
"Siapa dia?" tanya El, dengan mata melebar memandang gadis berambut cokelat sangat pendek yang tertutup beanie hitam.
Aku tadi menunjuknya, ketika El bertanya siapa Hunter yang akan bergabung dengan kami.
Gadis itu berjalan dengan lincah menghindari kerumunan di bandara Sheremetyevo, menghampiri aku dan El.
Mantel hangat dan sepatu boot hitam berbulu melengkapi penampilan gothic-nya hari ini. Make up tebal dengan lipstik berwarna hitam serta garis hitam di sekeliling mata, dan tak lupa tas besar yang juga berwarna hitam menempel di punggungnya.
"Faustina, cucu Abel" jawabku. El memandangnya dengan tercengang.
El tidak bertemu dengannya saat di Quebec kemarin dulu. Sekarang dia pasti terkejut melihat keunikannya. Satu hal yang membuatku jengkel, aku masih tidak mencium aroma apapun darinya.
El memandangnya tanpa berkedip.
"Jangan memandanginya dengan berlebihan, dia tak akan ragu mencongkel matamu hanya karena jengkel" tambahku memperingatkan, karena mata El masih tak lepas menatapnya.
"Aku tidak....." Sanggahan El terputus, karena Faust sudah sampai di hadapan kami.
Tanpa sapaan, atau perkataan selamat datang, Faust mengulurkan paper bag padaku.
"Thanks" ucapku, mencoba beramah-tamah.
"Ayo! kita harus segera menyelesaikan pekerjaan menjijikkan ini!"
Dia menghardik dengan sebal, sebagai balasan ucapan terima kasihku.
Aku bukan orang yang sopan, tapi gadis ini jelas berada di kategori level akut dalam hal ketidaksopanan. Dia bahkan tidak berusaha untuk memperkenalkan diri ataupun berkenalan dengan El.
Setelahnya, dia menggiring kami keluar dari bandara dan membawa kami selama 2 jam perjalanan dengan mobil, dengan tujuan lapangan udara yang lebih kecil.
Jarak Lavrentiya dan Sheremetyevo masih ribuan kilo. Kami akan menaiki pesawat kecil ke sana, dan kemudian meneruskannya dengan berlari. Karena lokasi mereka tidak mungkin di perkotaan, aku yakin mereka akan berada di gunung atau hutan.
Kami lebih banyak diam selama perjalanan. Bukan hanya karena sikap Faust yang sangat 'ramah' tapi juga karena ketegangan memenuhi udara. Kami semua tahu resiko apa yang menghadang dalam misi ini.
"Aku terkejut Abel mengirimmu untuk tugas ini" tanyaku sedikit berteriak, mencoba mengalahkan deru mesin pesawat.
"Apakah itu penting? Aku tidak bertanya kenapa kau yang menjalankan misi ini" jawabnya dengan dingin.
Jeez!!! Aku menyesal telah membuang beberapa detik nafasku untuk berbicara dengannya.
"Tentu saja penting! Kami harus tahu bagaimana kemampuan bertarungmu, karena aku akan malas jika harus menjagamu saat situasi tidak berjalan sesuai rencana. Mungkin Abel menilaimu terlalu tinggi hanya karena kau adalah cucunya"
Aku tidak akan menyaring ucapanku lagi, karena dia bisa bersikap sangat kurang ajar kepadaku semudah mengedipkan mata.
Matanya melebar marah,
"Asal kau tahu Wolf! Kakek sangat menentang keberangkatanku ke sini, tapi piihan kami terbatas. Aku adalah salah satu hunter dengan level paling tinggi saat ini. Kau akan menyesal jika kita bertemu dalam keadaan yang berbeda!" Faust meludahkan amarahnya dalam sekali helaan nafas.
"Well... senang akhirnya bisa tahu jika kemampuanmu ternyata cukup lumayan, aku akan sangat kesal jika ternyata kau hanya menjadi beban yang harus aku jaga nantinya" balasku dengan nada tenang.
El di sebelahku sedang berusaha menahan tawanya, tapi bahunya tetap berguncang. Aku memandangnya dengan tanya. Apa yang lucu dari situasi ini?
"She is in another class! Aku tidak pernah menyangka, akan ada gadis yang kebal oleh pesona wajahmu" bisik El sambil mengusap air mata geli di sudut matanya.
Kami berdua tidak menganggap Roan adalah perempuan, jadi dia tidak masuk hitungan.
Aku hanya tersenyum miring, mengabaikan Faust yang kini memancarkan gelombang kebencian ke arahku.
Aku meraih paper bag yang sejak tadi aku pegang, dan mengeluarkan dua botol besar dari sana.
El langsung menggerung tersiksa melihat cairan berwarna cokelat --sedikit berbeda dengan ramuan milik Oscar yang berwarna kehijauan, karena dia adalah manusia-- menjijikkan yang memenuhi dua botol yang sekarang aku pegang. Tapi dia tetap meraih salah satu botol itu, dan meminumnya dengan wajah pasrah.
Sebentar lagi kami akan sampai di Lavrentiya, aroma werewolf kami harus sudah hilang begitu kami mendarat. Kegiatan memata-matai ini akan menjadi perangkap empuk, jika aroma kami sampai menyebar di udara.
