
Rambut berwarna emas madu itu, masih tergerai indah, seperti terakhir kali aku melihatnya.
Bibirnya yang ranum, sesekali membentuk sebuah senyuman, karena mendengar sesuatu yang lucu dari lawan bicaranya. Mata biru gelap melirik cantik ke arah piring di hadapannya, yang nyaris kosong.
Baju kerjanya yang berupa short dress berwarna putih dan blazer hitam, menempel dengan sempurna di tubuh mungilnya.
Aku sedikit geli menatap kakinya yang memakai sepatu flat form heels yang pendek. Aku mengerti kenapa dia memilihnya, Bee sangat benci memakai high heel.
Dia masih sangat sempurna dan indah, seperti yang aku ingat.
Aku menarik nafas panjang, menenangkan degup jantungku yang telah terpacu.
Melihatnya dari kejauhan seperti ini sungguh menyiksa. Aku ingin merengkuh tubuh mungil itu dan membenamkannya dalam pelukan, dalam waktu yang lama.
Perkiraanku meleset, karena aku tidak merasa lebih baik setelah melihatnya. Ini adalah kesalahan. Keberadaan Bee yang di luar jangkauan tangan, justru menyiksa batinku dengan perlahan.
Tapi berbeda dengan keadaan psikis, keadaan fisikku langsung membaik. Tidak ada lagi rasa mual dan sebagainya. Aku bisa meminum dua cangkir kopi dengan lancar sedari tadi.
Aku rasa keberadaan Bee lebih manjur dari obat yang diberikan Alva. Obat-obatannya cukup membantu selama sehari, tapi keesokan harinya aku kembali memuntahkan makanan.
Tadi pagi, setelah 5 hari tanpa kabar. Id akhirnya menelpon. Dia memberi alamat cafe di sekitar Tower Hamlest, kawasan perkantoran London yang cukup sibuk.
Aku tiba di cafe itu dalam waktu satu jam. Roan dan El memaksa ikut, dengan alasan aku belum cukup sehat.
Hmphh.... !!
Setelah bertemu Id, aku akhirnya juga melihat Bee, begitu waktu istirahat makan siang tiba.
Bee dan teman wanitanya, sedang makan siang di gerai burger, yang terletak di seberang jalan tempat kami ber-empat berada.
Aku masih bisa melihat Bee dengan baik dari teras cafe ini.
Untunglah, kemampuan panca indera super milikku, tidak menghilang seiring wujud werewolf. Karena aku yakin, dengan mata biasa, aku tidak akan bisa melihat Bee sejelas ini.
Sayangnya, aku tidak bisa mendengar hal yang dibicarakan mereka. Jalanan di sekitar cafe sangat sibuk. Belum lagi suara hujan yang semakin deras turun. Telingaku sakit, begitu aku mencoba membuka kemampuanku dengan maksimal.
Cuaca London akhir-akhir ini memang sangat basah.
Bee kembali tertawa ceria bersama dengan temannya. Hatiku terpilin sakit melihat itu. Aku juga rindu senyumannya.
"Siapa wanita yang bersamanya?" tanyaku pada Id, untuk mengalihkan perhatian dan meredakan kerinduanku.
"Jovita Norine, dia adalah sekretaris sekaligus teman dekat Ms. Delmora saat ini." jawab Id, sambil melihat catatan di dalam ponselnya.
"Sekretaris? Dia bekerja di Delmor Corp dan mempunyai sekretaris?" Tanyaku heran. Tidak perlu otak genius untuk menebak dimana Bee bekerja.
Tower Delmor hanya terletak beberapa puluh meter dari kafe ini. Masalahnya, Bee bukan orang yang suka dengan pekerjaan kantoran.
Id mengangguk dan kembali membaca info dari ponsel.
"Ms. Delmora mulai bekerja di Delmor sekitar 6 bulan yang lalu, dia ditempatkan di divisi Charity. Divisi ini ----"
Aku memotong penjelasan Id dengan mengangkat tanganku.
Aku tahu persis apa yang dimaksud oleh Id. Pantas saja Bee berada di berita tentang pesta penggalangan dana Delmor Corp. Dia bekerja di sana sekarang.
Aku masih ingat, Oscar pernah bercerita soal divisi ini, ketika Bee telah pulih sepenuhnya dari koma. Saat itu kami semua sedang makan malam bersama.
