya ketika Lui koma. Duke akan menceritakan seluruh harinya pada Lui, saat dia sedang menjenguk. Sambil membayangkan bagaimana reaksi Lui saat mendengar cerita itu.


Duke tidak peduli jika hanya kesunyian yang didapatnya sebagai balasan. Duke tetap melakukannya selama setahun lebih sampai saat Lui sadar dari komanya.


Sekarang Duke mengulang kebiasaan itu, dan keadaannya sedikit lebih baik. Setidaknya dia tidak perlu terbang jauh untuk menemui Lui. Dulu dia harus menempuh jarak antara LA dan London untuk sekedar bercerita.


Oscar membuka mata mendengar suara Duke bercerita, tapi tidak berkomentar.


Rahangnya mengeras, menahan perasaan dalam dirinya. Dia tidak terkejut mendengar Duke bercerita, karena dia sudah sangat hafal dengan kebiasaan Duke itu. Tapi kenangan akan penderitaannya, dan juga Duke, untuk mempertahankan Lui, membuat lehernya tercekik emosi.


Oscar menutup mata kembali, ketika suara ketukan pelan terdengar dari pintu.


"Siapa?" Duke bertanya dengan kesal. Acaranya bercerita dengan Lui terganggu.


Tidak ada jawaban, tapi pintu itu terbuka. Myra bersama dengan El memasuki ruangan. Myra membawa nampan penuh dengan sarapan dan juga dua cangkir kopi panas.


El membawa beberapa lembar kertas di tangannya. Dia memandang Duke dengan lega, karena setidaknya dia kembali dalam keadaan utuh ke Manor.


"Makanlah, kalian membutuhkannya" Myra memerintah tegas, tidak ingin menerima bantahan.


Myra lalu menggoyangkan tubuh Oscar pelan dan menaruh nampan di hadapannya. Myra juga memberi isyarat pada Duke agar bangun lalu duduk dan makan.


Jika melawan, Myra pasti akan terus berdebat sampai dia menyerah. Maka tanpa bersuara Duke duduk dan menyantap makanannya secepat mungkin, tanpa ada keinginan untuk menikmatinya.


Di hadapannya, Oscar juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua terlihat seperti robot tanpa jiwa yang bergerak hanya dengan insting.


Myra menggelengkan kepala pelan melihat pemandangan mengenaskan itu. Dua orang yang sedang berada dalam lembah putus asa.


Tapi Myra lega, karena setidaknya Duke masih bisa menelan makannya dengan baik, tidak seperti keadaannya beberapa waktu lalu.


Tanpa berpamitan Myra keluar dari kamar, meninggalkan El yang berdiri canggung menatap mereka berdua makan.


Setelah sarapan yang hanya berlangsung tidak lebih dari 3 menit itu, Duke memberi isyarat pada El untuk bicara.


"Semua persiapan sudah hampir final. Laporan dari Abel, ada 7 vampire dari 2 clan, 12 werewolf dari 5 pack, dan juga 3 hunter termasuk Faust" Lapor El.


Faust masih ada di rumah sakit, tapi dia akan membaur secara diam-diam ketika para Hunter datang nanti.


"Apa dia sudah sehat?" tanya Duke sambil menatap El dengan lebih baik. Dia memberi perhatian lebih, karena ini adalah hal yang penting untuk El.


"Ya, racunnya sudah ternetralisir. Dia sedang berlatih untuk memulihkan kekuatannya" jawab El, sambil  tersenyum lembut.


"Aku turut gembira mendengarnya El" kata Duke, dengan tulus. Hatinya sedikit hangat melihat El gembira.


"Thanks" kata El.


"Oh.. dan juga tiga manusia biasa. Mereka adalah bekal makanan bawaan para vampire" tambah El, dengan nada sedatar mungkin. Berusaha mengabaikan rasa jijik.


Duke mendengus kasar "Bekal makanan? Menggelikan sekali" katanya.


