Finding You, Again

Finding You, Again
Us 21 - Brawl and Awestruck



Jika bisa, aku akan memilih untuk tenggelam dalam tanah daripada berada di sini, saat ini.


Semua mata yang bisa aku lihat, menatapku dengan pandangan ingin tahu. Seberat inikah menjadi satu-satunya manusia di sini?


Myra menyentak tanganku pelan, memintaku untuk berjalan dengan kepala tegak. Aku sudah tidak bisa lagi memandang ke depan karena semua perhatian yang aku peroleh.


Sudah beberapa menit terakhir ini, aku hanya memandang ujung gaunku. Gaun biru pastel dengan lace berwarna putih di atas rok. Aku harap badanku yang pendek tidak merusak keindahannya.


Acara penghukuman --Brawl, mereka menyebutnya begitu-- yang diceritakan Myra kemarin, di laksanakan di lapangan berbentuk mirip dengan stadion yang terletak di ujung pemukiman pack. Aku melewati hutan lebat yang memisahkan bangunan ini dengan pemukiman utama pack, untuk mencapainya.


Begitu sampai, aku langsung tercengang.


Bangunan ini berbentuk seperti stadion sepak bola dengan ukuran sedikit lebih kecil. Tapi aku tidak menemukan deretan kursi yang biasanya mendominasi stadion.


Sebagai gantinya, di setiap sisi pagar hanya ada undakan lebar yang semakin meninggi kebelakang, sehingga pemandangannya terlihat seperti undakan sawah di lereng pegunungan, tapi tanpa warna hijau tanaman.


Dan tempat itu sekarang sudah penuh dengan warga yang telah berdatangan. Aku menyangka, kami akan berada di deretan penonton seperti yang lain. Tapi kata Myra, tempat kami adalah di tribun besar yang berada di seberang pintu masuk. Itu berarti kami harus melewati tengah lapangan untuk mencapainya.


Aku nyaris menangis tadi saat Myra menjelaskannya tadi.


Tapi aku tidak bisa menghindar, jadi sekarang aku dan Myra berjalan membelah lapangan menuju tribun. Tita dan satu wanita lagi yang tidak aku kenal mengikuti di belakang kami.


Wajahku telah menghangat karena rasa malu. Aku sungguh berharap jarak pintu masuk dan tempat kami menonton tidak akan sejauh ini.


Aku mencoba menuruti Myra dan menaikkan kepalaku memandang kedepan. Tapi sekarang jantungku justru mendapat serangan yang tidak terduga, karena aku melihat sesosok tubuh yang berdiri dengan sikap tegap di depan tribun.


Itu Duke!


Dan dia sempurna dalam balutan baju hitam panjangnya. Bordiran emas menghiasi sepanjang leher dan depan jubahnya. Aku tidak percaya dia bisa terlihat lebih tampan dari pada saat menggunakan jas.


Di belakangnya El dan Roanna berdiri dengan sikap yang sama.


Jantungku langsung menciut lemah melihat hal itu.


Apa yang aku harapkan? Tentu saja Roanna akan ada di sini, dan berada di samping Duke. Aku sama sekali tidak berhak merasa kecewa dengan hal itu.


Aku berusaha keras tak menunjukkan perubahan muka agar tak membuat Myra malu.


Dan Duke sama sekali tak membantu. Dia tersenyum lebar saat melihatku datang. Tak tahukah dia, jika senyumnya sama sekali tak bagus untuk kesehatan jantungku?


Myra menggandeng tanganku ketika kami semakin mendekati tribun, dan seperti yang lain, tribun ini juga tidak dilengkapi tempat duduk. Hanya pagar pembatas, dan undakan yang lebar.


Tapi kemudian aku melihat satu kursi dengan hiasan ukiran yang rumit di dekat pagar pembatas.


Tidak perlu otak cerdas untuk menebak kursi itu untuk siapa. Apakah aku butuh kursi karena aku manusia? Apakah acara ini akan berlangsung sangat lama, sehingga aku harus duduk karena tidak akan kuat berdiri lama seperti mereka?


Dengan baik hati Myra menunjuk kursi itu sebagai isyarat agar aku duduk di sana. Aku ingin sekali bertanya kenapa hanya aku yang akan duduk, tapi para penghuni tribun yang lain sudah berdatangan juga. Myra menyambut mereka dengan hangat. Aku dengan canggung berdiri di depan kursi.


"Lui..!" Myra tiba-tiba memanggilku, di tengah pembicaraannya dengan orang yang terlihat sangat tua.


"Perkenalkan Elder Firmo, ini adalah Eluira Delmora" katanya, dengan nada sopan dan tersenyum lebar.


Aku menyambut tangannya yang terulur dan juga tersenyum sopan. "Senang bertemu dengan anda" Aku melihatnya tersenyum semakin lebar saat mendengar perkataanku.


"Kau bahkan lebih cantik, daripada kabar yang aku dengar Nona muda" katanya, yang segera saja membuatku salah tingkah.


Aku tidak percaya mereka menganggapku cantik, saat ada makhluk seperti Roanna yang berada tidak jauh dari sini.


