
Ketukan pelan di pintu kamar, membangunkan aku dari tidur yang gelisah.
Kau juga tidak akan bisa tidur dengan nyenyak, jika ada vampire keriting berbau anyir, terus-menerus hadir di mimpimu. Dengan berat aku membuka mata.
Sesaat aku bingung dengan pemandangan dan aroma asing yang tercium oleh hidungku. Sampai teringat, sejak kemarin, aku menempati salah satu rumah milik Monath yang berada di London, Lykos Mansion.
Aku memandang sekeliling kamarku dengan lebih teliti. Mataku terlalu lelah untuk melihat apapun kemarin.
Kamar itu bernuansa cokelat lembut, dengan tempat tidur mewah dan sofa juga berwarna sama. Lemari penuh dengan buku menempel di tembok di sebelah pintu. Tirai cokelat tua masih menutup erat tembok di sebelah kiriku.
Dari banyaknya cahaya yang menembus tirai itu, aku rasa ukuran jendela itu akan sangat besar.
Beberapa benda seni mahal dan lukisan juga menghiasi sudut-sudut kamar . Bukan seleraku untuk menata ruangan seperti ini, aku lebih menyukai sesuatu yang simple.
Lykos Mansion yang aku tempati sekarang ini terletak di Barnet, London Utara.
Rumah ini luasnya mencapai ribuan meter persegi, lengkap dengan kolam dan taman yang indah dengan 10 kamar tidur. Rumah ini lebih mirip istana kerajaan jaman dulu jika di lihat dari luar.
Agak berlebihan untuk seleraku, tetapi aku tahu kenapa Uncle Rex memilih daerah ini untukku. Tetangga terdekatku berjarak kurang lebih beberapa kilometer.
Hunian ini, akan memastikan aku tidak harus beramah tamah dengan tetangga, yang mana akan meningkatkan resiko mereka untuk mengenaliku.
Berpura-pura mati ternyata lebih susah dari yang aku sangka, terutama jika kau adalah musisi terkenal dengan penjualan album puluhan juta copy di seluruh dunia.
Ketukan di pintu yang lebih keras, membuatku bangkit. Aku melirik jam kecil di meja dan mengumpat.
Aku terlambat! Aku segera bangun dan beranjak ke kamar mandi.
"Give me 10 minute, and I'll be ready" teriakku, pada Id yang berada didepan pintu, sambil berlari menuju kamar mandi.
Nama lengkapnya Idonea Magnus. Dia adalah pengurus Lykos, dia juga yang akan melayani selama aku di sini
Id adalah werewolf yang berasal dari pack Blackmoon. Dia dan istrinya Tita, menempati rumah ini sejak 3 tahun lalu.
Mereka berdua memiliki pengendalian temperamen dan transformasi yang sempurna. Karena itu ayah memberi tugas kepada mereka di luar pack, seperti Uncle Rex.
Pengendalian diri adalah syarat utama agar werewolf agar bisa diijinkan bergaul sebagai manusia.
Aku melirik sebentar bayanganku di cermin, setelan jas berwarna khaki dan kemeja putih menempel sempurna di tubuhku.
Aku mengusap cambang yang sudah aku rapikan tadi.
Jika bisa, aku akan menyukur habis cambang itu. Tetapi aku membutuhkannya agar lebih tersamar. Aku tidak pernah tampil di depan umum dengan cambang sebagai David Adalrik.
Aku harap ini cukup untuk mengelabuhi orang-orang. Aku meraih sunglasses yang terletak paling dekat dengan tangan kananku dan melangkah keluar.
Id menunggu dengan berdiri sopan di depan pintu.
"Sarapan anda sudah siap, Scion!" katanya, sambil sedikit menundukkan kepala tanda menghormat.
Id juga sudah berpakaian rapi, kulitnya yang hitam tampak kontras dengan kemeja putih panjang yang dikenakannya. Id mempunyai penampilan yang terlihat seperti seseorang yang berumur 30 tahun, tetapi aku tahu, dia sudah berumur lebih dari 65 tahun.
