Finding You, Again

Finding You, Again
Us 31 - Guest and Rehearsal



"Aku tidak akan memberi insignia pada Bee di depan umum, jangan bercanda!" seruku, marah pada Elder Camille.


"Tapi itu suatu keharusan bagi Alpha, Scion!" bantahnya, keras kepala.


Tradisi pemberian insignia, disimbolkan sebagai wujud pengikatan Zhena pada pack, terutama untuk Bee yang berasal dari luar Blackmoon.


Bahkan saat Zhena berasal dari Blackmoon, pemberian insignia pada penobatan Alpha, tetap suatu keharusan. Karena bagi Alpha, pemberian insignia merupakan simbol penyatuan Zhena dan Alpha.


Sebab itulah, ayahku memberi peringatan keras saat aku beranjak remaja. Seliar apapun ketika instingku mengambil alih, aku harus tetap menahan diri untuk tidak menandai siewolf manapun.


Dan aku telah menjalankannya dengan penuh ketaatan sampai saat ini.


Aku tidak pernah mendekati wanita manapun sampai batas yang mengharuskanku untuk menahan diri. Menjadi scion banyak memberimu kemudahan, tapi kesulitannya tidak kalah banyak.


Aku mengerti dengan baik tujuan pemberian insignia itu, tapi tetap saja aku tidak berencana melakukannya di depan umum.


Insignia untuk Zhena berbeda dengan apa yang diberikan Alpha kepada stray.


Insignia pada stray membutuhkan proses panjang, yang melibatkan pertarungan, pembuatan tato api Blackmoon dan juga darah.


Untuk Zhena tidak akan terlalu menyakitkan, karena luka yang timbul biasanya hanya berupa goresan kecil di bagian bahu kanan Zhena yang akan dibuat oleh Alpa taring, kemudian Alpha memasukkan darah ke dalam tubuh Zhena, dan selesai.


Setelah berubah menjadi manusia, luka itu akan langsung sembuh dan dengan otomatis membentuk tanda seperti tato bulan sabit berwarna hitam, sama seperti tato api para stray. Dari situlah nama asal pack ini, Blackmoon pack.


"Kau tahu luka itu tidak berbahaya, racunmu akan dilemahkan Scion. Luka Ms. Delmora tidak akan fatal" Elder Firmo menjelaskan dengan lebih pelan.


Aku tahu itu!


Sebelum prosesi itu berlangsung, Alpha memang akan meminum ramuan --dengan resep asli dari nenek moyang werewolf, bukan dari penyihir seperti Alva-- yang melemahkan racun pada taring dan juga cakar untuk beberapa saat. Sehingga walaupun aku menandai Bee, luka itu akan menutup seperti luka biasa.


Pada werewolf luka itu akan langsung sembuh, tapi untuk Bee, kecepatan penyembuhannya aku rasa akan normal.


"Aku baik-baik saja, kau boleh melakukannya" Bee mencicit pelan dari sebelahku, dengan wajah pucat dan pasrah.


Dari kemarin sia sudah khawatir, jika status manusianya akan membuat acara sedikit terganggu. Karena itu kami melakukan rehearsal upacara penobatan dan pernikahan, yang akan dilaksanakan esok hari.


Untuk persiapan upacara pernikahan tadi berjalan cukup lancar, tapi untuk penobatan ini aku sedikit kesal karena Elder Camille bersikeras aku menandai Bee di depan umum.


"Bukan itu masalahnya Bee! Aku hanya tidak ingin memperlihatkan tubuhmu pada warga pac!" ujarku, mencoba untuk bersabar.


Proses pemberian insignia tentu saja akan membuat Bee harus memperlihatkan porsi bahu yang cukup lumayan besar pada seluruh warga pack.


"Tunggu!! Maksudmu kau keberatan bukan karena Lui akan terluka, tapi karena Lui harus membuka bahunya di depan umum?" Uncle Rex menyahut tidak  percaya.


"Tentu saja!" jawabku cepat.


Jika sebelum ini, Alpha dan Zhena dengan mudah melakukan hal itu di depan umum, karena semua tubuhnya tertutup bulu yang lebat.


Tapi Bee akan tetap berwujud manusia saat itu.


Apa yang membuat mereka berpikir aku akan rela jika bahu Bee dilihat oleh khalayak ramai padahal aku sama sekali belum pernah melihatnya?


Mom yang berada di belakang Elder Camille berusaha dengan keras menahan tawanya sekarang. Di belakangku aku mendengar dengusan Roan, yang aku yakin dia juga sedang menahan tawa, tapi wajah Elder Camille tidak berubah mendengar jawabanku.


"Tapi kau menyetujui hal ini dengan mudah kemarin dulu!" desisnya jengkel.


"Kapan?" tanyaku sangsi. Tidak mungkin aku menyetujui usulan absurd seperti ini.


"Kita sudah melakukan pembicaraan ini setelah acara Brawl kemarin Scion, sebelum kau jatuh sakit. Kau mengangguk dengan pasti saat aku mengemukakan rencana ini!!" bentaknya.


What the f*ck?!!


Apakah dia sedang membicarakan saat aku menghadiri pertemuan dengan mereka, dalam keadaan setengah mati itu?