Myra juga memperkenalkan aku pada beberapa orang yang lain. Tapi Elder Firmo adalah yang paling ramah diantara mereka semua.


Mereka menyambut uluran tanganku dengan sangat sopan, tapi berjarak. Salah satu dari mereka yang bernama Elder Camille, bahkan membuatku bergidik dengan tatapan dinginnya.


Selain para Elder itu, beberapa orang juga menempati tribun tempat kami berada. Dan lagi-lagi mereka memandangku dengan mata ingin tahu.


Beberapa dari mereka--beberapa gadis dengan dandanan yang cantik -- memberiku tatapan tak suka dengan sembunyi-sembunyi.


Ini tentu saja membuatku heran. Apa salahku?


Aku belum pernah bertemu mereka sebelum hari ini!!. Tidak perlu membenciku tanpa alasan, aku sudah cukup mengalami hal yang menyedihkan beberapa minggu kebelakang, batinku dengan kesal.


Setelah beberapa obrolan ringan antara Myra dan beberapa orang --aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, benakku sibuk menghindari mata orang--di situ, Myra kembali menunjuk kursi dan menyuruhku duduk. Myra sendiri berdiri dengan anggun di sebelah kursiku.


Aku memohon dalam hati agar acara ini segera di mulai. Aku tidak tahan lagi dengan semua tatapan mata yang aku terima.


Dan kemudian doaku terjawab, suara lolongan membelah lapangan, suasana langsung berubah sunyi. Dan aku tidak lagi menjadi pusat perhatian.


Semua mata tertuju ke arah Duke, termasuk aku.


Duke telah mengangkat tangannya memberi aba-aba.


Salah satu pintu di sudut lapangan terbuka dan keluarlah sekelompok orang dengan pengawalan 4 werewolf. Sudah jelas mereka adalah para pemberontak dan penjaganya.


Aku mengamati dengan seksama werewolf yang berjalan pelan itu. Ini pertama kalinya aku bisa melihat wujud mereka tanpa rasa takut atau was-was.


Lupakan tentang serigala yang biasa, werewolf memang terlihat seperti serigala, tapi dengan ukuran 2 atau mungkin 3 kali lipat lebih besar. Belum lagi mata mereka, mencerminkan akal yang lebih tinggi dari pada sekedar serigala biasa.


Rombongan itu berhenti di tengah lapangan, kemudian mereka berdiri di seberang tempat Duke berdiri dengan jarak sekitar 10 meter.


Tanpa peringatan Duke membuka baju hitamnya dan memperlihatkan otot tubuhnya yang---- yeah, it's in perfect shape. Wajahku, tanpa bisa aku cegah, langsung menghangat.


Dengan jelas aku mendengar dengkuran memuja yang berasal dari beberapa wanita yang tadi melirikku dengan jengkel. Mereka sangat menikmati pemandangan yang di suguhkan Duke di lapangan.


Ck.... mata mereka perlu mendapat pelajaran untuk menghormati privasi seseorang!!


Bukan urusanmu untuk marah pada mereka Lui!! Itu urusan Roanna, sisi masuk akalku menghardik tajam.


Tapi apa yang dilakukan Duke? Haruskah dia membuka bajunya dengan cara dramatis seperti itu?


Aku memandang tajam ke arah Duke yang kini melangkah maju. Dan sesaat kemudian. Pandangan mataku gelap, Myra menutup mataku dengan tangannya.


Ada apa?


Dan 3 detik kemudian setelah Myra menurunkan tangan, aku menjadi mengerti. Myra menghalangiku melihat Duke berubah.


Di lapangan aku melihat serigala berwarna hitam legam dengan sedikit warna putih di dekat telinganya, dengan ukuran yang lebih besar lagi dari pada werewolf lainnya.


Duke melangkah dengan kaki besarnya kemudian mengangkat kepala, dan melolong panjang ke arah langit.


Lolongan yang terasa begitu magis. Bulu kudukku meremang dengan otomatis. Padahal aku sama sekali tidak tahu apa maksud dari lologan itu. Suara lolongan itu menyebar ke seluruh penjuru dan bergema memenuhi udara.


"Tutuplah matamu sejenak Lui" Myra berbisik tepat di telingaku. Aku dengan reflek mengikuti perintahnya, walaupun bingung kenapa aku harus melakukannya.


Suara berisik yang mulai akrab di telingaku menjawabnya. Apakah Myra bertransformasi juga seperti Duke?


Gelitikan pelan di pipi membuatku tersentak dan membuka mata. Nafasku tertahan karena terkejut ketika melihat ke arah tempat Myra tadi berdiri. Werewolf anggun dengan wujud paling indah dari semua yang pernah aku lihat berdiri di sana.


Bulu Myra berwarna seputih salju, mata coklat kuningnya terlihat mencolok di antara bulu putihnya itu.


Dia melirikku, kemudian moncongnya tertarik ke belakang. Apakah dia sedang mencoba tersenyum?


Jika iya, maka percobaannya itu gagal. Gigi taringnya sekarang terlihat, dan itu malah membuatnya mengerikan.