Oscar menawarkan pada Bee posisi di divisi itu, tetapi Bee lebih menyukai saranku, untuk membuka studio ballet dan mengajar di sana. Aku tahu, Oscar sebenarnya kecewa dengan penolakan Bee, tapi dia berhasil menyembunyikannya dengan baik, tapi aku bisa melihat itu di matanya.
Aku membayangkan, ingatan Bee soal pembukaan studio ballet itu pasti juga sudah hilang. Kami membangunnya bersama, dia tidak mungkin mengingatnya.
Studio itu tidak terlalu besar, karena keadaan Bee, yang tidak memungkinkan untuk mengajar dalam waktu lama.
Tapi itu sudah cukup bagi Bee, sekedar untuk mengobati rasa kecewa karena tidak bisa menari lagi. Masih segar dalam ingatanku, bagaimana senyum lebar selalu terbentuk di bibir Bee, saat pertama kali mengajar.
Dia bahagia, dan itu cukup untukku. Itu adalah perasaanku yang dulu.
Senyum Bee yang sekarang, tidak kalah indah jika dibandingkan saat itu.
Apakah kau juga bahagia sekarang? Aku tidak lepas memandang wajah Bee di seberang.
Tidak!!!
Itu tidak lagi cukup untukku. Aku tidak semulia itu!, karena sekarang aku tidak bisa merelakan kebahagian Bee, jika kami tidak bersama.
Aku egois Bee --- Aku tidak ingin kau berbahagia tanpa diriku.
Pikiran gelap itu terus menggelayut, ketika melihat senyum Bee yang merekah.
"Apakah kau sudah mendapat informasi tentang pria itu?" tanyaku.
Tanpa sadar, aku mengeratkan kepalan tangan, mengingat pria yang berani menggandeng Bee di foto.
"Info tentang dirinya sangat mudah didapat, jika dibandingkan Ms. Delmora"
Dengan bersemangat Id mencari-cari file dari pria itu di ponselnya.
"Namanya Zenobia Terence. Dia adalah aktor terkenal di Hollywood. Mereka bertemu saat pesta penggalangan dana Delmor Corp. Mr. Terence adalah salah satu tamu di sana" Jelas Id, dengan nada puas.
Aktor?
Aku mendesis kecewa.
Melenyapkan atau mematahkan tangan orang yang terkenal, membutuhkan banyak kerja ekstra untuk menyamarkannya. Aku akan menundanya sampai nanti.
"Apakah mereka ----dekat?"
Lidahku mendadak kelu. Aku tidak ingin mengucapkannya.
Id memandangku dengan ragu sebelum menjawab. Tapi aku memberi isyarat agar Id segera menjawabnya.
"Mereka----mereka berkencan selama beberapa kali setelah pesta itu, Scion"
Id menunduk prihatin.
"Maaf, tapi hanya info yang bisa saya dapat. Mr. Terence sangat berhati-hati agar hubungannya dengan Ms. Delmora tidak tercium pers. Karenanya, saya juga agak sedikit kesulitan mencari informasi itu"
Id terus menunduk, kali ini dia terlihat menyesal, karena tidak mendapat info yang lebih banyak.
Aku akan menelan cangkir yang ada di tanganku, jika ternyata Oscar tidak ikut campur dalam menyembunyikan hubungan mereka. Sikap penuh perhitungan seperti itu, adalah ciri khas Oscar.
Aku yakin, dia telah memberi banyak peringatan pada aktor itu, sebelum dia diperbolehkan mengajak Bee keluar.
Aku tidak akan lupa ancaman Oscar saat pertama kami bertemu. Dengan jelas, dia berbisik di telingaku, jika dia akan menghancurkan karirku, jika berani menyakiti Bee.
Aku menganggap enteng ancamannya saat itu, karena aku tidak pernah berpikir untuk menyakiti Bee.
Tapi sekarang, setelah tahu siapa dia, aku seratus persen yakin, dia bisa melenyapkan karirku dalam hitungan detik saat itu.
Perpaduan pintar, kaya dan mafia, tidak seharusnya berada dalam satu orang.
Kabar baiknya, Oscar tidak lagi bisa mengancamku dengan hal yang sama, karena karirku sebagai penyanyi sudah mati, seiring David Adalrik.
