
Sosok yang muncul dari dalam lingkaran itu, menatap semua yang hadir di perpustakaan dengan senyum lebar.
"Aku kecewa kau tidak mengundangku dalam acara ini, Duke" katanya sambil melangkah maju.
Suaranya lembut, terdengar seperti desiran angin, tapi semua telinga menangkap dengan jelas perkataannya itu, seolah ia berbisik langsung di depan telinga mereka.
Dengan gerakan serempak, para Alpha dan juga Vampire mendesis, mundur selangkah, kecuali, Duke.
"Kenapa aku harus mengundangmu?" balas Duke dengan otomatis, masih dengan mata menyipit galak.
Duke terbelah antara marah dan juga tercengang, karena makhluk aneh itu memanggil namanya dengan akrab.
Di belakang makhluk aneh itu, satu orang lagi melangkah pelan. Dia melambaikan tangan, dan dengan perlahan lingkaran cahaya di lantai tempatnya muncul, padam. Tanpa meninggalkan bekas apapun.
Selama 25 tahun hidupnya sebagai inhumane, Duke sudah banyak melihat hal yang aneh, tapi makhluk yang baru saja memanggil namanya tadi mengalahkan itu semua.
Tingginya hampir sama dengan Duke, dengan rambut pirang panjang tergerai. Tapi bukan itu yang menjadi pusat perhatian semua orang di ruangan itu.
Di kepalanya terdapat tanduk tinggi dengan ukuran kolosal.
Tanduk itu berbentuk seperti tanduk rusa dengan banyak cabang dan berwarna kecokelatan. Di samping kepalanya, menyembul telinga lancip dengan bentuk yang juga sama dengan rusa.
Matanya berwarna biru gelap, seperti warna air di laut dalam. Kulitnya berbinar sawo matang yang sehat. Wajahnya terlihat seperti inhumane pada umumnya, jenis laki-laki rupawan dengan kecantikan di atas rata-rata.
Dan seperti biasa, Duke tidak bisa menebak berapa usianya. Tapi menurut perkiraan Duke, dia paling tua diantara semua inhumane yang ada di ruangan itu, mengalahkan Rigel yang telah berumur seratus tahun.
Dia memakai semacam jubah besar menutup tubuhnya sampai ke ujung kaki, yang di hidung Duke. tercium seperti daun.
Keseluruhannya, makhluk itu tercium seperti hutan, lumut hijau dan juga tumbuhan.
Karena jubah itu juga, Duke tidak bisa menduga bagaimana bentuk tubuh mereka, Duke berharap mereka tidak memiliki memiliki kaki dan tangan lebih dari dua.
Satu makhluk yang lain, berperawakan sedikit lebih pendek. Tapi bisa jadi anggapan itu muncul, karena kepalanya tidak bertanduk. Jubah yang dipakai memiliki penutup kepala, yang sempurna menyembunyikan wajah si empunya.
Dalam gerakan pelan, dia menurunkan tudung kepalanya, membuat Duke bisa melihat sosoknya secara keseluruhan.
Berkebalikan dengan makhluk bertanduk tadi, warna rambut pendeknya sangat pucat. Putih dengan aksen perak yang mengkilat.
Di tempat yang seharusnya menempel daun telinga, terjuntai sebentuk telinga berbulu seperti telinga kucing dengan ujung runcing. Tapi matanya sangat identik dengan pria satunya, biru gelap.
Dua pasang mata biru memandang rombongan di perpustakaan itu dengan raut wajah berbeda, satu dengan antusiasme, satu dengan mata bosan.
"Seharusnya anda memberi kabar jika ingin datang. Kami akan menyambut dengan tangan terbuka"
Suara Abel memecah kesunyian dan ketegangan, Abel melangkah maju kemudian membungkukkan badan sedikit, menghormat.
"Aku ingin memberi kejutan padamu, Abel" balas makhluk bertanduk itu, disertai dengan kekehan kecil.
"You know them?" tanya Duke, dengan takjub.
Abel benar-benar manusia langka dengan jaringan inhumane tidak terbatas, bahkan untuk jenis yang tidak mereka kenal.
"Perkenalkan, ini adalah Sorrel Mounir, pemimpin Sanctum Apolline. Dan ini cucunya Dihyan Mounir" kata Abel, memperkenalkan mereka berdua.
"Elf? Mereka Elf" Duke berseru kaget.