"This is disgusting!!" keluhku, setelah berhasil menelan seluruh ramuan di botol, rasa dan baunya masih seburuk yang aku ingat.
Mulutku terasa lengket seolah ramuan tadi terbuat dari lem, dan hidungku di penuhi aroma menyengat mirip keju Vieux Boulogne*
El memejamkan mata sambil bersandar di kursi, wajahnya terlihat mual. Hidungku bisa merasakan aroma werewolf yang melekat pada El berangsur menghilang, tapi tetap menyisakan aroma lily samar miliknya.
Aku melirik ke arah Faust. Wajah yang biasanya datar, terlihat jijik melihat kami menelan cairan mirip ingus itu.
"Bukankah kau seharusnya terbiasa dengan ramuan ini? Aku tak pernah mencium aroma apapun darimu!" celetukku, melihat wajah jijiknya.
"Aku tidak perlu meminum ramuan untuk menghilangkan aroma. Aku terlahir seperti ini. Dan jangan bertanya apapun lagi, itu bukan urusanmu!!" katanya. sambil melirikku jengkel.
Dia membuang pandangan ke arah jendela pesawat.
Tentu saja aku ingin bertanya lebih lanjut tentang hal itu!! Bagaimana mungkin manusia bisa lahir tanpa memiliki aroma apapun?
Itu tidak mungkin, tapi dia juga terlihat jujur. Ini membingungkan.
Bahkan El membuka mata dan memandangnya dengan wajah tertarik, tapi Faust sama sekali tak bergeming dan tetap menatap pemandangan dibawah yang jauh dari kata indah, karena hanya menampilkan pemandangan salju dan gunung gersang.
Aku harus mengajukan syarat pada Abel untuk tidak menyertakan Faust pada misi apapun bersamaku setelah ini. Aku bosan dengan sikap pongahnya.
Setelah pendaratan kasar di suatu tempat terbuka yang aroma dan penampilannya mirip dengan pembuangan sampah, pesawat yang kami tumpangi langsung lepas landas segera sesudah Faust melemparkan sebendel uang dolar pada pilotnya.
Dia berbicara dengan bahasa Rusia yang fasih pada pilot itu. Ini bukan keahlianku, aku menoleh pada El meminta bantuan.
"Dia ingin agar pilot itu bersiap-siap di kota, kita akan datang sewaktu-waktu" desis El dari sudut mulutnya. Tentu saja El menguasai bahasa Rusia, dia sama gilanya dengan Oscar untuk masalah seperti itu.
Rencana kepulangan kami sederhana. Kami akan menemui pilot itu di kota dan terbang kembali ke Sheremetyevo bersamanya, seperti saat kami ke sini.
Faust mengitari lapangan sekali dan kemudian berhenti memeriksa GPS di tangannya "Kita harus berjalan sekitar 7 jam ke arah timur" katanya sambil menunjuk gugusan pegunungan tandus yang sebagian besar tertutup salju.
Aku memandang El yang segera mengangguk, mengerti dengan maksudku.
"That's not gonna happen" kataku, yang dibalas Faust dengan pandangan tajam.
"Apa maksudmu?' tanyanya.
"Kita akan berlari!" jawabku, El sudah memulai dengan melepas kaos yang dipakainya menyisakan celana panjang di badannya.
Wajah Faust yang dari tadi dingin dan datar, mulai beriak karena emosi. "Kalian akan berlari dalam bentuk serigala!"
Dia mengerti dengan baik maksud ucapanku.
Aku mengangguk, lima jam berjalan kaki akan sangat memakan waktu, selain itu juga membosankan. Dengan berlari kami akan sampai di sana dalam waktu kurang dari satu jam. Wajah Faust memberengut jengkel.
"Kau punya dua pilihan, berikan GPS itu pada kami dan kau tunggu di sini sampai kami kembali atau kau bisa naik ke punggung El, dan kita kan sampai di sana dalam waktu sekejap. Kita bisa mengakhiri misi ini sebelum matahari terbenam"
Rencanaku sangat bagus, karena jelas vampire tidak akan keluar pada saat siang hari seperti sekarang. Hal itu mengurang jumlah musuh yang harus kami hadapi jika situasi memburuk.
Kami sudah mengeliminasi sebagian besar musuh dengan adanya matahari. Dengan durasi siang yang pendek, kita harus bergegas agar bisa sampai di sana sebelum gelap.
Wajah El terlihat tenang mendengar ideku. Itu berarti dia tidak keberatan membawa Faust di punggungnya.
Tapi umpatan indah -- yang nyaris membuatku terharu karena sangat kreatif-- terlontar dari mulut Faust setelah mendengar usulanku.
Dia tentu merasakan hal ini sebagai hinaan, karena harus menerima bantuan dari inhumane yang sangat dibencinya. Tapi disisi lain, dia tak punya pilihan, karena rencanaku jauh lebih bagus dari pada ide berjalannya.
Nafasnya memburu sambil memandang El. Matanya menilai El, yang mulai terlihat jengah dan malu karena di pandangi secara terus menerus, dalam keadaan setengah telanjang.
"Kita harus segera berangkat!" kata El memutus pikiran Faust.
Faust memberengut kesal.
"Kau ikut atau tidak?" sergahku, El benar, kita tidak bisa membuang banyak waktu.
"Ikut!!" bentaknya sambil berbalik memunggungi kami, memberikan kesempatan untuk bertransformasi.