"Hei--- kau sudah hebat, ayahku saja tidak sanggup mendekatinya" kata Roan pada Id
Sama sepertiku, Roan memandang Lui dengan teliti. "Dia lebih cantik dari pada yang ada di foto" katanya.
Aku hanya mendengus mendengarnya. Tentu saja!! Bee berjuta kali lebih cantik di alam nyata.
"Tidak bisakah kita mendekat?" Tanya Roan lagi. Dia pasti sudah bosan dengan kegiatan memata-matai ini.
Bukan sifatnya untuk bersabar. El mendelik memperingatkan Roan, tetapi mulutnya tidak mengatakan apapun.
"Kau lihat pria berjas biru gelap itu?" kataku pada Roan, sambil menunjuk ke sosok manusia yang sedang duduk menikmati secangkir kopi di cafe yang terletak di sebelah tempat Bee makan.
Pria setengah baya itu, terlihat santai menikmati hujan, sambil membaca buku yang ada di tangannya. Penampilannya sangat biasa, sosok itu bisa dengan mudah terlewat dari perhatian orang.
Roan mengangguk bingung dan menatapku.
"Dia adalah bodyguard suruhan Oscar. Jika kita mendekat lebih dari ini, bisa dipastikan Oscar akan segera mendengarnya. Aku tidak ingin Oscar waspada dengan kehadiranku, bisa-bisa dia mengirim Bee ke tempat lain yang jauh lebih sulit untuk ditemukan" jelasku.
Pria itu memang terlihat sedang bersantai sambil makan, tapi aku mengenalinya.
Dia adalah Mark, sopir mungkin juga bodyguard yang paling dekat dengan Oscar. Dia menjaga jarak dengan sempurna, agar Bee tidak melihatnya.
Id mengangguk menyetujui perkataanku. "Benar, Scion. Pria itu selalu berada dimanapun Ms. Delmora berada. Saya berkali-kali harus bersembunyi darinya".
Oscar tidak pernah melepaskan Bee pergi begitu saja. Mark atau Alex selalu membuntutinya kemanapun.
Membutuhkan waktu setahun penuh, sebelum aku mendapat kehormatan untuk membawa pergi Bee, tanpa pengawalan.
Setelah setahun itu, Oscar baru percaya, jika bisa menjaga Bee dengan baik. Oscar aku kategorikan, sebagai pengidap sister complex paling akut yang pernah aku temui.
Selama beberapa saat kemudian, aku hanya memandang Bee. Aku ingin menikmati setiap ekspresi yang muncul di wajah cantiknya.
Tekukan bibirnya yang khas saat dia tersenyum, kerutan dahinya yang muncul ketika dia heran, atau hanya sekedar kedipan matanya. Aku akan menikmatinya selama yang aku bisa.
DRTTTT----!!!!!.
Getaran ponsel yang berada di saku jaket, mengusik kegiatanku.
Dengan kesal aku menjawabnya, tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Yes!?" Jawabku dengan kasar. Siapapun itu, aku akan mendampratnya. Aku sedang tidak ingin diganggu.
"Apa kau sudah puas memandangnya?" Suara di seberang bernada dingin, mengirimkan rasa menggelitik ke seluruh punggungku.
Aku akan mengenali suara itu dimanapun.
Itu adalah Oscar, yang dengan sangat menyebalkan berhasil mengetahui nomor ponselku dan juga keberadaanku.
"Not even enough for the night. And by the way, nice to hear from you again after along time" Jawabku dengan nada sopan dan manis.
Roan nyaris tersedak minumannya, dia tidak pernah mendengar aku berbicara sesopan itu pada siapapun. El memandangku dengan tanda tanya besar di wajah.
Aku hanya memberi isyarat diam untuk mereka.
"Aku sudah menghapusmu dari kehidupannya, Dave ---- oh, maksudku Mr. Theobald" Oscar membalasku dengan nada yang sama sopannya. "Anda tidak bisa menemuinya lagi!" lanjutnya.
"Aku tahu, tapi bukan berarti aku tidak bisa melihatnya" Balasku.
Di seberang, Bee sudah selesai makan dan beranjak pergi bersama temannya. Berlari kecil menerjang hujan yang sudah tinggal gerimis.
Dia telah melihat kami tentu saja, karena itu Oscar menelponku saat ini. Aku seharusnya tidak meremehkan kemampuan Mark dalam mengawasi.