Tapi aku sama sekali tidak merasa takut. Aku tahu siapa dia, dan mata itu masih menatapku dengan penuh perhatian hangat, seperti Myra yang biasa.


Aku merasa lebih bodoh lagi sekarang. Bagaimana bisa aku menganggap mereka monster?!


Aku menatap mata Myra dan tersenyum, seraya menyentuh bulu di sekitar lehernya. Bulu itu sangat lembut, membuatku punya keinginan gila untuk bergelung nyaman di sana.


"Kau sangat indah Myra..." bisikku tepat di telinganya yang besar. Myra mendengking pelan dan menyundul tubuhku dengan lembut. Aku harap itu berarti dia menyukai pujianku.


Dan saat itu, aku menyadari jika akulah satu-satunya yang berwujud manusia di tribun itu.


Aku mengedarkan pandangan dan mengerti kenapa tidak ada satupun kursi di tempat ini, karena mereka semua tidak akan perlu duduk. Warga pack yang hadir di sini, semuanya telah bertransformasi menjadi wolf seperti Myra.


Lautan bulu dan cakar terhampar di hadapanku sekarang!!


 


 


----------- *0o0*----------


 


 


Aku berusaha meredam rasa menggelitik di perut dan juga debaran jantungku saat aku melihat Bee masuk.


Dia lebih dari sekedar cantik. Aku menyukai gaun pilihan Mom.


Gaun itu seolah melengkapi pesona Bee hari ini. Rambut Bee di tata oleh Mom sehingga membentuk kepangan indah di samping kepala, sisanya terurai bebas di punggung Bee. Tidak lupa sematan bunga-bunga liar hinggap dengan sempurna di sela-sela rambutnya.


Aku tidak bisa menahan senyum, saat melihatnya berjalan ke arahku.


Aku menarik ingatan anchor untuk mengalihkan pikiranku. Acara Brawl ini akan berubah menjadi drama jika aku terus memikirkan Bee saat acara berlangsung nanti.


Aku mengangkat tangan sebagai isyarat agar Brawl di mulai, karena seluruh tamu yang aku inginkan telah menempati tribun bersama Mom. Sedetik kemudian suara lolongan menjawab isyaratku.


Suasana lapangan senyap secara otomatis.


Pintu terbuka di sudut lapangan mengantarkan sekelompok pesakitan yang sangat ingin aku kunyah ke tengah lapangan.


Sebagian besar menunduk tanpa berani memandangku, tapi aku mengenali Amon yang masih mempunyai sedikit harga diri, memilih menatap kosong ke arah depan.


Aku melemparkan bajuku ke samping dan memanggil wolf-ku. Tidak perlu menunda nasib buruk yang akan menimpa mereka, lebih cepat mereka mati akan lebih baik.


Aku bisa melihat mata menatapku ngeri dari beberapa orang di depanku. Heeh... seharusnya mereka memikirkan akibat seperti ini sebelum mereka bertindak bodoh dan menyerang Bee.


Aku melolong ke arah langit sebagai perintah kepada semua werewolf untuk segera bertransformasi.


Dengan serempak, seluruh stadion bergerak dan tidak lama, semua penonton telah berdiri dengan menggunakan empat kaki. Termasuk gerombolan pesakitan yang ada depanku.


Dengan perlahan, aku mulai membuka mindlink Alpha agar bisa terhubung dengan seluruh warga pack.


Beberapa pikiran dari mereka langsung menyerangku tanpa sengaja, karena tiba-tiba aku mempunyai pengetahuan tentang harga baru untuk daging dan berbagai macam bahan pangan.


Bukan hal buruk tentu saja, setidaknya kekhawatiran mereka tentang hal yang sepele.


"Silent!!!" Aku memerintah menggunakan Alpha Tone kepada seluruh pack.


Benakku kembali jernih dengan seketika.


Aku memandang lekat ke mata Amon, yang sekarang berwujud serigala berwarna krem dan putih di bagian perut.


"Egon!"


Tak perlu pertanyaan berbelit. Begitu aku menyebut nama laknat itu, pikiran Amon dengan otomatis menampilkan sederet ingatan tentang Egon.


Aku jijik melihat ingatan itu. Egon kurang lebih menanamkan benih iri dan dengki kepada Amon semenjak dia bisa bertransformasi. Bagaimana dia membalik semua fakta, untuk meyakinkan Amon jika dialah pewaris sah pack ini.


Pantas saja Amon masih bisa bersikap begitu sombong setelah semua tipu dayanya terbongkar. Dia masih menganggap semua perbuatannya adalah wajar.


Entah bagaimana tiba-tiba ingatan yang aku lihat seolah tertutup kabut tebal.


Werewolf biadab!! Dia berusaha menyembunyikan ingatannya!! Ck.. perbuatan yang sangat percuma.


"BERANINYA KAU!!" Aku menggeram marah, sembari melemparkan ingatan tentang jenazah ayahku padanya. Segera saja amarah dan suara desisan yang berasal dari seluruh pack memenuhi otakku.