Setelahnya, ruangan itu sunyi senyap, karena semua memandang kedua pendatang itu dengan mulut ternganga. Hanya dua orang yang tidak terkejut dengan fakta itu.
Alva menatap mereka berdua dengan wajah pucat, diraut wajah itu tergambar ketakutan yang nyata, bibirnya juga bergetar hebat.
Kemudian Faust, wajahnya justru terlihat bosan, seolah pemandangan sosok mereka berdua sangat biasa.
Faust sudah menyelipkan pistolnya kembali ke pinggang.Tahu tidak akan ada bahaya. Jelas dia sudah mengenal Sorrel seperti Abel.
Myra yang telah pulih dari rasa terkejut, menggeser dua kursi tambahan, mempersilakan mereka berdua duduk di meja yang sama dengan yang lain.
"Oh.. terima kasih!" kata Sorrel, dengan senyum ramah, melihat gerakan Myra.
"Kalian duduklah lagi" katanya dengan nada ringan, seolah tempat ini adalah rumahnya.
Semua yang hadir hanya bisa menuruti perkataannya itu, tanpa bicara. Duke melirik ke arah Abel sekali lagi, dengan heran.
Perjumpaan dengan Elf adalah kejadian luar biasa.
Elf bukan inhumane biasa. Mereka lebih seperti dewa jika dibandingkan dengan inhumane lain. Dan mereka sangat tertutup. Sedikit sekali informasi yang bisa di dapat tentang Elf, baik tentang sosok maupun kekuatannya. Karena itu sosok Sorrel membuat mereka takjub.
"Aku senang tidak terlambat" katanya. "Kalian belum memutuskan tentang apapun bukan?" tanya Sorrel memandang semua bergantian.
"Belum, kami sedang menyampaikan alasan kenapa kami memutuskan untuk membentuk aliansi ini" jelas Abel, dengan nada sangat hormat.
"Oh, itu bagus. Kita memang harus lebih mengenal agar bisa lebih saling percaya" kata Sorrel sambil bertepuk tangan kecil.
Tanduk di kepalanya bergoyang sejalan dengan kepalanya yang bergerak cepat memandang sekeliling meja.
"Untuk aku sendiri, karena Crispin sudah sangat keterlaluan. Aku lebih dari siapapun tidak ingin keberadaan inhumane diketahui manusia. Hal itu akan sangat merepotkan" tambahnya dengan santai.
"Alasan yang masuk akal" kata Duke, akhirnya berhasil menemukan suaranya yang hilang beberapa saat. Para Alpha dan juga pendampingnya yang juga telah tersadar, mulai mengangguk.
"Sekarang, akan aku berikan gambaran tentang kekuatan kekuatan pasukan Crispin yang paling baru" Abel kembali pada nada bicaranya yang biasa, meneruskan pertemuan ini seolah tidak ada gangguan sebelumnya.
"Menurut perkiraan Faust, ada lebih dari 250 Stray yang bersamanya. Tapi sayang, kita tidak bisa tahu berapa kemungkinan vampire yang telah bergabung dengannya" kata Abel sambil membaca keterangan yang tertera di tablet PC dalam genggamannya.
Angka tadi adalah perkiraan yang diberikan oleh Duke dan Faust kemarin.
"Aku bisa memberikan perkiraan, ada lebih dari 13 clan vampire yang bergabung dengannya, jika jumlah rata-rata sebuah Clan adalah 10 orang, maka kurang lebih ada 130 vampire yang mengikuti Crispin"
Arkin berbicara sambil menatap Oulam, yang dibalas dengan anggukan setuju olehnya.
Duke mendecak gemas. Dengan jumlah seperti itu, mereka bisa dengan mudah mengambil alih sebuah negara kecil bahkan mungkin benua. Inhumane yang berkumpul adalah bencana.
"Saat ini ada sekitar 50 Hunter yang telah beberapa bulan hilang tanpa melapor, aku akan menganggap mereka ada bersamanya" kata Abel menambah kesuraman.
"Dan juga penyihir, perkiraan sementara, minimal ada dua witch coven yang bersamanya" Abel mengalihkan matanya dari tablet dan melihat meja itu telah jatuh dalam kemuraman, kecuali Duke dan Sorrel.
Untuk Duke, dia tidak peduli seberapa banyak musuh. Yang terpenting untuknya hanyalah Egon dan Crispin.
