Finding You, Again

Finding You, Again
David 11 - Funeral



Aku berdiri sambil memandang kosong ke arah lubang berukuran 6 x 5 meter yang menganga di depanku.


Kata-kata pengiring yang diucapkan oleh Elder Victor --dia adalah Elder paling tua di pack ini, berumur 176 tahun dan juga kakek buyutku-- melintas begitu saja di telinga\, tidak meninggalkan jejak apapun di otakku.


Aku mengalihkan pandanganku dan melihat Myra--Mom, I mean Mom ck..-- di depanku, dia juga menunduk.


Tidak ada suara yang keluar darinya. Tapi pipinya yang basah, memberitahu jika air mata tidak berhenti mengalir sejak tadi.


Jika tidak ingat kalau para Elder sudah menyetujui usulan Uncle Rex untuk menunda penobatanku, aku akan mencekik leher Elder Victor, agar berhenti.


Kata-kata pemujaan yang panjang lebar tentang ayahku, tidak akan membuat Myra-- I give up-- berhenti menangis.


Kesehatan Myra belum pulih sepenuhnya, tidak perlu membebaninya dengan protokoler yang panjang. Acara ini seharusnya dipersingkat.


Setelah 20 menit berlalu, akhirnya Elder Victor menyelesaikan pidatonya. Dia menyingkir dan berdiri di sebelah Uncle Rex.


Tidak lama suara lolongan warrior yang berada dalam bentuk serigala membelah udara. Sebagai tanda acara pemakaman akan segera dimulai.


Aku beranjak dari tempatku berdiri, kemudian berjalan dengan tegak menyusuri jalan setapak berbatu hitam, menuju tempat jenazah ayahku terbaring. Yaitu bangunan terbuat dari kayu merah yang terletak di di ujung timur lingkungan pemakaman.


Komplek pemakaman pack ini mempunyai luas sekitar 50 hektar dan area pemakaman Alpha terletak hampir di tengah-tengah komplek itu.


Aku memberikan pujian dengan tulus hati kepada siapapun yang merawat komplek ini. Pemandangan di sini, akan membuat penata taman Versailles di Perancis menjadi iri.


Musim mekar bunga memang sudah hampir lewat, tetapi pemandangan menuju musim gugur tetap membuatku kagum. Beberapa pohon, sudah mulai berubah warna menjadi merah, membingkai komplek pemakaman ini dengan sempurna.


El dan Roan berada tepat di belakangku. Mereka berjalan dalam diam. Ini hal yang aneh. Biasanya mereka tak pernah berhenti berdebat.


Beberapa warrior, Uncle Rex dan Elder Victor, juga termasuk dalam rombongan itu. Warrior itu yang nanti akan menggotong jenazah ayahku.


Sesampainya di depan pintu berwarna coklat itu, aku terdiam sejenak.


Ini adalah pertama kalinya aku melihat jenazah ayahku.


Dengan menarik nafas panjang, aku mendorong pintu ke arah samping agar terbuka. Kemudian aku melangkah ke dalam, hanya dengan diikuti oleh Roan dan El.


Bentuk yang aku harap tidak nyata, tertangkap oleh mataku.


Sesosok serigala sehitam malam, terbaring di atas ranjang besar di tengah-tengah ruangan itu.


Bulunya yang tebal bergerak pelan karena angin yang berhembus dari pintu. Aroma maple dan vanilla tercium di sekeliling tubuh yang kaku itu.


Ayahku beraroma seperti pack ini yaitu maple dan hujan, dengan campuran sedikit Myra, yaitu vanilla lembut.


Aroma yang biasa menenangkan kegelisahan saat aku kecil.


Jika mimpi buruk datang, ayah akan datang dan menunggu sampai aku bisa tidur tenang. Dia memang tidak masuk ke kamar atau mendekati ranjang, tapi aku bisa mencium aromanya dari balik pintu. Dan itu sudah cukup untuk mengantarku dalam ketenangan dan tertidur kembali.


Tapi sekarang aroma itu rusak, karena bercampur dengan bau obat-obatan menyengat yang digunakan untuk mengawetkan tubuhnya.


Mataku mulai mengabur tertutup air mata.


Aku melangkah mendekati meja dan membenamkan kesepuluh jari tanganku di bulu lembut badannya. Bulu itu masih sehalus yang aku ingat dulu.