Aku harus bekerja keras mengabaikannya, karena emosi itu membuatku sangat ingin menyerang Amon sekarang juga. Aku harus menggali semua informasi sebelum membunuhnya.


Kabut memudar dari ingatan Amon, dia pasti merasakan sengatan amarah dari warga pack dan tidak akan melawannya.


Kembali benaknya menampilkan bagaimana Egon dan dia, merencanakan malam terkutuk ketika Crispin membunuh ayah. Egon merencanakan itu dengan sangat rapi.


Amon bertugas untuk membuat pengalih perhatian, dengan cara membunuh beberapa manusia di Forestville dan membuatnya seolah terlihat menjadi perbuatan vampire. Dengan itu, Egon bisa meyakinkan jika berita penyerangan itu adalah benar.


Aku kesal karena selama penyerangan itu berlangsung, Amon sama sekali tidak ambil bagian di dalamnya. Dia menyingkir agar benaknya tidak terisi hal-hal aneh. Dia dengan sengaja merekayasa ingatannya karena takut dengan Elder Victor.


"Crispin"


Aku menyebut nama Vampire itu, dan ingatan Amon segera berganti menjadi pertemuan antara Amon, Crispin dan Egon. Setelah semua kekacauan Egon dan Crispin berjanji akan memberikan jabatan Alpha pada Amon.


Werewolf t*l*l!! Tidak akan ada pack untuk di pimpin jika Crispin berhasil menghancurkan Blackmoon.


Aku kembali memeriksa dengan seksama ingatan Amon, dengan harapan akan memperoleh lebih banyak informasi mengenai Egon dan Crispin, tapi sayangnya tidak ada apapun lagi di ingatan Amon.


Dia hanyalah bidak rendahan yang tidak penting, sehingga mereka hanya memberi informasi yang remeh.


Ini menjengkelkan!!


Kenangan berikutnya membuatku tidak bisa lagi menahan amarah. Dia menghadiri pemakaman ayahku dengan hati puas. Aku bisa merasakan, bagaimana kenangannya itu justru membuatnya begitu gembira.


Disgusting!!.


"Serigala terkutuk!!! Keluar dan lawan aku" Aku meraung dalam benakku dan melolong dalam amarah.


Ratusan suara marah dari seluruh warga pack juga mendukungku. Perbuatan Amon tidak bisa lagi ditolerir.


Amon mendengking, tapi dia melangkah maju tanpa bisa melawan perintahku.


"Serang aku dengan sekuat tenaga makhluk hina!!" bentakku.


Aku tidak hanya mendengar ledakan semangat yang memenuhi otakku, tapi suara gonggongan dan juga salakkan riuh memenuhi stadion. Mereka juga tidak sabar melihat darah Amon tertumpah.


Amon melangkah sambil menggeram marah. Di pikirannya, aku melihat dia muak karena tidak bisa melawan Alpha tone milikku.


Tidakkah dia sadar, fakta itu merupakan bukti jika dia tidak mungkin menjadi Alpha pack ini. Werewolf bodoh!!


Dia menerkam dengan segenap kekuatannya. Aku mengelak dengan mudah. Kecepatan dan kemampuan Amon bertarung sedikit lebih baik dari werewolf sepantarannya.


Tapi dia bukan lawan untukku.


Amon menerkam dari sebelah kiri sekarang, dengan tangkas aku menghindar dan melompat dengan cantik di atasnya. Aku mengayunkan cakarku dengan ringan. Amon mendengking ketika cakaran itu dengan sukses menyobek sebagian besar punggungnya.


Darah merahnya terasa hangat di cakarku.


Dia tidak akan mati karena luka itu. Aku mengurangi kekuatanku dengan sengaja. Aku tidak ingin cepat-cepat membunuhnya.


Nafasnya mulai tersengal. Aku bisa meraba di benak Amon, dan melihat rasa takutnya mulai muncul. Pathetic!!


Amon kembali menyerang, tapi tidak lagi dengan gerakan yang terkoordinir. Dia menyerang dengan membabi buta.


Secepat kilat, aku menyambar salah satu kaki Amon dan menyentakkannya jauh ke tepi lapangan. Suara tulang kaki yang patah dan juga benturannya dengan pagar di tepi lapangan, ditenggelamkan oleh lolongan gembira dari warga pack.


Beberapa dari mereka melompat-lompat dengan bersemangat di tempat mereka berdiri. Werewolf selalu bersemangat melihat darah dan pertarungan, itu tidak akan berubah sampai kapanpun.


Amon masih mencoba berdiri dengan tiga kakinya. Dia menyeret tubuhnya mendekati pintu keluar dari lapangan. Dia ingin kabur dari nasibnya? Aku benar-benar jijik dengan sikap pengecutnya sekarang.


Tanpa ampun aku berlari dan kembali menyambar salah satu kakinya yang masih sehat, kemudian melemparnya kembali ke tengah lapangan.


Suasana kembali menjadi riuh, dan satu kata memenuhi benakku.


"Dengan senang hati!!!" Aku membalas panggilan penghuni pack yang meneriakkan hal yang sama.