"Hmmm.. itu lebih dari pada yang aku perkirakan" kata Sorrel, tapi wajahnya tidak terlihat khawatir.
"Sekarang adalah saatnya kalian mengemukakan berapa banyak warior yang akan kalian berikan pada peperangan ini"
Abel mempersiapkan tangannya mengetik.
"Tidak bisakah kita datang begitu saja saat penyerbuan nanti" tanya Urtzi dengan enggan.
Keengganan yang bisa dimengerti.
Pada situasi normal, mengumumkan seberapa banyak warrior yang kau punya kepada Alpha lain, adalah tindakan bodoh. Karena itu, sama dengan mengumumkan seberapa kuat pertahanan pack.
"Itu berarti kita akan maju dalam penyerbuan itu tanpa tahu kekuatan kita sendiri? Tanpa siasat apapun? Hanya menyerang membabi buta?"
Faust yang sedari tadi diam, akhirnya bersuara dengan nada tajam. Jengkel melihat bagaimana mereka masih keras kepala.
"Moonrise adalah pack kecil. Kami hanya bisa memberikan 10 warrior" kata Jacy sambil memandang Abel.
"Kau yakin?" tanya Abel ragu. Moonrise akan kehilangan banyak, jika mereka semua tidak selamat.
"Ya, dan jangan khawatir. Kami memiliki beberapa bayi yang akan lahir selama musim panas nanti" kata Jacy dengan senyum menentramkan.
Dalam hati, Duke berjanji akan memprioritaskan pack Moonrise dalam perlindungannya. Seperti ibunya, Jacy terlalu baik.
"Badira, akan mengirimkan 34 warrior" kata Aygul dengan ceria.
Dia sama sekali tidak keberatan mengabulkan permintaan Abel.
"Levana, 45 warrior" kata Kamaria pendek, tanpa embel-embel apapun.
Urtzi terlihat jengkel dengan perkembangan ini. Kini dia tak punya pilihan lain dan harus melaporkan jumlah warrior-nya.
"Shavarana akan mengirimkan 46 warrior" katanya dengan segan.
Jumlah yang lumayan, batin Duke.
"Celaine, 25 warrior" Rigel menyahut dengan suara beratnya.
"Blackmoon, 117 warrior" kata Duke dengan pasti.
"118" Myra menyahut dari samping Duke dengan kesal.
Mereka sudah beberapa kali berdebat soal keikut sertaan Myra, dan Myra tidak mau menuruti perintah Duke.
Aygul bersiul dengan kagum mendengar itu, tapi Alpha yang lain mengernyitkan dahi.
Kekuatan Blackmoon jelas mencengangkan bagi mereka. Dan seperti biasa, Kamaria memandang Duke dengan mata memuja.
"Mom, kau tidak bisa ikut. Siapa yang akan menjaga pack? Dan juga Lui?" Duke sebenarnya tidak ingin menyebut Lui, tapi Ibunya tidak akan bisa dilawan dengan argumen biasa.
"Tinggalkan Tita, atau panggil Seema" tukas Myra.
Seema adalah salah satu pengawal dan werewolf kepercayaan Rex, dia hampir tidak pernah meninggalkan Quebec maupun Monath. Duke jelas ingin membantah, tapi kemudian menyadari ini bukan waktu yang tepat.
Alpha lain yang telah punya gambaran bagaimana kekuatan Blackmoon, hanya bisa menarik nafas panjang. Sedikit lega, setidaknya Blackmoon berada dalam pihak yang sama dengan mereka. Untuk saat ini.
"Dengan ini, jumlah pasukan dari kita agak seimbang, belum lagi jika nanti bangsa Elf akan memberikan bantuan" kata Abel memandang jumlah itu dengan puas dan kemudian melempar pandangan pada Sorrel.
"Tentu----tentu saja aku akan mengirimkan bantuan" Sorrel segera menyahut, begitu melihat tatapan Abel.
Tapi kemudian diam, tidak menyebut seberapa banyak dia akan mengirim pasukan.
Duke sangat ingin bertanya berapa kekuatan yang akan dikerahkan Sorrel saat perang nanti, tapi dia menahan diri. Dia belum bisa menebak bagaimana reaksi Sorrel, jika nekat bertanya.