Aku menyentuh bulu hitam itu untuk pertama kalinya, pada saat aku berumur 5 tahun. Ayah menunjukkan bentuk serigalanya, agar aku berhenti menangisi kepergian Ibuku- Zhena Juno.


Ayah mengijinkan aku untuk menaiki punggungnya, kemudian dia membawaku berlari berkeliling manor.


Kala itu, aku menggenggam bulu hitam itu dengan sangat erat, antara takut dan antusias. Tapi ketika aku membenamkan wajah ke bulu hitam itu, rasa takutku musnah. Aku mengenali aroma yang memancar darinya.


Aroma itu yang selalu bersamaku, aroma itu yang selalu memberiku semangat ketika aku menangis kesakitan.


Tenggorokanku tersekat oleh air mata yang sekuat tenaga aku tahan agar tidak menetes. Kemudian aku melangkah mendekati kepalanya.


Amarah yang dahsyat menyengatku, ketika melihat luka yang ditutup paksa dengan jahitan, luka itu di dada.


Menurut Uncle Rex, vampire jahanam itu telah mencabut jantung ayah ketika mereka bertarung. Memenggal kepala werewolf dalam bentuk serigala adalah pekerjaan yang sangat sulit.


Makhluk hina dan menjijikan!! Aku berjanji akan mencabut jantungnya dan membakarnya sampai tidak tersisa.


Aku mengelus kening yang terasa dingin di ujung jariku. Kening itu dulu selalu mengusap dahiku dengan lembut.


Werewolf dalam bentuk serigala, menunjukkan rasa sayangnya dengan saling menyentuhkan kening mereka.


Dan aku masih ingat betapa bahagia dan bangganya aku, saat dia menyentuhkannya ke dahiku yang kecil, untuk pertama kalinya.


Aku sangat gembira, karena akhirnya aku bisa berlari bersamanya sebagai serigala.


Semua ingatan ini membuatku merasa semakin *****.


Tentu saja ayah menyayangiku. Aku sama sekali tidak berhak untuk membencinya.


Bahkan setelah aku pergi, dia tidak kehilangan harapannya padaku. Dia tetap menjagaku dan mendukungku.


Dia memberiku kebebasan yang aku inginkan selama 8 tahun. Hal itu hampir mustahil terjadi pada seorang Scion, karena beratnya tanggung jawab yang akan aku emban di masa depan.


Aku berlutut, dan menempelkan dahiku dengan lembut di keningnya yang sedingin es, sambil berharap aku bisa mendengar lagi suara dengkuran halus darinya.


Tapi harapan itu hanya dibalas dengan kesunyian. Tidak akan ada suara yang terdengar lagi.


Air mata akhirnya mengalir hangat di pipiku, tanpa bisa aku cegah.


Perasaan hampa karena kesunyian itu, seolah membuatku baru tersadar jika semua ini adalah kenyataan.


Aku tidak akan bisa mendengar lolongannya lagi, saat dia ketika memanggilku pulang. Aku juga tidak akan bisa mencium aroma manis maple dan vanilla miliknya lagi.


Semua itu akan hilang.


"Maafkan aku!! Dad, maaf karena aku begitu bodoh. Seharusnya aku bisa lebih percaya padamu. Maafkan aku, yang selalu keras kepala melawan semua keinginanmu. Maaf, karena tidak bisa menjagamu selama ini. Aku akan menebus semuanya" bisikku dengan lirih.


Aku tidak peduli lagi, dengan air mata penyesalan dan kesedihan, yang mengalir semakin deras.


"Aku akan menjaga Myra, aku akan membahagiakannya. Aku tahu seberapa dalam kau mencintainya. Maafkan aku, yang juga terlambat mengetahui semua ini" rintihku dengan lebih pelan.


Aku tahu ini tidak akan berguna. Ayah tidak akan pernah tahu bagaimana aku menyesali semua perbuatanku. Dan aku juga tidak akan pernah tahu, apakah dia akan memaafkan semua perbuatan tololku.


Kesadaran jika aku hanya bisa menjalani hidup dalam kubangan penyesalan tanpa bisa mendengar kata memaafkan dari mulutnya, menghunjam jantungku dengan keras dan menyakitkan.