Dengan kecepatan maksimal aku menerjang ke arahnya. Kali ini aku mengincar lehernya.


Tidak perlu menahan diri. Sudah cukup dia mempermalukan dirinya sendiri. Seluruh warga pack bisa melihat jelas melalui benakku bagaimana perasaan takut dan pengecut menguasai Amon. Aku akan menyelesaikan ini sekarang.


Aku menyambar lehernya dan mematahkannya dalam sekali gigitan. Aku mencengkeram kepalanya dan dengan sekali sentakan, kepala Amon terpisah dari leher.


Aku melempar kepala itu ke arah para serigala tahanan yang sedang menunggu giliran. Aku harap itu akan memberi sedikit gambaran apa yang akan terjadi dengan mereka.


Lemparanku itu kembali mendapat sambutan hangat dari penonton.


Lolongan dan juga gonggongan silih berganti memenuhi udara. Kepalaku penuh dengan teriakan kegembiraan dan kepuasan. Mereka memuji dengan berbagai ucapan yang segera saja membuat hatiku seringan bulu.


Mereka gembira karena salah satu pembunuh ayahku telah mati. Aku melolong panjang untuk meneriakkan kemenanganku. Sahutan gembira dan salakkan memenuhi tempat ini. Mereka sangat puas melihat nasib Amon.


Aku melirik ke arah tribun, Mom berdiri dan melolongkan pujiannya untukku. Rasa bangga memenuhi pikiran Mom saat ini. Dan di sebelahnya, Bee duduk dengan raut wajah yang tidak bisa aku mengerti.


"Duke" Teriakan memperingatkan di kepalaku datang dari El.


Ops.. aku segera saja menarik ingatan tentang pemakaman ayahku. Satu helai pikiranku soal Bee harus disingkirkan.


Aku menatap tajam ke arah sisa kerumunan pesakitan yang semuanya menundukkan kepala. Aku bisa melihat Quinton juga bersikap sama.


"Perlihatkan padaku!!" Desisku.


Quinton memejamkan mata dan ingatannya mengalir dengan lancar ke dalam benakku.


Amon!!


Amon dengan segala bujuk rayunya seperti Egon. Dengan ahli dia memanipulasi Quinton tentang Bee. Dia meyakinkan Quinton, jika Bee sama sekali tidak pantas menjadi Zhena.


Emosiku naik dengan tidak terkendali, melihat bagaimana Quinton sangat setuju dengan pendapat itu. Dia menyetujui rencana Amon untuk membunuh Bee!!


Dengan terang-terangan Quinton memandang rendah Bee, hanya karena dia manusia!!!


Geraman amarah memenuhi tenggorokanku. Tanpa pikir panjang, aku menerjang Quinton yang tidak bisa mengelak.


Seranganku mendarat dengan mulus, dia terlempar beberapa meter ke belakang.


Dengkingan kesakitan terdengar dari tubuhnya, yang sekarang bergetar mencoba untuk bangun.


"Apa yang membuatmu berpikir kita lebih baik dari manusia? Apa yang membuatmu berpikir kau bisa menghakimi seseorang yang belum pernah kau temui sekalipun?!!


Aku meneriakkan amarahku di otaknya.


"Apa yang membuatmu merasa kau bisa lolos dengan perbuatan seperti itu Quinton? Kau ingin membunuh Zhena pilihanku, dan kau masih berharap semua perbuatanmu adalah benar?" 


Benak Quinton sekali lagi dipenuhi dengan perbincangannya dengan Amon, tapi tak lama, perasaan Quinton yang sebenarnya terlihat.


Hati berat yang penuh dengan penyesalan. Aku mengenai perasaan ini dengan baik. Ini adalah perasaanku beberapa bulan yang lalu ketika mendengar cerita yang sebenarnya tentang ayah.


"Scion, saya tidak akan memberikan pernyataan pembelaan apapun. Ini adalah murni kesalahan saya. Adalah keputusan saya untuk mempercayai seluruh perkataan Amon. Saya seharusnya berpikir dengan lebih baik sebelum mengambil keputusan ini"  ucapnya, dengan terbata-bata.


"Saya akan menerima dengan lapang dada hukuman apapun yang akan diberikan, tapi saya mohon ampunilah mereka"


Quinton menunjuk gerombolan serigala yang saling merapat, melihat kemarahanku tadi.


"Mereka hanya menjalankan perintah dari saya. Mereka tidak bersalah"


Sekali lagi Quinton memohon kali ini dengan kepala menunduk dalam-dalam. Rasa khawatirnya tentang nasib anak buahnya terpampang jelas di benaknya.


Gerombolan yang sekarang berdiri di belakang Quinton mendengking pelan dengan sedih. Mereka tidak ingin Quinton menanggung semua kesalahan dan hukuman dariku.


Aku sangat mengenal Quinton, dia adalah werewolf loyal dan tidak akan pernah melakukan perbuatan yang sangat hina seperti Amon dan Egon.