"Satu fakta menyebalkan yang lupa kau sebut, soal vampire mutan" kata Duke. Mengemukakan fakta yang menghancurkan harapan Abel.
"Ya--kau benar" kata Abel dengan lebih pelan karena harapannya, kembali terkikis.
"Satu fakta tidak menyenangkan lagi. Crispin bisa berjalan di bawah matahari" jelas Abel melihat tatapan bingung dari peserta yang lain, sambil mencoba untuk tidak terdengar putus asa.
Mata Arkin dan Oulam berkilat tajam mendengar fakta ini. Sementara Alpha lain dan Kamaria terkesiap kaget, juga Alva yang yang telah lama terdiam menunduk, mengangkat kepalanya dengan terkejut.
"Kau bercanda Abel!!" Aygul berseru campuran antara tidak percaya dan jengkel. Abel menggeleng dengan pelan.
"Dia mendapatkannya dengan meminum darah Elf dari Black Forest" sahut Sorrel, kali ini wajahnya tidak setenang sebelumnnya.
Wajah Dihyan bahkan lebih menyeramkan lagi, mengerut penuh amarah.
"Satu sanctum tidak akan memberinya kekuatan itu ,maka dia menghancurkan sanctum di Black Forest" Sorrel menjelaskan dengan lebih lanjut.
"Aku harap kalian tidak berpikiran aneh untuk mengikuti jejaknya" tambahnya, sambil memandang Arkin dan Oulam.
Nada bicara Sorrel yang seperti bisikan sama sekali tidak terdengar mengintimidasi, tapi entah mengapa Duke ikut merasa terancam.
Arkin menggeleng jijik, sementara Oulam menggeleng sambil tersenyum. "Saya mengakui jika kabar itu sedikit menggiurkan. Tapi saya sangat sadar, apa yang harus dikorbankan untuk mendapatkannya"
Sorrel memandang mereka sebentar, dan kemudian mengangguk puas. Percaya dengan perkataan mereka.
"Sudah aku duga" kata Duke.
Butuh kekuatan yang luar biasa untuk bisa mengubah kelemahan fatal vampire, dan darah Elf adalah darah inhumane paling kuat tentu saja.
Sorrel mengangguk mendengar ujaran Duke, "Sanctum Black Forrest sangat lemah, Crispin tidak menemui banyak tantangan saat penyerangan itu"
"Ini kabar yang sangat buruk" Kamaria menimpali perkataan Sorrel dengan pelan. Untuk beberapa saat, matanya terlihat ragu. Dia sedikit menyesal, harus mengirimkan warrior Levana untuk melawan makhluk sekuat Crispin.
Alpha selain Duke semuanya mengangguk menanggapinya.
"Kalian jangan khawatir, Duke yang akan melawan Crispin bila saatnya tiba nanti. Kau keturunan dari Dyad bukan?" sahut Sorrel dengan enteng, seraya memandang Duke.
Kamaria yang mengangkat gelasnya ke mulut, menghentikan gerakan di tengah jalan. Sekarang semua penghuni meja itu memandang Sorrel dengan tertarik, bahkan Abel yang biasanya tahu tentang segala hal, sepertinya belum mengenal istilah itu.
Duke sama sekali tidak tahu apa arti istilah yang baru saja dikatakan Sorrel. Tapi mendengar konteks kalimatnya, Duke bisa menebak ke arah mana pembicaraan Sorrel.
Ingatannya masih segar, bagaimana Alpha dari Elder Galen setengah mati ingin menyembunyikan fakta tentang mate, agar tidak mengundang pertarungan yang tidak penting.
Dia melirik Abel mata menuduh, fakta ini adalah rahasia. Jika Sorrel bisa tahu, itu berarti Abel yang membocorkan.
Abel melihat Duke sembari menggeleng kencang "Aku tidak mengatakan apapun" katanya dengan sungguh-sungguh.
Jadi dari mana Sorrel tahu?
Jacy dan juga Myra mulai bergerak gelisah di kursinya, mulai sadar jika Sorrel membahas tentang Mate.
"Apa itu Dyad?" Akthar bertanya dengan segera. Sifatnya sedikit mirip dengan Arana, selalu ingin tahu.
"Oh... Dyad adalah pasangan sempurna. Pasangan yang memang ada untukmu" Sorrel dengan baik hati menjawabnya.
"Maksudmu seperti istri?" Aygul bertanya dengan ragu.