Done!
"Oh... My..." Seruku kaget, karena benakku setelah bertransformasi, penuh dengan limpahan perasaan berbunga-bunga berwarna pink hangat, yang berasal dari El.
"It can't be... El" Aku mengerang.
"Oh... shut up!! Aku hanya sedikit tertarik padanya" hardik El, malu.
Dari semua gadis yang ada di dunia, dia terpesona pada gadis kejam, yang membuat Roan terlihat nyaris normal. Dan lagi dia Hunter.
"Kau tahu Hunter mempunyai status yang lebih buruk dari manusia bukan? Kau akan menghadapi cacian yang lebih dari yang pernah kau terima" Aku tidak ingin El menjadi bahan cacian lagi.
Sudah cukup hinaan yang dia terima selama ini. Aku cemas membayangkan bagaimana tanggapan warga pack jika nanti El terlibat hubungan dengan Hunter.
"Kalian sudah selesai atau belum?!" Nada tak sabar Faust memecah percakapan dalam kepala kami.
Aku mendengus sebagai isyarat dia bisa berbalik. Faust kembali memandang kami satu persatu persatu dengan seksama. Luapan semangat dan rasa gembira El membuatku terbelah antara perasaan gembira dan terganggu.
Aku gembira akhirnya El bisa merasakan cinta tulus di dalam hatinya, perasaan yang sangat jarang berada di benak El. Tapi tentu saja ini mengganggu, karena benakku penuh dengan wajah Faust dari berbagai sudut.
"Aku kagum kau bahkan tak mengeluh tentang Bee" Ujarku penuh rasa terima kasih, membayangkan El harus hidup dengan bayangan Bee memenuhi otaknya.
El terkekeh geli mendengarnya, "Aku tidak pernah keberatan Duke!" katanya dengan ringan, meredam rada bersalahku.
"Aku benci sekali karena mengganggu percakapan intim dalam kepala kalian, tapi aku rasa kita tadi berencana untuk segera berangkat!" sindir Faust, karena kami hanya saling memandang tanpa suara.
Aku mendengking pelan sebagai tanda kami mengerti. El segera duduk melipat keempat kakinya.
Sambil menghentakkan kakinya dengan jengkel, Faust menaiki punggung El. Tidak perlu aku jelaskan bagaimana perasaan El, rasa hangat mulai membuatku jengah. Warna pink semakin meluas merajai pikiranku.
Setelah menerima arahan soal ke arah mana kami harus berlari, El menjejakkan kakinya dan melompat ke arah hutan pinus bersalju di depan kami.
Aku meraih buntalan baju ganti dan mengaitkannya di kaki depan dengan moncongku.
Tanpa suara, aku berlari mengikuti benak El, yang sekarang meledak dengan bayangan dan perasaan yang sedikit tidak sesuai dengan keadaan yang seharusnya mencekam.
Kami melewati sungai, bukit dan bahkan rawa dangkal yang membuat buluku membeku saat kami menyebranginya.
Aku harus mengakui, Faust adalah gadis yang tangguh. Suhu udara semakin turun seiring kami masuk semakin jauh ke dalam hutan. Tapi tidak satupun suara keluhan keluar dari mulutnya.
Dari benak El, aku merasakan bagaimana pegangan tangannya mengetat setiap kali kami berlari lebih kencang, wajahnya penuh dengan warna merah karena dingin. Bibirnya terpulas lipstik hitam sehingga kami tak bisa melihat warnanya berubah, tapi bibir itu bergetar hebat setiap angin menerpa kami.
Setelah melewati rawa suram untuk kedua kalinya, hidungku mulai mencium bau menjijikkan yang samar.
"Berhenti!!"
El langsung menghentikan larinya, sambil memandangku. "Mereka di mana?"
"Kira-kira 5 km ke arah timur" Jawabku.
"Kenapa kita berhenti?" tanya Faust, sambil meluruskan punggungnya.
Aku menyentakkan kepalaku ke arah sumber bau ikan mati.
"Mereka ada di sana?" tanya Faus menegaskan isyaratku. Aku mengangguk.
Dengan sekali lompatan Faust mendarat di tanah bersalju. Tapi mungkin karena kakinya yang membeku, pendaratannya jauh dari kata mulus.
El meraih baju Faust dengan giginya sesaat sebelum Faust tenggelam di salju. Faust tidak berterima kasih atau apa, tapi matanya melirik El dengan canggung. Itu saja sudah cukup membuat hati El kembali menghangat.
"Ughh..." Aku hanya bisa mengerang menerima serangan kegembiraan dari El.
Mungkin aku harus mulai belajar menyanyikan lagu kebangsaan Rusia untuk memblokir pikiran ini. El tergelak gembira melihatku mencoba menutup serbuan perasaannya.
Faust mulai membongkar tas yang dari tadi di sandangnya. Dia mengeluarkan 2 pistol yang identik dengan pistol yang Abel berikan padaku dan menyelipkannya di pinggang. Dua pedang panjang disematkannya ke punggung. Tak lupa crossbow yang penuh dengan aroma racun pada anak panahnya.
Aku dan El beranjak meninggalkan Faust menuju ke balik pohon. Sesuai dengan rencana yang kami bicarakan selama perjalanan dari Quebec, kami akan mendekati kelompok itu dalam wujud manusia.