"Kau sudah membuatnya nyaris mati! Apa lagi yang kau inginkan darinya?! Aku tidak akan membiarkanmu mendekatinya" Suara Oscar terdengar berbahaya sekarang.
Beban dari ancaman itu sangat berbeda dari yang pernah aku terima dulu. Pengetahuanku tentang identitas Oscar yang lain, memberi rasa mencekam yang lebih dalam.
Tapi aku tidak akan takut atau mundur, aku juga bukan seseorang yang akan kalah dengan mudah...
"Itu bukan keinginanku Oscar!! Kau tahu itu. aku lebih baik mati daripada harus menyakiti Bee!" Aku mencoba menahan emosiku dengan susah payah.
Pertengkaran dengan Oscar tidak akan membawaku lebih dekat dengan Bee.
"Itu bukan urusanku!! Yang aku tahu, kau sudah membuat Lui menderita. Kau tidak berhak lagi ada dalam kehidupannya!!" Bentaknya dengan kasar.
Aku tidak bisa membalas amarahnya, karena kata-kata itu benar. Sesaat tidak ada yang bersuara diantara kami berdua.
"Aku tidak akan berbuat sembrono dengan melenyapkanmu begitu saja, karena aku tahu siapa kau. Tapi jika kau terus nekat mendekati Lui, dengan sangat terpaksa -- tidak peduli makhluk jenis apa kau itu-- aku akan menghapusmu, bukan hanya dari dunia Lui, tapi dari dunia semua orang"
Dengan kalimat ancaman yang sangat 'mesra' itu, Oscar mengakhiri panggilannya.
TAAKKKKK!!!
Sedetik setelah Oscar memutus panggilan itu, aku membanting ponsel ke lantai, karena rasa jengkel yang memuncak.
Beberapa pengunjung cafe terperanjat karena tindakanku itu.
El segera bangkit, dan meminta maaf kepada pengunjung yang berada di dekat meja kami. Dengan cekatan dia mengumpulkan kepingan ponsel yang tidak berbentuk lagi.
Umpatan kekesalan mengumpul di tenggorokanku, tapi aku menahannya. Aku tidak bisa menarik lebih banyak perhatian setelah ini. Beberapa pengunjung Cafe mulai menatap kami dengan pandangan tertarik.
"Kita pergi!" Ujarku, pelan.
Aku meninggalkan beberapa lembar $100 di meja. Aku rasa itu akan cukup untuk membayar minuman dan tip.
"Itu tadi Oscar?" tanya El dengan nada heran. Dia tentu mendengar panggilan itu dengan telinganya yang tajam
Aku hanya mengangguk sambil terus berjalan menuju mobil.
"Bagaimana dia tahu kita sedang menguntit Lui?!" Roan berseru tanpa mempedulikan orang yang berlalu lalang di sekeliling kami.
"Pelankan suaramu!" hardikku.
Aku senang parkiran mobil kami tidak terlalu jauh. Id segera mengambil posisi sopir, aku, Roan dan El naik ke bagian belakang mobil.
"Maafkan saya, Scion. Seharusnya saya lebih berhati-hati, mungkin saya terlalu banyak bertanya saat mencari informasi, sehingga mereka bisa tahu soal ini" Kata Id dengan menyesal, begitu semua pintu mobil tertutup rapat.
Aku hanya menggeleng.
Aku tidak akan menyalahkannya. Oscar buka lawan yang enteng, dia termasuk salah satu orang tercerdas yang pernah aku temui.
Akan sangat mengecewakan, jika dia tidak bisa membaca langkahku.
Perlindungan untuk Lui pasti telah ditingkatkan dalam level yang maksimal olehnya. Tapi pengetahuannya tentang nomor ponselku yang paling membuatku kesal. Seberapa besar kekuasaannya di Inggris?
Dan mengesampingkan semua itu, aku kembali merasa sangat terluka, karena sebagian besar kata-kata Oscar adalah benar.
Hak apa lagi yang aku punya, sehingga aku menuntut untuk bertemu Bee? Aku menghancurkannya!
Dan lagi Bee terlihat sangat bahagia dengan kehidupannya sekarang.
"Itu bukan salahmu!" kata El tiba-tiba, sambil memandangku dengan seksama.
Aku membuang muka menghindari tatapannya, dia selalu menebak dengan tepat apa yang aku pikirkan.
