
Aku memandang ke arah panorama malam dengan pandangan kosong karena kesadaranku memilih untuk mengembara.
Angin musim dingin yang menggigit kulit, tidak terlalu aku pedulikan.
Sudah sekitar tiga puluh menit, aku berdiri diam di balkon kamar. Merenungi kejadian tadi siang, yang terasa bagai mimpi. Mimpi aneh yang akan tertanam selamanya dalam ingatanku.
Tidak banyak yang bisa aku mengerti dari Brawl, selain dari pertarungan penuh darah.
Kaum werewolf berkomunikasi menggunakan mindlink --seperti yang dijelaskan Myra kemarin--, jadi aku tidak mungkin mendengar atau mengerti apa yang mereka perbincangkan.
Tetapi entah mengapa setiap Duke melolong atau menggeram, bulu tubuhku meremang dengan otomatis, dan aku bisa menangkap rasa marah, gusar atau gelisah yang memancar darinya.
Sedangkan di sisi lain, aku sama sekali tidak bisa mengerti, kenapa tiba-tiba Myra berjalan mengelilingiku setelah membuatku berdiri dengan sundulan lembut di punggungku.
Aku bertanya setelah acara selesai tadi, tapi dia hanya mengatakan jika warga pack ingin mengenalku.
Tapi kenapa juga mereka harus mengenalku?
Sekali lagi, aku ini hanya bunga liar yang tidak sengaja tersangkut di rambut Duke. Sangat mencolok dan akhirnya membuat orang ingin mencabutnya. Padahal bunga indah yang sesungguhnya tumbuh dengan sempurna di samping Duke.
Analogi yang luar biasa indah Lui!! Pujiku dalam hati, mencoba menghibur diri.
Aku melihat wujud serigala Roanna tadi. Roanna memang tidak bertarung. Tapi aku bisa melihat, dia duduk dengan tegang saat melihat Duke bertarung. Dia pasti khawatir Duke terluka.
Dan kejutannya adalah, aku sama sekali tidak keberatan dengan segala darah dan juga kepala yang terputus. Aku tidak terlalu keberatan dengan darah, asalkan tidak berasal dari sesuatu dengan wujud manusia.
Aku agak sedikit ngeri dan harus menutup mata ketika membayangkan bahwa serigala yang terputus kepalanya itu adalah manusia sebelumnya. Tapi pemandangan itu tidak membuatku ingin lari bersembunyi .
Aku seperti sedang menonton acara Animal Planet di TV. Dua serigala sedang bertarung dan salah satu membunuh musuhnya.
Dan karena aku telah banyak menonton Animal Planet enam bulan belakangan ini, aku bisa menjelaskan dengan pasti, bahwa pertarungan yang tadi, tidak bisa disebut liar sama sekali.
Aku pernah melihat pertarungan yang lebih berdarah antara gajah dan singa. Hobi aneh itu ternyata membantu pada saat seperti ini.
Julukan monster menyeramkan yang aku sematkan pada Duke, jelas sudah tidak relevan lagi begitu aku terbiasa dengan wujudnya.
Monster adalah sebutan untuk makhluk asing yang menakutkan. Dan Duke tidak memenuhi kedua syarat itu. Dia tidak menakutkan, dan bukan makhluk asing.
Aku sekarang merasa konyol pernah merasa takut pada Duke.
Tapi aku boleh merasa takut, aku sama sekali tidak pernah membayangkan tentang manusia bisa berubah menjadi serigala sebelumnya.
Melihatnya di depan matamu untuk pertama kali, tentu saja bisa membuatmu nyaris gila.
Sekarang aku bisa mengerti mengapa gadis-gadis yang berada di tribun yang sama denganku tadi, mengeluarkan dengkuran terpesona ketika melihat Duke.
Dia terlihat seperti serigala, tapi pada saat bersamaan dia tidak terlihat seperti binatang. Dia terlihat seperti makhluk legenda yang indah dan misterius.
Gerakan werewolf-nya sangat anggun, dia melompat dan menghindar dengan penuh perhitungan.
Siewolf yang ada di tribun itu, mendengking dan melolong dengan bersemangat ketika Duke bertarung, Aku tidak perlu mengerti arti lolongan serigala untuk menerjemahkannya.
Mengesampingkan wujud serigala mereka, sikap mereka mirip sekali seperti Jovi ketika melihat Zeno -- dan mungkin juga aktor tampan lain-- untuk pertama kalinya.
Dan saat itu juga, aku tahu kenapa dia akan menjadi Alpha di sini.
Duke memancarkan aroma penguasa hanya dengan lolongannya. Bentuk serigalanya juga lebih besar dari pada yang lain, dan warna hitam pekatnya sangat mengintimidasi. Semua hal yang ada di dirinya menggambarkan kata Alpha dengan akurat.