Sosok serigalaku yang sedikit lebih besar dari werewolf lain akan sangat mudah terlihat.
Setelah memakai baju sepantasnya, kami menghampiri Faust yang sudah selesai dengan segala persiapannya.
El mengulurkan jaket tambahan pada Faust. Sesaat dia terlihat ragu, tapi kemudian menerimanya walaupun masih tanpa senyum. Aku rasa suhu udara benar-benar dingin, hingga Faust bersedia mengesampingkan gengsinya, tanpa berpikir panjang.
Kami bertiga mulai berjalan pelan menuju arah sumber aroma yang aku cium. Semakin mendekat, aroma lain mulai menggangguku. Bau amis dan karat, bau darah!
Sesaat aku mual membayangkan dari mana asal aroma ini, karena tidak mungkin manusia berada di daerah sedingin ini dengan sukarela. Dengan keberadaan vampire, hal itu hanya berarti jika mereka berada disini sebagai makanan.
Dan benar, tidak lama kemudian, kami menemukan tumpukan mayat, yang membuat Faust kehilangan pengendalian diri. El benar-benar harus mencengkeramnya kuat-kuat agar dia tidak berlari menyerbu kelompok bejat itu dengan membabi buta.
Mayat-mayat itu ditumpuk secara sembarangan. Badan mereka telah kaku secara sempurna karena udara dingin, Aku masih bisa melihat sisa-sisa tetesan darah yang juga mulai membeku.
Lintah berambut itu benar-benar menjijikkan!!
Suara percakapan dan gumaman mulai jelas terdengar di telinga kami. Faust sekarang berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara, dan aku mengakui kehebatannya sekali lagi.
Minimnya suara yang dihasilkan Faust saat berjalan, menandakan banyaknya pengalaman bertarung dengan inhumane.
Kami bersembunyi di balik pohon tumbang yang telah berlubang di beberapa tempat dan mulai memata-matai gerombolan yang ada di depan kami. Jarak kami masih sekitar beberapa ratus meter. Tapi aku tidak akan mengambil resiko ketahuan jika mendekat lebih dari ini.
Aku sudah bisa melihat gerombolan itu dengan jelas dari tempat kami bersembunyi.
Mereka mengubah tanah lapang di dekat bukit berbatu menjadi tempat bermukim sementara, dan aku mengerti kenapa mereka memilih tempat ini.
Ada gua yang cukup besar menempel di bukit berbatu itu. Tidak salah lagi, tempat itulah yang menjadi sumber bau ikan mati yang sekarang memenuhi hidungku. Dan karena saat ini matahari masih bersinar di langit, vampire itu pasti masih ada di dalam.
Di luar gua, werewolf --sayangnya Egon tidak terlihat-- dan beberapa penyihir memenuhi lapangan itu. Aku dengan mudah mengenali penyihir yang ada di sana dari penampilannya.
Tidak seperti Alva yang selalu berpenampilan bersih seperti manusia normal, penyihir hitam berpenampilan menjijikkan.
Salah satu dari mereka aku lihat memakai tengkorak binatang sebagai topi di atas rambutnya yang acak-acakkan. Beberapa dari mereka bahkan memakai kalung yang terbuat dari gigi. Tentu saja tulang dan tengkorak itu adalah sisa makhluk tidak bersalah yang sudah mereka korbankan.
Penyihir hitam banyak memakai darah dan daging untuk menciptakan mantra. Karena itu aroma mereka hampir sama amisnya seperti vampire.
Aku sedikit terkejut, karena setelah menghitung dengan cermat semua inhumane yang ada di sana, Jumlah mereka jauh lebih banyak dari pada yang aku perkirakan. Tapi itu bukan masalah, aku saja cukup untuk menghadapi 5 werewolf secara bersamaan. Yang menjadi masalah adalah, para penghuni gua itu.
Suara tercekat muncul dari mulut Faust, saat beberapa sosok tubuh berjalan keluar dari hutan di depan kami. Dari aroma yang aku cium, tidak salah lagi mereka adalah manusia yang masih hidup. Melihat dari senjata yang disandang, sudah jelas mereka adalah Hunter.
Hunter pengkhianat busuk!!
Tapi ada dua kelompok dengan peran berbeda, tiga orang dari mereka adalah tawanan, karena keadaan mereka yang sangat menyedihkan. Luka dan lebam berwarna keunguan hampir merata di seluruh wajah. Dan melihat cara mereka berjalan yang aneh, aku yakin beberapa tulang di tubuh mereka telah patah.
Sedangkan sisa kelompok itu adalah pengkhianat, mereka dengan sukarela menggiring kelompok tawanan itu.
"Dom...brother!!....." desis Faust dengan suara bergetar, wajahnya yang telah memerah karena dingin, mulai memucat. Air mata yang kemudian memenuhi matanya, membuat El bergerak gelisah.
"Yang mana?" tanyaku. Akan sangat tidak menyenangkan jika kakaknya termasuk dalam golongan pengkhianat.
"Yang paling depan" bisiknya.
Oh.. syukurlah, setidaknya dia tawanan.
"Can we save him?" El bertanya dengan sangat pelan. "Mungkin, tapi itu langkah yang sangat beresiko" jawabku setelah berpikir beberapa detik.