Tiba-tiba aku ingat bagaimana El memandangku dengan wajah iba saat aku menyetujui sesuatu tanpa mendengarnya. Apakah hal ini yang aku setujui?


Aku ingin sekali bertanya pada El, tapi dia sedang berada di rumah sakit bersama Faust. Dia seharusnya ada di sini, tapi aku memberi alasan jika El sedang terluka karena misi kami kemarin.


Dan mereka mempercayainya dengan mudah. Masih ada luka cakaran memanjang di tanganku, yang kini tidak lagi di perban, karena sudah hampir menutup.


Uncle Rex yang berdiri di sebelah Mom, memberiku isyarat anggukan samar dengan kepalanya.


**!! Aku benar-benar telah menyetujui hal ini ternyata.


"Bagaimana jika kau melakukannya sambil menutupi Lui dengan tubuhmu, jadi Lui tidak akan terlihat? Tubuh besarmu akan menutupi tubuhnya dengan sempurna aku rasa" usul Mom, masih dengan senyum geli.


Tangan Mom mencoba memperagakan posisi yang dimaksud, dengan lebih detail.


"Kau tidak keberatan bukan?" Mom bertanya pada Bee, yang warna wajahnya telah berubah memerah melihat peragaan dari Mom.


"Tentu saja, saya tidak keberatan dengan semua itu" jawab Bee, sambil menunduk.


"Nah -- semua beres kalau begitu!!" seru Elder Firmo sambil bertepuk tangan sekali karena puas.


Elder Camille juga tidak lagi membantah. Dia akhirnya beranjak dan memberi pengumuman, jika acara rehearsal ini selesai.


Pemberian insignia adalah acara terakhir dalam prosesi itu, setelah itu biasanya Alpha dan Zhena akan pergi selama beberapa hari, untuk ----'you know what'.


Tentu saja aku akan melakukan hal yang sama, aku akan membawa pergi Bee, jauh dari gangguan apapun. Bee tidak tahu soal ini,dan aku tetap akan merahasiakannya sebagai kejutan.


Bee menggosokkan kedua tangannya dengan pelan di sebelahku.


"Kau lelah? Aku akan mengantarkanmu ke Manor"  Aku meraih tangan Bee terbungkus sarung tangan tebal, untuk memerangi udara pack yang semakin menggigit.


Bee menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaanku "Tidak Duke, aku hanya lega"


"Maaf, Elder Camille pasti menakutimu tadi" sesalku, Bee harus mendengar bentakan wanita es itu sedari tadi.


"Sedikit, tapi aku mengerti. Dia orang yang sangat tegas"


"Tegas adalah kata termanis yang pernah aku dengar tentang dirinya. Aku mengasosiasikan Camille dengan kata menyebalkan dan jahat" dengusku dalam gumanan di telinga Bee.


Aku harus berhati-hati karena Elder Camille masih berada di bawah tenda. Bee tersenyum kecil sambil mencubit lenganku, memperingatkan agar aku menjaga perkataan.


Aku sudah memberikan penjelasan mengenai macam-macam strata yang ada di pack ini kemarin. Dan Bee belajar cukup cepat, dia tahu apa masalah yang akan aku hadapi jika bertindak kurang ajar pada Elder.


Acara penobatan dan juga pernikahan akan dilakukan di luar ruangan, yaitu di lapangan tempat berlangsungnya Brawl kemarin.


Tapi tempat itu tidak bisa dikenali lagi, tenda raksasa berwarna hijau pastel menutupi seluruh atap lapangan yang biasanya membuka langsung ke langit.


Hiasan bunga, lampu, dan juga tanaman rambat memenuhi setiap sudut lapangan. Pagar pembatas besi di tepi lapangan berselimutkan kain serta lampu biru putih seakan membentuk ombak berkilauan.


Tribun yang menjadi tempat Bee berada saat menonton Brawl juga sudah dibongkar, untuk menampakkan area yang akan menjadi titik pusat acara pernikahan dan penobatan berlangsung.


Tribun yang sejak awal didesain untuk bisa di bongkar pasang itu, menutupi sebatang tunggul pohon tua yang berukuran luar biasa besar. Di atas tunggul pohon itulah, aku dan Bee akan melakukan segala keruwetan upacara besok.


Tunggul pohon itu hanya setinggi tiga puluh senti dari tanah, tapi diameternya mencapai sepuluh meter lebih dengan beberapa akar menonjol di sekitarnya.


Melihat jumlah lingkaran umur yang terlukis alami di permukaannya, bisa aku tebak pohon itu sudah sangat-sangat tua, sebelum akhirnya mati. Kini tunggul pohon itu sudah di rawat sedemikian rupa sehingga menjadi rata dan juga sangat keras, hingga tak akan lapuk oleh cuaca.


Tentu saja di atas tunggul pohon itu juga penuh dengan hiasan.


Berpuluh-puluh untaian bunga kecil yang di dominasi warna pink menjuntai memayungi altar dengan warna lembut.


Aku heran dari mana Mom bisa mendapatkan bunga mekar sebanyak itu dalam waktu singkat? Saat ini hanya ada salju diluar sana.


Belum lagi dedaunan hijau yang menghiasi latar belakang altar, Mom menyusunnya menjadi gerbang setengah lingkaran dengan selipan bunga mawar di sela-selanya.