Setelah semua itu, aku akhirnya menyerah.
Menyerah untuk melawan segala rasa waras dan juga peringatan, yang diteriakkan oleh akal sehatku.
Aku mengakuinya dengan berat hati, aku mencintai Duke!!
Sekilas pandang, Duke mungkin terlihat seperti lelaki yang galak dan dingin.
Tapi tidak! Dia lebih dari itu.
Dia memperlakukanku dengan sangat lembut, ramah dan sangat bertenggang rasa pada perilakuku.
Yang paling utama, dia sudah menyelamatkan nyawaku, Ini poin yang sangat penting.
Aku tidak mungkin hidup dan bernafas, jika Duke tidak datang ke Southdown. Dia tetap mau menolongku, padahal aku sudah marah dan berkata kasar padanya, sehari sebelumnya.
Kemudian, dia tetap tidak mengusirku setelah aku memanggilnya monster.
Dan dia malah merasa bersalah, karena telah membuat aku menjadi incaran musuhnya. Aku rasa karena alasan itu, ia memperlakukanku dengan sangat baik.
He's nice.... Aku yakin itu.
Dan tentu saja ia tampan, luar biasa tampan. Aku bahkan menganggapnya mengagumkan, ketika dia tidak berwujud manusia.
Tapi fakta ketampanan itu adalah bonus, bukan hal utama yang mendasari perasaanku, *M*ungkin.
Hatiku terasa lega, karena tidak perlu mencari alasan, atas segala yang aku rasakan saat melihat Duke. Segala perlawanan yang mengatas namakan akal sehat, tidak akan mengganggu lagi.
Aku menerima, aku memang menikmati setiap perhatian yang diberikan Duke padaku selama ini. Dan aku bisa menyebut dengan tepat bagaimana rasa bahagia selalu menelanku dengan utuh, saat dia menyentuh atau memelukku.
Rasa gugup yang tidak masuk akal, saat kami berada dalam jarak dekat. Belum lagi gelenyar hangat dan juga debaran jantung yang selalu menulikan telinga, saat Duke tersenyum padaku, tidak bisa diartikan dengan yang lain.
Tidak ada bantahan pintar yang bisa aku kemukakan, untuk melawan semua fakta itu, selain bahwa aku ----- mencintainya.
Aku tidak mungkin salah soal ini sekarang. Tidak seperti saat bersama Zeno. Segala yang aku rasakan kepada Duke, terasa nyata seperti udara musim dingin yang menyengat kulitku.
Tapi ini adalah salah!! Hatiku kemudian terpilin antara duka dan lega.
Duka karena tahu, cintaku hanya akan membawa rasa merana tanpa bisa memiliki. Kesempatan apa yang aku punya, jika lawanku adalah makhluk secantik Roanna?
Semua pemahaman ini tidak membawa kebahagian untukku. Karena sekali lagi aku hanyalah bunga liar yang tersangkut di kehidupan Duke. Bunga liar yang tidak akan memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berakar di hati Duke, karena bunga yang jauh lebih indah telah tumbuh dengan sempurna di sana.
Bunga yang bernama Roanna.
Amarah tidak masuk akal yang aku rasakan pada Roanna, adalah bentuk kecemburuan. Kecemburuan membabi buta karena melihatnya dekat dengan Duke.
Tapi apa hakku untuk merasa cemburu? Akulah yang menjadi duri dalam hubungan mereka. Roanna yang seharusnya merasa cemburu dengan adanya aku di sini.
Tenggorokanku tiba-tiba tercekat karena tangis. Tapi aku menahannya.
Apa gunanya menangisi hal ini? Perasaan ini adalah hasil kebodohanku karena tak bisa menahan perasaanku kepada Duke.
Aku tidak akan menangis!!
Aku menghapus setitik air mata yang belum sempat terjatuh di sudut mata. Aku berjalan masuk dan meraih gelas di meja, mungkin minum akan sedikit melegakan nafasku yang tersengal. Tapi kemudian aku melihat, teko yang ada di mejaku dalam keadaan kosong!!
For the... tidak adakah hal yang lebih menyebalkan hari ini??
Teko ini biasanya selalu penuh dengan air. Kenapa mereka memilih hari ini untuk lupa mengisinya? keluhku dalam hati. Tapi mengingat kesibukan pack hari ini, aku sedikit maklum.
Aku menyeret kaki telanjangku, keluar kamar dan turun ke dapur.
Yang aku tuju adalah dapur tempat Duke memasak makan malam kemarin. Tidak ada lampu yang hidup selain di kamarku, tapi lebarnya jendela yang tidak bertirai, membuatku bisa berjalan dengan cukup mudah di terangi cahaya bulan dari luar.
Aku melangkah dengan hati-hati, agar tidak mengganggu penghuni Manor, bagaimanapun juga, telinga mereka lebih tajam dari manusia.