Akan lebih mudah jika mereka memisahkannya dari rombongan, tapi rupanya mereka sedang mengadakan pertunjukan menyenangkan dengan acara utama menyiksa tawanan itu.
Di tengah-tengah kerumunan inhumane yang membentuk lingkaran, kelompok Hunter tawanan itu menjadi bulan-bulanan dan ejekan.
Rintihan tersiksa lolos dari mulut Faust, ketika melihat tendangan dan pukulan tidak manusiawi diterima oleh kakaknya dan juga kedua temannya. Butiran air mata turun di pipinya yang pucat, tapi dengan kasar dia segera menghapusnya.
El terlihat bingung. Sebelah tangannya terangkat dengan bimbang. Aku rasa dia ingin menghibur Faust, tapi ragu, karena tidak bisa menduga bagaimana reaksi Faust.
Kemudian dalam hitungan detik, semua berubah menjadi mimpi buruk!!!
Faust yang tidak tahan lagi melihat siksaan yang menimpa kakaknya, berlari dan melompat sambil menyerang gerombolan inhumane itu.
"Perempuan bodoh!!!" umpatku, kemudian memanggil wolf-ku detik itu juga.
"Hei!..." tegur El dalam kepalaku dengan nada tak suka, karena aku mengumpat pada Faust. Aku tidak akan menanggapi pikiran itu, karena keadaan sekarang benar-benar buruk!!
Gerombolan inhumane itu sesaat terkejut melihat kemunculan Faust, tapi tidak lama mereka menggeram marah dan mulai menyerang balik.
Kemampuan Faust sehebat yang dia sombongkan. Tiga werewolf tewas dalam hitungan detik dengan pistolnya. Tapi keadaannya jelas terdesak, karena sekarang hampir semua werewolf yang ada sudah bertransformasi.
Dengan pedang dan crossbow di tangannya, dia menari menebas musuh yang datang ke arahnya, tapi itu tidak akan cukup untuk melawan mereka semua.
Aku dan El menyusulnya dengan secepat kilat. Para inhumane sekali lagi terperanjat melihat kedatangan kami. Tapi hanya butuh beberapa detik, lolongan panggilan perang memenuhi udara.
Maka terjadilah, seluruh werewolf dan hunter yang ada di sana menyerang kami secara bersamaan!!
Tanpa berpikir lagi, aku menerjang wereowolf malang yang berada paling dekat denganku.
Lima---enam---tujuh werewolf terkoyak mengerikan oleh taringku. Lima werewolf tergeletak di sekeliling El.
Tapi aku masih bisa menghindar.
"Faust!!!" lengkingan peringatan diteriakkan oleh Dom, dua anak panah menancap dengan telak di punggung Faust.
F*ck!!!
Racun pada panah Hunter adalah mimpi buruk!!
Untuk inhumane yang terkena, maka hanya akan berakibat luka yang lama sembuh, tapi bagi manusia racun itu bisa berakibat fatal.
Anak panah ketiga meluncur ke arah Faust, tapi dengan sisa tenaga yang dipunyainya, Dom, melemparkan diri menghalangi panah itu mengenai Faust. Dengan telak anak panah itu menembus dada Dom.
"TIDAK!!" Jerit Faust dengan tubuh yang mulai goyah karena luka, menghampiri Dom, yang aku yakin tidak akan bisa selamat.
Dari ketiga Hunter yang di tawan, hanya tersisa satu orang yang kini memandang nanar ke arah tubuh Dom.
Pikiran El langsung menghitam dengan amarah. Dia menerjang dengan ganas hunter yang menembakkan panah itu. Dua hunter langsung terkoyak oleh gigi dan cakarnya.
Aku berusaha menerobos lautan werewolf yang terus menyerang, untuk menghampiri Faust dan juga kakaknya. Tapi El mendahuluiku.
Dibenaknya, tampak Faust menangis pilu sambil memeluk kakaknya. El terus berjuang keras mencegah agar tidak ada yang menyerang mereka.
Masih dari mata El, aku melihat bagaimana Dom dengan senyum dipaksakan, mengelus wajah Faust untuk terakhir kalinya. Kemudian mata hitamnya memandang tajam El yang sedang bertarung mati-matian melindungi Faust.
"Pergilah... se--lamat--kan dia!" ucap Dom pada El dengan tersengal.
"Tidak!!!..." Faust meraung.
Dom benar, kami harus segera pergi, jika ingin menyelamatkan Faust.
"El... bawa dia!!!" seruku, sambil merenggut baju satu-satunya Hunter yang tersisa dengan secepat kilat.
Untunglah hunter itu cerdas, begitu merasakan renggutan moncongku, dia mendorong badannya ke atas punggungku --bukan pilihan yang menyenangkan membawa manusia lain selain Bee, tapi aku akan mengabaikannya karena alasan kemanusiaan-- berusaha menunggangiku dengan benar.
Setelah berhasil, tangan dan kakinya mencengkram tubuh serigalaku dengan sekuat tenaga.
Dari benak El, aku melihatnya berhasil --karena Faust mulai kehilangan kesadarannya--membawa Faust dengan sedikit paksaan ke pungungnya.
"Ada apa ini!!" Suara melengking tinggi membuat punggungku mendingin.
Detik itu semua inhumane menoleh melihat sumber suara, beberapa ratus meter dari tempatku berdiri, di depan gua aku melihatnya!!