Aku hanya mengangguk dan beranjak menuju ke ruang makan, ketika aku teringat akan sesuatu.
"Apakah kau sudah menyiapkan hal yang aku minta melalui telepon kemarin?" Aku berbalik memandang Id.
"Sudah, Scion. Saya meletakkannya di ruang kerja. Anda bisa melihatnya setelah sarapan" jawabnya.
"Tidak, Aku akan melihatnya sekarang! Bagaimana dengan info yang aku minta?" tanyaku sambil berbelok ke arah ruang kerja.
"Maafkan saya, tetapi seperti yang sudah di peringatkan oleh Gamma Rex, info itu hampir mustahil di dapat. Tetapi saya telah mengumpulkan beberapa artikel yang berkaitan dengan objek yang anda maksud"
"Artikel? Maksudmu seperti artikel di media?" Ini mengherankan.
Bee masuk dalam berita di media? Apakah dia mencoba menari lagi?
"Benar, Scion. Ada beberapa artikel berkaitan dengannya yang terbit beberapa bulan lalu. Saya sudah menyusunnya dalam laptop untuk anda" Jelas Id tanpa berkedip.
Ada apa ini? Delmora memang keluarga kaya, tetapi Oscar menyaring semua berita yang berkaitan tentang Bee, dia sendiri yang bercerita padaku.
Di luar sana, hampir tidak ada yang tahu jika Bee adalah putri salah satu keluarga terkaya di Eropa. Oscar sengaja mengaturnya, karena ingin agar kehidupan Bee berjalan seperti biasa tanpa gangguan tidak penting, baik dari reporter maupun orang yang terlalu suka ikut campur.
Aku akan tahu nanti, putusku, sambil melangkah ke sudut ruang kerjaku yang baru.
Di meja yang seharusnya di pakai untuk meeting ataupun membaca, sekarang berjejer aneka ragam senjata manusia yang seharusnya tidak akan perlu aku pakai, jika tubuhku dalam keadaaan normal.
Jika peringatan Uncle Rex benar, maka aku akan berhadapan dengan mafia besar yang menguasai Eropa. Aku harus mempunyai persiapan untuk itu.
Aku lebih suka menggunakan cakar, tetapi seujung kuku tidak bisa keluar dari tanganku saat ini. Jadi inilah pilihan terakhir yang bisa aku lakukan.
Aku meraih senjata yang paling menarik perhatianku.
Pedang dengan mata pisau tipis dan melengkung dan pegangan berbentuk T berwarna hitam, pedang damaskus. Pedang yang paling tajam di dunia.
Aku menimbang-nimbangnya di tangan mencoba untuk mengukur kekuatannya.
Mematikan, tapi aku tak akan bisa membawanya tanpa menarik perhatian dari sekelilingku.
Tidak akan berguna. Maka aku menyingkirkan beberapa pedang serupa yang berada di meja itu.
Aku memandang ke sisi lain meja yang berisi sekitar 15 jenis pistol berjejer rapi.
Aku tidak menyukai pistol. Sangat praktis, tetapi faktor kesalahan yang ditimbulkannya juga banyak. Aku meraih salah satunya, ringan dan ukurannya cocok untuk tanganku.
"Sebaiknya anda memikirkannya lagi, Scion. Jika bisa hindarilah pistol" kata Id, memperingatkan hal yang sama seperti yang aku pikirkan.
Werewolf tidak boleh sembarangan membunuh kaum manusia dan juga sebaliknya, itu adalah salah satu isi perjanjian kaum kami dengan para Hunter.
Pembunuhan manusia oleh werewolf yang terakhir aku ingat, adalah pembunuhan Hunter oleh Elder Galen. Hal ini akan menjadi masalah besar, jika saja Hunter itu tidak bersalah.
Tapi karena dia telah membunuh Elder Calida, maka perjanjian itu tidak terpengaruh. Kemungkinan besar Hunter itu juga akan dihukum mati jika kembali.
Aku senang perjanjian itu berlaku dua arah. Tapi ada bagian yang tidak aku sukai, Alpha bertugas untuk membinasakan werewolf yang melanggar perjanjian ini. Ck...