Tempat ini tidak terlihat seperti Kanada di musim dingin, jika tidak melihat tumpukan salju yang berada hanya beberapa meter dari mulut tenda.


"Kalian pulanglah ke Manor terlebih dahulu, Aku dan Rex harus menyelesaikan beberapa hal" Mom berseru dari sudut lapangan. Sementara tangannya sibuk menuliskan sesuatu di kertas yang di bawa Uncle Rex.


"Aku akan ke rumah sakit menjenguk El" kataku, Mom melambai mengerti.


"Kau mau ikut?' tanyaku pada Bee.


Bee mengangguk dengan bersemangat, "Aku ingin bertemu--"


Aku menutup mulut Bee dengan jariku, nama Faust tidak untuk dikatakan di tempat umum.


"Oh... maaf, aku lupa" Bee menutup mulut dengan tangannya.


"Aku ikut!" Roan menyahut sambil membuang buket bunga di tangannya ke meja. Wajahnya sangat bosan.


Dia akan menjadi pendamping perempuan bagi Bee saat pernikahan nanti, karena itu dia berdiri membawa buket sedari tadi.


"Baik, tapi kau tidak boleh menyiksa El dengan ejekkan kejam yang biasa" Aku mengajukan syarat itu, karena El tidak perlu mendengar kata-kata yang akan memadamkan semangatnya saat ini.


"Aku tidak pernah mengejek dengan kejam" sahut Roan ringan, sambil berjalan menuju mobil.


Ya--tanyakan itu pada seluruh warga pack, mereka semua akan berkata lebih sering mendengar Roan mengejek dari pada melolong


 


----------- *0o0*----------


Dengan mengendarai mobil mini yang biasa, kami bertiga sampai di rumah sakit dalam waktu 10 menit


Keadaan rumah sakit cukup sepi, hanya ada beberapa perawat di depan. Mereka berdiri seketika ketika melihat kami datang.


"Scion.. " sapa mereka dengan hormat. Duke hanya membalasnya dengan lambaian. Dia terus berjalan masuk menuju kamar yang ditempati Faust.


Di sana ada Dr. Sidra, yang rupanya sedang melakukan perawatan pada gadis itu. Wajahnya sangat pucat, dan di lantai terdapat wadah mangkuk penuh darah.


Apakah dia baru saja memuntahkan darah? Dengan pelan, aku melangkah bersembunyi di belakang punggung Duke. Aku masih tidak tahan melihat ceceran darah dari dekat.


El berdiri tidak jauh dari ranjang, dengan wajah tidak kalah pucat dari gadis itu.


"Hmm.. Kemajuanmu pesat sekali. Apakah kau melatih kekebalan tubuhmu dari racun? " tanya Dr. Sidra pada Faust. Dia menjawab dengan anggukan.


"Pantas saja, aku sudah cukup heran kau bisa bertahan begitu lama setelah terluka. Orang biasa akan mati dalam waktu kurang lebih 3 jam karena racun itu" jelas Dr. Sidra panjang lebar.


Aku menatap wajah El yang mengeras karena membayangkan semua perkataan Dr. Sidra. Dia pasti akan sangat terpukul jika hal itu benar-benar terjadi.


Duke sudah menceritakan padaku bahwa Faust adalah Hunter, manusia dengan kemampuan terlatih yang bertugas melawan inhumane.


Aku sedikit cemas mendengar penjelasan Duke saat itu, karena bukankah berarti werewolf dan hunter bermusuhan? Tapi Duke kemudian menjelaskan, werewolf dan Hunter sudah memiliki perjanjian untuk tidak saling mengganggu. Penjelasan yang membuang rasa khawatirku.


Dr. Sidra berpamitan keluar setelah membereskan segala kekacauan yang ada di kamar itu.


Saat itu aku baru sadar, sedari tadi Faust memandangiku.


"Hai...!" sapaku, sambil melambaikan tangan, memecah rasa canggung yang aku rasakan akibat pandangan matanya itu. Aku sebenarnya malu harus memperkenalkan diri seperti ini.


Tapi dia tidak menjawab, masih memandangku dengan cermat. "Tak bisakah kau bersikap lebih sopan?!" Duke menegurnya pelan.


"Kau manusia!" katanya mengabaikan teguran Duke. "Apa yang kau lakukan di pack werewolf?" tambahnya dengan wajah berkerut masam.


"Eh..." Aku tidak tahu harus mulai dari mana menjelaskan keberadaanku di sini. .


"She's my fiance. Kami akan menikah besok" jelas Duke membantuku.


"Are you insane?" katanya padaku, dengan wajah garang.


Aku menggeleng keras. Aku mengerti kenapa dia berkata seperti itu. Peringatan Myra tentang beratnya orang lain untuk menerima hubunganku dengan Duke adalah fakta.


"Aku tidak gila, tapi aku mencintainya. Karena itu kami akan menikah" jawabku tenang dan tegas.


Semenjak percakapanku dengan Myra tempo hari itu, aku sudah bertekad akan melawan semua pandangan negatif yang akan muncul. Bantahan itu sudah aku siapkan jauh-jauh hari.