Crispin.... dengan wajah marah berlari menghampiri kekacauan.
Dan saat ini matahari masih bersinar hangat di atas langit...............!!
"Lari..." seruku pada El memanfaatkan kebekuan yang sejenak terjadi karena suara Crispin.
El segera mengikutiku melesat meninggalkan tempat yang sekarang penuh aroma darah itu.
Jika tidak ingat, aku sedang membawa dua manusia yang terluka parah saat ini, dengan senang hati aku akan menerkam Crispin dengan cakarku, tapi aku tidak akan mengambil keputusan bodoh seperti itu. Aku memang ingin membunuhnya, tapi tidak dengan mengorbankan makhluk lain.
Sesaat El mengalirkan rasa bangga ketika menangkap pikiranku, menurutnya aku sudah bertindak sangat luar biasa benar karena menahan amarahku untuk Crispin.
Dia memujiku dengan sederet kalimat yang tidak akan pernah aku ulangi, karena akan sangat memalukan jika Roan sampai mendengarnya.
Kami sama sekali tidak menoleh kebelakang, hanya maju berlari sekuat tenaga selama beberapa menit.
Telingaku tidak menangkap suara desiran atau hentakan di tanah.
Tidak ada yang mengejar kami. Kalaupun ada, mereka jauh di belakang, di luar jangkauan telinga tajamku.
Kecepatan lariku jarang ada yang menyamai, hanya El dan Roan yang paling mendekati kemampuanku. Itupun masih membuatnya tertinggal beberapa puluh meter di belakangku saat ini.
"Kau melihatnya? Dia berjalan di bawah matahari!!" El berkata dengan nada ngeri, ketika mengingat sosok Crispin di depan gua.
"Ya El, aku melihatnya!"
Vampire b*j*t itu berjalan di bawah matahari tanpa terbakar. Kabar yang sangat tidak menyenangkan akan kami tambahkan untuk Abel.
Tapi sekarang yang terpenting, kami harus membawa Faust dan juga hunter yang ada di punggungku ke tempat yang aman untuk mengobatinya.
"Thank you" Hunter yang ada di punggungku berbisik dengan lemah. Kesadarannya masih lumayan rupanya. Tangannya masih memeluk leherku dengan erat.
"Stop!!' El berhenti mendadak.
Faust kehilangan kesadarannya sama sekali, dia pasti akan jatuh jika kami terus berlari. Gelisah dan khawatir langsung mewarnai pikiran El.
"Tenanglah, Faust bukan Hunter biasa, dia akan baik-baik saja"
Aku harus berusaha menenangkannya.
Tubuh Faust mulai miring, dengan sigap aku menahannya dengan kaki depan, mencegahnya melorot jatuh.
"Aku bisa mengatasinya" kata Hunter yang ada di punggungku, sambil meraba-raba dalam mantel tebal di badannya.
Dia rupanya mengerti kami berhenti karena keadaan Faust. Dia mengeluarkan gulungan tali tipis berwarna cokelat dari balik mantel itu.
Aku pernah melihat gambar tali itu di buku. Itu adalah tali khusus yang dibawa hunter untuk mengikat inhumane. Sangat kuat, karena bisa menahan kekuatan werewolf dewasa. Inhumane yang menawannya pasti melewatkan tali itu, karena menganggapnya tidak berguna, walaupun mereka mengambil senjatanya yang lain.
Setelah perjuangan untuk mengatasi rasa sakit dari lukanya, dia akhirnya berhasil turun dari punggungku. El yang melihatnya segera menekuk kakinya, karena tinggi hunter itu tak bisa menjangkau Faust.
Dengan cekatan dia mengikat tangan Faust menjadi satu mengalungi leher El. Jalinan simpul rumit dibuatnya dengan waktu beberapa menit mengelilingi tubuh Faust dan perut El. Bukan pengaman yang memadai seperti sabuk pengaman, tapi kami akan akan bisa berlari lagi.
Kami akan terus berlari menyusuri hutan hingga mencapai bandara di Lavrentiya tempat pilot itu berada.
Aku tidak tahu dimana letaknya, tapi aku akan melacak aroma pilot itu sesampainya di sana. Pekerjaan yang tidak terlalu menantang untukku.
Selain karena kota itu kecil, aroma pilot itu tercium seperti kaos kaki basah yang tidak pernah dicuci selama bertahun-tahun. Tidak akan ada banyak manusia yang bisa menyamai aroma seperti itu.
Dari sana aku juga akan meminta Uncle Rex untuk mengirim penerbangan dengan jet pribadi Monath ke Sheremetyevo . Kami tidak akan punya waktu untuk mengurus dokumen Faust yang pingsan jika harus naik penerbangan komersil.
----------- *0o0*----------
"Stop!!..." kataku, sambil berusaha mencegah tangan itu menyentuh punggungku lagi.
Aku seharusnya menikmati pijatan spa dan juga lulur. Tapi aku tidak tahan, karena bahan yang dipakainya sedikit kasar, sehingga membuat punggungku geli setiap kali Julie menyentuhnya.
Myra yang terbaring di sebelahku, berkali-kali tertawa geli melihat kecanggunganku menerima perawatan kecantikan ini.
Begitu Duke pergi dari Blackmoon 4 hari yang lalu, Myra menghujaniku dengan kegiatan persiapan pernikahan.