"Tidak!" bantah Sorrel pendek.
"Kalian benar-benar tidak tahu?" Sorrel bertanya dengan tidak meyakinkan.
Duke merasa, jika Sorrel sudah sadar, bahwa hanya Abel dan juga perwakilan Blackmoon yang tahu tentang hal ini. Dia sedang membelokkan diskusi ini sesuai dengan keinginannya.
Beberapa kepala menggeleng menjawab pertanyaan Sorrel.
"Hmm... bagaimana aku harus menjelaskan tentang hal ini ya?"ujarnya, sambil mengeluarkan tangan dari balik jubah.
Tangan itu terlihat normal pada awalnya, tapi kemudian Duke menyadari, panjang jemari mereka tidak biasa. Jari itu terlihat kurus dan lebih panjang dari jari normal yang biasa.
"Dyad adalah istilah untuk pasangan inhumane yang ditakdirkan untuk bersama" kata Sorrel, tapi itu bukan penjelasan yang bisa dipahami.
Kerutan di dahi mereka semakin dalam. "Aku masih tidak mengerti" kata Akhtar belum menyerah.
"Singkatnya, jika kau telah bertemu dengannya, kau akan mati jika tidak bersamanya" kata Sorrel.
"Oh...bukankah itu biasa terjadi?" tanya Akhtar lagi.
Sebagai adik Arana, dia tahu seberapa dalam Arana mencintai suaminya. Dia akan mati jika tidak bersama Aygul. Menurut Akthar itu hal yang wajar.
Sorrel terkekeh pelan, "Itu karena Arana dan Aygul adalah Dyad" katanya sambil menunjuk Aygul.
Duke membelalak terkejut. Dia tahu mereka mesra, tapi tidak menyangka jika mereka adalah Mate.
"Apa maksudnya ini? Apa pasangan yang sudah menikah berarti Dyad?" Rigel bertanya dengan gusar, merasa pembicaraan hanya berputar-putar di tempat.
Sorrel terdiam selama beberapa saat, kemudian memandang kami semua dengan seksama.
"Kalian tahu, ini adalah pertama kalinya dalam ribuan tahun kehidupanku, melihat werewolf dan vampire dalam satu ruangan tanpa nafsu membunuh yang berlebihan. Karena itu aku akan menceritakan sesuatu hal yang menarik tentang asal-usul kalian" katanya, masih dengan nada ringan.
Seakan kenyataan, jika dia baru saja menyebut umurnya adalah ribuan tahun bukan kejutan besar.
Duke menyipitkan mata, tebakannya bahwa kurang lebih Sorrel berumur 200 tahun salah tentu saja.
Rigel terlihat tidak sabar, dia malas jika harus mendengar kisah panjang. Tapi dia juga enggan membantah seorang Elf
"Ribuan tahun sebelum ini, hanya ada dua jenis makhluk yang menghuni bumi ini, yaitu manusia dan juga elf. Elf adalah penjaga keseimbangan alam. Kami hidup diantara pepohonan di hutan yang terdalam. Mengamati perkembangan dunia dan juga manusia"
Sorrel memulai kisah, dengan suaranya yang halus.
"Pada awalnya, manusia dan ef hidup berdampingan dengan damai, tanpa ada gesekan yang berarti, Bagi manusia, elf hanyalah penjaga hutan dan juga hewan-hewan. Selama manusia memanfaatkan hutan tidak secara berlebihan, elf tidak akan mengganggu mereka"
"Tapi seiring dengan berkembangnya intelegensi dari manusia, mereka mulai tertarik dengan kehidupan elf. Beberapa manusia mulai mendekati kami. Mereka memohon dengan manis, agar kami membagi ilmu dan juga cara hidup Elf pada manusia. Pada awalnya kami menolak tentu saja, tapi manusia adalah makhluk yang gigih"
Senyum getir terbentuk di bibir Sorrel saat mengucapkan itu.
"Dan ya--- akhirnya manusia berhasil merayu beberapa Elf, hingga mereka mendapatkan apa yang diinginkannya. Manusia itu belajar dan juga menyerap semua pengetahuan Elf dengan cepat. Dalam waktu beberapa tahun saja, sebagian dari mereka telah sangat mahir mempraktikkan ilmu yang di dapatkan dari para Elf. Saat itulah inhumane pertama lahir, yaitu penyihir. Sebutan untuk manusia yang memiliki ilmu dan pengetahuan Elf"
Sorrel kembali tersenyum, tapi matanya sekarang memandang Alva yang wajahnya memucat.