"Aku rasa itu sudah menjawab rasa penasaranmu" Duke menyahut dengan cengiran lebar.


Roan melihatku dengan mata melebar, dan kemudian memberi acungan jempol karena keberanianku.


"Kau Scion, dan kau ingin mengambil Zhena dari kalangan manusia?" tanya Faust pada Duke, masih dengan wajah gusar.


"Ya, aku akan menjalani penobatan Alpha setelah pernikahan. Kami akan menjadi Alpha dan Zhena yang resmi untuk pack ini" jawab Duke, penuh nada perlawanan.


"Kalian berdua yang gila berarti" kata Faust sambil menunjuk kami berdua.


"Hentikan!!" El tiba-tiba menghardik Faust. "Kau tidak berhak mengatakan hal itu pada mereka Faust, kau tidak tahu apa yang telah dilalui oleh mereka" lanjutnya, memandang Faust dengan mata tajam.


Faust terlihat terkejut melihat El menegurnya dengan sedikit keras. Namun Faust tidak melawannya.


Mata Faust kembali beralih padaku. "Baik, aku akan mengubah pertanyaan. Apa yang membuatmu bisa mencintai makhluk bar-bar seperti dia?"


"Duke pria yang baik, lembut dan juga sangat perhatian. Itu alasan yang cukup mewakili, karena masih banyak alasan yang lain" jawabku cepat.


Aku belum mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan ini, tapi aku tak suka caranya menilai Duke, maka aku menerangkannya dengan sangat jelas. Duke memang memiliki sisi werewolf yang membuatnya sedikit liar, tapi dia tidak bar-bar.


Roan yang berdiri di dekat jendela mengeluarkan suara seperti orang yang tersedak.


"Baik?! Lembut?! Kau sedang membicarakan siapa Lui?" Roan bertanya dengan nada luar biasa heran, dan mata yang melotot.


"Bisakah kau diam?" Desis Duke, tidak terima dengan bantahan Roan. Aku bisa melihat senyuman di sudut bibirnya.


Apa aku memujinya dengan berlebihan? Tapi aku rasa tidak, aku hanya mengemukakan fakta yang aku tahu. Tapi jelas wajah Duke berubah menjadi sangat cerah, setelah mendengar semua itu.


"Dia hanya bersikap baik padamu Lui, padahal dia bersikap kejam pada yang lain" Roan mengejek Duke dengan cengiran kurang ajar.


Aku sekarang tersenyum geli, karena Duke menutup kedua telingaku dengan tangannya, berusaha memblokir kata-kata Roan.


"Jangan mengatakan hal yang beracun seperti itu pada Bee, atau aku akan membuatmu menyesal" ancam Duke sambil menatap marah pada Roan.


"Kau lihat Lui, bahkan dia mengancam untuk membunuhku hanya karena lelucon" Akting Roan menjadi orang yang tertindas sangat meyakinkan.


Aku benar-benar yakin dia bisa menjadi aktris sekarang.


"Aku tidak akan membunuhnya, percayalah" Duke memandangku dengan tatapan memelas tapi masih dengan bibir tersenyum, memohon agar aku mengabaikan perkataan Roan.


"Hmm.... benarkah itu Roan? Aku sama sekali tidak tahu tentang ini. Apakah menurutmu aku harus membatalkan pernikahan kami?" tanyaku sambil berpura-pura berpikir serius.


"Jangan mengatakan hal mengerikan seperti itu Bee, ayolah----Kau hanya bercanda bukan?" Nada suara Duke berubah menjadi merajuk.


Wajahnya mulai kehilangan senyum. Mungkin aku sedikit keterlaluan.


"Tentu saja aku bercanda" jawabku cepat sambil tertawa geli.


Aku mengusap wajah Duke pelan, meyakinkan semua itu hanyalah lelucon murahan.


Senyum lebar kembali menghiasi wajah itu.


"Uggh..Excessive skinship! Simpan itu untuk malam pertama kalian" Roan sekarang melihat kami dengan wajah mual.


Aku berusaha sekuat tenaga, agar wajahku tidak memerah. Tapi tentu saja gagal, aku bisa merasakan sekeliling leherku mulai menghangat.


Duke tertawa sambil menatapku. "Hal inilah yang membuat Roan tidak bisa berhenti menggodamu, kau terlalu mudah dibaca Bee" katanya sambil mengelus pipiku.


"Kau juga sama" gerutuku pelan. Selain Roan, dia yang paling sering menggodaku. Duke tertawa semakin keras mendengar gumamanku.


"Aku sama sekali tidak bermaksud mengganggu saat-saat manis kalian, tapi apa sebenarnya tujuan kalian kesini?" El bertanya dengan nada yang sangat santun, tapi berkebalikan dengan wajahnya yang terlihat jengkel.


"Ah benar-- aku hanya ingin tahu bagaimana keadaannya. Tapi melihat rentetan pertanyaannya tadi, aku rasa dia sudah cukup sehat" Duke menunjuk Faust yang sekarang duduk bersandar di ranjang, bergantian memandangku dan Duke.


"Aku akan mengabarkan pada Abel. Dan aku sudah memberitahunya soal kakakmu" tambah Duke.


Faust hanya mengangguk pelan mendengar hal itu.