Satu-satunya kelemahan yang dipunyainya adalah, dia tidak pernah berpikir panjang. Dia akan menerima begitu saja berita apapun dengan warna hitam putih. Tidak ada warna bau-abu untuk mempertimbangkan. Hal itu dimanfaatkan dengan baik oleh Amon.


Suara warga pack yang terdengar di benakku mulai berwarna, tidak seperti saat aku menghadapi Amon. Sebagian warga pack juga meragukan Bee. Mereka kebingungan dengan apa yang akan terjadi.


"Apa yang membuat kalian berpikir dia tidak bisa menjadi Zhena di pack ini?" Tanyaku dengan tegas.


Segera saja benakku sunyi.


"Apakah karena dia manusia?". Jawaban yang menghujani benakku sangat beragam, mustahil menerjemahkan satu persatu.


"Saat ini pack Blackmoon sudah bekerjasama dengan ratusan manusia. Kalian melakukan bisnis dan perdagangan dengan mereka. Kalian masih menganggap manusia lebih rendah dari pada werewolf?"


"Kami hanya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Zhena kami adalah manusia Scion!!"


Suara berat Elder Firmo memecah kesunyian.


Aku menoleh kebelakang, dan melihatnya melangkah maju mendekati Mom dan Bee.


"Aku tidak mempunyai jawaban untuk masa depan itu. Karena ini pertama kalinya aku memiliki Zhena dan menjadi Alpha. Aku tidak mempunyai waktu untuk berlatih supaya menjadi ahli" Jawabku,sarkastik.


Beberapa tawa dari warga menyelip di benakku.


"Aku memilih Zhena dengan segenap hatiku yang mencintainya. Aku memilihnya, karena dia mencintaiku dan menerimaku seperti apa adanya aku yang bukan manusia. Aku akan menegaskan hal ini sekali lagi, aku tidak akan memilih Zhena lain selain dia. Tidak setelah semua yang aku lalui untuk bisa bersamanya"


Aku menoleh menatap Bee.


Bee saat ini berdiri, dengan Mom yang berjalan mengelilinginya. Itu adalah sebentuk tantangan untuk warga pack yang masih tidak bisa menerima Bee. Mom akan melawan siapapun yang masih ingin menyakiti Bee.


Perasaan geramnya tergambar jelas, dan aku meneruskannya pada warga pack dengan senang hati.


Tapi dengan banyaknya perhatianku teralih pada Bee, pikiranku mulai tergelincir. Dengan susah payah aku menahan segala kenangan tentang Bee yang segera saja ingin mengambil sebagian besar porsi otakku.


"Duke!!" kali ini Roan dan El menggeram secara bersamaan.


Aku menarik anchor ingatanku sekali lagi, dan bernafas lebih lambat untuk menenangkan emosi. Aku mulai menyimak benak warga pack secara global.


Dan aku puas, karena banyak dari mereka menyuarakan dukungan untuk Bee.


Hati mereka yang tadi dipenuhi keraguan, sekarang menghangat bahkan beberapa terharu. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa gembira sekarang.


"Duke!!!"


Mom, El dan Roan sekali ini berteriak kencang secara bersamaan untuk memperingatkan bahwa benakku berkelana liar.


Dengan berat hati aku menarik anchor ingatanku dan membunuh segala emosi tadi.


Ake memandang ke arah Quinton dan anak buahnya yang sekarang berdiri dengan rapi berbaris.


"Aku tidak menyalahkan, jika kalian takut dengan segala keputusan yang aku buat tentang Zhena, tapi itu tidak memberi kalian hak untuk membunuhnya. Keputusan kalian sangat bar-bar, bahkan untuk standar werewolf. Kalian tahu itu bukan?" tanyaku pada Quinton.


Werewolf makhluk brutal dan gemar bertarung. Tapi untuk membunuh kami memerlukan alasan yang sangat kuat. Alasan Quinton sama sekali tidak bisa diterima.


Aku melipat kaki belakangku dan duduk tegak memandang langsung ke Quinton. Dia memandangku tanpa paksaan. Penyesalan sekali lagi memenuhi pikirannya.


"Kau werewolf yang sangat loyal dan luar biasa Quinton, tapi sifatmu yang sangat mudah terpengaruh kali ini nyaris membuatmu mati!" 


Beberapa protes menyeruak di kerumunan penonton. Mereka membaca arti kalimatku, dan menyadari,  aku tidak akan membunuh Quinton.


"DIAM!!" bentakku, tak sabar.


"Aku akan mengampuni nyawa Quinton, karena aku tidak ingin kehilangan seseorang yang begitu setia kawan dan juga petarung yang hebat. Aku akan menurunkan stratamu menjadi λ (lambda)"


Itu berarti Quinton hanya akan menjadi warrior biasa tanpa anak buah.


Kegembiraan dan lega luar biasa menyeruak di benakku. Aku menoleh dan melihat sumbernya adalah serigala betina dengan warna cokelat pucat, yang berdiri dengan badan gemetar di sebelah tembok pembatas.


Itu istri Quinton, rasa lega dan kegembiraannya mengalahkan semua suara dari warga pack.