Tapi ketika aku mendekati dapur, suara musik yang berdenting pelan membuatku menghentikan langkah. Itu suara piano, tidak salah lagi. Aku tidak akan salah mengenali suara piano.
Aku berjalan pelan mencari asal suara misteri itu.
Dan setelah melewati beberapa lorong remang-remang, aku menemukan sumbernya dari sebuah ruang di pojok yang nyaris tersembunyi. Jika tidak ada suara yang keluar dari sana, aku akan melewatinya begitu saja.
Jantungku berderu tidak terkendali, begitu mataku mengenali sosok yang ada di dalam ruangan itu.
Duke sedang bermain piano dengan diterangi cahaya bulan yang masuk dari jendela. Dan tidak perlu aku jelaskan, betapa dia terlihat begitu indah di sana.
Cahaya bulan itu menyempurnakan segala hal yang ada di dirinya.
Kulitnya yang kuning langsat terlihat pucat, dan rambutnya yang hitam tampak berkilau karena memantulkan cahaya perak bulan. Kemeja putih lengan panjang membalut sempurna badannya, walaupun terkesan Duke memakainya dengan sembarangan.
Dan jemarinya menari dengan lincah di atas tuts piano, menghasilkan nada indah yang seolah menarikku dalam pusaran emosi.
Nada penuh duka dan gelisah. Aku memejamkan mata menikmati setiap dentingnya yang seakan menggaungkan pedih dan duka yang aku pendam.
"Bee? Kaukah itu?!!"
PYARRRRRR!!!!
Gelas yang aku pegang meluncur bebas ke lantai.
Suara berat milik Duke membuatku terlonjak kaget.
Aku sama sekali tidak menyadari saat suara pianonya telah berhenti.
Dengan gerak reflek aku mengangkat tangan ke mulut, dan tentu saja gelas yang sedari tadi aku genggam, lepas dan menghantam lantai.
Gelas itu pecah berkeping-keping dan menyebar hampir ke seluruh lorong. Dan untuk lebih buruknya, Duke bergegas datang menghampiri dan sekarang berdiri di depanku.
"Ada apa? Apa yang aku lakukan di sini?" tanyanya.
Aku hanya bisa menggeleng dengan panik. Aku sama sekali tidak membayangkan, harus bertemu dan berbicara dengan Duke sekarang. Hal yang paling aku inginkan saat ini adalah menjauhinya!!!
Aku mencoba melangkah untuk menjaga jarak kami, tapi dengan cepat Duke mencengkeram dengan kuat bahuku.
"Jangan bergerak!!... Kau akan menginjak serpihan kaca di kegelapan seperti ini" katanya pelan. Dia lalu berlutut di salah satu kaki dan menyapu lantai dengan tangannya, berusaha menyingkirkan pecahan kaca dari sekitar kakiku.
"STOP!!"
Aku memekik dengan kaget, dia akan melukai tangannya!!
Aku mengikutinya berjongkok dan menyambar tangannya yang akan menyapu lantai lagi.
Beberapa goresan berdarah menghiasi tangan itu. "Are you crazy???! Kau menyapu pecahan kaca dengan tanganmu?" seruku, panik.
Tapi Duke hanya tertawa. "Jangan khawatir!! Luka seperti ini akan sembuh dalam beberapa menit" katanya, masih dengan senyum lebar.
Aku langsung melepas tangan itu, sadar dengan perbuatan lancangku.
Aku menutup wajah dengan tanganku karena frustasi.
Ya tentu saja! Aku lupa dia bukan manusia. Jantungku yang sedari tadi memompakan rasa khawatir, sekarang menjadi lebih tenang.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya penuh selidik, sambil menarik tanganku dari wajah.
Matanya tidak mungkin bisa terlihat lebih indah lagi daripada sekarang. Mata cokelat itu sekarang terlihat sangat cerah memendarkan cahaya kekuningan di keremangan. Aku nyaris memohon padanya untuk menoleh dan tidak lagi memandangku.
Mata itu sukses menyihirku dengan pesonanya.
Tiba-tiba aku menyadari----- posisi kami sangat dekat, karena kami sama-sama berlutut sejajar.
Terlalu dekat!!!! Aku tidak akan sanggup menanggung debaran yang semakin liar di dadaku.
----------- *0o0*----------
Aku nyaris tidak bisa menahan diri ketika melihat mata biru Bee, yang memandangku dengan terpana.
Dia khawatir dan kebingungan tadi. Hal yang paling aku inginkan saat ini adalah, menariknya dalam pelukan dan merenggut mulut yang sekarang merekah dengan indah di hadapanku.
Aroma Bee menjadi tiga kali lebih memabukkan dari pada yang biasanya. Udara malam seolah membuat aromanya memancar dengan maksimal.