"Hai.... perkenalkan, aku Roan" kata Roan langsung, sambil menyodorkan tangannya pada Faust.


"Faustina Franklyn" Jawabnya pendek, sesaat melihat tangan Roan dengan ragu, tapi kemudian menyambutnya. Walaupun hanya sekilas.


"Itu kemajuan yang cukup lumayan" Duke berkomentar melihat jabat tangan itu.


"Apa maksudmu?" tanya El.


"Dulu Abel harus memaksanya agar mau berjabat tangan denganku" jawab Duke.


"Itu karena kau adalah inhumane dan juga pria. Aku membenci keduanya!!" tatapan penasaran Faust sekarang berubah menjadi dingin dan jauh.


Apa yang terjadi padanya? Kebencian di matanya terlihat sangat dalam.


Aku melirik El yang terperangah mendengar perkataan Faust. Perjuangan El tidak akan mudah. Perasaan benci sebesar itu akan membutuhkan usaha yang sangat besar untuk menghilangkannya.


"Syukurlah---setidaknya perasaan itu mutual. Aku tidak punya keinginan sedikitpun untuk menjadi akrab denganmu" Duke menjawab dengan enteng pernyataan perang dari Faust.


Aku bisa melihat wajah El yang terlihat semakin mengenaskan sekarang.


"Baiklah, lebih baik kita pergi sekarang Bee, aku tidak ingin mengganggunya" nada suara Duke sopan tetapi sinis.


"Glad to hear that" Faust menyahut dengan dingin.


Aku yang bingung harus bersikap bagaimana dalam keadaan seperti itu akhirnya melambai pelan dan menyerah pada tarikan tangan Duke yang membawaku keluar kamar.


"Wanita yang sangat sulit" Roan berkata pelan saat kami berjalan keluar dari rumah sakit.


"Ada sesuatu hal yang membuatnya terluka, dan akan sangat sulit menyembuhkannya. El memilih jalan berbatu untuk cintanya" Duke menimpali dengan wajah khawatir.


Dia memikirkan El, yang pasti sedang kalut sekarang.


"Ya, padahal aku berharap dia akan memilih seseorang yang lebih 'mudah' setelah semua yang dialaminya" Roan juga bernada berat dan serius, menghilang sudah sikap jahil dan kerasnya. Roan juga pasti sangat khawatir pada El.


"Tapi kita semua tahu, ciinta tidak pernah bisa diduga" Duke menyahut dengan tegas sambil mengeratkan genggamannya di tanganku.


Aku tersenyum kecil, karena pernyataan itu sangat benar.


Seperti kata Oscar, Zeno adalah pilihan yang lebih aman untukku, tapi aku jatuh cinta pada Duke yang bukan manusia. Aku sangat mengerti kekhawatiran Oscar, tapi aku tidak akan menyerah atau menyesali pilihanku.


Pikiran itu perlahan menyadarkan aku akan sesuatu.


Aku terlalu bergantung pada Oscar. Seumur hidupku, aku terbiasa dengan semua hal yang di berikan Oscar padaku. Dia hampir tidak pernah marah padaku, dia mendengar semua ceritaku tanpa mengeluh, dia selalu ada dimanapun aku membutuhkannya.


Sebelum bertemu Jovi, aku mengira sikap Oscar adalah sikap yang umum untuk seorang saudara. tapi dari cerita Jovi tentang saudara-saudaranya aku menyadari bahwa Oscar sangat luar biasa.


Dia tidak pernah mengeluh di hadapanku. Dan sekarang aku kembali membuatnya khawatir dengan segala masalah dengan inhumane ini.


Maafkan aku Oscar, aku berjanji akan bersikap lebih baik padamu setelah ini, batinku.


Seorang omega menghampiri kami begitu keluar di halaman rumah sakit. Dia menunduk hormat kemudian melapor "Scion, tamu dari Zhena sudah datang" katanya.


"Oscar!" pekikku dengan bahagia. Bagaimana bisa waktunya sangat tepat? Aku baru saja memikirkannya.


Dia adalah satu-satunya manusia yang diijinkan untuk datang ke acara pernikahanku besok.


Seharusnya dia datang sebelum rehearsal tadi, tapi ada jadwal yang tidak bisa dia batalkannya. Aku menarik tangan Duke dengan bersemangat agar lebih cepat melangkah ke arah mobil.


Roan tiba-tiba tertawa geli, "Kau harus mengatur raut wajahmu Duke, kau terlihat masam sekali" katanya.


Aku tahu Oscar masih menyiksa Duke karena berani melamarku secepat ini, jadi aku mengerti keengganannya bertemu Oscar.


"Dia selalu berhasil menekan tombol amarahku di tempat yang tepat" ujar Duke dengan kesal.


Sampai sekarang aku masih belum mengerti penyebab pertengkaran aneh antara Oscar dan Duke.


Roan mengerutkan wajah dengan penasaran "Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya, sangat jarang ada orang yang masih hidup setelah membuatmu marah"


"Ceehh!!--- kau selalu membuatku marah, dan kau masih hidup sampai sekarang!" balas Duke sambil menaiki mobil,


Roan kembali tertawa mendengarnya.