Kami memesan baju pengantin kilat yang membuat penjahit di pack nyaris menangis putus asa, kemudian memilih makanan dan minuman yang akan dihidangkan. Dan tentu saja perawatan tubuh seperti saat ini.
Aku sama sekali pasrah dengan semua keinginan Myra dan juga Charlie tentu saja.
Charlie tidak ada disini, tapi bukan berarti dia menyerah berusaha ikut campur dalam persiapan pernikahanku.
Myra dan Charlie melakukan semua kegiatan persiapan ini melalui video call panjang. Membuat Myra menjadi terlihat seperti Oscar yang sedang bekerja, menenteng ponselnya kemanapun dengan mata yang tidak pernah lepas dari layar.
Mereka dengan ramai membahas semua detail dan juga pernak-pernik yang akan pakai nanti.
Melihat mereka yang sangat bersemangat 'berdiskusi', aku sampai berharap tower pemancar di bukit belakang pack tersambar petir. Dengan begitu, setidaknya mereka akan berhenti berdebat selama beberapa saat, karena absennya sinyal ponsel.
Menyerah mencoba menggosok punggungku, Julie akhirnya menyudahi acara spa hari ini. Dengan sopan dia mengantarku berbilas di pemandian air hangat.
Dari semua kegiatanku beberapa hari ini, berendam di air hangat adalah kegiatan favoritku. Myra masih sambil berbicara dengan Charlie di ponselnya, memasuki jacuzzi yang sama denganku.
Myra beberapa kali tertawa geli mendengar cerita Charlie.
Tapi dari semua senyum dan semangat yang ditunjukkan oleh Myra, beberapa kali aku bisa melihat kilasan rasa khawatir yang timbul di matanya. Aku rasa itu karena Duke.
Dari nada bicara Duke saat berpamitan denganku, aku tahu dia pergi untuk melakukan sesuatu yang berbahaya. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak membayangkan apa sebenarnya dilakukan Duke di luar sana.
Pikiran itu selalu mengganggu tidur malamku. Aku mulai bermimpi buruk beberapa hari ini.
Sedikit berbeda dengan mimpi burukku yang dulu, aku bisa mengingat semua mimpi itu. Dan semuanya sama, berisi darah dan juga Duke.
Mimpi itu membuatku sangat gelisah ketika bangun.
"Tunggu! Kau tidak bisa masuk sembarangan" seruan di pintu membuat aku dan Myra berpandangan heran.
Ternayta itu Tita, yang masuk sambil terengah. "Scion telah kembali, Zhena"
Bahagia dan lega menyelimuti hatiku dengan seketika.
"Oh.. sudah waktunya!" Myra berjalan keluar tanpa mempedulikan ketelanjangannya di depan Tita dan juga pegawai salon.
Tita meraih jubah mandi di sebelah jacuzzi dan menyerahkannya pada Myra yang segera dipakai olehnya. "Di mana mereka?" tanyanya, pada Tita.
"Rumah sakit" jawaban Tita menyambarku bagai sengatan listrik. Mimpi burukku kembali ke dalam benakku saat itu juga.
Tanpa ragu, aku berdiri dan mendahului Myra keluar dari ruangan. Tapi Tita menyambarku sambil menyelimutkan jubah mandi ke tubuhku.
Oh... benar, aku juga harus memakai baju sebelum keluar dari salon ini.
----------- *0o0*----------
"Daya tahan tubuhnya sangat luar biasa mengingat dia adalah manusia. Racun itu tidak mengenai organ penting tubuhnya karena menyebar sangat pelan. Ini mengherankan!" kata Dr. Sidra sambil menggosok dagunya bingung.
"Tapi itu hal yang menggembirakan bukan?" ujarku.
"Tentu saja, Scion. Hal itu yang membuatnya tetap hidup sampai sekarang. Setelah obat yang saya berikan bereaksi, racunnya akan keluar melalui muntahan darah ketika dia sadar nanti, dan setelah itu dia akan sembuh. Membutuhkan waktu yang sedikit lama, tapi akan sembuh"
Aku mengangguk mengerti mendengar penjelasan lanjutan itu.
Kabar yang melegakan, aku akan merasa sangat bersalah jika Faust meninggal saat bersamaku. Dia manusia yang menyebalkan, tapi dia cucu Abel. Aku berkewajiban menjaganya mengingat hubungannya dengan ayahku.APalagi setelah apa yang terjadi pada Dom.
Dan aku tidak akan baik-baik saja jika El sampai kehilangan Faust.
Saat ini, El masih dengan setia menunggui Faust di kamarnya. Dia menolak usulan Dr. Sidra yang memintanya untuk beristirahat.
Bisa dimengerti, aku juga akan mengabaikan nasehat seperti itu jika Bee dalam keadaan yang sama.
Dr Sidra meninggalkan aku berdiri di lorong rumah sakit. Kamar perawatan Faust berada di tempat paling terpencil di rumah sakit, untuk menghindari banyaknya pertanyaan yang muncul karena kehadiran Hunter di sini. Tapi aku senang, karena tidak harus meminta ramuan lagi pada Alva untuk menyembunyikan aroma Faust.
Saat ini hanya 3 orang yang tahu aku membawa Hunter ke dalam pack, yaitu aku, El dan juga Dr. Sidra. Dan aku akan memastikan jumlah itu tidak bertambah dalam waktu dekat.