Semua yang hadir juga melakukan hal yang sama, tapi tidak berkomentar lebih lanjut. Maka Sorrel kemudian melanjutkan kisahnya.
"Tapi seperti yang kalian tahu, manusia juga bisa sangat serakah. Semakin mereka tahu tentang elf, semakin mereka merasa tidak puas. Karena seberapa kuat manusia berkembang, mereka tidak pernah bisa lebih kuat dari elf."
"Dan begitulah, satu orang penyihir yang bernama Lonan, memutuskan untuk mengembangkan ilmu yang diterimanya dari elf, dan mulai melakukan hal mengerikan"
Sorrel mengambil nafas panjang, mulai menunjukkan sedikit emosi. Wajahnya dipenuhi rasa jijik.
"Lonan belajar menutup pikiran, kemudian mulai mendekati elf polos yang tidak curiga dengan niat jahatnya. Kaum elf yang terjerat dalam jaringnya dibantai, lalu dengan kejam, dia menyerap kekuatan mereka. Dia menjelma menjadi makhluk yang sangat kuat, dengan perasaan yang telah mati"
Sorrel kembali menarik nafas panjang.
"Bangsa elf bukan bangsa yang gemar berperang ataupun bertarung. Karena itu, kami menyadari perbuatan jahatnya dengan sangat terlambat, saat Lonan telah menerapkan berbagai macam sihir terlarang dan juga mengerikan. Singkat cerita, penyihir keji itu telah berhasil membangun pasukan dari berbagai macam makhluk ciptaannya untuk membasmi bangsa elf, agar bisa menjadi penguasa tunggal di bumi"
Sebelum Sorrel melanjutkan kisahnya, Duke mulai merasakan firasat buruk, jika lanjutan cerita itu, tidak akan menyenangkan. Dan dia benar.
"Lonan menciptakan makhluk dingin dari kematian dengan tubuh sekeras besi, yang membutuhkan darah untuk bertahan hidup"
Sorrel memandang Arkin dan Oulam yang mengetatkan rahang mendengar hal itu.
"Dia juga menciptakan makhluk buas yang berasal dari serigala dan manusia, dengan kecepatan dan juga kemampuan bertarung luar biasa, yaitu para werewolves"
Sorrel sekarang menjatuhkan pandangan pada para Alpha.
Kisah Sorrel telah berubah menjadi mimpi buruk bagi siapa saja yang hadir di ruangan itu.
Rigel tak bisa lagi mempertahankan wajah pongahnya, sekarang dia menunduk memandang meja. Myra yang tidak tahu harus berkata apa, menutup wajah dengan kedua tangannya.
Mengetahui bahwa entitas asli kehidupanmu, hanya diciptakan untuk menjadi mesin pembunuh kejam, adalah pukulan berat bagi siapapun.
"Kami akhirnya berhasil mengalahkan Lonan, dengan perang dan juga pengorbanan yang mencabik kehidupan kaum elf. Luka yang kami derita begitu dalam" Sorrel kembali terdiam, sambil memejamkan mata.
"Setelah mengalahkannya, kami masih bisa berpikir jernih untuk tidak membantai semua kehidupan yang tersisa di pihaknya, karena seperti yang kalian tahu, elf bukan makhluk pembunuh. Kami adalah penjaga"
"Kami sadar, werewolves dan juga vampire, adalah makhluk hidup yang bisa berpikir sendiri. Tapi berada dalam nasib malang terikat pada tuan yang kejam. Akhirnya bangsa elf memutuskan untuk berusaha sekeras mungkin 'memperbaiki' makhluk ciptaan penyihir kejam itu. Bagaimanapun juga. kekejian yang terjadi adalah akibat dari keputusan kami untuk membagi ilmu kepada manusia. Yang gagal kami perhitungkan, adalah seberapa kelam warna hitam yang ada di hati manusia"
"Kami berhasil membuat werewolf menjadi lebih tenang, dan mengurangi dahaga mengerikan para vampire. Kami berusaha sekuat tenaga membuat mereka agar bisa hidup dengan lebih normal"
Pandangan mata Sorrel menyapu seluruh ruangan.