"Kau tak ikut?" Duke bertanya, karena melihat Roan hanya berdiri di luar mobil. Roan menggeleng sambil mendesah kesal.


"Aku harus mencoba gaunku untuk acara besok, aku menyuruh mereka merombaknya, karena gaun itu terlihat mengerikan kemarin" Roan bergidik saat mengatakan hal itu.


Aku tertawa geli, mengingat amarah Roan saat melihat gaun pendampingnya.


Menurutku gaun ungu itu lumayan. Tapi Myra dan Roan berteriak jijik saat melihatnya, mereka bahkan menolak untuk memegangnya. Roan hampir membuat seluruh pegawai butik menangis karena celaannya.


Duke hanya mengangkat bahu mendengar jawaban Roan, kemudian menginjak pedal gas, dan kami melaju pelan.


"Bye Roan!" aku melambaikan tanganku.


"Bye" balas Roan. Aku masih heran bagaimana kami menjadi akrab.


Baru seminggu yang lalu aku menyangka dia membenciku karena Duke. Dunia sekali lagi menjalankan rodanya dengan cara yang tak aku mengerti


 


 


----------- *0o0*----------


 


 


"Duke, apa yang kau lakukan?" Bee berbisik dengan panik, mencoba melepaskan tangannya dari genggamanku.


"Tenanglah, kita akan menikmati sisa malam ini berdua saja" kataku menenangkan.


Aku kemudian menyambar mantel tebal dari almari dan menyodorkannya pada Bee.


Acara makan malam tadi cukup lumayan, tapi setelah hari yang sibuk dan berisik, tiba-tiba aku merasa penat dan lelah dengan semua keramaian ini.


Aku perlu obat untuk menetralkan rasa tidak menyenangkan karena pertemuanku dengan Oscar. Dia tidak pernah lelah membuatku jengkel semenjak kedatangannya.


Mom mengadakan makan malam istimewa untuk menyambutnya tadi. Dia mengundang El, Roan, Uncle Rex, Id dan juga Tita.


Aku cukup terkejut saat mereka dengan mudah berbaur. Oscar tidak diragukan lagi memiliki kemampuan bersosial yang lihai.


Dengan ringan dia bercakap-cakap dengan El dan juga Uncle Rex soal bisnis.


Kemudian dia bertanya tentang topik inhumane pada Mom. Bahkan membicarakan London dengan Id dan Tita. Dia hanya terlihat gelisah pada saat awal makan malam, tapi kemudian berhasil menguasai diri dengan cepat.


Namun dia tetap tidak bisa melawan kesinisan Roan.


Aku melihat mereka berbasa-basi sejenak. Tapi Oscar tidak menyapa Roan sama sekali setelahnya. Dan tentu saja Roan tidak akan mungkin bersikap ramah dan mengajaknya berbicara terlebih dulu.


Setelah berakhirnya acara makan malam, Mom mengajak kami semua untuk menikmati minuman hangat di ruang keluarga serta melanjutkan obrolan dengan lebih akrab. Saat itulah aku menarik Bee menjauhi rombongan tanpa kentara.


Aku ingin menghabiskan waktu dengan Bee, tanpa suara lain.


Kami berjalan cepat menuju menuju garasi. Aku mengambil mobil yang tertutup, kemudian melaju menjauhi Manor.


Bee menghembuskan nafas panjang. "Myra akan sangat marah ketika tahu" katanya masih dengan cemas.


"Aku tahu, tapi jangan khawatir. Mom tak betah berlama-lama marah denganmu"


Mom tidak akan bisa marah saat ini. Sepanjang hari ini hanya senyum lebar yang terukir di wajah Mom.


"Aku akan mengatakan padanya bahwa ini semua adalah salahmu" Bee merajuk dengan lucu.


"Aku akan menerima semua amarah untukmu Bee---" Bee memukul pelan bahuku sambil tersipu.


"Kita akan kemana?" tanyanya sambil melihat keadaan di luar yang gelap gulita.


"Ke suatu tempat yang aku yakin akan menjadi favoritmu nanti" jawabku dengan tangkas.


Aku mempersiapkan proyek ini, segera setelah Bee menerima lamaranku. Aku bisa saja mengajaknya kesana setelah kami menikah. Tapi tadi siang, orang yang aku tugaskan untuk mengerjakan proyek ini melapor, jika semua pengerjaan  telah selesai.


Mendengar itu, aku jadi tidak sabar untuk melihat reaksi Bee.


"Bagaimana kau tahu aku akan menyukainya? Percaya diri sekali"


Bee yang sekarang sangat senang menggodaku rupanya.Aku sama sekali tidak keberatan.


"Insting, dan sebagai serigala instingku sangat tajam" balasku.


Bee terkikik mendengar jawabanku. "Aku kadang masih tak percaya. Bagaimana aku bisa tenggelam dalam dunia aneh ini? A[alagi ternyata aku cukup menikmatinya" ucapnya.


"Menurutku kau luar biasa berbakat dalam hal menyesuaikan diri, kau melihat acara Brawl tapi kau bertahan" ujarku dengan nada bangga.