Air mataku kembali tumpah di atas bulu hitamnya. Aku mencengkeram erat bulu itu, dengan harapan kosong bila dia akan menggeram, sebagai pertanda dia hidup.


"Aku benar-benar menyesal, Ayah" bisikku.


"Kau adalah Ayah yang luar biasa. Aku sangat bangga menjadi anakmu, dulu, sekarang dan juga nanti"


Aku memeluk leher ayahku dengan erat untuk terakhir kalinya.


Aku mengusap air mata dengan lengan mantel panjang hitam yang aku pakai, kemudian bangkit dari posisi berlutut, dan memandang tubuh itu sekali lagi dengan seksama.


Maafkan aku----


Aku membatin untuk terakhir kalinya, dan memandang tubuh kaku itu. Adalah kebodohan, jika pada titik ini, aku masih juga berharap, rentetan kejadian beberapa hari ini hanyalah mimpi. Mimpi buruk yang akan hilang ketika aku membuka mata.


Tapi aku melakukannya. Dengan perlahan, aku merasakan harapanku luluh, karena saat membuka mata, ayahku masih terbaring dalam diam.


Suara isakkan pelan dari Roan membuatku sadar, jika semua ini nyata. Roan tidak akan menangis dengan mudah.


Ini adalah kenyataan yang harus aku terima, dan aku harus menjalaninya.


Aku akan menebus semua rasa bersalah ini dengan menjadi apa yang diinginkan oleh ayah. Aku akan menjadi Alpha yang terbaik bagi Blackmoon, dan memperlakukan Myra sesuai dengan apa yang seharusnya.


Aku akan memperbaiki seluruh kesalahan bodoh yang telah aku lakukan selama delapan tahun terakhir.


Aku berjanji ayah, tekadku dalam hati. Aku harap kau mendengarnya.


,Aku mengangkat tangan dan menyisir rambutku dengan jari, berusaha untuk merapikannya. Aku tidak bisa memimpin iringan jenazah ini dengan wajah penuh bekas air mata.


Setelah merasa lebih baik, aku berbalik memandang Roan dan El.


Roan menundukan kepalanya, menyembunyikan tangis.


Sedangkan El, dengan berani tetap memandang ke depan, walaupun aku bisa melihat sisa-sisa air mata di wajah itu. Aku menghampiri mereka berdua, kemudian memeluk mereka dengan bersamaan.


"Terima kasih" ucapku dengan tulus.


Mereka menangis untukku dan ayahku, dan mereka telah menemaniku dalam keadaan apapun. Aku akan selalu merasa beruntung memiliki teman seperti mereka.


Roan dan El mengangguk secara serempak. "Anytime brother, kau bisa meminta apapun dariku" El menjawab dengan senyum lemah dan suara serak karena emosi.


Dia juga membalas pelukanku dengan menepuk pelan punggungku. Roan tidak bisa bersuara, dia hanya mengangguk kecil.


"Masuklah" ujarku kepada pintu yang tertutup.


 


Elder Victor mengambil lipatan kain panjang yang tersimpan di kotak berukir lambang pack, kemudian memanggil warrior yang masih berada di luar untuk masuk. Dia menyerahkan kain itu kepada salah satu warrior, yang segera di tebar ke seluruh tubuh ayah.


Kain hitam yang juga berhiaskan gambar lambang pack di tengahnya, menutup dengan sempurna tubuh ayah. Kedelapan warrior itu kemudian menyebar mengambil posisi, masing masing empat di setiap sisi. Bersiap untuk mengangkat jenazah.


Bagian atas ranjang itu bisa dilepas menjadi tandu, jadi jenazah bisa diangkat dengan mudah.


Elder Victor mengambil kunci dari sakunya, kemudian melangkah ke arah sisi kanan tembok. Tangannya menyentuh pelan salah satu bilah kayu di tembok itu.


Bilah kayu itu bergeser dan menunjukkan sebuah kotak besi dengan angka dan lubang kunci, brankas.


Dia kemudian menutup pandangan kami dengan tubuhnya. Tidak lama kemudian, dia berbalik dengan tangan yang sudah memegang kotak berukir dengan sikap hormat. Hampir mirip dengan kotak kayu tempat kain hitam tadi, tetapi ukirannya jauh lebih indah dan rumit.