Tidak perlu dijelaskan panjang lebar, semua yang ada di ruangan itu tahu. Mereka semua adalah keturunan dari makhluk yang baru saja diceritakan Sorrel. Dan hampir semua tidak menyukai fakta baru ini.
"Kami melepas semua inhumane buatan Lonan yang tersisa dari perang itu, ke dunia ini. Tapi kami tahu, bisa saja suatu saat nanti akan ada penyihir yang mencoba untuk memanfaatkan kalian lagi. Untuk itu kami mempersiapkan beberapa tempat khusus, yang telah kami beri sihir pelindung sebagai tempat mereka tinggal"
"Tunggu!!" Duke memotong cerita Sorrel.
"Kristal itu----kalian yang membuatnya?" Duke langsung teringat lingkaran sihir yang ada di menara begitu Sorrel menyebut sihir perlindungan.
"Blackmoon adalah salah satu pack yang kami bentuk dan bisa bertahan sampai sekarang" jawaban Sorrel membuat Aygul dan Urtzi mengangguk paham.
Tapi tanda tanya hadir di wajah Jacy dan Rigel.
Sorrel tersenyum melihat beragamnya mimik wajah menangapi keterangan itu.
"Blackmoon, Badira, Shavarana, dan tentu saja Levana, adalah beberapa pack yang dulu kami bentuk. Sedangkan untuk Moonrise dan Celaine, kalian adalah pack yang lahir setelahnya. Alpha kalian sudah tidak memiliki keterkaitan dengan Alpha yang dulu kami tunjuk"
"Jangan khawatir, itu bukan hal yang buruk" tambah Sorrel dengan baik hati, ketika melihat wajah Rigel dan Jacy berubah menjadi pias.
"Seiring berjalannya waktu, pasti ada ketidaksetujuan diantara penghuni pack, sehingga mereka membentuk pack baru. Yang membedakan hanyalah, kalian agak terlalu mudah ditemukan. Itu saja" lanjut Sorrel, menenangkan mereka.
Saat ini, pack werewolf biasa, seperti milik Jacy dan Rigel, jumlahnya jauh melebihi jumlah pack utama, yang tadi disebut Sorrel.
Tanpa sihir perlindungan dari Elf, wilayah pack mereka lebih mudah ditemukan oleh inhumane lain. Terutama penyihir. Mereka bisa dengan mudah melacak dan memasuki wilayah pack tanpa ada yang bisa mencegah.
Duke melirik mata Myra, dan melihat pemahaman memasuki matanya. Karena itulah penyihir menyerang Moonrise, mereka tidak terlindung seperti Blackmoon.
"Aku justru kagum dengan kalian yang hidup tanpa perlindungan sihir. Kalian telah bertahan sekian lama dari ancaman penyihir hitam. Kehidupan kalian pasti berat"
Sorrel kembali menambahkan, dengan nada simpatik. Jacy hanya mengangkat bahu mendengarnya, karena semua itu benar adanya.
"Untuk vampire, kalian sudah lama meninggalkan tempat yang kami berikan. Saat ini hanya Claret yang masih berada di tempat yang sama bukan?" Sorrel menoleh ke arah Arkin, yang segera membuatnya bergerak gelisah. Tapi kemudian dia mengangguk sopan.
Oulam jelas tidak tahu apa-apa soal sihir perlindungan ini. Raut wajahnya mirip seperti Jacy saat pertama kali mendengarnya.
Melihat tidak ada lagi yang ingin menyela, Sorrel melanjutkan ceritanya.
"Saat melepas kalian hidup sendiri, kami berharap, kalian bisa hidup berdampingan dengan manusia. Tapi akhirnya kalian memilih jalan masing-masing. Dalam ribuan tahun ini, bangsa kalian tentu saja mengalami banyak perubahan. Kalian yang dulu berada dalam kekuasaan Lonan, justru sekarang saling bermusuhan. Sayang sekali aku tidak tahu apa yang menyebabkannya" Sorrel memandang pemimpin werewolf dan vampire dengan mata bertanya.
Tapi semua yang hadir di sana tidak akan bisa memberi jawaban. Permusuhan itu sudah berlangsung jauh sebelum mereka lahir. Tidak ada yang tahu penyebabnya.