"Yah.. sejujurnya, aku sangat terbantu karena kalian berwujud serigala. Setelah melihatnya beberapa lama, aku menjadi terbiasa dengan wujud itu. Pemandangan saat kau meledakkan kepala manusia lebih menakutkan untukku" Bee bergidik ngeri, sambil menggelengkan kepala, seakan ingin mengusir ingatan buruk dari benaknya.


"Maafkan aku soal itu"


"Jangan meminta maaf, aku membalasmu dengan penolakan yang luar biasa bodoh setelahnya" Bee mengusap dahinya dengan jengkel.


"Sebaiknya kita menghindari pembicaraan yang membuat depresi" Kata Bee, sambil menoleh padaku.


"Kau benar, kita akan menikah besok. Kita harus berbicara mengenai sesuatu yang menggembirakan"


Aku tidak akan mendebat hal itu. Suasana di dalam mobil sedikit suram karena membahas topik kepala meledak.


"Bukankah ini jalan menuju Blackmoon Lake?" tanya Bee mengenali rambu bergambar serigala yang baru saja kami lewati. Rambu itu bertujuan agar manusia tidak mendekati arena ini.


"Yup.... Dan kita akan berkendara sekitar 10 menit lagi sebelum sampai" kataku membenarkan prasangkanya.


"Kita akan kemana sebenarnya?" tanya Bee semakin penasaran.


Aku tersenyum menanggapi pertanyaannya. Bee selalu berkata dia tidak menyukai kejutan, tapi setiap aku memberi kejutan, matanya selalu berbinar bahagia. Hal itu yang membuat aku tidak akan pernah lelah memberinya kejutan, seumur hidupku.


"Sekarang tutup matamu, kita akan sampai sebentar lagi"


"Haruskah?" Bee mengeluh, tapi matanya telah terpejam rapat.


Setelah melewati belokan tajam sekali lagi, aku menghentikan mobil dan kemudian membantunya turun.


Aku menutup mata Bee dengan tanganku, untuk memastikan dia tak mengintip. Bee kembali mendesah jengkel, tapi patuh dengan keinginanku.


Setelah berjalan beberapa langkah lagi, aku menarik tanganku dari matanya,


"Surprise!!!"


"Ohh....!!" Bee terkesiap sambil mengejapkan mata agar terbiasa dengan suasana di sekeliling.


Matanya berkedip cepat memandang hadiah kejutan itu. Dan seperti yang aku harapkan, mata itu berbinar bahagia.


Tentu saja Bee menyukainya.


Hadiahku adalah pondok mungil indah yang seluruhnya terbuat dari kayu.


"Apakah kau memberikan pondok ini untukku?" tanyanya masih tak percaya, Bee melangkah mendekati pondok sambil tersenyum lebar.


Seperti Belva, Bee juga selalu menyukai bangunan yang sangat dekat dengan alam.


"Ya, dan sebelum kita masuk, lihatlah pemandangan di belakangnya"


Aku menuntunnya melewati tumpukan salju mengitari pondok itu. Jajaran pohon cemara menutupi pemandangan belakang pondok, tapi di balik pepohonan itu...............


"Itu danau Blackmoon" Bee menunjuk danau yang kini berupa hamparan padang es membeku sempurna.


"Karena kau sangat suka berenang, pada musim panas kau akan bisa berenang dengan bebas di sini"


Aku meminta dengan khusus agar pondok itu dibangun dengan jarak sekitar 50 meter dari danau.


Bee menubruk tubuhku dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya.


"Thank you. Ini indah sekali" katanya dengan suara teredam di dadaku. Aku membenamkan tubuh mungil itu dalam pelukan.


"Instingku benar bukan? Kau menyukainya"


Bee tertawa berderai mendengarnya.


Dengan langkah tergesa, Bee menarikku ke arah pondok.


"Ayo!!" katanya dengan semangat membara. Dia pasti sudah ingin melihat bagaimana isinya.


"Kita bisa mencapai danau ini tanpa berlari?" tanya Bee, sementara aku memasukkan anak kunci ke pintu.


"Aku meminta jalan baru ke arah danau ini, Bee, aku tak ingin membawamu berlari di punggungku dalam cuaca dingin seperti ini. Kau bisa membeku"


Bukan jalan yang permanen, tapi cukup layak dipertahankan. Aku akan meminta agar jalan itu diperbagus begitu salju mencair


 


"Ow.. padahal aku suka menunggangimu Duke, tubuhmu hangat sekali"


Aku nyaris terjatuh saat melangkah mendengar tanggapan Bee. Tapi akan aku abaikan ketidaksenonohan yang tersirat pada kalimat itu, karena sudah pasti Bee sama sekali tidak berniat mengucapkannya sebagai godaan. Pikiran Bee terlalu polos---


Tapi tidak urung aku sedikit kesulitan membuat wajahku tetap tenang. Butuh beberapa saat agar mimik wajahku kembali normal.


"Oh ini luar biasa!!" Bee berseru, begitu aku menghidupkan lampu di dalam pondok.


Perapian mungil menempel di tembok bagian kiri. Di depannya karpet bulu tebal dan bantal empuk tertata rapi dengan sofa panjang teronggok di sebelah karpet.


Di sudut kanan aku meminta dapur dengan peralatan lengkap, dan aku puas melihat keinginanku terpenuhi. Di sebelah dapur meja makan kecil dengan dua kursi melengkapi fungsinya.