Oscar yang berada di hadapannya, juga terlihat sedikit terganggu, tapi memutuskan untuk tidak berkomentar. Karena malas terlibat dengan masalah inhumane.


"Bagaimana dengan pasukan yang aku minta?" tanya Duke.


"Ini.." jawab El, sambil menyerahkan kertas yang dibawanya.


Dengan teliti Duke memeriksa data yang ada di sana, kemudian mengangguk puas.


Kertas itu berisi 15 nama werewolf dan siewolf pilihan mereka berdua. Werewolves dengan ketangkasan dan kekuatan paling unggul di pack, dengan kesetian yang tidak perlu diragukan lagi. Selain nama Dey, Farjad, nama Id dan Tita juga ada di sana.


Duke juga melihat dua nama werewolf yang dulu menculiknya dari LA. Farkas dan Ivalio.


Duke memilih mereka, karena telah menunjukkan tekad yang sangat kuat. Meminum ramuan menjijikkan itu sampai batas hidungnya tidak bisa mendeteksi, adalah sebuah prestasi yang harus mendapat apresiasi.


Werewolves yang ada dalam daftar yang dibawa El tadi, adalah pasukan khusus yang akan bergerak di bawah perintah langsung dari Duke.


Banyak werewolves yang iri dengan pasukan bentukan baru itu. Tapi mereka tidak tahu, neraka macam apa yang akan disiapkan Roan untuk latihan mereka. Jika mereka tahu, para werewolves yang iri itu justru akan merasa sangat bersyukur.


Duke tersenyum simpul membayangkan bagaimana Roan akan melatih mereka. Dan sejujurnya, hal itu sedikit meningkatkan semangatnya.


"Mulai hari ini, berikan mereka jadwal latihan bersama Roan. Aku juga akan melatih mereka secara langsung jika sedang senggang" Kata Duke.


El mengangguk ragu, karena jelas, Duke saat ini nyaris tidak lagi memiliki waktu luang. Persiapan pertemuan ini menyita seluruh waktunya.


Tapi bukan ide bagus untuk mendebat Duke. El hafal bagaimana tabiat Duke ketika Lui dulu koma. Dia akan bekerja tanpa jeda untuk melupakan duka yang ditanggungnya.


"Kapan tamunya akan mulai datang?" tanya Duke. El segera meraih ponsel di saku dan memeriksa data.


"Werewolf akan datang secara bergiliran, karena daerah asal mereka yang memang sangat berjauhan. Vampire akan datang bersamaan malam nanti, mereka memutuskan untuk memasuki pack ini dengan berkelompok tentu saja. Hunter akan datang, sehari sebelum pertemuan dimulai" jelas El, dengan lancar.


"Berarti mereka akan mulai datang malam ini?" tanya Duke menegaskan, karena pertemuan itu akan berlangsung 2 hari dari sekarang.


El mengangguk, "Beberapa werewolf dan juga vampire"


"Baiklah, kita harus bersiap" Duke bangkit dari duduknya.


Dia menghampiri Lui dan mengelus kepalanya pelan. "Aku akan kembali dan meneruskan ceritaku nanti Bee" bisiknya sambil tersenyum.


Dia menoleh pada Oscar.


"Aku meminta kau tidak berkeliaran di sekitar Manor setelah hari ini. Semua werewolves di pack, sudah mengetahui tentang keberadaanmu, tapi tamu vampire itu tidak. Mereka mungkin tidak akan berpikir panjang sebelum menyerangmu"


Duke memperingatkan bahaya yang serius.


Oscar mengangguk, "Aku mengerti" katanya.


Oscar juga tidak berkeinginan untuk muncul dihadapan pada para vampire itu. Sudah cukup banyak inhumane menyebalkan -- bahkan lebih menyebalkan dari Duke -- dalam hidupnya\, tidak perlu berkenalan dengan mereka yang haus darah.