"Dan untuk kalian" Aku mengalihkan perhatianku pada anak buah Quinton yang sekarang berdiri gemetar.


"Tunjukkan apa yang salah dalam tindakan kalian"


Dengan patuh mereka mengalirkan ingatan mereka.


Sebersit ingatan yang aku lihat, membuatku geram,


"Keluar kalian berdua!!" 


Ada dua werewolf yang bersusah payah menyembunyikan sebentuk ingatan dariku.


Aku melihat bagaimana mereka bertemu Egon bersama dengan Amon setelah penyerangan di pack!!!


Pengkhianat yang lain telah muncul---


Mereka mendengking ketakutan, tapi berjalan maju. Tanpa basa-basi, aku menerkam mereka. Dengan reflek mereka mencoba melawanku secara bersamaan.


Tapi tentu saja itu perbuatan bodoh! Dengan mudah aku menghindar, kemudian mencengkeram leher milik salah satu dari mereka dan memutarnya dengan moncongku.


Derakan tulang leher patah kembali membahana. Satu werewolf yang tersisa, sekarang memandangku dengan ngeri. Aku akan berbaik hati mengakhiri penderitaannya dengan cepat.


Dia masih mencoba lari saat aku menghampirinya, perbuatan yang sia-sia. Aku menyambar kaki belakang dan mengoyak sebagian besar dagingnya. Lolongan kesakitan tidak membuatku berhenti.


Dengan sekali helaan nafas, aku mengayunkan cakarku ke kepalanya. Tubuhnya terkulai dengan sebagian kepala hancur, dan nafasnya sekarang sudah tidak terdengar.


Sorak-sorai dan lolongan kembali memenuhi kepalaku dan juga stadion. Kegembiraan warga pack sangat bertolak belakang dengan ketakutan, yang aku rasakan dari sisa gerombolan pesakitan yang kini semakin berdiri merapat.


"Tunjukkan padaku!".


Ingatan mereka mulai membanjir kembali.


Werewolf yang tersisa saat ini, murni menerima perintah dari Quinton, tanpa campur tangan Amon maupun Egon.


Tapi aku tidak akan mengabaikan kecemburuan yang menguar di benak mereka. Sasaran penyerangan mereka adalah Bee, tapi kebencian dan rasa iri mereka tertuju pada El.


Memuakkan!!!


Dengan ingatan itu, rasa marah mulai terdengar lagi dari penonton. Terutama dari para omega, mereka tidak terima dengan perlakuan yang diterima El.


Apa yang terjadi pada El adalah contoh bahwa strata kadang tidak penting. Bagi mereka El adalah simbol kemenangan, dan para serigala gentry itu, menginjaknya tanpa ampun.


"Tenangkan pikiran kalian!!" 


Aku menghardik karena sekarang pikiranku terlalu riuh untuk sekedar berbicara.


 


"Aku sangat terkejut dengan jalan pikiran kalian yang kekanak-kanakkan. Tujuan sampingan kalian begitu menyedihkan. Kalian tidak puas padaku, karena aku memilih Beta dari kalangan Omega? Kalian lupa rasa percaya dan ikatan persaudaraan tidak bisa dipaksakan apalagi direncanakan. Perbuatan kalian saat ini justru membuktikan bahwa status Theta dan Iota memang tidak pantas kalian sandang. Rasa iri dan dengki kalian pada El benar-benar membuatku jijik"


Jika bisa aku akan meludah ke tanah, sayangnya bentuk moncongku tidak bisa mengakomodasi hinaan itu.


"Mulai hari ini status kalian akan aku turunkan menjadi omega! Bersyukurlah aku masih membutuhkan tenaga kalian di pack"


"Terima kasih, Scion. Mereka akan menerima hukuman ini dengan senang hati" Quinton menunduk dengan khidmat, dan seluruh anak buahnya juga menunduk.


Hanya ada rasa lega luar biasa dan juga terima kasih yang ada di benak mereka sekarang.


Aku berdiri dengan tegap pada ke-empat kakiku. Sesuai dengan rencana, aku akan menyampaikan persoalan dan situasi yang akan di hadapi pack berkenaan dengan Crispin dan Egon.


"Silent!! Aku menjernihkan pikiran sekali lagi, agar apa yang aku katakan, bisa tersampaikan dengan lebih jelas.


"Ada beberapa hal yang harus kalian ketahui berkenaan dengan pengkhianatan Egon dan penyerangan vampire yang terjadi beberapa saat lalu. Masalah ini ternyata lebih besar dari pada yang kita bayangkan. Kelompok vampire yang menyerang kemarin dan juga Egon, telah menjadi ancaman bagi semua makhluk inhumane bukan hanya werewolf".


Gumanan bingung dan geram bermunculan di benakku yang semakin lelah. Aku harus segera menyelesaikan ini sebelum pikiranku menjadi letih. Membagi benakku secara berkepanjangan benar-benar menguras energiku.