Dia melangkah ke arahku dengan pelan, seolah tidak ingin mengganggu apapun yang berada dalam kotak di tangannya.


"Ini adalah darah Alpha, aku tahu penobatanmu di tunda, tetapi aku tetap akan menyerahkannya sekarang, simpanlah!" kata Elder Victor sambil menatapku dalam-dalam.


Darah Alpha akan dipakai dalam upacara penobatan Alpha baru. Jika Alpha yang lama masih hidup maka akan langsung diambil dengan cara menorehkan pisau di tangan.


Tetapi untuk berjaga-jaga jika Alpha sebelumnya meninggal, maka saat penobatan, Alpha yang baru berkewajiban untuk menyimpan darahnya.


Selain untuk keperluan penobatan Alpha berikutnya, juga sebagai pengingat bahwa kekuasaan itu tidak akan abadi.


Tercium aroma maple dan vanilla yang samar dari kotak itu. Aku menerimanya dan mengangguk mengerti. Aku memegang kotak itu dengan kedua tanganku, di depan dada.


Aku akan memimpin rombongan pengiring jenazah kembali ke tempat ayah akan dimakamkan, jadi aku melangkah keluar terlebih dahulu, kemudian berdiri tegak tidak jauh dari pintu masuk, dan menunggu rombongan itu agar bersiap.


Tidak lama, El berbisik dari belakangku, "Mereka sudah siap". Dia berdiri di sana bersama Roan.


 


Aku melangkah ke arah jalan setapak berkerikil dan menunggu mereka keluar. Sejenak kemudian, Elder Victor dan Uncle Rex keluar, diikuti oleh tandu tertutup kain hitam.


Aku mengangguk, kemudian berbalik dan melangkah lebar meninggalkan bangunan itu. Suara derak kerikil yang terinjak di belakangku, menandakan mereka mulai mengikuti langkahku.


Ketika rombonganku semakin mendekat ke arah tempat pemakaman, pemandangan baru menyambutku.


Ratusan penghuni pack ini semuanya berdiri tidak jauh dari lubang tempat ayahku di makamkan, sebagian lagi berbaris di jalan setapak yang akan aku lewati.


Tadi hanya Myra dan beberapa Elder yang berdiri di sana, sekarang hampir seluruh komplek pemakaman itu dipenuhi werewolf.


Sejumlah besar warrior yang telah bertransformasi terlihat berjalan hilir mudik, menjaga agar jarak mereka tidak terlalu dekat dan mengganggu proses pemakaman.


Aku menoleh sejenak kepada Uncle Rex dengan pandangan bertanya, tetapi dia balas memandangku dengan sama bingungnya. Elder Victor malah sudah terlihat marah, karena keberadaan mereka menyalahi aturan.


Warga pack memang boleh menghadiri pemakaman Alpha, tetapi hanya sampai luar komplek, sesuai dengan tradisi.


Tetapi saat ini mereka memenuhi area komplek pemakaman. Aku bisa merasakan pandangan mereka yang tertuju padaku ketika berjarak semakin dekat.


Aku mendengar bisikan mereka memanggil nama ayah, bisikkan yang bercampur isakkan. Semakin aku mendekat semakin banyak bisikkan yang kudengar.


Tidak lama kemudian, kelopak bunga berbau harum menghujaniku. Warga yang berdiri berjejer di tepi jalan setapak, menaburkan bunga dari keranjang kecil yang mereka bawa ke udara.


Hujan kelopak bunga berwarna-warni, mengiringi jenazah ayah selama sisa perjalanan. Lambaian selamat tinggal juga terus terlihat, bersamaan dengan tangis sedih.


Kini tidak hanya bisikan nama ayahku yang aku dengar, tetapi juga ucapan terima kasih dan beberapa diantaranya yang ditujukan kepadaku, berisi kata-kata penghiburan.


They're your people Dad!. Mereka ingin hadir dan menyaksikan sendiri saat-saat terakhir Alpha mereka. Dan setelah ini, aku yang akan menjaga mereka untukmu.


Rasa panas menjalar di wajahku, air mata kembali menggenang, menghalangi pandangan. Rasa bangga dan haru mengaliri tubuhku dengan kehangatan. Ayahku adalah Alpha yang luar biasa.


Aku menarik nafas panjang untuk menahannya. Aku tidak akan menunjukkan air mataku di hadapan mereka.