"Dan kau tidak tahu bagaimana perasaan Lui sekarang. Kau tidak tahu persis apa yang dirasakan Lui, hanya dengan melihatnya dari kejauhan" tambah El.
"Kau seharusnya mempertimbangkan diri untuk berkarir menjadi cenayang!" Tiba-tiba aku sedikit kesal pada El.
Ketepatannya menebak alur pikiranku, membuatku merinding.
"Aku akan menjadi cenayang yang buruk, karena aku hanya bisa menebak jalan pikiranmu, bukan orang lain" jawabnya dengan tangkas.
"Oh please!!--- Get a room boys!!" ledek Roan, wajahnya terlihat muak mendengar percakapan kami.
El melempar botol minum ke arah Roan dengan sebal.
"No, thanks!! last time I check, I'm straight" ucapnya, sambil menggertakkan gigi karena geram.
Roan tentu saja menangkap botol itu dengan tepat, sambil terkekeh geli.
"Bagaimana jika ternyata memang Lui sudah menjadi lebih baik sekarang? Di mataku dia terlihat sedang menikmati hidup" kata Roan menghancurkan sedikit harapan yang mulai terbentuk di hatiku.
"Karena aku percaya bahwa mereka memang Mate--Itu saja" jawab El datar.
"Kau kemarin mengatakan bahwa itu dongeng!" Roan membalasnya dengan dahi berkerut.
"Ya.. itu karena aku tidak tahu mengenai fakta di belakangnya. Tetapi aku mengenal Elder Galen. Dia dulu sering menolongku ketika.... kau tahu ..ayahku----"
El tidak meneruskan ucapannya dan menggerakkan bahunya dengan canggung.
Tapi aku dan Roan tahu apa yang dimaksudkannya.
Aku mengatupkan bibirku erat-erat dengan geram, sedang Roan mengeluarkan desisan kasar dari mulutnya.
Ayah El--- Ayah tiri El adalah b*j*ngan paling terkutuk yang pernah aku temui.
Dulu sebelum aku bisa bertransformasi, aku hanya tahu, jika ayah tiri El, memperlakukannya dengan buruk.
Tetapi setelah mindlink antara aku dan El terbentuk, secara tidak sengaja El membagi rahasianya yang paling kelam kepada aku dan Roan.
Ayah b*j*tnya itu\, tidak hanya memukulinya sampai setengah mati nyaris setiap hari\, tetapi juga melecehkannya beberapa kali ketika El hanya berumur 8 tahun.
Kemampuan werewolf untuk memulihkan diri dengan cepat, dimanfaatkan dengan baik olehnya. Pria itu memukuli El, lalu membiarkannya keluar, hanya setelah lukanya sembuh, begitu berulang-ulang.
Dan pelecehannya pada El, sampai sekarang aku tidak bisa melupakan setiap detailnya, karena terlalu mengerikan.
Aku tidak punya kata celaan yang pas untuknya, karena perbuatannya melebihi iblis.
Begitu aku melihat kejadian itu diingatan El, aku sangat terpukul dan Roan menangis karena takut dan trauma.
Itu adalah pertama kalinya aku melihat Roan menangis.
Aku beruntung, karena ayah menemukanku, saat aku nyaris gila melolong tanpa henti karena tersiksa oleh ingatan El.
Ayah langsung memaksaku untuk memperlihatkan ingatan --Alpha tone akan memberimu akses ke dalam ingatanmu begitu diminta -- yang aku dapat dari El.
Dia murka dan nyaris menghancurkan rumah El, setelah melihat semuanya.
Dia menghajar b*j*ng*n itu sampai salah satu kakinya cacat dan wajahnya rusak permanen\, karena Ayah mengoyak hampir separuh wajahnya.
Werewolf bisa menyembuhkan luka, tapi tidak akan bisa menumbuhkan bagian tubuh yang telah hilang.
Misalnya, jika kakimu putus, luka itu akan sembuh tapi kau tak akan bisa menumbuhkan kaki baru untuk menggantinya. Karena itu wajah ayah tiri El, tetap rusak, walaupun lukanya sembuh.
Ayah sebenarnya ingin membunuhnya, tetapi Ibu El mencegahnya -- Perbuatan yang sampai sekarang tidak bisa aku mengerti-- Ayah mengabulkan permohonan itu.