Di sisi yang lain, ranjang dengan ukuran besar terletak di depan jendela besar yang tertutup tirai warna biru. Untuk kamar mandi mereka membangunnya di belakang.


Bee tak henti-hentinya memuja pondok itu, dia melongok ke arah dapur dan membuka kulkas mini yang ada di sana. Kemudian dia meneruskan penjelajahannya ke ranjang.


Aku melangkah ke perapian, lalu menyalaka api dengan kayu yang siap di sebelahnya.


Setelah beberapa saat api mulai menyala dan ruangan pondok menjadi hangat. Ketika aku menoleh, Bee sudah duduk berselimut di atas karpet bersandar pada sofa di belakangnya.


Dia menepuk tempat kosong di sebelahnya, memintaku bergabung. Itu undangan yang menggiurkan.


"This is perfect, aku tak percaya kau bisa menyiapkan pondok seperti ini dalam waktu kurang dari dua minggu" katanya sambil menunjuk abstrak ke arah dinding.


"Tukang yang aku sewa punya kekuatan yang lebih dari manusia"


Bee tersenyum sambil mengangguk mengerti, dia lalu merebahkan diri di karpet sejajar dengan sofa, "Di sini nyaman sekali"


"Kita akan tetap tinggal di Manor setelah menikah, tapi tempat ini akan menjadi tepat pribadi kita" Saat kepalaku terlalu penuh, aku tidak akan keberatan beristirahat di sini bersama Bee.


Bee mengangguk setuju " Itu akan menyenangkan, beberapa hari ini memang melelahkan. Aku berharap esok akan datang lebih cepat, sehingga semua kerepotan ini akan segera selesai"


"Kau terdengar tidak sabar ingin segera menikah denganku Bee" godaku dengan sukses, karena wajah Bee mulai berubah warna.


"Bukan seperti itu!" katanya sambil menyembunyikan wajah dalam selimut karena malu. Aku mengikutinya berbaring, hingga wajah kami tepat berhadapan sekarang.


"Jika sebulan yang lalu ada yang mengatakan aku akan menikah denganmu, aku pasti berkata dia sudah gila" kata Bee, wajahnya yang telah muncul kembali dari balik selimut, memandangku tanpa berkedip.


"Jika sebulan yang lalu ada yang mengatakan aku akan menikah denganmu sekarang, aku akan langsung mengangkatnya menjadi gentry"


Kami berdua tertawa, menertawakan nasib yang seolah mempermainkan perasaan kami, terutama aku.


Kurang dari dua minggu yang lalu aku masih mencari cara bagaimana agar aku bisa berbicara dengan normal pada Bee. Tapi besok aku akan menikah dengannya.


Aku membelai pipi yang dengan perlahan berubah menjadi merah di bawah sentuhan jariku. Bee menatap berani, dengan mata biru yang membulat jernih dan sempurna.


"Aku mulai memiliki pikiran bodoh bahwa semua ini hanya mimpi Bee" bisikku.


"Tentu saja tidak. Aku ada di sini bersamamu, dan bahagia" jawab Bee dengan lirih.


Aku mencium bibir Bee dengan lembut. Tidak ada penolakan atau gerakan terkejut dari bibir itu. Hanya rasa manis dan hangat.


Bibir yang sehangat lelehan cokelat panas itu, mulai bernyali membalas ciumanku walaupun sedikit canggung dan polos.


Tapi itu sudah mampu membuat pikiran warasku dengan cepat menghilang.


Aku menuntut lebih banyak lagi. Jariku telah beralih membelai kepala berambut emas itu dengan perlahan.


Bee membalasku dengan belaian dan juga sentuhan tangan di wajah. Belaian itu memercikkan bara ke seluruh tubuhku.


Bibirku semakin dalam menjelajah, sampai aku mendengar erangan teredam milik Bee.


Aku melepaskan Bee yang kini memandangku dengan mata kehilangan fokus dan terengah kehabisan nafas. Wajahnya merona dengan cantik dan sempurna.


**-------apa yang aku lakukan!!! Aku mengutuk dengan sebal.


"Aku rasa kita harus kembali ke Manor, sebelum aku melakukan sesuatu yang menyenangkan" bisikku tepat di telinganya.


Sembari mencoba mengumpulkan akal sehat, yang telah jauh mengembara.


Bee membenamkan wajahnya leherku sambil memukul pelan bahuku.


"Haruskah?" katanya sambil tertawa lirih.


"Jangan menggodaku Bee!" Aku menggeram dengan gigi terkatup.


Tembok pertahanan diriku serapuh istana pasir saat ini. Aroma, suara, dan juga wajah Bee memanggilku agar segera menerkamnya saat ini juga.


Tapi aku tidak akan merusak apa yang telah aku tekadkan sejak dulu. Aku tak akan 'menyentuh' Bee sebelum aku memberinya insignia.


Aku dan Bee berdiri hampir bersamaan tanpa kata dan suara, seolah takut kami akan kehilangan akal sehat, jika kami berbicara.


Jika air danau tidak membeku sempurna seperti sekarang, mungkin aku akan berenang beberapa putaran untuk meredam gelegak hasrat yang kini merajai otakku.