Lolongan panjang serigala warrior menyambut jenazah ayahku di tepi lubang.


Myra yang tidak bisa lagi menahan kesedihan, menjadi limbung. Aku langsung melesat menyambarnya, sebelum dia terjatuh.


Aku menyerahkan kotak berisi darah Alpha kepada El, kemudian berdiri kokoh di sebelah Myra dan menjaganya agar tetap berdiri.


Aku tidak banyak mengingat bagaimana prosesi setelahnya. Sebagian besar berisikan pidato perpisahan dari para Elder. Sementara Myra tidak henti menangis di sebelahku.


Aku ingin menghiburnya, tetapi rasa canggung mengalahkan semuanya.


Upacara itu diakhiri dengan peletakkan batu putih penanda di atas makam ayah, oleh aku dan Myra.


Satu jam kemudian, komplek itu telah sepi. Batu berwarna putih dengan ukiran nama ayahku, teronggok di atas tanah hitam yang masih basah. Tinggal aku, El, Roan, Myra dan uncle Rex yang masih ada di sana.


Myra bersimpuh disebelah gundukan tanah, dan masih merintih dengan tangan menggenggam tanah basah itu.


Aku hanya bisa memandangnya dengan hati yang terpilin pedih. Kesedihan itu, mungkin tidak akan sanggup aku tanggung, jika aku berada dalam posisinya.


Aku kemudian berjongkok di sebelahnya, lalu merengkuh tubuh yang rapuh itu.


Sejenak tubuhnya menegang karena kaget, tetapi kemudian tangannya balas memelukku dengan erat.


Dia membenamkan wajahnya di dadaku, dan entah kenapa tangisnya semakin kencang. Aku mendengar suara langkah kaki menjauh. Roan, El dan Uncle Rex pergi meninggalkan kami berdua saja.


Aku mempererat pelukanku, dan mengusap-usap kepala berambut hitam itu sambil memohon dalam hati agar tangisannya berhenti.


Entah berapa lama kami berada dalam posisi itu, ketika aku memandang ke atas, ternyata langit telah mulai memerah karena senja.


Isakkan Myra mulai berkurang. Tetapi air mata yang mengalir di pipinya, seolah tidak berhenti. Bagian depan mantelku basah kuyup karenanya.


Sekarang aku merasa benar-benar idiot. Apa yang merasuki otakku, sehingga aku bisa membenci makhluk yang serapuh ini?


"Ma..Maafkan aku" ucapku dengan agak terbata.


Myra tersentak dan memandangku heran. Air mata yang memenuhi mata kuning kecokelatan itu sejenak terhenti, mata itu mengejap memandangku meminta penjelasan.


Tapi setelah dia mengerti apa maksud dari ucapanku, air kembali mengalir deras. Myra menggeleng keras tanpa suara. Aku tak yakin dia sanggup bersuara setelah mengeluarkan air mata sebanyak itu.


"Tidak.. kau tidak perlu meminta maaf, itu semua salahku!!" Akhirnya Myra bersuara lirih sambil mengusap air mata di pipinya, dengan sapu tangan berwarna putih yang juga telah basah kuyup.


Bagaimana bisa?


Aku yang telah bersikap kasar padanya, tetapi itu juga adalah salahnya? Jalan pikiran macam apa ini?


Tapi aku tidak akan mempertanyakannya. Siapa saja bisa berpikiran aneh setelah mengalami masalah seperti itu.


Aku ingin menanyakan satu hal lain yang selalu mengusik hatiku. Tapi aku ragu apakah ini saat yang tepat.


"Kenapa kau tidak pernah mengatakan jika kau adalah Ibu kandungku? Aku ingat kau selalu bercerita kepadaku, bahwa Ibuku adalah Zhena Juno"


Aku ingin tahu mengapa, karena semua kesakitan ini mungkin tidak akan perlu terjadi, jika aku tahu yang sebenarnya dari awal.


Myra melepaskan pelukanku, kemudian berdiri memunggungiku. Dia diam sekitar sepuluh menit, sambil memandang deretan pepohonan.