"Tapi apapun itu, keadaan perlahan menjadi normal. Kalian ada yang memilih untuk kembali menjadi pembunuh kejam, ada juga yang memilih untuk hidup dengan lebih baik, seperti kalian semua yang ada di sini. Dan terus terang saja, aku sangat gembira dengan pencapaian kalian"
Nada bicara Sorrel mengandung nada bangga, seperti seorang ayah yang melihat anaknya memenangkan perlombaan atletik.
"Termasuk kau Alva, tidak perlu menangis seperti itu. Aku tahu kau tidak ingin berdekatan dengan dunia inhumane setelah mengetahui fakta ini bukan?" kata Sorrel, dengan ramah.
Alva yang telah terisak selama beberapa saat, menundukkan kepalanya semakin dalam.
Duke tidak tahu tentang hal ini. Selama ini dia menduga keengganan Alva bersentuhan dengan inhumane karena faktor kekejaman dari inhumane.
"Kau sangat terguncang, ketika tahu bagaimana cara nenek moyangmu bisa mendapatkan kekuatan sihir, karena itu kau memutuskan untuk menjauh dari lingkaran inhumane"
Seolah membaca pikiran Duke, Sorrel menjelaskan rasa penasaran yang terlintas dalam kepalanya.
"Itu adalah sikap yang cukup mengagumkan. Kau tidak perlu malu, bukan kau yang membantai para elf" kata Sorrel, dalam usaha menghentikan tangis Alva.
"Dan aku sangat berterima kasih karena kau memutuskan untuk menolong Duke beberapa tahun yang lalu"
Duke, Myra dan juga Jacy menoleh bersamaan, bahkan juga Alva. Dia mengangkat wajahnya yang masih penuh air mata.
"Oh, tidak perlu terkejut. Tentu saja aku tahu tentang hal itu" Sorrel tertawa renyah melihat keterkejutan dari berbagai sudut meja.
Fakta ini tidak seharusnya bisa diketahui olehnya.
"Dan untuk apa kau tahu?" Duke yang tidak bisa lagi menahan rasa penasaran, akhirnya bertanya.
"Kau bisa mengabaikan permintaan Duke. Tapi kau akhirnya memilih untuk mengabulkannya"
Sorrel dengan jelas tidak mengacuhkan pertanyaan Duke, dan meneruskan percakapan dengan Alva. Duke menggertakkan gigi geram, dia tidak terbiasa diabaikan.
"Ah--- aku jadi ingat tujuan lainku kesini" Sorrel sekonyong-konyong beranjak dari kursi.
Dengan reflek semua yang hadir mengikuti gerakannya.
"Apakah kalian keberatan jika pertemuan ini dilanjutkan besok? Aku harus menjenguk cucuku yang lain" katanya meminta persetujuan semua peserta rapat. "Lagi pula beberapa saat lagi matahari akan terbit"
Duke ingin memprotes karena jengkel tidak satupun rasa penasarannya terjawab dari cerita Sorrel, tapi Myra menahan tangannya.
Myra tidak ingin Duke membantahnya. Sorrel masih makhluk misteri untuk mereka, menurut Myra akan lebih baik jika mereka melihat lebih lanjut apa yang akan dilakukannya.
Akhtar juga terlihat ingin membantah, karena penjelasan Sorrel bahkan belum membahas soal Dyad, tapi Aygul memotong niatnya dengan mata tegas, yang segera di turuti oleh Akhtar.
Alpha yang lain kebanyakan hanya mengangguk pelan.
"Anda akan pergi kemana?" tanya Abel.
"Aku sudah bilang Abel, aku ingin menjenguk cucuku yang lain. Kau pikir kau adalah satu-satunya keturunanku yang ada di sini ?" Sorrel tertawa renyah, sambil menepuk bahu Abel.
Duke mencoba mengabaikan fakta mengejutkan jika Abel adalah salah satu keturunan Sorrel, karena pernyataan lain mengusik telinganya.
"Di sini?!" ulang Duke dengan tidak yakin.
"Ya, Duke. Aku akan menjenguk gadis yang telah memberimu mata hijau itu. Istrimu adalah cucuku, seperti Abel" jawab Sorrel dengan tawa makin keras, menikmati wajah terperangah dari semua orang.
"Tapi istri Alpha Theobald adalah manusia!" seru Akhtar, sambil menelengkan kepala bingung, tidak sadar jika fakta itu adalah rahasia.
Sedangkan Duke, dia kembali berharap mempunyai dua kepala..............