"Aku tidak akan menggunakannya untuk manusia Id, tenanglah!" Ujarku, sambil meraih pistol dessert eagle.
Pistol dengan daya hancur paling besar tetapi hanya mempunyai 7 buah peluru.
Aku memilihnya, dengan harapan aku akan menggunakannya jika bertemu Egon atau Crispin.
Aku tahu pistol ini tidak akan bisa membunuh mereka, tetapi setidaknya bisa mengulur waktu. Aku membuka jas dan memasang sarung pistol di pinggang kemudian memasukkan pistol itu kesana.
Aku meraih pisau sangkur berwarna hitam, aku akan menggunakannya untuk bertarung dengan manusia.
Kemampuan bela diriku sebagai manusia cukup lumayan.
Aku mempelajarinya selama 7 tahun belakangan untuk menekan keinginanku bertarung membabi buta. Latihan itu berguna juga untuk menekan temperamenku yang kadang gampang meledak.
Dan siapa yang akan tahu, sekarang aku malah membutuhkannya.
Aku menarik nafas panjang, pertanda puas dengan pilihanku. Aku menyelipkan tempat pisau itu di kaki, sambil berharap semoga tidak perlu menggunakan keduanya, pada hari pertama aku kembali ke dunia manusia.
Aku kemudian beranjak ke meja kerja di sebelah barat ruangan. Meja besar lengkap dengan kursi nyaman terbuat dari kulit.
Aku kemudian membaca artikel yang dikumpulkan oleh Id dengan teliti.
Artikel itu menjelaskan, beberapa bulan lalu, Bee dan Oscar mengadakan pesta penggalangan dana untuk pembangunan sebuah bendungan di benua lain.
Dia tidak akan mengijinkan foto-foto Bee banyak beredar di media.
Tapi ini kemajuan yang tidak bisa aku duga. Sebelumnya, Bee tidak pernah menghadiri pesta apapun. Selain karena Oscar tidak ingin perhatian media tertuju padanya, Bee juga tidak menyukai pesta.
Aku tersenyum kecil, membayangkan Bee akan sangat bosan selama pesta itu berlangsung.
"Kau hebat sekali bisa menemukan artikel ini, Id" Aku memuji dengan tulus. "Kau bisa menemukan apa yang tak bisa ditemukan oleh Uncle Rex"
"Tidak Scion, anda memberi saya petunjuk lengkap dengan namanya. Gamma Rex tidak memiliki info itu ketika melakukan pencarian" jawabnya, merendah.
Hmm.. ya itu benar juga, aku berharap dengan memberikan info Bee dengan lengkap kepada Id, dia bisa mendapatkan informasi lebih banyak.
Tetapi Oscar memang pintar, aku harus mengakuinya. Dia telah melakukan semua pencegahan untuk membuat info tentang Bee bocor. Karena itu, aku akan mencari sendiri info itu. Dan aku tahu harus memulai dari mana.
Masalah ini akan lebih mudah terselesaikan jika aku bisa menemui Bee langsung dan bertanya padanya. Tetapi itu tidak akan mungkin aku lakukan.
Jika aku muncul di hadapannya sekarang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kepala Bee. Mimpi buruk ketika harus menghadapi Bee yang koma selama setahun penuh, menghantuiku.
Aku tidak akan pernah melupakan perasaan sengsara itu seumur hidup. Aku tidak berani mengambil resiko itu.
Bayangan Bee terbaring lemah di ranjang rumah sakit terpatri jelas diingatanku.
Tubuh mungilnya hari demi hari semakin kurus, karena asupan makanannya hanya dari cairan infus. Isakkan putus asa dari Charlie yang hampir membuatku gila, pandangan kosong Oscar setiap aku bertemu dengannya, juga tidak membantu sama sekali.
Aku bahkan hampir kehilangan kendali dan membunuh dokter penanggung jawab perawatan Bee di rumah sakit.