Tapi mengingat semua kerja keras yang aku lakukan untuk sampai pada titik dimana Bee tidak lagi berteriak ketakutan saat melihatku seperti sekarang, aku akan menahannya.
Jelas perbuatan memeluk dan mencium dengan paksa akan membuatnya kembali takut padaku, dengan alasan yang jauh lebih buruk daripada sekedar monster. Yaitu pelecehan seksual.
Aku menariknya berdiri tapi tetap mencegahnya bergerak. Pecahan itu rata menutup jalan Bee untuk melangkah. Aku tahu cara membawanya keluar dari lautan kaca itu. Aku harap dia tidak akan keberatan.
"Maafkan aku!" ujarku pelan, aku harus sedikit memaksa agar kakinya tidak terluka.
Bee memandangku heran, karena tidak mengerti kenapa aku meminta maaf,.
Aku menggunakan kesempatan itu untuk menunduk dan menyelipkan tanganku di belakang lutut serta punggungnya.
"Duke!!" pekiknya.
Tubuhnya yang mungil jatuh dengan sempurna di tanganku. Aku masih ingat bagaimana ringannya tubuh Bee, dan sekarang juga masih sama. Aku mengangkat tubuh itu dengan mudah.
Bee sama sekali tidak memberontak, hanya pasrah sambil menutup wajah dengan tangannya.
"Maaf, aku hanya tidak ingin kakimu terluka karena kaca itu" Aku sekali lagi meminta maaf karena telah lancang mengangkat tubuhnya.
Aku menurunkan Bee di kursi depan piano, tempat aku duduk tadi.
Bee menggeleng "Tidak apa-apa, aku mengerti"
Wajahnya merona merah saat mengucapkan itu. Aku harap dia merona karena malu, bukan marah.
"Kenapa tubuhmu dingin sekali?" tanyaku, mengingat suhu tubuhnya yang menempel di kulit, saat aku mengangkatnya tadi.
"Oh.. aku tadi berdiri di balkon selama beberapa saat" jawabnya, sambil menunjuk ke arah kamarku.
"Memakai baju itu?" Itu mengherankan. Baju itu----tipis!!!
Hampir tidak menyembunyikan apapun yang ada di baliknya. Aku sedikit menjauh saat menyadarinya.
Bee memakai baju tipis, bukan makhluk yang aman untuk didekati pada saat seperti ini. Terutama jika aku yang mendekatinya.
Aku sangat yakin Mom yang memilih baju tidur itu untuknya. Jika itu pilihan Bee, aku akan melihatnya memakai t-shirt longgar dan celana selutut. Bukan baju tidur sutra berwarna biru, lengkap dengan renda di ujungnya.
Aku bersyukur karena Bee masih memakai jubah tipis sutra berwarna putih di luarnya. Jika tidak, potongan rendah di bagian atas baju itu, akan mengekspos leher dan bahunya. Aku tidak yakin bisa menahan diri jika melihatnya secara langsung.
Menyadari pandanganku, Bee merapatkan jubahnya dan membuang mukanya dengan wajah malu.
"Sebentar, jangan kemana-mana"
Aku harus memperbaiki keadaaan baju Be, jika masih ingin berpikiran waras selama sisa percakapan kami. Aku membuka lemari dinding yang berisi baju cadangan di dekat pintu keluar dan menarik mantel panjang dan syal yang aku harap paling tebal.
Aku mengalungkan syal di leher Bee dan mengulurkan mantel itu menyelimuti bahunya.
Menyadari niatku, Bee merapikan mantel dan syal itu agar lebih pas melekat di tubuhnya, setelah aku melangkah mundur.
"Kenapa banyak sekali almari seperti itu di sekeliling Manor?" tanyanya, sambil menunjuk almari tempat aku mengambil mantel.
"Oh....Itu karena jika werewolf bertransformasi pasti bajunya akan sobek, wujud serigala jauh lebih besar bukan? Untuk itu kami menyediakan banyak baju cadangan di beberapa tempat di Manor, sehingga kami tidak perlu berkeliaran dalam keadaan err-- telanjang" Aku sedikit tergagap menjawabnya.
Sekarang adalah saat yang kurang tepat untuk membahas tentang ketelanjangan.
Wajah Bee juga kembali memerah mendengar jawabanku. Karena malu tentu saja, bukan marah.
Bee berbalik menghadap piano. Dia menekan nada E dengan telunjuknya. Dentingannya menggema di udara.
"Permainanmu indah sekali tadi" katanya, masih dengan memunggungiku.
Aku melangkah dan duduk di sebelahnya "Thank you.."
Aku menggerakkan jari, dan memainkan salah satu lagu favoritnya..
Lagu ini adalah Bee. Aku membuat lagu ini untuknya, ketika kami dulu resmi menjadi kekasih. Aku menulisnya sesuai dengan kepribadian Bee.