Aku membawa Faust langsung ke Blackmoon, karena di sini dia akan mendapatkan pertolongan dengan lebih cepat. Aku sudah memberi tahu Abel dan dia memutuskan bahwa ideku lebih bagus.
Dia harus menjelaskan dengan detail tentang asal luka Faust jika dia membawanya ke markas Hunter. Dan karena misi pengintaian ini adalah rahasia, Abel tidak akan bisa menjelaskannya.
Di sini, selama tidak ada Elder yang tahu keberadaan Faust, dia bisa menyembuhkan diri dengan tenang.
Abel sangat terpukul mendengar Dom masih hidup, tapi kemudian meninggal karena menyelamatkan Faust.
Dia berterima kasih dengan suara serak karena berhasil membawa Faust pulang, kemudian memutuskan panggilan telepon untuk berduka.
Untuk Hunter yang satu lagi, aku meninggalkannya di Quebec bersama Uncle Rex. Dia akan baik-baik saja di rumah sakit manusia. Luka yang dideritanya lumayan parah, tapi lumrah terjadi pada manusia, tidak memerlukan perawatan maupun obat khusus seperti Faust.
"Duke!!!" seruan lega membahana di lorong tempatku berdiri.
Aku tersenyum melihat siapa yang datang. Bee berlari, kemudian menyergapku dengan pelukan hangatnya.
Yeah... I miss her already.
Tidak ada lagi yang lebih membuatku bahagia selain hal seperti ini. Bee tidak melepaskan pelukannya selama beberapa saat, dia justru mempereratnya.
"I'm glad you're fine" bisiknya. Aku tersenyum dan mengangkatnya sehingga aku bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"Duke!!" pekiknya, panik. Tapi aku tidak menghiraukannya.
"Ada apa?" tanyaku melihat matanya memerah, meski tidak ada air mata di sana.
Bee menggelengkan kepala berkuncirnya. "Aku hanya lega kau kembali dengan selamat" katanya sambil tersenyum manis.
Ughh..... itu berbahaya!
Aku mencakup wajahnya dengan satu tanganku, tapi deheman di belakang Bee membatalkan niatku untuk menciumnya. Mom berdiri sambil menggelengkan kepala melihat kami.
"Aku tidak melihatmu di sana Mom" kataku, sambil menurunkan Bee yang telah menunduk malu.
Aku memeluk Mom sebentar, yang dibalas dengan memberi tepukan di punggung.
"Aku senang kau baik-baik saja" katanya sambil mengusap luka di lenganku yang telah terbalut perban.
Bee yang baru melihat luka itu, mengelusnya sambil memandangku khawatir.
"Hanya luka ringan Bee, aku akan sembuh dalam beberapa hari" jelasku sambil mengelus kepalanya. Aku hanya terluka karena cakaran werewolf.
"Siapa dia?" Mom melongok ke dalam kamar di belakangku melalui celah di pintu yang masih setengah terbuka.
"Faust, Hunter yang mendampingi kami kemarin, dan dia cucu Abel"
Mata Mom membulat mendengar penjelasanku.
"Benarkah? Dia tidak apa-apa bukan?" tanyanya lagi.
"Terluka terkena panah Hunter lain, tapi akan sembuh"
"Syukurlah, aku tidak tahu harus berkata apa pada Abel jika dia harus kehilangan cucunya juga" Mom menghembuskan nafas lega.
"Kenapa El berada di dalam? Dan kenapa dia gelisah sekali?" pertanyaan Bee memutus niatku untuk bertanya lebih lanjut tentang perkataan Mom soal Abel.
Bee mengikuti Mom melongok ke dalam kamar.
"El saat ini sedang berusaha agar dia adalah orang pertama yang dilihat oleh Faust saat dia bangun nanti, dengan begitu setidaknya Faust akan mengajaknya berkenalan" terangku, dibawah pelototan kesal El.
Dia mendengar pertanyaan Bee, dan melihatku untuk mendengar apa jawabannya. Dia tidak menyukai jawaban dariku tentu saja.
"Itu kabar yang menggembirakan El, aku harap semua lancar" Mom memberi senyuman pada El sambil melambai ke dalam, ia langsung menangkap maksud tersirat dari kalimatku tadi.
El mengangguk sopan, tapi dia melirikku dengan mata marah setelahnya.
"Oh.. ayolah, Mom dan juga Roan akan langsung tahu begitu aku bertransformasi, kau tidak akan bisa menyembunyikannya"
Menurutku mencintai seseorang bukan hal yang harus disembunyikan. Tapi jika mengingat Roan, aku rasa El memang perlu menyembunyikannya. Aku bisa membayangkan ejekkan macam apa yang akan dilontarkan Roan padanya.
"I don't understand, apa maksudmu?" Bee bertanya dengan wajah bingung memandang kami bertiga bergantian.
Aku menggandeng tangannya sambil berjalan meninggalkan lorong itu keluar dari rumah sakit.
"Aku akan menjelaskan nanti" ujarku sambil menariknya lebih dekat.
Bee tentu membutuhkan penjelasan yang sedikit lebih panjang untuk mengerti.
*Keju Vieux Boulogne : keju dengan bau paling menyengat di seluruh dunia