Tapi ayah tetap mengusir dan memutuskan pertaliannya dengan pack. Dia adalah werewolf paling menjijikan yang pernah aku temui, kurang lebih sama dengan Egon.
"Well... anyway, aku mengenal Elder Galen lebih dari kalian berdua. Aku selalu merasa bahwa Elder Galen dan Calida berbeda dari pada werewolf lain"
El melanjutkan ceritanya setelah rasa tidak menyenangkan di udara tidak lagi mencekiknya.
"Aku tahu dari mereka berdua, jika cinta tidak harus menyakitkan. Di dunia ini, ada cinta yang indah seperti yang dimiliki oleh mereka. Dan sekarang aku sadar, apa yang aku lihat dulu adalah ikatan antara Mate. Aku rasa ikatan antara kau dan Lui tidak akan putus dengan mudahnya. Itu pendapatku" Jelas El, sambil memandang tepat di mataku.
Aku terdiam mendengar penjelasannya.
Bagi El\, mungkin hubungan antara Elder Galen dan Calida terlihat seperti keajaiban. Bagaimana tidak? hubungan antara Ibu dan ayah tirinya yang b*j*t\, hanya mendatangkan bencana.
"Tapi dia melupakanku, El. Seberapa besar rasa cintaku untuknya, dia tetap tidak bisa mengingatnya, dia melupakanku. Tidak mungkin ada cinta yang tersisa di hatinya untukku. Bagaimana dia bisa mencintaiku, jika dia tidak tahu tentang keberadaanku?!! Semua kenangan yang kami bangun berdua sudah hilang.. apa lagi yang bisa aku lakukan?!" ratapku, dengan putus asa.
Aku tidak peduli lagi dengan Id, yang aku yakin juga mendengar semua kata-kataku.
Otakku sekarang penuh dengan kenangan yang selama ini aku mencoba singkirkan, karena hanya membuatku semakin merindukan Bee.
Aku membuang pandanganku ke jendela untuk mencegah duka yang mulai mendesak keluar.
"Untuk saat ini, kau hanya bisa percaya pada Lui. Mungkin, di salah satu sudut hatinya, dia masih mencintaimu, bahkan jika sosokmu tidak lagi ada di ingatannya" jawab El dengan nada yakin.
Aku tidak membalas perkataan El, karena emosi mencekik leherku.
"Tapi dia manusia!! Jika ada makhluk di bumi ini yang paling tidak bisa diprediksi, itu adalah manusia. Mungkin saja prinsip 'mate' itu tidak akan berlaku untuk manusia" kata Roan dengan sedikit ragu.
El menarik nafas panjang dengan letih mendengar kata-kata Roan, tapi dia tak menjawab. Sama sepertiku, dia tidak bisa mendebat pendapat Roan, karena bisa jadi itu benar.
Tidak ada jaminan jika Bee masih mencintaiku, karena Bee memang manusia biasa.
"Mampirlah ke salah satu toko ponsel terdekat, kita harus membeli ponsel baru untuk Duke" Roan berkata kepada Id yang sedang menyetir.
"Baik Ms. Ewaldo"
Roan memeriksa ponselku yang telah luluh lantak dengan pandangan sedih.
"Ini model terbaru dan kau bahkan belum menggunakan semua fitur canggihnya". Roan menatapku dengan mata yang menyipit tipis.
Roan memang penggemar gadget. Perbuatanku menghancurkan ponsel, adalah kejahatan yang tidak pantas diampuni menurutnya.
"It's just a phone, no need to make a fuss" sergah El.
"It's not just a phone...." balas Roan.
Ck.. kalimat itu merupakan sinyal akan di mulainya perdebatan panjang antara mereka. Setelahnya, aku menutup telingaku rapat-rapat. Suara mereka berdebat semakin samar terdengar.
Langit juga sepertinya setuju denganku. Hari ini adalah hari yang kelabu, karena hujan perlahan turun lagi dengan derasnya.
Hmmpp!!!.. Ini tidak membantu, karena hujan dan salju adalah cuaca yang paling favorit untuk Bee.
Aku memejamkan mata untuk menenangkan diri, karena deretan kenanganku dengan Bee, semakin banyak muncul di otak --- menyiksa batinku.
Siksaan panjang yang datang dari sesuatu yang begitu indah....