Kepribadiannya lembut, polos dan naif pada awalnya, tapi semakin aku jatuh cinta, aku tahu Bee lebih dari pada itu. Bee seperti gelembung yang tidak pernah bisa diam dalam tiupan angin. Gelembung yang membiaskan warna pelangi di bawah sinar matahari.
Membawa senyum dan suasana ceria bagi siapapun yang melihatnya.
Bee yang selalu membuatku tersenyum ceria dengan wajah bahagianya. Bee yang telah membuatku semakin jatuh cinta dengan segala keunikannya. Bee yang akan menangis untukku jika aku sedih.
Bee bertepuk tangan pelan saat aku menyentuh nada terakhir.
"Lagu yang indah sekali, apakah kau yang membuatnya?" Matanya melebar dengan kagum saat memandangku.
Kau bahkan tidak mengingat lagu ini Bee, batinku dengan pedih. Kau dulu menari mengelilingi piano, setiap kali aku memainkan lagu ini.
"Aku tidak menyangka akan ada grand piano di tengah hutan seperti ini, apa kau membelinya atau membuatnya disini? Piano dan werewolf bukan hal bisa aku sandingkan dengan mudah" tanyanya penasaran sambil menekan beberapa tuts dengan random.
"Hmmm...Keadaan ini memang istimewa. Aku bisa dibilang adalah werewolf pertama yang bisa memainkan piano. Dan piano ini adalah hadiah terakhir dari ayahku" jelasku, dengan berat hati.
Mom menceritakan hal itu beberapa minggu yang lalu. Dua bulan sebelum memutuskan membawaku pulang, ayah membeli piano ini dan membawanya masuk ke pack dengan mendapat hinaan dari Elder Victor.
Tapi ayah tidak peduli, dia mengabaikan dan menolak memberi penjelasan ketika beberapa orang bertanya kenapa dia membelinya. Hanya Mom yang tahu apa alasan ayah.
Dia membelinya, agar aku bisa tetap memainkan piano saat aku kembali nanti. Dia tidak pernah meragukan, jika aku akan kembali dan menepati takdirku untuk menjadi Alpha. Walaupun semua penolakan dan juga kata-kata kasar yang telah aku ucapkan padanya.
"I'm sorry, aku seharusnya tidak bertanya" Suara Bee bergetar saat mengucapkannya.
"Apa? Aku tidak apa-apa, kau tak perlu menangis!" seruku panik. Aku meraih wajah Bee dan menghapus air mata yang telah turun di pipinya dengan tanganku.
"Aku tahu apa yang terjadi pada ayahmu. Myra menceritakan padaku kemarin" katanya, masih dengan air mata bergulir di pipinya.
Aku kembali menghapusnya dan tersenyum. Bee terlalu mudah bersimpati.
"Aku tidak apa-apa Bee!!" Aku tersenyum dengan ceria, agar Bee berhenti menangis.
"Karena itukah nada pianomu terdengar sangat sedih tadi?" tanyanya, sambil menunduk dan sibuk mengusap hidungnya.
Ya--- aku memainkan lagu ciptaanku yang paling sedih sebelum Bee datang.
"Aku menyangka bebanku akan menjadi ringan setelah aku membunuh Amon, tapi aku tetap merasa bersalah dan hampa. Aku puas setelah membalas dendam, tapi kepuasan itu tidak mengisi kehampaan yang di tinggalkan oleh ayah"
Aku menyandarkan kepala di atas piano dan menghembuskan nafas panjang.
Mungkin perkataanku akan membuat Bee bingung, tetapi aku hanya ingin memuntahkan sedikit gumpalan di hatiku.
"Membalas dendam tidak akan membuatmu puas. Membalas dendam hanya akan membuat luka baru di hatimu karena kau tahu, jika ayahmu tidak akan kembali, berapa kalipun kau membunuh orang itu" kata Bee dengan polos.
Kata-kata Bee yang aku rindukan, kata-kata polos tapi memberi penjelasan atas apa yang ada di hatiku.
Aku tersenyum dan menoleh memandangnya masih dengan kepala menempel di piano. "Kau benar tentu saja!"
Bee tersenyum "Charlie mengatakan ini padaku, setiap kali aku bertanya siapa yang telah membunuh Ibuku!" senyum Bee berubah menjadi getir sekarang.
"Ck... kenapa aku masih mengingat hal seperti itu" gumamnya pelan.
Ingatan yang membawa kesedihan tapi masih ada di memori Bee. Tidak terhapus seperti diriku.
What a rotten luck Duke!! batinku dengan dongkol.
"Apa kau punya tujuan lain, selain ingin mengambil minum tadi?" tanyaku, sambil menunjuk pecahan gelas di lorong.
Aku harus segera mengalihkan pikiran Bee dari Belva, kadang dia masih ingin menangis jika mengingatnya.
Bee menggeleng menjawab pertanyaanku.
"Bagus! Berarti kau tidak keberatan jika aku mengajakmu berjalan-jalan diluar?" tanyaku, penuh harap.
Mungkin sedikit aneh untuknya. Tapi aku hanya ingin bersama Bee sedikit lebih lama tanpa gangguan siapapun.
"Tentu saja, aku ingin berjalan-jalan di pack ini tanpa banyak mata yang memandangku" Bee langsung berubah ceria. Dia tidak pernah suka dengan perhatian berlebihan dari orang lain.
Hari ini pasti sangat berat untuknya, karena aku yakin semua warga pack akan melihat ke arahnya, setiap kali dia lewat.
Dengan cepat aku menghampiri almari yang tadi dan menyambar sepatu dengan ukuran paling kecil, syal satu lagi, dan juga jaket paling tebal.
"Pakailah!" kataku sambil mengulurkan semuanya.
"Aku sudah memakai syal" protesnya, sambil memakai sepatu yang aku bawa.
Aku tidak ingin mendengar penolakan. Aku memasangkan syal itu di leher dan memakaikannya jaket. Suhu di luar hampir mendekati titik nol ketika dini hari seperti ini.
"Aku terlihat seperti buntalan jelek dan bulat" katanya sambil cemberut memandang tubuhnya.
"Jangan khawatir, aku berjanji akan memberi peringatan keras kepada siapa saja yang berani mengejekmu nanti" janjiku, dengan sunguh-sungguh.
"Duke!!!!" Bee berseru dengan kesal, sambil menghentakkan kaki.
"Jangan khawatir Bee, kita tidak akan bertemu dengan siapapun di luar" Aku tersenyum geli, meilhat amukan manja itu.
"Sebaiknya itu benar!" katanya, sambil melangkah menuju pintu belakang Manor.
Kami berjalan beriringan dalam diam. Dia melihat ke sekeliling taman belakang Manor dengan tertarik.
"Sayang sekali aku tidak bisa melihat jelas sekarang. Aku yakin taman ini sama indahnya dengan taman yang ada di bawah balkon kamarku" katanya sambil terus memandang ke sekeliling.
"Taman ini adalah milik Ibuku, dia memenuhinya dengan bunga musim semi. Kau tidak akan melihat apapun selain petak-petak kosong dan semak saat siang" jelasku.
Mom mempunyai selera yang aneh soal menata taman belakang ini.
"Oh..." Bee bergumam mengerti.
Suara langkah kaki menghampiri kami, itu warrior penjaga. Dia tentu mendengar suara kami bercakap-cakap tadi.
Aku mendesiskan peringatan dengan nada rendah, dan langkah kaki itu berhenti, Bee tidak akan mendengarnya, tapi werewolf akan mengenali desisanku dan menyingkir.
Bee mulai melangkah keluar dari lingkungan Manor.
"Kita akan kemana?" tanyanya, sambil menoleh ke kanan dan ke kiri di depan gerbang Manor.
Tanpa ragu aku meraih tangannya dan menariknya ke arah kanan. "Ikut aku!".
Jalan di sekitar Manor gelap, aku harus menggandengnya sebelum dia terjatuh. Aku menyusuri jalan di sebelah Manor dan membawa Bee ke arah Timur pack.
"Apakah listrik di sini sangat terbatas? Kenapa kalian tidak memasang lebih banyak lampu?" Bee menunduk, berusaha melihat ke arah mana dia melangkah.
"Bee, kami bisa melihat dengan baik di kegelapan!"
"Ow... kau benar, serigala bisa melihat dengan baik tanpa cahaya!!" katanya, dengan mata berbinar karena mengerti.
Cute!! Really cute.
Dan lagi, aku harus membunuh keinginan untuk mengusap bibir merah jambu itu, yang sekarang membentuk senyum puas.
"Jangan melepaskan tanganku jika kau tidak ingin tersesat!" Bee mengangguk patuh.
Dia bertanya tentang beberapa bangunan yang kami lewati dengan bersemangat. Aku jadi teringat tentang Oscar beberapa hari yang lalu, bersikap sama dengan Bee, tidak diragukan lagi mereka benar-benar bersaudara.
Bedanya adalah, sekarang aku menjawab semua pertanyaan Bee dengan hati ringan dan penuh suka rela tanpa paksaan.
"Oh... apakah ini semacam menara pengawas? Tinggi sekali!" serunya, dengan bersemangat sambil meraba dindingnya yang terbuat dari batu.
"Ya, tapi kami hanya memakainya dalam keadaan khusus" jelasku.
"Apakah kita bisa masuk?"
"Tentu saja! Aku akan menyalahgunakan kekuasaan malam ini"
Menara pengawas akan penuh saat pergantian shift jaga. Tapi saat ini bangunan itu akan kosong.