"Kelompok mereka telah menghancurkan beberapa pack werewolf lain, elven sanctum, dan juga witch coven. Tidak butuh waktu lama, sebelum mereka akan kembali menyerang pack ini. Karena itulah aku meminta seluruh warrior dan penghuni pack ini bersiap jika hal buruk itu tiba-tiba saja terjadi" 


Kegelisahan menyebar bagai nyala api ke seluruh warga pack.


Sebagian dari mereka merasa panik, tapi sebagian lagi justru bersemangat. Aku tidak perlu mencari dari mana asal pancaran rasa tidak sabar ingin berperang itu. Semangat bertarung Roan menyala terang bagai api unggun.


"Tapi kita tidak akan pasrah menunggu mereka datang tentu saja!!" sergahku, cepat agar mengalahkan semua rasa takut yang juga ikut menyebar.


"Yeaaaaa!!!!"


Seruan bersemangat datang dari beberapa sudut, tak lama nafsu bertarung dari seluruh warrior mulai menerjangku.


"Saat ini kaum Hunter dan juga kaum inhumane lain juga sedang mencari jalan untuk menghancurkan kelompok mereka, tapi belum mendapatkan hasil yang bagus. Oleh karena itu mereka meminta bantuan kepada pack ini untuk berperang melawan mereka. Aku dengan senang hati menerimanya. Aku dengan senang hati menerima tawaran mereka untuk menghancurkan Egon!!"


Amarahku kepada Egon menyebar dan mereka menyambutnya.


Tidak mudah bagi mereka untuk melupakan teror yang di tebar Egon malam itu.


"Tapi untuk mewujudkan rencana penyerangan itu, aku membutuhkan bantuan kalian semua untuk mengerti, bahwa perang ini bukan hanya untuk kita, tapi untuk seluruh makhluk inhumane. Itu berarti kita kan bekerjasama dengan pack lain, dan juga makhluk inhumane lain" 


Sesaat sunyi, mereka semua sedang mencerna kejutan itu. Bekerjasama dengan inhumane lain tidak pernah ada dalam kamus pack ini sebelumnya.


"Saat ini dunia sudah berubah menjadi lebih luas untuk pack Blackmoon. Kita menjadi pack werewolf terbesar yang akan menjadi tumpuan harapan bagi makhluk inhumane lain untuk menghancurkan kelompok itu. Dan aku berharap kemurahan hati kalian untuk mewujudkan hal ini"


Aku meminta pengertian mereka dengan setulus hati.


Aku bisa saja memaksakan kehendakku tanpa mendengar pendapat mereka. Tapi itu perbuatan bodoh, dan aku tidak akan melakukannya.


Sekejap kemudian, ratusan pemikiran menghujani benakku, mereka khawatir, takut dan juga sekali lagi bingung. Kepalaku mulai merasakan beban yang luar biasa berat karenanya.


"Kami para Elder mendukung sepenuhnya keputusan anda Scion, saya harap kemenangan akan berada di pihak kita di masa depan!!!" 


Elder Firmo dengan suara beratnya, mencuat diantara lautan pikiran di benakku.


Pikiran khawatir dan bingung perlahan mulai sirna. Hanya gumaman mengerti. Suara Elder memang tidak bisa diremehkan pada saat seperti ini.


"Untuk menindaklanjuti rencana itu, pertemuan antar makhluk inhumane dan juga Hunter akan berlangsung di sini minggu depan. Bantuan kalian akan sangat berarti untuk kelancaran acara tersebut. Demikian!" tutupku, dan aku memutuskan mindlink-ku saat itu juga.


Aku bisa merasakan energiku terkuras dan nyaris habis sekarang. Beberapa suara tidak puas yang menginginkan jawaban lebih, harus melakukannya lewat mulut. Aku tidak bisa mendengar mereka lagi.


Aku menghadapkan kepalaku ke atas dan melolong panjang, sebagai pertanda bahwa Brawl telah berakhir.


Aku membutuhkan tidur panjang tanpa mimpi. Lelah secara psikis ternyata lebih menyiksa daripada sekedar lelah fisik.


"Aku rasa itu bisa di bilang cukup suskses"  Aku berdiri diam, menunggu Roan dan El yang berjalan menghampiriku.


"Jangan bercanda, kau membuat seluruh warga pack mengetahui kau sangat tergila-gila pada Lui. Otakmu menjalar terlalu jauh!! Hanya menjaga agar kau tidak menyimpang saja membuatku letih" Cela Roan.


"Jangan khawatir, perasaanmu itu membuat mereka menjadi mengerti dan menerima, jika Lui memang akan menjadi Zhena di sini" El menambahkan dengan nada ceria.


"Bagus!! Sekarang yang tertinggal adalah bagaimana caraku untuk meyakinkan Bee agar mau menjadi Zhena dalam waktu kurang dari 7 hari"


Otakku terasa semakin berat sekarang.


"Well.. Good luck then" kata Roan, dia berusaha tidak mengejek, karena melihat kekalutan yang memenuhi pikiranku.


Mendengar nada ramah Roan, membuatku tahu, masalah itu lebih pelik dari pada sekedar laga Brawl tadi, karena Roan bahkan tidak tega mengejekku.