Pada bulan ke-6, dokter itu dengan berani memberikan keputusan, jika Bee tidak akan bisa sadar lagi. Dia mengusulkan jalan terbaik adalah mencabut semua alat bantu yang melekat di tubuhnya, dan menyuruhku untuk merelakan Bee.
Jika saat itu tidak ada El yang menahanku dengan sekuat tenaga, aku pasti sudah membunuh dokter itu, bukan hanya menghancurkan ruang kantornya.
Resiko yang aku tanggung terlalu besar, jika aku langsung menemuinya sekarang. Aku harus memastikan kondisi Bee bisa menerima kejutan ini.
Dan aku masih ingat, kalimat yang diucapkannya saat aku menelponnya kemarin. Hal itu mengindikasikan telah terjadi sesuatu. Aku harus bisa menjawab semua keraguanku sebelum bertemu Bee.
Aku meraih telepon wireless di meja dan menekan nomor rumah sakit yang cukup terkenal di London.
"Aku ingin membuat janji dengan dr. Alva Leona, secepatnya!" Aku menyatakan maksudku, kepada operator yang menyapa di ujung lainnya.
"Maaf, tapi jadwal dr. Alva telah penuh sampai dua bulan ke depan" jawab suara itu.
"Aku tidak bisa menunggu sampai bulan depan dan aku bukan pasien. Katakan padanya Duke Theobald ingin menemuinya segera" ujarku, dengan tidak sabar.
Sejenak sunyi di seberang sambungan, memberi tahuku penerima telepon sedang bertanya pada Alva.
Aku sebenarnya tidak ingin menggunakan namaku, tetapi Alva tidak memiliki banyak waktu luang karena jumlah pasiennya yang melebihi batas normal.
Dia tidak akan meluangkan waktu untuk pertemuan sosial, jika tidak sangat penting.
"Dr. Alva akan menemui anda saat makan siang hari ini" jawab suara di ujung telepon dengan agak bergetar, mungkin Alva memarahinya karena mengganggu.
Alva dokter yang hebat, tetapi dia paling tak suka jika diganggu jika sedang bersama pasien. Aku menutup telepon setelah berbasa-basi mengucapkan terima kasih.
"Aku akan sarapan sekarang" kataku kepada Id yang sedari tadi menunggu di sebelah meja kerja.
Id mengangguk dan berjalan mendahuluiku untuk menunjukkan jalan menuju ruang makan. Ini tidak perlu sebenarnya, aku bisa dengan tepat mengikuti aroma steak dan rosemary dengan hidungku.
Steak untuk sarapan adalah menu favoritku, sangat khas werewolf.
Kami mungkin berbentuk manusia sebagian besar waktu, tapi selera carnivora kami tidak terhapus sepenuhnya. Werewolf tidak memiliki masalah mencerna sayuran atau protein jenis lain, tapi daging biasanya tidak pernah absen dari perjamuan, apapun waktunya.
Sampai di ruang makan, Roan sedang duduk dengan gelisah di salah satu kursi, terletak paling ujung di meja makan raksasa yang bisa menampung 20 orang.
Begitu melihatku datang, wajahnya langsung menunjukkan rasa tidak suka karena aku terlambat.
"Aku bisa mati kelaparan menunggumu Duke!" semprotnya langsung.
Aku hanya tersenyum kecil. Roan akan lebih puas jika aku membalasnya, tapi aku lapar. Aku tidak akan membuang-buang waktu menanggapi ocehannya yang panjang lebar.
Hanya aku dan Roan yang ada di rumah ini. Aku menyuruh El untuk membantu Uncle Rex di Monath. Dengan gelar dan kemampuan otaknya, aku rasa dia cukup mampu.
Aku juga berencana untuk memberikan seluruh tanggung jawab pengelolaan perusahaan itu, jika aku nanti menjadi Alpha. Uncle Rex yang mendengar bahwa jadwal pensiun dan liburannya semakin dekat menyambut dengan antusias ideku.
Dengan senang hati, dia berjanji akan melatih dan memperkenalkan El tentang seluk beluk Monath. Lirikan kesal dan mata marah El tidak membuatku mundur. Dan El akhirnya menerimanya, karena dia tahu, keputusanku sangat tepat jika dilihat dari kacamata bisnis.