Bee menaiki tangga melingkar dengan bersemangat, seakan ingin terbang ke atas. "Pelan-pelan Bee, kau akan terguling ke bawah jika salah langkah" ujarku, sambil tersenyum geli.
Bee penggemar tempat tinggi dengan pemandangan bagus, antusiasmenya sudah nyaris tidak terbendung saat ini.
"Ohh--- ini luar biasa!!" Serunya, nyaris berteriak ketika kami sampai di puncak menara.
Bee berdiri di tepi pagar dan memandang ke depan.
Dengan mata manusia mungkin pack akan terlihat sedikit suram karena tidak banyak lampu yang menyala, tapi pemandangan langit malam dan bulan purnama di depan Bee, akan membuat siapapun terkagum-kagum.
"Aku tidak pernah melihat bintang sebanyak itu di London!!" Dengan bersemangat, tangannya menunjuk ke arah langit.
"Pemandangan yang hanya bisa kau dapat, jika ditukar dengan kegelapan tanpa lampu" Aku megikutinya memandang langit.
Langit malam yang terang dengan banyak bintang berhamburan.
Aku juga merindukannya. Langit di L.A tidak pernah memperlihatkan satu bintang-pun, karena penuh dengan kabut polusi.
"Tempat ini sangat mengagumkan!! Aku tidak percaya kalian bisa membangun tempat senyaman ini di tengah hutan" katanya, sambil terus menatap langit.
"Bukan pekerjaan mudah! Kakekku yang memulai semuanya, tapi ayahku yang paling berhasil merubah seluruh wajah pack menjadi seperti sekarang ini" jelasku.
"Ayahmu pasti orang yang sangat luar biasa" Bee menatapku sekarang.
"Ya, dia Alpha yang bisa dikatakan hampir sempurna, sampai terkadang aku merasa takut, jika aku akan menodai nama besarnya ketika nanti aku menjabat menjadi Alpha"
Seperti biasanya, berbicara dengan Bee membuatku kehilangan filter di otak. Aku mengatakan semua hal yang aku simpan dengan mudah.
"Kau juga salah satu Alpha yang hebat menurutku" Bee mengucapkannya dengan keyakinan yang terlukis jelas di wajah.
"Bee, kau hanya bertemu satu orang Alpha di sepanjang hidupmu sampai sekarang!" koreksiku, sambil tertawa.
Dia berkata seolah sudah pernah bertemu banyak Alpha sebelum ini.
"Oh.. kau benar. Aku tidak bisa membandingkanmu dengan siapapun!" katanya sambil tertawa geli.
"But thanks anyway. Aku sangat menghargai penilaianmu"
"You're welcome, Scion!" kata Bee, sambil menunduk sopan. Menirukan sikap warga pack saat bertemu denganku, tapi mulutnya tertawa geli.
"Hentikan itu!" Aku bisa mengenali nada mengejek di sana.
Bee tertawa terbahak-bahak, melihatku merajuk.
Aku tidak pernah menyangka akan mencapai saat dimana aku bisa tertawa seperti ini bersama Bee. Ini kemajuan yang luar biasa.
Tapi belum cukup untuk bisa membuat Bee menikah denganku sebelum minggu depan.
Hidungku menangkap aroma werewolf mendekati menara. Saatnya shift pergantian jaga.
"Kita harus pergi Bee, beberapa saat lagi tempat ini akan ramai dengan werewolf penjaga" Aku mengulurkan tangan.
"Oh.. kau tidak berencana menyalah gunakan kekuasaanmu lagi?" tanyanya, masih dengan nada kocak.
"Aku tidak keberatan, tapi kau mau bertemu mereka dengan penampilan seperti buntalan jelek dan bulat?" tantangku.
Dengan cepat Bee menggeleng. "Kita kembali ke Manor", Dia yang sekarang menarikku turun dari menara.
"Kau tidak bisa melihat di kegelapan Bee, kau harus tetap berada di belakangku!" seruku, mencegahnya terjun bebas di tangga.
"Oh.. kau benar lagi!" katanya sambil berhenti mendadak. Aku senang rem kakiku berfungsi dengan baik. Jika tidak, kami berdua akan terguling dari tangga.
"Kau dan semangatmu!!" kataku dengan gemas, sambil memencet hidungnya yang memerah karena udara dingin.
Bee tidak membalas, dan hanya mengikutiku dalam diam.
Kami tidak banyak bicara selama perjalanan kembali, kemungkinan karena sekarang Bee telah menggigil kedinginan. Mulut dan hidungnya berasap setiap kali membuang nafas. Dan tangan Bee gemetar di genggamanku.
"Bagaimana kau bertahan di luar dengan hanya memakai kemeja?" tanyanya, sambil menggosok hidung dan pipinya yang sekarang juga memerah setibanya kami di halaman Manor.
Tanpa pikir panjang, aku menempelkan kedua tanganku di pipinya.
"Hangat!!...tanganmu sangat nyaman Duke " serunya, menikmati panas dari telapak tanganku sambil memejamkan mata.
"Werewolf mempunyai suhu tubuh yang lebih tinggi dari manusia Bee" Aku menatap wajah cantik yang kini tersenyum polos, masih dengan mata tertutup.
Dia pasti sangat kedinginan, hingga sama sekali tidak memprotes tanganku yang sekarang mengelus wajahnya. Dia terlihat menikmati hangat sentuhan tanganku di pipinya.
Wajah kami begitu dekat, sampai aku seolah bisa merasakan bibir lembutnya menempel sempurna di bibirku. Bibir itu pasti terasa dingin.
Oooh--betapa aku sangat merindukan rasa manis bibir itu!! Rasa hangat dan bahagia menjalari seluruh tubuhku dengan liar, ketika bibir Bee yang mulai menghangat, bergerak pelan membalas ciumanku.
Suara terkesiap dari Bee menyadarkanku.
PLAAAAKK!!!!!............
Tamparan keras mendarat di pipi kiriku. Butuh dua detik sebelum aku sadar dan mengutuk kebodohanku.
Apa aku baru saja menciumnya???!!!!.
Tentu saja!!!
Saat ini Bee memandangku nanar, dengan bibir memerah.
Aku pasti kehilangan pengendalian diri, ketika melihat wajah Bee dengan mata terpejam pasrah terpajang di depanku tadi!
Kau dan mulutmu yang bodoh Duke!!! makiku dalam hati.
Tamparan itu sama sekali tidak sakit, tapi air mata yang kini mengalir di pipi Bee membuat hatiku seolah tertusuk.
"Maaf..maafkan aku! aku tidak bermaksud---" Aku tidak bisa meneruskan kalimat itu, karena aku tidak bisa berbohong. Aku memang mencium Bee tanpa sadar, tapi aku tidak menyesal karena telah melakukannya.
Dan aku berani bersumpah dia membalas ciumanku tadi. Dia tidak seharusnya menamparku!
"Kau---Kau tega sekali!! Perbuatanmu tadi, tidak hanya akan menyakitiku, tapi juga akan menyakiti Roanna!!" bentaknya keras, dengan pipi penuh air mata.
Bee berbalik dan berlari masuk Manor, meninggalkanku dalam kebingungan.
Roan? Roanna?
Apa sangkut paut Roan dalam hal ini?
Apa urusan Roan dengan ciumanku?
Kata 'Roan' dan 'ciumanku' tidak seharusnya ada dalam satu kalimat, dalam suasana apapun.
"Bee!! tunggu----" Aku mengejarnya masuk ke Manor, setelah kesadaran otakku terkumpul.
Tapi aku melihat Bee telah berlari menaiki tangga, dan membanting pintu menutup.
"Bee-- aku mohon, buka pintunya!" Aku mengetuk pintu dengan pelan.
Aku butuh penjelasan panjang dan lebar darinya.
"Pergilah.. dan jangan ganggu aku!" Bee berteriak dalam tangis.
"Bee, aku mohon jangan seperti ini. Aku hanya ingin berbicara sebentar!" seruku. Aku tidak akan berhenti sebelum semua jelas. Aku tahu Bee membalas ciumanku tadi.
"Tidak-- aku tidak ingin mendengar apa-apa darimu. Pergilah!!! " Bee masih membentak dengan nada histeris
Ini buruk, aku tidak bisa memaksanya. Bisa-bisa dia pingsan karena tangis.
"Baiklah--baiklah! Aku akan pergi. Tapi tenangkan dirimu. Kau akan pingsan jika terus menangis" Bee tidak bereaksi, aku harap itu pertanda bagus.
Beberapa menit kemudian, aku bisa mendengar isakkan Bee telah berkurang.
"Pergilah!!.. " Bee akhirnya menjawab dengan lebih teratur.
"Aku akan pergi. Jangan menangis lagi, OK?" Aku melangkah meninggalkan pintu kamar dengan sedikit lega. Setidaknya Bee sudah lebih tenang.
Aku menuruni tangga masih dengan tanda tanya besar di otakku.
Apa hubungan Roan dengan ciumanku?
Aku menghempaskan diri di sofa ruang tengah sambil berpikir keras.
Pikiran horor lain mulai menghampiriku.
Jangan katakan kalau Bee bersikap histeris seperti itu karena aktor t*l*l itu. Apakah hubungan mereka lebih dalam daripada yang aku perkirakan?
Aku tidak ingin memikirkan hal itu!! Aku mengumpat pelan untuk memusnahkan pemikiran liar itu.
Lagipula apa hubungannya dengan nama Roan yang di sebut-sebut? Tidak satupun pemikiran masuk akal terbentuk di benakku, untuk menjawab pertanyaan itu.