"Saat aku pertama kali datang ke pack ini, aku sangat takut, Duke. Aku tahu Owen sudah memiliki Zhena, dan aku tahu bagaimana tanggapan para Elder soal diriku. Sakit dan juga ketidakmampuan Owen untuk bertransformasi adalah hal yang membuatku memberanikan diri bertahan "


Myra berbalik, kemudian kembali bercerita, sambil memandang batu putih di atas makam ayah.


"Pertahananku hampir runtuh, ketika aku bertemu Juno. Aku melihat luka yang telah aku torehkan di mata hitamnya. Dia tidak marah atau berteriak padaku, tetapi pandangannya yang dingin mengatakan semua. Saat itu juga, aku ingin meninggalkan pack ini dan pulang. Tapi tubuhku juga telah melemah seperti Owen"


Myra berhenti agak lama, menceritakan sesuatu yang menyakitkan tidak akan pernah mudah.


"Tapi begitu aku bertemu dengan Owen, semua perasaan ragu dan takut yang melingkupiku, hilang begitu saja. Aku telah lengkap. Untuk sejenak aku lupa, dengan perbuatan rendah yang aku lakukan untuk mendapatkan tatapan penuh cinta dari orang yang memelukku saat itu. Aku tidak peduli dengan semua itu. Dengan egois aku merengkuh cinta Owen dan menangis di pelukkan hangat tubuhnya"


Isakkan yang kembali menderanya, membuatku sulit mengerti kata-katanya.


"Itu bukan salahmu, kau bertemu dengan Mate yang telah ditakdirkan untukmu. Tentu saja kau ingin memilikinya!" ujarku dengan penuh pengertian.


Aku tidak bisa mengatakan bagaimana rasanya jika aku harus menyerahkan Bee untuk orang lain. Itu tidak akan pernah terjadi.


Myra tersenyum dengan lemah mendengar kata-kataku.


"Kau tahu? Dulu aku sangat membenci kata-kata itu. Bagaimana mungkin aku mempunyai Mate yang telah beristri? Aku begitu marah pada takdirku, tapi Elder Calida --istri dari Elder Galen-- yang tidak pernah meninggalkan sisiku, selalu memberi nasehat, jika itu adalah takdir yang harus aku terima. Takdir tidak akan salah memilihkan Mate untukku. Aku tidak akan tahu apa yang akan menanti"


"Tetapi aku tidak akan pernah lupa tatapan dingin dari Zhena Juno kepadaku. Hatiku seolah tertusuk es setiap kali aku bertemu dengannya tanpa sengaja di Manor. Belum lagi suara sumbang para Elder dan juga Gentry setiap kali mereka berkunjung ke Manor. Mereka memandangku dengan hina dan jijik seolah aku adalah seonggok sampah berbau busuk"


Aku mengalihkan pandangan dari wajahnya yang sekarang kembali dipenuhi air mata. Aku tak tahan melihatnya, tetapi ini adalah pilihannya untuk bercerita, aku tak akan menghentikannya.


"Tidak tega melihatku tersiksa dan merana berada di Manor, Elder Calida mengusulkan agar aku menyingkir dari manor dan tinggal bersamanya. Dia meyakinkan Owen, kesehatan kami berdua tidak akan memburuk, karena yang membuat tubuh kami melemah adalah keputusan kami untuk berpisah, bukan jarak. Jadi selama dalam hati, aku dan Owen masih ingin bersama, itu cukup. Owen tentu saja menolak usul itu. Dia masih berusaha untuk mencari cara untuk menyingkirkan Juno. Terdengar kejam bukan? Tapi itulah yang terjadi"


Tawa sumbang menyela ceritanya.


"Para Elder yang berpihak kepada Juno semakin keras menentang itu. Di sisi yang lain, para Elder yang melihat kondisi Owen semakin membaik, juga menekan agar Juno segera di ganti. Aku tidak suka melihat Owen tenggelam dalam kegusaran karena masalah ini. Akhirnya, aku membuat keputusan yang aku rasa benar saat itu. Aku memutuskan untuk meninggalkan Manor seperti usul Elder Calida, dan menyerahkan dirimu pada Zhena Juno saat kau lahir nanti"


Tangisannya pecah kembali. Isakkan menyayatnya membuatku sadar bahwa itu adalah keputusan terberat yang pernah dia buat selama hidupnya.


Pada titik ini, aku sudah menyesal karena telah bertanya. Melihatnya tersiksa seperti ini terlalu menyakitkan.