Aku menyelesaikan makananku dengan cepat, masakkan Tita luar biasa lezat. Jika aku tidak punya jadwal mendesak setelah ini, dengan sukarela aku akan menikmatinya secara sopan.
Roan melirikku dengan pandangan sebal lagi. Dia juga ingin menikmati sarapan itu lebih lama lagi.
"Hei.. kau tidak perlu mengikutiku, aku tidak perlu pengawalan" ujarku, melihat lirikannya.
"Cih---- itu kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh werewolf yang lem..."
Aku melempar pandangan memperingatkan padanya, yang segera membuatnya mengerti dan menutup mulut. Fakta tentang aku melemah, dan tidak bisa bertransformasi adalah rahasia. Aku percaya pada Id dan Tita, tetapi tidak untuk rahasia itu.
"Apakah kau juga sudah memesankan ponsel untukku?" tanyaku, pada Id yang berdiri tidak jauh dariku.
"Sudah, Scion. Sebentar akan saya ambilkan" jawabnya, sembari berlalu dari ruang makan.
"Hati-hati dengan mulutmu itu Roan. Jangan sampai aku menggunakan Alpha tone hanya untuk melarangmu berbicara" bisikku, memperingatkannya dengan tegas.
Roan mendengus kesal ke arahku tetapi mengangguk patuh. Dia tidak suka diatur, tetapi Roan juga tahu saat dimana dia bersalah, dan akan memperbaikinya.
Aku tahu Roan tidak bermaksud buruk, tetapi mulutnya perlu pengendalian yang lebih baik agar tidak menyebarkan rahasia ini kepada setiap orang yang kami temui.
Id telah kembali membawa ponsel yang telah aku pesan.
Ponsel lamaku dihancurkan oleh uncle Rex ketika aku tiba di pack, untuk memutuskan hubungan dengan orang-orang yang aku kenal selama 8 tahun terakhir, karena aku sudah mati.
Aku mulai memasukkan beberapa nomor yang masih aku hafal, termasuk Bee dan Oscar. Entah kapan aku bisa menghubungi nomor itu lagi.
Aku melemparnya pada Roan untuk meminta nomornya. Roan menerimanya tanpa banyak bicara dan mengetikkan nomor ponselnya.
"Ayo!!" kataku, kepada Roan yang telah menyelesaikan sarapan, sambil berjalan menuju garasi.
"Sabarlah sedikit, Duke!!" Roan mengomel karena minumannya belum habis benar. Omelan itu akan aku anggap sebagai angin lalu
Garasi Lykos terletak di sebelah paling barat, berbatasan dengan kebun dan kolam renang. Aku memandang sekeliling, garasi itu mampu menampung 6 mobil yang berjejer rapi. Aku menunjuk mobil sport Regera berwarna hitam legam -- yang paling tidak menarik perhatian-- sambil meminta kuncinya kepada Id.
"Tapi mobil itu hanya untuk dua orang, Scion" katanya, tidak setuju dengan pilihanku.
"Aku akan menyetir sendiri hari ini Id, jangan khawatir" ujarku.
Jika aku bisa meninggalkan Roan, itu akan lebih sempurna. Tetapi itu akan menjadi langkah bodoh, karena Roan benar, aku yang tidak bisa bertransformasi adalah sasaran empuk untuk inhumane jenis apapun.
Id masih terlihat ingin memprotes, tapi aku menghentikannya dengan lambaian tanganku. Dia akhirnya mengangguk dan berlalu untuk mengambil kunci mobil itu.
Aku memakai sunglasses yang akan melengkapi penyamaranku dan memandang Roan yang sedang mengagumi salah satu mobil besar yang juga terparkir di sana, dan mulai bertanya detailnya dengan antusias.
Untunglah Id segera kembali membawa kunci, aku malas membahas soal mobil hari ini.
Setelahnya, aku memacu mobil itu dengan kecepatan tinggi membelah jalanan sepi di depan Lykos. Aku tidak ingin terlambat menemui Alva.
Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya.